• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Hakikat Novel

2.2.1.1 Tokoh dan Penokohan

Sebuah novel tidaklah berjalan tanpa adanya peran tokoh. Tokoh adalah

para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi (Wiyatmi, 2006: 30). Panuti

Sudjiman (1990 : 79) mengartikan tokoh sebagai individu rekaan yang mengalami

peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Abrams

(Wahyuningtyas & Wijaya, 2011 : 5) berpendapat bahwa tokoh adalah orang-

orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca

ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang

diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita tidak hanya didukung oleh satu

tokoh. Cerita dalam novel juga membutuhkan tokoh tambahan agar cerita dalam

novel tersebut semakin hidup. Burhan Nurgiyantoro (2009: 176 – 177) mengklasifikasikan tokoh sebagai berikut.

a. Tokoh Utama

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel

yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik

sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

b. Tokoh Tambahan

Tokoh tambahan adalah tokoh-tokoh lain yang terdapat dalam sebuah

cerita. Tokoh tambahan biasanya tidak dipentingkan dan hadir jika ada kaitannya

Berbeda dengan tokoh, penokohan menunjuk pada watak, perwatakan,

karakter, sifat, dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, serta

lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh (Burhan, 2009: 165). Jones

(Burhan, 2009:165) mengatakan, penokohan adalah pelukisan gambaran yang

jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Ada dua teknik

yang bisa digunakan pengarang dalam menggambarkan sifat pada tokoh.

Altenbernd & Lewis (Burhan, 2009:194) menyebutnya dengan teknik ekspositori

dan teknik dramatik. Berikut dijelaskan mengenai kedua teknik tersebut.

a. Teknik Ekspositori

Teknik ekspositori adalah pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan

memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Pada teknik ini,

pengarang menghadirkan tokoh dengan cara mendeskripsikan sikap, sifat, watak,

tingkah laku, atau bahkan ciri-ciri fisiknya (Burhan, 2009:194 – 195). b. Teknik Dramatik

Pada teknik dramatik ini pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit

sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan pembaca

menemukan sendiri sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan ciri-ciri fisik

tokoh (Burhan, 2009:198).

Berikut akan dijelaskan beberapa cara lain untuk mengenali sifat tokoh

1. Teknik cakapan

Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita, kita dapat mengenali

apakah ia orang tua, orang dengan pendidikan rendah atau tinggi, sukunya, wanita

atau pria, orang berbudi halus atau kasar.

2. Teknik tingkah laku

Teknik tingkah laku menyaran pada tindakan yang bersifat nonverbal atau

fisik. Apa yang dilakukan orang dalam wujud tindakan dan tingkah laku dapat

mencerminkan sifat-sifanya.

3. Teknik pikiran dan perasaan

Teknik ini menggambarkan pikiran dan perasaan para tokoh. Bagaimana

keadaan dan jalan pikir serta perasaan, apa yang melintas di dalam pikiran dan

perasaan tokoh, serta apa yang sering dipikirkan dan dirasakan oleh tokoh, dengan

demikian hal ini akan mencerminkan sifat para tokoh.

4. Teknik arus kesadaran

Teknik yang berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental

tokoh di mana tanggapan indera bercampur dengan kesadaran dan ketidaksadaran

pikiran, perasaan, ingatan, dan harapan. Aliran kesadaran berusaha menangkap

dan mengungkapkan proses kehidupan batin, yang memang hanya terjadi di batin,

baik yang berada di ambang kesadaran maupun ketaksadaran, termasuk kehidupan

5. Teknik reaksi tokoh

Teknik reaksi tokoh dimaksudkan sebagai reaksi tokoh terhadap suatu

terhadap suatu kejadian, masalah, keadaan, kata-kata, dan sikap orang lain berupa

rangsangan dari luar diri tokoh yang bersangkutan. Bagaimana reaksi tokoh

terhadap hal-hal tersebut dapat dipandang sebagai bentuk penampilan yang

mencerminkan sifat tokoh.

6. Teknik reaksi tokoh lain

Teknik reaksi tokoh lain dimaksukan sebagai reaksi yang diberikan oleh

tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh lain. Reaksi ini bisa berupa

pandangan, pendapat, sikap, dan komentar.

7. Teknik pelukisan latar

Suasana latar dapat dipakai untuk melukiskan kedirian seorang tokoh.

Keadaan latar tertentu dapat menimbulkan kesan tertentu. Misalnya, suasana

rumah yang bersih, teratur, rapi, akan menimbulkan kesan bahwa pemilik rumah

itu sebagai orang yang cinta kebersihan.

8. Teknik pelukisan fisik

Teknik melukiskan keadaan fisik tokoh mendeskripsikan mengenai bentuk

tubuh dan wajah tokoh-tokohnya. Misalnya, bibir tipis menyaran pada sifat

ceriwis dan bawel, rambut lurus menyaran pada sifat tak mau mengalah,

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tokoh lebih merujuk pada orang

yang memainkan peran dan penokohan merujuk pada karakter tokoh atau

pelukisan gambaran sifat tokoh.

2.2.1.2 Latar

Abrams (Burhan, 2009:216) menyebut latar sebagai landas tumpu,

menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat

terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar adalah segala keterangan

mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra

(Sudjiman, 1990: 48). Zaidan (1988: 33) mengungkapkan bahwa latar dalam

novel tidak sama dengan latar belakang.

Burhan (2009: 227 – 237) membedakan latar ke dalam tiga unsur pokok, yaitu latar tempat, waktu, dan sosial.

a. Latar Tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan

dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan biasanya berupa

tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, atau lokasi tertentu tanpa

nama yang jelas, seperti: desa, sungai, jalan, hutan. Perlu dikatakan bahwa latar

tempat dalam sebuah novel biasanya meliputi berbagai lokasi. Ia akan berpindah-

pindah dari satu tempat ke tempat yang lain sejalan dengan perkembangan plot

b. Latar Waktu

Latar waktu menyaran pada “kapan” terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, misalnya tahun, musim, hari, dan jam. Latar waktu juga

harus dikaitkan dengan latar tempat (juga sosial) sebab pada kenyataannya

memang saling berkaitan. Keadaan suatu yang diceritakan mau tidak mau harus

mengacu pada waktu tertentu karena tempat itu akan berubah sejalan dengan

perubahan waktu.

c. Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku

sosial masyarakat yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, misalnya, kebiasaan

hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir, dan sikap.

Selain itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang

bersangkutan, misalnya rendah, menengah, dan atas.

2.2.1.3 Tema

Gorys Keraf (Wahyuningtyas & Wijaya, 2011 : 2) berpendapat bahwa

tema berasal dari kata tithnai (bahasa Yunani) yang berarti menempatkan, meletakkan. Jadi, menurut arti katanya tema berarti sesuatu yang telah diuraikan

atau sesuatu yang telah ditempatkan. Menurut Dick Hartoko dan Rahmanto (1986

: 142) tema adalah gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan

yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut

Kenny (Nurgiyantoro, 2009:67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita.

Tema (Jacob Sumardjo & Saini K.M, 1986:56) adalah ide sebuah cerita. Seorang

pengarang dalam menulis cerita bukan sekedar mau bercerita, tetapi mau

mengatakan sesuatu kepada pembaca. Sesuatu yang mau dikatakan itu bisa suatu

masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau komentar

terhadap kehidupan ini. Tema tidak perlu selalu berwujud moral, atau ajaran

moral. Tema bisa berwujud pengamatan pengarang terhadap kehidupan.

Dalam menemukan tema sebuah karya sastra atau novel, haruslah

disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian

tertentu cerita (Burhan, 2009:68). Dalam usaha menemukan tema, Nurgiyantoro

mengemukakan sejumlah criteria seperti ditunjukkan sebagai berikut.

1. Kita haruslah mulai dengan cara memahami cerita dalam novel. Bukan

hanya membaca bagian-bagian tertentu saja. Perlu juga mencari kejelasan

ide-ide perwatakan, peristiwa atau konflik yang terjadi, dan latar.

2. Pengarang biasanya menngunakan tokoh utama untuk membawa tema. oleh

sebab itu kita perlu memahami keadaan itu. Untuk tujuan tersebut, kita

dapat mengajukan beberapa pertanyaan seperti: apa motivasinya,

permasalahan apa yang dihadapi, bagaimanakah sikap dan pandangannya

terhadap permasalahan itu, dan sebagainya.

3. Selain dengan cara tersebut, sebaiknya disertai dengan usaha menemukan

unsur pokok dalam pengembangan ide cerita dan plot, pada umumnya erat

berkaitan dengan tema.

Burhan (2009:86) mengungkapkan bahwa unsur tokoh (dan penokohan),

plot (dan pemplotan) dan latar (dan pelataran) merupakan sarana utama untuk

memahani makna cerita dalam novel. Selain itu, dalam menemukan tema perlu

memperhitungkan sarana kesastraan, seperti sudut pandang, gaya bahasa, nada,

dan ironi walau tidak secara langsung dan tidak dapat secara sendiri memuat

makna, unsur-unsur itu dapat membantu memperkuat penafsiran tema.

Dokumen terkait