BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
2. Tinjauan tentang pasien
Didalam Pasal 1 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dijelaskan tentang pengertian pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.
b. Kewajiban Pasien
1) Menurut UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
Di dalam Pasal 53 UU No. 29 Tahun 2004 tentang Paraktik Kedokteran, telah dirumuskan kewajiban-kewajiban pasien antara lain:
i. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur mengenai masalah kesehatannya
ii. Mematuhi nasehat dan petunjuk dokter/dokter gigi
iii. Mematuhi ketentuan yang berlaku disarana pelayanan kesehatan iv. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan.
2) Menurut Prof. Picard
Seorang pasien mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu terhadap dokternya dan juga terhadap dirinya sendiri. Didalam melakukan kewajibannya pasien diminta untuk memenuhi standard pasien yang wajar.
Apabila ia tidak melakukan kewajibannya dan hal ini sampai merupakan penyebab (proximate cause) dari cideranya, maka ia dianggap turut bersalah sehingga ganti kerugian yang timbul dibagi secara proporsional antara dokter dan pasien. Namun apabila cidera itu hanya
commit to user
disebabkan oleh pasien itu sendiri, maka ia tidak dapat meminta ganti kerugian yang dimintanya. Hal-hal yang dikatagorikan sebagai
contributory negligence antara lain :
i. Pasien tidak mentaati instruksi dokternya (termasuk) didalamnya tidak membeli obat yang sesuai dengan resep dokter)
ii. Pasien menolak cara pengobatan yang diusulkan, misal pasien menolak operasi yang dianjurkan dokter, kemudian meninggal, sehingga dokter tidak dapat dipersalahkan.
iii. Pasien tidak sejujurnya memberikan informasi atau tidak memberikan informasi yang akurat atau menyesatkan (Guwandi, 1993 :19).
c. Hak-Hak Pasien
1) Menurut UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
Pasien dalam menerima pelayanan pada praktek kedokteran, mempunyai hak:
i. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3)
ii. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain
iii. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis iv. Menolak tindakan medis
v. Mendapatkan isi rekam medis.
2) Hak-hak penting diluar UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran
i. Hak untuk hidup, hak untuk mati secara wajar, dan hak atas tubuhnya sendiri.
ii. Hak untuk memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standard profesi kedokteran
iii. Hak untuk memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang mengobatinya
commit to user
iv. Hak untuk menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik diri dari kontrak terapeutik v. Hak untuk memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang
telah diikutinya serta menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran tersebut
vi. Hak untuk dirujuk kepada dokter spesialis bila perlu, dan dikembalikan kepada dokter yang merujukya setelah konsultasi atau pengobtan untuk memperoleh perawatan atau tindak lanjut
vii. Hak atas kerahasian atau rekam medik yang bersifat pribadi
viii. Hak untuk memperoleh penjelasan mengenai peraturan rumah sakit ix. Hak untuk berhubungan dengan keluarga, penasihat, atau
rohaniawan yang diperlukan selama perawatan dirumah sakit
x. Hak untuk memperoleh penjelasan tentang perincin biaya rawat inap, obat, pemeriksaan laboratorium, pemriksaan rontgen, biaya kamar bedah, bersalin, serta imbalan jasa dokter (Anny Isfandyarie, 2006 :102)
3. Tinjauan tentang UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. a. Sejarah pengaturan Hak Asasi Manusia dalam Undang-Undang
Indonesia
Pada awal Negara ini dibentuk, telah terjadi pertentangan antara para pendiri Negara dan perancang konstitusi tentang perlu atau tidaknya HAM dimasukkan ke dalam UUD Negara Indonesia. Dalam pandangan Soepomo HAM sangat identik dengan ideologi liberal individu dengan demikian sangat tidak cocok dengan sifat masyarakat Indonesia. Akan tetapi M. Yamin menolak pandangan demikian, menurutnya tidak ada dasar apapun yang dapat dijadikan alasan menolak memasukkan HAM dalam Undang Undang Dasar.
Penolakan Soepomo memasukan norma-norma HAM ke dalam UUD 1945 bukan berarti ia anti terhadap HAM. Perubahan sikap Soepomo terhadap HAM dapat dilihat dengan dimasukkannya hak-hak dasar warga
commit to user
Negara dalam konstitusi RIS dan UUDS 1950 dimana Soepomo terlibat secara langsung dalam perancangannya. Dalam UUDS 1950, ada 36 pasal prinsip-prinsip HAM dimuat dibawah paying hak-hak kebebasan dasar manusia. Sejak Indonesia kembali kepada UUD 1945, dibawah rezim Soekarno dan dilanjutkan rezim Soeharto dengan orde barunya, pengaturan HAM kembali bersandar kepada beberapa pasal dalam UUD 1945.
Seiring dengan perkembangan sejarah di dunia Internasional Instrumen-instrumen HAM semakin berkembang dalam berbagai konvensi. Perlindungan HAM kemudian dijadikan salah satu norma standar untuk berhubungan dengan negara luar khususnya negara barat. Dengan kekuatan ekonomi yang besar dan ketergantungan Negara-negara dunia ketiga yang non komunis kepada bantuan ekonomi barat, menimbulkan dominasi negara barat dan standar barat dalam penilaian terhadap pelaksanaan HAM dunia terutama Negara dunia ketiga.
Isu HAM kemudian dijadikan isu Internasional atau isu global. Hal ini tak jarang menimbulkan konflik antara Negara Barat dengan Negara-negara dunia ketiga. Dengan mengetengahkan konsep-konsep konsep keaneragaman budaya, negara-negara non barat mencoba membendung dominasi standar barat dalam menilai terhadap perlindungan HAM dunia.
Dominasi standar barat dalam penilaian terhadap HAM semakin kuat dengan runtuhnya negara-negara sosialis khususnya Uni Soviet. Keruntuhan ini membawa implikasi yang besar terhadap Indonesia pasca rezim Soeharto. Selama berkuasa, rezim Soeharto dianggap refresif dalam mempertahankan kekuasaannya. Hal ini menimbulkan berbagai pelanggaran HAM sepanjang orde baru dan selalu mendapat penilaian buruk dari lembaga-lembaga HAM dunia.
Pada tahun 1993 pemerintahan Soeharto mulai menunjukan perubahan sikapnya terhadap HAM, yaitu dengan membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). Perubahan ini dipengaruhi perubahan konstalasi politik dunia yang mulai menunjukan titik akhir kehancuran
commit to user
komunisme dan munculnya dominasi barat. Faktor lainnya adalah isu pelanggaran HAM di Irian Jaya dan Timor Timur yang pada waktu itu menjadi isu Internasional.
Pada waktu pemerintahan Habibie yang masih muda harus mendapatkan tekanan politik baik dari dalam maupun internasional. Hal inilah yang mendorong pemerintahan Habibie meratifikasi berbagai instrument HAM Internasional dan menerbitkan UU mengenai HAM yaitu UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Sementara itu MPR melakukan amandemen untuk memasukan instrument-instrumen HAM kedalam batang tubuh UUD 1945 (Muladi, 2004:10)
b. Pengertian Hak asasi Manusia
Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pada Pasal 1 angka 1 BAB I tentang Ketentuan Umum, yang dimaksud dengan Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Konsep hak asasi manusia mempunyai dua pengertian dasar. Pertama, bahwa hak-hak yang tidak dapat dipisahkan dan dicabut adalah hak-hak manusia karena ia seorang manusia. Hak-hak ini adalah hak-hak moral yang berasal dari kemanusiaan setiap insan dan hak-hak itu bertujuan untuk menjamin martabat setiap manusia. Kedua, hak-hak menurut hukum yang dibuat sesuai dengan proses pembentukan hukum dari masyarakat itu sendiri, baik secara nasional maupun internasional. Dasar dari hak-hak ini adalah persetujuan dari yang diperintah, yaitu persetujuan dari para warga yang tunduk kepada hak-hak itu dan tidak hanya tata tertib alamiah yang merupakan dasar dari arti yang pertama
commit to user
b.Instrumen HAM Nasional
Pada masa pemerintahan orde baru, demokrasi belum berjalan dengan baik. Hanya kepentingan politik saja yang pada waktu itu sangat menonjol, sehingga gerak-gerik masyarakat terbatas oleh kekuatan politik dan militerisme. Demi nama baik bangsa dan masyarakat di Indonesia sebagai anggota PBB, maka untuk menghormati piagam PBB dan deklarasi Universal HAM, serta perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan HAM sesuai dengan prinsip-prinsip kebudayaan bangsa Indonesia, Pancasila dan negara berdasarkan hukum telah menetapkan :
a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvesi Mengenai Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, b. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan
Hak-Hak Anak,
c. Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 Tentang Komisi Nasional HAM.
Semenjak pergantian pemerintahan orde baru, dan Kabinet Era Reformasi sampai dengan Kabinet Gotong Royong, telah banyak menetapkan peraturan perundang-undangan yang berperspektif HAM dan ratifikasi instrumen HAM Internasional, yaitu :
a. Keppres Nomor 129 tahun 1998 tanggal 15 Agustus 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,
b. Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tanggal 16 September 1998 tentang menghentikan penggunaan istilah Pribumi dan Non Pribumi dalam semua perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan Perencanaan Program Ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan,
c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 tanggal 28 September1998 tentang pengesahan Konvesi Menentang Penyikasaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi atau Merendahkan,
commit to user
d. Keppres Nomor 181 Tahun 1998 tanggal 9 Oktober 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,
e. Undang Undang Nomor 9 Tahun 1998 tanggal 26 Oktober 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Dimuka Umum,
f. Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tanggal 23 September 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
g. Undang Undang Nomor 26 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang Peradilan Hak Asasi Manusia,
h. Konvesi ILO No. 87 Tahun 1948, diratifikasi berdasarkan Keppres No. 83 Tahun 1998 Tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak Untuk Berorganisasi
i. Konvesi ILO No. 105 Tahun 1957, diratifikasi berdasarkan Undang Undang Nomor 19 Tanun 1999 Tentang Penghapusan Kerja Paksa, j. Konvesi ILO 111 Tahun 1958, diratifikasi berdasarkan Undang Undang
Nomor 21 Tahun 1999 tentang Diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan,
k. Konvesi ILO No. 138 Tahun 1973, diratifikasi berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Usia Minimum untuk diperbolehkan bekerja,
l. Konvesi ILO No. 182 Tahun 1999, diratifikasi berdasarkan Undang Undang No. 1 Tahun 2000 Tentang Pelanggaran dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak,
m. Konvesi ILO No. 88 Tahun 1948, diratifikasi berdasarkan Keppres No. 36 Tahun 2002 tentang Lembaga Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja (Muladi, 2004:5).
c. Penerapan HAM di Indonesia
Konsep HAM yang sebelumnya cenderung bersifat theologies, filsafati, ideologis, atau moralistik dengan kemajuan berbangsa dan bernegara dalam konsep modern akan cenderung ke sifat yuridis dan politik, karena instrument HAM dikembangkan sebagai bagian yang menyeluruh dan
commit to user
hukum Internasional baik tertulis maupun tidak tertulis. Bentuknya dapat berupa deklarasi, konvesi, resolusi maupun general Comments. Instrumen-instrumen tersebut akan membebankan kewajiban para negara-negara anggota PBB, sebagian mengikat secara yuridis dan sebagian lagi kewajiban secara moral walaupun para negara anggota belum melakukan ratifikasi secara formal.
Tetapi konsep HAM tersebut tidak secara universal, disesuaikan dengan kebudayaan negara Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Hal ini mutlak perlu, sebab akan berkaitan dengan falsafah, doktrin, dan wawasan bangsa Indonesia, baik secara individual maupun kolektif kehidupan masyarakat yang berasaskan kekeluargaan, dengan tidak mengenal secara fragmentasi moralitas sipil, moralitas komunal, maupun moralitas institusional yang saling menunjang proporsional. Manusia dipandang sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dan dipandang sebagai warga negara. Jadi konsep HAM Indonesia bukan saja hak-hak mendasar manusia, tetapi ada kewajiban dasar manusia sebagai warga negara untuk mematuhi peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, menghormati HAM orang lain, moral, etika, patuh pada hukum Internasionalterhadap negara. Sedangkan kewajiban bagi pemerintah untuk menghormati, melindungi, menegakkan, memajukan HAM yang telah diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan dan hukum Internasional HAM yang diterima oleh Indonesia (Muladi, 2004:6).
4. Tinjauan tentang Pelaksanaan Pidana