• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan perilaku, menekankan pada keterkaitan antara ruang dengan manusia dan masyarakat yang memanfaatkan atau menghuni ruang tersebut.

Ruang dalam pendekatan ini dilihat mempunyai arti dan nilai yang plural dan berbeda, tergantung tingkat apresiasi dan kognisi individu-individu yang

menggunakan ruang tersebut. Dengan kata lain, pendekatan ini melihat bahwa aspek-aspek norma, kultur, psikologi masyarakat yang berbeda akan menghasilkan konsep dan wujud ruang yang berbeda (dalam Haryadi, 1995).

a. Pengertian Perilaku

J.B. Watson (1878-1958) memandang psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku karena perilaku dianggap lebih mudah diamati, dicatat, dan diukur.

Arti perilaku mencakup perilaku kasatmata seperti makan, menangis, nekerja, melihat, dan perilaku yang tidak kasatmata, seperti fantasi, motivasi, dan proses yang terjadi pada waktu seseorang diam atau secara fisik tidak bergerak.

Perilaku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (Lauren, 2004):

1) Perilaku itu sendiri kasatmata, tetapi penyebab terjadinya perilaku secara langsung mungkin tidak dapat diamati.

2) Perilaku mengenal berbagai tingkatan, yaitu perilaku sederhana dan strereotip, seperti perilaku binatang bersel satu; perilaku komplek seperti perilaku sosial manusia; perilaku sederhana, seperti refleks, tetapi ada juga yang melibatkan proses mental biologis yang lebih tinggi.

3) Perilaku bervariasi dengan klasifikasi: kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang menunjuk pada sifat rasional, emosional, dan gerakan fisik dalam berperilaku.

4) Perilaku bisa disadari dan bisa juga tidak disadari.

b. Perilaku Manusia dan Lingkungannya

Egon Brunswik (1903-1955), tokoh pertama yang menggunakan istilah psikologi-lingkungan. Percaya bahwa lingkungan fisik mempengaruhi manusia tanpa manusia sendiri menyadarinya (dalam Laurens, 2004). Kurt Lewin (1890-1947) seorang penganut Psikologi Gestalt dan juga merupakan tokoh yang pertama kali memberi pertimbangan terhadap pengaruh lingkungan fisik pada perilaku manusia, menekankan adanya pandangan individual mengenai lingkungan. Ia juga merumuskan bahwa tingkah laku merupakan fungsi dari keadaan seseorang dan lingkungan tempat orang itu berada.

Menurut Moore (dalam Haryadi, 1995), komponen pembentuk kerangka interaksi antara manusia dengan lingkungannya meliputi : seting yaitu tempat melaksanakan kegiatan, organisasi kelompok manusia, dan fenomena yang ditimbulkan dari perilaku manusia tersebut. Terkadang perilaku manusia dipengaruhi oleh tempat melaksanakan kegiatan atau seting tapi bisa sebaliknya seting dapat terpengaruh oleh kehadiran manusianya, misalnya dengan perubahan-perubahan fisik yang dibuat oleh manusia.

Perilaku tersebut akan menimbulkan dampak pada lingkungannya.

Bermula dari sifat yang dimiliki oleh seseorang yang salah satunya dapat dipengaruhi atau mewarisi sifat dari orang sebelumnya (ibu dan ayah, atau nenek dan kakek). Sifat-sifat yang diwarisi tersebut dapat dilihat atau diketahui selagi anak masih kecil dan ada pula yang diketahui sesudah ia besar. Selain karena sifat yang dibawa dari keturunan / keluarga,

lingkungan fisik juga mempengaruhi perilaku perkembangan anak.

Kualitas lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan anak, dalam Salkind (2002) juga menulis mengenai tempat penitipan anak, bahwa efek tempat penitipan anak terhadap perkembangan anak tergantung kualitas tempat tersebut, termasuk kualitas seting fisiknya.

c. Proses Sosial

Respon seseorang terhadap lingkungan bergantung pada bagaimana individu yang bersangkutan mempersepsikan lingkungannya. Salah satu hal yang dipersepsi manusia tentang lingkungannya adalah ruang disekitarnya, baik natural maupun buatan (Lauren, 2004).

Fenomena pola-pola perilaku pribadi yang berkaitan dengan lingkungan fisik yang ada terkait dengan perilaku interpersonal manusia atau perilaku sosial manusia. Perilaku interpersonal manusia tersebut meliputi (Sarlito, 1992):

1) Ruang Personal (personal space)

Sering kali ruang personal itu tidak disadari oleh manusia sampai tingkat kenyamanan seseorang itu terganggu oleh keberadaan orang lain dalam jarak tertentu.

Fisher (dalam Sarlito, 1992) mendefinisikan personal space (ruang personal) sebagai suatu batas maya yang mengelilingi diri kita yang tidak boleh dilalui oleh orang lain.

Menurut Haryadi (1995), Ruang personal merupakan konsep yang dinamis dan adaptif, tergantung pada situasi lingkungan dan psikologis seseorang. Dengan kata lain, jarak individu untuk mendapatkan

personal space dapat bertambah atau mengecil. Orang yang sedang dalam keadaan marah berkeinginan untuk memperluas personal spacenya. Sebaliknya, dua orang yang sedang bercinta cenderung justru mempersempit personal space mereka.

Edward Hall (1963) (dalam Lu‟lu‟, 2007), berpendapat bahwa ruang personal adalah suatu jarak berkomunikasi, dimana jarak antarindividu ini adalah jarak berkomunikasi. Dalam pengendalian terhadap gangguan-gangguan yang ada, manusia mengatur jarak personalnya dalam empat jenis, yaitu:

a) Jarak intim (fase dekat 0.00-0.15m, fase jauh 0.15-0.50m), b) Jarak personal (fase dekat 0.50-0.75m, fase jauh 0.75-1.20m), c) Jarak sosial (fase dekat 1.20-2.10m, fase jauh 2.10-3.60m), d) Jarak publik (fase dekat 3.60-7.50m, fase jauh > 7.50m)

Faktor yang mempengaruhi besarnya ruang personal antara lain:

a) Faktor Personal 1) Jenis Kelamin

Heska dan Nelson (1972) (dalam Laurens, 2004) mengatakan bahwa salah satu penentu perbedaan yang bergantung pada diri individu itu sendiri adalah jenis kelamin. Wanita maupun pria sama-sama membuat jarak dengan lawan bicara yang berlainan jenis kelaminnya. Sebaliknya dalam hal lawan bicaranya sesama jenis, wanita akan mengurangi jarak personalnya jika lawan bicaranya itu akrab. Akan tetapi, pada laki-laki keakraban antarsesama jenis tidak berpengaruh pada personal space.

2) Umur

Pada umumnya, makin bertambah umur seseorang, makin besar jarak personal space yang akan dikenakannya pada orang-orang tertentu (Haryadi, 1995). Menurut Castell (1970) (dalam Laurens, 2004), pada usia 18 bulan seorang anak mulai memilih jarak interpersonal yang berbeda bergantung pada orang-orang dan situasi yang dihadapinya. Evans dan Howard (1973) (dalam Laurens, 2004) mengatakan pada usia 12 tahun seorang remaja sudah membentuk ruang personal yang sama seperti orang dewasa.

3) Tipe Kepribadian

Duke dan Nowski (1971) (dalam Sarlito, 1992) menyatakan bahwa orang dengan kepribadian eksternal (merasa bahwa segala sesuatu lebih ditentukan oleh faktor-faktor diluar dirinya sendiri) memerlukan jarak personal yang lebih besar dibandingkan orang bertipe internal (merasa bahwa segala sesuatu lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri).

4) Latar Belakang Budaya/ Suku bangsa

Holahan (1982:279) (dalam Laurens, 2004)mengatakan bahwa latar belakang suku bangsa dan kebudayaan seseorang akan mempengaruhi besarnya personal space seseorang. Misalnya, oranng Jerman lebih formal dalam berkomunikasi dengan orang lai, apabila ruang personal mereka terganggu maka mereka akan menjadi ofensif. Sedangkan pada orang Arab dalam

berkomunikasi harus sangat berdekatan, antar sesama jenis mereka bersentuhan, saling memeluk, mencium, dan orientasi mereka lebih banyak secara langsung.

b) Faktor Situasi Lingkungan

Variasi jarak ruang personal juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan tempat orang-orang tersebut berinteraksi. Faktor sittuasi ini dapat dikelompokkan dalam situasi sosial dan situasi fisik, kooperasi-kompetisi, dan status sosial (Sarlito, 1992).

c) Bentuk Bangunan

Bentuk fisik bangunan juga mempengaruhi ruang pesonal pada penggunanya. Penyekat ruangan bisa mengurangi perasaan invasi terhadap personal space (Baum dkk, 1974, dalam Sarlito, 1992).

2) Teritorialitas (territoriality)

Seperti halnya ruang personal, teritorialitas merupakan perwujudan

“ego” seseorang karena orang tidak ingin diganggu, atau dapat dikatakan sebagai perwujudan dari privasi seseorang.

Julian Edney (1974) (dalam Laurens, 2004) mendefinisikan teritorialitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan, pertahanan, penggunaan yang eksklusif, personalisasi, dan identitas.

Apabila ruang personal merupakan gelembung maya yang portabel, berpindah-pindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan, teritorialitas merupakan suatu tempat yang nyata yang relatif tetap dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan.

Teritorialitas dapat diartikan sebgai suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas suatu tempat atau suatu lokasi geografis. Pola tingkah laku ini mencakup personalisasi terhadap gangguan dari luar (Sarlito, 1992).

Sebagai media komunikasi, sama halnya dengan personal space, teritori juga terbagi dalam beberapa golongan. Penggolongan yang diajukan oleh Altman (dalam Sarlito, 1992) adalah :

a) Teritori Primer, yaitu tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah akrab atau sudah mendapat ijin khusus.

b) Teritori Sekunder, yaitu tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal.

c) Teritori Publik, yaitu tempat-tempat terbuka untuk umum, setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat tersebut.

Selain pengklasifikasian tersebut, Altman (1975) (dalam Laurens, 2004) juga mengemukakan dua tipe teritori lain, yaitu ide dan objek.

Meski keduanya bukan berwujud tempat, diyakini juga memenuhi kriteria teritori. Karena seperti halnya dengan tempat, orang juga menandai, menguasai, mempertahankan, dan mengontrol barang mereka. Demikian pula ide, orang mempertahankannya melalui hak paten, atau hak cipta; pemilik perangkat lunak memasang kunci dengan kode-kode tertentu agar tidak dikuasai oleh orang lain.

Lyman dan Scott (1967) (dalam Laurens, 2004) juga membuat klasifikasi yang sebanding, yaitu Teritori Interaksi ditujukan pada suatu

daerah yang secara temporer dikendalikan oleh sekelompok orang yang berinteraksi. Misalnya, seorang anak kecil masuk dalam ruang kuliah yang tidak diperuntukkan baginya, itu merupakan gangguan bagi mahasiswa yang sedang belajar. Teritori Badan dibatasi oleh badan manusia yaitu kulit manusia. Artinya segala sesuatu mengenai kulit manusia tanpa ijin dianggap gangguan.

Bentuk pelanggaran teritori yang dapat diindikasikan adalah invansi.

Seseorang memasuki teritori orang lain secara fisik, biasanya ingin mengambil kendali atas teritori dari pemiliknya. Bentuk pelanggaran kedua adalah kekerasan, suatu bentuk pelanggaran yang bersifat temporer atas teritori seseorang dan bukan untuk menguasai kepemilikan. Sedangkan bentuk pelanggaran yang ketiga adalah kontaminasi. Seseorang mengganggu teritori orang lain dengan meninggalkan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi pemiliknya (dalam Laurens, 2004).

Beberapa hal yanng mempengaruhi keanekaragaman teritori adalah karakteristik seseorang, seperti jenis kelamin, usia, dan kepribadian, perbedaan situasinal baik berupa tatanan fisik maupun sosial budaya seseorang (Laurens, 2004).

3) Kesesakan dan Kepadatan (crowding and density)

Bentuk lain dari persepsi terhadap lingkungan adalah kesesakan (crowding). Kesesakan yang berhubungan dengan kepadatan (density), yaitu banyaknya jumlah manusia dalam batas ruang tertentu. Makin banyak jumlah manusia berbanding luasnya ruangan, makin padatlah

keadaannya. Stokols (1972) (dalam Sarlito, 1992) menyatakan bahwa density adalah kendala keruangan (spatial constraint), sedangkan crowding adalah respon subjektif terhadap ruang yang sesak (tight space).

Pengaruh terjadinya seseorang merasa sesak adalah personal dan situasi, pengalaman budaya dan gender, kualitas relasi diantara orang-orang yang harus berbagi ruang tersebut.

Dampak kepadatan pada manusia meliputi; dampak penyakit dan patologi sosial atau penyakit kejiwaan, dampak pada tingkah laku sosial, yaitu agresi, menarik diri dari lingkungan sosial, cenderung melihat sisi negatif orang lain, dan dampak pada hasil usaha dan suasana hati.

4) Privasi (privacy)

Seperti halnya dengan ruang personal, privasi merupakan suatu proses yang sangat penting dalam hidup manusia. Untuk mampu mendapatkan privasi, seseorang harus terampil membuat keseimbangan antara keinginannya dengan keinginan orang lain dan lingkungan fisik di sekitarnya. Amos (1977) (dalam Laurens, 2004) mengemukakan bahwa privasi adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mengendalikan interaksi mereka dengan orang lain baik secara visual, audial, maupun olfaktori untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Privasi adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya (Sarlito, 1992).

Laurens (2004) berpendapat bahwa setiap individu akan mencari privasi, tetapi Westin (1967) mengatakan bahwa kadang-kadang kita juga ingin berada dalam kesendirian bersama seseorang atau beberapa orang yang kita pilih.

a. Jenis Privasi

Holahan (1982) (dalam Laurens, 2004) pernah membuat alat untuk mengukur kadar dan mengetahui jenis privasi dan ia mendapatkan bahwa ada enam jenis privasi yang tergolong menjadi dua golongan, yaitu:

1) Golongan pertama adalah keinginan untuk tidak diganggu secara fisik.

a. Keinginan untuk menyendiri (solitude) b. Keinginan untuk menjauh (seclusion)

c. Keinginan untuk intim dengan orang-orang (intimacy)

2) Golongan kedua adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan diri sendiri yang terwujud dalam tingkah laku hanya memberi informasi yang perlu.

a. Keinginan untuk merahasiakan diri sendiri (anonymity) b. Keinginan untuk tidak mengungkapkan diri terlalu banyak

kepada orang lain (reserve)

c. Keinginan untuk tidak terlibat dengan para tetangga (not neighboring)

b. Tujuan Privasi

Disimpulkan bahwa privasi mempunyai tujuan sebagai berikut:

1) Memberikan perasaan berdiri sendiri, mengembangkan identitas pribadi

2) Memberi kesempatan untuk melepaskan emosi

3) Membantu mengevaluasi diri sendiri, menilai diri sendiri

4) Membatasi dan melindungi diri sendiri dari komunikasi dengan orang lain.

Tujuan dari suatu perancangan adalah memberikan setiap orang privasi sebesar mungkin sesuai dengan yang diinginkannya. Yang penting adalah hidup dan bekerja dalam satu tatanan yang memungkinkan bagi seorang individu untuk memilih keterbukaan atau ketertutupan dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, lahirlah hierarki ruang, mulai dari ruang yang sangat publik hingga ruang yang sangat pribadi atau privat (Laurens, 2004).

7. Tinjauan Khusus Tentang Permainan