• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

1. Tinjauan tentang Teori Representasi

Representasi merupakan suatu ‘alat’ untuk menyalurkan suatu makna melalui bahasa. Untuk merepresentasikan suatu makna, manusia harus menggunakan bahasa untuk menyalurkan perasaan, gagasan, dan ide-ide. “Representasi juga merupakan bagian yang paling esensial dalam proses penyampaian makna dimana makna tersebut dihasilkan dan diubah sendiri oleh anggota kultur tersebut”.1

“Representation is an essential part of the process by which meaning is produced and exchanged between members of a culture. It does involve the use of language, of signs and images which stand for or represen things. But this is a far from simple or straightforward process, as you will soon discover”.2

Menurut Stuart Hall, representasi harus dipahami dari peran aktif dan kreatif orang memaknai dunia. Representasi adalah jalan di mana “makna diberikan kepada hal-hal yang tergambar melalui citra atau bentuk lainnya pada layar atau pada kata-kata”. Hall menunjukkan bahwa “sebuah citra akan mempunyai

1 Stuart Hall, Culture, the Media and the Ideological Effect, (London: Communication & Society, 1997), h.15.

2 Stuart Hall, Culture, the Media and the Ideological Effect, (London: Communicatin & Society, 1997), h.15.

makna yang berbeda dan tidak ada garansi bahwa citra akan berfungsi atau bekerja sebagaimana mereka dibuat atau dicipta.” Representasi adalah peristiwa kebahasaan. “Bagaimana seseorang ditampilkan, dapat dijelaskan dengan menggunakan sebuah bahasa.” Melalui bahasalah berbagai tindakan representasi tersebut ditampilkan oleh media dan dihadirkan dalam pemberitaan. Karena itu yang patut dikritisi ialah “pemakaian bahasa yang ditampilkan oleh media. Proses ini mau tidak mau sangat berhubungan dengan pemakaian bahasa dalam menuliskan realitas untuk dibaca khalayak.”3

Stuart Hall berargumentasi, bahwa representasi ialah “perwakilan budaya dan prakter yang signifikan, perwakilan menghubungkan makna dan bahasa atas kebudayaan, perwakilan merupakan bagian penting dari proses yang berarti dihasilkan dan ditukar di antara para anggota.”4 Jadi, makna dapat diproduksi melalui representasi, sehingga, “representasi dapat diartikan sebagai cara memproduksi makna.”

Menurut Stuart Hall, ada dua proses representasi, pertama ialah “representasi mental yaitu konsep tentang sesuatu yang ada di kepala kita masing-masing, representasi mental masih merupakan sesuatu yang

3 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: Lkis, 2001), h.113.

4 Chris Barker, Culturan Studies: Teori dan Prakter, (Bantul: Kreasi Wacana Offset, 2000), h. 19

abstrak.” Kedua ialah bahasa, “yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan ke bahasa yang lazim agar dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol tertentu.”5

“so there are two processes, two systems of representations involved. First, there is the system by which all sorts of objects, people and events are correlated with a set of concepts or mental representations which we carry around in our heads. Without them, we could not interpret the world meaningfully at all.”6

“However, a shared conceptual map is not enough. We must also be able to represent of exchange meanings and concepts, and we can only do that when we also have access to a shared language. Language is therefore the second system of representation involved in the overall process of

constructing meaning.our shared

conceptual map must be translated into a common language, so that we can correlate our concepts and ideas with certain written words, spoken sounds or visual images.”7

5 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003), h.

17.

6 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003),

h.17.

7 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003),

Bahasa merupakan sistem representasi dalam kebudayaan dan dapat mengonstruksi makna karena bahasa beroprerasi dan berfungsi sebagai sistem representasi.8 Bahasa yang dimaksud tidak lagi hanya berupa bahasa tertulis dan bahasa lisan (berupa suara dan kata-kata tertulis), namun juga berupa simbol dan tanda seperti gambar, not musik, bahkan sebuah benda. Semua hal tersebut digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan konsep, gagasan dan emosinya kepada orang lain.9

Berdasarkan buku yang di tulis Stuart Hall di atas, ada tiga pendekatan yang menggambarkan bagaimana cara bahasa dipergunakaan untuk merepresentasikan dunia, yaitu:

1. The Reflective Approach

“In the reflective approach,

meaning is thought to lie in the objecs, person, idea or event in the real world, and language functions like a mirror, to reflect the true meaning as it already exists in the world.”10

8 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003),

h.5.

9 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003),

h.1.

10 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003), h.24.

Dalam reflective approach, makna dianggap terletak pada objek, orang, ide dan peristiwa yang terjadi di dunia nyata, dan bahasa berfungsi sebagai kaca untuk merefleksikan makna yang sebenarnya seperti yang sudah ada di dunia.

2. The Intentional Approach

“The second approach to meaning

in representation argues the

opposite case. It holds that it is the speaker, the author, who imposes his or her unique meaning on the world through language. Words mean when the author intends they should mean. This is the intentional approach.”11

Dalam intentional approach, makna dalam reprentasi memiliki arti yang berlawanan. Dalam pendekatan ini, pembicara, penulis, yang akan menentukan sendiri makna unik terhadap dunia melalui bahasa. Perkataan itu bermakna sesuai dengan apa yang pembicara/penulis maknai. Namun teori ini secara umum memiliki kekurangan. Karena kita sebagai manusia dengan perbedaan pemikiran tentu tidak bisa menjadi sumber dari makna dalam bahasa. Karena inti dari bahasa adalah untuk berkomunikasi.

11 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003), h 25.

3. Constructionist Approach

“The third approach recognizes the

public, social character of

language. It acknowledges that neither things in themselves nor the individual users of language can fix meaning in language. Things don’t mean: we construct meaning, using representational systems-concepts and signs. Hence it is called the constructivist or constructionist

approach to meaning in

language.”12

Dalam constructionist approach, menyatakan bahwa kita tidak bisa menyamakan antara dunia fisik (material world) di mana adanya benda dan makhluk hidup dengan proses simbolik (symbolic

practices and proccesses) tempat di mana proses

representasi, makna dan bahasa beroperasi. Namun, bukan dunia fisik yang bisa menyampaikan suatu makna, melainkan sistem bahasa atau sistem apapun yang kita gunakan untuk merepresentasikan konsep yang kita punya. Para aktor sosiallah yang menggunakan sistem konseptual dari masing-masing kultur, linguistik dan sistem representasi untuk membentuk suatu makna, untuk membuat

12 Stuart Hall, The Work of Representation. Representation: Cultural

Representation and Signifying Practices, (London: Sage Publication, 2003), h

dunia bermakna dan untuk berkomunikasi tentang betapa dunia ini bermakna kepada orang lain. Konsep representasi bisa selalu berubah-ubah, karena bisa selalu ada pemaknaan baru. Oleh karena itu, di setiap waktu dapat terjadi proses negosiasi dalam pemaknaan.13 Media sebagai sebuah alat yang banyak menebarkan representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjukkan pada bagaimana seorang atau kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. 14

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat digambarkan bahwa representasi adalah sebuah cara yang digunakan untuk memproduksi sebuah makna. Makna yang dimaksud bisa seperti apa yang digambarkan oleh media. Representasi yang diteliti ini merujuk pada media massa terutama video, dengan berdasarkan apa yang diberikan dan bagaimana cara memaknainya.

Jadi representasi ini bisa berbentuk kata-kata atau tulisan bahkan juga dapat dilihat dalam bentuk gambar bergerak dalam media sosial YouTube. Dalam kumpulan video ceramah Dr. Zakir Naik di kanal YouTube ‘Lampu

13 Chris Barker, Cultural Studies: Teori dan Praktek, (Bantul: Kreasi Wacana Offset,2000), h 21.

14 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta: Lkis,2001), h 13.

Islam’ ini memunculkan makna-makna yang mengandung Tauhid Rububiyah dalam dakwahnya. Sehingga, teori ini dapat digunakan untuk menganalisis keseluruhan makna atas bahasa yang mengandung Tauhid Rububiyah.

11

Dokumen terkait