3 BAB III PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
3.4 Tracking Prakiraan Inflasi Triwulan III 2017
Pergeseran Ramadhan dan Lebaran dari triwulan III tahun 2016 menjadi triwulan II 2017 berdampak pada berkurangnya tekanan inflasi pada triwulan III 2017. Pada
triwulan III 2017, inflasi Sumbar diperkirakan lebih banyak bersumber dari kelompok administered price dibandingkan volatile food. Kenaikan angkutan udara dan rokok kretek filter diperkirakan berkontribusi pada inflasi harga kelompok administered price. Kenaikan angkutan udara terjadi karena masih tingginya permintaan masyarakat untuk pulang kembali ke Jakarta maupun kota lainnya setelah merayakan lebaran dan liburan panjang di Sumatera Barat. Sementara itu, inflasi rokok kretek filter terus berlanjut mengikuti inflasi yang terjadi pada beberapa bulan sebelumnya pasca kenaikan tarif cukai rokok. Khusus volatile food, kelompok ini diperkirakan tidak memberikan dampak inflasi yang tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya. Panen berbagai komoditas hortikultura yang masih berdampak pada terjaganya harga beberapa komoditas seperti cabai merah dan merah pada tingkat yang rendah. Survei Pemantauan Harga KPw BI Sumbar periode Juli 2017 mengkonfirmasi tren harga pangan dan hortikultura yang cenderung menurun dari awal tahun hingga triwulan III 2017.
80 100 120 140 160 180 200
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II 2013 2014 2015 2016 2017 Ekspektasi Harga Umum dalam 6 bulan yang akan datang Perubahan harga sec umum 3 bln mendatang dibandingkan saat ini
Indeks
Sumber: Survei Konsumen BI
10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 100.000 12.400 12.600 12.800 13.000 13.200 13.400 13.600 13.800 14.000 14.200 14.400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 2016 2017
Beras Cabe Merah-sb kanan Bawang Merah- sb kanan
Rp/kg Rp/kg
Sumber: Survei Pemantauan Harga BI
Grafik 3.5. Ekspektasi Harga 3 dan 6 Bulan Mendatang
Grafik 3.6. Perkembangan Harga Bulanan Beras, Cabai Merah dan Bawang Merah (Volatile Food)
100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 2016 2017
Emas 24 Karat Emas 22 Karat Rp/gr
Sumber: Survei Pemantauan Harga BI
0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 1.600.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 2016 2017
Rokok kretek filter 1 Rokok kretek filter 2 Tiket Angkutan Udara
Rp Rp/bungkus
Sumber: Survei Pemantauan Harga BI
Grafik 3.7. Perkembangan Harga Bulanan Emas (Inti)
Grafik 3.8. Perkembangan Harga Rokok dan Tiket Angkutan Udara (Administered Price)
Dengan mempertimbangkan berbagai risiko inflasi pada triwulan III 2017 serta perkembangan harga berdasarkan Survei Pemantauan Harga dan ekspektasi harga ke depan berdasarkan Survei Konsumen, inflasi Sumbar pada triwulan III 2017 diprakirakan berada pada kisaran 3,0% - 3,4% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,00% (yoy).
Dalam rangka mengantisipasi tekanan inflasi pada triwulan III 2017, TPID Provinsi Sumbar melakukan sejumlah langkah evaluasi dan antisipatif melalui pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID pada tanggal 19 Juli 2017 yang dihadiri langsung oleh Gubernur Sumbar. Beberapa poin arahan Gubernur Prov.
Sumbar lebih banyak menyasar aspek produksi tanaman pangan yang mencakup: a) penanaman kembali cabai merah seiring dengan mulai berakhirnya periode panen di Juli 2017; b) pemetaan siklus inflasi komoditas jengkol dan petai sebagai acuan dalam mengantisipasi inflasi komoditas tersebut ke depannya; c) pendataan jumlah pohon jengkol dan petai serta mengestimasi jumlah dan waktu panennya; d) penganggaran benih jengkol untuk budidaya di masing-masing daerah; dan e) pendistribusian benih cabai dalam polybag kepada masyarakat.
Selain pembahasan terkait isu inflasi Sumbar, HLM tersebut juga merumuskan isu strategis Sumbar yang telah diangkat oleh Gubernur Sumbar di hadapan Presiden RI pada saat Rakornas VIII TPID di Jakarta tanggal 27 Juli 2017 yang lalu. Isu
strategis tersebut antara lain: a) masalah tarif angkutan udara yang masih sering menimbulkan inflasi; b) usulan penggabungan Satgas Pangan ke dalam TPID; c) usulan agar ada kehadiran KPPU di Sumbar; dan d) optimalisasi peran Bulog dalam mengelola buffer stock (penyerapan saat panen dan penyaluran saat gangguan pasokan) melalui penguatan payung hukum dan sumber daya. Pada Rakornas tersebut juga diumumkan
bahwa Sumatera Barat terpilih menjadi TPID Terbaik tingkat provinsi di wilayah Sumatera. Pemilihan tersebut berdasarkan penilaian pada aspek proses, hasil (output) dan one page summary yang menyimpulkan bahwa TPID Prov. Sumbar unggul dalam penguatan BUMD untuk mendukung distribusi pangan .
Komitmen Pemerintah Daerah Sumatera Barat dalam menekan laju inflasi Sumatera Barat akhirnya membuahkan hasil dengan terpilihnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat sebagai TPID Terbaik tingkat provinsi di Wilayah Sumatera pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) VIII TPID, 27 Juli 2017 lalu di Jakarta. Sebelumnya, pada tahun 2016, TPID Kota Padang juga berhasil meraih penghargaan sebagai TPID Terbaik tingkat kota/kabupaten.
Tantangan pengendalian inflasi Sumatera Barat (Sumbar) lebih banyak berasal dari kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) dengan komoditas utama penyumbang inflasi antara lain beras, cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, jengkol dan petai. Selain itu, kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) juga turut memberi tekanan inflasi dengan penyumbang utama berasal dari tiket pesawat.
Upaya pengendalian inflasi Sumbar mengacu pada Peta Jalan (Roadmap) Pengendalian Inflasi Sumbar yang telah disahkan oleh Gubernur Sumbar pada 4 Mei 2016. Roadmap tersebut mencakup 4 (empat) pilar pengendalian inflasi yaitu: (i) ketersediaan pasokan; (ii) kelancaran distribusi; (iii) keterjangkauan harga; serta (iv) komunikasi ekspektasi. Keempat pilar pengendalian inflasi tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya sinergi baik di internal Pemerintah Daerah Sumbar yaitu dari provinsi hingga kota/kabupaten maupun sinergi dengan instansi lain seperti Kepolisian Daerah Sumbar, Bulog, dll.
Berbagai program pengendalian inflasi telah dijalankan untuk mengatasi permasalahan di tingkat hulu hingga hilir. Di tingkat hulu, produksi hasil pertanian telah diarahkan dengan pengaturan pola tanam sehingga panen dapat terjadi secara merata di setiap bulan. Metode penanaman ini telah diterapkan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumbar pada komoditas beras, cabai merah dan bawang merah. Di tingkat hilir, upaya stabilisasi harga dilakukan dengan intervensi pasar yaitu Operasi Pasar
BOKS 1:
TPID PROVINSI SUMATERA BARAT RAIH TPID PROVINSI TERBAIK
Untuk mengurangi tekanan permintaan terhadap cabai merah, TPID Provinsi Sumbar
pertama kali diinisiasi oleh TPID Kota Padang berupa Instruksi Walikota Padang pada 1 November 2016. Setelah itu, gerakan tersebut selanjutnya diperkuat oleh Instruksi Gubernur Sumbar agar seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat memiliki bibit cabai merah dalam polybag sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak perlu belanja ke pasar. Pada awal tahun 2017, Pemerintah Provinsi Sumbar menyediakan 150.000 bibit cabai untuk dibagikan ke masyarakat.
Kota Padang
Gambar 2. Kegiatan Pasar Tani di lingkungan Kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumbar
Permasalahan tata niaga turut menjadi sorotan TPID Provinsi Sumbar karena memiliki dampak yang besar terhadap pembentukan harga di tingkat pedagang pengecer yang secara langsung dirasakan oleh konsumen. Rantai distribusi yang telah terbentuk selama ini memberi gambaran bahwa perdagangan dikuasai oleh pedagang besar yang memiliki kendali yang tinggi dalam penentuan harga. Untuk memotong rantai distribusi tersebut, TPID Provinsi Sumbar memiliki program Pasar Tani. Program yang diinisiasi sejak awal November 2016 tersebut merupakan implementasi dari konsep Sub Terminal Agribisnis (STA). Mekanisme program tersebut dilakukan dalam bentuk fasilitasi anggota kelompok tani untuk dapat menjual langsung hasil pertaniannya kepada masyarakat. Dengan demikian, program tersebut dapat memotong rantai distribusi sehingga harga jual yang ditawarkan dapat lebih murah dari harga pasar.
Pasar Tani tidak hanya menjual komoditas pangan strategis, tetapi juga produk olahan seperti cabai giling dan cabai bubuk sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat untuk memulai diversifikasi pangan dengan tidak bergantung pada cabai segar.
Pengendalian inflasi tidak hanya berbicara seputar supply dan demand, tetapi juga bagaimana mengelola ekspektasi masyarakat sehingga masyarakat memiliki pola pikir yang positif dalam konsumsi. Untuk itu, TPID Provinsi Sumbar secara rutin melakukan imbauan baik melalui media cetak maupun elektronik khususnya selama bulan Ramadhan. Selain itu, kepala daerah juga turut aktif turun ke lapangan dalam rangka inspeksi mendadak (sidak pasar) ke pasar tradisional maupun distributor untuk memantau pasokan pangan dan harga dalam tingkat yang wajar.
Gambar 3. Sidak pasar oleh Wagub Sumbar dan Walikota Padang di Pasar Raya Padang
Gambar 4. Outlet Minang Mart
Kesuksesan TPID Sumbar juga berasal dari upaya penguatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dimiliki yaitu PT Grafika Jaya Sumatera Barat yang semula bergerak di bidang percetakan, diperluas tugasnya hingga menangani distribusi pangan. Sebagai bentuk upaya penguatan pasokan dan distribusi pangan, Pemerintah Provinsi Sumbar membentuk Minang Mart, sebuah konsep ritel mini market yang menyuplai pangan strategis dan produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Minang Mart menawarkan konsep modernisasi lapau atau kadai melalui mekanisme
oleh masyarakat sebagai pemilik toko, PT Grafika sebagai pengelola melalui anak usaha bernama PT Ritel Modern Minang (RMM), Bank Nagari dari sisi pembiayaan, dan PT Jamkrida sebagai penjamin kredit.
Pemilik toko tidak membayar royalti atau franchise kepada pemilik nama seperti yang dilakukan dalam kerja sama bisnis mini market sejenis, melainkan menggunakan sistem konsinyasi. Selain itu, pemilik outlet Minang Mart menyediakan tempat dan perlengkapan standar yang dibutuhkan sebuah mini market. Secara umum, Minang Mart tidak jauh berbeda dengan kebanyakan mini market, yang membedakan adalah ketersediaan produk lokal, yaitu beras orisinal varietas unggul dari petani dan produk olahan UMKM.