• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS STRUKTURAL NOVEL CERMIN MERAH

2.1 Analisis Tokoh dan Penokohan

2.1.1 Tokoh Utama

Dalam novel ini tokoh utama adalah Arsena. Pengarang memulai

dengan menggambarkan sifat Arsena ketika masih duduk di Sekolah

Menengah Atas. Tokoh Arsena digambarkan sebagai anak yang memiliki

mental yang kuat, tidak putus asa, pemberani, menerima apa adanya yang

terjadi pada dirinya. Bahkan ia tidak peduli dengan omongan orang yang

selalu membicarakannya. Hal ini terlihat dalam kutipan-kutipan berikut.

“Sejak itu tak seorang pun berani mengejek Anto lagi. Tentu, tak ada yang mau menerima resiko berurusan denganku. Mereka sudah melihat bagaimana aku mengalahkan Darsono. Enak juga jadi yang ditakuti” (Riantiarno, 2004: 67).

“Aku tidak tahu persis mengapa Anto bertingkah seperti perempuan. Dan aku tidak ingin tahu detailnya. Aku terima dia sebagaimana adanya. Dia kini temanku” (Riantiarno, 2004: 67). Persahabatannya dengan Anto menjadikan Arsena tumbuh menjadi

pribadi yang mulai melanggar dari aturan adat biasanya. Berawal dari

persahabatan tumbuh rasa saya diantara mereka dan terjadilah hubungan

"Beruntung Anto duduk sebangku denganku dan jadi teman

akrab" (Riantiarno, 2004: 66).

"Dia tertawa dan coba membantu mengelap keringat dengan saputangannya. Aku jadi risih. Segera kurebut saputangannya. Aku tak ingin teman-teman melihat adegan ini. Anto senang. Tertawa. Tangan kanan menutupi mulut. Betul-betul seperti gadis perawan" (Riantiarno, 2004: 69).

“Getaran aneh berhasil membukakan katup gairah kejantanan. Seharusnya aku malu. Tapi memang kemaluanku berdiri. Harus kuakui. Wajarkah ini? Lalu bagimana?Kuterima cintanya? Kemudian kami berpelukan. Disusul sebuah ciuman? Apa wajar? Anto bukan seorang gadis” (Riantiarno, 2004: 94). Arsena berbeda dengan tokoh-tokoh yang lain. Ia tumbuh dengan

perasaan yang dari awal sudah berbeda sehingga ia tumbuh dengan beban

psikologi yang berbeda. Hal itu sejak ia bertemu dan berteman dengan

Anto sehingga Arsena mengalami hubungan yang tak wajar.

Namun, di luar itu Arsena juga digambarkan sebagai seorang anak

yang dalam perkembangan pribadinya mengalami banyak masalah seperti

peristiwa kematian sang kakak yang dalam perkembangannya sebagai

orientasi dirinya, anto yang meninggal akibat kecelakaan dan tragedi

ayahnya yang diculik karena di anggap terlibat G30S/PKI. Ini terlihat

dalam kutipan berikut.

"Aku ikut mengantarkan jenazah Anto yang dikebumikan bersama jenazah ibunya di halaman rumahnya yang luas di lereng

Gunung Crm. Ketika peti jenazah turun dari rumah, aku berjalan di samping lelaki tua berstelan jas hitam yang wajahnya murung. Ayah Anto" (Riantiarno, 2004: 137).

"Dari Anto dua buku puisi, dari Herman dua peti buku. Dan nanti, seluruh isi peti wasiat jadi punyamu juga. Harus kausimpan baik-baik. Anggap saja keramat. "Sungguh mati, aku tidak peka malam itu. Aku cuman menganggap gurauan kakak agak keterlaluan. Padahal jelas-jelas semua itu semacam isyarat perpisahan" (Riantiarno, 2004: 138).

"Hilman pindah ke Jakarta sebelum Kakak mati di puncak Crm" (Riantiarno, 2004: 148).

“Pada suatu malam berhujan, sebuah pikap Gaz dan dua truk tentara menggerebek rumah kami. Dengan keramahan yang menakutkan, mereka membawa ayah” (Riantiarno, 2004: 9).

"Sama sekali tak disangka, malam itu jadi saat-saat terakhir kali aku melihat Ayah" (Riantiarno, 2004: 12).

"Para tetangga menyebar bisik-bisik, Ayah komunis. Ayah pimpinan teras partai yang resmi sudah dilarang. Dan karena Ayah dianggap komunis, mereka mulai menjauh" (Riantiarno, 2004: 14).

Dampak dari peristiwa ayahnya membuat keluarganya dalam

kesulitan dalam mencari pekerjaan karena Arsena tidak memiliki surat

bebas G30S/PKI. Ini terlihat dalam kutipan berikut.

"Kesulitan hidup semakin berat menekan. Segalanya mendadak jadi sulit atau dipersulit. Orang-orang memasang jarak. Malah ada yang terang-terangan memusuhi. Kami bisa merasakannya“ (Riantiarno, 2004: 26).

"Tapi ternyata sulit memperoleh pekerjaan. Pintu-pintu kantor tertutup rapat dan rasanya mereka tahu riwayat hidupku. Ketika melamar atau masuk tes masuk, aku merasa mereka menatap tajam-tajam" (Riantiarno, 2004: 29).

"Setiap kantor menanyakan surat atau kartu bebas G- 30S/PKI. Semula aku tidak menyangka kartu itu begitu penting" (Riantiarno, 2004: 29).

"Aku tidak mungkin bisa memiliki surat bebas G-30S/PKI sebab ayahku ditahan karena dianggap terlibat PKI" (Riantiarno, 2004: 29).

Kesulitan mencari pekerjaan karena tidak memiliki surat bebas

G30S/PKI membuat Arsena memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Mencoba

mengadu nasib agar dapat bertahan hidup. Ini terlihat dalam kutipan

berikut.

"Surat Johari melahirkan minat yang sebelumnya tak terpikirkan. Kenapa tidak ke Jakarta, mengadu nasib? Siapa tahu peruntungan lebih baik. Makin hari niat makin keras. Ya, Jakarta" (Riantiarno, 2004: 31).

“Aku ingin maju. Dan harapanku, kerja hanya bisa diperoleh di kota besar macam Jakarta” (Riantiarno, 2004: 37).

“Sejak tinggal di Jakarta aku mencoba sekuat daya melupakan peristiwa ayah. Kenangan malam berhujan di kota C, sangat menyakitkan” (Riantiarno, 2004: 177).

Selama di Jakarta, Arsena tinggal bersama Hilman. Arsena

kemudian berkenalan dengan Nancy seorang gadis yang menjadi

kekasihnya. Namun, ia juga berkenalan dengan Edu seorang gay yang akhirnya menjadi teman asmaranya. Perkenalannya dengan Edu inilah

membuatnya melukai hati Nancy. Ini terlihat dalam kutipan berikut.

“Aku tahu Nancy mulai mencium suasana aneh. Tapi dia diam. Lagi pula dia belum bisa membuktikan keanehan itu akan merugikan percintaan kami” (Riantiarno, 2004: 281).

"Edu duduk di pinggir tempat tidur. Mengusap-usap rambutku. Lagi-lagi, tak kuasa mencegah. Dia barut-barut punggung dan leherku, mencoba menghangatkan tubuhku dan mengembalikan kesadaran. Tapi aku tetap tak berdaya. Dan, Aku mengenal Edu yang sebenarnya hari itu. Hilman betul. Edu selalu siap memanfaatkan setiap peluang. Dia tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku lemah, tak berdaya" (Riantiarno, 2004: 275).

"Kami berada dalam kamar empat dinding. Tak ada orang lain. Aku tidak berteriak lagi. Arus syahwat menyeret rasa. Aku melayang-layang. Setan! Dan aku ingat Nancy. Ya, Nancy“ (Riantiarno, 2004: 277).

Setelah tinggal di Jakarta, kehidupan Arsena semakin membaik

karena ia bekerja bersama Hilman dalam bidang perancang seni serta

kedekatannya dengan Edu membuatnya menjadi orang berkecukupan.

Sebelum pergi ke Jakarta Arsena hanyalah anak yang berasal dari

keluarga sederhana, ibunya bekerja sebagai penjual bunga dan ayahnya

keberja di PT. Kereta api. Ini terlihat dalam kutipan berikut.

“Kami bukan orang kaya. Dibanding para pejabat kota yang hidup mewah, kami bisa dibilang miskin” (Riantiarno, 2004: 24).

“Kami bukan keluarga kaya, tapi bahagia. Sampai tiba hari naas itu. Sengaja tidak kucatat hari, tanggal, dan bulan, meski tahunnya, mau tidak mau, aku tetap ingat, 1966” (Riantiarno,

2004:9).

“Ayahku pegawai DKA, Djawatan Kereta Api. Bukan pegawai tinggi, tapi kedudukannya cukup penting. Dia pengatur utama lalu lintas kereta api” (Riantiarno, 2004: 8).

“Ibuku suka bunga. Dia membuka toko bunga di beranda depan rumah. Toko kecil dengan modal kecil” (Riantiarno, 2004: 9).

Walaupun mengalami berbagai masalah Arsena menjadi orang

yang cukup kuat dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupannya.

Peristiwa ayahnya tidak menjadikan ia lemah dan putus asa, justru ia

semakin bersemangat untuk melanjutkan hidupnya di Jakarta walaupun

harus meninggalkan ibunya. Arsena juga harus terjebak dalam lingkaran

setan karena berhubungan dengan Edu. Namun Arsena tetap berjuang

untuk kehidupannya yang normal dengan mempertahankan Nancy sebagai

kekasihnya walaupun pada akhirnya pesona Edu tidak bisa lepas dari

hidupnya.

Dokumen terkait