• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Pengelolaan Sistem Usahatani Terpadu

Suatu teknologi dapat dikatakan tepatguna apabila memenuhi kriteria: (1) secara teknis mudah dilakukan, (2) secara finansial (bahkan ekonomi) menguntungkan, (3) secara sosial budaya diterima masyarakat, dan (4) tidak merusak lingkungan (Swastika, 2004). Untuk itu perlu diupayakan mengidentifikasi teknologi dan sistem usahatani yang sesuai dengan kondisi agroekosistem dan mampu memanfaatkan sumberdaya secara optimal. Beragamnya sumber pendapatan rumah tangga petani perlu dipandang sebagai suatu kekuatan yang harus dikembangkan, terutama usaha non-pertanian, ke arah yang bersifat usaha mandiri. Selain itu, sumberdaya pertanian yang dikuasai petani (terutama di lahan kering dan sawah tadah hujan) perlu dikelola secara optimal, sehingga menjadi sumberdaya yang produktif dan mampu meningkatkan pangsa sektor pertanian terhadap pendapatan rumah tangga tani. Sistem usahatani terpadu (integrated farming system) sebagai salah satu upaya penganekaragaman sumber pendapatan dari sektor pertanian, sekaligus pemanfaatan sumberdaya secara optimal.

Sistem usahatani terpadu merupakan revolusi konvensional dari usahatani peternakan, perikanan, hortikultura, agro-industri dan kegiatan-kegiatan lain di beberapa negara, khususnya di wilayah tropikal dan sub tropikal yang tidak gersang. Secara keseluruhan usahatani di belahan dunia ini tidak menunjukkan kinerja yang baik kecuali jika ditambahkan input yang relatif besar agar diperoleh hasil yang berkelanjutan dan seringkali berkompromi dengan aspek keberlajutan ekologis maupun aspek ekonomi. Sistem usahatani terpadu dapat mengatasi kendala tersebut melalui pemecahan masalah terbaik tidak hanya dari aspek ekonomi dan ekologis, bahkan menghasilkan bahan bakar, pupuk dan bahan pangan di samping peningkatan produktivitas. Hal ini dapat mengubah sistem usahatani yang telah dilakukan selama ini, khususnya di negara-negara miskin dalam memperhatikan aspek ekonomi dan sistem keseimbangan ekologi, tidak hanya mengurangi kemiskinan, tetapi juga dapat mencegah bencana (Chan, 2003).

Usahatani terpadu dapat diartikan sebagai suatu sistem usahatani yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi dan terintegrasi satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan tertentu. Usahatani terpadu terdiri dari cabang-cabang usahatani padi, palawija, ternak dan ikan yang dilakukan secara terpadu untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Sistem usahatani tanaman-ternak (SUTT) telah lama dilaksanakan oleh sebagian petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ciri utama SUTT adalah keterkaitan antara tanaman dengan ternak, limbah tanaman digunakan sebagai pakan ternak dan kotoran ternak digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Oleh sebab itu, SUTT umumnya diterapkan di daerah di tempat terdapatnya perbedaan yang nyata antara musim hujan (MH) dan musim kemarau (MK) dengan bulan kering lebih dari tiga bulan berturut-turut. Jerami padi, jerami jagung, dan limbah tanaman kacang-kacangan, bahkan daun pisang, jerami bambu, dan sebagainya merupakan pakan alternatif saat rumput alami kurang tersedia pada MK. Tidak jarang petani menjual ternaknya hanya untuk membeli jerami padi dari luar desa, luar kecamatan, bahkan dari luar kabupaten. Di Kediri, Jawa Timur, petani-peternak bekerja sebagai pemanen jagung hibrida pada MK dengan upah limbah tanaman jagung (Fagi et al., 2004).

Hasil kajian Bulu et al. (2004) menunjukkan bahwa sistem usahatani terpadu tanaman-ternak dengan penggunaan teknologi sederhana yang telah dilakukan petani saat ini merupakan bagian dari bentuk budaya petani. Usaha agribisnis, termasuk sistem usahatani tanaman-ternak di Lombok, merupakan usaha agribisnis rumah tangga dengan segala keterbatasannya. Keterbatasan-keterbatasan sumberdaya tersebut menghambat pengembangan usaha. Kelembagaan pertanian di pedesaan selama ini belum dimanfaatkan dalam pengembangan inovasi teknologi sistem usahatani tanaman-ternak. Sistem usahatani terpadu tanaman-ternak meningkatkan pendapatan rumah tangga petani. Kontribusi pendapatan dari usaha peternakan mencapai 40,6 persen dari total pendapatan. Namun demikian kontribusi nyata tersebut tidak diikuti oleh peningkatan investasi usaha peternakan. Aliran modal secara timbal balik antara usaha tanaman dan peternakan relatif kecil, karena keuntungan yang diperoleh digunakan untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga (pangan dan non pangan).

Pengelolaan atau pemilikan sumberdaya lahan yang terbatas merupakan masalah utama yang dihadapi petani dalam meningkatkan produktivitas usahataninya. Pengembangan model sistem usahatani tanaman-ternak introduksi perlu memperhatikan kearifan tradisi yang tercermin dalam sistem pengetahuan dan teknologi lokal serta lingkungan sosial ekonomi masyarakat setempat.

Mengutip pendapat Getz dan Warner (2006), dengan meningkatnya teknologi untuk pengaturan lingkungan pertanian menstimulir peningkatan perhatian terhadap sistem usahatani terpadu dan bentuk partisipasi penyuluhan. Kemitraan pertanian-lingkungan menjadi strategi utama sebagai strategi pencegahan polusi pertanian di California, menunjukkan strategi alternatif yang potensial mengendalikan hama. Struktur organisasi kemitraan ini dengan strategi belajar bersama dan partisipasi yang lebih besar merupakan kunci sukses mereka. Perubahan bentuk dari suatu model ”transfer teknologi” pada partisipasi belajar bersama dan pengambilan keputusan, mendukung perbaikan layanan penyampaian penyuluhan dan sebagai suatu strategi penting untuk kegiatan penyuluhan dengan cakupan klien dalam wilayah yang luas.

Pada tahun 1993, Lembaga Penelitian Nasional Tanah dan Kualitas Air (National Research Council’s Soil and Water Quality) merekomendasikan sistem usahatani terpadu untuk kegiatan pertanian yang menjadi dasar program tanah lokal dan kualitas air. Hal ini didasari atas pendekatan sistem tingkatan untuk menganalisis sistem produksi pertanian terkait dengan kualitas konservasi tanah, memperbaiki penggunaan input secara efisien, peningkatan resistensi erosi dan limpasan serta penggunaan zona penyangga. Alternatif strategi pengelolaan tanah, air dan ”farmscape” merupakan potensi untuk mengurangi penggunaan insektisida dan dampak lingkungan, tetapi pendekatan sistem usahatani terpadu membutuhkan praktek penyuluhan dan menumbuhkan pembelajaran (Getz dan Warner, 2006).

Sejalan dengan upaya peningkatan potensi lahan kering, inovasi teknologi rehabilitasi lahan kering telah diujicobakan pada tanaman jagung (tahun 1996) di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Produktivitas jagung yang diperoleh pada awal tahun tanpa rehabilitasi mencapai 2,49 ton/ha, dengan pupuk kandang 3,50 ton/ha, dengan mulsa jerami padi 3,60 ton/ha, serta dengan mulsa Mucuna sp.

3,68 ton/ha. Produktivitas jagung pada tahun ke-9 tanpa rehabilitasi mencapai 1,48 ton/ha, dengan pupuk kandang 3,38 ton/ha, dengan mulsa jerami padi 3,59 ton/ha, serta dengan mulsa Mucuna sp. 3,59 ton/ha (Kurnia et al., 2002).

Pengkajian yang dilaksanakan di Desa Cikelet, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, dari bulan Januari sampai dengan April 1998 ”dengan penerapan sistem pertanaman lorong” dan ”tanpa penerapan sistem pertanaman lorong (tumpangsari biasa)” menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan petani kooperator lebih tinggi dibandingkan dengan petani non-kooperator. Pendapatan masing-masing mencapai Rp 2,27 juta dan Rp 1,24 juta per hektar per tahun. Dari hasil kajian kelayakan dan efisiensi penggunaan masukan (benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja) dan hasil penerimaan berdasarkan kriteria kemiringan lahan diketahui bahwa, teknologi pertanaman lorong yang diterapkan pada kriteria kemiringan lahan 15-30 persen lebih efisien dalam penggunaan masukan dan layak secara finansial dibandingkan pada kriteria kemiringan kurang dari 15 persen. Berdasarkan basis tanaman buah-buahan, maka pertanaman lorong dengan basis tanaman pisang lebih layak secara finansial dibandingkan basis tanaman mangga terhadap efisiensi penggunaan masukan dan tingkat pendapatan (keuntungan) yang diperoleh petani. Model pertanaman (Pisang + Rumput gajah + Gliricidia sp./ Flemingia congesta)/(Padi gogo/Kacang tanah + Jagung + Ubikayu) – (Kacang tanah) – (Bera) merupakan model pertanaman yang paling sesuai diterapkan di wilayah setempat (Ishaq et al., 2002).

Selain itu, inovasi yang diperkenalkan di lahan kering adalah Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani). Beberapa pendekatan yang digunakan dalam Prima Tani, yaitu: (1) agroekosistem, (2) agribisnis, (3) wilayah, (4) kelembagaan, dan (5) kesejahteraan. Pendekatan agroekosistem berarti Prima Tani diimplementasikan dengan memperhatikan kesesuaian dengan kondisi biofisik lahan kering dataran rendah yang meliputi aspek sumberdaya lahan, air, wilayah komoditas dan komoditas dominan. Pendekatan agribisnis berarti struktur dan keterkaitan subsistem penyediaan input, usahatani, pascapanen, pengolahan, pemasaran dan penunjang dalam satu sistem. Pendekatan wilayah berarti optimasi penggunaan lahan untuk pertanian dalam satu kawasan (desa atau kecamatan). Salah satu

komoditas pertanian dapat menjadi perhatian utama, sedangkan beberapa komoditas lain sebagai pendukung, terutama dalam kaitannya dengan resiko ekonomi (harga). Pendekatan kelembagaan berarti memperhatikan keberadaan dan fungsi suatu organisasi ekonomi atau individu yang berkaitan dengan input dan output, termasuk modal sosial, norma dan aturan.

Bila dicermati, inovasi Prima Tani sesungguhnya menggunakan pendekatan sistem usahatani terpadu. Menurut Adiningsih et al. (1994), sistem usahatani terpadu dengan pemilihan komoditas yang sesuai disertai pengelolaan tanah dan air yang tepat berasaskan konservasi, merupakan pendekatan terbaik untuk melestarikan bahkan meningkatkan produktivitas lahan marjinal. Faktor-faktor sosial ekonomi, budaya, penyediaan sarana/prasarana dan penanganan pasca panen yang kondusif sangat menentukan keberhasilan pendekatan tersebut. Sebagai contoh, inovasi teknologi yang diintroduksikan mencakup konservasi lahan, kesepadanan teknologi yang diusahakan (komoditas kedelai, kacang tanah dan padi gogo) dan pengelolaan ternak domba didukung dengan kelembagaan. Kesepadanan teknologi yang diusahakan merupakan modifikasi dari teknologi Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah yang meliputi penggunaan varietas unggul, penggunaan pupuk organik dan anorganik berdasarkan status kesuburan tanah serta perbaikan jarak tanam.

Kegiatan Prima Tani antara lain dilakukan di Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Di lokasi tersebut sejak tahun 2006 telah diimplementasikan inovasi teknis dan inovasi kelembagaan. Berdasarkan potensi dan permasalahan usahatani di Kecamatan Leuwisadeng, inovasi teknologi yang dikembangkan berupa ”Sistem Usahatani Intensifikasi Diversifikasi” yaitu integrasi antara tanaman dan ternak yang didukung dengan kelembagaan. Pada tahun 2007 dilakukan perbaikan budidaya tanaman utama (jambu biji), pengendalian hama penyakit, pemupukan, introduksi varietas unggul dan perbaikan teknologi produksi tanaman padi gogo serta pemeliharaan ternak domba (bibit unggul dan pakan). Inovasi teknis yang diperkenalkan merupakan upaya perbaikan terhadap kegiatan usahatani yang selama ini telah dilakukan petani. Keuntungan yang diperoleh petani (sebelum Prima Tani) dari usahatani jambu biji sebesar Rp 5,7 juta/tahun untuk 200 pohon dengan luasan lahan 1.000 m2. Dengan skala usaha

3.500 m2 (0,35 ha), usahatani jambu biji dinilai layak secara ekonomis. Hal ini terbukti dari beberapa petani yang mengikuti menanam komoditas jambu biji.

Karakteristik wilayah miskin, yang berada pada zona agroekosistem lahan kering marjinal dicirikan oleh: (1) penguasaan teknologi budidaya pertanian umumnya rendah, bahkan masih bersifat tradisional; (2) kurang berfungsinya lembaga-lembaga penyedia sarana produksi; (3) ketiadaan atau kurang berfungsinya lembaga pemasaran sehingga orientasinya bersifat subsisten; serta (4) rendahnya kualitas prasarana transportasi dan komunikasi yang berkaitan erat dengan rendahnya kepadatan penduduk, produktivitas kerja serta rendahnya marketable surplus hasil usahatani (Taryoto, 1995). Lebih lanjut Tjitropranoto (2005) mengungkapkan bahwa secara umum petani di lahan kering marjinal berpendapatan rendah, sehingga banyak yang mempunyai sifat-sifat yang menghambat kemajuannya, seperti: (1) kapasitas diri petani yang rendah, (2) pendidikan rendah, sehingga pengetahuan dan wawasannya juga terbatas, yang berakibat pula pada daya inisiatif yang rendah, (3) apatis akibat usaha yang telah dilakukan bertahun-tahun tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, (4) kemauan usaha rendah, karena keadaan lingkungannya yang tidak mendukung untuk melakukan usaha, (5) kurang percaya diri akibat usahanya yang sering tidak berhasil, sehingga komitmen terhadap usaha pertanian juga rendah, (6) tidak memiliki modal dan sarana baik untuk produksi maupun pengolahan hasil produksi, dan (7) kurang terjangkau prasarana dan sarana sehingga tertinggal dari petani lainnya dalam informasi ataupun pembangunan.

Karakteristik Petani

Sejumlah literatur yang telah mengakumulasikan hasil-hasil penelitian tentang peubah yang berhubungan dengan keinovatifan, telah disarikan Rogers (2003) menjadi tiga bagian, yang melekat pada individu:

(1) Karakteristik sosial ekonomi: umur (tidak ada perbedaan antara pelopor-earlier adopters dengan pengikut akhir-later adopters, dilihat dari sisi umur), sedangkan pendidikan formal, tingkat melek huruf, status sosial, mobilitas sosial, dan skala usaha pada pelopor lebih tinggi dibandingkan dengan pengikut akhir.

(2) Pribadi (personalitas): pelopor memiliki tingkat empati, kemampuan abstraksi, rasionalitas, tingkat intelegensi, sikap terhadap perubahan, keberanian menanggung resiko dan ketidakpastian, serta tingkat aspirasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikut akhir; dengan tingkat dogmatis dan fatalistik yang lebih rendah.

(3) Perilaku komunikasi: pelopor memiliki partisipasi sosial, jaringan interper-sonal, tingkat kekosmopolitan, kontak dengan agen pembaruan, keterdedahan terhadap media, keterdedahan terhadap komunikasi interpersonal, pencarian informasi tentang inovasi, dan tingkat kepemimpinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikut akhir.

Tingkat Rasionalitas

Jung (Sujanto et al., 2004) mendefinisikan fungsi jiwa adalah suatu bentuk aktivitas kejiwaan yang secara teoritis tidak berubah dalam lingkungan yang berbeda-beda. Lebih lanjut Jung membedakan fungsi jiwa dalam empat hal yaitu pikiran, perasaan, pendirian dan intuisi, sebagaimana tertera pada Tabel 1.

Tabel 1 Fungsi jiwa berdasarkan sifat dan mekanisme kerja

Fungsi Jiwa Sifat Mekanisme Kerja

(1) Pikiran rasional dengan penilaian: benar-salah

(2) Perasaan rasional dengan penilaian: senang-tidak senang (3) Pendirian irrasional tanpa penilaian: sadar indriah

(4) Intuisi irrasional tanpa penilaian: sadar naluriah Sumber: Jung (Sujanto et al., 2004)

Pada dasarnya setiap manusia memiliki keempat fungsi tersebut, namun biasanya hanya salah satu fungsi saja yang paling berkembang (dominan). Fungsi yang paling berkembang itu merupakan fungsi superior dan menentukan tipe orang. Terdapat orang yang bertipe pemikir, perasa, pendria dan intuitif. Keempat fungsi tersebut berpasang-pasangan, jika suatu fungsi menjadi superior (menguasai kehidupan alam sadar), maka fungsi pasangannya menjadi inferior, yang berada dalam ketidaksadaran. Dua fungsi yang lain menjadi fungsi bantu, sebagian terletak dalam alam sadar dan sebagian lagi terletak dalam alam tidak

sadar. Fungsi yang berpasang-pasangan, berhubungan secara kompensatoris. Semakin berkembang fungsi superior, maka makin besar kebutuhan fungsi inferior akan kompensasi, yang mengganggu keseimbangan jiwa (terefleksikan dalam tindakan yang tidak terkendali). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat rasionalitas dapat didekati melalui pikiran (berpikir) dan perasaan.

Mengutip pendapat Plato (Suryabrata, 2005), berpikir adalah berbicara dalam hati. Tujuan berpikir adalah meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan (segala sesuatu yang telah dimiliki), berupa pengertian-pengertian dan dalam batas tertentu juga tanggapan. Berpikir merupakan proses yang dina-mis dan dapat digambarkan menurut proses atau jalannya. Terdapat tiga langkah dalam proses atau jalannya berpikir (Suryabrata, 2005; Sujanto, 2004):

(1) Pembentukan pengertian: menganalisis ciri-ciri dari sejumlah obyek sejenis, membandingkan ciri-ciri tersebut untuk diketemukan ciri-ciri yang sama dan tidak sama, serta mengabstraksikan (menyisihkan, membuang ciri-ciri yang tidak hakiki dan menangkap ciri-ciri yang hakiki).

(2) Pembentukan pendapat: meletakkan hubungan antara dua pengertian atau lebih. Pendapat dapat dibedakan menjadi tiga macam: pendapat afirmatif (positif), pendapat negatif, dan pendapat modalitas (kemungkinan-kemungkinan).

(3) Penarikan kesimpulan atau pembentukan keputusan: berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada.

Selain berpikir, tingkat rasionalitas juga memasukkan unsur perasaan, yang merupakan gejala psikis yang bersifat subyektif dan umumnya berhubungan dengan gejala mengenal. Perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggapi, mengingat, atau memikirkan sesuatu. Perasaan dibedakan atas:

(1) Perasaan jasmaniah: perasaan indriah (berhubungan dengan perangsangan pancaindera: manis, asin, pahit) dan perasaan vital (berhubungan dengan keadaan jasmani: segar, letih, sehat).

(2) Perasaan rohaniah: perasaan intelektual (kesanggupan intelek dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi: senang, kecewa), perasaan kesusilaan/etis (tentang baik-buruk, terkait dengan norma-norma), perasaan keindahan, perasaan sosial (mengikatkan individu dengan sesama manusia,

hidup bermasyarakat, bergaul, saling tolong-menolong, memberi dan menerima simpati dan antipati, rasa setia kawan), perasaan harga diri (positif: puas, senang, gembira, bahagia; dan negatif: kecewa, tidak senang, tidak berdaya), perasaan keagamaan (terkait dengan kepercayaan seseorang terhadap Tuhan: rasa kagum, rasa syukur).

Tingkat Intelegensi

Binet (Suryabrata, 2005) menyatakan bahwa sifat hakikat intelegensi ada tiga macam, yaitu:

(1) Kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan (memperjuangkan) tujuan tertentu. Makin cerdas seseorang, akan makin cakap membuat tujuan sendiri, punya inisiatif sendiri, tidak menunggu perintah saja. Semakin cerdas seseorang, makin tetap pada tujuan itu, tidak mudah dibelokkan oleh orang lain dan suasana lain.

(2) Kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dengan maksud untuk mencapai tujuan itu. Jadi semakin cerdas seseorang akan makin dapat menyesuaikan cara-cara menghadapi sesuatu dengan semestinya, makin dapat bersikap kritis. (3) Kemampuan untuk oto-kritik, yaitu kemampuan untuk mengkritik diri sendiri, kemampuan untuk belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya. Makin cerdas seseorang makin dapat belajar dari kesalahannya.

Menurut Stern (Sujanto, 2004), intelegensi merupakan kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri cepat dan tepat dalam suatu situasi yang baru. Berdasarkan arah atau hasilnya intelegensi dibedakan atas dua jenis:

(1) Intelegensi praktis: untuk mengatasi suatu situasi yang sulit dalam pekerjaan, yang berlangsung secara cepat dan tepat.

(2) Intelegensi teoritis: untuk mendapatkan suatu pikiran penyelesaian soal atau masalah dengan cepat dan tepat.

Faktor yang mempengaruhi intelegensi adalah: pembawaan (kesanggupan yang dibawa sejak lahir, tidak sama pada setiap orang); kematangan (munculnya daya jiwa yang kemudian berkembang); pembentukan (faktor luar yang mempengaruhi intelegensi di masa perkembangannya); dan minat (motor penggerak intelegensi).

Howard Gardner (Wikipedia, 2010) berpendapat bahwa tingkat intelegensi merupakan kemampuan dasar yang terkait dengan kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap. Intelegansi dibedakan atas:

(1) Intelegensi linguistik, intelegensi yang menggunakan dan mengolah kata-kata, baik lisan maupun tulisan, secara efektif.

(2) Intelegensi matematis-logis, kemampuan yang lebih berkaitan dengan penggunaan bilangan pada kepekaan pola logika dan perhitungan.

(3) Intelegensi ruang, kemampuan yang berkenaan dengan kepekaan mengenal bentuk dan benda secara tepat serta kemampuan menangkap dunia visual secara cepat.

(4) Intelegensi kinestetik-badani, kemampuan menggunakan gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan.

(5) Intelegensi musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara.

(6) Intelegensi interpersonal, kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, motivasi, dan watak temperamen orang lain seperti yang dimiliki oleh seorang motivator dan fasilitator.

(7) Intelegensi intrapersonal, kemampuan seseorang dalam mengenali dirinya sendiri. Kemampuan ini berkaitan dengan kemampuan berefleksi (merenung) dan keseimbangan diri.

(8) Intelegensi naturalis, kemampuan seseorang untuk mengenal alam, flora dan fauna dengan baik.

(9) Intelegensi eksistensial, kemampuan seseorang menyangkut kepekaan menjawab persoalan-persoalan terdalam keberadaan manusia, seperti apa makna hidup, mengapa manusia harus diciptakan dan mengapa kita hidup dan akhirnya mati.

Sikap terhadap Perubahan

Salah satu strategi difusi yang dapat dilakukan agen pembaruan (penyuluh) adalah mengembangkan sikap umum yang positif terhadap perubahan, pada sebagian kliennya. Individu anggota sistem yang berorientasi pada perubahan akan selalu memperbarui diri, terbuka pada hal-hal baru dan giat mencari

informasi. Salah satu cara untuk menumbuhkan sikap atau orientasi pada perubahan ini adalah dengan memilih inovasi-inovasi yang layak untuk diperkenalkan secara berurutan. Cara lain yaitu dengan mengekspos sejumlah pesan modernisasi walaupun pesan tersebut mungkin tidak berkaitan dengan inovasi tertentu. Contoh pendekatan ini dijumpai di kalangan petani di negara-negara berkembang. Media massa seperti radio, televisi, film, dan surat kabar dapat menciptakan iklim modernisasi dengan jalan mengekspos pesan-pesan pembangunan yang mendukung perubahan. Salah satu hasil penyajian pesan-pesan (informasi) seperti itu adalah timbulnya sikap positif terhadap perubahan, yang memudahkan pengadopsian ide-ide baru (Rogers dan Shoemaker, 1971).

Rogers dan Shoemaker (1971) menyatakan bahwa ada dua tingkatan sikap, yaitu: (1) sikap khusus terhadap inovasi, dan (2) sikap umum terhadap perubahan. Sikap khusus terhadap inovasi adalah berkenan atau tidaknya seseorang, percaya atau tidaknya seseorang terhadap kegunaan suatu inovasi bagi dirinya sendiri. Sikap khusus ini menjembatani antara suatu inovasi dengan inovasi lainnya. Pengalaman positif dengan pengadopsian inovasi yang terdahulu pada umumnya menimbulkan sikap-sikap yang positif pula terhadap inovasi yang diperkenalkan berikutnya. Sebaliknya pengalaman pahit dari pengadopsian suatu inovasi, yang dianggap sebagai suatu kegagalan, akan menjadi perintang bagi masuknya ide-ide baru pada masa mendatang. Oleh karena itu agen pembaruan harus memulai kegiatannya terhadap klien tertentu dengan inovasi yang memiliki taraf keuntungan yang relatif tinggi, yang sesuai dengan kepercayaan yang ada dan mempunyai peluang besar untuk berhasil. Hal ini akan membantu menciptakan sikap positif terhadap perubahan dan melancarkan jalan untuk ide-ide yang akan diperkenalkan selanjutnya.

Perilaku Komunikasi Petani

Kerjasama

Mengikuti pemikiran Etzioni (1961) bahwa kerjasama yang didasari keterikatan dan keterlibatan, dapat dibedakan atas tiga tipe, yakni kerjasama ekonomi, keamanan dan budaya. Dalam pandangan masyarakat madani, Martinelli (2002) berpendapat bahwa kerjasama di masyarakat dibagi dalam tiga tipe, yakni masyarakat pasar, pemerintah dan masyarakat komunal.

Masyarakat selalu berhubungan sosial dengan masyarakat yang lain melalui berbagai variasi hubungan yang saling berdampingan dan dilakukan atas prinsip kesukarelaan (voluntary), kesamaan (equality), kebebasan (freedom) dan keadaban (civility). Jaringan hubungan sosial biasanya akan diwarnai oleh suatu tipologi khas sejalan dengan karakteristik dan orientasi kelompok. Pada kelom-pok sosial yang biasanya terbentuk secara tradisional atas dasar kesamaan garis keturunan (lineage), pengalaman-pengalaman sosial turun temurun (repeated social experiences) dan kesamaan kepercayaan pada dimensi ketuhanan (religious beliefs) cenderung memiliki kohesivitas tinggi, tetapi rentang jaringan maupun kepercayaan (trust) yang terbangun adalah sangat sempit. Sebaliknya pada kelompok yang dibangun atas dasar kesamaan orientasi dan tujuan serta dengan ciri pengelolaan organisasi yang lebih modern, akan memiliki tingkat partisipasi anggota yang lebih baik dan memiliki rentang jaringan yang lebih luas. Pada tipologi kelompok ini akan lebih banyak menghadirkan dampak positif baik bagi kemajuan kelompok maupun kontribusinya pada pembangunan masyarakat secara luas (Hasbullah, 2006).

Tingkat Kekosmopolitan

Rogers (2003) mendefinisikan tingkat kekosmopolitan adalah sebagai berikut:

Cosmopoliteness is the degree to which an individual is oriented outside a social system.”

Inovator (perintis) adalah anggota dari suatu sistem sosial tetapi memiliki orientasi yang kosmopolit ke luar sistem. Orientasi tersebut membuat inovator terlepas dari kendala sistem lokal dan memungkinkan untuk memiliki kebebasan

Dokumen terkait