Oleh :
Mayor Kav M. Iftitah Sulaiman S. (Pembantu Asisten Sespri Presiden RI)
“Saya ingin Jenderal-Jenderal kita berwibawa. Kolonel kita, Perwira kita berwibawa. Kemanapun
berinteraksi, entah dalam peacekeeping missions, entah dalam disaster relief operations atau dalam seminar dan simposium. Kita gagah karena kita juga knowledgeable, kita punya outlook yang bagus serta tampil percaya diri…Saya lihat generasi Pak Benny Moerdani sudah hilang…Kita sekarang butuh perwira
yang orang lapangan dengan wawasan global dan punya pengalaman kredibel.”
Presiden SBY, 21 April 2011
yang unggul yang profesional, modern, efektif dan tentu saja berkelas dunia.
Yang menarik dari harapan Presiden adalah kata-kata berkelas dunia itu. Kita mudah memahami tentang arti profesionalisme, modern, efektif dan menentukan. Tetapi berkelas dunia? Apa maknanya? Dalam kaitan apa? Mengapa Tentara Nasional Indonesia harus berkelas dunia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering dilontarkan oleh para perwira TNI dalam berbagai kesempatan di forum akademis maupun perbincangan sehari-hari membahas masa depan TNI AD yang kita cintai ini.
Menurut Prof. Dr. Juwono Sudarsono, mantan Menteri Pertahanan, kata-kata kelas dunia sebenarnya lebih mengacu kepada standard internasional, baik dari segi pengetahuan dan keterampilan militer secara universal, aspek networking, maupun aspek komunikasi dan kemampuan menguasai bahasa pengantar internasional. Dari pengertian sederhana itu, tidak berlebihan bila Presiden yang kerap mendapatkan peluang untuk mengikuti pendidikan, latihan maupun penugasan operasi di luar negeri saat aktif di militer memiliki penilaian bahwa secara individu; baik kemampuan, kualitas, maupun kinerja yang dimiliki oleh para perwira kita. Sebenarnya TNI tidak kalah dengan mereka yang berasal dari negara-negara maju di dunia, seperti Amerika Serikat, Australia, maupun negara-negara di Eropa Barat. Hanya saja, jika diamati lebih jauh, secara umum kemampuan dan kualitas yang unggul tersebut belum menjadi standard bagi perwira TNI secara keseluruhan.
Padahal tantangan kedepan semakin membutuhkan sosok perwira perwira TNI yang kapabel untuk memimpin pasukan multinasional, baik dalam operasi pemeliharaan perdamaian, penanggulangan bencana alam, maupun kontra terorisme. Sudah siapkah kita menyambut peluang tersebut? Di satu sisi, kita sorot soal kemampuan berbahasa saja, saat berdinas di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI selaku Kepala Seksi Siap Operasi. Penulis mencermati bahwa grafik permintaan pasukan pemeliharaan perdamaian kepada Indonesia selalu menanjak dari tahun ketahun. Bayangkan, jumlah pasukan kita di Libanon saja pada tahun 2006 hanya 850 personel, bandingkan dengan tahun 2012 yang mencapai lebih dari 1800 orang. Tetapi
dalam setiap laporan evaluasi Satuan Tugas (Satgas), 80% hambatan Satgas adalah soal penguasaan bahasa Inggris, khususnya bagi para perwira. Bahkan sering terjadi perwira piket harus memanggil interpreter setiap kali ada telepon berdering. Dengan keterbatasan bahasa itu saja, kita masih dipuji-puji oleh dunia internasional atas kinerjanya yang melampaui panggilan tugas, apalagi bila kita menguasai bahasanya. Tentu peluang untuk memimpin pasukan multi nasional akan semakin terbuka lebar. Dampaknya akan baik bukan saja untuk TNI dan khususnya TNI AD, tetapi juga untuk Merah Putih, yakni mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia.
Apabila kita membaca perjalanan sejarah TNI, kita pernah memiliki Jenderal Rais Abin, sebagai Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah pada era 70an. Kita memiliki Jenderal Benny Moerdani, sebagai arsitek operasi pembebasan sandera di Thailand pada era 80an. Kita juga memiliki Jenderal SBY, sebagai Komandan Pengamat Militer di Bosnia pada era 90an. Kesemua Jenderal tadi memiliki pengetahuan dan keterampilan militer mumpuni, aspek global networking yang luas, serta aspek komunikasi dan kemampuan menguasai bahasa internasional. Dengan demikian, bisa kita katakan, para jenderal tersebut berkelas dunia.
Lalu apakah kita lantas hanya berpangku tangan sembari terpesona dengan sejarah dan nostalgia kehebatan yang dimiliki oleh para jenderal itu? Penulis yakin, jawabannya tentu tidak. Keinginan yang kuat dari institusi untuk berubah kearah yang selalu lebih baik, dapat mudah terbaca melalui Jurnal Yudhagama ini. Hanya saja, keinginan kuat untuk melakukan perubahan
itu, harus juga menjadi keinginan seluruh pembaca, bukan hanya keinginan para penulis saja. Untuk itu, penulis juga dalam menyusun tulisan ini, berupaya menggali pendapat dari semua lapisan perwira, rekan satu angkatan, serta senior dan junior, disamping beberapa tokoh sipil pengamat militer, agar saripati yang dihasilkan dalam tulisan ini bisa lebih membumi. Yang menggembirakan, tidak sedikit nara sumber yang secara kritis berharap agar proses transformasi ini menjadi gerak kehidupan organisasi TNI AD, dan bukan sekedar musiman. Bila musiman saja, transformasi akan mudah hilang, semudah musim berganti. Karena transformasi juga adalah soal perubahan mind-set, maka sekali lagi, makin banyak prajurit yang tergerak untuk bertransformasi, tentu akan semakin mempercepat terwujudnya proses transformasi itu.
PERWIRA TNI AD HARUS BERKELAS DUNIA.
Pada umumnya, para perwira yang dikirim untuk mengikuti pendidikan ataupun penugasan di luar negeri adalah mereka yang dianggap memiliki keunggulan pengetahuan dan keterampilan militer dibandingkan dengan rekan-rekannya, termasuk dari sisi penguasaan bahasa asing. Dengan mendapatkan pengalaman mengikuti pendidikan, latihan maupun penugasan luar negeri ini, tentu akan semakin membuka wawasan serta menambah ilmu pengetahuan bagi yang bersangkutan. Termasuk bagi yang berkesempatan untuk melaksanakan penugasan operasi dibawah naungan PBB di berbagai misi pemeliharaan perdamaian dunia. Mereka juga mendapatkan pengalaman yang berharga untuk bekerja di dalam sebuah sistem dan mekanisme
kerja yang profesional, modern dan berkelas dunia. Dengan demikian, sekali lagi secara relatif,
outcome-nya adalah perwira-perwira yang semakin
unggul dibandingkan dengan rekan-rekannya yang tidak memiliki kesempatan yang sama. Pengamatan para nara sumber ini tidak berarti bahwa kita “mendewa-dewakan” sistem pendidikan dan latihan yang berlaku di militer negara-negara maju. Merekapun tidak lepas dari permasalahan dan kekurangan. Karena di sisi lain, kita juga memiliki berbagai keunggulan yang dapat dijadikan sebagai referensi konstruktif bagi militer negara-negara maju tersebut. Terutama jika kita berbicara tentang pengalaman didalam counterinsurgency,
counterterrorism, conflict resolution, peacekeeping,
dan bagaimana winning the hearts and minds of the
people.
Dengan demikian, para perwira yang tidak memiliki pengalaman luar negeri pun dapat mengisi dirinya dengan berinteraksi dalam rangka saling belajar dan saling melengkapi antara satu sama lainnya, baik dengan perwira TNI yang kembali dari luar negeri maupun Perwira Asing yang berkunjung ke Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu haus untuk belajar dari keunggulan yang dimiliki bangsa-bangsa lainnya. Secara objektif, kita harus dapat mengakui bahwa negara berkembang, seperti Indonesia, masih perlu banyak belajar dari apa yang telah dicapai oleh negara-negara maju di dunia, baik dari segi kemajuan ekonomi, pembangunan, teknologi, pendidikan, termasuk kemajuan di bidang pertahanan dan militer.
Kita ingin mengejar ketertinggalan, mencapai kesejajaran dan bahkan dapat melebihi negara-negara yang saat ini masuk kedalam klub negara-negara maju, termasuk dalam peningkatan kualitas sumber daya Perwira TNI AD. Tentu ini semua harus didasarkan pada
karakter jati diri bangsa serta nilai-nilai luhur budaya Indonesia, yang unik dan memiliki keunggulannya tersendiri. Secara realistis, kita harus cerdas untuk memetik pengalaman berharga dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Terbatasnya kesempatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya perwira TNI AD melalui program-program kerjasama militer dengan negara lain, diharapkan menjadi pemicu bagi TNI AD untuk segera mewujudkan kemandirian dalam rangka mencetak kader-kader perwira yang berkelas dunia. Apa yang disampaikan Presiden selaku Panglima Tertinggi TNI sebagaimana dikutip di awal tulisan adalah wujud perhatiannya terhadap kondisi yang terjadi saat ini. Dalam pembicaraannya lebih lanjut, Presiden menyampaikan harapannya agar lembaga-lembaga pendidikan yang dimiliki TNI AD, bisa menyiapkan perwira-perwira TNI AD yang berkelas dunia, sehingga mampu menghadapi tantangan abad XXI yang tidak semakin mudah.
PEMBENAHAN INTERNAL LEMDIK TNI AD : PROSES TIADA AKHIR.
Saat ini, Revolution in Military Affairs telah menjadi agenda utama dalam rangka memodernisasi sistem senjata dan peralatan perang sebuah negara. Namun, dengan semakin tingginya ketergantungan terhadap kecanggihan teknologi dan Alutsista, mengharuskan kita untuk meningkatkan human capital, sumber daya manusianya. Dalam mewujudkan hal tersebut, pendidikan yang berkualitas secara berjenjang menjadi kunci utama dalam mencetak prajurit-prajurit dan sumber daya manusia lainnya di bidang pertahanan yang berkelas dunia.
Sebenarnya sistem pendidikan di jajaran TNI AD telah berjalan dengan baik. Hal ini bukan saja dikemukakan oleh para nara sumber, tetapi juga oleh Presiden, yang terus mengamati dari luar, berlangsungnya transformasi di lingkungan TNI AD, khususnya dibidang pendidikan. Menurut Presiden, dengan semakin tingginya tantangan tugas, maka semua prajurit, khususnya para perwira, harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti semua level pendidikan yang ada di TNI AD, hingga pendidikan tertinggi, yakni Seskoad.
Selanjutnya, konsep scholar soldier yang kini tengah dikedepankan oleh TNI AD harus terus ditingkatkan. Seorang perwira TNI AD tidak cukup hanya berbekal dan mengandalkan kemampuan fisik dan teknis kemiliteran saja, namun dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas serta pemahaman terhadap perkembangan situasi lingkungan strategis regional dan global yang relevan dengan tugas pokoknya. Konsep scholar soldier sendiri menjadi salah satu prasyarat dari sebuah
angkatan bersenjata berkelas dunia. Konsep ini sangat kontekstual mengingat saat ini telah terjadi perubahan paradigma bentuk ancaman dari tradisional menjadi nontradisional. Bahkan melalui penerapan konsep
scholar soldier, personel TNI AD juga diharapkan bisa
lebih memahami aturan-aturan internasional yang berlaku dalam perang maupun penanganan konflik.
Rules of Engagement (ROE) serta Hukum-hukum
Internasional lain yang telah diratifikasi, menjadi keharusan untuk dipahami. Melalui pemahaman yang utuh terhadap peraturan-peraturan internasional yang berlaku, tentunya akan membantu personel TNI AD untuk bisa menunjukkan performa yang baik dan mampu bersaing dengan personel militer dari negara lain.
Oleh karena itu, sebagai tentara profesional yang adaptif dan siap menghadapi ancaman maupun tantangan keamanan masa kini, para perwira TNI harus selalu bertindak dengan mengedepankan pandangan yang bersifat outward looking dan menghindari cara berpikir meminjam istilah para senior seperti “katak dalam tempurung”. Menurut para nara sumber, perubahan cara berpikir maju ini bukan milik para perwira lulusan luar negeri, tetapi milik semua perwira TNI AD, khususnya abit Seskoad. Mengapa? Dalam salah satu kegiatan seleksi Seskoad dengan materi psikologi misalnya, para calon siswa yang diharapkan lulus adalah para perwira yang selalu membuka dirinya dalam proses berdiskusi dan berinteraksi, menghargai orang lain dan menyampaikan pandangan-pandangannya yang memiliki solusi atas berbagai permasalahan.
Cara berpikir outward looking ini memberikan pandangan baru dan bahkan membuka wawasan personel TNI AD, sehingga dapat memberikan motivasi untuk selalu memelihara keunggulannya dari personel militer negara lain. Keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh TNI AD tersebut bukan hanya ditunjukkan dalam penugasan dalam negeri, namun juga dalam sejumlah penugasan luar negeri. Semakin meningkatnya peran TNI saat ini tercatat berada dalam peringkat 14 Troops
Contributing Country dalam misi-misi PBB. Hal ini
memberikan pengalaman tersendiri bagi prajurit maupun satuan-satuan yang terlibat untuk dapat mencapai tingkat profesionalisme yang berstandar internasional. Melalui partisipasinya dalam penugasan PBB, personel TNI AD dapat belajar lebih banyak tentang Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku di lingkungan militer internasional. Termasuk juga berkesempatan untuk belajar dari pengalaman dan keunggulan dari negara-negara lain yang berkontribusi dalam misi serupa.
Lebih jauh lagi, dalam menyikapi dinamika yang terjadi dewasa ini, hadirnya bentuk perang asimetris
di berbagai belahan dunia menjadi pelajaran berharga yang harus dipedomani oleh TNI AD. Demikian pula dengan kemunculan konsep-konsep perang modern. 4th
generation warfare misalnya, menuntut TNI AD untuk
bisa bersikap adaptif terhadap lingkungan strategis baik regional maupun global yang senantiasa dinamis. Dalam menghadapi perang generasi ke-4, tentunya TNI AD tidak dapat lagi mengandalkan postur militer pada perang generasi ke-3 yang dimilikinya. Sebagai militer yang profesional, tentu TNI AD harus selalu dapat beradaptasi dengan tuntutan perkembangan zaman.
Di samping konsep asymmetric warfare dan 4th
generation warfare, tentunya konsep cyber warfare,
yang marak dalam satu dekade terakhir, juga tidak boleh diabaikan oleh TNI AD dalam mewujudkan sebuah Angkatan Perang yang profesional dan modern. Dalam konteks tersebut, personel TNI perlu memiliki kesadaran akan kemajuan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) atau yang lebih dikenal dengan Information
and Communication Technology (ICT) awareness.
Dengan mencermati berbagai hakikat tantangan tersebut, bagaimana mengaplikasikannya dalam sistem pendidikan TNI AD? Tentu semua itu akan berpengaruh terhadap kurikulum pendidikan, khususnya proses pendidikan di semua lembaga pendidikan TNI AD. Pertanyaan yang paling mendasar sebenarnya adalah apakah kurikulum pendidikan yang ada saat ini sudah menjawab berbagai tantangan yang akan dihadapi itu? Khususnya untuk menghasilkan perwira lapangan dengan wawasan global dan pengalaman yang kredibel.
Ambil contoh soal yang paling hangat saat ini adalah tentang social media dan pengaruhnya terhadap aspek keamanan nasional. Kita ketahui bahwa terjadinya proses pergerakan massa besar-besaran di Timur Tengah yang menuntut demokrasi adalah ekses dari penggunaan social media seperti
twitter dan facebook serta youtube. Indonesia memiliki
potensi untuk itu. Negara kita tercatat sebagai 3 besar dunia dalam jumlah pengguna social media. Beberapa peristiwa kerusuhan di dalam negeri juga terjadi karena dipicu penggunaan media sosial. Lantas apa antisipasi TNI AD menghadapi situasi tersebut? Penulis berpendapat, kini saatnya TNI AD bersiap diri secara pengetahuan dan keterampilan dengan memberikan materi social media di bangku pendidikan. Menabukan
social media bagi para prajurit TNI AD justru akan
semakin menjauhkan institusi dari solusi masalah. Yang harus dilakukan adalah bagaimana mengajari prajurit kita agar bijak dan tepat dalam penggunaan media sosial, bahkan memanfaatkan kehadiran media sosial untuk kepentingan aspek pertahanan dan tugas pokok TNI AD. Semua itu, sekali lagi, tentu saja harus dikaji lebih dalam di lembaga-lembaga pendidikan.
STRATEGI MELIBATKAN SATUAN PENGGUNA.
Menurut beberapa nara sumber yang juga para pakar pendidikan, solusi terbaik bagi TNI AD untuk melakukan transformasi dibidang pendidikan adalah dengan melibatkan satuan pengguna. Dalam forum seperti Rabiniscab atau Apel Dansat, atau pun forum akademis lainnya, selayaknya para pimpinan Lembaga pendidikan melakukan komunikasi dengan para pengguna peserta didiknya, terutama atasan langsung satu atau dua tingkat. Apakah para lulusan kursus atau sekolahnya telah memenuhi harapan para pengguna? Apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh para lulusannya? Apa saja materi yang perlu ditambah atau dikurangi di setiap jenis kursus/sekolah itu?
Komunikasi seperti itu bisa dilakukan antara Gubernur Akademi Militer atau Danpusdik dengan para Komandan Batalyon misalnya. Atau Komandan Seskoad dengan para Pangkotama. Komunikasi ini juga bukan hanya sebagai feedback bagi lembaga pendidikan, tetapi juga untuk satuan pengguna. Tidak harus selalu masukan dari satuan pengguna merubah kurikulum yang ada. Bisa saja terjadi, karena keterbatasan alokasi waktu, beberapa materi pendidikan justru dikembangkan dan diajarkan di satuan-satuan pengguna. Seperti penggunaan bahasa Inggris misalnya. Tentu akan lebih efektif bila bahasa Inggris dipelihara kemampuannya di satuan setiap hari, dibandingkan hanya mengandalkan pada jam pelajaran di bangku pendidikan. Komunikasi ini harus terus intens dilakukan setiap tahun secara berkesinambungan. Komunikasi dua arah yang terjalin baik antara lembaga pendidikan dan satuan pengguna akan mengeliminir kesenjangan harapan keduanya terhadap para lulusan lembaga pendidikan itu.
UNIVERSITAS PERTAHANAN: BABAK LANJUTAN PEMBANGUNAN SDM TNI.
Disamping pembenahan lembaga pendidikan di lingkungan TNI AD, Presiden menganggap penting berdirinya sebuah institusi pendidikan untuk mempersiapkan kader-kader pimpinan di bidang pertahanan yang tidak hanya menguasai pengetahuan teknis dan taktis kemiliteran, tapi juga memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan dalam lingkup yang lebih strategis. Presiden memahami bahwa militer hanyalah sebuah komponen dalam sebuah perang maupun dalam pengelolaan pertahanan dan keamanan negara. Dengan demikian diperlukan tingkat pemahaman yang lebih utuh terhadap posisi Indonesia dikaitkan dengan aspek geopolitik, geostrategi dan geoekonomi. Selain itu, diharapkan para perwira TNI memiliki daya analisa terhadap sebuah permasalahan keamanan secara lebih tajam dan komprehensif.
Hanya mereka yang mampu berpikir out of the box
dan outward looking yang akan mampu menghadapi tantangan abad XXI yang sangat kompleks. Tidak sedikit yang berseloroh bahwa tentara itu tugasnya berperang, tidak perlu pintar, yang terpenting adalah loyalitasnya. Komentar seperti ini seringkali diluruskan oleh Presiden. Lulusan terbaik Seskoad 1989 ini menegaskan: “Tentara
itu ya harus loyal, jago berperang, berkarakter Sapta Marga, sekaligus harus memiliki daya intelektual yang baik.”
Dengan intelektualitas yang baik, loyalitas tentara akan semakin bermakna. Sebaliknya, tanpa intelektualitas, di tengah kompleksitas dunia yang terus berubah dengan cepat, loyalitas tentara bisa menjadi loyalitas buta yang tidak rasional, yang justru dapat menciderai organisasi secara keseluruhan. Dalam rangka menjawab tantangan untuk memenuhi kualitas sumber daya manusia yang unggul, maka dibutuhkan kehadiran lembaga pendidikan tinggi kredibel dan berkelas dunia, untuk mencetak kader-kader pemimpin yang cakap dalam mengelola berbagai isu pertahanan dan keamanan. Dalam konteks ini, Presiden melalui Kemhan RI telah mendirikan Universitas Pertahanan Indonesia pada awal Maret 2011, yang setara dengan
sejumlah universitas pertahanan di negara-negara lainnya di dunia.
Ditinjau dari sudut pandang profesi, militer memang dipandang dan dituntut untuk menjadi ahli dalam berperang. Namun demikian, di sisi lain, seiring dengan perkembangan zaman, militer dituntut pula untuk dapat menyelesaikan dan menyudahi perang secara damai, serta membantu negara lain dalam proses perwujudan perdamaian dunia. Di samping itu, militer, khususnya militer Indonesia, juga diharapkan bisa terlibat secara utuh dalam kegiatan-kegiatan yang menjadi bagian dari Operasi Militer Selain Perang, khususnya pelibatan dalam penanggulangan bencana. Hal-hal itulah yang juga menjadi salah satu konsiderasi dalam pendirian Universitas Pertahanan, sehingga Program Pendidikan yang dikembangkan pun juga berorientasi kepada bidang-bidang tersebut.
Dengan berdirinya Universitas Pertahanan, maka TNI AD harus dapat memanfaatkan kehadirannya sebagai wadah untuk mewujudkan SDM Perwira TNI AD berkelas dunia. Proses rekrutmen mahasiswa Unhan pun harus dilakukan sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan tugas, sehingga personel yang mengikuti pendidikan dapat dimanfaatkan ilmunya untuk kepentingan organisasi TNI AD, TNI, serta bangsa dan negara. Selain itu, sinergitas antara lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan TNI AD pun perlu dilakukan dengan Universitas Pertahanan, baik dalam lingkup kerjasama program pendidikan maupun kegiatan-kegiatan akademik lainnya.
BUDAYA MENULIS: SHARING LESSON LEARNED.
Selain melakukan transformasi pendidikan secara formal melalui lembaga pendidikan, transformasi pun bisa dilakukan secara informal. Dengan prestasi yang telah ditorehkan oleh TNI dalam berbagai operasi, baik counterinsurgency, counterterrorism, maupun
peacekeeping, serta internal conflict resolution, maka
sebenarnya kita telah memiliki referensi yang sangat berharga untuk dapat digunakan bagi pengembangan kemampuan dan kualitas institusi di kemudian hari. Melalui berbagai lessons learned yang didapatkan dari setiap penugasan, baik pendidikan, latihan maupun operasi, di dalam maupun luar negeri, perwira TNI dapat belajar banyak untuk lebih meningkatkan kualitas pengabdiannya.
Keberhasilan TNI dalam pembebasan sandera di Bandara Don Muang Thailand yang dilakukan oleh Kopassus pada tahun 1981, maupun pembebasan sandera peneliti asing di Papua yang dilaksanakan oleh Brigif Linud-17 Kostrad pada tahun 1996 menunjukkan kualitasnya yang tidak kalah dengan negara lain. Bahkan dalam menangani resolusi konflik di Aceh,
TNI berkontribusi cukup besar sehingga konflik yang berkepanjangan tersebut dapat diselesaikan secara damai pada tahun 2005. Keberhasilan-keberhasilan ini tentunya menjadi catatan penting dan berharga yang harus diketahui oleh seluruh prajurit TNI dan generasi penerus dimasa yang akan datang. Namun demikian, kita juga dapat menarik berbagai pelajaran dari kekurangan yang dimiliki TNI selama perjalanannya dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, hendaknya dapat dikaji secara utuh dan objektif, sehingga dapat menjadi pelajaran berharga bagi prajurit TNI lainnya termasuk generasi selanjutnya. Namun kelemahan yang ada saat ini adalah dalam mendokumentasikan berbagai keberhasilan dan kegagalan tersebut, dimana terbukti tidak banyak literatur yang dapat ditemukan maupun mudah diakses secara luas, sehingga TNI justru seringkali membaca dan mempelajari lessons learned yang dimiliki oleh militer negara lain, yang belum tentu juga cocok dengan tantangan dan medan tugas yang akan kita hadapi. Padahal, kita juga bangga bila karya