• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM

C. Perlindungan Hukum Bagi Anak Yang Bermasalah Dengan Hukum

2. Batas Usia Pertanggungjawaban Pidana

Seorang yang dapat di bebani kewajiban mempertanggungjawabkan perbuatannya disebut mukallaf. Dan adapun syarat-syarat sah seseorang menjadi

mukallaf yaitu Pertama, Orang itu telah mampu memahami khitab syari’

(tuntutan syara’) yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah. Kedua, Seseorang

harus cakap bertindak hukum (ahliyyah) maksudnya apabila seorang belum atau tidak cakap bertindak hukum. Maka seluruh perbuatan yang ia lakukan belum atau tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam Islam seseorang wajib mempertanggungjawabkan perbuatnnya jika sudah masuk usia baligh. Seseorang yang belum masuk masa baligh tidak wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya misalnya anak dibawah umur. Seperti hadits Rasulullah Saw

ا ثَ ح . را نْب يِز ي ا ث . ْي ش ىِب أ ِنْب ِرْ بْ ب أ ا ث ح

ا خ نب ِ ِلا خ نْبا َ ح

نب َ ح

ِد ْس أا ِن ع يِ ارْبإ ْنع داَ ح نع س نب داَ ح ا ث . ِ ْ نب ِن حَرلا ع ا ث : ااق . ى يحي

:لاق . ِه ل سر َ أ: ئا ع ْن ع

ث ا ث ْن ع قْلا عِف ر

ح ِيِ َصلا ِن ع

ي ىَت

غِ ْ

ىَت ح ِ ِئاَ لا

ظ قْي تْس ي

ِن ع

قْيِف ي ىَت ح ِ ْ ْج ْلا

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Bin Abi Syaibah, telah menceritakan pada kami Yazid Bin Harun. Telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibnu Khallid Bin Khidash, Dan Muhammad Bin Yahya, Mereka berkata : Telah menceritakan pada kami Abdurrahman Bin Muhdiyyi. Telah menceritakan Hammad Bin Salamah, dari Hammad, Ibrahim, Aswad dan Aisyah. Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : Pena diangkat dari tiga orang, dari anak kecil hingga bermimpi (baligh), dari orang tidur hingga bangun, dan dari

orang gila hingga normal kembali.” 4

Berdasarkan hadist diatas seorang anak yang masih dibawah umur belum wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya sampai ia mengalami mimpi basah

4

Sunan Al-Hafid Abi Abdillah Muhammad Bin Yazid Al-Qazwini Ibn Majjah, Sunan Ibnu Majjah Juz I, No. 2041

(baligh). Selain usia balligh salah satu unsur pertanggungjawaban anak yaitu fase perkembangan berfikir. Rasulullah Saw bersabda

نب عيبرلا نب ِك لا ع نع ع س نب ي اربإ ا ث ح عا طلا نبا ي عي ىسيع نب ح ا ث ح

ني ِس عْ س غ ب ا ِا ِ اَصلااب َيِ َصلا ا ر : . ه ل سر لاق: لاق ج نع يبا نع ر س

أ ْي ع بِرْضا ف ني ِس ِرْ ع غ ب ا ِا

Artinya : “ Telah menceritakan kepada kami Muhammad Bin Aysi, Ya’ni Bin Thaba’. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim Bin Sa’di dari Abdul Malik Bin Rabi’ Bi Sabrah, dari ayah dan kakeknya berkata : Rasulullah Saw bersabda :

Anak kecil diperintahkan untuk shalat berumur tujuh tahun dan dipukul jika

berumur sepuluh tahun lantaran meninggalkannya (shalat). 5

Hadits ini menujukkan bahwa seorang anak yang usianya sudah genap berumur tujuh tahun walaupun belum adanya kekuatan kemampuan berpikir ini sudah diperintahkan mendirikan shalat dan kewajiban lain-lainnya selain shalat. Dan jika usia genap sepuluh tahun, diperintahkan untuk mendirikan shalat dan mengabaikannya maka diperbolehkan memukulnya dengan tujuan mendidik bukannya menyiksa.

Sama dengan halnya memukul anak saat ia tidak melakukan shalat. Pada usia tujuh tahun sampai dengan lima belas tahun, seorang anak tidak dikenakan pertanggungjawaban pidana. Akan tetapi hanya dijatuhi pengajaran. Pengajaran ini meskipun bermaksud menghukum tetapi bukn berupa hukuman pidana. Ijma’ ulama sepakat bahwa usia baligh itu 15 (lima belas) tahun walaupun belum ada tanda-tanda bermimpi keluarnya mani (ihtilam) dan haid,

Jadi dalam kasus Rendi Ardiansah yang berusia 17 (tujuh belas) tahun, ia sudah dalam kategori balligh. Seharusnya Rendi yang melakukan jarimah secara sempurna (jarimah at-tammah) menerima sanksi dari perbuatannya sendiri karena

5

sudah masuk dalam kategori orang yang dapat dibebani hukum (taklif) Rendi yang melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum akan dijatuhi sanksi sesuai kadar karena melakukan perbuatan pidana dengan sempurna (jarimah at-tammah), yang telah ditetapkan hukum Islam. Misalnya perbuatan merusak anggota tubuh dibalas dengan anggota tubuh, apabila dimaafkan diganti dengan diyat atau denda.

74

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas , maka penulis mengambil kesimpulan bahwa :

1. Pertanggungjawaban pidana anak menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diatur dalam Pasal 45, 46 dan 47. menurut Pasal 45, 46 dan 47 anak yang usianya belum mencapai 16 (enam belas) tahun, tidak dijatuhi pidana kecuali telah melanggar beberapa pasal yang diatur dalam Pasal 45. Dan jika anak dijatuhi pidana maka sanksi yang diterimanya dikurangi sepertiga dari sanksi orang dewasa.

Sedangkan menurut Hukum Islam anak wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya jika telah memasuki masa balligh. Seorang anak yang belum memasuki masa balligh tidak diwajibkan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena menurut Islam pertanggungjawaban pidana haruslah di dasari 3 unsur, yaitu :

- Perbutan haram yang dilakukan - Pelaku memiliki pengetahuan (Idrak) - Pelaku memiliki pilihan (Ikhtiar)

jika ketiga dasar ini tidak ada maka tidak ada pertanggungjawaban pidana. 2. Batas usia pertanggungjawaban pidana anak menurut hukum positif selain di

Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dan Undang-Undangan No.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Menurut pasal 4 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Pengadilan Anak seorang anak yang bermasalah dengan hukum dapat diajukan ke sidang anak adalah anak yang berusia 8 sampai 18. Namun, dalam ayat selanjutnya dinyatakan bahwa seorang anak yang diajukan ke persidangan anak sesudah melewati batas usia 18 tahun dan belum sampai pada usia 21 tahun tetap diajukan ke sidang anak. Sedangkan menurut Undang-Undang sistem Peradilan seseorangbisa dikatakan sebagai anak pada saat usia 12 (dua belas) tahun sampai 18 (delapan belas) tahun. Namun, dalam penahanan terhadap seorang anak dilakukan apabila ia telah berusia 14 (empat belas) tahun dan diduga melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 7 (tujuh) tahun.

Menurut hukum Islam pertanggungjawaban pidana yang dilakukan anak selain didasarkan oleh batas usia baligh juga didasari kemampuan berpikir anak. Seorang anak yang masih berusia dibawah 7 (tujuh) tahun saat melakukan pelanggaran ia tidak dikenai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Dan apabila usia anak sudah 10 (sepuluh) tahun namun belum termasuk dalam kategori mukallaf, jika ia melakukan pelanggaran (maksiat) anak tersebut wajib memertanggungjawabkan perbuatannya dan dikenai sanksi yang sifatnya hanya sebagai pengajaran bukan untuk menyiksa.

3. Tinjauan hukum Islam terhadap putusan No. 229/Pid.B.Anak/2013/PN.Jkt.Sel kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Rendi Ardiansah yang berusia 17 tahun ini, dalam penjatuhan sanksinya dikenakan sesuai dengan sanksi yang

diberlakukan kepada orang dewasa. Karena dalam hukum Islam ulama’ sepakat bahwa anak yang sudah berusia 15 tahun walupun belum menunjukkan tanda-tanda baligh maka ia sudah dikatakan mukallaf dan wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan aturan hukum Islam. Namun, dalam hukum positif usia 17 tahun dikategorikan masih dalam usia anak-anak dan di sanksi sesuai dengan undang-undang pidana anak.

B. SARAN

Atas dasar kesimpulan yang ada di atas, maka penulis mengemukakan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua kalangan. Beberapa diantaranya :

1. Dengan berkembangnya teknologi dan perubahan zaman, seseorang berlomba-lomba untuk ikut trend agar tidak dibilang kampungan. Dampaknya pun berimbas kepada tumbuh kembang anak usia dini. Banyak anak yang melakukan pelanggaran dan tak sedikit pula yang melakukan kejahatan. Anak saat ini tak segan untuk melakukan perbuatan yang jika dilakukan olehorang dewasa termasuk dalam kategori kejahatan. Orang tua yang mana berfungsi bukan hanya sebagai orang tua tetapi juga sebagai pendidik bisa lebih memperhatikan kebutuhan apa saja yang dapat membantu tumbuh kembang anak.

2. Diharapkan bagi aparatur hukum bisa mempertimbangkan batasan usia pertanggungjawaban pidana anak yang lebih baik dari saat ini. Karena anak tidak jera dengan sanksi yang diberikan oleh putusan pengadilan. Sebaiknya

hukuman haruslah bersifat prentive agar tidak ada yang mengulangi pelanggaran dan kejahatan tersebut.

3. Dalam hukum Islam batasan usia pertanggungjawaban pidana adalah usia

balligh,yaitu sekitar 15 tahun. Di usia ini seseorang sudah wajib

mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan aturan yang sudah ada dalam al-Qur;an dan Hadist. Alangkah baiknya aparatur hukum bisa menjadikan hukum Islam sebagai landasan utama dalam pembentukan batasan usia pertanggungjawaban pidana anak di Indonesia.

78

Al-Qur’anul Karim

Abdurrahman, Jamal. Athfalul Muslimin Kaifa Rabahumun Nabiyyul Amin di Terjemahkan oleh Anggota SPI Islamic Parenting Pendidikan Anak

Metode Nabi. Solo : Aqwam. 2015

Al- Faruk, Assadulloh. Hukum Pidana Islam dalam Sistem Hukum Islam.Jakarta : Ghalia Indonesia.2009

Al-Jauziyah, Ibnul Qayyim. Tuhfatul-Maudud bi Ahkamil Maulud diterjemahkan

oleh Anshori Umar Sitanggal, Fiqh Bayi.Jakarta : Fikr. 2007

_______Tuhfatul-Maudud fii Ahkamil Maulud, diterjemahkan Kado Menyambut

si Buah Hati oleh Mahfud Hidayat, dkk., (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar,

2007)

Al-Utsaimin, Muhammad Bin shalih. Asy-syarh Al-Mumti’’Ala Zaad Al-Mustaqni

diterjemahkan oleh Team Darus Sunnah. Jakarta : Darus Sunnah Press.

2010

Ali, Mahrus. Dasar Dasar Hukum Pidana.Jakarta : Sinar Grafika.2011 Ali, Zainudin. Hukum Pidana Islam. Jakarta : Sinar Grafika. 2007

Aqsa,Alghifarri, dkk. Mengawal Perlindungan Anak Berhadapan dengan Hukum. Jakarta : LBH Jakarta. 2012

As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Bahjah Qulub Al-Abrar. Beirut : Dar Kutub

Al-‘Ilmiyah, 1423 H

As-Sa’idan, Walid bin Rasyid. Syar’iyyah fi al-Masa’il ath-Thibbiyah di

Terjemahkan oleh Muhammad Syafii Maskur Fiqh Kedokteran.

Yogyakarta : Pustaka Fahima. 2007

Audah, Abdul Qadir. At-Tasyri’ Al-Jinai fi Al-Islam diterjemahkan olehTim

Salsilah, Ensiklopedia Hukum Pidana Islam II. Jakarta: PT Kharisma.

2007

Chazawi, Adami. Pelajaran Hukum Pidana Bagian II. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. 2008

Djamil, M Nasir. Anak Bukan Untuk Dihukum (Catatan Pembahasan UU Sistem

Farid, Zainal Abidin. Hukum Pidana 1. Jakarta: Sinar Grafika. 2007

Hanafi, Ahmad. Asas-Asas Hukum Pidana Islam. Jakarta : Bulan Bintang. 1993 Haroen, Nasrun. Ushul Fiqh 1. Jakarta : Perpustakaan Nasional. 1996

Hidayat, Bunadi. Pemidanaan Anak di Bawah Umur. Bandung : PT Alumni. 2010 Huda, Chairul. Dari Tiada Pidana Tana Kesalahan Menuju Kepada Tiada

Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan. Jakarta : Kencana. 2006

Hutabarat, Restaria F, dkk. Memudarnya Batas Kejahatan Dan Penegakan Hukum : Situasi Pelanggaran Hak Anak Dalam Peradilan Pidana. Jakarta : LBH Jakarta, 2012

Ibrahim, Abi Ishaq. Al-Muhadzab fi fiqh Al-Imam As-Syafi’i. Beirut : Darul Fikri, 633 H

Maramis, Frans. Hukum Pidana Umum dan Tertulis di Indonesia. Jakarta : RajaGrafindo Persada. 2012

Marpaung, Leden. Asas-Asas,Teori. Praktik Hukum Pidana. Jakarta : Sinar Grafika. 2008

Mertokusumo, Sudikno. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta : Liberty.2003

Moeljatno. Asas –Asas Hukum Pidana. Jakarta : PT Rineka Cipta. 1993

Mulyadi, Lilik. Wajah Sistem Peradilan Pidana Anak Indonesia. Bandung : PT Alumni, 2014

Prasetyo, Teguh. Hukum Pidana Edisi Revisi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.2012

Prodjodikoro, Wirjono. Asas Asas Hukum Pidana di Indonesia. Bandung : Refika Aditama. 2003

Purwaka, Tommy Hendra. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta : Universitas Atma Jaya. 2007

Rahman, Maman Abdul. Pertanggungjawaban Pidana Anak Menurut Hukum Pidana Islam dan Undang Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem

Sambas, Nandang. Peradilan Pidana Anak di Indonesia dan Instrumen

Internasional Perlindungan Anak Serta Penerapannya. Yogyakarta :

Graha Ilmu. 2013

Santoso, Topo. Mengagas Hukum Pidana Islam. Bandung: Asy Syamil. 2001 Soetodjo, Wagiati. Hukum Pidana Anak. Bandung : Refika Aditama. 2006

_________ Hukum Pidana Anak Edisi Revisi,Bandung : Refika Aditama, 2013 Tongat. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan.

Malang : UMM Press. 2012

Waluyo, Bambang. Pidana dan Pemidanaan. Jakarta : Sinar Grafika. 2004 Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak, (Bandung : CV. Mandar Maju, 2009) Widnyana, Made. Asas Asas Hukum Pidana. Jakarta : Fikahati Aneska. 2010 Zahrah,Muhammad Abu. Ushul Fiqh di Terjemahkan oleh Saefullah Ma’shum

dkk. Jakarta : Pustaka Firdaus, 2013

Internet: file:///C:/Users/User/Downloads/434-1062-1-SM.pdf http://arief306al-mumtaz.blogspot.co.id/2013/05/mabuk-mabukan.html http://artikelkuislami.blogspot.co.id/2012/01/hukum-pidana-islam.html http://gotzlan-ade.blogspot.co.id/2012/03/petanggungjawaban-pidana-islam.html http://gubukhukum.blogspot.co.id/2012/03/pidana-dalam-hukum-pidana-islam.html http://imanhsy.blogspot.co.id/2011/12/pengertian-pertanggungjawaban-pidana.html http://indonesian.irib.ir/artikel/ufuk/item/52377-Ensiklopedia_IRIB_Indonesia-_Baligh http://kompasiana.com/navia/psikologi-islami-fase perkembangan- manusia-dalam-al-quran-sejak-dalam-rahim-hingga-hingga-pasca-kematian_553a6a6f6ea834f21ada42ce http://m.hukumonline.com/klinik/detail/lt515e437b33751/apakah-seorang-yang-gila-bisa-dipidana

http://robbinadani.blogspot.co.id/2015/05/makalah-perkembangan-anak-menurut.html http://vannbie.blogspot.co.id/2012/06/pertanggung-jawaban-hukum-pidana-islam.html http://www.kpai.go.id/artikel/implementasi-restorasi-justice-dalam-penanganan-anak-bermasalah-dengan-hukum/ https://idtesis.com/pengertian-penelitian-hukum-normatif-adalah/ https://lawmetha.wordpress.com/2011/05/19/metode-penelitian-hukum-normatif/