• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA TENAGA KERJA NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RENCANA TENAGA KERJA NASIONAL"

Copied!
197
0
0

Teks penuh

(1)

RYA M A U K K I T T IT R A A K M A A M

PUSAT PERENCANAAN TENAGA KERJA

Sekretariat Jenderal

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I.

Tahun 2013

RENCANA

TENAGA KERJA

NASIONAL

(2)

RYA M A U K K I T T IT R A A K M A A M

PUSAT PERENCANAAN TENAGA KERJA

Sekretariat Jenderal

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I.

Tahun 2013

PERENCANAAN

TENAGA KERJA

NASIONAL

(3)

PERENCANAAN TENAGA KERJA NASIONAL TAHUN 2013-2014 ISBN : 978-979-19291-1-0

Diterbitkan oleh :

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Sekretariat Jenderal

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Jln. Jenderal Gatot Subroto Kav. 51 Jakarta Selatan 12950 Telepon : 021-5270944

Fax : 021-5270944

(4)

SAMBUTAN

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

Tujuan pembangunan ketenagakerjaan bertujuan untuk memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi, mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah, untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, serta meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya, hal ini sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlunya Perencanaan Tenaga Kerja sebagai pedoman penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan sebagaimana diamanatkan Pasal 7 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Tantangan ketenagakerjaan ke depan tidak semakin ringan, selain masih tingginya jumlah penganggur terbuka, kualitas angkatan kerja yang relatif rendah, produktivitas tenaga kerja yang rendah, banyaknya pemogokan kerja dan perselisihan kerja, pemutusan hubungan kerja, kesejahteraan pekerja yang masih relatif rendah serta permasalahan ketenagakerjaan lainnya. Dengan diterbitkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2015 akan berdampak terhadap penciptaan kesempatan kerja serta akan diberlakukannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 akan menjadi peluang dan tantangan bagi dunia ketenagakerjaan.

Untuk itu, perlunya disusun suatu rencana tenaga kerja yang sistematis dan komprehenship. Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN)

(5)

iv

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Tahun 2013 – 2014, merupakan track strategy pro-job pembangunan ketenagakerjaan yang akan datang, yang akan memberikan arah penyelesaian permasalahan dan tantangan ketenagakerjaan di masa yang akan datang, seperti menyelesaikan masalah pengangguran, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Namun demikian, mengingat permasalahan ketenagakerjaan merupakan permasalahan bersama, maka diperlukan upaya kolektif dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) yang ada, khususnya instansi pembina sektor dengan melalui penyusunan regulasi serta formulasi berbagai kebijakan dan program yang berorientasi kepada perluasan dan penciptaan kesempatan kerja.

Saya mengharapkan Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) Tahun 2013-2014 yang telah tersusun ini dapat dijadikan acuan oleh setiap instansi sektoral, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam merumuskan dan mengimplementasikan berbagai kebijakan, strategi, dan programnya, sehingga selaras dengan pembangunan ketenagakerjaan dan pada gilirannya dapat mewujudkan akselerasi pencapaian tujuan pembangunan ketenagakerjaan berupa perluasan dan penciptaan kesempatan kerja yang produktif dan remuneratif, peningkatan kualitas angkatan kerja, serta peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Akhirnya, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas terbitnya buku Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) Tahun 2013-2014.

Jakarta, Desember 2012 Menteri

Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia

Drs. H.A. Muhaimin Iskandar, M.Si.

SEKRETARIAT

JENDERAL Paraf Tanggal Pembuat Draft

(Eselon II) Penanggung Jawab Materi (Eselon I)

(6)

KATA PENGANTAR

SEKRETARIS JENDERAL

KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

Penyusunan Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) Tahun 2013-2014 merupakan amanat dan implementasi dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan, Penyusunan dan Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja yang mengamanatkan agar Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI melakukan penyusunan Rencana Tenaga Kerja Nasional.

Buku RTKN Tahun 2013-2014 memuat data dan informasi dari kecenderungan pertumbuhan selama 2008-2011, data Tahun 2012 dan perkiraan tahun 2013-2014 dari penduduk usia kerja, angkatan kerja, kesempatan kerja sektoral, produktivitas tenaga kerja, penganggur terbuka, pelatihan tenaga kerja, penempatan tenaga kerja, perlindungan tenaga kerja, hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja. Angka-angka dalam buku ini telah disesuaikan dengan data dan informasi terkini, dengan menggunakan berbagai asumsi termasuk perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional. RTKN 2013-2014 ini merupakan rencana indikatif yang digunakan untuk pembinaan ketenagakerjaan di seluruh sektor ekonomi dan unit teknis ketenagakerjaan. Oleh karena itu, variabel, koefisien, dan angka-angka yang terdapat di dalamnya dapat dievaluasi dan disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.

RTKN Tahun 2013-2014 diharapkan dapat menjadi pedoman/acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan di seluruh sektor ekonomi baik di pusat maupun daerah. Juga RTKN ini diharapkan dapat menjembatani kerjasama lintas sektor perekonomian pusat dan daerah untuk

(7)

vi

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

menanggulangi pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Buku ini juga dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan ketenagakerjaan umum dan bidang pelatihan, penempatan, perlindungan, hubungan industrial serta jaminan sosial tenaga kerja.

Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam buku ini, yang disebabkan oleh keterbatasan yang ada. Untuk itu, kami mengharapkan saran konstruktif dari seluruh pihak untuk penyempurnaan buku ini di masa datang. Dalam kesempatan ini, kami juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pimpinan dan Staf Pusat Perencanaan Tenaga Kerja dan anggota Tim RTKN serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyusunan RTKN Tahun 2013-2014 ini.

Jakarta, Desember 2012 Sekretaris Jenderal,

Dr. Ir. Muchtar Luthfie, MMA

(8)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

vii

RINGKASAN EKSEKUTIF

(EXECUTIVE SUMMARY)

Kondisi ketenagakerjaan pada tahun 2012, terus menunjukan kearah perbaikan. Berdasarkan data Sakernas Februari 2012 tercatat jumlah penganggur di Indonesia sebanyak 7,24 juta orang atau sebesar 6,14 persen terjadi penurunan apabila dibandingkan dengan bulan Agustus 2011 yaitu sebanyak 7,70 juta orang atau sebesar 6,56 persen. Untuk jumlah penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu (setengah penganggur) juga terjadi penurunan yaitu dari bulan Agustus 2011 ke bulan Agustus 2012 dari 34,59 juta orang menurun menjadi sebanyak 34,29 juta orang.

Berdasarkan sumber yang sama, jumlah angkatan kerja berdasarkan Sakernas Agustus 2012 mencapai 118,04 juta orang bertambah sebanyak 0,67 juta orang dibandingkan angkatan kerja Agustus 2011. Sementara itu kesempatan kerja yang tercipta cukup signifikan jumlahnya, yakni dari 109,67 juta orang pada Agustus 2011 meningkat menjadi 110,80 juta orang pada Februari 2012 atau bertambah sebanyak 1,13 juta orang.

Penduduk Usia Kerja (PUK) pada periode tahun 2010-2011 berkurang sebanyak 0,31 juta orang yakni dari 172,07 juta orang pada tahun 2010 menjadi 171,76 juta orang pada tahun 2011. Sedangkan Angkatan Kerja (AK) mengalami penambahan sebanyak 0,84 juta orang pada periode tahun tersebut. Pada tahun 2010 jumlah AK sebanyak 116,53 juta orang dan pada tahun 2011 meningkat menjadi sebanyak 117,37 juta orang. Dari data tersebut, terdapat peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada tahun 2010-2011 yakni dari yang sebesar 67,72 persen meningkat menjadi sebesar 68,34 persen.

Kualitas PUK dan AK pada tahun 2010-2011 masih didominasi yang berpendidikan rendah. Pada tahun 2010, PUK yang berpendidikan Maksimum SD sebanyak 84 juta (48,82%), berkurang menjadi sebanyak 82,01 juta (47,75%) pada tahun 2011. Untuk angkatan kerja, yang berpendidikan Maksimum SD pada tahun 2010 sebanyak 56,67 juta

(9)

viii

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

(48,63%), menurun menjadi 56,17 juta (47,86%) pada tahun 2011. Sedangkan PUK untuk yang berpendidikan SMTP keatas jumlahnya mengalami kenaikan kecuali pada tingkat pendidikan SMTA Kejuruan mengalami penurunan sebanyak 0,11 juta orang. Pada periode 2010-2011 jumlah kenaikan terbanyak terdapat pada tingkat pendidikan SMTA Umum sebanyak 1,12 juta orang yakni dari 26,26 juta orang pada tahun 2010 meningkat menjadi sebanyak 27,38 juta orang pada tahun 2011. Begitu juga dengan angkatan kerja, SMTA Umum penambahannya merupakan yang terbanyak. Pada tahun 2010 jumlah AK yang berpendidikan SMTA Umum sebanyak 18,06 juta orang meningkat menjadi sebanyak 19,16 juta orang pada tahun 2011.

Jumlah penduduk yang bekerja pada periode 2010-2011 bertambah sebanyak 1,46 juta orang. Sektor pertanian masih merupakan penyerap tenaga kerja terbesar yaitu sebanyak 41,49 juta orang pada tahun 2010 dan menurun menjadi 39,33 juta orang pada tahun 2011. Sektor perdagagan, jasa dan industri merupakan tiga sektor penyerap tenaga kerja terbanyak selanjutnya setelah sektor pertanian. Sektor perdagangan menyerap tenaga kerja sebanyak 22,49 juta orang pada tahun 2010 meningkat menjadi 23,4 juta orang pada tahun 2011. Sektor jasa menyerap tenaga kerja sebanyak 15,96 juta orang pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 16,65 juta orang pada tahun 2011. Dan sektor industri mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 13,82 juta orang pada tahun 2010 kemudian meningkat menjadi 14,54 juta orang pada tahun 2011. Pada tahun 2010, penduduk yang bekerja di sektor formal sebanyak 35,78 juta orang (33,07%), meningkat pada tahun 2011 menjadi 41,49 juta orang (37,83%). Pada tahun 2010-2011, jumlah yang bekerja penuh mengalami penurunan sebanyak 0,01 juta orang yakni dari 72,46 juta pada tahun 2010 menurun menjadi 72,45 juta pada tahun 2011. Sementara itu, jumlah penganggur juga mengalami penurunan dari yang sebanyak 8,32 juta orang (7,14%) pada tahun 2010 menurun menjadi 7,70 juta orang (6,56%) pada tahun 2011.

Berdasar hasil perkiraan Rencana Tenaga Kerja Nasional (RTKN) Tahun 2013-2014 menunjukkan bahwa jumlah PUK dan AK pada periode tersebut diperkirakan bertambah berturut-turut sebanyak 2,60 juta orang dan 2,25 juta orang. Secara kualitas, PUK dan AK pada periode 2013-2014 diperkirakan masih didominasi oleh yang berpendidikan Maksimum SD. Jumlah PUK pada tahun 2013 diperkirakan sebanyak 81,14 juta orang, menurun menjadi sebanyak 80,74 juta orang pada tahun 2014. Jumlah AK,

(10)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

ix

pada tahun 2013 diperkirakan sebanyak 55,38 juta orang, menurun menjadi 54,80 juta orang pada tahun 2014. Dari tambahan jumlah PUK dan AK pada periode 2013-2014, tingkat pendidikan SMTA Kejuruan diperkirakan memiliki jumlah tambahan terbanyak. Jumlah PUK dengan tingkat pendidikan SMTA Kejuruan diperkirakan bertambah sebanyak 980 ribu orang dan jumlah penambahan AK-nya diperkirakan bertambah sebanyak 880 ribu orang.

Perekonomian Indonesia pada tahun 2013 dan 2014 diperkirakan mampu tumbuh sebesar 6,8 persen dan 7,2 persen. Pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut diperkirakan akan mendorong penciptaan kesempatan kerja, sehingga jumlah kesempatan kerja pada tahun 2013 diperkirakan akan bertambah sebanyak 2,5 juta orang menjadi 113,3 juta orang dan pada tahun 2014 diperkirakan akan bertambah sebanyak 2,56 juta orang menjadi 115,86 juta orang. Peningkatan penciptaan kesempatan kerja ini juga berdampak positif terhadap penurunan tingkat dan jumlah pengangguran terbuka. Pada tahun 2013, Tingkat Penganggur Terbuka (TPT) nasional diperkirakan menurun menjadi 5,78 persen atau sebanyak 6,96 juta orang. Sedangkan pada tahun 2014, Tingkat Penganggur Terbuka (TPT) nasional diperkirakan juga menurun menjadi 5,43 persen atau sebanyak 6,65 juta orang.

Agar angkatan kerja yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal dan mempunyai kemampuan, maka diperlukan kebijakan, program dan strategi yang sesuai dengan perkiraan persediaan dan kebutuhan tenaga kerja. Kebijakan, strategi dan program yang akan dilaksanakan meliputi perekonomian, ketenagakerjaan, penciptaan kesempatan kerja, pengendalian tambahan angkatan kerja, pelatihan tenaga kerja, penempatan tenaga kerja dan perlindungan tenaga kerja. Kebijakan, strategi dan program pelatihan tenaga kerja difokuskan pada dua jenis pelatihan, yaitu kewirausahaan untuk mengisi kesempatan kerja dengan status berusaha sendiri tanpa bantuan serta berusaha dengan dibantu dan pekerja/buruh/karyawan. Jumlah angkatan kerja yang perlu dilatih pada tahun 2013 dan 2014 dengan fokus kewirausahaan adalah sebanyak 378 ribu orang dan 389 ribu orang. Untuk menjadi pekerja/buruh/karyawan sebanyak 818 ribu orang dan 866 ribu orang. Di bidang penempatan tenaga kerja, diprioritaskan lima lapangan usaha yang menjadi sektor prioritas dan ditetapkan sebagai target utama penempatan tenaga kerja pada tahun 2013-2014 yakni Sektor Industri, Sektor Konstruksi, Sektor Perdagangan, Sektor Jasa, dan Sektor Keuangan.

(11)

x

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Kebijakan strategi dan program pemerataan kesempatan kerja meliputi kebijakan sektoral yang berisi berbagai kebijakan dari sembilan sektor dalam penciptaan kesempatan kerja sebanyak-banyaknya. Kebijakan perlindungan tenaga kerja meliputi bidang pengawasan dan hubungan industrial. Pada tahun 2013 ditargetkan jumlah perusahaan yang melapor sebanyak 231.665 perusahaan dan pada tahun 2013 sebanyak 252.117 perusahaan. Sementara jumlah pegawai pengawas ketenagakerjaan ditargetkan pada tahun 2013-2014 sebanyak 2.451 orang. Di bidang hubungan industrial pada tahun 2013-2014 ditargetkan terdapat penambahan jumlah Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama, dan Lembaga Kerja Sama (LKS) Bipartit. Untuk itu, jumlah tenaga Mediator pada tahun 2013-2014 ditargetkan bertambah sebanyak 1.178 orang. Kebijakan kesejahteraan pekerja meliputi peningkatan kepesertaan jamsostek aktif baik perusahaan maupun tenaga kerja. Pada tahun 2013 ditargetkan jumlah perusahaan yang aktif menjadi peserta jamsostek sebanyak 176.253 perusahaan dan pada tahun 2014 ditargetkan meningkat menjadi 189.667 perusahaan. Dan untuk kepesertaan tenaga kerja aktif ditargetkan pada tahun 2013 berjumlah 11.348.501 orang dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 11.866.901 orang. Demikian juga dengan tingkat upah diharapkan setiap tahunnya meningkat disesuaikan dengan kebutuhan hidup layak.

(12)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

xi

DAFTAR ISI

Halaman

SAMBUTAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

TRANSMIGRASI R.I ... ...

iii

KATA PENGANTAR SEKRETARIS JENDERAL

KEMNAKERTRANS ...

v

EXECUTIVE SUMMARY ... ...

vii

DAFTAR ISI ... ...

xi

DAFTAR TABEL ... ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... ... xxi

Bab I PENDAHULUAN ... ...

1

1.1. Latar Belakang ... ...

1

1.2. Maksud dan Tujuan ... ...

4

1.3. Hasil yang Diharapkan ... ...

4

1.4. Kerangka Pikir Perencanaan Tenaga Kerja

Nasional ... ...

5

1.4.1. Permintaan dan Penawaran ...

5

1.4.2. Kebijakan Tenaga Kerja...

7

1.5. Metodologi dan Sumber Data ...

11

1.5.1. Metodologi ...

11

1.5.2. Sumber Data ...

11

1.6. Pengertian Dasar, Konsep, dan Definisi ...

11

1.7. Kerangka Isi ... ...

13

Bab II KONDISI KETENAGAKERJAAN ...

15

2.1

Kondisi Ekonomi .……… 15

2.2.

Penduduk Usia Kerja ………. 17

2.2.1. Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan

Umur ... 18

(13)

xii

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

2.2.2. Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat

Pendidikan ...

19

2.2.3. Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis

Kelamin ...

20

2.2.4. Penduduk Usia Kerja Menurut Provinsi ...

21

2.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ...

23

2.3.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Golongan Umur ...

23

2.3.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Tingkat Pendidikan ...

24

2.3.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Jenis Kelamin ...

26

2.3.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Provinsi ...

27

2.4. Angkatan Kerja ...

29

2.4.1. Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur ....

29

2.4.2. Angkatan Kerja Menurut Tingkat

Pendidikan ...

30

2.4.3. Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin ...

32

2.4.4. Angkatan Kerja Menurut Provinsi ...

33

2.5. Penduduk yang Bekerja ...

35

2.5.1. Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan

Usaha ...

35

2.5.2. Penduduk yang Bekerja Menurut Golongan

Umur ...

36

2.5.3. Penduduk yang Bekerja Menurut Tingkat

Pendidikan ...

37

(14)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

xiii

2.5.5. Penduduk yang Bekerja Menurut Status

Pekerjaan Utama ...

40

2.5.6. Penduduk yang Bekerja Menurut Jabatan ...

41

2.5.7. Penduduk yang Bekerja Menurut Jam Kerja

42

2.5.8. Penduduk yang Bekerja Menurut Provinsi ...

43

2.6. Penganggur Terbuka ...

45

2.6.1. Penganggur Terbuka Menurut Golongan

Umur ...

45

2.6.2. Penganggur Terbuka Menurut Tingkat

Pendidikan ...

47

2.6.3. Penganggur Terbuka Menurut Jenis

Kelamin ...

49

2.6.4. Penganggur Terbuka Menurut Provinsi ...

51

2.7. Produktivitas Tenaga Kerja ...

54

Bab III PERKIRAAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN

AKAN TENAGA KERJA ………... 57

3.1. Perkiraan Penduduk Usia Kerja Tahun 2013-2014

57

3.1.1. Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut

Golongan Umur ...

58

3.1.2. Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut

Tingkat Pendidikan ...

59

3.1.3. Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut

Jenis Kelamin ...

60

3.1.4. Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut

Provinsi ...

61

3.2. Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ...

63

3.2.1. Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan

(15)

xiv

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

3.2.2. Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan

Kerja Menurut Tingkat Pendidikan ...

64

3.2.3. Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan

Kerja Menurut Jenis Kelamin ...

66

3.2.4. Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan

Kerja Menurut Provinsi ...

67

3.3. Perkiraan Angkatan Kerja ...

69

3.3.1. Perkiraan Angkatan Kerja Menurut

Golongan Umur ...

69

3.3.2. Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat

Pendidikan ...

70

3.3.3. Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis

Kelamin ...

71

3.3.4. Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Provinsi

71

Bab IV PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KEBUTUHAN

AKAN TENAGA KERJA………

75

4.1. Perkiraan Perekonomian Tahun 2012-2013 ...

76

4.2. Perkiraan Kesempatan Kerja ...

81

4.2.1. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

Lapangan Usaha ...

82

4.2.2. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

Golongan Umur ...

83

4.2.3. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

Tingkat Pendidikan ...

83

4.2.4. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis

Kelamin ...

84

4.2.5. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

Status Pekerjaan ...

85

4.2.6. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

(16)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

xv

4.2.7. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam

Kerja ...

87

4.2.8. Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

Provinsi ...

88

4.3. Perkiraan Produktivitas Tenaga Kerja ...

90

Bab V PERKIRAAN DAN PERENCANAAN

KESEIMBANGAN ANTARA PERSEDIAAN DAN

KEBUTUHAN AKAN TENAGA KERJA ………... 91

5.1. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut

Golongan Umur ...

92

5.2. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat

Pendidikan ...

93

5.3. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis

Kelamin ...

95

5.4. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Provinsi ..

96

Bab VI ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM

PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN ... 101

6.1. Kebijakan, Strategi dan Program Perekonomian .... 102

6.2. Kebijakan, Strategi dan Program Umum

Ketenagakerjaan ... 108

6.3. Kebijakan, Strategi dan Program Penciptaan

Kesempatan Kerja ... 111

6.3.1. Sektor Pertanian ... 111

6.3.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian ... 112

6.3.3. Sektor Industri Pengolahan ... 113

6.3.4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih ... 115

6.3.5. Sektor Bangunan ... 116

6.3.6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran .. 117

(17)

xvi

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

6.3.8. Sektor Lembaga Keuangan, Sewa

Bangunan, Jasa Persewaan dan Jasa

Perusahaan ... 122

6.3.9. Sektor Pemerintah, Pertahanan dan Jasa &

Kemasyarakatan ... 123

6.4. Kebijakan, Strategi dan Program Pengendalian

Tambahan Angkatan Kerja ... 123

6.5. Kebijakan, Strategi dan Program Pelatihan

Tenaga Kerja ... 127

6.5.1. Pelatihan Berdasarkan Status Pekerjaan

Utama ... 131

6.5.2. Pelatihan Berdasarkan Jenis Pekerjaan ... 133

6.6. Kebijakan, Strategi dan Program Penempatan

Tenaga Kerja ... 135

6.7. Kebijakan, Strategi dan Program Perlindungan

Tenaga Kerja ... 141

6.7.1. Pengawas Ketenagakerjaan ... 142

6.7.2. Hubungan Industrial ... 146

Bab VII

PENUTUP …………...… 155

DAFTAR PUSTAKA

TIM PENYUSUN

(18)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan

Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009-2011 (Dalam Triliun Rupiah). ... 17

Tabel 2.2. Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 18 Tabel 2.3. Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan

Tahun 2009-2011 (Juta Orang) ... 20 Tabel 2.4. Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 20 Tabel 2.5. Penduduk Usia Kerja Menurut Provinsi Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 22 Tabel 2.6. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan

Umur Tahun 2009-2011 (Persen) ... 24

Tabel 2.7. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Tingkat

Pendidikan Tahun 2009-2011 (Persen) ... 25

Tabel 2.8. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis

Kelamin Tahun 2009-2011 (Persen) ... 26 Tabel 2.9. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Provinsi

Tahun 2009-2011 (Persen) ... 28 Tabel 2.10. Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 30 Tabel 2.11. Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 32 Tabel 2.12. Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 33 Tabel 2.13. Angkatan Kerja Menurut Provinsi Tahun 2009-2011

(Juta Orang) ... 34 Tabel 2.14. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2009-2011 (Juta Orang) ... 36 Tabel 2.15. Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur

Tahun 2009-2011 (Juta Orang) ... 37 Tabel 2.16. Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan

Tahun 2009-2011 (Juta Orang) ... 39 Tabel 2.17. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin Tahun

(19)

xviii

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Tabel 2.18. Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama Tahun 2009-2011 (Juta Orang) ... 41 Tabel 2.19. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 42 Tabel 2.20. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 43 Tabel 2.21. Penduduk Yang Bekerja Menurut Provinsi Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 44 Tabel 2.22. Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 46 Tabel 2.23. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Golongan

Umur Tahun 2009-2011 (Persen) ... 47 Tabel 2.24. Penganggur Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan

Tahun 2009-2011 (Juta Orang) ... 48

Tabel 2.25. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Tingkat

Pendidikan Tahun 2009-2011(Persen) ... 49 Tabel 2.26. Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 50 Tabel 2.27. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2009-2011 (Persen) ... 50 Tabel 2.28. Penganggur Terbuka Menurut Provinsi Tahun

2009-2011 (Juta Orang) ... 52 Tabel 2.29. Tingkat Penganggur Terbuka Menurut Provinsi Tahun

2009-2011 (Persen) ... 53 Tabel 2.30. Produktivitas Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2009-2011 (Juta.Rp/Tenaga Kerja) ... 54

Tabel 3.1 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan

Umur Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 58

Tabel 3.2 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat

Pendidikan Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 60

Tabel 3.3 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 60

Tabel 3.4 Perkiraan Penduduk Usia Kerja Menurut Provinsi

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 62

Tabel 3.5 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Golongan Umur Tahun 2013-2014 (Persen) ... 64

Tabel 3.6 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

Tingkat Pendidikan Tahun 2013-2014 (Persen) ... 65

Tabel 3.7 Perkiraan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut

(20)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

xix

Tabel 3.9 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 69 Tabel 3.10 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 70 Tabel 3.11 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 71 Tabel 3.12 Perkiraan Angkatan Kerja Menurut Provinsi Tahun

2013-2014 (Juta Orang) ... 72

Tabel 4.1 Perkiraan Kontribusi dan Pertumbuhan Produk

Domestik Bruto Tahun 2013-2014 (Persen) ... 78

Tabel 4.2 Perkiraan Produk Domestik Bruto Tahun 2013-2014

(Miliar Rupiah) ... 80

Tabel 4.3 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Lapangan

Usaha Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 82

Tabel 4.4 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Golongan Umur

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 83

Tabel 4.5 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Tingkat

Pendidikan Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 84 Tabel 4.6 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 85

Tabel 4.7 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Status

Pekerjaan Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 86 Tabel 4.8 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jabatan Tahun

2013-2014 (Juta Orang) ... 87 Tabel 4.9 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Jam Kerja

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 87 Tabel 4.10 Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut Provinsi Tahun

2013-2014 (Juta Orang) ... 89 Tabel 4.11 Perkiraan produktivitas Tahun 2013-2014 (Juta

Rp./Tenaga Kerja) ... 90 Tabel 5.1 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan

Umur Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 93 Tabel 5.2 Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Tingkat

Pendidikan Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 95 Tabel 5.3. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2013-2014 (Juta Orang) ... 96 Tabel 5.4. Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Provinsi

(21)

xx

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Tabel 6.1 Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja Menurut

Status Pekerjaan Utama dan Tingkat Pendidikan Tahun 2013 ... 129

Tabel 6.2 Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja Menurut

Status Pekerjaan Utama dan Tingkat Pendidikan Tahun 2014 ... 130

Tabel 6.3 Perkiraan Tambahan Instruktur Menurut di Lembaga

Latihan Pemerintah Tahun 2013-2014 ... 131

Tabel 6.4 Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja Menurut

Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Usaha Tahun 2013... 137

Tabel 6.5 Perkiraan Tambahan Kesempatan Kerja Menurut

Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Usaha Tahun 2014... 138

Tabel 6.6 Perusahaan, Tenaga Kerja, Audit SMK3 dan

Pengurangan Pekerja Anak Secara Nasional Tahun 2010-2014... 142

Tabel 6.7 Kondisi dan Perkiraan Kebutuhan Pengawas

Ketenagakerjaan Menurut Provinsi Tahun 2013-2014 ... 143 Tabel 6.8 Perangkat Hubungan Industrial ... 147

Tabel 6.9 Kondisi dan Perkiraan Kebutuhan Tenaga Mediator

Menurut Provinsi Tahun 2013-2014 ... 149 Tabel 6.10 Kepesertaan Perusahaan dan Tenaga Kerja Aktif

Jamsostek Secara Nasional Tahun 2006-2011 ... 151 Tabel 6.11 Upah Minimum Provinsi dan Kebutuhan Hidup Layak

(22)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

xxi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Struktur Ketenagakerjaan... ... 5

Gambar 1.2 Arus pergerakan Angkatan Kerja di Pasar Kerja. ... 6

Gambar 1.3 Konsep Pasar Kerja. ... 7

Gambar 1.4 Kebijakan Pengembangan Pasar Kerja. ... 8

(23)
(24)

Perencanaan

Tenaga Kerja Nasional

2013 - 2014

BAB I

(25)
(26)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perekonomian Indonesia Pada Tahun 2011 menunjukan daya tahan yang sangat kuat pada situasi ketidakpastian perekonomian global, karena adanya dampak memburuknya krisis yang terjadi di kawasan dan Eropa dan Amerika serikat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,50 persen, besarnya angka pertumbuhan ekonomi sebesar itu merupakan terbesar selama 10 tahun terakhir dan merupakan terbesar di kawasan ASEAN. Pertumbuhan ekonomi sebesar itu, mampu mendorong penciptaan keserja sebanyak 1,46 juta orang, yakni dari 108,21 juta pada ahun 2010 menjadi 109,67 juta pada tahun 2011, sehingga jumlah penganggur terbuka juga mengalami penurunan, yakni dari 8,32 juta (7,14 %) menurun menjadi 7,70 juta ( 6,56 %) pada periode yang sama.

Kondisi ketenagakerjaan pada tahun 2012, terus menunjukan kearah perbaikan. Berdasarkan data Sakernas Februari 2012 tercatat jumlah penganggur di Indonesia sebanyak 7,24 juta orang atau sebesar 6,14 persen terjadi penurunan apabila dibandingkan dengan bulan Agustus 2011 yaitu sebanyak 7,70 juta orang atau sebesar 6,56 persen. Untuk jumlah penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam perminggu (setengah penganggur) juga terjadi penurunan yaitu dari bulan Agustus 2011 ke bulan Agustus 2012 dari 34,59 juta orang menurun menjadi sebanyak 34,29 juta orang.

(27)

2

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Berdasarkan sumber yang sama, jumlah angkatan kerja berdasarkan Sakernas Agustus 2012 mencapai 118,04 juta orang bertambah sebanyak 0,67 juta orang dibandingkan angkatan kerja Agustus 2011. Sementara itu kesempatan kerja yang tercipta cukup signifikan jumlahnya, yakni dari 109,67 juta orang pada Agustus 2011 meningkat menjadi 110,80 juta orang pada Februari 2012 atau bertambah sebanyak 1,13 juta orang.

Secara kualitas, penduduk yang bekerja di Indonesia juga masih rendah. Ini terlihat dari data Sakernas Agustus 2012 yang menunjukan penduduk yang bekerja dengan latar belakang pendidikan SD ke bawah masih cukup tinggi yaitu sebanyak 53,88 juta orang atau sebesar 48,59 persen. Selain itu sebanyak 44,16 juta orang (39,86%) bekerja pada kegiatan formal dan 66,64 juta orang (60,14%) bekerja pada kegiatan informal, dan penduduk dengan status pekerja tidak dibayar mencapai 17,90 juta orang (16,16%). Kondisi ini tentu saja sangat memperihatinkan karena akan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan tenaga kerja itu sendiri.

Selain permasalahan ketenagakerjaan diatas, permasalahan ketenagakerjaan masih banyak, seperti kualitas angkatan kerja yang rendah, produktivitas tenaga kerja yang rendah, masih tingginya perselisian hubungan industrial, tingkat kecelakaan kerja yang relatif tinggi, kurangnya kesejahteraan para pekerja, banyaknya lembaga latihan yang kurang difungsikan secara maksimal, banyaknya bursa kerja kurang mampu menempatkan tenaga kerja serta permasalahan ketenagakerjaan lainnya.

Untuk mengatasi permasalahan penganggur terbuka dan rendahnya kualitas tenaga kerja diperlukan berbagai upaya dari berbagai pihak baik itu pemerintah, swasta dan berbagai elemen masyarakat. Peran serta sektor mempunyai peran besar dalam penciptaan kesempatan kerja untuk mengurangi penganggur serta meningkatkan kualitas tenaga kerja kita. Khusus di bidang pendidikan perlu dibuka peluang yang seluas-luasnya bagi penduduk usia kerja untuk melanjutkan pendidikan dengan menerapkan program wajib belajar 9 tahun yang sudah berjalan dan apabila memungkinkan ditambah menjadi wajib belajar 12 tahun. Wajib belajar 12 tahun sudah menjadi program beberapa pemerintah daerah, sepert Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

(28)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

3

Salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat dan memperluas perekonomian dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025. MP3EI ini merupakan terobosan pemerintah untuk mengajak semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, kalangan dunia usaha, hingga BUMN untuk bersama-sama terlibat aktif dalam mempercepat dan memperluas perekonomian nasional.

Kebijakan baru ini adalah langkah terobosan strategis, untuk melengkapi strategi pembangunan yang bersifat sektoral dan regional, yang kita jalankan selama ini. Dalam rancang bangun MP3EI itu kita gunakan tiga strategi besar, yaitu: Pertama, mengembangkan enam koridor ekonomi Indonesia, yang meliputi: koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan koridor Papua-Maluku; Kedua, memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara internasional; dan Ketiga, mempercepat kemampuan SDM dan IPTEK, untuk mendukung pengembangan program utama, dengan meningkatkan nilai tambah di setiap koridor ekonomi.

Pengembangan keenam koridor ekonomi itu diharapkan mampu menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan wilayah. Untuk itu, maka pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen (dalam pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono penyampaian keterangan Pemerintah atas RUU Tentang RAPBN 2013 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Kamis (16/08))

Dalam mendukung kebijakan baru serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang relatif besar, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam jumlah yang relatif banyak dan berkwalitas untuk mewujudkan percepatan dan perluasan perekonomian sebagaimana yang diamanatkan Presiden melalui Perpres MP3EI tersebut. Untuk menyediakan SDM yang berkwalitas dalam jumlah yang besar diperlukan suatu rencana yang konfrehenship baik dari dunia pendidikan, dan pelatihan, serta penempatan tenaga kerja. Selain itu, guna menjamin kelangsungan usaha, diperlukan hubungan industrial yang kondusif serta terjaminnya keselamatan dan kesejahteraan pekerja. Hal ini semua bisa berjalan dengan baik bila

(29)

4

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

tersedianya Perencanaan Tenaga Kerja yang dapat dijadikan pedoman seluruh pemangku kepentingan.

Rencana Tenaga Kerja merupakan salah satunya pedoman Pemerintah dalam menyelaraskan antara pertumbuhan dan pemerataan, atau Growth with Equity dengan mempertimbangkan pelestarian, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan sesuai dengan fokus pembangunan nasional yaitu

Progrowth, Pro-poor, Pro-Job serta Pro-environment, terutama pro-job.

1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penyusunan Rencana Tenaga Kerja Nasional 2013-2014 ini adalah memberikan berbagai informasi ketenagakerjaan yang diperlukan sehingga dapat digunakan sebagai bahan perumusan strategi, kebijakan dan program ketenagakerjaan.

Secara rinci tujuan dari penyusunan Rencana Tenaga Kerja Nasional 2013-2014 ini adalah :

1. Memperkirakan ketersediaan secara kuantitatif jumlah tenaga kerja dengan berbagai karakteristiknya tahun 2013-2014.

2. Memprediksi kebutuhan tenaga kerja tahun 2013-2014 yang diturunkan berdasarkan permintaan output nasional dan sektoral.

3. Memprediksi angka pengangguran yang dihitung berdasarkan perbedaan antara kebutuhan tenaga kerja dan persediaan tenaga kerja pada periode yang sama.

4. Menyusun rekomendasi kebijakan dan program terkait masalah ketenagakerjaan secara nasional dan sektoral.

1.3. Hasil Yang Diharapkan

RTKN 2013-2014 ini menjadi signal bagi semua sektor dalam perumusan perencanaan pembangunan ketenagakerjaan yang berbasis empiris, program pembangunan nasional, serta sebagai acuan bagi penyusunan rencana tenaga kerja daerah dan sektoral.

(30)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

5

1.4. Kerangka Pikir Rencana Tenaga Kerja Nasional 1.4.1. Pemintaan dan Penawaran

Meskipun dalam beberapa literatur, ekonom seringkali mengganggap bahwa tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi (production factor). Namun pengertian ini sedikit berbeda dengan

International Labour Organization (ILO) yang menegaskan bahwa tenaga kerja bukanlah suatu komoditi. Tenaga kerja adalah bagian dari penduduk yang tergolong dalam usia kerja. Berdasarkan klasifikasi ILO ini, kelompok pendudukan usia kerja terdiri dari mereka yang bekerja (working) dan tidak bekerja (not working). Mereka yang tidak bekerja terdiri dari mereka yang sedang mencari pekerjaan dan yang tidak sedang mencari pekerjaan. Secara diagramatis, struktur ketenagakerjaan dapat dilihat pada Gambar 1.1 di bawah ini.

Gambar 1.1 Struktur Ketenagakerjaan

(31)

6

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Dinamika kependudukan (kelahiran, kematian, dan perpindahan) menyebabkan statistik jumlah angkatan kerja (Labour Force) akan mengalami perubahan. Hal ini tercermin dari statistik penduduk usia kerja yang bekerja dan atau sedang mencari pekerjaan. Pertumbuhan penduduk yang cepat selama periode (t0 – t+1) akan menambah stok dan flow jumlah angkatan kerja pada t0 menjadi t+1. Selama periode t t+1, sebagian dariangkatan kerja selanjutnya memasuki pasar kerja (entering),

namun sebagian lagi meninggalkan pasar kerja (leaving), dan sebagian masih tetap berada di dalam pasar kerja (staying).

Gambar 1.2

Arus pergerakan Angkatan Kerja di Pasar Kerja

Gambar segitiga dalam gambar di atas menunjukkan pasar kerja. Pasar kerja merupakan pertemuan antara penawaran (supply) dan permintaan (demand) tenaga kerja. Dalam pasar kerja, pekerja (worker dan potential worker) bersedia menawarkan jasa tenaga kerja (dalam unit waktu atau jumlah pekerja) pada tingkat upah tertentu. Sementara dari sisi permintaan, pengusaha (employer atau employment opportunitiy) membutuhkan jasa tenaga kerja (dalam unit waktu dan jumlah pekerja) pada tingkat upah tertentu.

Interaksi antara permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam pasar kerja meliputi terjadinya tiga proses yaitu : produksi (production),

(32)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

7

Gambar 1.3 Konsep Pasar Kerja

Di Negara berkembang termasuk Indonesia, pasar kerja ditandai oleh rendahnya jumlah permintaan tenaga sementara pasokan tenaga kerja tersedia dalam jumlah besar dengan beragam kualitas pendidikan. Selain itu, baik dari sisi permintaan maupun penawaran, tenaga kerja di Indonesia tersegmentasi menurut berbagai karakteristik seperti gender, jenis, sektor/lapangan usaha, geografis, formal dan informal, dll.

1.4.2. Kebijakan Tenaga Kerja

Secara konseptual kebijakan tenaga kerja secara umum dibutuhkan untuk mengurangi terjadinya distorsi (penyimpangan) dalam pasar kerja yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah secara nasional. Perumusan kebijakan ketenagakerjaan tersebut umumnya mempertimbangkan tiga masalah utama yakni (1) kepada siapa suatu kebijakan ketenagakerjaan ditujukan, (2) siapa yang memperoleh keuntungan dari kebijakan tersebut, dan (3) kelompok mana yang akan diintervensi.

Melalui model perencanaan ketenagakerjaan, salah satu alternatif pendekatan untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan terkait dengan pengembangan pasar kerja adalah dengan mengindentifikasi masalah ketenagakerjaan baik dari sisi kebutuhan maupun dari persediaan. Seperti telah dijelaskan di seksi sebelum ini, terdapat 3 (tiga) jenis kebijakan terkait dengan pengembangan pasar tenaga kerja di Indonesia yaitu kebijakan

(33)

8

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

yang berhubungan dengan sisi penawaran (sisi supply atau disebut juga sebagai sisi produksi), kebijakan terkait dengan pertukaran (exchange), dan terakhir adalah kebijakan pemerintah terkait dengan sisi pengunaan tenaga kerja.

Gambar 1.4

Kebijakan Pengembangan Pasar Kerja

Terdapat 3 instrument kebijakan yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan diatas yaitu :

a. Pelayanan umum terkait bidang ketenagakerjaan b. Program Pelatihan tenaga kerja

c. Program Penciptaan lapangan kerja langsung. Contoh :

 Memfasilitasi kontak (komunikasi) antara pekerja dan pengusaha (employer) misalnya : memberikan bantuan informasi kepada pencari kerja, memberikan insentif agar pekerja bersedia bekerja di daerah-daerah yang terpencil atau kurang disukai;

 Meningkatkan keahlian atau keterampilan pekerja sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar kerja (pengusaha) sehingga memperbesar pekerja yang bersangkutan bisa diterima di pasar kerja (contoh : memberikan pelatihan khusus

produksi

pertukaran

penggunaan

permintaan

persediaan

(34)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

9

kepada para pencari kerja/penganggur dengan keahlian tertentu);

 Meningkatkan kebutuhan kerja melalui program penciptaan lapangan kerja secara langsung (bekerja sama dengan pengusaha dengan memberikan insentif kepada pengusaha agar bersedia membuka lapangan kerja);

a. Kebijakan Pelayanan umum terkait bidang ketenagakerjaan

1. Mengembangkan database pencari kerja dengan terstruktur dan terus menerus diperbaharui sehingga mudah digunakan baik bagi pencari kerja maupun pengusaha untuk mencari pekerja dengan keahlian sesuai dengan kebutuhan;

2. Memfasilitasi dengan sebaik-baiknya agar apa yang dibutuhkan oleh pengusaha dan kebutuhan pencari kerja dapat terpenuhi;

3. Membuat database/mencatat para pencari kerja (penganggur) beserta fasilitas yang mereka peroleh (bila ada – misal penerima BLT, PKH, bantuan-bantuan pemerintah yang lain, beasiswa, dll).

b. Kebijakan terkait dengan Program Pelatihan tenaga kerja

1. Meningkatkan produktivitas pekerja (mereka yang telah bekerja);

2. Meningkatkan kesempatan kerja bagi para penganggur (pencari kerja), dengan memperhatikan sasaran prioritas, misalnya :

 Usia muda (angkatan kerja muda)

 Perempuan

 Penganggur, terutama yang telah lama menjadi penganggur

(35)

10

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Bantuan kepada para pekerja antara lain dapat berupa:

1. Penciptaan kesempatan kerja di sektor swasta 2. Penciptaan Kesempatan kerja di sektor pemerintah 3. Bantuan kepada pekerja mandiri

Bantuan kepada kelompok yang dianggap rentan (misal pekerja anak, wanita, penyandang cacat, dst)

c. Kebijakan Program Penciptaan lapangan kerja langsung.

Di sektor swasta, dapat berupa :

1. Memberikan insentif kepada pihak - pihak yang telah mengadakan proses perekrutan;

2. Memberikan subsidi kepada sektor swasta yang bersedia melakukan atau membuka lapangan kerja dengan upah yang disubsidi oleh pemerintah;

3. Memberikan insentif dalam pengurangan pajak perusahan yang bersedia membuka/lapangan kerja; Di sektor Pemerintah, misal, dapat dilakukan dengan cara membangkitkan perekonomian agar dapat berkembang atau tumbuh. Dalam bentuk yang lebih kongkrit misalnya :

1. Memelihara infrastruktur publik (jalan, pasar, penerangan, komunikasi, ditingkat lokal)

2. Meneruskan program pekerja sosial untuk memelihara fasilitas publik.

3. Memberikan bantuan kredit kepada kelompok pekerja mandiri bekerja sama dengan UKM yang telah terbukti berhasil mengembangankan usahanya. Seperti Grameen bank di Bangladesh, atau kredit-kredit yang telah dilakukan oleh sejumlah bank untuk mengembangkan pertanian rakyat.

(36)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

11

1.5. Metodologi dan Sumber Data

1.5.1. Metodologi

Metodologi yang digunakan dalam menyusun Rencana Tenaga Kerja Nasional 2013-2014 ini adalah dengan menggunakan model ekonometrika persamaan simultan untuk tiap-tiap sektor. Parameter persamaan simultan selanjutnya diestimasi dengan TSLS. Hasil estimasi parameter persamaan simultan untuk tiap-tiap sektor selanjutnya digunakan untuk mengestimasi parameter persamaan kebutuhan tenaga kerja.

1.5.2. Sumber Data

Data kependudukan dan statistik ketenagakerjaan yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari publikasi hasil survei yang telah dilakukan oleh BPS. Data tersebut antara lain: sakernas, susenas, supas dan sensus. Data upah bersumber dari data statistik pengupahan nasional yang telah dipublikasi BPS. Selain data kependudukan dan ketenagakerjaan, penelitian ini juga menggunakan beberapa data keuangan dan moneter sumber SEKI Bank Indonesia, CEIC, dan beberapa publikasi internasional terutama untuk data harga minyak.

1.6. Pengertian Dasar, Konsep, dan Definisi

1. Kebutuhan Tenaga Kerja

Kebutuhan tenaga kerja (kesempatan kerja) adalah jumlah lapangan kerja dalam satuan orang yang dapat disediakan oleh seluruh sektor ekonomi dalam kegiatan produksi. Dalam arti yang lebih luas, kebutuhan ini tidak hanya menyangkut jumlahnya, tetapi juga kualitasnya (pendidikan atau keahliannya).

2. Persediaan Tenaga Kerja

Persediaan tenaga kerja adalah jumlah penduduk yang sudah siap untuk bekerja, disebut angkatan kerja (labour force) yang dapat dilihat dari segi kualitas dan kuantitas.

(37)

12

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

3. Penduduk Usia Kerja (PUK)

Penduduk Usia Kerja adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas.

4. Angkatan Kerja (AK)

Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (berumur 15 tahun ke atas) yang selama seminggu sebelum pencacahan, bekerja atau punya pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja; dan mereka yang tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan.

5. Bekerja

Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu

6. Penganggur Terbuka (PT)

Penganggur Terbuka terdiri dari : a. Mereka yang mencari pekerjaan b. Mereka yang mempersiapkan usaha

c. Mereka yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin dapat pekerjaan

d. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja.

7. Tingkat Penganggur Terbuka (TPT)

Tingkat Penganggur Terbuka merupakan rasio jumlah Penganggur Terbuka terhadap jumlah Angkatan Kerja.

8. Setengah Penganggur

Setengah Penganggur adalah kegiatan seseorang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu.

9. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah seluruh penduduk usia kerja

(38)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

13

10. Jenis Kegiatan/Lapangan Usaha

Jenis Kegiatan/Lapangan Usaha adalah bidang kegiatan dari pekerjaan/usaha/perusahaan/instansi dimana seseorang bekerja seperti digolongkan dalam Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia(KLUI)/Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLUI).

11. Produk Domestik Bruto (PDB)

a. Menurut Pendekatan Produksi, PDB adalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya 1 tahun)

b. Menurut Pendekatan Pengeluaran, PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu.

1.7. Kerangka Isi

Penulisan Rencana Tenaga Kerja Nasional 2013-2014 ini dibagi dalam 7 (tujuh) bab, yaitu :

BAB I : PENDAHULUAN

BAB II : KONDISI KETENAGAKERJAAN NASIONAL

BAB III : PERKIRAAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN TENAGA KERJA

BAB IV : PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KEBUTUHAN AKAN TENAGA KERJA

BAB V : PERKIRAAN DAN PERENCANAAN KESEIMBANGAN ANTARA PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN AKAN TENAGA KERJA

BAB VI : ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KETENAGAKERJAAN

(39)
(40)

Perencanaan

Tenaga Kerja Nasional

2013 - 2014

BAB II

(41)
(42)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

15

BAB II

KONDISI KETENAGAKERJAAN

2.1 Kondisi Ekonomi

Pada tahun 2011 pemerintah Indonesia menunjukkan kinerja perekonomian yang lebih baik dari tahun 2010, hal tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6.50 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sebesar 6.10 persen.

Bila dilihat berdasarkan harga berlaku, Produk Domestik Bruto tahun 2011 naik sebesar Rp 990,8 triliun, yaitu dari Rp6.436,3 triliun pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp 7.427,1 triliun pada tahun 2011. Peningkatan tersebut didukung oleh semua sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan selama tahun 2011. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Sektor pengangkutan dan komunikasi, yang diikuti oleh pertumbuhan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran.

Kinerja sektor industri pengolahan berada dalam trend yang meningkat Sektor industri pengolahan tumbuh 6,2 persen. Perkembangan tersebut cukup menggembirakan mengingat pada tahun sebelumnya sektor ini hanya tumbuh sebesar 4,48 persen. Pada sektor yang tidak diperdagangkan (non-tradable), perbaikan pertumbuhan terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran tumbuh sebesar 9,2 persen; serta sektor keuangan, persewaan, dan jasa tumbuh sebesar 6,8 persen. Peningkatan pertumbuhan sektor perdagangan terkait dengan aktivitas perekonomian domestik yang diiringi oleh peningkatan impor. Sementara itu, perbaikan

(43)

16

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

sektor keuangan lebih terkait dengan peningkatan pemberian kredit, baik dari bank maupun lembaga keuangan bukan bank (LKBB). Perbaikan kinerja ketiga sektor tersebut cukup berperan besar terhadap aktivitas ekonomi keseluruhan karena memiliki pangsa yang besar. Di sektor pertanian, permasalahan seperti penurunan produktivitas dan luas lahan, disertai anomali cuaca yang terjadi sepanjang tahun 2011 menyebabkan capaian pertumbuhan di sektor ini lebih rendah dibandingkan dengan sektor lainnya, yakni hanya tumbuh sebesar 3,0 persen. Demikian halnya dengan kinerja sektor pertambangan yang relatif terhambat akibat terjadinya berbagai gangguan produksi minyak seperti kerusakan beberapa kilang, selain juga faktor cuaca yang kurang mendukung bagi aktivitas kegiatan produksi, sehingga sektor ini tumbuh sebesar 1,4 persen. Sedangkan sektor lainnya seperti; sektor bangunan tumbuh sebesar 6,7 persen, sektor angkutan tumbuh sebesar 10,7 persen dan sektor jasa tumbuh sebesar 6,7 persen.

Membaiknya kondisi perekonomian domestik memberi dampak yang positif bagi penyerapan tenaga kerja. Data ketenagakerjaan terakhir menunjukkan tingkat pengangguran berada dalam trend menurun, disertai adanya pergeseran struktur tenaga kerja yang kembali kepada sektor formal, dan membaiknya kualitas pendidikan tenaga kerja. Angka pengangguran terbuka tahun 2011 tercatat sebesar 6,56 persen, lebih rendah dibanding periode tahun sebelumnya yang sebesar 7,14 persen. Sementara itu, komposisi partisipasi angkatan kerja pada sektor formal meningkat dari 33.07 persen pada tahun 2010 menjadi 37.83 persen pada tahun 2011. Peningkatan pada sektor formal dalam penyerapan tenaga kerja diharapkan berdampak positif pada kesinambungan konsumsi rumah tangga, terutama dengan lebih terjaminnya tingkat pendapatan yang memadai. Perkembangan positif lainnya juga terlihat pada kualitas tenaga kerja yang membaik. Pada tahun 2011 komposisi tenaga kerja yang berlatar belakang pendidikan dasar berada dalam trend yang menurun, sebaliknya komposisi tenaga kerja dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi mengalami peningkatan. Program wajib belajar 9 tahun merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi perbaikan kualitas pendidikan tenaga kerja tersebut. Secara keseluruhan kondisi ketenagakerjaan terlihat berada dalam trend yang membaik, namun persoalan terkait tingginya pengangguran yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan daya serap perekonomian terhadap tenaga kerja tetap perlu menjadi perhatian. Sementara itu, persoalan tingginya angka pengangguran pada jenjang pendidikan diploma dan perguruan tinggi juga menjadi salah satu agenda

(44)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

17

penting yang perlu memperoleh prioritas penanganan. Gejala ini di satu sisi merupakan indikasi dari kurangnya ketersediaan lapangan kerja di sektor formal untuk menyerap lebih banyak tenaga kerja berlatar belakang pendidikan tinggi. Di sisi lain, hal ini juga menggambarkan adanya pandangan tenaga kerja berpendidikan tinggi yang lebih mementingkan bekerja di sektor formal. Meskipun perkembangan lapangan kerja sektor formal sudah membaik namun masih perlu dipacu lebih cepat agar pengangguran yang berpendidikan tinggi ini dapat berkurang disertai upaya meningkatkan paradigma kewirausahaan.

Tabel 2.1

Produk Domestik Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2009-2011 (Dalam Triliun Rupiah)

Lapangan Usaha 2009 2010 2011

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 295.88 304.74 313.73

2. Pertambangan & Penggalian 180.20 186.64 189.18

3. Industri Pengolahan 570.10 597.14 634.25

4. Listrik, Gas, Air Bersih 17.14 18.05 18.92

5. Bangunan 140.27 150.02 160.09

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 368.46 400.48 437.25

7. Pengangkutan & Komunikasi 192.20 217.98 241.29

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 209.16 221.02 236.08

9. Jasa-jasa 205.43 217.78 232.47

Jumlah 2,178.9 2,313.8 2,463.2

Sumber : BPS

2.2 Penduduk Usia Kerja

Penduduk usia kerja (PUK) tahun 2009-2011 mengalami pertumbuhan sebesar 0,71 persen, yakni dari 169,33 juta orang pada tahun 2009 menjadi sebanyak 171.76 juta orang pada tahun 2011. Sedangkan pada tahun 2010 pertumbuhan PUK sebesar 1,62 persen sehingga menjadi sebanyak 172.07 juta orang. Pada tahun 2010 ke tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar -0,18 persen, yakni dari sebanyak 172,07 juta orang pada tahun 2010 turun menjadi 171,76 juta orang, hal tersebut terjadi karena adanya perubahan faktor-faktor demografis seperti tingkat kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Pertambahan penduduk

(45)

18

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

usia kerja dengan berbagai karakteristik seperti pada jenis kelamin, golongan umur, tingkat pendidikan diuraikan sebagai berikut :

2.2.1 Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur

Penduduk usia kerja pada tahun 2009-2011 dilihat dari golongan umur terlihat mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Pada tahun 2010 sebagian besar masing-masing kelompok umur mengalami peningkatan, sedangkan pada tahun 2011 mayoritas kelompok umur mengalami penurunan.

Tabel 2.2

Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur Tahun 2009-2011 (Juta Orang)

Golongan Umur 2009 2010 2011 15-19 23.67 22.77 22.44 20-24 19.49 18.29 19.02 25-29 20.76 20.97 20.78 30-34 19.99 20.75 21.06 35-39 17.92 18.56 18.56 40-44 16.30 17.12 17.04 45-49 13.67 14.17 14.00 50-54 11.38 12.05 11.99 55-59 8.19 8.72 8.57 60+ 17.95 18.68 18.29 Jumlah 169.33 172.07 171.76

Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009,2010,2011

Pada tahun 2010 PUK yang paling besar pertumbuhannya pada golongan umur 55-59 tahun yaitu mencapai 6,41 persen, disusul golongan umur 50-54 tahun yaitu sebesar 5,90 persen, sedangkan yang mengalami pertumbuhan paling minus pada golongan umur 20-24 tahun mencapai -6,20 persen dan disusul golongan umur 15-19 tahun mencapai sebesar -3,78 persen. Sedangkan untuk proporsi PUK yang terbesar pada golongan umur 15-19 tahun yaitu mencapai sebesar 13,23 persen, disusul golongan umur 25-29 tahun yaitu mencapai sebesar 12.19 persen. Sedangkan pada tahun 2011 pertumbuhan PUK rata-rata mengalami penurunan, kecuali golongan umur 20-24 tahun

(46)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

19

mengalami pertumbuhan sebesar 4.01 persen dan golongan umur 30-34 tahun sebesar 1.52 persen. Adapun golongan umur lainnya mengalami pertumbuhan negatif antara -0.02 s.d -2,06 persen. Sedangkan proporsi yang terbesar pada golongan umur 15-19 tahun sebesar 22.44 juta orang atau 13,06 persen dan disusul umur 30-34 tahun sebesar 21.06 juta orang atau 12,26 persen, sedangkan yang terkecil proporsinya adalah usia 55-59 tahun sebesar 8.57 juta orang atau 4.99 persen.

2.2.2 Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan

Penduduk usia kerja menurut tingkat pendidikan pada tahun 2009-2011 secara nasional sebagian besar masih didominasi yang berpendidikan Sekolah Dasar. Proporsi penduduk yang berpendidikan maksimum SD sebesar 50,09 persen pada tahun 2009, menurun menjadi sebesar 48,82 persen pada tahun 2010, dan menurun lagi menjadi 47,75 persen pada tahun 2011. Penurunan proporsi PUK yang berpendidikan maksimum SD ini mendorong peningkatan proporsi PUK yang berpendidikan di atasnya (SMTP s/d Universitas). Dengan masih besarnya proporsi PUK yang berpendidikan maksimum SD ini menunjukkan tingkat kualitas penduduk usia kerja masih sangat rendah.

Untuk tahun 2010 maupun 2011 PUK yang berpendidikan SMTP ke atas semuanya mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2011 untuk PUK yang berpendidikan SMTA Kejuruan mengalami sedikit penurunan sebanyak 0,11 juta menjadi 12.63 juta orang, yang pada tahun sebelumnya sebesar 12.74 juta orang. Sedangkan untuk Maksimum SD mengalami penurunan sebesar -1,99 persen. Adapun PUK yang mengalami pertumbuhan terbesar pada tahun 2011 adalah yang berpendidikan SMTA Umum sebesar 4,28 persen sehingga jumlahnya mencapai 27,38 juta orang, sedangkan yang berpendidikan universitas tumbuh sebesar 3,94 persen menjadi 6,93 juta orang.

(47)

20

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Tabel 2.3

Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2009-2011 (Juta Orang)

Tingkat Pendidikan 2009 2010 2011 SD 84.82 84.00 82.01 SMTP 37.08 38.30 38.67 SMTA Umum 25.13 26.26 27.38 SMTA Kejuruan 12.38 12.74 12.63 Diploma 3.88 4.11 4.14 Universitas 6.04 6.66 6.93 Jumlah 169.33 172.07 171.76

Sumber : BPS, Sakernas Tahun 2009,2010,2011

2.2.3 Penduduk Usia KerjaMenurut Jenis Kelamin

Pertumbuhan penduduk usia kerja menurut jenis kelamin pada tahun 2009-2011 terlihat fluktuatif dan jumlahnya lebih didominasi oleh perempuan. Pada tahun 2009 penduduk usia kerja laki-laki sebanyak 84.17 juta orang dan perempuan sebanyak 85,15 juta orang, tahun 2010 penduduk usia kerja laki-laki meningkat menjadi sebanyak 85,82 juta orang atau naik sebesar 1.96 persen dan kelompok perempuan menjadi sebanyak 86,25 juta orang atau naik sebesar 1,29%. Sedangkan tahun 2011 penduduk usia kerja yang berjenis kelamin laki-laki menurun menjadi sebanyak 85,71 juta orangatau berkurang sebesar 0,11 juta orang, begitu pula yang berjenis kelamin perempuan menurun menjadi sebanyak 86,05 juta orang atau turun 0,20 juta orang.

Tabel 2.4

Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun 2009-2011 (Juta Orang)

Jenis Kelamin 2009 2010 2011 Laki-Laki 84.17 85.82 85.71 Perempuan 85.15 86.25 86.05 Jumlah 169.33 172.07 171.76

(48)

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

21

2.2.4 Penduduk Usia KerjaMenurut Provinsi

Penduduk usia kerja menurut provinsi pada tahun 2009-2011 secara nasional sebagian besar terdapat pada provinsi Jawa Barat. Proporsi penduduk usia kerja di provinsi Jawa Barat sebesar 17,82 persen pada tahun 2009, menurun menjadi sebesar 17,60 persen pada tahun 2010, dan mengalami peningkatan menjadi sebesar 18,10 persen pada tahun 2011. Disusul oleh provinsi Jawa Timur yang mempunyai proporsi penduduk usia kerja terbesar kedua yakni sebesar 17,35 persen pada tahun 2009, menurun menjadi sebesar 16,43 persen pada tahun 2010, dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan sehingga menjadi sebesar 16,56 persen.

Penduduk usia kerja yang terendah selama tahun 2009-2011 terdapat pada provinsi Papua Barat yakni sebanyak 0,51 juta orang pada tahun 2009, menurun menjadi 0,49 juta orang pada tahun 2010, dan pada tahun 2011 mengalami peningkatan sehingga menjadi sebanyak 0,52 juta orang. Provinsi Maluku Utara merupakan provinsi yang mempunyai penduduk usia kerja terendah kedua setelah provinsi Papua Barat yakni sebanyak 0,66 juta orang pada tahun 2009, meningkat menjadi 0,67 juta orang pada tahun 2010 dan terus meningkat lagi sehingga menjadi sebanyak 0,69 juta orang pada tahun 2011.

(49)

22

Pusat Perencanaan Tenaga Kerja Kemnakertrans R.I

Tabel 2.5

Penduduk Usia Kerja Menurut Provinsi Tahun 2009-2011 (Juta Orang)

Provinsi 2009 2010 2011 NAD 3.04 3.07 3.14 Sumatera Utara 9.11 9.52 8.76 Sumatera Barat 3.38 3.31 3.34 R I A U 3.64 3.73 3.86 J A M B I 2.00 2.35 2.21 Sumatera Selatan 5.07 5.22 5.30 Bengkulu 1.18 1.19 1.21 Lampung 5.35 5.82 5.44 Bangka Belitung 0.83 0.93 0.89 Kepulauan Riau 1.06 1.20 1.26 DKI Jakarta 7.04 7.77 7.42 Jawa Barat 30.18 30.29 31.08 Jawa Tengah 24.67 23.87 23.91 D.I. Yogyakarta 2.87 2.70 2.72 Jawa Timur 29.37 28.27 28.44 B A N T E N 6.84 8.13 7.69 B A L I 2.73 2.90 2.95 Nusa Tenggara Barat 3.06 3.38 3.13 Nusa Tenggara Timur 3.12 2.93 3.00 Kalimantan Barat 3.00 3.00 3.02 Kalimantan Tengah 1.47 1.53 1.56 Kalimantan Selatan 2.54 2.58 2.63 Kalimantan Timur 2.27 2.48 2.58 Sulawesi Utara 1.69 1.64 1.66 Sulawesi Tengah 1.75 1.76 1.80 Sulawesi Selatan 5.66 5.57 5.62 Sulawesi Tenggara 1.42 1.46 1.48 GORONTALO 0.70 0.71 0.73 Sulawesi Barat 0.75 0.74 0.76 Maluku 0.91 0.98 1.01 Maluku Utara 0.66 0.67 0.69 Papua Barat 0.51 0.49 0.52 Papua 1.45 1.86 1.96 Jumlah 169.33 172.07 171.76

Gambar

Gambar 1.1  Struktur Ketenagakerjaan
Gambar 1.3  Konsep Pasar Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan penurunan kadar surfaktan dan COD dalam air bekas cucian kendaraan dengan melakukan variasi diameter reaktor, ketinggian

Kemudian 6 (30,4%) responden lahir dengan kondisi tidak terjadinya ketuban pecah dini pada saat persalinan namun mengalami sepsis hal ini disebabkan oleh responden yang lahir

(1) Kepada Wajib Pajak badan dapat diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (5)

Pengolahan data menggunakan sistem yang baru memiliki kelebihan dibanding yang lama, seperti dalam pengolahan data menjadi lebih cepat, data lebih aman karena

“Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh dari sector pajak daerah, retribusi daerah hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah

Perilaku asertif dalam penelitian ini diukur dengan angket perilaku asertif, aspek-aspek dalam perilaku asertif menurut Rakos (1991) yaitu ; content (isi),

Perhitungan dengan menggunakan keempat persamaan tersebut dengan input gelombang sinusoidal dan pada kedalaman konstan sebesar 5 m juga memberikan hasil dimana gelombang

Bagi setiap keluarga yang akan membaptis anaknya, harap mengajukan permohonan kepada Majelis Jemaat GPIB Menara Kasih pada setiap hari kerja, 2 (dua) minggu sebelum