• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipe Histologi Berdasarkan Cara Pengambilan Spesimen

BAB V HASIL PENELITIAN

5.17 Tipe Histologi Berdasarkan Cara Pengambilan Spesimen

Proporsi tipe histologi berdasarkan cara pengambilan spesimen penderita kanker paru rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2016-2018 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Efusi Pleura

Tipe Histologi

Jumlah Nilai p Squamous Cell Carcinoma Adenocarcinoma

n % n % n %

0,071

Terjadi 1 6,2 15 93,8 16 100

Tidak Terjadi 78 26,4 217 73,6 295 100

Tabel 5.20 Distribusi Proporsi Tipe Histologi Berdasarkan Cara Pengambilan Spesimen Penderita Kanker Paru Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016-2018

TH

Cara Pengambilan Spesimen

JL p

SC SAJH STTNA STBNA HTBLB HTTB

n % n % n % n % n % n % n %

0,017 SCC 62 78,5 3 3,8 5 6,3 1 1,3 7 8,9 1 1,3 79 100

ADN 161 69,4 20 8,6 17 7,3 20 8,6 6 2,6 8 3,4 232 100

Keterangan : TH = Tipe histologi, HTBLB = Histopatologi TBLB, SC = Sitologi cairan, HTTB = Histopatologi TTB, SAJH = Sitologi AJH, JL = Jumlah, STTNA = Sitologi TTNA, SCC = Squamous cell carcinoma, STBNA = Sitologi TBNA, ADN = Adenocarcinoma, p = Nilai p

Berdasarkan tabel 5.20 dapat dilihat dari hasil uji chi-square p < 0,05, maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi tipe histologi dengan cara pengambilan spesimen. Dari seluruh penderita kanker paru baik yang squamous cell carcinoma maupun adenocarcinoma, semuanya tertinggi dengan cara pengambilan spesimen sitologi cairan, masing-masing sebanyak 62 orang (78,5%) dan 161 orang (69,4%).

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 DISTRIBUSI PROPORSI PENDERITA KANKER PARU BERDASARKAN TAHUN

Frekuensi kunjungan penderita pada tahun 2016 adalah 102 orang (32,8%), tahun 2017 meningkat menjadi 126 orang (40,5%), tahun 2018 menurun menjadi 83 orang (26,7%). Frekuensi kunjungan penderita tahun 2016 dan 2018 mengalami penurunan sebanyak 19 kasus dengan persentase penurunan 18,63%

dari tahun 2016 ke tahun 2018. Hasil penelitian ini bukan berarti menunjukkan penurunan kasus kanker paru di masyarakat namun hanya menunjukkan bahwa penderita kanker paru yang berkunjung ke RSUP H. Adam Malik menurun.

6.2 SOSIODEMOGRAFI

6.2.1 UMUR

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan umur yang tertinggi adalah pada kelompok umur 65-69 tahun dengan 70 orang (22,5%) dan yang terendah 30-34 tahun dengan 1 orang (0,3%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Marta Butar (2010) di RSU Dr Pringadi Medan yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah kelompok umur 61-68 tahun sebanyak 46 orang (26,3%). Pada umumnya jumlah penderita kanker paru tertinggi yaitu pada golongan umur 50-69 tahun. Kanker paru lebih sering terjadi pada usia lanjut karena paparan zat karsinogen yang berkepanjangan dan baru menampakkan pengaruh dalam waktu yang lama yaitu 15-25 tahun mulai dari terpapar sampai timbulnya gejala.

6.2.2. JENIS KELAMIN

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki sebanyak 239 orang (76,8%) dan perempuan sebanyak 72 orang (23,2%).

Sex ratio penderita kanker paru adalah 3:1 menunjukkan penderita kanker paru pada laki-laki 3 kali lebih tinggi daripada perempuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ananda (2018) di RSUP DR. M Djamil Padang yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah laki-laki sebanyak 56 orang (84,8%). Penderita kanker paru lebih besar pada laki-laki karena kebiasaan merokok laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, selain itu laki-laki lebih sering terpapar zat karsinogen yang berkepanjangan dari lingkungan kerja yang baru menampakkan pengaruh dalam waktu yang lama yaitu 15-25 tahun mulai dari terpapar sampai timbulnya gejala (American Cancer Society, 2017).

6.2.3. PEKERJAAN

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan pekerjaan yang tertinggi adalah petani sebanyak 101 orang (32,5%) dan yang terendah pensiunan sebanyak 18 orang (5,8%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Oemiati (2011) yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah yang petani 60%. Pekerjaan dapat dikaitkan dengan kejadian kanker paru pada penderita karena ada beberapa dari jenis pekerjaan yang memiliki risiko terhadap terjadinya kanker paru. Misalnya petani yang terpapar dengan zat kimia seperti benzopyrene yang sebagai produk pembakaran tumbuh-tumbuhan dan industri-industri yang menggunakan zat-zat kimia yang bersifat karsinogen menyebabkan kanker paru. Pensiunan yang menderita kanker paru lebih tidak terpapar dengan zat karsinogenik seperti penderita yang bekerja dan kemungkinan didiagnosa saat baru pensiunan, namun pada penelitian ini tidak dapat diketahui dengan jelas bagaimana kondisi lingkungan pekerjaan penderita sebelumnya sehingga tidak dapat diketahui pula faktor risiko yang ada di lingkungan kerja dan tempat tinggal tersebut (Kartawiguna, 2010).

6.2.4. TEMPAT TINGGAL

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan tempat tinggal yang tertinggi adalah yang tinggal di luar Kota Medan sebanyak 246 orang (79,1%) selebihnya tinggal di Kota Medan sebanyak 65 orang (20,9%). Penderita kanker paru tertinggi datang dari luar Kota Medan dapat disebabkan karena rumah sakit ini adalah rumah sakit pusat yang menjadi tempat rujukan dan memiliki fasilitas yang lebih memadai dibandingkan dengan rumah sakit di daerah tempat tinggal penderita (Butar, 2010).

6.3. KELUHAN UTAMA

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan keluhan utama yang tertinggi adalah lebih dari satu keluhan sebanyak 284 orang (91,3%) dan terendah adalah batuk sebanyak 13 orang (4,2%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Adiatma (2012) di RSUP Dr. Kariadi Semarang yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah yang sesak nafas sebanyak 55 orang (87,3%). Pada umumnya gejala kanker paru yang sering ditemukan adalah batuk dan sesak nafas karena masalah akan bertimbul pada sistem saluran nafas pada pasien, dimana akan terjadi kelainan yang terjadi berupa berkurangnya silia dan bertambahnya sel yang memproduksi lendir yang akan menyebabkan terjadinya sesak nafas dan batuk. (Alsagaff, 1995).

6.4. RIWAYAT MEROKOK

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan riwayat merokok yang tertinggi adalah yang memiliki riwayat merokok sebanyak 259 orang (83,3%) daripada tidak merokok sebanyak 52 orang (16,7%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ananda (2018) di RSUP DR. M Djamil Padang yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah yang merokok sebanyak 49 orang (74,2%). Rokok merupakan faktor risiko terjadinya kanker paru. Asap rokok secara langsung dapat mempengaruhi silia dan keseluruhan paru. Kelainan yang terjadi berupa berkurangnya silia dan bertambahnya sel yang

memproduksi lendir dan akhirnya bermetaplasia. Penderita kanker paru yang tidak memiliki riwayat merokok juga memiliki risiko menderita kanker paru akibat paparan asap rokok yang juga disebut perokok pasif (Alsagaff, 1995).

6.5. EFUSI PLEURA

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan efusi pleura yang tertinggi adalah yang tidak terjadi efusi pleura sebanyak 295 orang (94,9%) dan terendah yang terjadi efusi pleura sebanyak 16 orang (5,1%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Adiatma (2012) di RSUP Dr. Kariadi Semarang yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah yang tidak terjadi efusi pleura 63,49%. Teori terjadinya efusi pleura pada kanker paru yaitu peningkatan produksi cairan akibat invasi langsung sel kanker ke rongga pleura.

Terjadinya efusi pleura pada kanker paru yaitu dengan menumpuknya sel tumor yang akan meningkatkan permeabilitas pleura terhadap air dan protein, adanya massa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran pembuluh darah vena dan getah bening, sehingga rongga pleura gagal dalam memindahkan cairan dan protein.

Adanya gangguan reabsorbsi cairan pleura melalui obstruksi aliran limfe mediastinum yang mengalirkan cairan pleura parietal, sehingga terkumpul cairan eksudat dalam rongga pleura (Suprijono, 2015).

6.6. TIPE HISTOLOGI

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan tipe histologi yang tertinggi adalah adenocarcinoma sebanyak 232 orang (74,6%) dibanding squamous cell carcinoma sebanyak 79 orang (25,4%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ananda (2018) di RSUP DR. M Djamil Padang yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah yang adenocarcinoma 33,3%. Ini karena pada perkembangan rokok mulai dibuat menggunakan tembakau yang dibungkus dengan daun tembakau itu sendiri berkembang menjadi rokok yang menggunakan filter. Rokok yang menggunakan filter menyaring

zat-zat hasil pembakaran menjadi lebih halus, sehingga zat-zat-zat-zat tersebut dapat mencapai perifer bronkus dan menyebabkan munculnya adenocarcinoma.

6.7. CARA PENGAMBILAN SPESIMEN

Proporsi penderita kanker paru berdasarkan cara pengambilan spesimen yang tertinggi adalah sitologi cairan sebanyak 223 orang (71,7%) dan terendah histopatologi TTB sebanyak 9 orang (2,9%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2014) di RS Immanuel Bandung yang dilakukan penelitian kanker paru berdasarkan sitologi cairan. Ini karena pemeriksaan baku emas penegakan diagnosis kanker paru adalah berdasarkan histopatologi jaringan paru dengan cara biopsi, namun pemeriksaan tersebut relatif membutuhkan biaya yang lebih besar dan lebih berisiko. Metode pemeriksaan sitologi cairan saat ini sudah dianggap sebagai metode alternatif untuk membantu menegakkan diagnosis kanker paru. Metode ini juga relatif lebih ekonomis dan kurang berisiko dibandingkan dengan pemeriksaan histopatologi hasil biopsi dan diharapkan sensitivitasnya lebih tinggi. Tidak dijumpai pemeriksaan histopatologi EBUS dan histopatologi reseksi karena mungkin kekurangan fasilitasnya untuk dilakukan di rumah sakit, membutuhkan biaya yang tinggi dan lebih berisiko untuk dilakukan, jadi sitologi cairan menjadi alternatifnya yang lebih ekonomis dan kurang berisiko.

6.8. UMUR BERDASARKAN JENIS KELAMIN

Proporsi penderita kanker paru yang kelompok usia 30-34, 45-49, 50-54, 55-59, 60-64, 65-69, 70-74, ≥75, yang tertinggi adalah pada laki-laki sedangkan pada kelompok usia 35-39 tahun dan 40-44 tahun, yang tertinggi adalah pada perempuan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Marta Butar (2010) di RSU Dr Pringadi Medan yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi adalah kelompok umur 61-68 tahun 26,3% dengan laki-laki 23,4% dan perempuan 2,9%. Pada umumnya jumlah penderita kanker paru tertinggi yaitu pada golongan umur 50-69 tahun. Kebiasaan merokok laki-laki lebih tinggi

daripada perempuan. Selain itu laki-laki lebih sering terpapar zat karsinogen yang berkepanjangan di lingkungan pekerjaan dan baru menampakkan pengaruh dalam waktu yang lama yaitu 15-25 tahun mulai dari terpapar sampai timbulnya gejala (Greco, et al., 2005).

6.9. JENIS KELAMIN BERDASARKAN PEKERJAAN

Proporsi penderita kanker paru pada laki-laki yang tertinggi adalah petani dan terendah yang tidak bekerja. Pada proporsi penderita perempuan yang tertinggi yang tidak bekerja dan yang terendah yang pensiunan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Oemiati (2011) yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi laki-laki adalah yang petani 60% dan pada perempuan yang tertinggi yang tidak bekerja 19,89%. Hal ini disebabkan karena melihat dari pekerjaannya laki-laki lebih banyak bekerja dibanding perempuan. Laki-laki lebih banyak terpapar dengan rokok dan bahan karsinogen di lingkungan kerja dibanding perempuan. Jadi laki-laki lebih berisiko untuk dapat kanker paru dibanding perempuan. Dapat dilihat petani yang paling tinggi terkena kanker paru pada laki-laki karena terpapar dengan zat kimia seperti benzopyrene yang sebagai produk pembakaran tumbuh-tumbuhan dan penggunaan pestisida yang menjadi faktor risiko terjadinya kanker paru. Pada perempuan yang paling tinggi adalah yang tidak bekerja karena perempuan yang tidak bekerja juga ada yang memiliki riwayat merokok dan yang tidak memiliki riwayat merokok juga masih memiliki risiko menderita kanker paru akibat paparan asap rokok dari suami atau dari lingkungan sekitar.

6.10. JENIS KELAMIN BERDASARKAN RIWAYAT MEROKOK

Proporsi penderita kanker paru pada laki-laki yang tertinggi merokok 97,1% dan pada perempuan, yang tertinggi adalah yang tidak merokok 62,5%.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ananda (2018) di RSUP DR. M Djamil Padang yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi yang merokok adalah laki-laki. Kebiasaan merokok laki-laki lebih tinggi daripada

perempuan. Jadi laki-laki lebih berisiko untuk dapat kanker paru dibanding perempuan. Pada perempuan yang paling tinggi adalah yang tidak memiliki riwayat merokok, tetapi walaupun tidak merokok tetap memiliki risiko menderita kanker paru akibat paparan asap rokok dari suami atau orang sekitar dan faktor lingkungan yang mungkin terpapar dengan zat karsinogenik. Namun pada penelitian ini tidak dapat diketahui dengan jelas bagaimana kondisi lingkungan penderita sehingga tidak dapat diketahui pula faktor risiko yang ada di lingkungan tersebut (Alsagaff, 1995).

6.11. PEKERJAAN BERDASARKAN KELUHAN UTAMA

Proporsi penderita kanker paru yang semua jenis pekerjaan, baik pensiunan, pegawai pensiunan, wiraswasta, petani, tidak bekerja dan tidak tercatat, yang tertinggi adalah dengan keluhan utama lebih dari satu keluhan.

karena kebanyakkan pasien kanker paru akan mempunyai gejala batuk dan sesak nafas. Petani yang paling banyak terkena kanker paru karena lebih terpapar dengan zat kimia bersifat karsinogenik yang akan menyebabkan kelainan yang terjadi berupa berkurangnya silia dan bertambahnya sel yang memproduksi lendir yang menyebabkan sesak nafas dan batuk terjadi (Alsagaff, 1995).

6.12. PEKERJAAN BERDASARKAN RIWAYAT MEROKOK

Proporsi penderita kanker paru yang pekerjaan pensiunan, pegawai swasta, wiraswasta, petani dan tidak tercatat semuanya yang tertinggi adalah dengan riwayat merokok, sedangkan yang tidak bekerja, yang tertinggi adalah yang tidak merokok. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Amalia (2017) dari Indonesian Family Life Survey 5 (IFLS 5) yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi yang merokok adalah petani 44,5%. Riwayat merokok dengan pekerjaan pasien dapat dihubungkan melalui tingkat stress pasien dengan lingkungan kerjanya dan bisa juga dari stress pendapatan rendah untuk mendukung keluarga. Jika anggota keluarganya banyak, maka diperlukan pendapatan berlebihan untuk mendukung keluarganya. Perkawinan juga menjadi

faktor yang memicu kepada riwayat merokok penderita. Namun pada penelitian ini tidak dapat diketahui dengan jelas bagaimana kondisi lingkungan kerja dan pendapatan penderita sehingga tidak dapat diketahui pula faktor risiko yang terjadi. Bagi yang tidak bekerja, mereka bebas dari stress lingkungan kerja.

Kebanyakan adalah perempuan jadi kemungkinan besar mereka adalah ibu rumah tangga, dimana suamilah yang bekerja mendukung kehidupan keluarganya, namun kemungkinan mereka juga sering terpapar asap rokok dari suami yang merokok dan terjadi kanker paru.

6.13. KELUHAN UTAMA BERDASARKAN RIWAYAT MEROKOK

Proporsi penderita kanker paru yang semua keluhan utama, baik sesak nafas, batuk atau lebih dari satu keluhan yang tertinggi adalah yang merokok. Dari hasil uji chi-square diperoleh p>0,05 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara keluhan utama dengan riwayat merokok. Kebanyakkan pasien kanker paru akan mempunyai gejala batuk dan sesak nafas. Penderita kanker paru yang memiliki riwayat merokok akan memperburuk kondisi tersebut. Dengan ini, penderita akan lebih terpapar dengan zat kimia bersifat karsinogenik yang akan menyebabkan kelainan yang terjadi berupa berkurangnya silia dan bertambahnya sel yang memproduksi lendir yang menyebabkan sesak nafas dan batuk terjadi.

Penderita yang lebih dari satu keluhan yang tidak merokok tertinggi. Walaupun tidak memiliki riwayat merokok tetapi masih memiliki risiko menderita kanker paru akibat paparan asap rokok dari suami atau orang sekitar. Ini juga dapat menyebabkan keluhan yang dialami pasien yang tidak merokok (Alsagaff, 1995).

6.14. KELUHAN UTAMA BERDASARKAN EFUSI PLEURA

Proporsi penderita kanker paru yang semua keluhan, baik sesak nafas, batuk atau lebih dari satu keluhan yang tertinggi adalah yang tidak terjadi efusi pleura. Dari hasil uji chi-square diperoleh p>0,05 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara keluhan utama dengan efusi pleura. Gejala utama penyakit pleura adalah nyeri, batuk, dan sesak. Sebagian besar pasien

(85%) memiliki sesak napas sebagai keluhan utama. Batuk hadir di 70% dari pasien. Teori terjadinya efusi pleura pada kanker paru yaitu peningkatan produksi cairan akibat invasi langsung sel kanker ke rongga pleura. Jadi, produksi cairan berlebihan di pleura akan menyebabkan terjadinya batuk dan sesak pada pasien karena sulit bernafas dan cairan berlebihan di pleura (Ang, 2017).

6.15. RIWAYAT MEROKOK BERDASARKAN TIPE HISTOLOGI

Proporsi penderita kanker paru baik yang merokok maupun yang tidak merokok, yang tertinggi adalah adenocarcinoma. Dari hasil uji chi-square diperoleh p>0,05 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara riwayat merokok dengan tipe histologi. Proporsi penderita kanker paru dengan adenocarcinoma yang merokok lebih tinggi dari squamous cell carcinoma karena pada perkembangan rokok mulai dibuat menggunakan tembakau yang dibungkus dengan daun tembakau itu sendiri berkembang menjadi rokok yang menggunakan filter. Rokok yang menggunakan filter menyaring zat-zat hasil pembakaran menjadi lebih halus, sehingga zat-zat tersebut dapat mencapai perifer bronkus dan menyebabkan munculnya adenocarcinoma. Tapi pada penderita yang tidak merokok, yang paling tinggi juga adenocarcinoma karena walaupun penderita tidak memiliki riwayat merokok, penderita tersebut masih memiliki risiko menderita kanker paru akibat paparan asap rokok dari suami atau orang sekitar yang juga disebut sebagai perokok pasif (Samet, 2009).

6.16. EFUSI PLEURA BERDASARKAN TIPE HISTOLOGI

Proporsi penderita kanker paru baik yang terjadi efusi pleura maupun tanpa efusi pleura, tipe histologi yang tertinggi adalah adenocarcinoma. Dari hasil uji chi-square diperoleh p>0,05 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara efusi pleura dengan tipe histologi. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ramadhaniah (2016) di RS Kanker Dharmais, Jakarta yang menemukan bahwa proporsi penderita kanker paru tertinggi yang terjadi efusi pleura adalah yang adenocarcinoma. Proporsi penderita kanker paru yang terjadi

efusi pleura paling tinggi adalah adenocarcinoma karena efusi pleura dapat terjadi pada pasien dengan karsinoma paru dari semua jenis histologi, namun lebih sering terjadi pada adenocarcinoma. Teori terjadinya efusi pleura pada kanker paru yaitu peningkatan produksi cairan akibat invasi langsung sel kanker ke rongga pleura.

Adenocarcinoma muncul sebagai tumor perifer, yang timbul dari epitel permukaan alveolar atau kelenjar mukosa bronkus. Adenocarcinoma juga bisa muncul dari daerah infeksi sebelumnya atau bekas luka. Adenocarcinoma merupakan tumor memproduksi mucin dan membentuk kelenjar yang mengikut teori terjadinya efusi pleura tadi menjadi faktor kepada terjadinya efusi pleura.

Proporsi penderita kanker paru yang tidak terjadi efusi pleura paling tinggi adalah adenocarcinoma karena kebanyakkan proporsi penderita kanker paru adalah yang adenocarcinoma.

6.17. TIPE HISTOLOGI BERDASARKAN CARA PENGAMBILAN SPESIMEN

Proporsi penderita kanker paru baik squamous cell carcinoma maupun adenocarcinoma yang tertinggi adalah cara pengambilan spesimen sitologi cairan.

Squamous cell carcinoma adalah tumor sentral, jadi pemeriksaan yang dilakukan adalah sitologi cairan yang lebih efektif dan adenocarcinoma merupakan tumor di perifer, jadi pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosanya adalah histopatologi karena pada pemeriksaan sitopatologi, tidak dapat mendeteksi tumor di perifer. Tapi kebanyakkan adenocarcinoma dideteksi dengan pemeriksaan sitologi cairan mungkin karena tumor telah meluas ke bagian sentral sehingga pada pemeriksaan sitologi cairan terdeteksi. Pada penelitian ini tidak dapat diketahui dengan jelas lokasi tumor pada penderita kanker paru sehingga belum bisa menyimpulkan penyebab penderita yang diagnosis secara sitopatologi lebih tinggi pada adenocarcinoma dibanding histopatologi (Wulandari, 2017).

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 KESIMPULAN

7.1.1 Kecenderungan kunjungan penderita kanker paru rawat inap di RSUP H.

Adam Malik Medan tahun 2016-2018 mengalami penurunan sebanyak 18,63%.

7.1.2 Proporsi penderita kanker paru berdsarkan sosiodemografi yang tertinggi diperoleh kelompok umur 65-69 tahun, dimana laki-laki 3 kali lebih tinggi dari perempuan, pekerja petani dan yang tinggal di luar Kota Medan.

7.1.3 Proporsi penderita kanker paru berdasarkan keluhan utama yang tertinggi adalah lebih dari satu keluhan.

7.1.4 Proporsi penderita kanker paru berdasarkan riwayat merokok yang tertinggi adalah yang merokok.

7.1.5 Proporsi penderita kanker paru berdasarkan efusi pleura yang tertinggi adalah yang tidak terjadi efusi pleura.

7.1.6 Proporsi penderita kanker paru berdasarkan tipe histologi yang tertinggi adalah yang adenocarcinoma.

7.1.7 Proporsi penderita kanker paru berdasarkan cara pengambilan spesimen yang tertinggi adalah yang sitologi cairan.

7.1.8 Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara umur dengan jenis kelamin.

7.1.9 Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara jenis kelamin dengan pekerjaan.

7.1.10 Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara jenis kelamin dengan riwayat merokok.

7.1.11 Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara pekerjaan dengan keluhan utama.

7.1.12 Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara pekerjaan dengan riwayat merokok.

7.1.13 Tidak ada perbedaan yang signifikan antara keluhan utama dengan riwayat merokok.

7.1.14 Tidak ada perbedaan yang signifikan antara keluhan utama dengan efusi pleura.

7.1.15 Tidak ada perbedaan yang signifikan antara riwayat merokok dengan tipe histologi.

7.1.16 Tidak ada perbedaan yang signifikan antara efusi pleura dengan tipe histologi.

7.1.17 Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara tipe histologi dengan cara pengambilan specimen.

7.2 SARAN

7.2.1 Kepada tenaga kesehatan untuk melakukan skrining riwayat kesehatan terutama di daerah terpencil supaya bisa diberikan tatalaksana awal dan mengetahui faktor yang menyebabkannya terjadinya kanker paru di daerah tersebut.

7.2.2 Kepada tenaga kesehatan dan rumah sakit untuk melakukan promosi kesehatan untuk mengedukasi masyarakat tentang faktor risiko dan cara mencegah terjadinya kanker paru.

7.2.3 Kepada masyarakat agar lebih sadar dan mempunyai inisiatif sendiri untuk mencari tahu tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kanker paru dan cara mencegahnya.

DAFTAR PUSTAKA

A Cancer Journal For Clinicians . (2017). Lung Cancer—Major Changes in the American Joint Committee on Cancer Eighth Edition Cancer Staging Manual. A Cancer Journal For Clinicians, Vol 67, No 2, 146-148.

Adiatma. (2012). Hubungan Antara Carcinoma Paru Dengan Efusi Pleura.

Lembar Pengesahan Jurnal Media Medika Muda, 1-20.

Alsagaff, H. (1995). Kanker Paru Dan Terapi Palatif. Surabaya: Airlangga University Press.

Amalia, M. (2017). Analisis Pengaruh Konsumsi Rokok Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja Di Indonesia. ACC, 1-20.

American Cancer Society. (2017). Cancer Facts & Figures 2017. American Cancer Society, 10-18.

Ananda, R.A., Ermayanti, S., & Abdiana. (2018). Hubungan Staging Kanker Paru dengan Skala Nyeri pada Pasien Kanker Paru yang Dirawat di Bagian Paru RSUP DR M Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, volume 7, No 3, 1-3.

Ang, P, Tan, E.H., & Leong, S.S. (2017). Primary Intrathoracic Malignant Effusion. National Cancer Center, 50-54.

Asmara, A.D. (2017). Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN, 1-50.

Azmin. Z. (2016). Kanker Paru: Sebuah Kajian Singkat. Ina J CHEST Crit and

Azmin. Z. (2016). Kanker Paru: Sebuah Kajian Singkat. Ina J CHEST Crit and

Dokumen terkait