Tanaman Salak termasuk dalam suku Palmae (araceae) yang tumbuh berumpun. Batangnya hampir tidak kelihatan karena tertutup pelepah daun yang tersusun rapat dan berduri. Pada tanaman yang sudah tua, batangnya akan melata atau menjulur kesamping dan dapat bertunas. Pada umumnya tunas ini dibiarkan hidup menjadi pokok baru (Soetomo, 2001).
Daun majemuk menyirip, helaian daunnya panjang, pelepah dan tangkainya berduri. Bentuk daun seperti pedang, pangkal daun menyempit, cembung, bersegmen banyak dan tidak sama. Panjang daun 4 – 7 m (Tjahjadi, 1988).
Tanaman salak termasuk tanaman berumah dua (dioseus), karangan bunga terletak dalam tongkol majemuk yang muncul diketiak daun, bertangkai, mula-mula tertutup oleh seludang, yang belakangan mengering dan mengurai menjadi serupa serabut. Tongkol bunga jantan 50 – 100 cm panjangnya, terdiri atas 4-12 bulir silindris yang masing-masing panjangnya antara 7-15 cm dengan banyak bunga kemerahan terletak diketiak sisik-sisik yang tersususn rapat. Tongkol bunga betina 20-30 cm, bertangkai panjang terdiri atas 1-3 bulir yang panjangnya mencapai 10 cm (Tjahjadi, 1988).
Buah tipe buah batu berbentuk segitiga agak bulat atau bulat telur terbalik, runcing dipangkalnya dan membulat diujungnya, panjangnya 2,5-10 cm terbungkus oleh sisik-sisik berwarna kuning kecoklatan sampai coklat merah mengkilap yang tersusun seperti genting, dengan banyak duri kecil yang mudah putus di ujung masing-masing sisik (Steenis,1981). Dinding buah tengah tebal berdaging, kuning krem sampai keputihan, berasa manis, masam, atau sepat. Biji 1—3 butir, coklat sampai kehitaman, keras, panjangnya 2-3 cm ( Verheij dkk., 1997).
Buah salak mengandung nilai gizi tinggi bila dibandingkan dengan pisang, nanas, dan pepaya. Dalam setiap 100 gram buah salak nilai gijinya , kalori 77 kal, protein 0,5 g, karbohidrat 20,9 g, kalsium 28 mg, fosfor 18 mg, besi 4,2 mg ,Vitamin B1 0,04 mg, Vitamin C 2 mg, air 78,0 mg, berat bahan yang dapat dimakan 50 % (Soetomo, 2001).
Tanaman salak sesuai bila ditanam didaerah berzona iklim dengan jumlah bulan basah 11-12 bulan/tahun, jumlah bulan basah 8-10 bulan/tahun dan jumlah bulan basah 5-7 bulan/tahun. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100 mm sudah tergolong dalam bulan basah, serta membutuhkan tingkat kebasahan/ kelembaban tinggi. Tanaman salak tidak tahan terhadap sinar matahari penuh (100%), tetapi cukup 50-70% karena itu diperlukan adanya tanaman peneduh. Suhu yang paling baik antara 20-300 C. Salak membutuhkan kelembaban tinggi tetapi tidak tahan terhadap genangan air (BPP IPTEK, 2010).
Untuk tahap-tahap awal karena tanaman salak tidak dapat terkena langsung sinar matahari, maka biasanya dibuatkan tanaman pelindung yang dapat dilakukan satu tahun sebelum tanaman salak ditanam. Untuk jenis tanaman pelindung ini dapat berbentuk lamtoro, dadap, turi, karet atau tanaman pelindung lainnya ( Plantus, 2009).
Tanaman salak menyukai tanah yang subur, gembur dan lembab. Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk budidaya salak adalah 4,5-7,5. Kebun salak tidak tahan terhadap genangan air. Untuk pertumbuhannya membutuhkan kelembaban tinggi. Tanaman salak tumbuh pada ketinggian tempat 100 – 500 m dpl (BPP IPTEK, 2010).
Buah salak dipanen pada saat umur buah mencapai 6 bulan sejak terjadinya penyerbukan. Saat yang tepat untuk memanen adalah menjelang buah matang pohon, buah memiliki rasa enak dan aroma yang khas.
Salak yang telah matang, kulitnya tampak bersih, mengkilat, dan apabila dipegang tidak terasa kasar. Ujung kulit yang membungkus tali pusat atau yang menempel pada tongkol, terasa lunak atau lemas jika ditekan. Buah salak dipanen dengan cara memotong pangkal tangkai dompol dengan pisau atau sabit yang ujungnya bengkok membentuk kait yang tajam (Purnomo, 2001).
Dalam budidaya tanaman salak, hasil yang dapat dicapai dalam satu musim tanam adalah 15 ton/hektar , sedang masa panennya terdapat empat musim : (1). Panen raya pada bulan November, Desember, dan Januari (2) panen sedang pada bulan Mei, Juni dan Juli (3) panen kecil pada bulan Pebruari, Maret, dan April (4) masa kosong/istirahat pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober (BPP IPTEK, 2010).
Sebagai tanaman asli Indonesia, salak mempunyai masa depan yang cerah untuk dikembangkan baik untuk memenuhi pasaran lokal ataupun pasar luar negeri. Di Indonesia produksi buah ini mengalami peningkatan yang tajam dari tahun 1983-1987. Bila ditahun 1983 produksinya hanya 52,014 ton dan menurun sedikit ditahun 1984 menjadi 46,456, maka pada tahun-tahun berikutnya produksi buah salak melonjak dengan pesat. Produksi tahun 1987 tiga kali lipat lebih banyak dari produksi tahun 1983. Akan tetapi, produksi pada tahun 1988 dan 1989 mengalami penurunan (BPP IPTEK, 2010).
Tapanuli Selatan Sebagai Sentra Komiditi Salak
Daerah Tapanuli Selatan mempunyai luas 12.261.55 km2, kabupaten ini dilintasi oleh bukit barisan sehingga seluruh penampakannya terlihat bukit dimana-mana. Sebelah Utara Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Madina, tepat di tengah wilayahnya terdapat Kota Padangsidimpuan yang seluruhnya dikelilingi oleh Kabupaten ini (Pemkab Tapsel, 2011). Peta Wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan seperti terlihat pada Lampiran 52 .
Areal produksi salak di Tapanuli Sealatan terdapat di Kecamatan Angkola Barat, Kecamatan Angkola Selatan dan Kecamatan Angkola Timur. Luas pertanaman salak 13.928 hektar dengan produksi 236.793 ton/tahun. Areal pengembangan salak masih tersedia 15.000 hektar. Demikian pula pertambahan luas tanam dan produksi masih positif yang berarti bahwa potensi dan kecendrungan terus meningkat (Pemkab Tapsel, 2011).
Pengaruh Tanah Terhadap Pertumbuhan dan hasil tanaman
Tanah merupakan medium alam tempat tumbuhnya tumbuhan dan tanaman yang tersusun dari bahan- bahan padat, cair dan gas. Untuk kehidupan tanaman, tanah mempunyai fungsi tempat berdiri tegak dan bertumpunya tanaman, sebagai medium tumbuh yang menyediakan hara dan pertukaran hara antara tanaman dengan tanah serta sebagai penyediaan dan gudangnya air bagi tanaman.
Secara umum pertumbuhan dan hasil tanaman ditentukan oleh status hara dan lingkungan komoditas itu dikembangkan. Agroekosistem atau faktor biofisik seperti tanah dan iklim menjadi peluang atau kendala dalam pembangunan komoditas tanaman yang dibudidayakan (Efendi dkk., 2010). Tanah dinyatakan
subur bila dapat menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan seimbang serta mempunyai aerasi yang optimum(Jumin, 2002).
Kesuburan tanah sebagai status tanah yang menunjukkan kapasitas untuk memasok unsur-unsur esensial dalam jumlah yang mencukupi untuk pertumbuhan tanaman tanpa adanya konsentrasi meracun dari unsur manapun. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa tanah yang subur mempunyai kemampuan memasok unsur hara dalam jumlah yang cukup dan berimbang kepada tanaman, sehingga tanaman tumbuh dan berkembang dengan sehat dan berproduksi dengan potensinya (Munawar, 2011).
Nitrogen
Nitrogen adalah unsur yang diperlukan untuk membentuk senyawa penting dalam sel, termasuk protein, DNA dan RNA. Tanaman harus mengekstraksi kebutuhan nitrogennya dari dalam tanah. Sumber nitrogen yang terdapat dalam tanah, makin lama makin tidak mencukupi kebutuhan tanaman, sehingga perlu diberikan pupuk sintetik yang merupakan sumber nitrogen untuk mempertinggi produksi.
Keberadaan unsur nitrogen juga sangat penting terutama kaitannya dengan pembentukan klorofil. Klorofil dinilai sebagai “mesin” tumbuhan karena mampu mensintesis karbohidrat yang akan menunjang pertumbuhan tanaman. Keberadaan nitrogen dalam struktur tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa paktor terutama ketersediaan air, unsur hara dalam tanah terutama nitrogen. Intensitas cahaya berpengaruh terhadap aktifitas fotosintesis. Untuk membentuk klorofil, dibutuhkan ATP (energi) yang cukup tinggi dan untuk assimilasi CO2 juga diperlukan enzim yang sebagian besar berupa protein (Suharno dkk., 2007).
Fosfor
Fosfor (P) adalah unsur hara esensial penyusun beberapa senyawa kunci dan sebagai katalis reaksi-reaksi biokimia penting bagi tanaman. Ia berperan dalam menangkap dan mengubah energi matahari menjadi senyawa-senyawa yang sangat berguna bagi tanaman. Itulah peran vital P didalam nutrisi tanaman agar tanaman dapat tumbuh, berkembang, dan bereproduksi dengan normal.
Didalam tanah, fosfat dapat berbentuk organik dan anorganik yang merupakan sumber fosfat penting bagi tanaman. Fosfat organik berasal dari bahan
organik, sedangkan fosfat anorganik berasal dari mineral-mineral yang mengandung fosfat. Pelarutan senyawa fosfat oleh mikroorganisme pelarut fosfat berlangsung secara kimia dan biologis, baik untuk bentuk fosfat organik maupun anorganik. Mikroorganisme pelarut fosfat membutuhkan adanya fosfat dalam bentuk tersedia dalam tanah untuk pertumbuhannya.
Kalium
Didalam tanaman unsur hara K dan P ada saling ketergantungan. Unsur K berfungsi sebagai media transportasi yang membawa hara-hara dari akar termasuk hara P kedaun dan mentranslokasi asimilat dari daun keseluruh jaringan tanaman. Kurangnya hara K dalam tanaman dapat menghambat proses transportasi dalam tanaman. Oleh karena itu, agar proses transportasi unsur hara maupun assimilat dalam tanaman dapat berlangsung optimal maka unsur K dalam tanaman harus optimal (Taufik, 2002).
Bersama sama dengan unsur N dan P, Kalium (K) adalah unsur hara esensial primer bagi tanaman yang diserap oleh tanaman dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan unsur-unsur hara lainnya, kecuali N. Meskipun kandungan total K di dalam tanah biasanya beberapa kali lebih tinggi daripada yang diserap oleh tanaman selama musim tanam, seringkali hanya sebagian kecil K tanah yang tersedia bagi tanaman.
Bentuk kalium tersedia dalam tanah untuk diserap tanaman adalah K dapat ditukar (Kdd) dan K larutan (K+), serta sebagian kecil K tidak dapat ditukar. Tanaman menyerap K dari tanah dalam bentuk ion K+ (Silahooy, 2008).
Magnesium
Hara makro magnesium (Mg) merupakan unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan tanaman dalam pembentukan hijau daun atau klorofil dan sebagai kofaktor hampir pada seluruh enzim dalam proses metabolisme seperti proses fotosintesa, pembentukan sel, pembentukan protein, pembentukan pati, transper energi serta mengatur pembagian dan distribusi karbohidrat keselurruh jaringan tanaman.
C- Organik
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman.
Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Defenisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya , nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik. Bila C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk organik maka diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik. Pembenah tanah atau soil ameliorant menurut SK Mentan adalah bahan-bahan sintesis atau alami, organik atau mineral (Simanungkalit dkk., 2006).
Bahan organik yang berasal dari sisa tanaman mengandung bermacam-macam unsur hara yang dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman jika telah mengalami dekomposisi dan mineralisasi. Sisa tanaman ini memiliki kandungan unsur hara yang berbeda kualitasnya tergantung pada tingkat kemudahan dekomposisi serta mineralisasinya. Unsur yang terkandung dalam sisa bahan tanaman baru bisa dimanfaatkan kembali oleh tanaman apabila telah mengalami dekomposisi dan mineralisai.
pH
pH didefinisikan sebagai kemasaman atau kebasaan relatif suatu bahan. Skala pH mencakup dari nilai nol (0) hingga 14. Nilai pH 7 dikatakan netral. Dibawah pH 7 dikatakan asam, sedangkan diatas 7 dikatakan basa. Asam menurut teori adalah suatu bahan yang cenderung untuk memberi proton (H+) kebeberapa senyawa lain, demikian sebaliknya apabila basa adalah suatu bahan yang cenderung menerimanya.
Pengaruh utama pH didalam tanah adalah pada ketersediaan dan sifat meracun unsur seperti Fe (besi) , Al (Aluminium), Mn (mangan), B (boron), Cu (seng). Didalam tanah pH sangat penting dalam menentukan aktifitas dan dominasi mikroorganisme dalam hubungannya dengan proses-proses yang sangat erat hubungannya dengan mikroorganisme seperti siklus unsur hara ( nitrifikasi, denitrifikasi) penyakit tanaman, dekomposisi dan sintesis senyawa kimia organik
dan transport gas ke atmosfer. pH tanah sangat menentukan pertumbuhan tanaman, pH tanah yang optimal bagi pertumbuhan tanaman ialah antara 5,6-6,0. Jika pH tanah lebih rendah dari 5,6 pada umumnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat akibat rendahnya ketersediaan unsur hara penting seperti Pospor dan Nitrogen. Bila pH lebih rendah dari 4,0 pada umumnya terjadi kenaikan Al 3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak sistim perakaran terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.
Menurut Munawar (2011) banyak unsur dalam tanah mengalami perubahan bentuk akibat perubahan reaksi di dalam tanah. Hal ini terkait dengan perubahan tingkat kelarutan senyawa dari unsur-unsur tersebut dalam tanah dengan pH lingkungan dalam tanah. Oleh karena itu, pH tanah bertanggung jawab terhadap ketersediaan hara bagi tanaman.
Tanah sebagai tempat atau media tumbuh tanaman merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan proses produksi tanaman. Meskipun faktor iklim sangat mendukung dan teknik budidaya telah dilakukan dengan baik. Selain itu, tanah harus memiliki sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, tidak berpadas, dan memiliki solum tanah yang dalam.
Sifat kimia tanah yang harus diperhatikan adalah derajat keasaman (pH) tanah dan kadar garam (salinitas). Selain berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman, derajat keasaman tanah berpengaruh terhadap kehidupan organisme tanah yang menentukan kesuburan tanah dan ketersediaan unsur hara tertentu (Cahyono, 2003).
Pengaruh Iklim Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Secara umum bentuk permukaan bumi mempunyai perbedaan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Ketinggian tempat atau elevasi adalah ketinggian suatu tempat terhadap daerah sekitarnya dari atas permukaan laut. Menurut Soetrisno (1988) iklim banyak diubah oleh ketinggian tempat. Bagian-bagian yang lebih tinggi dari suatu daerah umumnya lebih banyak kena pasir daripada bagian-bagian yang lebih rendah. Pada elevasi-elevasi yang lebih tinggi radiasi matahari selama cuaca terang adalah lebih terik daripada elevasi-elevasi yang lebih rendah. Angin yang lebih keras meniup pada elevasi-elevasi yang tinggi daripada elevasi-elevasi yang lebih rendah. Temperatur tanah menurun dengan meningkatnya ketinggian.
Atmosfir kurang rapat pada elevasi-elevasi yang lebih tinggi karena itu kurang dapat mengabsorbsi dan memegang panas. Ketinggian tempat mempengaruhi perubahan suhu udara. Semakin tinggi suatu tempat, misalnya pegunungan, semakin rendah suhu udaranya atau udaranya semakin dingin. Semakin rendah daerahnya semakin tinggi suhu udaranya atau udaranya semakin panas.Suhu dapat dihitung menggunakan rumus Braak (1928) : 26,3oC (0,01 x elevasi dalam meter x 0,6oC). Ketinggian tempat dari permukaan laut juga sangat menentukan pembungaan tanaman.
Faktor lingkungan akan mempengaruhi proses-proses fhisiologi dalam tanaman. Semua proses fhisiologi akan dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses akan tergantung dengan cahaya. Suhu optimum diperlukan tanaman agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh tanaman. Suhu yang terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman bahkan akan dapat mengakibatkan kematian bagi tanaman, demikian pula sebaliknya suhu yang terlalu rendah. Suhu berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif, induksi bunga, differensiasi pembungaan (inflorescence), mekar bunga, munculnya serbuk sari, pembentukan benih dan pemasakan benih (Verne, 2010).
Pengukuran suhu udara hanya memperoleh satu nilai yang menyatakan nilai rata-rata suhu atmosfer. Secara fisis suhu udara dapat didefenisikan sebagai tingkat gerakan molekul benda, makin cepat gerakan molekul, makin tinggi suhunya. Suhu juga dapat didefenisikan sebagai tingkat panas suatu benda. Panas bergerak dari satu benda yang mempunyai suhu tinggi kebenda dengan suhu rendah (Fitter dkk.,.1991).
Menurut Puturuhu, dkk (2011) dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa perbedaan suhu pada titik pengamatan ditiap satuan lahan merupakan pengaruh dari perbedaan ketinggian, karena setiap kenaikan 100 m pada tofografi, suhunya meningkat pula sebesar 10C.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Suhu mempengaruhi beberapa proses fisiologis penting yaitu :
1. Membuka dan menutupnya stomata 2. Transpirasi
3. Penyerapan air dan nutrisi (unsur hara) 4. Fotosintesis
5. Resfirasi 6. Kinerja enzim 7. Cita rasa tanaman
8. Pembentukan Primordia bunga
Peningkatan suhu sampai titik optimum akan diikuti oleh peningkatan proses-proses tersebut dan setelah melewati titik optimum proses tersebut mulai dihambat baik secara fisik maupun kimia.
Cahaya merupakan sumber tenaga bagi tanaman. Cahaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terbuka dan tertutup stomata. Menurunnya intensitas cahaya akan mempengaruhi pembukaan stomata, sehingga aktifitas fotosintesa akan menurun. Dengan demikian, fotosintat yang dihasilkan menjadi berkurang, ini akan tercermin dari rendahnya produksi tanaman (Asadi, 1991)
Efek tidak langsung dari bertambahnya ketinggian terhadap pohon-pohon sebagai individu adalah pertumbuhan tinggi tanaman menurun secara teratur. Riap total lambat laun akan menurun, waktu pengembangan diperpanjang,yaitu pohon memerlukan waktu lebih lama untuk menjadi dewasa, perkembangan tajuk lambat laun menjadi lebih rendah dan lebih mendekati tanah, proporsi cabang-cabang dan ranting-ranting meningkat (Verne, 2010).
Pengaruh Tanaman Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Lingkungan tumbuh sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Interaksi antara varietas dengan lingkungan dapat berakibat baik terhadap pertumbuhan dan hasil tetapi dapat pula berakibat sebaliknya.
Peningkatan hasil tanaman mempunyai hubungan yang positif dengan peningkatan pertumbuhan relatif, hasil bersih asimilasi, ratio luas daun, berat daun spesifik dan hasil bersih fotosintesis perunit daun. Dengan meningkatnya potensi komponen tersebut, dapat diharapkan hasil tanaman juga meningkat.
Pertumbuhan relatif dan hasil bersih fotosintesa perunit daun sangat ditentukan oleh jumlah populasi tanaman tiap luas lahan. Hal ini berhubungan erat dengan penangkapan dan pengikatan energi surya sebagai masukan energi dan ketersediaan hara dan air dalam tanah (Jumin, 2002)
METODE PENELITIAN