• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEMONSTRASI-STUDENT CENTERED LEARNING (SCL) DAN METODE AUDITORY INTELLECTUALLY

TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan belajar adalah tercapainya keadaan proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Keberhasilan belajar bisa diketahui dengan evaluasi karena evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, adalah:(a).Daya serap terhadap bahan pelajaran

KNPM 6 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

93 siswa baik individu maupun klasikal (afektif). Namun yang banyak dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan dari keduanya adalah daya serap siswa terhadap pelajarannya.

Tes prestasi belajar dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dan dapat digolongkan kedalam jenis penilaian sebagai berikut :(a). Tes Formatif; Penilaian ini digunakan untuk menguur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap anak didik terhadap pokok bahasan tersebut. Hasil tes ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses balajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu Contohnya: ulangan harian, (b). Tes Subsumatif; Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu, bertujuan untuk memperoleh gambaran daya serap anak didik untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar anak didik. Hasil tes ini digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor (UTS), (c). Tes Sumatif; Tes ini dilakukan untuk mengukur daya serap anak didik terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester atau dua tahun pelajaran, Tes ini bertujuan untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar anak didik dalam suatu periode belajar tertentu. Hasil tes ini daigunakan untuk kenaikan kelas, menyusun rangking atau sebagai ukuran mutu sekolah (UAS).

Metode Pembelajaran Demonstrasi

Pengertian model pembelajaran demonstrasi menurut Jusuf

Djajadisastra,dkk(1989) mengemukakan bahwa model demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau cara melakukan kegiatan, atau prosesnya. Sedangkan menurut Nana Sudjana(2000) mengatakan bahwa model demonstrasi adalah metode mengajar yang efektif, sebab membantu para siswa mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan olahan yang benar, nyata benar. Dari Syaiful Bahri Djamariah dan aswan Zain (1996) mengemukakan bahwa model demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada para

KNPM 6 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

siswa suatu proses memperoleh hasil, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.Dengan model demonstrasi ini siswa dapat menerima pelajaran dengan kesan yang mendalam, membentuk pengertian dengan baik dan sempurna.Berdasarkan beberapa pendapat tentang model demonstrasi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa model demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan memepertunjukkan secara langsung objeknya, atau cara melakukan suatu kegiatan atau prosesnya.

Tujuan penggunaan metode demonstarsi ialah untuk menjelaskan suatu bahan pelajaran yang tidak mungkin hanya diberikan secara lisan saja.Hal ini erat sekali hubungannya denagn penjelasan penjelasan yang bersangkutan dengan bentuk, warna, sususnan, bagian bagian dan proses kerja dari objek yang didemonstrasikan.Langkah langkah pelaksanaan metode ini adalah

pertamapersiapan/perencanaan untuk menciptakan kondisi belajar untuk

pelaksanaan pembelajaran, kedua pelaksanaan dengan tahapan menjelaskan prosedur atau proses, diamati dan diikuti oleh siswa, sikap kritis siswa, tanya jawab, memberikan siswa untuk bergantian mendemokan materi dan soal, membuat penilaian, dan ketiga memberika tugas baik secara lisan maupun tertulis dalam evaluasi yang baik dan benar.(Desak dan asih,2013)

Model Pembelajaran Student Centered Learning (SCL).

Berikut ini beberapa pengertian SCL dari berbagai literatur; Rogers (1983), SCL merupakan hasil dari transisis perpidahan kekuatan dalam proses pembelajaran, dari kekuatan dosen sebagai pakar menjadi kekuatan mahasiswa sebagai pembelajar. Perubahan ini terjadi setelah banyak harapan untuk memodifikasi atmosfer pembelajaran yang menyebabkan siswa menjadi pasif, bosan dan resisten,

Kember (1997), SCL merupakan sebua kutub proses pembelajaran yang

menekankan mahasiswa sebagai pembangun pengetahuan sedangkan kutub yang lain adalah dosen sebagai agen yang memberikan pengetahuan, Harden dan

KNPM 6 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

95 yang dilakukan siswa untuk sukses dalam belajar dibanding dengan apa yang dilakukan oleh guru.

Dari berbagai definisi tersebut dapat dipahami bahwa Student Centered

Learning (SCL) adalah suatu model pembelajaran yang menempatkan peserta

didik sebagai pusat dari proses belajar. Model pembelajaran ini berbeda dari model belajar Instructor-Centered Learning yang menekankan pada transfer pengetahuan dari guru ke murid yang relatif bersikap pasif. Dalam menerapkan konsep Student-Centered Leaning, peserta didik diharapkan sebagai peserta aktif dan mandiri dalam proses belajarnya, yang bertanggung jawab dan berinitiatif untuk mengenali kebutuhan belajarnya, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Dalam batas-batas tertentu mahasiswa dapat memilih sendiri apa yang akan dipelajarinya . Student-Centered Learning, yang menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menjanjikan model belajar yang menggali motivasi intrinsik untuk membangun masyarakat yang suka dan selalu belajar. Model belajar ini sekaligus dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan masyarakat seperti kreativitas, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, kemampuan berkomunikasi dan bekerja dalam tim, keahlian teknis, serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan.

Materi dan model penyampaian pembelajaran dalam SCL secara lengkap meliputi 3 aspek, yaitu (1) isi ilmu pengetahuan (IPTEK), (2) sikap mental dan etika yang dikembangkan, dan (3) nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada para mahasiswa. Di dalam proses SCL terdapat hubungan “tarik-menarik” antara learner support dan learner control (http//google.com.2014.Pendidikan-Konsep SCL).

Model Pembelajaran Kooperatif AIR (Auditory Intellectually Repetition).

Model pembelajaran AIR (Auditory Intellectually Repetition) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan belajar siswa, dimana siswa secara aktif membangun sendiri pengetahuannya secara pribadi maupun kelompok,

KNPM 6 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

dengan cara mengintegrasikan ketiga aspek tersebut. Menurut Herdian model pembelajaran AIR mirip dengan SAVI (Somatic Auditory Visualization Intellectually) dan VAK (Visualization Auditory Kinesthetic), bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.

Istilah AIR diambil dari kependekan unsur-unsurnya yaitu Auditory, Intellectually dan Repetition. Adapun penjelasan mengenai unsur-unsur AIR adalah sebagai berikut :

a. Auditory (A);Auditory adalah belajar dengan berbicara dan mendengarkan, menyimak, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Menurut Meier ada beberapa gagasan untuk meningkatkan penggunaan auditory dalam belajar, diantaranya (Yusuf dan juntika,2005). (1) Mintalah siswa untuk berpasangan, membincangkan secara terperinci apa yang baru mereka pelajari dan bagaimana menerapkannya; (2) Mintalah siswa untuk mempraktikan sesuatu keterampilan atau memperagakan suatu konsep sambil mengucapkan secara terperinci apa yang sedang mereka kerjakan; (3) Mintalah siswa untuk berkelompok dan berbicara saat menyusun pemecahan masalah. Dari ketiga gagasan tersebut dimulai dari siswa dikumpulkan dalam beberapa kelompok dan mempraktekan secara bersama-sama untuk menyelesaikan masalah, tentunya ketiga aspek tersebut dapat menumbuhkan komunikasi siswa dalam kelas sehingga siswa berperan aktif dikelas. Auditory yang dimaksud disini yaitu ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara beberapa area penting di otak kita menjadi aktif

b. Intellectually ( I ); Intellectually adalah belajar dengan berfikir untuk menyelesaikan masalah, kemampuan berfikir perlu dilatih dengan latihan bernalar, menciptakan, memecahkan masalah, mengkonstruksi dan menerapakan. Menurut Meier Intellectually dalam belajar akan terlatih jika guru mengajak siswa terlibat dalam aktivitas memecahkan masalah, menganalisis pengalaman, mencari dan menyaring informasi, merumuskan pertanyaan (Ali dan Asrori,2011).Dalam hal ini guru harus mampu merangsang, mengarahkan, memelihara dan meningkatkan

KNPM 6 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

97 memantapkan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis. Dengan adanya latihan dan pengulangan akan membantu proses mengingat. Pengulangan yang dilakukan tidak berarti dilakukan dengan bentuk pertanyaan atau informasi yang sama, melainkan dalam bentuk informasi yang bervariatif sehingga tidak membosankan. Dengan pemberian soal dan tugas, siswa akan mengingat informasi-informasi yang diterimanya dan terbiasa untuk menyelesaikan permasalaha-permasalahan matematika

(http://jaul4blog.wordpress.com,2013).

Langkah-langkah model pembelajaran AIR adalah sebagai berikut :(a). Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok 4-5 anggota; (b). Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru; (c). Setiap kelompok mendiskusikan tentang materi yang mereka pelajari dan menuliskan hasil dari hasil diskusi tersebut dan selanjutnya untuk dipresentasikan didepan kelas (Auditory) ;(d). Saat diskusi berlangsung, siswa mendapat soal atau permasalahan yang berkaitan dengan materi[15]; (e). Masing-masing kelompok memikirkan cara menerapkan hasil diskusi serta dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan maslah dari guru (Intellectual); (f). Setelah selesai berdiskusi, siswa mendapat pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas atau kuis tiap individu (Repetition) )http://annieck-dheh.blogspot.com,2013).

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran AIR adalah sebagai berikut: (1) Melatih pendengaran dan keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat (Auditory); (2) Melatih siswa untuk memecahkan masalah secara kreatif (Intellectually); (3) Melatih siswa untuk mengingat kembali tentang materi yang telah dipelajari (Repetition); (4) Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif.

Sedangkan yang menjadi kelemahan dari model pembelajaran AIR adalah dalam model pembelajaran AIR terdapat tiga aspek yang harus diintegrasikan yakni Auditory, Intellectually, Repetition sehingga secara sekilas pembelajaran ini membutuhkan waktu yang lama. Tetapi, hal ini dapat diminimalisir dengan cara pembentukan kelompok pada aspek Auditory dan Intellectually (http://widyoktivia.blogspot.com,2013).

KNPM 6 UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

Uji Statistik Dua Sampel Berpasangan (Two Paired Sampel).

Adapun peneliti juga melakukan uji statistik yaitu uji t dua sampel berpasangan untuk mengetahui signifikansinya dari metode pembelajaran ini. Langkah-langkahnya adalah; (1).Menentukan nilai evaluasi dari masing masing kelompok pada kelompok A (Kombinasi metode demonstrasi dan SCL) dan kelompok B (metode AIR);

(2).Menguji nilai masing masing kelompok dengan uji dua sampel berpasangan, kemudian membandingkan kedua nilai kedua kelompok dengan uji t dua sampel berpasangan, dengan selang kepercayaan 5% atau alpha 0,05(Walpole).

Hipotesis yang dipakai;

H0 = Ada pengaruh metode yang diberikan terhadap hasil belajar H1 = Tidak ada pengaruh metode yang diberikan terhadap hasil belajar

(3).Menyimpulkan hasil perbandingan dari p value yang didapatkan dari kedua kelompok yaitu kelas A dan kelas B dengan metode yang berbeda.

Observasi Pembelajaran (Deskriptif).

Beberapa aspek yang akan dinilai dari pelaksanaan pembelajaran antara lain adalah; a. Partisipasi (Kehadiran Penuh dan Tidak hadir)

b. Tanggung Jawab (Penuh dan Cukup) c. Ketrampilan/Psikomotorik

d. Kemandirian (Mandiri, Cukup)

e. Kriteria Keaktifan (Aktif, Cukup Aktif, Tidak Aktif)