PASEMAH, SUMATERA SELATAN
2. Denotasi dan Konotasi Tipe-Tipe Arca Pasemah
2.5 Tipe Arca Figur Manusia dengan Kerbau
Secara sintagmatik, penggambaran arca figur manusia bersama kerbau tidak berbeda jauh dengan penggambaran figur manusia dengan gajah. Ia digambarkan berpostur tubuh besar dengan kaki dan tangan kokoh, memakai penutup kepala, busana ponco, tunik dan korset yang dilengkapi dengan ikat pinggang, memakai perhiasan, juga
494
membawa senjata. Tipe arca ini mempunyai wajah dengan bentuk mata bulat melotot dengan ekspresi menakutkan. Dalam hubungan asosiatif, figur manusia yang digambarkan ada yang menunggang, mengapit, dan menaklukkan (berkelahi dengan) kerbau. Ada juga yang digambarkan tidak memakai penutup kepala.
Figur manusia mengapit kerbau digambarkan berukuran besar dalam sikap tubuh yang merendah bertumpu pada kaki yang ditekuk dan kedua tangan memegang tanduk kerbau sehingga posisi badan kerbau berada di antara tubuh figur manusia dan tanganya di bagian kiri. Figur ini memakai penutup kepala berupa helm, memakai busana tunik, ponco, ikat pinggang, serta memakai perhiasan kalung berukuran besar.
Gambaran figur manusia seolah menaklukkan kerbau, mengapit kerbau, menunggang kerbau dapat diartikan kerbau yang semula binatang liar telah mengalami proses penjinakan (domestikasi), untuk dikonsumsi daging dan susunya. Tubuhnya yang besar dengan berat badan rata-rata 300–600 kg bahkan bisa mencapai 1200 kg sering
digunakan oleh manusia untuk membantu membajak sawah dan sebagai alat angkut transportasi. Hampir sama dengan gajah yang mempunyai berat rata-rata 7500--13.000 kg, kedua jenis hewan ini juga digunakan oleh manusia sebagai alat transportasi, hanya saja gajah tidak membajak sawah melainkan sebagai alat perang (Hoop, 1949, hlm. 13). Sehubungan dengan peran-peran tersebut, kedua hewan ini dihormati dan sehingga banyak dipahatkan pada penggambaran arca Pasemah.
Dengan demikian kerbau dapat dikonotasikan sebagai hewan pekerja keras, membantu manusia, dapat memenuhi kebutuhan sosial dan ritual manusia dalam menjalankan kehidupannya. Dalam tradisi megalitik yang masih hidup di Toraja, hewan kerbau adalah hewan persembahan. Oleh karena itu, ia dapat dianggap sebagai hewan suci dan juga dianggap sebagai kendaraan arwah dengan memasukkan tulang belulang orang yang meninggal ke dalam patung kerbau yang terbuat dari kayu. Kerbau juga
495
menjadi simbol kekayaan dan kekuasaan. Jumlah kerbau yang dimiliki dan disembelih dapat menunjukan status sosial yang dimiliki penyelenggara upacara. Adanya hewan kerbau dapat menujukkan adanya pertanian sawah, kesuburan, kekayaan, dan status sosial. Mitos pekerja keras dan tangguh inilah yang kerap digambarkan pada arca figur manusia dengan kerbau
Gambaran arca figur manusia menaklukan kerbau, mengapit, dan menunggangi adalah manifestasi perlakuan manusia terhadap hewan kerbau yang telah didomestikasi, dipelihara untuk keperluan kurban, dan juga membantu pertanian. Untuk itu, diperlukan suatu pembagian pekerjaan sebagai pemelihara kerbau, apalagi kerbau yang dimiliki oleh penguasa dan diperlukan penjaga khusus bagi pekerjaan pemelihara kerbau. Pekerjaan berkaitan dengan kerbau ini semata-mata sebagai suatu aktivitas yang bermuara kepada upacara kurban atau sesembahan, bahkan upacara kematian yang mengantarkan arwah orang yang meninggal ke alam arwah. Agar persembahannya diterima dan perjalanan arwah selamat sampai tujuan, hewan yang dipersembahkan sebaiknya memiliki kualitas yang baik dan dengan jumlah yang besar. Dengan demikian, kegiatan memelihara kerbau adalah suatu kegiatan yang penting dan sakral.
Beberapa arca figur manusia membawa senjata menunggang kerbau adalah manifestasi dari pemimpin pemelihara kerbau. Posisi ini ada pada golongan menengah atau bangsawan yang merupakan keluarga dekat raja atau pimpinan tertinggi. Semua kegiatan ini semata dipersembahkan kepada roh suci, dewa-dewa sebagai pemberi kuasa, dan pemilik kekuasaan tertinggi.
Ideologi bekerja, kerja keras, tekun, sabar, menghargai tanah leluhur, itulah yang ingin dikomunikasikan yang tersirat di balik gambaran arca-arca figur manusia dengan kerbau ini. Segala sesuatu hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan ketekunan. Masyarakat pada masa prasejarah sangat tergantung dengan alam, dengan hutan lebat, rimba raya, lautan yang luas merupakan tantangan kehidupan. Hanya dengan kerja keras dan kemuan yang tinggi, masyarakat pada masa itu dapat hidup dan berinteraksi satu sama lain dalam menyelenggarakan kehidupan.
7.6 Figur Manusia dengan Ular
Dalam susunan sintagmatik arca figur manusia dililit ular memperlihatkan dua figur manusia yang berusaha melepaskan diri dari lilitan ular. Figur manusia
496
digambarkan ada yang memakai penutup kepala, memakai perhiasan, dan membawa senjata berupa parang panjang. Secara paradigmatic, figur manusia dapat digambarkan dua atau tiga figur yang berusaha melepaskan diri dari lilitan ular. Arca dengan tipe seperti ini digambarkan dua kali yaitu di situs Tanjung Ara dan situs Tebing Tinggi, Kota Pagar Alam.
Gambar 8: Arca figur manusia dililit ular
Ular adalah jenis hewan melata yang hidup di dunia bawah, dapat dikonotasikan sebagai perlambang ruh jahat. Itu alasan mengapa ular perlu ditaklukkan. Di sisi lain, gambaran ini menunjukkan dua figur manusia dililit ular di depan kubur batu. Ini juga merupakan peringatan bahwa dalam pelepasan perjalanan menuju tempat arwah ada gangguan dari roh-roh jahat lainnya. Arca yang berada di depan kubur batu ini dapat dimanifestasikan sebagai perjalanan menuju alam arwah penuh ujian yang berkaitan dengan perilaku ketika masih hidup di dunia. Jika berhasil lolos dari serangan ruh jahat, perjalanan ke alam arwah dapat diteruskan dan tercapai.
Ular termasuk hewan buas yang berbisa sehingga dianggap sebagai musuh manusia. Gambarannya berupa tiga figur manusia dalam satu monolit, berusaha lepas dari lilitan ular. Figur yang dililit ular adalah figur manusia yang memakai penutup kepala, perhiasan kalung, dan gelang tangan.
Gambaran ini merupakan manifestasi penaklukan ular sebagai hewan yang buas, kuat, dan mampu mematikan manusia. Bukan orang biasa yang terperangkap dalam lilitan ular melainkan orang dari golongan tinggi tertentu—mungkin dari kalangan
bangsawan. Dua figur lainya berusaha membantu melepaskan diri dari lilitan ular. Salah satu yang lain membawa senjata berupa belati di belakangnya.
Ular dapat dikonotasikan sebagai lambang dunia bawah, roh jahat yang selalu mengganggu manusia. Perjalanan arwah menuju alam arwah penuh dengan ujian antara lain dengan ular sebagai manisfestasi dari roh jahat. Gambaran ini juga sebagai peringatan apabila manusia banyak melakukan kesalahan di dunia, maka perjalanan
497
arwahnya banyak mengalami rintangan. Mitos bahwa ular adalah sesuatu yang jelek, jahat, dan merupakan ancaman perlu dihadirkan agar manusia dalam berperilaku selalu berhati-hati, waspada dan tidak menimbulkan kerusakan. Dari mitos ini dapat ditarik suatu pandangan hidup bahwa manusia harus berbuat baik selama hidup di dunia, dan ada hukuman bagi orang yang berbuat dosa.