• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen Jurnal Pengadaan Edisi 4 (Halaman 39-43)

Pengadaan Barang/Jasa

Pengadaan barang/jasa pemerintah d i-

lak sanakan mengacu kepada Perpres No.

54/2010 beserta perubahannya. Perpres

ter sebut menyatakan bahwa ruang ling-

kup peraturan presiden ini meliputi:

peng adaan barang/jasa di lingkungan K/L/

D/I yang pembiayaannya baik sebagian atau

seluruhnya bersumber dari APBN/APBD.

Pengadaan barang/jasa untuk investasi

di lingkungan Bank Indonesia, badan

hukum milik negara, dan badan usaha

milik negara/badan usaha milik daerah

yang pembiayaannya sebagian atau

seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD.

Pengadaan barang/jasa dilakukan de ng-

an prinsip e sien, efektif, transparan, terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif,

dan akuntabel. Para pihak yang terkait

dalam pelaksanaan pengadaan barang/

jasa harus mematuhi etika sebagai berikut:

a. organisasi; b. keuangan; c. kemahasiswaan; d. ketenagaan; dan f. sarana prasarana.

a. melaksanakan tugas secara tertib,

di sertai rasa tanggung jawab untuk

Organisasi pengadaan barang/jasa untuk

Pengadaan melalui penyedia barang/jasa

terdiri atas

Di mana PA (pengguna anggaran)

ada lah Pejabat pemegang kewenangan

peng gunaan anggaran kementerian/ a. PA/KPA;

b. PPK;

c. ULP/pejabat pengadaan; dan

d. panitia/pejabat penerima hasil

pekerjaan. ketepatan tercapainya tujuan pe ng-

adaan barang/jasa;

b. bekerja secara profesional dan

mandiri, barang/jasa yang menurut

sifatnya harus dirahasiakan untuk

mencegah terjadinya penyimpangan

dalam pengadaan barang/jasa;

c. tidak saling mempengaruhi baik

langsung maupun tidak langsung yang

berakibat terjadinya persaingan tidak

sehat;

d. menerima dan bertanggung jawab

atas segala keputusan yang ditetapkan

sesuai dengan kesepakatan tertulis

para pihak;

e. menghindari dan mencegah

terjadinya pertentangan kepentingan

para pihak yang terkait, baik secara

langsung maupun tidak langsung

dalam proses pengadaan barang/jasa;

f. menghindari dan mencegah

terjadinya pemborosan dan kebocoran

keuangan negara dalam pengadaan

barang/jasa;

g. menghindari dan mencegah pe nya-

lahgunaan wewenang dan/atau ko-

lusi dengan tujuan untuk keuntungan

pribadi, golongan, atau pihak lain yang

secara langsung atau tidak langsung

merugikan negara; dan

h. tidak menerima, tidak menawarkan

atau tidak menjanjikan untuk memberi

atau menerima hadiah, imbalan, ko-

misi, rabat, dan berupa apa saja dari

ata u kepada siapa pun yang diketahui

ata u patut diduga berkaitan dengan

lembaga/satuan kerja perangkat daerah

atau pejabat yang disamakan pada institusi

pengguna APBN/APBD. KPA (kuasa peng-

guna anggaran) adalah pejabat yang di-

tetapkan oleh PA untuk menggunakan

AP BN atau ditetapkan oleh kepala da -

e rah un tuk menggunakan APBD.

PP K (pejabat pem buat komitmen) ada-

lah pejabat yang bertanggung jawab atas

pe lak sanaan pengadaan barang/jasa. UL P

(unit layanan pengadaan) adalah unit

organisasi kementerian/lembaga/pe merin-

tah daerah/institusi yang berfungsi melak-

sanakan pengadaan barang/jasa yang ber-

sifat permanen, dapat berdiri sendiri atau

melekat pada unit yang sudah ada. Pejabat

pengadaan adalah personil yang ditunjuk

untuk melaksanakan pengadaan langsung.

PPHP (panitia/pejabat penerima hasil pe-

ker jaan) adalah panitia/pejabat yang dite-

tapkan oleh PA/KPA yang bertugas me-

meriksa dan menerima hasil pekerjaan.

Pada perguruan tinggi negeri PA biasanya

dijabat oleh seorang menteri. KPA dijabat

oleh rektor/ketua. PPK dijabat oleh pejabat

struktural yang ditunjuk oleh rektor.

Sementara itu ULP, pejabat pengadaan, dan

PPHP adalah pegawai negeri di lingkungan

perguruan tinggi negeri yang ditunjuk oleh

rektor berdasarkan serti kasi keahlian yang dimiliki. Pengadaan barang/jasa secara garis

besar dibagi menjadi 4 jenis, yaitu pengadaan

barang, kontruksi, konsultan, dan lainnya.

Pe ngadaan barang adalah setiap benda ba ik

berwujud maupun tidak berwujud, ber gerak

maupun tidak bergerak, yang dapat diper -

dagangkan, dipakai, dipergunakan, atau di-

manf aatkan oleh pengguna barang.

ULP/Pejabat pengadaan PA/KPA

PPK PPHP

Gambar 2

Rp200.000.000,

Rp50.000.000,

ULP Pejabat

Pengadaan/ULP

Pengadaan barang/pekerjaan kon struk si

/ j a sa lainnya dengan nilai di atas Rp20 -

0 . 0 00.000,00 (dua ratus juta rupiah); dan

pengadaan jasa konsultansi dengan ni lai di

atas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta ru-

piah) dilakukan oleh ULP melalui kelompok

kerja. Paket pengadaan barang/pekerjaan

konstruksi/jasa lainnya yang ber nilai pal-

Langkah pertama adalah PA/KPA mem-

berikan kepada PPK daftar rin ci an pagu

anggaran/RKAT yang sudah dise tujui oleh

DPR/DPRD. Selanjutnya, PA /KPA mene-

tapkan rencana umum pen gadaan (RUP) dan

mengumumkan se ca ra luas rencana umum

pengadaan pa ling kurang di website kemen- terian/lem baga/pemerintah da e rah/ins titusi.

ing tinggi Rp200.000.000,00 (dua ratus juta

rupiah) dan paket pengadaan jasa konsultasi

yang bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00

(lima puluh juta rupiah) da pat dilaksanakan

oleh kelompok kerja ULP atau pejabat

pengadaan.

Proses pengadaan barang/jasa dilakukan

ol eh organisasi pengadaan, yaitu PA/K P A,

PPK, pejabat pengadaan/ULP, dan PPHP.

P K m e netapkan rencana pelaksanaan pe -

ngadaan barang/jasa yang meliputi:

1) spesi kasi teknis barang/jasa; 2) sarga perkiraan sendiri (HPS); dan

3) rancangan kontrak.

PPK menyerahkan rencana pelaksanaan

pengadaan (RPP) kepada pejabat peng-

adaan/ULP. Yang terdiri atas spesifika-

Barang & Jasa PPK Pejabat Pengadaan Barang PPK PPHP Gambar 3 Pelaksanaan Pengadaan sendiri (HPS), serta dokumen pendukung

lainnya. Pejabat pengadaan/ULP lalu me-

ny u sun dokumen pengadaan, jadwal pe-

milihan, dan melaksanakan lelang. Se lan-

jutnya, PP K menerima hasil lelang dari

pe jabat pe ngadaan/ULP dan menerbitkan

surat penunjukan penyedia barang/jasa dan

melaksanakan kontrak/perikatan dengan

pemenang lelang. PPHP menerima dan

memeriksa hasil pekerjaan dari pemenang

lelang yang telah dilaksanakan.

Perguruan Tinggi Negeri Badan

Dalam dokumen Jurnal Pengadaan Edisi 4 (Halaman 39-43)