1. Pengertian Wayfinding
a. Wayfinding merupakan metoda navigasi tradisional yang digunakan oleh pribumi Polynesia (American Samoa, Cook Island, Hawaii, French Polynesia, Norfolk Island, dsb). Pada zaman modern, wayfinding telah digunakan pada konteks arsitektural yang merujuk pada pengalaman orientasi dan memilih jalan oleh user pada sebuah lingkungan binaan. Wayfinding juga merujuk pada set arsitektural dan/atau elemen desain yang membantu orientasi tersebut. (Sumber: Polynesian Voyaging Society, 2009)
b. Wayfinding adalah sebuah system yang dasarnya adalah sebuah suksesi petunjuk yang membantu orang menavigasi jalan mereka dari satu tempat ke tempat lain, juga didefinisikan sebagai pemecahan masalah spasial. (Sumber: Wayfinding System: Critical Components and Effective Design, 2008)
2. Komponen Wayfinding
System wayfinding dengan kualitas yang baik, fokus pada proses pengambilan keputusan, dasar pengetahuan wayfinder (user), petunjuk yang dapat dipahami, dan identifikasi jalur dan tujuan yang tidak ambigu.
Banyak komponen dalam system wayfinding yang memiliki ketergantungan satu sama lain, untuk menciptakan sinergi dan pondasi yang solid dan efisien. Hal yang paling mendasar adalah Master Plan, merupakan strategi yang menciptakan pondasi dalam system wayfinding-sebuah strategi dan rencana pemeliharaan penting untuk kesuksesan desain.
commit to user
II-27
Selama tahap awal perencanaan, penting untuk melihat ke depan dan memperhatikan apa yang mungkin timbul dengan adaptasi bangunan. Dengan setiap perluasan, entrance baru, lift baru, dan jalur sirkulasi baru, maka, jalur yang asli akan terganggu dan menjadi sangat sulit untuk mengimplementasikan system wayfinding yang sukses, kecuali, masterplan dapat mengantisipasi pertumbuhan dan perluasan fasilitas. Elemen lain yang tergabung dalam strategi dan bekerja sama untuk menciptakan sinergi yang meliputi seluruh system wayfinding adalah sebagai berikut:
a. Landscape – pohon, tanaman, tiang bendera, fitur air, dan furniture outdoor yang diletakkan secara strategis.
b. Arsitektur interior – entrance yang mudah untuk diidentifikasi, jalur yang jelas, mudah untuk melihat lift pengunjung, dan lendmark yang menciptakan isyarat visual pada poin keputusan.
c. Desain interior – skema warna, material, dan dukungan pencahayaan. d. Signage – dapat terbangun dengan desain interior yang baik.
e. Graphic – symbol, ukuran dan bentuk font yang jelas, logo fasilitas pada tanda untuk menunjukkan konsistensi fasilitas.
f. Fasilitas penunjang – termasuk semua pelayanan yang membuat wayfinding lebih mudah (contoh: staff yang dapat menunjukkan arah)
Dalam konteks ini perencanaan ini, elemen yang digunakan digunakan adalah arsitektur interior, signage, graphic, dan fasilitas penunjang.
Menurut Kevin A. Lynch (1960) dalam “The Image of the City”, wayfinding merujuk pada peta, nama jalan, tanda penunjuk arah, dan elemen lain sebagai ‘alat wayfinding’.
commit to user
II-28
Lynch menyimpulkan bahwa user dapat memahami lingkungan sekitar mereka dengan cara yang konsisten dan dapat diprediksi, membentuk peta mental dengan lima elemen:
a. Path: jalan dan sirkulasi
b. Landmark: objek yang siap diidentifikasi sebagi titik referensi ekternal. c. Node: vocal point, intersection, dan lokus
d. Edge: batasan yang jelas sperti tembok, bangunan, dan sebagainya. e. Zona/ distrik
Tabel II.4 Architectural Wayfinding Components Sumber: Design Resources DR-01 Architectural Wayfinding
Objective Components Elements
Clear articulation and coherent grouping of exterior and interior spaces
Shaping site and setting Landscaping, berming
Roadway, entrances/ exits Pedestrian routes sidewalk, pathways
Building form and architectural features
Building form Building volumes
Physical separation or clustering of components
Roof design
Placements of openings
Cladding (skin) – textures, materials, colours
Decoration, ornamentation Articulating interior spaces Programmatic organization
Defining spatial units Defining destination zones Interior design
Creating legible circulation systems design
External and internal circulation systems
Design concept (paths, markers, nodes/intersections, edge/links) Approach from street
Roadway Parking
External paths and walkways Entrances and exits
Connection to mass
transportation
Level change devices Elevators
Staircases Escalators
commit to user
II-29
People movers Fixed rail systems
Integrating communication systems
Information wayfinding design Environmental graphics Sign systems
Orientation devices You are there maps
Real-time information devices
Pada lingkungan luar bangunan, spasial layout lebih penting daripada program untuk menentukan pola pergerakan, sementara di dalam nbangunan, pergerakan “dapat dipahami terutama dalam hal fungsi ruangan tertentu daripada keteraturan tata ruang” (Peponis and Wineman, 2002: 280).
Hambatan pada wayfinding dari exterior merupakan hal yang umum, termasuk lemahnya identifikasi entrance bangunan dan kurangnya akses yang jelas dari fasilitas parkir atau transportasi massal. Hambatan umum pada wayfinding di dalam ruangan termasuk kegagalan membuat keunikan ruangan pada sebuah fasilitas, menghubungkan koridor pada susut-sudut tajam atau tumpul, dan kegagalan untuk menyediakan penerangan yang cukup pada titik-titik persimpangan, entrance menuju tujuan utama, dan landmark (Carpman and Grant, 2002).
Ada banyak ciri lain yang menunjukkan lemahnya performansi wayfinding, termasuk pola sirkulasi yang ambigu, corak arsitektural yang repetitif, sirkulasi interior dan eksterior yang bertolak belakang.dan banyaknya entrance yang sulit dibedakan satu sama lain (Arthur and Passini, 1992).
3. Pedoman Desain
Meskipun pentinguntuk mennjukkan fungsi bangunan dan efisiensi operasional, tdak ada peraturan standar pada wayfinding dan desain wayfinding. Bagaimanapun juga,
commit to user
II-30
standar dari DPU dan standar aksesibilitas mempengaruhi beberapa elemen wayfinding. Atruran bangunan local dan peraturan zoning juga termasuk standar tambahan untuk elemen-elemen seperti trotoar, system sirkulasi, jalan keluar dan jalan masuk tidak termasuk dalam buku standar. Beberapa pedoman termasuk pada:
a. Wayfinding merupakan isu arsitektural sama seperti grafis. Arsitek dan desainer bertanggung ajawab atas pendekatan inklusif untuk wayfinding lebih mempelajari tentang efek yang terkait dengan psikologi dan kesehatan user terhadap bangunan.
b. Apakah diatasi dengan arsitektur atau informasi, desain system wayfinding harus termasuk: (1) mengidentifikasi dan menandai ruang; (2) pengelompokan ruang; (3) menghubungakn dan mengorganisasi ruang; (4) mengkomunikasikan informasi ini kepada user.
c. Panduan desain wayfinding dan penerapan terbaik berbeda berdasarkan type, ukuran, dan layout; lokasi urban, sub urban atau rural; frekuensi penggunaan; dan kebutuhan user, tinjauan, dan karakteristik.
d. Setiap bangunan yang mengalami perubahan fungsi utama atau tambahan harus mengadakan audit user/ evaluasi purna huni, paling tidak setiap lima tahun sekali.
e. Menyediakan sebanyak mungkin iyarat wayfinding pada lingkungan atau pada objek arsitektur daripada melalui penanda (signage). Landmark yang membantu orientasi dan penunjukan bagi pengunjung menjadi penting (VanderKlipp, 2006).
f. Desainer harus mengingat bahwa pembelajaran dan pemikiran spasial tidak sama dengan pembelajaran dan pemikiran visual. Selain persepsi spasial, pemetaan
commit to user
II-31
kognitif juga menggunakan input sensor yang lain, integrasi dari input waktu ke waktu, pergerakan, input dari pengetahuan dan system nilai, dan kerangka kerja untuk pembelajaran spasial meningkat lebih dulu pada kehidupan (Downs and Stea, 1973).
g. Desainer juga harus mengingat bahwa model kecil dari lingkungan yang direncanakan dapat menghasilkan efek yang tidak diantisipasi saat dibangun pada skala yang sesungguhnya. Factor lingkungan, seperti kabut, dan efek-efek non-visual lain yang mungkin terjadi pada bangunan yang sesungguhnya. Elemen wayfinding bisa jadi terlihat sangat kecil/ kurang signifikan pada maket. Tetapi, pada bangunan yang sesungguhnya dapat menciptakan efek yang tidak diinginkan (Downs and Stea, 1973).
4. Factor Kunci untuk Desain Wayfinding yang Lebih Baik a. Organisasi Spasial
Organisasi spasial atau layout bangunan merupakan komponen utama dalam desain wayfinding karena tidak hanya memecahkan permasalahan wayfinding pada user yang direncanakan tetapi juga berpengaruh pada kemudahan atau kesulitan yang akan dirasakan user dalam memahami dan secara kognitif memetakan setting (Arthur & Passini, 1992). Kunci untuk melakukan organisasi spasial termasuk:
1) Mendesain ciri-ciri arsitektural ke dalam bangunan yang memberikan perbedaan area, seperti lengkungan, kolom, variasi ketinggian langit-langit, dan perbedaan jalan masuk. Cirri arsitektural yang berbeda ini membantu
commit to user
II-32
menciptakan orientasi pada peta kognitif (seperti, ingat untuk belok kiri pada kolom besar dengan gerbang lengkung)
2) Memastikan bahwa bangunan besar memiliki destination zones atau zona tujuan. Contohnya seperti food court pada mall, ruang atrium utama, atau cafetarioa kopi. Zona tujuan berguna sebagai tempat pertemuan dengan orang lain, untuk mengorientasikan lokasi tertentu, atau menapak sebuah jalan, dan menjadi tempat perlindungan pada waktu darurat, dan harus menjadi ruang yang mudah untuk digunakan selama latihan evakuasi darurat.
3) Memberikan kesempatan untuk melihat secara luas, sehingga seseorang dapat melihat layout bangunan dari beberapa titik strategis (vantage point). Kesempatan untuk melihat secara luas membantu membangun peta kognitif yang lebih baik, membuat orang memahami bagian-bagian bangunan dengan lebih cepat, termasuk jalan keluar dan koridor untuk menuju jalan keluar tersebut, termasuk juga jalan-jalan yang mengarah ke zona tujuan (destination zones) dan/atau tempat untuk berlindung di dalam bangunan. Kesempatan untuk melihat secara luas tidak hanya memberikan yang lebih besar dan cepat tentang informasi layout bangunan tetapi juga kemudahan yang lebih besar untuk mengetahui lokasi jalan keluar, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya error selama evakuasi.
4) Mempertimbangkan layot bangunan secara keseluruhan. Riset telah membuktikan pentingnya layout spasial pada wayfinding.bangunan yang simetris-yang terlihat mudah pada gambar rencana-terbukti membingungkan saat diterjemahkan menjadi bangunan tiga dimensional, kecuali jika sisi- sisinya dengan jelas diselesaikan dengan cara yang berbeda.
commit to user
II-33
b. Landmark
Landmark adalah isyarat lain yang penting pada desain wayfinding. Banyak orang dengan kemampuan kognitif yang berbeda-beda, termasuk mereka yang tidak dapat membaca sama sekali, atau tidak dapat membaca bahasa asli pada landmark dan membaca peta. Selain itu, kegunaan landmark penting selama evakuasi dan menyediakan informasi yang berguna dan aksesibel bagi orang- orang dengan ketidakmampuan. Karakteristik landmark yang ideal yang membantu menandai jalan dan membuar sebuah ruang mudah diingat termasuk:
1) Landmark yang berbeda bentuk, warna, dan penerangan lebih mudah diingat, digunakan untuk mengorientasikan orang pada ruangan, dan menyediakan informasi jalan keluar secara langsung. Zona tujuan yang berbeda, kios-kios, dan gerbang, benda kesenian yang unik, fotografi, dan/atau patung bisa digunakan sebagai landmark. Karakter arsitektural seperti decorative coloumns, lengkungan, dan penerangan yang unik, jika digunakan dengan selektif, juga bisa berguna.
2) Landmark sebaiknya dipasangkan dengan penanda yang tepat untuk menyampaikan informasi penting dan membantu evakuasi. Selanjutnya, memperkuat lokasi landmark dengan mengkombinasikan landmark dengan sensor tambahan lain, seperti suara atau bau yang efektif untuk menciptakan peta kognitif yang lebih kuat. Contohnya seperti kios popcorn yang baunya berasal dari pocprn pada sebuah mall, atau suara gemericik air dari air mancur.
commit to user
II-34
c. Signage
Organisasi spasial dan landmark merupakan pondasi untuk mencapai deain wayfinding yang baik. Bagaimanapun juga, signage yang di desain dengan layak dan ditempatkan dengan baik pun sering diandalkan dalam wayfinding dan sangat membantu untuk mengkomunkasikan informasi penting, termasuk tujuan yang diinginkan dan lokasi jalan keluar untuk evakuasi pada bangunan.
Meskipun signage dengan format yang seluruhnya tulisan kurang aksesibel (khususnya bagi mereka yang tidak bisa membaca atau melihat), namun signage bisa menjadi isyarat yang baik untuk banyak orang, termasuk orang-orang dengan keterbatasan intelektual. Beberapa karakter penting untuk directional signage adalah:
1) Penempatan signage bangunan, termasuk signage untuk zona tujuan, kamar kecil, dan infornasi jalan keluar, harus diletakkan tegak lurus dengan jalan, diatas level penglihatan, dan mendapat penerangan yang cukup, tidak terhalang oleh segala jenis penutup yang menghambat pembacaan. Penting juga untuk menem[patkan signage pada interval yang tetap, terutama pada tempat-tempat memutuskan, untuk memperkuat pelancong. Sangat dibenarkan terutama pada bangunan besar dengan koridor yang panjang dan pengunjung yang banyak, seperti bandara, rumah sakit, fasilitas olahraga, dan komplek bangunan lain dimana layout bangunan tidak mudah dilihat dari titik tertentu (vantage point).
2) Informasi yang dapat terbaca sangat penting untuk setiap aspek wayfinding. Semua papan informasi harus mudah dibaca, pada setiap kondisi, termasuk kondisi yang buruk. Huruf pada penanda harus besar, mudah dibaca, dan
commit to user
II-35
sangat kontras dengan backgroundnya. Penanda harus diterangi dengan hati- hati untuk mencegah kesilauan apapun yang dapat mengakibatkan penanda tidak terbaca. Tulisan pada penanda harus dipasangkan dengan gambar yang dapat dimengerti dengan jelas-sebuah fitur yang sangat berguna bagi orang yang tidak dapat membaca. Untuk tanda emergency exit, harus ditempatkan pada tembok yang cukup rendah agar dapat dibaca oleh orang yang menggunakan kursi roda, dan harus dilengkapi dengan gambar timbul, tulisan, dan huruf Braille yang dimasukkan dalam signage secara konsisten.tanda exit tambahan ini harus ditempatkan secara konsisten pada setiap lokasi.
3) Warna pada signage sebaiknya hanya digunakan sebagai penguat isyarat dan berkaitan dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, jika ada lebih dari satu zona tujuan (destination zones) gunakan signage yang dipasangkan dengan gambar dan diperkuat dengan warna, seperti orange. Warna orange tersebut secara jelas harus diulang pada destination zones dan pada pintu keluar darurat.
commit to user
II-36
Ga mbar II.21 Contoh pene mpatan Signage Sumber: Draft CMP-Signage and Wayfinding, Sasaki
d. Petunjuk (Directories)
Petunjuk informasi digunakan untuk membantu wayfinder dalam menemukan lokasi yang diinginkan dan sering digunakan dengan peta. Petunjuk- petunjuk biasanya membutuhkan kemampuan untuk menguraikan kode atau membaca, yang sering menjadi masalah bagi orang-orang dengan keterbatasan intelektual, yang mungkin bisa membaca namun kurang sempurna, tapi kesulitan dengan tulisan yang padat, seperti banyaknya petunjuk pada banyak bangunan. Rekomendasi yang dapat digunakan agar petunjuk lebih aksesibel:
1) Kelompok informasi pada grup kecil terdiri dari kurang dari lima item; 2) Menambahkan gambar pada tulisan jika memungkinkan;
3) Menempatkan petunjuk yang berkaitan pada lantai tertentu pada setiap lantai, khususnya pada lantai yang besar, banguana tingkat; dan
4) Jika menggunakan kaca padabagian depan petunjuk, hindari silau dari pantulan permukaan kaca.
commit to user
II-37
Gambar II.22 Contoh pene mpatan Diretories Sumber: Draft CMP-Signage and Wayfinding, Sasaki
e. Peta
Desain dari sebuan peta memerankan kemudahan dalam tingkat kemudahan penggunaannya. Peta serinkali menjadi masalah bagi orang-orang dengan keterbatasan intelektual dan banyak grup lagi yang kesulitan menterjemahkan informasi dua dimensional menjadi tiga dimensional. Bagaimana pun juga, peta akan lebih mudah dibaca dengan menggunakan rekomendasi sebagai berikut:
1) Peta yang teratur dan menggunakan titik jangkar akan lebih mudah diakses; 2) Menggunakan tanda “You are Here”;
3) Mencatatkan lantai pada peta juga penting jika bangunan terdiri lebih dari satu lantai;
4) Peta kunci jelas yang menginformasikan fasilitas seperti kamar kecil, kereta bayi, restaurant, telefon, perlndungan darurat, tempat P3K, dan informasi kios. Gambar harus cukup besar dan mudah dimengerti. Gunakan warna sebagai penguat informasi, bukan sebagai isyarat utama; dan
commit to user
II-38
5) Menggunakan pencahayaan yang tidak menyilaukan pada permukaan peta tetapi cukup menerangi informasi, sehingga dapat terbaca.
Ga mbar II.23 Wayfinding Palette
Sumber: Wayfinding and Signage Plan, Miami Dade County Park and Recreational Department
f. Warna dan Pencahayaan
Warna dan pencahayaan sangat berguna pada desain wayfinding. Warna dapat bertindak sebagai penguat pada desain wayfinding dan tidak boleh digunakan sebagai sumber utaman informasi wayfinding, karena terdapat beberapa orang dengan kekurangan pada penglihatan warna.
Pencahayaan (baik alami ataupun artificial) juga berguna untuk mempertegas berbagai ciri arsitektural dan peta penerangan, signage, dan landmark. Pada cara yang lebih halus,pencahayaan juga dapat membantu mempertegas jalan atau memeringatkan orang dari satu area. Pemilihan penempatan pencahayaan dapat menjadi cara yang efektif untuk memperkuat wayfinding, khususnya selama proses emergency exit. Contoh bentuk peta dan penempatannya:
commit to user
II-39
Sumber: Draft CMP-Signage and Wayfinding, Sasaki
System wayfinding yang berhasil, dapat menyediakan informasi kepada user untuk: a. Konfirmasi bahwa mereka pada titik awal atau akhir yang benar pada sebauh
perjalanan individual.
b. Identifikasi lokasi mereka pada sebuah bangunan atau ruang luar. c. Meyakinkan bahwa mereka berjalan pada arah yang tepat.
d. Mengoientasikan diri mereka sendiri pada bangunan atau ruang luar. e. Memahami lokasi dan potensi bahaya/ resiko.
f. Identifikasi tujuan atau kedatangan mereka. g. Dapat lolos denagn aman pada kondisi darurat.
5. Keuntungan dari Sistem Wayfinding yang Efektif
Ada banyak manfaat yang dapat dirasakan dari system wayfinding yang efektif. Pada dasarnya, wayfinding harus dapat membantu user untuk merasakan pengalaman lingkungan dengan cara yang positif dengan menciptakan lingkungan yang ramah. Sangat penting bahwa system wayfinding berperan secara proaktif dengan elemen desain untuk membatasi/ mengurangi pertanyaan yang mungkin akan diajukan para wayfinder/ user jika petunjuk yang disediakan tidak dapat diimplementasikan dengan benar.
Bagaimanapun juga,penting bahwa system tidak memasukkan terlalu banyak informasi karena akan dapat menghasilkan kekacauan yang hasilnya akan sama dengan jika informasi yang tersedia terlalu sedikit.
commit to user
II-40
Menurut Paul Arthur dan Romedi Passini dalam buku mereka “Wayfinding: People, Signs, and Architecture”, wayfinding dengan kualitas yang baik dapat memunculkan hasil seperti berikut ini:
a. Berkurangnya tingkat stress dan frustasi pengunjung b. Efisiensi fungsional
c. Aksesibilitas pengunjung d. Keamanan
e. Pemberdayaan pengunjung, meningkatkan keterampilan kognitif user pada pemahaman spasial
commit to user III-1
BAB III