DAFTAR PUSTAKA
C. Tinjauan Pustaka
Mengenai tema pembahasan dalam penelitian ini, sebelumnya Abd. Moqsith pernah menulis terlebih dahulu terkait tema pembahasan ini dalam Jurnal Islamica yang berjudul Pandangan Ulama Konservatif dan Ulama Progresif tentang Tafsir Ayat Lā Ikrāha Fī al-Dīn. Dalam kajian ini menjelaskan argumen-argumen para Mufāsir klasik dan modern serta cendikiawan muslim mengenai Qs. al-Baqarah/ 2:
256.11 Kajian tersebut berbeda dengan kajian yang akan penulis lakukan, karena
penulis akan menjelaskan secara spesifik mengenai tafsir Qs. al-Baqarah/ 2: 256 yang hanya terfokus pada dua tokoh mufassir kontemporer yakni Muḥammad Mutawallī al-Sya„rāwī dan Muḥammad Sayyid Tanṭāwī terhadap Qs. al-Baqarah/ 2: 256 dalam Kitab Tafsīr al-Sya„rāwī dan Tafsīr al-Wasīṭ li al-Qur‟ān al-Karīm.
Selain itu dalam Jurnal Tsaqafah yang ditulis Harda Armayanto berjudul Etika al-Qur‟an Terhadap Non-Muslim. Dalam jurnal ini dijelaskan terkait prinsip kebebasan beragama yang terdapat pada Qs. al-Baqarah/ 2: 256. Bahwa kebebasan beragama tercermin dari tidak adanya kewajiban bagi umatnya memaksa orang lain agar memeluk agama Islam dan beriman kepada Allah SWT. Islam hanya
11
Abd. Moqsith, “Pandangan Ulama Konservatif dan Ulama Progresif tentang Tafsir Ayat Lā Ikrāha Fī Al-Dīn ”, Islamica, vol.8, no.1 (September 2013).
mewajibkan kepada umatnya untuk berdakwah dengan cara yang baik. Perihal
dakwah itu diterima atau tidak merupakan urusan Allah SWT.12
Penelitian selanjutnya telah diselesaikan dalam bentuk Tesis yang berkaitan dengan tema penelitian ini, yakni sebuah tesis yang ditulis oleh Muhammad Fadlan Is yang berjudul Analisis Istinbat al-Ahkam Fatwa Muḥammad Sayyid Tanṭāwī yang kontroversial. Tesis ini menjelaskan beberapa Fatwa Muḥammad Sayyid Tanṭāwī yang menimbulkan kontroversial di kalangan umat Muslim di antara fatwanya adalah bolehnya menyumbang untuk pembangunan gereja, bolehnya berinteraksi dengan bank konvensional dan bolehnya pelajar perempuan di perancis untuk melepas jilbabnya. Dari fatwa berikut terlihat jelas bahwa beliau lebih mengedepankan aspek maslahat ketika berbenturan antara maslahat dan mudharat. Tanṭāwī juga lebih mementingkan maslahat daripada nas dengan tujuan untuk menjaga maqāṣid syariah ḍarruriyāt yang mu„tabarah. Yang sesuai dengan
nilai-nilai universal yang terkandung dalam al-Qur‟an dan Hadis.13
Penelitian berikutnya ialah Jurnal Studi Hukum Islam yang ditulis oleh Muhammad Husni Arafat, dengan judul Kemerdekaan Beragama dalam pandangan al-Qur‟an Sebuah Studi Kritis atas Qs. al-Baqarah/ 2: 256. Dalam tulisan ini membahas tentang kebebasan beragama pada konteks modern. Bahwa umat Islam dilarang untuk memaksa non muslim untuk memeluk Islam dan menganjurkan kepada masing-masing pemeluk agama lain untuk berpegang teguh pada
keyakinannya masing-masing.14
Selanjutnya Jurnal Studia Qur‟anika yang ditulis oleh Hikmatiar Pasha yang berjudul Studi Metodologi Tafsīr al-Sya„rāwī. Kajian ini menjelaskan mengenai
12
Harda Armayanto, “Etika Al-Qur‟an Terhadap Non-Muslim”. Tsaqafah, Institute, vol.9, no.2 (November 2013).
13
Muhammad Fadlan Is, “Analisis Istinbath al-Ahkam Fatwa Sayyid Tanṭāwī yang Kontroversial” (Tesis S2., Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Medan, 2013).
14
Muhammad Husni Arafat, “Kemerdekaan Beragama Dalam Pandangan Al-Qur‟an: Sebuah Studi Kritis Atas Qs. al-Baqarah/ 2: 256”. Istidlal, vol.3, no.1 (Januari-Juni 2016).
metodologi penafsiran yang digunakan dalam Tafsir al-Sya„rāwī bahwa metode yang digunakan adalah metode taḥlīli dan bil ra‟yi dengan corak i„jaz dan adabī. Sedangkan yang menjadi sumber penafsirannya adalah Qur‟an dengan al-Qur‟an. Di samping itu kajian ini menyebutkan bahwa al-Sya„rāwī memberikan
pengaruh yang luar biasa terhadap kajian tafsir al-Qur‟an.15
Selain dalam Jurnal, kajian sebelumnya yang berkaitan dengan tema penelitian ini adalah skripsi yang ditulis oleh Euis Sri Wahyuni yang berjudul Toleransi Beragama Dalam Al-Qur'an (Studi Komparatif Tafsīr Ibnu Kāṡir dan Tafsīr al-Marāgī). Dalam skripsi ini menjelaskan perbandingan antar tafsir Ibnu
Kāṡir dan tafsīr al-Marāgī terhadap ayat yang berbicara toleransi beragama
diantaranya Qs. al-Baqarah/ 2: 256.16
Skripsi yang ditulis oleh Abdul Bari Nasrudin yang berjudul Pemahaman Intelektual Muslim Indonesia Atas Ayat-Ayat Hubungan Antar Umat Beragama. Dalam skripsi ini terdapat persamaan dan perbedaan pendapat antar intelektual muslim di Indonesia, Mufassir klasik dan modern terkait hubungan antar umat beragama yang terfokus pada tiga ayat yakni Qs. Baqarah/ 2: 256, Qs.
al-Baqarah/ 2: 62 dan Qs. al-An‟ām/ 6: 8.17
Jurnal yang ditulis oleh Kartika Nur Utami dengan judul Kebebasan Beragama dalam Perspektif al-Qur‟an. Kajian ini menekankan tentang kebebasan beragama dalam al-Qur‟an dan kaitannya dengan HAM. Disamping itu peneliti mengutip beberapa pendapat Mufassir dalam menafsirkan ayat tersebut seperti
15
Hikmatiar Pasha, “Studi Metodologi Tafsīr al-Sya„rawī”. Studia Quranika, vol.1, no.2, (Januari 2017).
16
Euis Sri Wahyuni, “Toleransi Beragama Dalam al-Qur‟an Studi Komparatif Tafsīr Ibnu Kaṡīr dan Tafsīr al-Marāgī” (Skripsi S1.,Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin, 2017).
17Abdul Bari Nasrudin, “Pemahaman Intelektual Muslim Indonesia Atas Ayat-Ayat Hubungan antar Umat Beragama” (Skripsi S1., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2017).
Ibnu Kaṡīr dan Muṣṭafā al-Marāgī, lalu memberikan korelasi kebebasan beragama
dalam al- Qur‟an dengan Hak Asasi Manusia (HAM) di era modern.18
Sebuah buku yang ditulis oleh Nouh El Harmouzi dan Linda Whetstone yang berjudul Islam dan Kebebasan: Argumen Islam Untuk Masyarakat Bebas. Buku ini berkaitan dengan Tema penelitian ini, karena dalam buku ini berbicara persoalan kebebasan beragama dalam islam yang terdapat pada Qs. al-Baqarah/ 2: 256. Dalam buku ini mengutip pendapat Ibnu Kaṡīr terkait Qs. al-Baqarah / 2: 256 yang mengatakan bahwa “jangan memaksa siapa pun untuk menjadi muslim karena Islam mudah diterima dan dipahami. Lalu dalam buku ini menjelaskan bahwa ayat sebelumnya yakni ayat kursi semakin memperkuat pentingnya ayat tidak ada
paksaan dalam beragama Islam.19
Jurnal al-Furqan yang ditulis oleh Fithrotin dengan berjudul Metodologi
Tafsīr al-Wasīṭ Sebuah Karya Besar Grand Syeikh Muḥammad Sayyid Tanṭāwī.
kajian ini menjelaskan metodologi penafsiran dalam kitab tafsīr Wasīṭ li
al-Qur‟ān al-Karīm dengan menyebutkan bahwa metode yang digunakan dalam kitab
tafsir tersebut adalah metode tafsīr taḥlīli dengan sumber tafsīr bil ma„ṡur dan
corak adabi al-Ijtimā‟i.20
D. Metodologi Penelitian