SINGKONG PASCA TRANSPORTAS
TINJAUAN PUSTAKA
Domba (Ovis aries) Klasifikasi Domba
Pengetahuan tentang bangsa-bangsa domba dengan segala ciri-cirinya sangat penting dalam usaha pemeliharaan domba, karena satu jenis domba memiliki keunggulan yang berbeda dengan jenis lainnya. Secara umum, ternak domba dikelompokan menjadi domba tipe potong, wol dan dual purpose, yakni sebagai penghasil daging dan sekaligus penghasil wol. Domba diklasifikasikan menurut Blakely dan Bade (1992) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Mamalia Ordo : Artiodactyla Family : Bovidae Genus : Ovis
Spesies : Ovis aries
Domba Ekor Tipis
Bangsa domba ekor tipis sangat kecil dan ekornya yang tidak menunjukan adanya tanda-tanda lemak, panjang ekornya tidak sampai pergelangan kaki. Bobot potongnya hanya sekitar 24 kg dan tinggi pundak sekitar 57 cm (Hardjosworo dan Levine, 1987). Domba ekor tipis memiliki tubuh kecil, lambat dewasa, warna bulunya maupun karakteristiknya tidak seragam, dan hasil dagingnya relatif kecil atau sedikit.
Ciri-ciri domba ekor tipis menurut Cahyono (1998) adalah : 1) Ukuran badan kecil; 2) Pertumbuhannya lambat; 3) Warna bulu dan tanda-tandanya sangat beragam; 4) Bulunya kasar dan agak panjang; 5) Telinganya kecil dan pendek; 6) Domba betina tidak bertanduk, sedangkan domba jantan bertanduk; 7) Ekornya kecil dan pendek. Smith dan Mangkoewidjojo (1988) menambahkan bahwa domba ekor tipis mempunyai wol yang kasar, bergumpal-gumpal dan sangat subur.
4 Stres Selama Pengangkutan
Domba yang mengalami pengangkutan lebih dari 3 jam umumnya akan mengalami penyusutan bobot badan sesampainya di tempat tujuan. Hal tersebut disebabkan karena domba mengalami stres selama dalam perjalanan. Stres merupakan respon ternak terhadap kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi fisiologisnya. Tingkat stres pengangkutan dipengaruhi oleh jarak, lama perjalanan, tingkah laku ternak, bentuk pengangkutan, tingkat kepadatan saat pengangkutan, keadaan iklim, kondisi jalan, penanganan pada saat perjalanan, keefektifan istirahat setelah perjalanan dan sifat kerentanan terhadap stres (Fernandez
et al., 1996). Untuk mengurangi stres selama pengangkutan, domba yang baru
sampai di tempat tujuan sebaiknya dibiarkan menghirup udara segar (digembalakan) terlebih dahulu selama kurang lebih 30 menit, baru setelah itu dimasukan ke dalam kandang (Ramada, 2009) atau bisa juga dengan pemberian gula dan insulin pada domba (Dinasih, 2006).
Stres selama pengangkutan dapat mengakibatkan penurunan kandungan glikogen otot, penurunan persentase karkas, luka memar, kekurangan oksigen dan pengeluaran darah yang kurang sempurna pada saat pemotongan (Fernandez et al., 1996). Menurut Yuwono dan Sodiq (2006), penurunan kandungan glikogen disebabkan karena rendahnya precursor untuk pembentukan glukosa yang disuplai akibat kekurangan pakan. Pendapat serupa diungkapkan Leng (1970), yang menyatakan bahwa laju pemasukan glukosa meningkat seiring meningkatnya asupan energi.
Penyusutan Bobot Badan
Domba akan mengalami penyusutan bobot badan ketika mengalami pengangkutan (Knowles et al., 1994). Penyusutan bobot badan domba sangat dipengaruhi oleh metode dalam pengangkutan dan kondisi domba. Domba dalam kondisi baik akan mengalami penyusutan bobot badan yang lebih kecil dibandingkan dengan domba dalam kondisi kurang baik, walaupun jarak pengangkutan yang ditempuh sama. Hasil penelitian Broom et al. (1996), menyatakan bahwa domba yang mengalami pengangkutan selama 15 jam dalam keadaan terus bergerak mengalami penyusutan bobot badan sebesar 5,5%, sedangkan domba yang
5 mengalami pengangkutan selama 15 jam dalam keadaan diam atau tidak terlalu banyak bergerak mengalami penyusutan bobot badan sebesar 3,6%. Dinas Peternakan Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur (1981) melaporkan bahwa penyusutan bobot badan domba dapat mencapai 4-9% apabila jarak transportasi hanya sekitar 80 km. Apabila jarak transportasi dari suatu daerah ke tempat lainnya mencapai sekitar 200 km, maka terjadi penyusutan bobot badan sekitar 8-10%. Apabila pengangkutan dilakukan secara baik serta pemberian pakan dan minum secara teratur selama perjalanan dengan jarak 1000-1500 km, ternyata penyusutan bobot badan hanya mencapai sekitar 4-5% (Muhearn, 1968).
Selama pengangkutan ternak mengalami urinase dan defikasi lebih sering terutama pada awal perjalanan sehingga mengalami penurunan bobot badan (Shorthose dan Wythes, 1988). Dehidrasi cairan pada ternak biasanya disebabkan karena meningkatnya frekuensi urinase, pernafasan dan pengeluaran cairan melalui keringat (Ingram, 1964). Menurut Puspianah (2008), penyusutan bobot badan domba terutama disebabkan oleh lingkungan yang kurang memadai, hilangnya isi pencernaan, berkurangnya cairan tubuh dan turunnya kondisi tubuh karena interval pemberian pakan dan minum kurang teratur atau sama sekali kurang diperhatikan selama pengangkutan.
Kulit Singkong
Tanaman singkong (Manihot esculenta Crantz) termasuk ke dalam kingdom Plantae, divisi Spermathophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo
Euphorbialis, famili Euphorbiacea, genus Manihot dan spesies Manihot esculenta
Crantz. Ubi kayu atau singkong merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan tahan
terhadap kekeringan. Banyak terdapat di daerah tropik seperti Afrika, Asia dan Amerika Selatan (Bahri, 1987). Umbi pada tanaman singkong merupakan akar yang berubah bentuk fungsinya sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Umbi ini biasanya memiliki bentuk memanjang, daging umbi mengandung zat pati dan tiap tanaman dapat menghasilkan 5-10 umbi. Perkiraan kulit yang akan dihasilkan adalah ± 16% dari produksi umbi (Gushairiyanto, 2003). Produksi tanaman singkong di Indonesia secara keseluruhan mencapai 21,76 juta ton pada tahun 2008 (Basis Data Statistik Pertanian, 2009). Sehingga apabila dikonversikan akan menghasilkan kulit
6 singkong sebesar 3,48 juta ton, yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kandungan nutrisi kulit singkong bagian dalam dapat dilihat pada Tabel 1.
Pemanfaatan kulit umbi ketela pohon sebagai pakan selain hijauan untuk ternak kambing dan domba sudah dilakukan oleh beberapa peternak, namun pemanfaatannya hanya dalam jumlah yang terbatas, sebab kulit umbi ketela pohon bila diberikan dalam jumlah besar dapat menimbulkan keracunan akibat hadirnya sianida yang dapat menyebabkan kematian (Gushairiyanto, 2003). Asam sianida adalah satu bahan kimia yang paling beracun dibanding bahan racun lainnya, karena asam sianida cepat bereaksi dengan organ/ sel hewan atau manusia dan merusaknya (Yuningsih, 1991).
Sifat racun kulit umbi ketela pohon jika dimakan ternak adalah akibat terbebasnya sianida dari glukosida sianogenik yang terkandung di dalam sel kulit umbi (Gushairiyanto, 2003). Hal ini disebabkan cairan rumen domba mampu membebaskan glukosida sianogenik menjadi sianida (Bahri, 1987).
Dosis letal minimum untuk sianida yang diberikan pada domba adalah sebesar 2,5-4,5 mg HCN/ kg bobot badan, namun jika domba merumput dapat tahan pada 15-20 mg HCN/ kg bobot badan/ hari (Sudaryanto, 1987). Dalam jumlah kecil, HCN dapat dinetralkan tubuh menjadi tiosianat (Rochmy, 2009). Apabila konsumsi sianida terlalu banyak atau melebihi batas toleransi, menyebabkan kerja kelenjar tiroid akan terganggu. Hal ini akan langsung mempengaruhi pertumbuhan karena sianida merupakan saingan kelenjar tiroid dalam mengambil yodium (Sudaryanto, 1987). Bahaya lain HCN pada kesehatan adalah pada sistem pernapasan, di mana oksigen dalam darah terikat oleh senyawa HCN dan menyebabkan sesak napas (Purwantisari, 2007).
Kandungan sianida pada kulit singkong dapat diturunkan dengan beberapa cara, yaitu perendaman, pencucian, pengukusan, pengeringan, fermentasi, atau kombinasi dari beberapa perlakuan (Sudaryanto, 1992). Muchtadi (1989) menyatakan bahwa titik didih HCN adalah 26oC, oleh karena itu penyimpanan hasil tanaman pada suhu dan kelembapan yang tinggi akan mengakibatkan turunnya kadar HCN secara bertahap.
7 Rumput Brachiaria humidicola
Rumput Brachiaria humidicola merupakan rumput asli Afrika Selatan, kemudian menyebar ke daerah Fiji dan Papua New Guinea, terkenal dengan nama
Koronivia grass. Rumput Brachiaria humidicola merupakan tanaman tahunan,
perkembangan vegetatif dengan stolon yang begitu cepat sehingga bila ditanam di lapang segera membentuk hamparan (Skerman dan Rivers, 1990). Daunnya tidak berbulu dan umumnya menggulung untuk menahan penguapan air. Helai daunnya gepeng dengan panjang 12-25 cm dan lebar 5-16 mm. Panjang malai 7-12 cm. Malai terdiri dari 3-5 tandan, dengan panjang tandan 2-5 cm. Panjang spikelet kira-kira 5 mm sedangkan panjang floret 4 mm. Warna bunga ungu atau ungu kecoklatan. Jumlah kromosom yaitu 2n=72. Menurut Jayadi (1991), rumput Brachiaria
humidicola dapat ditanam secara vegetatif dengan pols, stolon atau biji. Rumput ini
mempunyai toleransi pada daerah dengan drainase kurang baik dan lebih tahan terhadap tekanan pengembalaan berat. Selain itu juga memiliki toleransi yang baik terhadap naungan dan secara kualitatif memiliki potensi yang baik sebagai hijauan pakan untuk ternak (Ginting dan Tarigan, 2006).
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Kulit Singkong dan Rumput B. humidicola
Pakan Komposisi Nutrisi (%) Bahan Kering Serat Kasar Protein Kasar Lemak Kasar Abu Kulit Singkong* 86,50 9,48 10,64 5,24 3,21 Brachiaria humidicola** 44,13 37,40 5,10 1,05 9,80
Sumber : *) Hasil Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan IPB (2004) **) Skerman dan Rivers (1990)
Kandungan nutrisi rumput Brachiaria humidicola dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karena perbedaan jenis naungan yang berpengaruh pada intensitas cahaya (Kurniawan et al., 2007), umur potong, sifat tanah dan iklim (Ginting dan Tarigan, 2006).
Konsumsi Pakan
Konsumsi pada umumnya diperhitungkan sebagai jumlah makanan yang dimakan oleh ternak, yang kandungan zat makanan di dalamnya digunakan untuk
8 mencukupi kebutuhan hidup pokok dan untuk keperluan produksi ternak tersebut (Tillman et al., 1998). Salah satu indikasi ternak mengalami cekaman akibat transportasi dapat dilihat dari perubahan konsumsi pakannya (Grandin, 1993). Pengangkutan menyebabkan penurunan konsumsi BK pakan dan peningkatan konsumsi air minum (Moss, 1982). Peningkatan konsumsi air minum ini dilakukan domba untuk menurunkan panas tubuhnya dan mengganti cairan tubuh yang hilang selama pengangkutan (Rianto, et al., 2003). Upaya ternak untuk menurunkan panas tubuh dan mengimbangi jumlah air yang keluar dari tubuh adalah dengan meningkatkan konsumsi air minum (Isroli, 1990).
Suhu lingkungan kandang dapat mempengaruhi tingkat konsumsi domba yang baru sampai di tempat tujuan. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa faktor lingkungan dapat berpengaruh langsung terhadap tingkat konsumsi pakan ternak. Apabila suhu lingkungan kandang relatif rendah maka akan merangsang peningkatan konsumsi BK pakan, sedangkan bila suhunya tinggi menyebabkan konsumsi pakan menurun karena konsumsi air minum meningkat, sehingga berakibat pada penurun konsumsi energi (Arora, 1995). Cockram et al. (2000) menyatakan dalam penelitiannya bahwa domba yang pada awalnya dipelihara di padang pegembalaan kemudian mengalami perlakuan transportasi selama 16 jam dan dimasukan ke dalam kandang, menghasilkan tingkat konsumsi pakan yang lebih sedikit dan tingkat konsumsi air minum yang lebih banyak dibandingkan domba yang sejak awal dipelihara dalam kandang. Selain faktor lingkungan, tingkat konsumsi juga dipengaruhi oleh daya palatabilitas pakan yang diberikan. Daya palatabilitas pakan dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu penampilan dan bentuk makanan, bau, rasa dan tekstur (Church dan Pond, 1988). Berdasarkan faktor nutrisinya kandungan energi pakan sangat berpengaruh terhadap rataan konsumsi harian, sedangkan kandungan protein pakan sama sekali tidak berpengaruh terhadap konsumsi harian (Mathius et al., 2003).
Lama Rekondisi
Proses pencapaian bobot badan yang menurun sampai mendapatkan bobot tubuh semula dikenal dengan istilah rekondisi (Romadhona, 2008). Kemampuan tiap individu domba untuk kembali ke bobot badan awal setelah pengangkutan tidak
9 sama, hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan selama perjalanan (Lynch et al., 1992).
Mempercepat masuknya glukosa darah kedalam otot dengan pemberian insulin akan mempercepat masa rekondisi karena glikogen yang terkuras, yang mengakibatkan penurunan bobot badan, dapat diganti dengan cepat (Romadhona, 2008). Kualitas pakan yang diberikan pada domba dapat mempengaruhi lama rekondisi. Menurut Puspianah (2008), apabila kandungan protein kasar pada pakan semakin mendekati kebutuhan protein kasar yang dibutuhkan domba maka waktu rekondisinya akan semakin cepat.
Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas bahan makanan ternak yang diberikan. Pertambahan bobot badan yang diperoleh ternak merupakan hasil zat-zat makanan yang dikonsumsi (Maryati, 2007). Parakkasi (1999) menyatakan bahwa pertambahan bobot badan harian dipengaruhi oleh konsumsi pakan. Ransum yang memiliki nilai nutrien tinggi dan tingkat palatabilitas yang baik dapat dengan cepat meningkatkan pertambahan bobot badan ternak (Hermawan, 2009). Pertambahan bobot badan domba sangat dipengaruhi oleh kandungan pakan yang diberikan, terutama kandungan protein kasarnya (Puspianah, 2008). Proses penggilingan bahan makanan biasanya memberikan peningkatan yang relatif besar dalam performa ternak untuk hijauan yang berkualitas rendah, karena partikel serat menjadi kecil (Church dan Pond, 1988).
Pertumbuhan semua hewan kambing, yang pada awalnya lambat dan meningkat dengan cepat yang kemudian lambat pada saat hewan mendekati dewasa tubuh (Ngadiyono, 1985). Domba muda mencapai 75% bobot dewasa pada umur satu tahun dan 25% lagi setelah 6 bulan kemudian yaitu pada umur 18 bulan dengan pakan yang sesuai kebutuhannya (Maryati, 2007).
Konversi Pakan
Konversi pakan adalah total pakan yang dikonsumsi untuk menaikan bobot tubuh satu satuan (Anastasia, 2007). Konversi menunjukkan kemampuan ternak dalam mengubah pakan yang dikonsumsi menjadi daging. Semakin rendah nilai
10 konversi maka semakin tinggi kemampuan ternak mengubah pakan menjadi daging (Hermawan, 2009). Konversi pakan ditentukan berdasarkan beberapa faktor yaitu suhu lingkungan, potensi genetik, nutrisi pakan, kandungan energi dan penyakit (Parakkasi, 1999). Maryati (2007) menambahkan konversi pakan juga dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi, bobot badan, gerak atau aktivitas tubuh, musim dan suhu dalam kandang dan lingkungan, potensi genetik, nutrisi pakan, kandungan energi dan penyakit. Nilai standar konversi pakan domba nemurut NRC (1985) adalah bernilai empat.
MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan selama tiga minggu, yaitu pada tanggal 10 Februari hingga 1 Maret 2009. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Kandang B). Analisis Proksimat pakan yang digunakan, dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan dan di Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Analisis asam sianida (HCN) kulit singkong dilakukan di Balai Besar Industri Agro, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Departemen Perindustrian RI, Bogor.
Materi
Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 12 ekor domba jantan lokal yang berumur kurang dari satu tahun dengan rata-rata bobot badan 16,38 ± 0,92 kg. Domba diperoleh dari Pasar Hewan Cianjur, Jawa Barat.
Gambar 1. Contoh Domba yang Digunakan dalam Penelitian. Pakan dan Minum
Pakan yang digunakan adalah rumput Brachiaria humidicola yang diperoleh dari padang rumput laboratorium lapang ruminansia kecil sedangkan kulit singkong diperoleh dari industri rumah tangga keripik singkong di kompleks Pesantren Darul
12 Kampus IPB, Darmaga, Bogor. Rumput Brachiaria humidicola yang diberikan, sebelumnya diangin-anginkan terlebih dahulu supaya rumput tidak terlalu basah saat diberikan pada domba. Kandungan nutrien rumput Brachiaria humidicola dan kulit singkong yang digunakan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Nutrisi Pakan yang Digunakan Selama Penelitian
Jenis sampel BK ABU PK SK LK BetN TDN GE HCN --- (%) --- (Kcal) (mg/ kg pakan) B. humidicola 17,22 1,31 1,53 4,67 0,40 9,21 - 100 7,65 8,94 27,28 2,34 53,79 43,88 Klt. Singkong 25,00 0,74 2,51 2,52 0,19 19,04 - 922 100 3,05 10,05 10,10 0,73 76,08 82,42 3552 440
Sumber : Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor. 2009.
Keterangan : BK : Bahan Kering BetN : Bahan Ekstrak tanpa Nitrogen PK : Protein Kasar TDN : Total Digestible Nutrient
SK : Serat Kasar GE : Gross Energy
LK : Lemak Kasar HCN : Asam Sianida
(a) (b)
Gambar 2. (a) Rumput Brachiaria humidicola dan (b) Kulit Singkong Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kandang individu dengan ukuran 120 x 80 x 120 cm. Dindingnya terbuat dari tembok semen dengan atap tipe monitor berbahan asbes dan lantainya terbuat dari kayu. Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum. Peralatan yang digunakan antara lain tempat pakan untuk rumput dan kulit singkong serta tempat air minum dari ember plastik kapasitas tiga liter, thermometer, timbangan pegas merk “THREE
GOATS” kapasitas 50 kg, ban bekas, tambang, timbangan duduk merk "FIVE GOATS” kapasitas 5 kg, sapu, serokan, keranjang rumput, karung, suntikan dan
13 obat-obatan. Kandang dan beberapa peralatan yang digunakan selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.
(b)
(a) (c)
(d)
Gambar 3. (a) Timbangan Pakan, (b) Kandang Individu, (c) Timbangan Bobot Badan dan (d) Ember Pakan.
Prosedur
Persiapan
Bahan, peralatan dan kandang dipersiapkan sebelum penelitian dilakukan. Domba ekor tipis jantan sebanyak 12 ekor dipilih dengan rata-rata bobot badan 16,38 ± 0,92 kg dan berumur di bawah satu tahun. Domba dibeli dan langsung ditimbang ketika masih berada di Pasar Hewan Cianjur. Penimbangan tersebut dihitung sebagai penimbangan awal sebelum pengangkutan. Kulit singkong yang digunakan untuk pakan domba sebelumnya dicuci dan dibersihkan dari kulit paling luar sehingga diperoleh kulit singkong bagian dalam yang berwarna putih. Sebelum diberikan pada domba, kulit singkong dilayukan terlebih dahulu selama kurang lebih 12 jam untuk mengurangi kadar HCN dan memperpanjang masa simpan, kemudian dipotong- potong menjadi ukuran kecil.
14 Transportasi Ternak
Domba diangkut dengan menggunakan mobil pick up merk suzuki carry 1,5 yang pada bagian baknya bisa dibuat dua tingkat, seperti yang terlihat pada Gambar 4. Bak mobil mempunyai atap dan pagar yang terbuat dari besi yang berfungsi sebagai penahan domba agar tidak kabur dan pelindung dari terik matahari dan hujan. Luasan bak mobil pick up yang digunakan untuk mengangkut 12 ekor domba penelitian adalah ± 1,6 m2, apabila dirata-ratakan maka setiap ekor domba akan menempati luas 0,135 m2. Pengangkutan dilakukan siang hari dan menempuh jarak ± 108 km selama ± 6,5 jam. Selama diperjalanan domba berada dalam posisi duduk dan tidak diberi makan maupun minum.
(a) (b)
Gambar 4. (a) Mobil Pengangkut Domba dan (b) Kondisi Domba Selama Pengangkutan.
Pelaksanaan Penelitian
Domba dari Cianjur yang baru tiba di Kandang B langsung ditimbang kembali untuk mengetahui bobot badan setelah pengangkutan sehingga dapat diketahui penyusutan bobot badannya. Domba ditempatkan secara acak ke dalam kandang individu berdasarkan perlakuannya, kemudian dilakukan pemandian, pemberian obat cacing, penyuntikan vitamin B kompleks dan antibiotik keesokan harinya. Penimbangan domba dilakukan setiap hari pada pagi hari sebelum pemberian pakan, dengan cara menggantung ternak dengan ban bekas yang dimodifikasi untuk menahan ternak selama ditimbang.
15 Pemeliharaan
Pemeliharaan domba dilakukan selama tiga minggu, mulai 10 Februari hingga 1 Maret 2009. Selama penelitian berlangsung domba dipelihara dalam kandang individu dengan pemberian pakan berupa rumput Brachiaria humidicola
dan kulit singkong sesuai dengan perlakuan. Domba diberikan pakan berdasarkan kebutuhan total bahan kering yaitu 3,5% dari bobot badan. Domba diberi pakan tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari (06.00-07.00 WIB), siang hari (12.00-13.00 WIB) dan sore hari (16.00-17.00 WIB). Pemberian air minum dilakukan secara ad-libitum.
Pemberian kulit singkong diberikan dalam wadah plastik berupa ember, sedangkan rumput diberikan dalam bentuk segar. Pemberian kulit singkong pada domba yang mengalami perlakuan P1, P2, dan P3 dilakukan pada pagi hari (didahulukan) dan pemberian rumput dilakukan pada siang dan sore hari. Kulit singkong yang diberikan terlebih dahulu ini dimaksudkan karena kulit singkong tergolong jenis pakan baru dan memiliki sifat palatabilitas yang rendah, sehingga tidak terlalu disukai oleh domba. Selanjutnya sisa pakan ditimbang keesokan harinya, sebelum pemberian pakan di pagi hari. Setiap hari dilakukan penimbangan domba, penimbangan sisa pakan, pemberian pakan, pembersihan kandang dan alat, serta pemeriksaan kesehatan ternak.
Akhir Pemeliharaan
Penelitian ini berakhir ketika masing-masing domba jantan sudah mencapai bobot badan semula, yaitu bobot badan awal yang diperoleh pada saat domba akan diangkut dari Pasar Hewan Cianjur. Hal inilah yang dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui lama rekondisi domba ekor tipis jantan dengan pemberian rumput
Brachiaria humidicola dan kulit singkong pada level yang berbeda.
Rancangan dan Analisis Data Perlakuan
Penelitian ini menggunakan empat perlakuan pemberian pakan dengan tiga ulangan yaitu:
P0 = 100% rumput Brachiaria humidicola dan 0% kulit singkong; P1 = 75% rumput Brachiaria humidicola dan 25% kulit singkong; P2 = 50% rumput Brachiaria humidicola dan 50% kulit singkong;
16 P3 = 25% rumput Brachiaria humidicola dan 75% kulit singkong.
Model
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap. Faktor perlakuannya adalah pemberian pakan pada taraf yang berbeda. Masing–masing taraf perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Model rancangan menurut Mattjik dan Sumertajaya ( 2002 ) adalah sebagai berikut :
Yijk = µ + αi+ εij
Yijk = Nilai pengamatan dari perlakuan ke-i ulangan ke-j µ = Rataan umum
αi =Pengaruh persentase ransum level ke-i (P0, P1 , P2 , P3 ) εij = Pengaruh galat percobaan perlakuan ke-i pada ulangan ke-j
i = Perlakuan ke-i (0, 1, 2 dan 3) j = Ulangan ke-j (1, 2 dan 3)
Menurut Aunuddin (2005), dalam kaitan dengan pendugaan dan uji hipotesis maka diperlukan beberapa asumsi tentang ε, yaitu berupa:
a) ε bersifat bebas terhadap sesamanya, b) Ragam ε homogen atau Var (ε) = σ2, dan c) Pola sebaran dari εadalah N (0, σ2).
Kehomogenan Ragam. Uji Bartlett sering digunakan untuk memeriksa kehomogenan ragam dalam bentuk pengujian hipotesis dengan HN bahwa ragam
antara perlakuan bersifat homogen (σ2
1= . . = σ2j = . . = σ2).
Uji Kenormalan. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap pola sisaan dapat kita lakukan dengan grafik peluang. Grafik peluang adalah alternatif dari histogram yang dapat digunakan untuk menentukan bentuk sebaran, nilai tengah maupun ragam dari data. Dalam grafik tersebut skala sumbu vertikalnya telah disusun sedemikian rupa sehingga sebaran komulatif untuk fungsi peluang tertentu akan membentuk pola garis lurus. Uji kenormalan yang digunakan adalah Uji Kolmogorov-Smirnov.
17 Kebebasan Galat. Peluang bahwa galat dari salah satu pengamatan yang mempunyai nilai tertentu harus tidak tergantung dari nilai-nilai galat untuk pengamatan yang lain.
Jika asumsi pokok tidak terpenuhi, salah satu jalannya adalah mentransformasi data. Transformasi data adalah usaha untuk merubah data dari suatu skala ke skala yang lain. Metode transformasi yang populer digunakan adalah Metode Box-Cox, yaitu dengan pemangkatan yang berupa:
untuk p ≠ 0 untuk p = 0
Parameter p dapat diperoleh secara empiris dari data, Box dan Cox menggunakan metode kemungkinan maksimal untuk menduga nilai tersebut.
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dari pengaruh pemberian pakan rumput Brachiaria
humidicola dan kulit singkong pada level yang berbeda terhadap performa domba
pasca transportasi meliputi lama rekondisi, konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan, serta penyusutan bobot badan sebagai data pendukung.