Situasi Penyakit dan Kebijakan Pengendalian Avian Influenza
Wabah avian influenza (AI) pada peternakan ayam dan unggas lainnya di Indonesia telah terjadi sejak pertengahan tahun 2003. Dharmayanti et al.
(2004) telah berhasil mengidentifikasi bahwa penyebab wabah tersebut adalah virus AI H5. Avian influenza menyebar secara cepat ke berbagai wilayah di Indonesia. Virus highly pathogenic avian influenza telah diisolasi dari beberapa
kejadian wabah pada peternakan unggas (Alexander 2007).
Di Indonesia, virus flu burung pada unggas dilaporkan untuk pertama bulan Oktober 2003 di Jawa Barat, menyebar ke provinsi lain dan mengakibatkan kematian lebih dari 12 juta unggas. Kasus pada manusia pertama kali terjadi sejak Juni 2005 dan saat ini flu burung pada manusia sudah menyebar di 12 provinsi. Flu burung pertama kali terdeteksi di Jakarta pada tahun 2003 dan sejak saat itu virus penyakit ini telah menjadi wabah hingga menyebabkan kematian ternak unggas dan bahkan korban manusia (Iqbal et al.
2009). Kejadian infeksi AI pada manusia di Indonesia dilaporkan sejak tahun 2005. Hingga April tahun 2012 diketahui bahwa 189 orang yang tertular AI dan 157 orang diantaranya meninggal akibat infeksi virus H5N1 (KEMENTAN 2012).
Pedoman kebijakan pengendalian HPAI pada hewan di Indonesia di tingkat nasional adalah Rencana Strategis Nasional Pengendalian Avian Influenza pada Hewan tahun 2006 – 2008 yang kemudian disempurnakan untuk periode tahun 2009 – 2011 (DEPTAN 2008). Kebijakan lain adalah dengan kompartementalisasi yang merupakan prosedur yang diterapkan terhadap suatu subpopulasi yang memiliki status kesehatan hewan yang dibedakan di dalam suatu wilayah dalam rangka pengendalian penyakit dan perdagangan. Kompartementalisasi ditetapkan terutama berdasarkan manajemen dan praktik peternakan yang terkait dengan biosekuriti. Pada praktiknya pertimbangan spasial dan cara kelola yang baik (good management practice) termasuk biosekuriti memainkan peran penting dalam penerapan
konsep ini (OIE 2009).
Kebijakan kompartementalisasi ini dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka pengendalian AI dimana tidak diperkenankan adanya unggas hidup di dalam wilayah DKI Jakarta sehingga pemasukan produk
6
unggas sudah harus dalam bentuk karkas unggas. Kompartemen pada industri perunggasan dapat didefinisikan berbasis rumah potong unggas dan semua unit usaha yang memasok unggas ke unit tersebut serta unit usaha yang secara vertikal terintegrasi dengan operasionalnya (Scott et al. 2006).
Kebijakan ini pun digunakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka penertiban penjualan unggas hidup yang berupa burung hias atau kesayangan di pasar burung wilayah DKI Jakarta. Kebijakan relokasi pasar burung ke luar dari wilayah DKI Jakarta masih diupayakan dalam rangka pengendalian AI namun kebijakan ini masih belum dapat terealisasi karena masih adanya penolakan dari pedagang burung itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan kebijakan penerapan biosekuriti yang baik dalam rangka melakukan good management practice sehingga edukasi dan
penyuluhan bagi pedagang burung di DKI Jakarta menjadi penting untuk dilakukan.
Pasar Burung dan Perannya dalam Penyebaran Avian Influenza
Burung merupakan salah satu makhluk hidup yang mempunyai daya tarik tersendiri untuk diperjualbelikan. Kepandaian berkicau, penampilan, warna bulu dan banyak lagi sifat yang melekat pada burung merupakan faktor-faktor yang menyebabkan burung sangat digemari oleh masyarakat serta banyak sekali orang yang ingin memilikinya secara eksklusif (Basuni dan Setiyani 1989).
Kedua peneliti tersebut mendefinisikan bahwa pedagang burung adalah orang –orang yang memiliki kios di pasar burung dan mendapatkan burung dari penangkap burung atau dari pengumpul, serta menjualnya kembali kepada pembeli burung. Pembeli burung yaitu orang-orang yang membeli burung dengan tujuan tertentu tetapi tidak untuk dijual kembali. Sampai saat ini, kebanyakan burung yang diperjualbelikan di pasar adalah jenis-jenis burung yang merupakan hasil penangkapan di alam bebas dan sedikit sekali jenis yang berasal dari hasil penangkaran.
Basuni dan Setiyani (1989) menyimpulkan, terdapat berbagai alasan kesukaan masyarakat sehingga ingin membeli burung, diantaranya adalah: 1. Disukai karena suaranya, dengan spesifikasi:
7
• Ocehannya, yaitu burung yang pandai menirukan kata-kata manusia (kakatua jambul kuning, beo).
• Manggung (perkutut dan tekukur).
2. Disukai karena penampilannya, burung hias (Gelatik, bondol hijau, burung kacamata).
3. Disukai karena kepandaian terbang dan kecerdikannya (merpati).
4. Disukai karena keunikan dan kelangkaannya, yang pada umumnya merupakan jenis-jenis burung yang dilindungi oleh Undang-Undang (jalak putih, bultok, elang laut, elang hitam).
5. Disukai karena fungsi dan untuk keperluan tertentu, misalnya untuk upacara tertentu yang dilakukan oleh masyarakat keturunan Cina (bondol haji dan burung peking).
Salah satu pasar burung di wilayah DKI Jakarta adalah Pasar Burung Pramuka. Pasar burung ini terbesar di Jakarta, terletak di wilayah Jakarta Timur yang berdiri sejak tahun 1976. Pasar burung ini merupakan pindahan dari Pasar Burung Senen. Pasar ini merupakan tempat diperjualbelikan berbagai jenis burung termasuk berbagai barang yang berhubungan dengan pemeliharaan dan penangkapan burung: makanan burung, sangkar burung, serta berbagai peralatan pemeliharaan dan penangkapan burung (Basuni dan Setiyani 1989).
Pada umumnya rantai perdagangan burung yang terjadi di pasar burung seperti di Pasar Burung Pramuka Jakarta disajikan pada Gambar 1.
Pasar sebagai tempat bertemunya manusia dan unggas berpotensi menjadi sumber penyebaran virus AI pada unggas atau bahkan menular dari unggas ke manusia. Oleh karena itu, pengendalian virus AI di pasar adalah komponen yang penting dalam mengendalikan AI di Indonesia. Masalah penyakit hewan global akhir-akhir ini menciptakan kepedulian yang lebih besar akan pentingnya biosekuriti dan penyediaan insentif finansial guna mencegah penyebaran Gambar 1 Rantai perdagangan burung di Pasar Burung Pramuka.
Pengumpul
Calo
Pembeli
Penangkap Pedagang di Pasar
8
penyakit. Di Amerika Utara dan Asia, pasar unggas hidup dianggap sebagai salah satu yang bertanggung jawab terhadap penyebaran wabah flu burung. Pasar unggas hidup merupakan ‘rantai lemah’ dalam biosekuriti industri perunggasan, sekaligus merupakan satu-satunya tempat untuk memperoleh ayam bagi setengah penduduk dunia.
Menurut Mardiastuti (2009), Indonesia memiliki 1.539 spesies burung yaitu sebesar 17% spesies burung di dunia. Virus flu burung telah diketahui terdapat pada berbagai jenis burung liar yang tidak dikandangkan (lebih dari 75 spesies burung liar dari 10 ordo yang berbeda), namun hampir 60% spesies burung liar yang tertular virus flu burung adalah burung yang terkait dengan habitat lahan basah (FAO 2008).
Penjualan produk unggas di pasar unggas meliputi penjualan unggas konsumsi, unggas kesayangan, unggas air, maupun unggas liar yang diperjualbelikan secara bebas. Menurut FAO (2008), pada unggas air seperti itik, mentok dan angsa sudah ditemukan beberapa sampel positif flu burung, begitu juga pada unggas kesayangan dan unggas liar yang sering diperjualbelikan di pasar unggas. Sejak lama burung liar telah diketahui sebagai inang dari virus flu burung yang telah diisolasi dari 105 jenis burung liar dengan reservoir alami terbesar ditemui pada bangsa Anseriformes (unggas
air) dan Charadriiformes (burung pantai/laut) (Mulyono 2008).
Pasar adalah salah satu tempat penyebaran virus flu burung. Adanya biosekuriti pasar yang baik akan menyebabkan hewan tetap sehat dan tidak mudah terinfeksi penyakit serta risiko penyebaran virus flu burung dapat diminimalisir (Tumuha 2008).
Biosekuriti dan Perannya dalam Pencegahan Penyakit
Biosekuriti adalah manajemen kesehatan lingkungan yang baik agar risiko munculnya penyakit tidak terjadi. Biosekuriti merupakan praktek manajemen dengan mengurangi potensi transmisi perkembangan organisme seperti virus AI dalam menyerang hewan dan manusia. Biosekuriti terdiri dari dua elemen penting yaitu bioexclusion dan biocontainment. Bioexclusion adalah
pencegahan terhadap datangnya virus infektif dan biocontainment adalah
menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar (WHO 2008). Dargatz (2002) menjelaskan bahwa bioexclusion merupakan pencegahan
masuknya agen patogen ke dalam populasi hewan dan biocontainment
9
dan keluar ke area lain. Baker (2012) menambahkan bahwa terdapat tiga komponen biosekuriti antara lain bioexclusion, biocontainment, dan biomanagement. Bioexclusion adalah praktik pencegahan masuknya agen
penyakit, biocontainment adalah praktik pencegahan menyebarnya agen
penyakit antar populasi dan antar area, dan biomanagement adalah praktik
keseluruhan untuk mencegah dan mengontrol agen penyakit yang sudah ada. Menurut Jeffrey (2006), biosekuriti merupakan suatu usaha pencegahan penularan penyakit pada suatu daerah dengan cara menghindari kontak antara hewan dan mikroorganisme. Tujuan biosekuriti adalah untuk mengeluarkan penyakit yang potensial dari suatu kawasan sehingga membantu memelihara kesehatan, kesejahteraan, dan produksi.
Biosekuriti merupakan suatu tindakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya wabah penyakit melalui pengawasan masuknya agen patogen. Biosekuriti yang dilakukan harus praktis, dapat dilakukan dengan harga yang efektif (Morris 2005). Menurut DEPTAN (2006), biosekuriti diartikan sebagai pengawasan penyakit yang termurah dan paling efektif, sementara Cardona (2005) menambahkan biosekuriti merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit.
Biosekuriti didefinisikan sebagai penerapan kontrol kesehatan dan usaha- usaha untuk mencegah masuk dan menyebarnya agen infeksius baru ke dalam suatu kawanan ternak (Pinto dan Urcelay 2003). Penerapan biosekuriti penting untuk perlindungan hewan terhadap penyakit serta memenuhi perlindungan nasional terhadap masuknya penyakit eksotik (Boklund et al. 2004).
Terdapat perbedaan antara biosekuriti dan biosafety. Menurut Blaha (2011), biosafety pada peternakan merupakan pencegahan masuknya agen
penyakit atau menularnya penyakit ke hewan ternak atau manusia di peternakan pada mata rantai produksi sementara biosekuriti digunakan dalam skala nasional untuk manajemen kontrol pergerakan hewan dan manusia, monitoring dan pelaporan, dan deteksi dini serta survailans penyakit dan digunakan dalam skala peternakan untuk pencegahan masuknya agen penyakit ke lingkungan peternakan.
Secara umum, ada tiga komponen utama biosekuriti yaitu isolasi hewan, pengontrolan lalu lintas hewan dan sanitasi. Biosekuriti adalah sistem manajemen yang baik yang melindungi hewan dan manusia terinfeksi
10
organisme dan mikroba dan juga upaya mengisolasi agar penyakit yang sudah ada tidak terinfeksi hewan dan manusia yang belum terinfeksi (Jeffrey 1997).
Isolasi adalah pemisahan hewan dalam satu tempat atau lingkungan terkendali atau dapat diartikan dengan penyediaan pagar pemisah kandang untuk menjaga hewan tidak lepas atau bercampur dengan hewan yang lain, serta mencegah masuknya hewan lain ke dalam lingkungan tersebut. Pengendalian dan pengawasan diterapkan terhadap lalu lintas ke dan dari pasar, serta di dalam pasar itu sendiri. Pengendalian lalu lintas juga diterapkan pada burung, hewan lain, manusia, bahan, dan peralatan. Aspek sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan-bahan dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan dan di dalam peternakan. Menurut Siahaan (2007), jika penyakit sudah masuk ke suatu kawasan, namun bila biosekuriti dilakukan, maka penyebaran penyakit ke kawasan lain dapat dicegah.
Studi Pengetahuan, Sikap, dan Praktik (Knowledge, Attitude dan Practice/KAP)
Studi berbasis KAP telah sering digunakan di dunia selama 40 tahun terakhir oleh Bank Dunia, organisasi di Amerika Serikat, dan organisasi baik pemerintah maupun non-pemerintah dalam ruang lingkup pengembangan masyarakat, edukasi, kesehatan masyarakat dan lingkungan (Crini dan Jullien 2009). Studi KAP berkonsentrasi pada pengetahuan, sikap dan praktik pada topik tertentu dan umumnya digunakan sebelum atau sesudah dilakukannya intervensi sehingga dapat mengukur keefektifan intervensi tersebut.
Survei KAP kebanyakan dirancang untuk area, budaya dan topik tertentu karena studi ini terfokus pada penilaian masyarakat secara alamiahnya. Studi KAP memperlihatkan bagaimana seseorang atau kelompok masyarakat yakin terhadap sesuatu yang spesifik, apa yang mereka ketahui dan bagaimana mereka berperilaku. Terkadang mereka mengubah pengetahuan mereka pada topik tertentu sehingga berpengaruh pada sikap yang mereka yakini benar dan praktik yang mereka lakukan sebagai hasil dari intervensi (Naylor 2010).
Studi KAP mengukur tingkat pengetahuan, sikap dan praktik pada sebuah komunitas. Hal ini juga dapat mengetahui tingkat pendidikan dari sebuah komunitas tersebut (Kaliyaperumal 2004). Survei KAP merupakan studi yang representatif pada populasi spesifik untuk mengumpulkan apa yang mereka ketahui, yakini dan lakukan (WHO 2008). Studi ini menjelaskan mengenai
11
pengetahuan dan sikap responden mengenai topik tertentu dan bagaimana mereka mempraktikkannya.
Pada penelitian ini, dipelajari pengetahuan sebuah komunitas terkait pemahaman mereka mengenai AI. Sikap merupakan keyakinan mengenai biosekuriti yang menjadi landasan ide seseorang dan praktik merupakan cara untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan sikap melalui perilaku. Dengan mengerti mengenai tingkat pengetahuan, sikap dan praktik maka akan meningkatkan tingkat efisiensi program penyuluhan dan pelatihan pada masyarakat (Kaliyaperumal 2004).
Pada kebanyakan survei KAP, data dikoleksi secara lisan melalui wawancara menggunakan kuesioner yang terstruktur. Data tersebut kemudian dianalisa baik secara kuantitatif maupun kualitatif tergantung dari objek dan desain kajian. Survei KAP ini dapat dirancang secara spesifik untuk mengumpulkan informasi mengenai topik AI dan juga informasi mengenai praktik dan keyakinan mengenai praktik kesehatan yang terkait di dalamnya yang dalam hal ini adalah praktik biosekuriti (Crini dan Jullien 2009).
Data dari survei KAP ini sangat penting untuk membuat perencanaan, implementasi dan evaluasi kajian mengenai AI. Survei ini mengumpulkan informasi responden terkait apa yang diketahui mengenai AI, apa yang mereka pikirkan mengenai unggas yang terkena AI dan apa yang mereka lakukan dalam keseharian untuk mencegah penyakit AI.
Studi KAP dapat mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang mempengaruhi perilaku kebanyakan orang, alasan mengenai sikap mereka dan cara serta alasan mereka dalam bertindak. Survei KAP juga dapat mengetahui proses komunikasi dan sumber yang menjadi kunci untuk melakukan aktivitas pencegahan dan pengendalian AI.
Menurut WHO (2008), survei KAP dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan, masalah dan rintangan dalam penyampaian program yang merupakan solusi untuk mengubah kualitas dan aksesibilitas pelayanan publik. Survei ini juga dapat dirancang untuk mengeksplorasi seluruh penyelengaraan pengendalian AI oleh pemerintah, universitas maupun organisasi non-pemerintah.
Karakteristik
Karakteristik terbentuk oleh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis. Faktor biologis meliputi genetik, sistem saraf dan sistem hormonal sedangkan
12
faktor sosiopsikologis terdiri dari komponen-komponen kognitif (intelektual), konatif yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak, serta afektif yang merupakan faktor emosional (Azwar 2003).
Lionberger (1960) yang dikutip oleh Zahid (1997) menyebutkan bahwa karakteristik individu atau faktor personal yang perlu diperhatikan adalah umur, tingkat pendidikan, dan karakteristik psikologik. Karakteristik psikologik adalah rasionalitas, fleksibilitas mental, dogmatisme, orientasi terhadap usaha dagang, dan kecenderungan atau kemudahan menerima informasi. Variabel demografik yang dapat digunakan sebagai indikator untuk menerangkan perilaku individu adalah jenis kelamin, umur, dan status sosial.
Dalam konteks penelitian yang dilakukan, karakteristik individu (pedagang burung) dibatasi pada karakteristik demografik seperti umur, pendidikan, pengalaman, tujuan usaha, skala usaha, dan pelatihan. Karakteristik pedagang ini diduga memiliki hubungan dengan sikap dan praktik terhadap biosekuriti.
Pengetahuan
Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai ingatan mengenai sesuatu yang bersifat spesifik atau umum; ingatan mengenai metode atau proses; ingatan mengenai pola, susunan atau keadaan (Kibler et al. 1981) yang dikutip oleh
Zahid (1997). Dalam merinci pendapat yang dikemukakannya, selanjutnya jenis-jenis pengetahuan dikelompokkan secara hirearkis ke dalam: 1) pengetahuan yang bersifat spesifik, 2) pengetahuan mengenai terminologi, 3) pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu, 4) pengetahuan mengenai cara- cara tertentu, 5) pengetahuan mengenai kaidah, 6) pengetahuan mengenai arah dan urutan, 7) pengetahuan mengenai klasifikasi dan kategori, 8) pengetahuan mengenai kriteria, 9) pengetahuan mengenai metoda, 10) pengetahuan mengenai pola, 11) pengetahuan mengenai prinsip dan generalisasi, dan 12) pengetahuan mengenai teori dan struktur.
Menurut Azemi (2010), tanpa pengetahuan seseorang tidak akan mempunyai dasar pegangan untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi. Secara garis besar pengetahuan dibagi menjadi enam tingkat, yaitu :
a. Tahu (know) diartikan hanya sebagai memanggil memori yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh
13
b. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut yang benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (application) diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan dan mengelompokan. e. Sintesis (synthesis) merujuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan beberapa bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dalam kata lain ada kemampuan untuk membina suatu formulasi yang baru hasil dari gabungan beberapa formulasi yang telah sedia ada.
Pengetahuan adalah mengenal suatu objek baru yang selanjutnya menjadi sikap terhadap objek tersebut apabila pengetahuan tersebut disertai oleh kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan tentang objek tersebut. Bila seseorang memiliki sikap tertentu terhadap suatu objek, maka orang tersebut telah mengetahui tentang objek tersebut (Walgito 2002).
Menurut Soekanto (2003), pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran seseorang sebagai hasil penggunaan panca indera. Supriyadi (1993) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan sekumpulan pengetahuan yang dipahami, yang diperoleh selama proses belajar dalam hidup dan dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat penyesuaian diri sendiri maupun lingkungannya. Dengan adanya aspek pengetahuan ini, baik yang diperoleh dari pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain, maka memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala atau dapat memecahkan masalah yang dihadapi (Ali 2003).
Pengetahuan seorang individu dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, pengalaman dan tingkat mobilitas materi informasi di dalam lingkungannya (Supriyadi 1993). Sedangkan sumber
14
pengetahuan individu dapat berasal dari berbagai macam proses belajar baik yang bersifat formal maupun informal.
Dalam konteks penelitian yang akan dilakukan ingin dilihat bagaimana keadaan pengetahuan pedagang di pasar burung terhadap tindakan/praktik biosekuriti, yang dibatasi pada pengetahuan mengenai fakta dan informasi yang berhubungan dengan aspek tindakan-tindakan biosekuriti di dalam pencegahan terhadap kejadian penyakit AI. Keadaan pengetahuan pedagang ini diduga memiliki hubungan dengan sikap dan tindakan mereka terhadap praktik biosekuriti.
Sikap
Kata sikap yang dimaksud disini merupakan terjemahan dari attitude. Sikap adalah merupakan reaksi atau respons sesorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo 2007). Sikap diterjemahkan sebagai sikap terhadap sesuatu objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek tersebut. Objek sikap ini tidak hanya terarahkan untuk benda-benda, individu-individu, tetapi bisa juga terhadap peristiwa-peristiwa, pemandangan-pemandangan, lembaga-lembaga, norma-norma, nilai-nilai, dan sebagainya.
Rahayuningsih (2008) menjabarkan bahwa sikap merupakan bagaimana individu suka/tidak suka terhadap sesuatu dan pada akhirnya menentukan perilaku individu tersebut. Sikap menyukai cenderung mendekat, mencari tahu dan bergabung sementara sikap tidak menyukai cenderung menghindar atau menjauhi.
Selebihnya Rahayuningsih (2008) mendefinisikan sikap menjadi tiga bagian orientasi yaitu:
a. Berorientasi kepada respon
Sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung
(unfavourable) pada suatu objek.
b. Berorientasi kepada kesiapan respon
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
15
Suatu pola perilaku, tendenasi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dari situasi sosial yang telah terkondisikan.
c. Berorientasi kepada skema triadik
Sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek di lingkungan sekitarnya.
Pettijohn (1987) menyatakan sikap merupakan perasaan, keyakinan dan kecenderungan berperilaku terhadap orang lain, objek atau ide. Kemudian dikatakan pula bahwa sikap adalah kecenderungan yang terlatih yang secara aktif memandu individu ke arah perilaku yang spesifik.
Menurut Baron dan Byrne (1987), sikap merupakan penilaian secara umum atau menyeluruh yang bersifat kekal terhadap orang, objek atau isu-isu tertentu. Pengertian sikap yang dikemukakan kedua penulis ini hampir setara dengan pengertian sikap yang dijabarkan oleh Watson et al. (1984) yang
menyatakan sikap sebagai perasaan atau penilaian secara menyeluruh yang bersifat positif atau negatif mengenai orang-orang, objek atau isu.
Sikap adalah kecenderungan untuk melakukan suatu respon dengan cara-cara tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa individu-individu maupun objek-objek tertentu. Sikap ini akan memberikan arah kepada perbuatan atau tindakan seseorang. Lewis dan Petersen (1985) menyatakan sikap adalah kecenderungan untuk melakukan respon secara konsisten dengan cara positif atau negatif terhadap sebuah objek atau sekumpulan objek. Lebih lanjut ditegaskan bahwa sebagian dari sikap ditentukan oleh proses yang bersifat pengertian atau kesadaran (cognitive) dan sebagian ditentukan oleh emosi (emotions).
Fishbein dan Ajzen yang dikutip oleh Feldman (1985) mengatakan sikap adalah kecenderungan yang terlatih untuk melakukan respon secara konsisten, menyenangkan atau tidak menyenangkan, berkenaan dengan objek tertentu. Menurut pandangan ini, sikap merupakan penilaian yang mendasar terhadap orang, kelompok, tindakan atau benda tertentu.
Beberapa ahli psikologi sosial menyatakan bahwa pengertian sikap harus dipertimbangkan dari segi komponen-komponen penyusunnya. Ketiga komponen utama sikap ini meliputi komponen kognisi, afeksi dan perilaku.