Istilah gemuk, dapat dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu overweight dan obesitas. Banyak orang yang menyamakan pengertian overweight dan obesitas, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda walaupun sama-sama menggambarkan kelebihan berat badan. Seseorang yang kegemukan jelas menderita kelebihan berat, tetapi seseorang yang menderita kelebihan berat belum tentu kegemukan (Harjadi & Soejono 1986).
Gizi lebih dapat terjadi pada seluruh lapisan umur, dimulai dari bayi hingga lansia, pria dan wanita. Kebiasaan makan yang salah dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang meningkatkan faktor risiko dan berat badan pun akan meningkat. Persatuan ahli gizi RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dalam Andriyanti (2002) menyatakan gizi lebih yang dapat menyebabkan kegemukan dibagi menjadi dua yaitu berat badan overweight yang berarti berat badan lebih dari 10-20% dari berat badan ideal serta obesitas, yang berarti memiliki berat badan 20% lebihnya dari berat ideal. Overweight adalah kondisi berat badan melebihi berat normal, sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan berat badan akibat tertimbunnya lemak, pada pria 20% sedangkan pada wanita 25% (Rimbawan dan Siagian 2004).
Tingkat kegemukan atau obesitas dapat diketahui dengan menghitung indeks massa tubuh (body mass index). Indeks massa tubuh (IMT) dihitung dengan cara membagi berat tubuh (kg) dengan kuadrat tinggi tubuh (m).
IMT = BB = berat badan; TB = tinggi badan
Pengukuran melalui IMT bukan alat ukur yang sempurna mengenai lemak tubuh, ada pula saat-saat dimana IMT dapat meleset perkiraannya. Contohnya, seseorang yang memiliki otot yang padat mungkin akan memiliki IMT yang tinggi tanpa menjadi overweight. IMT dapat menjadi alat ukur yang sulit untuk menginterpretasikan keadaan tubuh selama masa puber. Harus diingat bahwa IMT merupakan indikator yang baik tetapi bukan pengukuran yang tepat untuk lemak tubuh (Gavin 2005).
Obesitas adalah bahaya kesehatan yang sangat serius dan berkala dalam masyarakat. Obesitas berkembang dari ketidakseimbangan intake energi
dibandingkan dengan outputnya (Barasi & Mottram 1987). Kandungan normal lemak dalam tubuh dapat dipertahankan tetap apabila isi kalori dalam makanan yang dimakan diimbangi oleh pemakaiannya dalam tubuh. Pemasukan makanan yang berlebihan merupakan langkah pertama dalam serangkaian proses menuju kegemukan (Harjadi & Soejono 1986).
Anak Sekolah
Selama tahun-tahun sekolah dasar, anak perempuan menunjukkan kematangan lebih awal. Pada usia 9 atau 10 tahun, tinggi dan berat badan anak perempuan melewati anak laki-laki. Selama periode usia ini, seseorang memiliki pola pertumbuhan yang berbeda dan sangat nyata.
Pada akhir tahun sekolah dasar (11 tahun), 12% dari anak perempuan telah mencapai perkembangan rangka yang bisa dicapai pada saat dewasa., yaitu kepadatan tulangnya sudah kokoh seperti pada saat dewasa. Pada usia ini, anak laki-laki akan berlanjut untuk tumbuh (Hui 1985).
Anak-anak dapat bertambah berat badannya secara signifikan pada semua tingkatan usia, pertumbuhan itu bisa terjadi secara bertahap atau seketika. Penelitian longitudinal pada anak-anak menunjukkan bahwa anak-anak dapat mulai tumbuh ketika bayi. Hal ini akan berlanjut sampai remaja dan sulit dikendalikan, bahkan ketika teknik intervensi seperti penghambat makanan dilakukan. Karena metabolisme seseorang berbeda satu sama lain, asupan kalori anak-anak berhubungan dengan kebutuhannya (Hui 1985).
Remaja
Remaja cenderung memikirkan tentang keadaan tubuhnya dan mengembangkan gambaran individu mengenai bentuk tubuhnya. Mereka bercermin setiap hari bahkan sampai berjam-jam untuk melihat apabila terjadi sesuatu yang berubah pada tubuhnya. Pemikiran tentang gambaran tubuh seseorang menjadi penting ketika melalui masa remaja, tetapi menjadi lebih penting lagi pada masa pubertas dibandingkan pada remaja akhir, suatu waktu dimana seorang remaja merasa tidak puas dengan kedaan tubuhnya (Wright 1989 diacu dalam Santroct 1997).
Lebih lanjut Santroct (1997) menyatakan bahwa pada dekade terakhir sejumlah besar peneliti telah menemukan bahwa kematangan awal meningkatkan sensitivitas anak perempuan dalam menghadapi masalah. Anak perempuan yang dewasa lebih cepat cenderung lebih mudah merokok, konsumsi
minuman beralkohol, merasa depresi, dan memiliki masalah gangguan makan (eating disorder).
Remaja adalah masa dimana rasa ingin tahu seseorang sangat tinggi, sehingga selalu ingin mencoba sesuatu, yang juga dapat menyebabkan asupan gizi yang buruk. Remaja yang mempertahankan individualismenya akan menolak kebiasaan makan yang berlaku di keluarganya. Peningkatan aktivitas sosial berhubungan dengan penetapan pola makan. Kesadaran diri dan tekanan dari lingkungan menyebakan asupan gizi yang buruk (Hui 1985).
Penilaian Status Gizi Secara Antropometri
Keadaan gizi adalah suatu kondisi dimana terdapat keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi serta penggunaannya, atau keadaan fisiologis akibat tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh. Sedangkan status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, Bakri, dan Fajar 2002). Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Metode penilaian gizi secara langsung adalah dengan cara antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sedangkan metode penilaian gizi secara langsung contohnya adalah survei konsumsi makanan, faktor ekologi, dan statistik vital.
Apabila dilihat dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkatan umur dan tingkat gizi. Pengukuran berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan. Hal ini disebabkan pengukuran berat badan memberikan gambaran status gizi sekarang dan apabila dilakukan secara periodik dapat memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan (Supariasa, Bakri, dan Fajar 2002).
Sistem pelaporan indeks BB/U dapat dinyatakan dengan tiga cara, yaitu persen terhadap median, z-skor, persentil. Cara z-skor didefinisikan sebagai hasil pengurangan nilai pengamatan individu dengan nilai median referensi dibagi standar deviasi dari populasi referensi. Kriteria status gizi menurut indeks BB/U berdasarkan nilai z-skor dibandingkan dengan referensi WHO-NCHS adalah (1) status gizi buruk terjadi jika nilai z-skor < -3, (2) status gizi kurang terjadi jika nilai z-skor < -2, (3) status gizi baik terjadi jika -2 = z-skor = +2, (4) status gizi overweight terjadi jika nilai z-skor > +2, dan (5) status gizi obes terjadi jika nilai z-skor > +3 (Riyadi 2001).
Jenis kelamin merupakan faktor internal yang menentukan kebutuhan gizi, sehingga terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan status gizi (Apriadji 1986). Beberapa cara untuk mengobservasi perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan adalah dalam penentuan body fat dan muscle. Perbedaan kandungan body fat antara jenis kelamin terus berlangsung selama rantai kehidupan. Selama usia prepubescent (8-13 tahun), body fat pada perempuan meningkat sangat cepat, dan sampai pada puncaknya setelah usia 11 tahun (Hui 1985).
Lebih lanjut dikatakan bahwa masa prepubescent untuk anak laki-laki dimulai pada usia 8 sampai 12, ditandai dengan peningkatan body fat. Contohnya, pada usia 12 tahun perempuan memiliki sekitar 25-30% lebih banyak body fat dibandingkan laki-laki. Pada usia 14.5, perempuan pada umumnya memiliki 70-80% body fat lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Pada laki- laki, peningkatan kedua berkisar antara usia 14 dan 16 tahun, dan sampai pada puncaknya pada 19 tahun.
WHO (2000) menyatakan bahwa perempuan cenderung mengalami peningkatan penyimpanan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengonsumsi sumber karbohidrat yang lebih kuat sebelum masa pubertas, sementara laki-laki lebih cenderung mengonsumsi makanan yang kaya protein. Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Proper et al. (2006) menyatakan bahwa laki-laki secara signifikan lebih berkemungkinan untuk menjadi overweight atau obesitas daripada wanita, karena laki-laki cenderung untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk santai pada saat akhir minggu atau waktu senggang dibandingkan wanita.
Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga
Kelas sosial dan status sosial ekonomi mempengaruhi prevalensi terjadinya overweight. Pada beberapa negara di dunia, status sosial ekonomi yang rendah berhubungan dengan peningkatan berat badan (Molarius et al., diacu dalam Institute of Medicine of the National Academies 2001). Pada beberapa negara berkembang dan masyarakat awam, obesitas merupakan suatu tanda kemakmuran.
Menurut Gortmaker (1993) dalam Institute of Medicine of the National Academies (2001), beberapa peneliti berbeda pendapat mengenai obesitas menurunkan status ekonomi telah menambah kepercayaan yang beredar di Amerika Serikat bahwa status sosial ekonomi yang rendah menyebabkan
obesitas. Sedangkan pada negara berkembang, kelompok orang dengan status sosial ekonomi rendah jarang yang gemuk. Hal ini berhubungan dengan keterbatasan kemampuan seseorang dalam pengadaan pangan, yang juga berhubungan dengan pekerjaan yang berat dan memiliki akses yang sulit dalam menggunakan transportasi (WHO 2000).
Sejalan dengan meningkatnya pendapatan per kapita, kecenderungan pola makan pun berubah, yaitu terjadi peningkatan dalam asupan lemak dan protein hewani serta gula, diikuti dengan penurunan lemak dan protein nabati serta karbohidrat. Peningkatan pendapatan juga berhubungan dengan peningkatan frekuensi makan di luar rumah yang biasanya tinggi lemak (WHO 2000).
Tingkat Pendidikan Orang Tua
Seseorang yang hanya tamat SD belum tentu kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi dibandingkan dengan orang lain yang pendidikannya lebih tinggi. Karena sekalipun berpendidikan rendah, apabila orang tersebut rajin mendengarkan siaran dan selalu ikut serta dalam penyuluhan gizi bukan mustahil pengetahuan gizinya akan lebih baik. Hanya saja memang perlu dipertimbangkan, faktor pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi (Apriadji 1986).
Hasil penelitian Padmiari dan Hadi (2001) di Denpasar menyatakan bahwa anak sekolah yang memiliki ayah berpendidikan SMA dan pendidikan tinggi berisiko 1.3 kali untuk menjadi obes dibandingkan dengan anak yang memiliki ayah berpendidikan SMA ke bawah. Hal ini ditimbulkan oleh adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan pendapatan. Semakin tinggi pendidikan ayah, makan semakin tinggi pendapatan dan konsumsi pangan pun akan meningkat.
Pekerjaan Orang Tua
Status ibu bekerja dapat mempengaruhi perilaku makan anak. Terdapat perbedaan dalam pembentukan kebiasaan makan anak apabila seorang ibu dalam keluarga juga berperan sebagai pencari nafkah. Seorang ibu yang bekerja di luar rumah akan menghabiskan sebagian waktunya di luar rumah. Hal ini akan menyebabkan timbulnya perasaan bersalah kepada anaknya, khususnya dalam hal penyiapan makan. Sehingga, ibu bekerja akan lebih sering membelikan makanan untuk anaknya di luar rumah untuk mengurangi rasa bersalah tersebut.
Biasanya pilihan terbatas pada fast food yang dijual di restoran cepat saji atau di tempat penjualan lainnya (WHO 2000).
Jumlah Anggota Keluarga
Program Keluarga Berencana merupakan salah satu upaya membenahi dan memperbaiki kesejahteraan keluarga yang patut dilihat dalam hubungannya dengan masalah gizi. Keluarga dengan banyak anak dan jarak kelahiran antar anak yang amat dekat akan menimbulkan lebih banyak masalah. Dalam acara makan bersama seringkali anak-anak yang lebih kecil akan mendapatkan jatah makan yang kurang mencukupi karena kalah dengan kakaknya yang makannya lebih cepat dan dengan porsi sekali suap lebih banyak pula (Apriadji 1986).
Lebih lanjut Apriadji (1986) menyatakan bahwa anak yang terlalu banyak selain menyulitkan dalam mengurusnya, juga kurang bisa menciptakan suasana tenang di rumah. Lingkungan keluarga yang selalu ribut akan mempengaruhi ketenangan jiwa dan ini secara tidak langsung akan menurunkan nafsu makan anggota keluarga lain yang terlalu peka terhadap suasana yang kurang mengenakkan. Apabila pendapatan keluarga hanya cukup dan tidak berlebih sedangkan anak banyak, maka pemerataan dan kecukupan makanan di dalam keluarga kurang bisa dijamin dan bisa juga disebut keluarga rawan.
Persepsi Tubuh
Menurut perkiraan WHO saat ini terdapat satu milyar penduduk dunia yang mengalami kegemukan dan 300 juta diantaranya menderita obesitas. Di Amerika terdapat sekitar 97 juta penduduk mengalami kegemukan, tetapi hanya 15% dari mereka yang beranggapan dirinya gemuk (University of North Carolina 2006 diacu dalam Hardinsyah 2007). Sedangkan di Indonesia diperkirakan sekitar 30 juta orang mengalami kegemukan.
Penelitian di kota Bogor menunjukkan sekitar 20% perempuan dewasa yang memiliki status gizi normal beranggapan dirinya gemuk (Hardinsyah 1998 diacu dalam Hardinsyah 2007). Sedangkan data survei IMT yang dilakukan oleh Depkes (2003) dalam Hardinsyah (2007) menunjukkan bahwa seperenam jumlah perempuan yang bergizi baik merasa mengalami kegemukan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat kekhawatiran mengalami kegemukan dan ada usaha untuk mencegah peningkatan prevalensi kegemukan.
Wanita yang mengalami overweight atau obesitas kebanyakan merasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya (Foster et al. 1997 diacu dalam Sarwer,
Foster, dan Wadden 2004). Ketidakpuasan ini seringkali berimplikasi pada sikap yang merugikan. Seseorang yang mengalami overweight dilaporkan memiliki kesadaran diri yang ekstrim, penyamaran yang berlebihan, dan penolakan untuk beraktivitas sebagai hasil dari berat badan dan kedaan bentuk tubuhnya (Rosen, Orosan, & Reiter 1995; Sarwer et al. 1998 diacu dalam Sarwer, Foster, & Wadden 2004). Ketidakpuasan mengenai bentuk tubuh akan memegang peranan signifikan dalam memotivasi usaha penurunan berat badan (Sarwer & Thompson 2002 diacu dalam Sarwer, Foster, & Wadden 2004). Menurut WHO (2000), bagi wanita bentuk tubuh yang kurus menandakan kesuksesan dan menarik untuk dilihat, sedangkan gemuk memperlihatkan rasa malas dan lemah.
Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan komponen penting dari pengeluaran energi yang tidak tetap. Aktivitas fisik merupakan salah satu bentuk penggunaan energi dalam tubuh, disamping metabolisme basal dan specific dynamic action pada jenis-jenis makanan (Suyono 1986). Aktivitas fisik merupakan komponen yang penting dalam manajemen pengaturan berat badan. Walaupun penghambatan konsumsi energi dalam diet merupakan hal yang paling berpengaruh terhadap penurunan berat badan, aktivitas fisik yang teratur juga membantu hal ini dan untuk mencegah peningkatan kembali berat badan (Klein et al. 2004 ).
Aktivitas fisik melibatkan peningkatan energi expenditure, oleh karena itu dapat menghambat pertambahan berat badan. Dewasa ini ada penurunan aktivitas fisik pada populasi yang mengkontribusi peningkatan kegemukan (Barasi & Mottram 1987). Frekuensi berolahraga empat kali seminggu dengan waktu sekitar 10 menit per hari lebih efektif untuk menurunkan berat badan daripada berolahraga sesekali selama 30 – 40 menit (Institute of Medicine of the National Academies 2001).
Kemajuan teknologi berkontribusi pada meningkatnya prevalensi kegemukan. Tersedianya sarana pengangkutan, misalnya, membuat orang lebih memilih naik kendaraan daripada berjalan kaki walaupun pada jarak yang tidak jauh. Orang lebih memilih naik eskalator atau lift daripada naik tangga. Selain itu, diciptakannya mesin-mesin yang dapat menggantikan tugas manusia makin membuat ’manja’, serta membuat enggan mengeluarkan tenaganya. Akibatnya aktivitas fisik menurun yang berarti makin sedikit energi yang digunakan dan makin banyak energi yang ditimbun (Rimbawan dan Siagian 2004). Selain itu, peningkatan prevalensi juga disebabkan oleh pengurangan aktivitas fisik dan
peningkatan aktivitas sedentary. Salah satu contohnya yang diungkapkan dalam WHO (2000) adalah jumlah waktu menonton televisi serta jumlah kepemilikan mobil dalam rumah tangga.
Penurunan aktivitas fisik yang terjadi pada masa kini sangat berpengaruh pada perubahan keseimbangan energi positif dan peningkatan berat badan pada masyarakat industri (Institute of Medicine of the National Academies 2001). Hal yang terjadi pada anak-anak masa kini adalah dengan adanya sedentary life. Anak-anak menghabiskan waktu yang cukup banyak bermain dengan peralatan elektronik, dari mulai komputer hingga video game, daripada bermain di luar. Anak yang berusia di bawah delapan tahun mengahabiskan rata-rata 2.5 jam untuk menonton televisi, dan anak yang berusia diatas delapan tahun menghabiskan 4.5 jam di depan televisi atau video game. Anak-anak yang menonton televisi lebih dari empat jam sehari lebih mudah menjadi gemuk daripada anak-anak yang menonton televisi dua jam sehari atau kurang (Gavin 2005). Penelitian lain di Amerika pada anak-anak menunjukkan bahwa anak dengan lama waktu menonton televisi 5 jam per hari memiliki risiko obesitas sebesar 5.3 kali lebih besar daripada anak dengan lama waktu menonton 2 jam per hari (Hidayati et al. 2006).
Selain aktivitas menonton TV, jumlah waktu tidur juga berhubungan dengan kegemukan. Anak dengan waktu tidur lebih sedikit berisiko lebih tinggi untuk mengalami kegemukan (Chaput et al. 2006). Kemungkinan tersebut disebabkan karena orang yang gemuk memiliki kualitas tidur yang buruk, hal ini berhubungan dengan gangguan dari hormon dan kelenjar neuroendokrin (Vioque et al. 2000).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa hubungan antara aktivitas fisik dan berat badan tidak begitu kuat. Penelitian yang lain menyatakan bahwa tingkatan aktivitas fisik yang kuat berhubungan dengan berat badan yang lebih rendah (Bali, Owen, Salmon, Bauman, & Gore 2001; Dipietro 1995; Grilo 1995; Kromhout, Saris, & Horst 1988; Westerterp 1998 diacu dalam Sztainer & Haines 2004).
Penurunan titik berat pada pelajaran olahraga di sekolah dibarengi dengan penurunan fitness pada anak-anak. Aktivitas fisik yang kurang adalah risiko utama untuk perkembangan obesitas pada anak-anak dan dewasa (Institute of Medicine of the National Academies 2001).
Selain aktivitas fisik dalam bentuk olahraga dan exercise, ada juga aktivitas fisik rumah tangga (household and other chores), yaitu aktivitas yang dilakukan sebagai bagian dari aktivitas dalam rumah. Tetapi dalam kehidupan modern saat ini, sudah diciptakan berbagai macam perlengkapan rumah tangga yang dapat membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehingga lebih mudah, cepat, dan ringkas. Pada dasarnya pekerjaan rumah tangga apabila dikerjakan secara manual akan memberikan kontribusi besar pada pembakaran kalori (WHO 2000).
Perilaku dan Kebiasaan Makan
Suhardjo (1989) dalam Andriyanti (2002) menyatakan bahwa kebiasaan makan adalah suatu gejala budaya dan sosial yang dapat memberi gambaran perilaku dengan nilai-nilai yang dianut seseorang atau suatu kelompok dalam masyarakat. Selanjutnya Khumaidi (1994) dalam Andriyanti (2002) menyatakan bahwa kebiasaan makan adalah bagaimana tindakan manusia terhadap makan dan makanan yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan perasaan apa yang dirasakan serta persepsi tentang hal tersebut.
Pola makan memberi andil yang besar terhadap kegemukan atau obesitas. Pola makan yang tinggi kalori dan lemak menyebabkan keseimbangan energi positif (terjadi penimbunan energi dalam bentuk lemak). Pola makan yang sesuai untuk gaya hidup aktif dapat berlanjut setelah seseorang berubah menjadi gaya hidup lebih sedentary (Institute of Medicine of the National Academies 2001). Berperilaku makan sehat berarti mengonsumsi pangan secara seimbang dan mengurangi lemak (maksimum 30% dari kecukupan energi). Terlalu membatasi konsumsi karbohidrat bukan upaya yang tepat. Protein hanya menyebabkan kegemukan pada keadaan yang tidak lazim, yaitu pada konsumsi yang sangat berlebihan, serta tidak hanya memfokuskan pada konsumsi karbohidrat, lemak, dan protein saja, tetapi juga konsumsi vitamin dan mineral (Rimbawan dan Siagian 2004).
Remaja memiliki beberapa kebiasaan makan yang buruk, seperti melewati waktu makan, terutama sarapan, dengan alasan tidak ada waktu yang cukup untuk makan. Selain itu juga kebanyakan dari mereka tidak menyukai makanan bergizi seperti susu, terlalu sering makan di luar rumah dan sangat memperhatikan berat badan. Masalah rambut dan kulit, terutama jerawat, dapat juga mempengaruhi kebiasaan makan (Hui 1985).
Beberapa contoh gaya hidup sehat yang akan mencegah seseorang menjadi gemuk adalah membiasakan sarapan pagi dan mengonsumsi makanan sehat. Para peneliti dari Divisi Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Massachussets melalui publikasinya pada American Journal of Epidemiology edisi Agustus 2003 mengungkapkan bahwa kebiasaan sarapan secara teratur menurunkan risiko menderita obesitas. Orang yang tidak pernah sarapan atau mengonsumsi makanan pada pagi hari berisiko menderita obesitas 4,5 kali lebih tinggi daripada orang yang sarapan secara teratur. Diketahui juga bahwa asupan energi cenderung meningkat ketika sarapan dilewatkan (Siagian 2004).
Lebih lanjut dinyatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena orang yang tidak sarapan merasa lebih lapar pada siang dan malam hari daripada mereka yang sarapan. Mereka akan mengonsumsi lebih banyak makanan pada waktu siang dan malam hari. Asupan makanan yang banyak pada malam hari akan berakibat pada meningkatnya glukosa yang disimpan sebagai glikogen. Karena aktivitas fisik pada malam hari sangat rendah, glikogen kemudian disimpan dalam bentuk lemak.
Publikasi pada Journal of Nutrition terbitan Januari (2004) dalam Siagian (2004) menemukan bahwa melalui penelitiannya pada 375 pria dan 496 wanita, proporsi asupan pangan pagi hari berkorelasi negatif dengan asupan pangan total selama satu hari. Ini berarti, sarapan pagi menurunkan asupan pangan dan energi total. Hal tersebut terjadi karena melewati pagi hari tanpa sarapan mengakibatkan perubahan pada ritme, pola, dan siklus waktu makan. Orang cenderung lebih banyak makan pada siang dan malam hari apabila mereka tidak sarapan. Penjelasan kedua, yang juga berkaitan dengan penjelasan pertama, adalah makanan pada pagi hari lebih mengenyangkan daripada makanan pada siang dan malam hari. Sarapan pagi berperan mengurangi rasa lapar pada siang dan malam hari.
Frekuensi Makan Harian
Para peneliti dari Divisi Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Universitas Massachussets menemukan fakta bahwa semakin sering mengonsumsi makanan, maka semakin kecil risiko seseorang untuk menjadi gemuk. Seseorang yang mengonsumsi makanan sampai dengan tiga kali per hari menderita obesitas 45% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi makanan empat kali sehari atau lebih. Hal ini disebabkan karena
frekuensi makanan yang rendah berkaitan dengan sekresi insulin yang tinggi. Insulin dapat berperan sebagai penghambat enzim lipase (enzim yang memecah lemak). Semakin banyak insulin dieksresikan, semakin besar hambatan pada aktivitas enzim lipase. Akibatnya semakin banyak lemak yang ditimbun tubuh (Siagian 2004).
Seseorang yang menderita obesitas cenderung untuk menukar waktu makan ke waktu yang berikutnya dan biasanya melangkahi sarapan (Berteus, Forslund, Lindroos, Sjostrom, & Lissner 2002; Ortega et al. 1998 diacu dalam Phelann & Wadden 2004). Seseorang yang melangkahi waktu makan utama atau memiliki pola makan yang berubah-ubah cenderung untuk mempunyai rasa lapar yang lebih besar.
Kebiasaan makan keluarga
Kebiasaan makan keluarga juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya obesitas pada seseorang. Penderita obesitas ternyata sering berasal dari keluarga yang punya kebiasaan makan dalam porsi besar, frekuensi lebih