HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Tingkat Pendidikan
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (Suryani, 2004) tingkat pendidikan secara langsung dan tidak langsung akan menentukan baik buruknya pola komunikasi antara anggota keluarga. Selain itu, imbas dari pendidikan orang tua akan mempengaruhi persepsinya tentang penting atau tidaknya pendidikan.
Berdasarkan hasil penelitian tentang tingkat pendidikan mayarakat nelayan baik pendidikan formal ataupun pendidikan non formal dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Tingkat Pendidikan Keluarga
No Tingkat Pendidikan Nelayan Istri Nelayan
F % F % 1 Tidak tamat SD 14 15,9 17 19,3 2 Tamat SD 40 45,5 43 48,9 3 Tamat SMP 33 37,5 22 25,0 4 Tamat SMA 1 1,1 6 6,8 Jumlah 88 100,0 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, tingkatan pendidikan orang tua yang bekerja sebagai nelayan (Bapak) dengan jumlah terbesar adalah tamat SD sebesar 45,5 %, dan yang terkecil adalah tamat SMA sebesar 1,1 %. Rata-rata tingkat pendidikan nelayan adalah tamat SD. Tingkat pendidikan istri nelayan terbesar adalah tamat SD sebesar 48,9 %, sedangkan tingkat pendidikan istri paling sedikit adalah tamat SMA sebesar 6,8 %. Rata-rata tingkat pendidikan istri nelayan adalah tamat
SD. Berdasarkan data tersebut, maka tingkat pendidikan keluarga nelayan tergolong rendah dengan rata-rata tamat SD.
Pada pendidikan non formal masyarakat nelayan hanya sedikit masyarakat yang pernah mengikuti kursus, seperti kursus elektro, kursus menjahit, ataupun kursus yang lain. Nelayan yang pernah mengikuti kursus hanya 15 orang yaitu kursus elektro 2 orang dan kursus menjahit adalah 13 orang. Sedangkan 75 orang lainnya tidak pernah mengikuti kursus. Rata-rata nelayan tidak pernah mengikuti pendidikan non formal seperti kursus. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 10. Pendidikan Non Formal Nelayan No Pendidikan non formal F %
1 Pernah kursus elektro 2 2,3 2 Pernah kursus menjahit 13 14,8 3 Tidak Pernah kursus 75 85,2
Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011 3. Kondisi Sosial - Ekonomi
Kondisi sosial - ekonomi penduduk Desa Tasikagung dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut.
a. Umur
Selain berkaitan dengan tingkat kedewasaan teknis seseorang, usia juga mempunyai kaitan dengan tingkat kedewasaan psikologis. Hal ini berarti semakin lanjut usia seseorang, diharapkan akan semakin mampu menunjukan kematangan jiwa (dalam arti semakin bijaksana), semakin mampu berpikir secara rasional dan semakin mampu mengendalikan emosi dan sifat-sifat lainnya yang menunjukan
kematangan intelektual dalam psikologis, sehingga semakin tua usia seseorang, motivasi yang dimiliki akan semakin tinggi. Usia dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir, mempersepsi dan menyikapi sesuatu yang menjadi objeknya (Heryanto, 1998).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui rata-rata umur nelayan yaitu 46 tahun. Hasil penelitian umur nelayan tercantum sebagai berikut. Tabel 11. Umur Nelayan
No Umur F % 1 >60 tahun 13 14,8 2 50-60 tahun 21 23,9 3 40-50 tahun 18 20,5 4 30-40 tahun 36 40,9 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel diatas, diketahui jumlah tertinggi pada kelompok umur 30-40 tahun yaitu 40,9 %, sedangkan jumlah terendah pada kelompok umur > 60 tahun sebesar 14,8 %. Rata-rata umur nelayan adalah 46 tahun.
b. Status pernikahan Tabel 12. Umur Pernikahan
No Umur Pernikahan F % 1 > 30 tahun 21 23,9 2 20-30 tahun 19 21,6 3 10-20 tahun 42 47,7 4 5-10 tahun 6 6,8 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, status umur pernikahan nelayan tertinggi pada kelompok umur antara 10-20 tahun sebesar 47,7 %.
Sedangkan status umur pernikahan terendah pada kelompok umur antara 5-10 tahun sebesar 6,8 %. Rata-rata umur pernikahan nelayan adalah 21 tahun dengan rata-rata anak nelayan sedang menduduki bangku sekolah dasar dan sekolah menengah.
c. Jumlah Tanggungan
Banyaknya tanggungan dalam keluarga berimplikasi pada besar kecilnya pengeluaran dalam suatu keluarga sehingga mempengaruhi kondisi sosial-ekonominya.
Tabel 13. Anggota Keluarga Inti
No Jumlah anggota Keluarga Inti F %
1 3 orang 11 12,5 2 4 orang 27 30,7 3 5 orang 13 14,8 4 6 orang 31 35,2 5 > 6 orang 6 6,7 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, diketahui rata-rata jumlah anggota keluarga nelayan adalah 5 orang. Jumlah anggota keluarga terbesar adalah 9 orang dan jumlah anggota keluarga terkecil adalah 3 orang. Jumlah terbanyak pada 6 orang anggota keluarga sebesar 35,2 %.
Tabel 14. Jumlah Anak Nelayan
No Jumlah Anak F % 1 1 orang 11 12,5 2 2 orang 27 30,7 3 3 orang 13 14,8 4 4 orang 31 35,2 5 > 4 orang 6 6,7 Jumlah 88 100,0
Berdasarkan tabel di atas, Jumlah terbanyak anak nelayan adalah 7 orang dan terkecil adalah 1 orang. Rata-rata nelayan mempunyai 3 orang anak. Hal tersebut menunjukkan bahwa nelayan sudah sadar akan kebutuhan yang diperlukan untuk tiap anggota keluarga, seperti kebutuhan sekolah anak, karena setiap orang tua menginginkan anaknya dapat melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi dan mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik.
d. Mata pencaharian
Mata pencaharian nelayan terbagi menjadi beberapa bagian yaitu nahkoda, ABK (anak buah kapal) dan juragan (pemilik kapal). Pembagian pekerjaan nelayan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 15. Bagian Pekerjaan Nelayan
No. Bagian Jumlah
1. Nahkoda 18
2. ABK 54
3. Juragan 16
Jumlah 88
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, Nelayan yang bekerja bagian ABK terbanyak sebesar 54 orang.
Bekerja sebagai nelayan telah menghabiskan waktunya untuk berada di laut. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 16. Lama Melaut
No Lama Melaut F %
1 2 minggu -1 bulan 64 72,7
2 1-2 minggu 18 20, 5
3 < 1 minggu 6 6,8
Jumlah 88 100,0
Berdasarkan tabel 16, lama waktu melaut nelayan rata-rata 2 minggu-1 bulan yaitu 25 hari untuk melaut dan 5 hari untuk beristirahat di darat dan persiapan melaut lagi. Oleh karena itu sangat sedikit waktu yang diberikan seorang ayah kepada keluarganya. Sehingga perhatian dan kasih sayang untuk anggota keluarga kurang.
Pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari selain suami/kepala keluarga yang bekerja sebagai nelayan, ada peran serta istri yang berusaha membantu suami untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan membuka usaha kecil atau menjadi buruh industri rumah tangga. Berikut tabel pekerjaan istri nelayan.
Tabel 17. Pekerjaan Istri
No Jenis Pekerjaan F % 1 Pedagang 9 10,2 2 Penjahit 3 3,4 3 Buruh 23 26,1 4 Tidak Bekerja 53 60,2 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, rata-rata istri nelayan hanya sebagai ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Istri nelayan yang bekerja sebagai pedagang sebesar 10,2 %, yang bekerja sebagai penjahit sebsesar 3,4 %, dan yang bekerja sebagai buruh ngenam pada tempat pembuatan ikan pindang sebesar 26,1 %.
Rendahnya tingkat pendidikan istri-istri nelayan sehingga kurang tanggap dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Oleh karena itu perlu adanya pemberdayaan wanita nelayan untuk meningkatkan
kesejahteraannya dengan menciptakan suatu inovasi kreatif terhadap lingkungan seperti masakan olahan praktis atau kerajinan yang dapat dipasarkan. Hal tersebut dapat menciptakan lapangan kerja dengan mendirikan industri rumah tangga.
e. Pendapatan
Kondisi sosial ekonomi seseorang dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh dan juga besarnya pengeluaran. Jumlah pendapatan yang diperoleh setiap nelayan berbeda sesuai dengan posisinya. Pendapatan yang diperoleh nelayan berbeda-beda sesuai dengan bagian pekerjaan nelayan. Sistem pembagian hasil melaut nelayan yaitu dari hasil pokok dikurangi untuk membayar perbekalan dan bahan bakar, kemudian diambil 9 % untuk nahkoda dan sisanya dibagi dua untuk pemilik kapal (juragan) dan untuk ABK (pendega). Pendapatan nelayan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 18. Pendapatan Nelayan
No Pendapatan Nelayan F % 1 > Rp. 1.370.000,- 78 88,6 2 Rp. 1.075.000,- – < Rp. 1.370.000,- 5 5,7 3 Rp. 780.000,- - < Rp. 1.075.000,- 3 3,4 4 < Rp. 780.000,- 2 2,3 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, diketahui besarnya pendapatan nelayan yang termasuk kedalam golongan tinggi > Rp. 1.370.000,- sebesar 88,6 %, dan nelayan yang mendapat golongan rendah < Rp 780.000,- sebesar 2,3 %. Rata-rata pendapatan nelayan dalam sekali melaut adalah
Rp.3.095.000,- termasuk kedalam golongan pendapatan tinggi. Pendapatan tertinggi adalah nelayan sebagai juragan dan nahkoda kapal serta ABK yang melaut 2 minggu-1 bulan, sedangkan yang mendapatkan pendapatan terendah adalah nelayan sebagai anak buah kapal yang melaut < 1 minggu.
Selain itu tinggi rendahnya pendapatan seseorang dilihat dari kebutuhan hidup layak (KHL) dan upah minimum kabupaten (UMK) daerah itu. UMK Kabupaten Rembang tahun 2011 sebesar Rp. 757.600,- (hrcentro.com). Apabila rata-rata pendapatan nelayan sebulan > UMK maka tergolong tinggi dan apabila < UMK maka tergolong rendah. Berdasarkan tabel 18, rata-rata pendapatan nelayan tergolong tinggi.
Kehidupan suatu keluarga selain bergantung pada pendapatan kepala keluarga, anggota keluarga yang lain juga berusaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Sebagian istri nelayan ada yang bekerja sebagai buruh ngenam tempat ikan pindang dan juga ada yang membuka usaha kecil seperti warung makan atau warung kebutuhan pokok seperti pada gambar berikut.
Gambar 6. Warung Sembako Istri Nelayan
Istri nelayan yang bekerja sebagai buruh ngenam di tempat ikan pindang dan juga yang membuka warung sembako atau warung makan mempunyai penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Berikut data pendapatan istri nelayan yang mempunyai pekerjaan sampingan.
Tabel 19. Pendapatan Istri Nelayan
No Jumlah Pendapatan Istri F %
1 Tidak punya penghasilan 53 60,2
2 500.000 - 1.000.000 4 4,5
3 < 500.000 31 35,2
Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, istri nelayan yang hanya sebagai ibu rumah tangga sebesar 60,2 %. Istri nelayan yang berpenghasilan antara Rp. 500.000,- – Rp. 1.000.000,- sebesar 4,5 %. Sedangkan istri nelayan yang berpenghasilan < Rp. 500.000,- adalah 35,2 %. Rata-rata pendapatan istri nelayan adalah Rp. 300.000,-.
Tabel 20. Pengeluaran Biaya Hidup No Jumlah Pengeluaran F % 1 > 1.750.000 17 19,3 2 1.500.000 - 1.750.000 4 4,5 3 1.250.000 - 1.500.000 11 12,5 4 1.000.000 - 1.250.000 23 26,1 5 < 1.000.000 33 37,5 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan data di atas, nelayan yang mempunyai pengeluaran biaya hidup perbulan < Rp.1.000.000,- sebesar 37,5 %, sedangkan nelayan yang mempunyai pengeluaran teringgi yaitu > Rp. 1.750.000,- sebesar 19,3 %. Rata-rata pengeluaran untuk biaya hidup per bulan adalan Rp.1.200.000,-.
Tabel 21. Pengeluaran untuk pendidikan anak
No Jumlah Pengeluaran F % 1 > 250.000 34 38,6 2 200.000 - 250.000 5 5,7 3 150.000 - 200.000 9 10,2 4 100.000 - 150.000 32 36,4 5 < 100.000 8 9,1 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan data di atas, pengeluaran untuk pendidikan anak relatif bervariasi sesuai dengan tingkat pendidikan anak. Pengeluaran tertinggi yaitu > Rp. 250.000,- sebesar 38,6 %. Pengeluaran terkecil yaitu < Rp. 100.000,- sebesar 9,1 %. Rata-rata pengeluaran per bulan untuk pendidikan anak adalah Rp. 190.000,-.
f. Jenis tempat tinggal
Kondisi sosial-ekonomi seseorang, selain dilihat dari pengeluaran dan pendapatannya, juga dapat dilihat dari kondisi tempat tinggalnya, antara lain status tempat tinggalnya, jenis dan luas rumahnya, jenis lantainya, dan juga posisi rumahnya yang dekat dengan jalan atau tidak. Berikut data jenis tempat tinggal nelayan di Desa Tasikagung.
Tabel 22. Jenis Tempat Tinggal
No. Aspek Kondisi F %
1 Status Rumah
Hak milik 68 77,3
Kontrak/sewa 4 4,5
Bersama Orang tua 16 18,2
2 Jenis Rumah Permanen 58 65,9 Semi Permanen 25 28,4 Tidak Permanen 5 5,7 3 Jenis Lantai Keramik 48 54,5 Tegel 25 28,4 Plester/tanah 15 17,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan data di atas, status rumah rata-rata adalah hak milik sebesar 77,3 %, rata-rata jenis rumahnya adalah permanen sebesar 65,9%, dan rata-rata jenis lantainya adalah keramik sebesar 54,5 %. Secara keseluruhan rata-rata kondisi tempat tinggal nelayan adalah status hak milik, jenis rumah permanen, dan berlantai keramik. Kondisi tempat tinggal di Desa Tasikagung sangat padat penduduk dengan luah wilayah yang sempit. Posisi rumah nelayan rata-rata berada pada jalan-jalan kecil yang hanya bisa dilewati sepeda atau sepeda motor saja. Kondisi rumah nelayan dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 7. Kondisi Rumah Nelayan yang Berlantai Batu Tertata
Gambar 8. Kondisi Rumah Nelayan yang Berlantai Keramik g. Pemilikan Kekayaan
Kondisi sosial-ekonomi seseorang juga dapat dilihat dari pemilikan kekayaannya. Pemilikan kekayaan dapat dilihat dari barang-barang elektronik seperti seperti kulkas, televisi, VCD Player, mesin cuci, serta radio; dan kendaraan seperti sepeda, sepeda motor, mobil. Pemilikan kekayaan berupa barang-barang dapat diklasifikasikan sebagai beikut.
Tabel 23. Pemilikan Barang-barang
No Pemilikan Kekayaan F %
1 Kulkas, televisi, VCD player, mesin cuci, radio 14 15,9
2 Kulkas, televisi, VCD player dan radio 32 36,6
3 kulkas, televisi dan radio 15 17,0
4 kulkas dan televisi 17 19,2
5 Televisi 10 11,3
Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan data di atas, rata-rata nelayan mempunyai pemilikan kekayaan seperti kulkas, televisi, VCD player dan radio. Karena pemilikan barang-barang tersebut, sekarang ini bukan menjadi barang mewah lagi.
Pemilikan kekayaan nelayan juga dapat dilihat dari pemilikan kendaraan sebagai berikut.
Tabel 24. Pemilikan Kendaraan
No Pemilikan Kekayaan F %
1 Mobil, sepeda motor dan sepeda 15 17,0
2 Mobil dan sepeda motor 10 11,4
3 Sepeda motor, Sepeda 56 63,6
4 Sepeda 7 8,0
Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, rata-rata nelayan mempunyai sepeda motor dan sepeda. Karena sepeda motor sekarang ini sudah bukan menjadi barang mewah lagi.
Berdasarkan beberapa indikator dari kondisi sosial-ekonomi, maka dapat diketahui kondisi sosial-ekonomi nelayan Desa Tasikagung sebagai berikut.
Tabel 25. Kondisi Sosial-Ekonomi Desa Tasikagung No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 0 0,0 2 Tinggi 53 60,2 3 Sedang 29 33,0 4 Rendah 6 6,8 5 Sangat Rendah 0 0,0 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Data pada tabel 21, menjelaskan kondisi sosial-ekonomi nelayan Desa Tasikagung. Kondisi sosial-ekonomi nelayan yang rendah sebesar 6,8 %, kondisi sedang sebesar 33,0 %, sedangkan kondisi tinggi sebesar 60,2 %. Rata-rata kondisi sosial-ekonomi nelayan di Desa Tasikagung adalah sedang sebesar 62,2 % (perhitungan pada lampiran 13).
Gambar 9. Kondisi Sosial-Ekonomi Desa Tasikagung 4. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak
a. Pemilihan Pendidikan Untuk Anak
Peranan orang tua dalam pendidikan anak sangat penting. Pengetahuan orang tua tentang perkembangan pendidikan tidak kalah penting untuk memilihkan pendidikan mana yang baik untuk anak sesuai kemampuannya. Ikut campur orang tua sangat diperlukan untuk
60,2% 33,0% 6,8% Tinggi Sedang Rendah
menunjang prestasi anak dalam dunia pendidikannya. Pemilihan pendidikan untuk anak meliputi seberapa besar pengetahuan orang tua tentang pendidikan, pemilihan pendidikan untuk anak, dan peran serta orang tua dalam pemilihan kegiatan ekstrakulikuler sesuai kemampuan.
Tabel 26. Pemilihan Pendidikan Untuk Anak
No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 22 25,0 2 Tinggi 6 6,8 3 Sedang 23 26,1 4 Rendah 20 22,7 5 Sangat Rendah 17 19,3 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, pemilihan pendidikan untuk anak sangat tinggi sebesar 25 %, pada kriteria sangat rendah sebesar 19,3 %. Persentase terbesar yaitu pada kriteria sedang sebesar 26,1 %. Rata-rata peranan orang tua nelayan dalam pemilihan pendidikan untuk anak adalah tinggi.
b. Cara Mendidik Anak
Cara orang tua dalam mendidik anak besar pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Orang tua yang acuh tak acuh terhadap pendidikan anak tanpa memperhatikan sedikit pun pendidikan anak dapat menyebabkan anak kurang berhasil dalam pendidikannya terutama dalam prestasi belajarnya. Oleh karena itu keterlibatan orang tua sangat penting untuk keberhasilan anak. Tabel peranan keluarga dalam cara mendidik anak dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 27. Cara Mendidik Anak No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 14 15,9 2 Tinggi 39 44,3 3 Sedang 12 13,6 4 Rendah 14 15,9 5 Sangat Rendah 9 10,2 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, peranan orang tua dalam hal cara mendidik anak sangat tinggi sebesar 15,9 %, pada kriteria sangat rendah sebesar 10,2 %. Persentase terbesar pada kriteria tinggi yaitu 44,3 %. Cara mendidik orang tua kontribusinya dalam pendidikan anak seperti membimbing serta membantu dalam belajar dan juga mengatur waktu belajar rata-rata adalah sedang.
c. Suasana Rumah
Suasana rumah yang dimaksud adalah situasi atau kejadian yang sering terjadi dilingkungan keluarga, seperti sering terjadi percekcokan antar anggota keluarga atau rumah sering digunakan untuk keperluan-keperluan perkumpulan sehingga dapat mengganggu belajar anak. Selain itu juga mempengaruhi perkembangan anak atau kondisi psikologinya.
Tabel 28. Suasana Rumah
No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 2 2,3 2 Tinggi 10 11,4 3 Sedang 53 60,2 4 Rendah 16 18,2 5 Sangat Rendah 7 8,0 Jumlah 88 100,0
Berdasarkan tabel di atas, situasi di rumah kriteria sangat tinggi sebesar 2,3%, kriteria sangat rendah sebesar 8%. Rata-rata suasana rumah adalah sedang.
d. Hubungan Antar Anggota Keluarga
Hubungan antar anggota keluarga dalam pemberian kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak.
Tabel 29. Hubungan Antar Anggota Keluarga
No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 5 5,7 2 Tinggi 31 35,2 3 Sedang 36 40,9 4 Rendah 14 15,9 5 Sangat Rendah 2 2,3 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, hubungan antar anggota keluarga dalam kriteria sangat tinggi sebesar 48,9 %, sedangkan pada kriteria rendah adalah 4,5 %. Persentase terbesar pada kriteria sangat tinggi. Rata-rata hubungan antar anggota keluarga baik antara orang tua dengan anak, atau antar saudara adalah Tinggi.
e. Penyediaan Fasilitas Belajar
Penyediaan fasilitas belajar oleh orang tua sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pendidikan anak, seperti menyediakan ruangan khusus untuk belajar anak, penyediaan buku dan perlengkapan lain yang menunjang belajar anak, penyediaan biaya sekolah untuk anak yang merupakan kebutuhan dasar untuk pendidikan. Peranan orang tua dalam
penyediaan fasilitas belajar untuk menunjang kelangsungan pendidikan anak dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 30. Penyediaan Fasilitas Belajar
No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 46 52,3 2 Tinggi 38 43,2 3 Sedang 4 4,5 4 Rendah 0 0,0 5 Sangat Rendah 0 0,0 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, persentase terbesar dalam penyediaan fasilitas belajar adalah pada kriteria sangat tinggi sebesar 52,3 %, sedangkan terendah pada kriteria sedang sebesar 4,5 %. Rata-rata peranan orang tua dalam penyediaan fasilitas belajar untuk menunjang kelangsungan pendidikan anak sangat tinggi karena didukung oleh pendapatan nelayan yang tinggi.
f. Mendorong Anak Untuk Melanjutkan Pendidikan
Peran serta dan dukungan orang tua terhadap kelangsungan pendidikan anak untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi orang tua serta peranan orang tua dalam hal lain, seperti penyediaan fasilitas belajar, pengetahuan orang tua pada perkembangan pendidikan dan lain sebagainya. Orang tua berharap dengan tingginya pendidikan anak, kelak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Tabel dorongan keluarga agar anak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 31. Mendorong Anak Untuk Melanjutkan Pendidikan No Kriteria F % 1 Sangat Tinggi 64 72,7 2 Tinggi 21 23,9 3 Sedang 3 3,4 4 Rendah 0 0,0 5 Sangat Rendah 0 0,0 Jumlah 88 100,0
Sumber: Analisis Data Penelitian Tahun 2011
Berdasarkan tabel diatas, persentase terbesar pada kriteria sangat tinggi yaitu 72,7 %, sedangkan persentase terendah pada kriteria sedang sebesar 3,4 %. Rata-rata dorongan serta dukungan orang tua agar anak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi adalah sangat tinggi. Tetapi terdapat sebagian masyarakat yang tidak setuju jika dengan pendidikan tinggi kehidupannya akan lebih baik. Karena berpendapat bahwa tingginya tingkat pendidikan seseorang tidak menjamin untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.
Besarnya peranan orang tua dalam pendidikan anak dari beberapa indikator diketahui rata-rata peranan keluarga dalam pendidikan anak adalah tinggi sebesar 76,14 % (perhitungan pada lampiran 13). Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 10. Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak 28,4% 27,3% 25,0% 12,5% 6,8% Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa Desa Tasikagung merupakan desa pesisir atau desa pantai yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat nelayan dalam penelitian ini adalah semua orang yang bekerja menangkap ikan di laut dan orang-orang yang berhubungan dengan kapal dan hasil tangkapan ikan di laut, baik itu orang yang bekerja diatas kapal sebagia ahli mesin, ahli listrik dan juru masak, serta orang yang mempunyai kapal baik yang ikut atau tidak dalam menangkap ikan.
1. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang besar pengaruhnya terhadap kondisi kehidupannya dan lingkungan sekitarnya. Tingkat pendidikan nelayan rata adalah tamat SD sebesar 45,5 %. Tingkat pendidikan istri nelayan rata-rata juga tamat SD sebesar 48,9 %. Menurut I.B Mantra (Bambang, 2011) pendidikan diklasifikasikan menjadi:
a. Pendidikan tinggi : Akademi/PT
b. Pendidikan sedang : Tamat SLTP/SMU
c. Pendidikan rendah : tidak bersekolah/Tidak tamat SD/SD
Berdasarkan pengklasifikasian I.B Mantra di atas, tingkat pendidikan masyarakat nelayan di Desa Tasikagung Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang masuk dalam klasifikasi pendidikan rendah. Rendahnya pendidikan formal yang ditempuh nelayan akan berpengaruh pada kelanjutan sekolah anak mereka. Orang tua yang memiliki pendidikan tinggi akan mempunyai
dorongan yang tinggi terhadap pendidikan anak dan juga akan memberikan pertimbangan yang rasional dalam menghadapi suatu masalah yang berpengaruh pada pandangan wawasannya.
Rata-rata Pendidikan non formal nelayan tidak pernah mengikuti kursus apapun sehingga mereka tidak mempunyai pilihan pekerjaan pada bidang lain. Tetapi Nelayan Desa Tasikagung pernah mendapatkan penyuluhan dan pelatihan mengenai permesinan dan perkapalan. Hal tersebut berpengaruh terhadap pengetahuan nelayan dalam hal melaut sehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalam melaut.