HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Tingkat Pendidikan
48
Dewi et al. (2016), kelompok usia produktif (20-54 tahun), dimana mayoritas rentang umur dari petani responden sudah di luar daripada umur yang produktif untuk bekerja. Hasil tersebut yang menyebabkan umur petani responden tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp.
Menurut pernyataan (Kurniati 2015) pada penelitiannya bahwa rata-rata umur petani yang termasuk golongan usia produktif akan berpengaruh terhadap kemampuan fisik petani dalam mengelola usahataninya.
49
responden tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp.
Menurut pernyataan (Fadhilah et all. 2018) bahwa pengalaman berusahatani akan membuat petani memiliki pengetahuan dan keterampilan usahatani yang tinggi sehingga pengalaman berusahatani berpengaruh nyata terhadap perilaku petani.
4. Luas Lahan Usahatani
Indikator luas lahan usahatani tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp dilihat dari hasil deskripsi indikator tersebut, mayoritas petani responden yang tergolong pada kategori luas lahan (1.000-10.000 m2) sebanyak 45 orang.
Dimana kategori luas lahan (1.000-10.000 m2) tersebut adalah kategori yang memiliki luasan lahan usahatani antara skala kecil dan menengah. Hasil tersebut yang menyebabkan lama usahatani petani responden tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp.
Fadhillah LE et al. (2019) menyatakan bahwa luas lahan garapan berpengaruh dengan sikap petani, karena jika semakin luas lahan yang dimiliki petani maka petani lebih cepat menerima informasi.
Pengaruh Faktor Eksternal (X2) terhadap Perilaku Petani dalam Penggunaan Agensia Hayati Trichoderma sp pada Komoditas Cabai
Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa karakteristik responden berpengaruh nyata jika nilai signifikan < 0,05 dan nilai t hitung > nilai t tabel. Variabel X2 yaitu faktor eksternal tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp (Y). Karena hasil dari Tabel 23 diperoleh nilai signifikan variabel X2 0, 189 > 0,05, dengan nilai t hitung sebesar 1.333 < 2.00958 t tabel.
Hasil dilapangan petani responden dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan sudah cukup baik, terutama dari segi penerimaan materi penyuluhan atau informasi mudah di pahami oleh petani responden. Namun perlu adanyapeningkatan dari segi peran penyuluh, penyuluh lapangan sebaiknya melakukan pendampingan secara berkala atau partisipatif terhadap petani.
50
Variabel faktor eksternal disini merupakan faktor dari luar yang berkaitan dengan kegiatan penyuluhan. Hasil dari faktor eksternal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Suprayitno (2018) bahwa penyuluhan sebagai suatu tindakan praktis, merupakan upaya yang dilakukan untuk mendorong terjadinya perubahan perilaku pada individu, kelompok, dan komunitas.
Variabel faktor eksternal ini meliputi tiga indikator diantaranya peran penyuluh, intensitas penyuluhan, dan materi penyuluhan sebagai berikut:
1. Peran Penyuluh
Indikator peran penyuluh tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp. Dilihat dari hasil deskripsi indikator tersebut, persentasenya paling banyak pada kategori sedang sebesar 65,4% atau sebanyak 34 petani responden.
Dimana kategori sedang tersebut menandakan kurang adanya peran serta penyuluh. Hasil tersebut yang menunjukan peran penyuluh tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp.
Menurut pernyataan (Malta 2013) pada penelitiannya bahwa interaksi penyuluh yang juga merupakan salah satu dari peran penyuluh berpengaruh terhadap kemandirian petani.
2. Intensitas Penyuluhan
Indikator intensitas penyuluhan tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp. Dilihat dari hasil deskripsi indikator tersebut, masih terdapat petani responden yang tergolong pada kategori sedang sebesar 36,5% atau sebanyak 19 petani responden.
Hasil tersebut menandakan kegiatan penyuluhan tidak rutin dilakukan. Hasil tersebut yang menunjukan intensitas penyuluhan tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp.
Sejalan dengan pernyataan (Puspitasari et all. 2018) dalam penelitiannya bahwa penyuluhan pertanian tidak dapat meningkatkan atau tidak berpengaruh kepada perilaku petani.
51 3. Materi Penyuluhan
Indikator materi penyuluhan tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp. Dilihat dari hasil deskripsi indikator tersebut, masih terdapat petani responden yang tergolong pada kategori sedang sebesar 21,1% atau sebanyak 11 petani responden.
Hasil tersebut menandakan materi penyuluhan yang digunakan belum begitu sesuai dengan yang dibutuhkan petani, dan berdasarkan wawancara di lapangan di lihat dari komunikasi antar penyuluh dan petani kurang terjalin dengan baik. Hasil tersebut menunjukan bahwa materi penyuluhan tidak berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia pengendali hayati Trichoderma sp.
Ulfa dan Sumardjo (2017) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kemampuan agen penyuluh dalam menguasai materi penyuluhan terlihat salah satunya yaitu mempunyai pengetahuan yang luas di bidang pertanian serta disesuaikan dengan kapasitas sasaran penyuluhan dalam menerima informasi tersebut.
Pengaruh Faktor Agensia Pengendali Hayati (X3) terhadap Perilaku Petani dalam Penggunaan Agensia Hayati Trichoderma sp pada Komoditas Cabai
Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa agensia pengendali hayati berpengaruh nyata jika nilai signifikan < 0,05 dan nilai t hitung
> nilai t tabel. Variabel X3 yaitu faktor agensia pengendali hayati berpengaruh nyata terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp (Y) karena hasil dari Tabel 23 diperoleh nilai signifikan variabel X3 0,000 < 0,05, dengan nilai t sebesar 4.651>2.00958 t tabel.
Variabel faktor eksternal ini meliputi tiga indikator diantaranya sifat agensia pengendali hayati, teknik pemanfaatan agensia pengendali hayati, dan peranan petugas POPT, sebagai berikut:
1. Sifat Agensia Pengendali Hayati
Indikator sifat agensia pengendali hayati berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp. Dilihat dari hasil deskripsi indikator tersebut, persentase paling banyak pada kategori tinggi sebesar 78,8%
atau sebanyak 41 petani responden.
52
Dimana banyaknya petani responden pada kategori itu berarti menandakan sifat agensia pengendali hayati sebagian besar sudah dipahami oleh petani. Hasil tersebut menunjukan bahawa sifat agensia pengendali hayati berpengaruh terhadap perilaku petani dalam penggunaan agensia hayati Trichoderma sp.
Hal tersebut sejalan penelitian Maghfirillah (2020) yang menyatakan bahwa implementasi dengan pengendali hama terpadu yang mudah diaplikasikan, harganya murah dan memiliki manfaat yang baik terhadap lahan usaha tani, mampu meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi serta mampu meningkatkan sumberdaya manusia yang ada