BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Tokoh, Penokohan, Latar, dan Tema
4.2.1 Analisis Tokoh dan Penokohan
4.2.1.5 Titiwardoyo
Titiwardoyo adalah lurah Tunjungrejo. Sebagai lurah, ia wajib melindungi
warganya. Ia tidak peduli akan keselamatan nyawanya. Segalanya akan ia lakukan
untuk melindungi warganya. Dalam menggambarkan pernyataan tersebut,
pengarang menggunakan teknik dramatik. Berikut kutipan yang mendukung
(103) “Argh…argh…” Meski darah tertelan di kerongkongan,
Titiwardoyo memberanikan diri menjawab, “Bu…bukan…Tuan. Itu…itu war…ga saya yang…saakiiit…!” (Devita, 2014 : 98).
(104) “Aku tak mau menyerah…toh sebentar lagi aku mati. Pejuang- pejuang itu harus selamat,” batin Titiwardoyo yang bersikeras meski napasnya tinggal satu-satu (Devita, 2014 : 98).
Titiwardoyo adalah pribadi yang tenang. Meski dalam keadaan
menegangkan dan menjengkelkan, ia berusaha untuk tetap tenang. Dalam
menggambarkan pernyataan tersebut, pengarang menggunakan teknik dramatik.
Berikut kutipan yang mendukung bahwa Titiwardoyo sosok yang tenang dengan
menggunakan teknik dramatik.
(105) “Selamat malam, Tuan-tuan…,” sapa Titiwardoyo berusaha setenang mungkin (Devita, 2014 : 96).
(106) Titiwardoyo berusaha untuk tetap tenang, “Sungguh, Tuan…Tidak
ada ekstremis…” (Devita, 2014 : 97).
Titiwardoyo adalah lurah Tunjungrejo. Sebagai seorang lurah, sudah
menjadi kewajibannya untuk melindungi masyarakatnya. Kutipan (103) sampai
kutipan (106) menjelaskan sifat-sifat Titiwardoyo. Ia memiliki sifat rela berkorban
dan berpribadian tenang.
4.2.1.6 Abdul Syukur
Abdul Syukur adalah pengawal pribadi Sreodji. Ia sangat kagum akan sosok
itu ia ungkapkan lewat pujian-pujian terhadap Sroedji. Dalam menggambarkan
pernyataan tersebut, pengarang menggunakan teknik ekspositori dan dramatik.
Berikut kutipan yang mendukung bahwa Abdul Syukur sangat kagum terhadap
Sroedji dengan menggunakan teknik ekspositori.
(107) Abdul Syukur semakin hormat dan kagum kepada atasannya itu. Betapa telitidan matang Sroedji memperhitungkan semua kemungkinan yang mungkin dihadapi (Devita, 2014 : 161).
Berikut kutipan yang mendukung bahwa Abdul Syukur sangat kagum terhadap
Sroedji dengan menggunakan teknik dramatik.
(108) “Hanya suaranya…Ya, baru suaranya saja, yang jernih dan tegas,
sudah membuat seluruh anak buah takluk dan hormat,” batin Abdul Syukur, pengawal setia Sroedji.” (Devita, 2014 : 159).
(109) “Tak heran jika banyak yang menyangka Pak Sroedji punya jimat hingga omongannya selalu didengar. Tidak, aku yakin tidak. Pak
Sroedji muslim yang taat, tak mungkin punya jimat.” (Devita, 2014
: 159).
(110) “Benar-benar para pemimpin yang luar biasa dan tidak mementingkan diri sendiri,” batin Syukur (Devita, 2014 : 162).
Abdul Syukur sangat mengenal Sroedji. Bahkan ia sudah menganggap
Sroedji sebagai saudaranya. Selain itu, Abdul Syukur juga sangat menyayangi
atasannya itu. Ia akan lakukan apapun demi melindungi Sroedji. Sroedji sakit pun,
ia yang merawatnya. Dalam menggambarkan pernyataan tersebut, pengarang
Syukur sangat menyayangi terhadap Sroedji dengan menggunakan teknik
dramatik.
(111) “Pak, mau saya pijit punggung Bapak? Saya punya minyak akar
lawang.” Syukur menawarkan diri (Devita, 2014 : 213).
(112) “Sudah Pak. Sudah ada yang mengawasi distribusi makanan dan tempat istirahat. Bapak mengaso saja. Kalau Bapak sakit, siapa
nanti yang memimpin pasukan masuk Jember?” desak Syukur
(Devita, 2014 : 213).
(113) Melihat komandannya tidak marah, Syukur semakin berani
mengajukan pendapat. “Dalem panggilkan tukang pijit kampong nggih, Pak?” (Devita, 2014 : 213).
Abdul Syukur adalah pengawal pribadi Sroedji. Ia sangat meghormati sosok
Sroedji. Kutipan (107) sampai kutipan (113) menjelaskan sifat-sifat Abdul
Syukur. Ia memiliki sifat rendah hati dan sangat menyayangi Sroedji.
4.2.1.7 Rustamaji
Rustamaji adalah adik Rukmini nomor tiga. Dia juga ikut membantu Sroedji
dalam melawan penjajah. Segala perintah Sroedji dia laksanakan dengan baik.
Termasuk ketika Rustamaji harus memboyong Rukmini beserta ponakan-
ponakannya keluar dari Jember. Dia sangat menyayangi keluarganya. Oleh sebab
itu, dia juga ikut bertanggung jawab untuk menjaga Rukmini dan keponakannya.
Dalam menggambarkan pernyataan tersebut, pengarang menggunakan teknik
dramatik. Berikut kutipan yang mendukung bahwa Rustamaji bertanggung jawab
(114) “Mas Sroedji sangat mengkhawatirkan Iyu, ibu, adik-adik, dan anak-anak. Mas Sroedji pesan agar besok subuh, kami membawa smua mengungsi ke Kediri. Di sana Mas Sroedji sudah menunggu
di bunker persembunyian.” (Devita, 2014 : 117).
(115) “Mas Sroedji juga pesan agar kita lewat jalan melingkar, menghindari kota yang kini sudah diduduki Belanda. Lewat hutan dan pegunungan, Iyu. Belanda diduga sedang mengincar keluarga Mas Sroedji, terutama Iyu dan anak-anak. Dengan menangkap Iyu dan anak-anak, Belanda berharap perlawanan Mas Sroedji akan
melemah.” (Devita, 2014 : 117).
(116) “Pesan Mas Sroedji sudah jelas Iyu,…Jangan ditunda lagi. Belanda
bisa kapan saja masuk Jember. Kalau sudah begitu, akan sulit
sekali keluar Jember. Sini, aku bantu berkemas,” desak Rustamaji
(Devita, 2014 : 118).
Keadaan Rukmini yang sedang hamil tua, membuat perjalanan Rustamaji
dan keluarganya sedikit terhambat. Mereka tidak bisa bergerak cepat
meninggalkan Jember. Rustamaji sebenarnya tidak tega melihat Rukmini yang
hamil tua harus berjalan begitu jauh. Tetapi Rustamaji tidak boleh menyerah
begitu saja dalam memboyong keluarganya. Dia terus member semangat kepada
Rukmini agar tetap kuat. Dalam menggambarkan pernyataan tersebut, pengarang
menggunakan teknik dramatik. Berikut kutipan yang mendukung bahwa
Rustamaji bersemangat dengan menggunakan teknik dramatik.
(117) “Ayolah Iyu…Belanda tak akan membiarkan kita lolos. Tinggal
satu bukit kita sampai Iyu…sedikit lagi…” bujuk Rustamaji
(Devita, 2014 : 124).
(118) “Kita tinggal melewati bukit di depan Iyu. Kita segera sampai tempat persembunyian yang sudah disiapkan anak buah Mas
Sroedji. Empat kilo lagi Iyu, tak lebih…” desak Rustamaji (Devita,
2014 : 124).
Rustamaji adalah adik ipar sekaligus bawahan Sroedji. Ia sangat patuh
terhadap semua perintah Sroedji. Ia akan lakukan apa saja demi atasannya.
Termasuk menjaga Rukmini dan anak-anaknya kalau Sroedji meninggal. Dalam
menggambarkan pernyataan tersebut, pengarang menggunakan teknik ekspositori
dan dramatik. Berikut kutipan yang mendukung bahwa Rustamaji patuh terhadap
Sroedji dengan menggunakan teknik ekspositori.
(119) Buru-buru dia meninggalkan pertempuran, mengendap-endap ke arah berlawanan seperti perintah Sroedji (Devita, 2014 : 222).
Berikut kutipan yang mendukung bahwa Rustamaji patuh terhadap Sroedji dengan
menggunakan teknik dramatik.
(120) “Siap!!” Rustamaji menghormat dengan mata sembab (Devita, 2014 : 222).
Meskipun masih muda, keberanian Rustamaji dalam membantu Sroedji
untuk mengusir penjajah sangat besar. Ia berani menghadapi penjajah di medan
perang tanpa memperdulikan keselamatan nyawanya. Dalam menggambarkan
pernyataan tersebut, pengarang menggunakan teknik dramatik. Berikut kutipan
(121) Sroedji memandang Rustamaji, adik iparnya yang tiarap tak jauh darinya (Devita, 2014:221).
(122) “Dia masih sangat muda. Dia harus keluar dengan selamat dari
pertempuran ini,” pikir Sroedji seraya menghampiri Rustamaji
(Devita, 2014:222).
Rustamaji adalah adik Rukmini. Ia juga menjadi teman Sroedji dalam
mengusir penjajah. Kutipan (114) sampai kutipan (122) menjelaskan sidat-sifat
Rustamaji. Ia memiliki sifat yang bertanggung jawab, semangat, dan patuh
terhadap atasannya.
4.2.1.8 Sersan Sakri
Badannya yang kurus tidak menyurutkan niatnya untuk ikut membantu
mengusir penjajah. Ia rela berkorban bersusah payah untuk membebaskan tanah
airnya dari serangan penjajah. Dalam menggambarkan pernyataan tersebut,
pengarang menggunakan teknik dramatik. Berikut kutipan yang mendukung
bahwa Sersan Sakri rela berkorban dengan menggunakan teknik dramatik.
(123) “Min…Apa kamu yakin kita akan menang melawan serdadu
londo? Mereka terlatih dan punya senjata canggih. Lah kita? Cuma senapan seadanya. Malahan, satu bedil harus dipakai bertiga, bergantian. Yang lain hanya mengandalkan bamboo runcing, clurit,
klewang, keris, golok,” keluh Sersan Sakri (Devita, 2014 : 167).
(124) “Lha…yok opo ndak ngono, Min…Bayangno, kita ini sudah ngider ke sana kemari. Dari Jember harus hijrah ke Tulungagung dan Blitar, berjalan sangat jauh. Baru beberapa bulan di sana dan
mencoba hidup nyaman dengan membuka hutan, eee…sekarang
sebenere keinginannya para pemimpin kita itu?” (Devita, 2014 :
167).
Sersan Sakri adalah salah satu dari banyak pejuang muda yang mengeluh
akan peperangan. Kutipan (123) dan kutipan (124) menjelaskan bahwa Sersan
Sakri bosan dengan keadaan perang. Ia mempunyai semangat tinggi untuk
mengusir penjajah.
4.2.1.9 Sersan Paimin
Sersan Paimin juga anak buah Sroedji. Ia juga teman Sersan Sakri. Mereka
adalah teman seperjuangan. Sersan Paimin berbeda dengan Sersan Sakri. Ia
mempunyai semangat tinggi untuk mengusir penjajah dari tanah air tercinta.
Dalam menggambarkan pernyataan tersebut, pengarang menggunakan teknik
dramatik. Berikut kutipan yang mendukung bahwa Sersan Paimin cinta tanah air
dengan menggunakan teknik dramatik.
(125) “Ko en ndak boleh omong begitu Kri. Kita ini prajurit…prajurit Kri!” seru Paimin sambil menepuk dada (Devita, 2014 : 167).
(126) “Prajurit iku yo nyemplung laut sekalipun, kita harus nyemplung.
Beliau-beliau di pusat itu, pasti tahu yang paling baik dibandingkan
kita yang sekadar bisa baca tulis.” (Devita, 2014 : 167).
Semangat yang tinggi memang sangat dibutuhkan bagi seorang prajurit.
Tanpa adanya semangat, perjuangan tidak akan maksimal. Kutipan (125) dan
4.2.2 Analisis Latar
Sudjiman (1990 : 48) berpendapat bahwa latar adalah segala keterangan
mengenai waktu, ruang, dan suasana terjafinya dalam karya sastra. Burhan (2009
: 227 – 237) membedakan latar ke dalam tiga unsur pokok, yaitu latar tempat, waktu, dan sosial. Ketiga latar ini akan dikaitkan dengan novel Sang Patriot.
4.2.2.1 Latar Tempat
Mochammad Sroedji, anak dari pasangan Hasan dan Amni. Ia terlahir
sebagai anak pedagang yang sederhana. Pada usia belasan tahun, Sroedji sering
membantu ayahnya berdagang di pasar Pahing Hal ini dilakukannya guna
membantu sang ayah. Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung
pernyataan tersebut.
(127) Persis di depan toko itu, terhampar selembar tikar penuh dagangan milik Hasan yang tertata rapi: isi pematik dan aneka kebutuhan rumah tangga. Di pasar Pahing, dagangan Hasan terkenal berkualitas dan cukup murah (Devita, 2014 : 13).
(128) Pasar Pahing yang becek semakin ramai. Satu-dua pembeli datang dan dilayani oleh Sroedji dengan ramah (Devita, 2014 : 16).
Waktu terus berputar dan Sroedji terus tumbuh menjadi pria dewasa. Ia
menikah dengan seorang gadis bernama Rukmini. Sroedji memboyong keluarga
di Rumah Sakit Umum Kreongan. Berikut kutipan tidak langsung yang
mendukung pernyataan tersebut.
(129) Selesai acara pernikahan, Mochammad Sroedji, yang baru Rukmini kenal di pelaminan, langsung memboyong istrinya ke Jember (Devita, 2014 : 32).
(130) Di sana ia bekerja dan mengabdi sebagai seorang Mantri Malaria di Rumah Sakit Umum Kreongan (Devita, 2014 : 32).
(131) Siang itu, seperti biasa Rumah Sakit Kreongan ramai orang yang membawa keluhan bermacam penyakit yang diderita (Devita, 2014 : 43).
Sroedji adalah seorang mantri malaria yang mempunyai keinginan besar
untuk mengusir penjajah dari tanah airnya. Keinginan itu sudah tertanam sejak ia
belum menikah. Setelah mengetahui bahwa ada perekrutan tentara, Sroedji dengan
mantab ingin bergabung. Karier ketentaraannya ia mulai dari bergabung dengan
PETA yang nantinya dilatih di Bogor. Berikut kutipan tidak langsung yang
mendukung pernyataan tersebut.
(132) Kota Bogor yang berada di kaki gunung Salak berketinggian 262 meter di atas permukaan laut terkenal sebagai kota bercurah hujan tinggi (Devita, 2014 : 52).
(133) Seminggu sudah air dari langit mengguyur kota Bogor, meninggalkan udara (134) dingin menggigit (Devita, 2014 : 58). (134) Usai ikut pendidikan PETA di Bogor, Chuudanchoo Mochammad
Sroedji dipulangkan ke Jember (Devita, 2014 : 60).
(135) Mereka berkumpul di meja makan, bersantap bersama untuk pertama kalinya setelah empat bulan kepergian Sroedji ke kamp pelatihan PETA di Bogor (Devita, 2014 : 62).
Setelah dipulangkan ke Jember, Sroedji merekrut orang di daerahnya
untuk masuk menjadi anggota PETA. Kala itu, Sroedji merekrut orang di
Karesidenan Besuki. Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung pernyataan
tersebut.
(136) Beberapa minggu berlalu. Sroedji bersama para chuudancho, komandan kompi lain yang ditugaskan untuk membentuk Daidan Dai II di Karesidenan Besuki, mulai sibuk membuka pendaftaran bagi siapa saja yang bersedia dilatih menjadi anggota daidan, battalion di tiap kabupaten dan kota (Devita, 2014 : 67).
(137) Sebagai perwira PETA, Sroedji merasa dilecehkan pangkat dan keberadaannya sebagai salah satu pelatih inti di Daidan Besuki (Devita, 2014 : 71).
Berikut kutipan langsung yang mendukung pernyataan bahwa Sroedji merekrut
orang pribumi untuk bergabung bersama PETA di Karesidenan Besuki.
(138) “Aku mendapat pangkat chuudanchoo, kapten Bu, menjadi komandan Kompi 4 di bawah Daidanchoo Suwito. Tugasku membentuk Daidan I di Karesidenan Besuki, khususnya di
Kencong, Jember.” (Devita, 2014 : 64).
Setelah dipercaya menjadi pemimpin PETA di daerahnya, Sroedji menjadi
jarang di rumah. Ia selalu pergi ke luar kota untuk melaksanakan tugasnya sebagai
tentara. Tak lama setelah peristiwa hancurnya Hiroshima dan Nagasaki membuat
Jepang mengambil keputusan untuk menyerahkan kekuasaan kepada sekutu dan
membubarkan PETA. Setelah PETA dibubarkan, presiden Ir. Soekarno
Keamanan Rakyat (BKR) yang nantinya berganti nama menjadi Tentara
Keamanan Rakyat (TKR).
Peristiwa penembakan AWS. Mallaby, disusul tewasnya Jendral Gobert
Guy Loder-Symonds DSO. MC., menjadi pukulan bagi Inggris. Hal ini membuat
mereka berencana untuk membumihanguskan Surabaya. Sroedji dan kawan-
kawannya tidak tinggal diam menghadapi serangan tersebut dan mereka
merencanakan pertempuran untuk mempertahankan Surabaya. Peristiwa ini terjadi
di Surabaya. Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung pernyataan
tersebut.
(139) Ultimatum lewat selebaran yang dijatuhkan dari pesawat itu membuat ribuan wanita dan anak-anak bergegas meninggalkan kota Surabaya, mengungsi cari selamat (Devita, 2014 : 74).
(140) Kota Surabaya yang sudah ditinggal mengungsi kaum wanita dan anak-anak tidak serta-merta menjadi lenggang (Devita, 2014 : 77). (141) Kepekatan malam meliputi Surabaya, menggantikan ingar-bingar
desing peluru, dentum mortir dan ledakan granat (Devita, 2014 : 81).
Pertemuan telah usai, Sroedji mendapat bagian untuk mempertahankan kota
Surabaya bagian selatan. Menurut tentara Inggris yang tertangkap, akan ada
konvoi besar tank Inggris menuju Sidoarjo, selatan Surabaya. Mengetahui hal itu,
Sroedji bermaksud untuk menyerang konvoi tersebut di dekat Kali Brantas.
(142) Pasukan Inggris mulai merangsek ke selatan Surabaya. Di sana, di Sidoarjo, sudah penuh sisa-sisa pejuang yang dipaksa mundur oleh gempuran luar biasa tentara Inggris (Devita, 2014 : 81).
(143) Lepas tengah malam, kala lenguh burung hantu saling timpal dengan dengkungan kodok, di bawah jembatan yang melintang di atas kali Brantas berkelebat bayangan hitam (Devita, 2014 : 81). (144) Arus sungai Brantas menderas, turut menyambut kemenangan
pejuang (Devita, 2014 : 86).
Pertempuran demi pertempuran terus terjadi. Sroedji dan para pejuang
lainnya harus masuk keluar hutan dan kota-kota yang diserang oleh penjajah.
Blitar, juga menjadi sasaran para penjajah. Berikut kutipan tidak langsung yang
mendukung pernyataan tersebut.
(145) Sroedji menjadi komandan Satuan Gabungan Angkatan Perang dalam penumpasan ekor PKI di Blitar (Devita, 2014 : 147).
(146) Selama dua bulan operasi berlangsung, Blitar berhasil dibersihkan dari pengaruh PKI dalam waktu dua minggu (Devita, 2014 : 147).
Setelah menjadi istri seorang tentara, kehidupan Rukmini ikut menjadi tidak
tenang. Ia pun harus mau berpindah-pindah tempat guna mengelabui para penjajah
yang mencarinya. Ketika Jember dirasa sudah tidak aman lagi, Sroedji menyuruh
Rukmini untuk pindah ke Kediri. Di Kediri, Sroedji tinggal di sebuah rumah
peninggalan orangtuanya. Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung
pernyataan tersebut.
(147) Rukmini mendapat kesempatan berkumpul dengan Sroedji setelah melalui perjalanan darat, dua ratus kilometer berjalan kaki dari Jember ke Kediri (Devita, 2014 : 132).
(148) Di Kediri, Sroedji sekeluarga menempati sebuah rumah besar yang berdiri di atas lahan seluas seribu meter persegi peninggalan orangtuanya di desa Gurah, kampung Kauman (Devita, 2014 : 132).
Perjuangan para pejuang memang tidak mudah. Banyak hal yang harus
dikorbankan. Demikian pula dengan Sroedji. Ia harus berpindah-pindah tempat
untuk mengusir penjajah. Kali ini Tempursari menjadi tempat bertandang Sroedji.
Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung pernyataan tersebut.
(149) Jelang saat yang rawan, di Tempursari, Letkol Mochammad Sroedji alias Pak Raji meminpin rapat gabungan staf Brigade III dan Brigade IV (Devita, 2014 : 183).
(150) Penjagaan di pos Belanda di Tempursari nyatanya tidak terlalu kuat. Hanya ada dua peleton pasukan di sana (Devita, 2014 : 184).
Penanggal juga menjadi saksi bisu pertempuran Sroedji melawan penjajah.
Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung pernyataan tersebut.
(151) Setiba di Penanggal, ketiga batalion disambut kabar dari warga setempat bahwa Belanda sudah pergi memusatkan kekuatan di Pasirian (Devita, 2014 : 194).
(152) Melalui pertempuran hebat di desa Pronojiwo, Jarit, dan Candipuro, akhirnya brigade yang dikomandani Sroedji berhasil merebut dan menduduki desa Penanggal (Devita, 2014 : 198).
Karang Kedawung menjadi saksi bisu terakhir perjuangan Sroedji. Di Karang
Kedawunglah Sroedji meninggal. Berikut kutipan tidak langsung yang
(153) Beberapa belas pejuang yang selamat atau sekadar terluka memilih mundur, buru-buru meninggalkan Karang Kedawung (Devita, 2014 : 234).
Berikut kutipan langsung yang mendukung pernyataan bahwa Sroedji meninggal
di Karang Kedawung.
(154) “Benar ini mayat Sroedji, hah?!” bentak serdadu KNIL berwajah bengis kepada wanita warga Karang Kedawung yang berjongkok di barisan paling depan (Devita, 2014 : 235).
4.2.2.2 Latar Waktu
Latar waktu dalam novel Sang Patriot karya Irma Devita dijelaskan secara rinci oleh pengarang. Secara garis besar keterangan waktu dalam novel dimulai
dari masa kecil Sroedji, perjuangan-perjuangannya, sampai ia meninggal. Untuk
lebih jelasnya keterangan waktu dalam novel tersebut akan dijabarkan.
Sroedji adalah bocah laki-laki yang suka bermain perang-perangan di siang
hari bersama teman-temannya. Ia sangat menyukai permainan tersebut. Seolah-
olah ia sedang berada di medan pertempuran yang sesungguhnya. Berikut kutipan
tidak langsung yang mendukung pernyataan tersebut.
(155) Di suatu siang yang terik, sekelompok bocah lelaki usia tujuh tahunan bermain perang-perangan di antara rumpun tebu (Devita, 2014 : 5).
Sroedji berprofesi sebagai mantri malaria. Ia selalu membantu orang-orang
yang membutuhkan pertolongannya. Setiap siang hari Sroedji selalu menjalankan
tanggung jawabnya sebagai mantri. Berikut kutipan tidak langsung yang
mendukung pernyataan tersebut.
(156) Siang itu, seperti biasa Rumah Sakit Umum Kreongan ramai orang yang membawa keluhan bermacam penyakit yang diderita (Devita, 2014 : 43).
(157) Setelah menjalani kesibukan sesiangan, saat mencatat stok obat benak Sroedji kembali dipenuhi pikiran tentang pertemuannya dengan kawan-kawan sesama eks Hizbul Wathan (Devita, 2014 : 44).
Sroedji memang laki-laki yang mempunyai keinginan besar untuk mengusir
penjajah. Ia akan melakukan segala cara guna mencapai keinginannya tersebut. Di
bawah ini akan dipaparkan mengenai perjalanan perjuangan Sroedji dalam
mengusir penjajah. Berikut kutipan tidak langsung yang mendukung pernyataan
tersebut.
(158) Adalah Gatot Mangunpradja yang mengawalinya. Dia menyurati
Gunseikan pada tanggal 7 September 1943 dan menganjurkan dibentuknya tentara sukarela Pembela Tanah Air (Devita, 2014 : 41).
(159) Sroedji tak menjawab pertanyaan kawannya. Ia ambil koran itu dari tangan Supardi, edisi terbaru tanggal 3 Oktober 1943 (Devita, 2014 : 44).
(160) Esoknya, Sroedji mendatangi lokasi perekrutan PETA (Devita, 2014 : 48).
(161) Lapangan Ikada, 8 Desember 1943. Hari yang bersejarah bagi para calon perwira PETA (Devita, 2014 : 59).
Perjuangan panjang Sroedji beserta anak buahnya memang sangat berat. Di
tengah-tengah kerasnya medan pertempuran, mereka selalu berharap akan datang
waktunya bahwa Indonesia benar-benar merdeka. Pengorbanan Sroedji terbayar
sudah pada tanggal 27 Desember 1949. Berikut kutipan tidak langsung yang
mendukung pernyataan tersebut.
(162) Perjuangan dan pengorbanan para syuhada tidak sia-sia. Setelah melalui perjuangan dan perundingan yang panjang, akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda secara de jure dan de facto mengakui kedaulatan Republik Indonesia (Devita, 2014 : 252).
4.2.2.3 Latar Sosial
Latar sosial pada novel ini mengacu pada kehidupan masyarakat pada
zaman penjajahan. Dimana sekolah-sekolah belum bisa dinikmati oleh semua
kalangan, sistem perjodohan masih terjadi, anak perempuan tidak boleh sekolah
terlalu tinggi, dan masih banyak lagi. Berikut kutipan tidak langsung mengenai
pendidikan di zaman penjajahan.
(163) Namun penjajahan Belanda hanya memungkinkan orang-orang tertentu yang bisa sekolah. Meski Gubernur Jendral Daendels memerintahkan para bupati sepulau Jawa untuk menyebarkan pendidikan bagi kalangan rakyat, tetapi perintah itu seakan berlaku sebagai angin lalu saja. Hanya para priyayi dari golongan ningrat yang berkesempatan mengenyam pendidikan. Anak bupati,
keturunan raja-raja Jawa, dan anak-anak pribumi yang orangtuanya bekerja untuk Belanda yang dapat bersekolah (Devita, 2014 : 10). (164) Beruntung keluar kebijakan diferensiasi sekolah untuk Bumi
Putera: sekolah kelas I untuk golongan priyayi dan sekolah ke II (sekolah ongko loro) untuk rakyat jelata (Devita, 2014 : 10).
Anak perempuan pada zaman itu tidak boleh sekolah terlalu tinggi. Rukmini
tidak luput dari keadaan itu. Sekolah terlalu tinggi bagi perempuan akan membuat
laki-laki enggan mendekatinya. Berikut kutipan langsung yang mendukung
pernyataan tersebut.
(165) “Tidak bisa Bu…aku tahu Rukmini sangat cerdas. Tapi perempuan seperti itu akan sulit dapat jodoh. Laki-laki takut menghadapi perempuan yang terlalu pintar. Perempuan seperti itu biasanya sulit diatur dan mendengarkan kata-kata suami. Kamu ingin melihat anak kita perawan tua seumur hidup?” timpal Tajib (Devita, 2014 : 27).
(166) “Apalagi nanti kalau dia sudah sekolah lebih tinggi…pasti syaratnya akan semakin macam-macam…bisa-bisa, baginya tidak ada laki-laki Madura yang pantas jadi suami,” gerutu Mas Tajib lagi (Devita, 2014 : 28).
Perjodohan pada masa itu bukanlah menjadi hal yang tabu. Banyak orangtua
yang mengkhawatirkan anaknya tidak berkeluarga daripada melihat anaknya
menjadi orang sukses. Hal ini juga terjadi pada diri Rukmini. Berikut kutipan
tidak langsung yang mendukung pernyataan tersebut.
(167) Sang ayah mengabarkan bahwa Rukmini dilamar orang dan harus segera menikah bulan depan. Rukmini serasa disambar guntur di siang bolong mendengarnya. Hatinya gusar. Menikah berarti harus