• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

9. Tinjauan tentang Instrumen Musik Tradisional

a. Definisi Instrumen Musik Tradisional

Musik daerah atau musik tradisional adalah musik yang lahir dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Ciri khas pada jenis musik ini teletak pada isi lagu dan instrumen (alat musiknya). Hampir diseluruh wilayah Indonesia mempunyai seni musik tradisional yang khas. Keunikan tersebut bisa dilihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/ organologi instrumen musiknya (Agnesalena. http://tulisanbebas.blog.com/wp-includes/css/admin- bar.css?ver=20110411).

Pengertian Instrumen berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:

1) alat yg dipakai untuk mengerjakan sesuatu (seperti alat yang dipakai oleh pekerja teknik, alat-alat kedokteran, optik, dan kimia); perkakas;

2) sarana penelitian (berupa seperangkat tes dan sebagainya) untuk mengumpulkan data sbg bahan pengolahan;

3) alat-alat musik (seperti piano, biola, gitar, suling, trompet); 4) orang yang dipakai sebagai alat (diperalat) orang lain (pihak lain);

5) dokumen resmi seperti akta, surat obligasi (Anonim.

http://kamusbahasaindonesia.org/instrumen).

Dari pengertian instrumen tersebut nampak kata instrumen memiliki pengertian dalam berbagai hal dan bidang, sehingga penulis membatasi pengertian instrumen dalam penulisan hukum ini adalah instrumen sebagai alat-alat musik.

Pengertian musik adalah salah satu media ungkapan kesenian, musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya. Di dalam musik terkandung nilai dan norma-norma yang menjadi bagian dari proses enkulturasi budaya, baik dalam bentuk formal maupun informal. Musik itu sendiri memiliki bentuk yang khas, baik dari sudut struktual maupun jenisnya dalam kebudayaan. Demikian juga yang terjadi pada musik dalam kebudayaan masyarakat melayu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602) Musik adalah:

“ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi- bunyi itu)”.

Pengertian Musik Tradisional adalah musik yang mempunyai latar belakang budaya. musik tradisional adalah musik daerah, karena pada kenyataannya di dunia ini mempunyai banyak budaya dari berbagai daerah yang berbeda. Musik tradisional mengangkat budaya dari berbagai daerah tersebut sebagai tema, maka istilah musik tradisional lebih sering di sebut orang dengan musik daerah.

Menurut pendapat Julius (2009: 57) musik daerah atau musik tradisional adalah musik yang lahir dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Ciri khas pada jenis musik ini teletak pada isi lagu dan instrumen (alat musiknya). Musik tradisi memiliki karakteristik khas, yakni syair dan melodinya menggunakan bahasa dan gaya daerah setempat. Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Papua hingga Aceh. Dari sekian banyaknya pulau beserta dengan masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang. Seni tradisi yang merupakan identitas, jati diri, media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.

Pengertian tradisional berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun- temurun (Anonim. http://kamusbahasaindonesia.org/tradisional).

Penulis menyimpulkan bahwa pengertian Instrumen musik tradisional adalah suatu alat musik yang dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan musik atau suara yang bersumber dari tradisi/ kebudayaan masyarakat setempat.

b. Jenis-Jenis Instrumen Musik Tradisional 1) Instrumen Musik Perkusi

Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah, Gamelan, Arumba, Kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe dan lain sebagainya.

2) Instrumen Musik Petik

Instrumen musik petik menghasilkan suara ketika senar digetarkan melalui dipetik. Tinggi rendah nada dihasilkan dari panjang pendeknya dawai. Sebagai contoh Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerah Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai Kecapi adalah siter dari daerah Jawa tengah.

3) Instrumen Musik Gesek

Instrumen musik gesek menghasilkan suara ketika dawai digesek. Seperti alat musik petik, tinggi rendah nada tergantung panjang dan pendek dawai. Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebab terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa, rebab jenis ini dapat dijumpai di bali, Jawa dan kalimantan selatan.

4) Instrumen Musik Tiup

Instrumen musik tiup menghasilkan suara sewaktu suatu kolom udara didalamnya digetarkan. Tinggi rendah nada ditentukan oleh frekuensi gelombang yang dihasilkan terkait dengan panjang

kolom udara dan bentuk instrumen, sedangkan timbre dipengaruhi oleh bahan dasar, konstruksi instrumen dan cara menghasilkannya. Contoh alat musik ini adalah trompet dan suling. Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu. hampir semua daerah di indonesia dapat dijumpai alat musik ini. Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di sumatera utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40-100 cm dengan garis tengah 2 cm. 5) Instrumen Musik Getar

Instrumen Musik getar adalah instrumen musik di mana cara memainkan dengan cara menggetarkan atau menggoyangkan alat musik tersebut sehingga menimbulkan suara atau bunyi. Sebagai contoh instrumen musik ini adalah Angklung.

10. Tinjauan tentang Instrumen Musik Tradisional Angklung

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik Angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog. (Anonim. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Angklung≈ action=edit)

a. Sejarah Instrumen Musik Tradisional Angklung

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut Angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik Angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari

ukuran kecil hingga besar. Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung Gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau.

Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur. Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi Angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan Angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas Angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak-anak pada waktu itu. Asal usul terciptanya musik bambu, seperti Angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya.

Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama disawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama Angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan-aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitem beyan, mengawali

menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan Angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, Angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan Angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

b. Jenis-Jenis Instrumen Musik Tradisional Angklung

1) Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh Angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup Angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun Angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) Angklung setelah dipakai.

2) Angklung Dogdog Lojor

Kesenian Dogdog Lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan Dogdog Lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan Angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah- pindah sesuai petunjuk gaib. Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbukakan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, Dogdog Lojor

telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk

memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian Dogdog Lojor adalah 2 buah Dogdog Lojor dan 4 buah Angklung besar. Keempat buah Angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan Gonggong, kemudian Panembal, Kingking, dan Inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

3) Angklung Gubrag

Angklung Gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi),

ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung). Dalam mitosnya Angklung Gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

4) Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan Angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian

Badeng (Anonim. http://id.wikipedia.org/w/index.

php?title=Angklung≈action=edit).

c. Sejarah Masuknya Instrumen Musik Tradisional Angklung di Malaysia. Alunan bunyi Angklung di Malaysia mulai terdengar sejak kedatangan masyarakat Ponorogo (Indonesia) membawa kesenian Reog, dimana set gamelan yang mengiringinya adalah terdiri dari 2 Angklung, kendang, sebuah saron, terompet, kempul dan gong. Mereka adalah kaum imigran yang didatangkan ke Malaya pada tahun 1930-an dan bekerja diperkebunan karet atau ladang kelapa sawit. Selain dari pada itu ada juga diantara mereka yang kemudian datang secara bersendirian atau mungkin sebelumnya, telah datang membuka ladang-ladang baru. Maka untuk keperluan itu mereka juga membuat irigasi atau dalam bahasa Malaysia dikenal dengan nama Parit. Semakin lama semakin banyak parit-parit baru dibuka untuk mengairi ladang-ladang mereka.

Sebagai penghargaan kepada pimpinan atau orang yang dituakan dalam suatu kelompok tertentu, para imigran bersepakat untuk memberikan nama pada permukiman yang ditempatinya dengan mengambil nama mereka untuk diabadikan seperti, Parit Kromo, Parit Wongso, Parit Bingan, Parit Warijo atau nama dari daerah asalnya seperti Parit Semarang, Parit Kudus ada juga nama Kampung Jawa, Kampung Pacitan.dan lain sebagainya.

Perkumpulan Reog merupakan wadah bagi para imigran orang Jawa asal Ponorogo untuk menyalurkan bakatnya dibidang kesenian. Pada awalnya hanya sebagai sarana pertemuan atau pertunjukan untuk keperluan hajatan orang Jawa, namun kemudian kaum imigran lainnya seperti dari Bugis, Banjar, Bawean bahkan masyarakat Melayu sendiri juga tertarik untuk menonton ataupun mengundang pertunjukan ini. Di Malaysia pertunjukan itu lebih dikenal sebagai pertunjukan Barongan. Dari kesenian inilah bunyi Angklung mulai dikenal oleh masyarakat Malaysia, karena alat ini adalah merupakan salah satu alat musik iringan untuk pertunjukan Reog dan Kuda Kepang. Pada kesempatan lain pertunjukan Kuda Kepang juga sering di undang untuk memeriahkan suatu acara tertentu. Hal ini terjadi karena pada bagian kuda kepang mabuk adalah bagian yang ditunggu-tunggu oleh para penonton, dimana para pemain kuda kepang secara tidak sadar dapat memamerkan aksinya seperti, makan kaca, mengupas sabut kelapa dengan menggunakan gigi, memanjat pohon dan lain sebagainya.

Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1960-an, yaitu set Angklung Daeng Soetigna yang bertangga nada kromatik telah diperkenalkan oleh Pimpinan Perwakilan Dagang Indonesia di Batu Pahat (300 km ke arah selatan dari Kuala Lumpur). Di daerah ini memang cukup banyak para imigran berasal dari Jawa. Diantara mereka yang pernah belajar bermain Angklung di kantor tersebut adalah Pak Margono bin Sitir asal dari Madiun, Pak Buang asal dari Ponorogo, Pak Sawi asal dari Blitar, Pak Simun bin Iman Rejo asal dari Ponorogo,

kesemuanya sudah almarhum dan banyak lagi warga negara Malaysia yang berketurunan Jawa lainnya. Pak Zaenal tahun 1970-an, adalah salah satu diantara mereka yang masih hidup, sekarang beliau masih trampil bermain gitar untuk lagu-lagu keroncong dan aktif sebagai anggota Keroncong Bintang Selatan di Batu Pahat Johor.

Selanjutnya pada tahun 1968 dalam rangka pemulihan hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia telah dilakukan kunjung misi muhibah dari Komando Mandala Siaga ABRI ke Kuala Lumpur. Disamping acara resmi dengan para petinggi militer pemerintah Malaysia, juga diadakan acara malam kesenian Indonesia. Dari berbagai acara pertunjukan tarian dan nyanyian, pertunjukan Angklung mendapat sambutan yang sangat membanggakan. Bapak Obby salah satu pemaian Angklung menjelaskan bahwa pergelaran Angklung dipimpinan langsung oleh Bapak Daeng Soetigna almarhum sedangkan Bapak Sanui almarhum mendapat kepercayaan menjadi kondakter untuk memepersembahkan berbagai lagu. Secara keseluruhan kedatangan rombongan ini mendapat sambutan yang sangat menggembirakan dan dalam suasana penuh persahabatan.

Keberhasilan misi muhibah Komando Mandala Siaga tersebuat, ditindak lanjuti dengan kunjungan ke dua yang dilakukan pada tahun 1972. Misi kali ini dilakukan oleh rombongan Pemerintah Daerah Jawa Barat, dimana orkestra Angklung masih manjadi materi pertunjukan yang diandalkan. Disamping itu masih ada pertunjukan lainnya: seperti gamelan, tarian Sunda, Calung dan dendangan lagu-lagu popular pada masa itu.

Menurut Bapak Tatang Benyamin salah satu pemain Angklung dalam rombongan itu, menjelaskan bahwa misi muhibah dengan tema Guriang Tresna Wisata yang maksudnya adalah perjalanan untuk menjalin cinta perdamaian ini, tidak saja dipertunjukan di Kuala Lumpur akan tetapi juga dipertunjukan di beberapa kota di Semenanjung Malaysia maupun di Sabah dan Serawak. Rupa-rupanya pertunjukan

Angklung yang dimainkan secara berkumpulan dan dapat mengalunkan berbagai lagu ini sangat dikagumi oleh para hadirin. Terlebih lagi dengan tampilnya Pak Daeng Soetigna berdemontrasi dan mengajak sebagian para penonton untuk dapat memainkan Angklung, membuat para hadirin semakin tertarik untuk dapat memainkan dan memiliki alat tersebut.

Selanjutnya, ketertarikan itu ditunjukan oleh pimpinan Bank Negara Malaysia dengan membeli satu set besar Angklung dari Bandung, agar dapat dimainkan oleh para staf dan para pegawainya Setelah terbentuk grup Angklung yang dianggotai oleh kurang-lebih 30 orang, pihak bank memohon kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia Malaysia di Kuala Lumpur untuk mencarikan tenaga pengajar. Untuk keperluan tersebut ditugaskan salah satu guru kesenian dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur yaitu Bapak Ade Sule Almarhun untuk melatih grup ini. Kumpulan ini adalah merupakan kumpulan Angklung pertama yang dibentuk di Malaysia.

Maka semenjak itu bergemalah alunan musik Angklung di bumi Malaysia yang dimainkan oleh masyarakat Malaysia sendiri. Gema itu semakin bertalu-talu dengan hadirnya guru Angklung lainnya, seperti Pak Suhaemi Nasution almarhum dan Pak Abdul Aziz alamarhum yang juga staf di KBRI Kuala Lumpur. Mereka mengajar musik Angklung di sekolah-sekolah, di lembaga pemerintahan, maupun perkumpulan masyarakat lainnya di sekitar Kuala Lumpur.

Pada tahun 1973 sampai dengan 1976 Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan Malaysia telah mengundang untuk bekerja sebagai pelatih Gamelan dan Angklung. Bapak Suhemi Nasution ditugaskan untuk mengajar pada kursus Angklung tersebut. Pesertanya sebanyak lebih kurang 35 orang yang terdiri dari sebagian besar guru musik di sekolah dan sebagian lagi para penggiat seni dari seluruh Malaysia. Kursus yang berlangsung selama 6 hari ini, merupakan kursus yang pertama kalinya diadakan oleh Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan dan mendapat sambutan yang sangat menggembirakan. Bahan ajar kursus

adalah pengetahuan sejarah Angklung disampaikan oleh Encik. Ayub bin Ismai almarhum, pengetahuan musik dan belajar membaca notasi angka diajarkan oleh Bapak Suhaemi Nasution. Angklung yang digunakan didatangkan dari Saung Angklung Udjo Bandung, yang dibeli pada tahun 1972 oleh Encik Ayub bin Ismail. Beliau adalah salah satu pegawai dari Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan yang pernah belajar karawitan Jawa dan Pedalangan di Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta

Pada tahun 1974, kursus lanjutan diadakan kembali oleh Kementrian Kebudayaan Belia dan Sukan di tempat yang sama yaitu di kompleks olah raga Kampung Pandan Kuala Lumpur. Disamping belajar teori dan praktek bermain Angklung, juga ditunjukan cara membuat Angklung oleh Bapak Margono bin Sitir dari Parit Puasa Batu Pahat, Johor. Pak Margono pernah belajar bermain Angklung di Kantor Perwakilan Dagang Indonesia Batu Pahat, juga mendapat petunjuk dari Bapak Murdoko untuk membuat Angklung kromatik. Pada mulanya beliau hanya dapat membuat Angklung tradisional untuk kelengkapan set gamelan kesenian Barongan atau Kuda Kepang. Set Angklung tersebut hanya ada 2 buah yaitu, yang bernada 5 (sol) berisi 3 tabung yang terdiri dari 1 tabung nada tengah dan diapit oleh 2 tabung terdiri dari nada oktav bawah dan oktav atas, sedangkan yang nada 3 (mi) dengan susunan tabung dan nada yang sama.

Berbekal pengetahuan itu dan mencontoh Angklung dari Indonesia yang digunakannya sebagai babon, beliau mencoba membuat Angklung bertangga nada kromatik dengan menggunakan bahan bambu yang terdapat di perkebunan rumahnya atau disekitar kampung yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pak Simun di Kampung Sri Medan, Batu Pahat, namun mereka tidak pernah puas karena jenis bambu yang ada di Malaysia tipis dan ringan. Angklung tersebut tidak dapat menghasilkan kwalitas suara yang diharapkan, seperti Angklung yang di datangkan dari Indonesia. Setelah ketrampilan Pak Margono membuat Angklung dikenal oleh para

guru musik melalui kursus Angklung diatas, maka set Angklung buatannya semakin laris dijual. Pemesan berdatangan dari berbagai tempat, akan tetapi banyak juga kumpulan Angklung lainnya yang membeli Angklung melalui beliau ataupun langsung dari Indonesia dengan harga yang lebih mahal.