• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto

Dalam dokumen i (Halaman 106-121)

Usia 18-56 Tahun yang

2. Tingkat Perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto

a. Tingkat Perkembangan Nagari Dilihat Dari Keadaan Ekonomi Pada Masing-masing Nagari di Kecamatan Dua Koto

Tingkat perkembangan nagari diliahat dari sektor ekonomi pada masing-masing nagari di Kecamatan Dua Koto terdiri dari mata pencaharian penduduk dan pendapatan nagari dapat diuraikan pada tabel berikut:

Tabel 27.4 Tingkat Perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto Dilihat Dari Keadaan Ekonomi Pada Masing-masing Nagari di Kecamatan Dua Koto

No Nagari Faktor Ekonomi

Mata Pencaharian Pendapatan Nagari

Sumber: Pengolahan Data Sekunder, 2019

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pada Nagari Cubadak mata pencaharian penduduknya adalah sektor pertanian dan pendapatan nagari ≤ Rp 50.000.000 dalam satu tahun. Nagari Simpang Toanang mata pencahariannya adalah sektor pertanian dan pendapatan nagari adalah ≤ Rp 50.000.000 dalam satu tahun.

b. Tingkat perkembangan Nagari Dilihat Dari Keadaan Sosial Pada Masing-masing Nagari di Kecamatan Dua Koto

Tingkat perkembangan nagari dilihat dari faktorsosial pada masing-masing nagari di Kecamatan Dua Koto meliputi adat dan kepercayaan, kelembagaan, pendidikan, dan swadaya gotong royong.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

93 Tabel 28.4 Tingkat Perkembangan nagari Dilihat Dari Keadaan Sosial Pada Masing-masing Nagari di Kecamatan Dua Koto

No Nagari Sosial 3. Adanya kegiatan

gotong royong untuk

kepentingan bersama

Gr2

94

Sumber: Pengolahan data primer, 2019

Dari tabel tersebut dijelaskan jika Nagari Cubadak Kecamatan Dua Koto hanya mealaksanakan tiga upacara adat yang umum saja yaitu upacara kelahiran bayi, upacara perkawinan dan upacara pertanian. Memiliki 6 jenis kelembagaan yaitu kelembagaan pemerintahan, sosaial, gotong royong, pendidikan dan kesehatan.

Pendidikan Nagari Cubadak >30% penduduknya yang tamat Sd ke atas. Swadaya gotong-royong di Nagari Cunbadak berada pada tahap transisi.

Sedangkan di Nagari Simpang Tonang melaksanakan lima upacara adat yaitu upacara kelahiran bayi, upacara perkawinan, upacara kematian, upacara dalam pembangunan rumah dan upacara penyelesaian konflik. Memiliki enam jenis kelembagaan yaitu lembaga pemerintah, lembaga munsyawarah, lembaga sosial, pendidikan dan kesehatan. Tingkat pendidikan Nagari Simpang Tonang >30% yang tamat SD ke atas. Swadaya gotong royong berada pada tahap transisi.

c. Tingkat Perkembangan Nagari Dilihat Dari Prasarana pada Masing-masing Nagari di Kecamatan Dua Koto

Tingkat perkembangan nagari dilihat dari faktor prasarana pada masing-masing nagari di Kecamatan Dua Koto dapat dilihat pada tabel berikut:

96 Tabel 29.4 Tingkat Perkembangan Nagari Dilihat Dari Prasarana Pada Masing-masing Nagari di Kecamatan Dua Koto

No Nagari Prasarana

Prasarana Perhubungan Prasarana Produksi

Prasarana Pemasaran

Prasarana Sosial Total Skor Pasarana 1 Cubadak Memiliki/ dilalui jalan

aspal, batu dan tanah

50

Sumber: Pengolahan Data Sekunder, 2019

Penialain prasarana keseluruhan (prasarana perhubungan, pr.produksi, pr.pemasaran, pr.sosial) yaitu dengan menjumlahkan semua nilai skor.

1. Jumlah nilai skor seluruh prasaranan antara 95-125, diberi simbol P3

2. Jumlah nilai skor seluruh prasarana antara60-94 diberi simbol P2 3. Jumlah nilai skor seluruh prasarana antara 60 diberi simbol P1 Setelah semua data yang yang diperlukan dalam rangka meningkatkan perkembangan desa telah terkumpul, tahap selanjutnya adalah memasukkan ketujuh indikator perkembangan tersebut kedalam tabel tertentu sehingga tingkat perkembangan desa yang bersangkutan dapat diketahui.

Setelah digabung ketujuh indikator dimana setiap indikator setelah dianalisis masing-masing diberi skor 1 atau 2 atau 3 setiap indikator. Adapun sesuadah dijumlahkan, jumlah skor tertinggi yaitu 21 sedangkan terendah adalah 7, berarti intervalnya adalah 5, sehingga dapat disimpulkan dan sebagai ketentuan skor adalah :

1. Memiliki skor 7-11 dikatakan Swadaya

2. Mempunyai skor 12-16 dikategorikan swakarya 3. Apabila skor 17-21 disebut swasembada

Tabel 30.4 Tabulasi Data Tingkat Perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto

No Nagari Indikator Penilaian Tingkat Perkembangan

Jumlah Tingkat Perkembangan

Nagari M Y A L Pd Gr P

1 Cubadak 1 1 3 2 2 2 1 12 Swakarya 2 Simpang

Tonang

1 1 2 2 2 2 1 11 Swadaya

Sumber: Pengolahan Data Sekunder, 2019

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa, tingkat perkembangan nagari pada Kecamatan Dua Koto dimana Nagari Cubadak tingkat perkembangannya swakarya sedangkan Nagari Simpang Tonang Swadaya.

C. Pembahasan

Pertama, Potensi wilayah Nagari di Kecamatan Dua Koto dikategorikan kurang potensial. Sama dengan data yang didapat di lapangan dan dianalisis menggunakan peraturan Debdagri No. 12 Tahun 2007. Tingkat potensi wilayah dilihat dari sumber daya alam yang terdiri dari pertanian, perkebunan, dan peternakan. Penilaian sumber daya alam pertanian yaitu berdasarkan tanaman pangan, kepemilikan lahan, produktivitas tanaman pangan, jenis tanaman pangan yang terdiri dari padi, jagung, kacang tanah, aren, luas tanaman pangan, dan produksi tanaman pangan. Sumber daya alam perkebunan dilihat berdasarkan kepemilikan lahan, jenis komoditas tanaman perkebunan yaitu karet, sawit, kopi, cengkeh, tembakau, dan lain-lain, dan

luas tanaman perkebunan. Sedangkan penilaian sumber daya alam peternakan dilihat dari populasi ternak yaitu sapi, kerbau, ayam kampung, dan ayam boiler, produksi ternak, ketersediaan hijauan pakan, dan subsidi pemerintah.

Berdasarkan hasil penelitian sumber daya alam pertanian di Kecamatan Dua Koto yaitu kurang potensial. Dilihat dari hasil skoring Nagari Cubadak memiliki skor 26 (kurang potensial) dan Nagari Simpang Tonang memiliki skor 22 (kurang potensial). Ini dikarenakan kurangnya luas area pertanian serta hasil produksi nagari.

Hasil penelitian dilihat dari sumber daya perkebunan Nagari di Kecamatan Dua Koto yaitu kurang potensial. Hasil skoring menyatakan Nagari Cubadak memiliki skor 34 dikategorikan kurang potensial, dan Nagari Simpang Tonang dengan skor 32 yaitu kurang potensial. Hal ini dikarenakan kurangnya luas area perkebunan. Jenis perkebunan terdiri dari karet, kelapa, kopi, salak dan lain-lain.

Sumber daya peternakan Nagari di Kecamatan Dua Koto, berdasarkan hasil skoring Nagari Cubadak memiliki skor 19 yaitu kurang potensial, sedangkan Nagari Simpang Tonang memiliki skor 12 yaitu kurang potensial.

Potensi alam yang kurang potensial sulit untuk dikembangkan dan tingkat kesejahteraan masyarakatnya rendah, sebaliknya apabila potensi sumber daya alam bagus, maka akan mudah untuk dikembangkan dan dapat meningkatkan kesejahteraan. Sesuai dengan pendapat Soleh, (2017) menyebutkan potensi desa adalah daya, kekuatan, kesanggupan, dan kemampuan yang ada di suatu desa suatu desa dan bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan..

Potensi sumber daya alam/fisik berupa tanah, air, iklim, lingkungan geografis dan binatang ternak.

Potensi Nagari di Kecamatan Dua Koto dilihat dari kepadatan penduduk, tingkat pendidikan, dan mata pencaharian yaitu kurang potensial.

Berdasarkan penilaian sumber daya manusia dilihat dari jumlah penduduk dan luas wilayahnya. Kepadatan nagari Cubadak adalah 28,93 jiwa/Km² sedangkan Nagari Simpang Tonang 26,62 jiwa/Km². Dilihat dari tingkat pendidikan Nagari Cubadak memiliki skor 22 yaitu kurang potensial dan Nagari Simpang Tonang 19 dikategorikan kurang potensial.

Berdasarkan penilaian dan skor jumah sebaran mata pencaharian terbanyak berada di Nagari Simpang Tonang yang terdiri dari petani perkebunan, peternakan, perikanan, perdagangan, montir dan lain-lain.

Dengan dilakukannya penilaian dan penskoran terhadap sumber daya manusi adapat diketahui potensi apa saja yang dapat ditingkatkan dalam pengembangan wilayah masa mendatang. Hal ini sesuai dengan Debdagri No.

12 Tahun 2007 menyatakan tujuan analisisa data potensi sumber daya manusia suatu nagari untuk melihat perubahan potensi sumber daya manusia.

Dari potensi tersebut dapat diketahui potensi pengembangan pada masa yang akan datang, selain itu ditunjukkan untuk mengetahui faktr-faktor penghambat pengembangan sumber daya alam dihadapi nagari.

Kedua, tingkat perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto yaitu Nagari Cubadak tergolong Swakarya dan Nagari Simpang Tonang tergolong Swadaya. Hal ini dilihat dari perekonomian, jenis mata pencaharian yang ada

dan pendapatan yang tergolong masih rendahyaitu, ≤50.000.000 per tahun.

Dari penelitian yang dilakukan diketahui mata pencaharian pokok Kecamatan Dua Koto adalah primair (pertanian) dengan tingkat produksi yang masih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Priyanto (2010) dalam Peblarici, (2015) bahwa padamata pencaharian masyarakat bersifat homogen yaitu bertumpu pada sektor pertanian. Kehidupan ekonomi terutama tergantung pada usaha pengolahan tanah untuk usaha pertanian, peternakan dan termasuk juga perikanan darat. Jadi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat desa melalui pengolahan alam.

Masyarakat pedesaan banyak menganut sistem ekonomi tradisional atau sistem ekonomi tertutup, ekonomi masyarakat hanya cukup untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan bersama. Pada proses produksi menggunakan tenaga keluarga dan tenaga ternak. Dalam proses produksi tradisional laki-laki mengerjakan pekerjaan yang berat baik di sawah maupun di ldang. Untuk menagerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih ringan seperti menyiang terutama pada sawah biasanya anak anak dan para istri. Tenaga istri banyak dimanfaatkan pada saat panen.

Tingkat perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto dilihat dari sosialnya. Dilapangan peneliti menemukan upacara-upacara adat masih banyak dilaksanakan terutama di Nagari Simpang Tonang terdiri dari upacara kelahiran bayi, upacara perkawinan, upacara kematian, upacara pembangunan rumah dan upacara pelanggaran adat berikut sanksinya.

Kelebagaan pada masing-masing nagari berbeda-beda, pada Nagari Cubadak hanya ada lembaga pemerintah nagari, sekolah, poliklinik, dan lembaga gotong royong. Sedangkan di Nagari Simpang Tonang terdiri dari lembaga pemerintah nagari, koperasi, bank, sekolah, poliklinik, lembaga kesenian dan lembaga gotong royong.

Lembaga-lembaga di suatu nagari sanfat berperan dalam memberikan informasi yang ada. Baik itu informasi penduduk, pembangunan, potensi wilayah, tingkat kerawanan bencana dan lainnya, hal ini dapat mempercepat tingkat perkembangan yang terarah. Hal ini sesuai dengan pendapat Supriyadi (2011) dalam Peblarici, (2015), mengatakan bahwa dukungan masyarakat dalam pembangunan desa yang menerapkan partisipasi akan didapat apabila dalam prroses pembangunan desa masyarakat diberikan informasi tentang pembangunan dan dilibatkan secara utuh guna mengembangkan pembangunan desa.

Tingkat perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto dilihat dari prasarana. Peneliti melihat dilapangan bahwa prasarana perhubungan setiap nagari sudah baik, umumnya jalan telah di aspal walaupun masih ditemukan berlobang-lobang dan bertanah. Prasarana produksi di setiap nagari sudah setengah teknis yaitu memiliki bangunan-bangunan air, meskipun masih ada yang memakai irigasi sederhana dan sawah tadah hujan. Prasarana pemasaran pada umumnya dimilki oleh setiap nagari yaitu pasar umum, koperasi, warung dan prasarana dsosial yang ada terdiri dari gedung pemerintah nagari, gedung sekolah, gedung kesehatan, mesjid. Hal ini sesuai dengan pendapat

Jayadinata dan Pramandika (2006) dalam Peblarici, (2015), bahwa yang termasuk prasarana meliputi prasarana ekonomi, seperti sawah, kolam, pabrik, irigasi, jalan, pasar, toko, dan sentral listrik. Dan prasarana sosial (seperti jalan, rumah, gedung sekolah, gedung rumah sakit, sentral listrik, kawat, telepon, dan riol). Prasarana dapat juga terbagi prasarana produksi, prasarana perhubungan, prasarana sosial, prasarana pemasaran dan prasarana umum atau prasarana pemerintah.

Berdasarkan hasil penelitian yang menyatakan bahwa desa di Kecamatan Dua Koto masih tergolong rendah yaitu Swadaya dan swakarya.

Perlu dilakukan perubahan yaitu dari desa swadaya menjadi swakarya dan dari swakarya menjadi swasembada. Perubahan ini tentu tidak mudah butuh proses dan pendekatan secara bertahap agar masyarakat di desa bisa terbuka dan menerima pengaruh dari luar. Yang harus dilakukan agar desa swadaya berkembang menjadi desa swakarya yaitu masyarakat desa harus bisa menerima pengaruh dari luar dan mengubah cara berfikir, mengembangkan mata pencaharian dan tidak terfokus hanya pada sektor pertanian saja.

Meningkatkan lapangan pekerjaa, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam bergotong royong dan masyarakat harus bisa meningkatkan kehidupannya dengan hasil sendiri. Apabila hal ini sudah terlaksana maka akan terjadi perubahan dari desa swadaya menjadi desa swakarya.

Sedangkan hal-hal yang harus dilakukan dalam meningkatkan desa swakarya menjadi desa swasembada adalah desa harus bisa menyediakan keperluan pokok hidup oleh desa terkait, alat-alat yang dipakai dalam

kehidupan sudah moderen, adat tidak lagi berpengaruh / diapkai oleh masyarakat dan lebih banyak menggunakan lembaga-lembaga ekonomi, masyarakatnya bermata pencaharian dominan perdagangan dan jasa, meningkatkan pendidikan dan cara berfikir yang lebih maju. Perhubungan dengan kota-kota sekitar sudah lancar, produksi pemasaran dan kegiatan sosial harus baik.

105 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Kesimpulan dan saran yang dapat di ambil mengenai potensi wilayah dan tingkat perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto.

1. Potensi wilayah nagari di Kecamatan Dua Koto dikategorikan kurang potensial Hal ini dilihat dari kurangnya luas, poopulasi pertanian, perkebunan, peternakan, ketersediaan pakan ternak, tingkat pendidikan yang masih rendah dan tidak adanya subsidi dari pemerintah.

2. Tingkat perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto yaitu Nagari Cubadak tergolong swakarya dan Nagari Simpang Tonang tergolong swadaya.

B. Saran

Dari pemabahasn dan kesimpulan maka saran dari penulis adalah:

1. Diharapkan untuk pemerintah terkait untuk lebih memperhatikan Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman

2. Diharapkan Kepada pemerintah untuk meningkatkan potensi sumber daya lam dan manusia.

3. Diharapkan kepada pemerintah daerah yaitu Camat dan Wali Nagari agar data potensi wilayah ditinjau ulang.

4. Diharapkan kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan mata pencaharian agar tidak terpokus pada sektor pertanian saja.

106

Dalam dokumen i (Halaman 106-121)

Dokumen terkait