• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi Pada Perayaan Hari Raya Idul Adha

PROPINSI BENGKULU Oleh : Hariadi

PEMBAHASAN 1.Desa Tunggang

2. TRADISI KEAGAMAAN

2.7. Tradisi Pada Perayaan Hari Raya Idul Adha

Tradisi masyarakat Tunggang berkaitan dengan hari raya Idul Adha adalah sebagai berikut:

Takbiran

Takbiran hari Raya ‘Idul Adha dilaksanakan pada malam hari masuknya tanggal 10 Zulhijjah. Kegiatan takbiran dilaksanakan di Masjid Nurul Ikhlas setelah shalat isya. Pelaksana kegiatan adalah petugas syarak yang ada di desa. Kegiatan takbiran ini dihadiri oleh jamaah masjid baik yang dewasa maupun anak-anak. Kegiatan takbiran pada malam 10 Zulhijjah ini dilaksanakan secara bergiliran antara peserta yang hadir.

Shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha di desa Tunggang seperti halnya dengan shalat Idul Fitri dilaksanakan di dua buah masjid, di masjid

93 ibid

Nuruttawwabin dan di masjid Nurul Ikhlas. Setelah shalat maka dilaksanakan mendoa di rumah kepala desa yang dilaksanakan oleh pegawai syarak yang ditunjuk oleh Imam Qodi. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam peraturan desa Tunggang nomor 12 tahun 2011 bab 1, pasal 1 ayat 2, berbunyi: Petugas doa di rumah kepala desa pada hari Raya Idul Fitri dan hari Raya Idul Adha dilaksanakan oleh petugas syarak yang ditunjuk oleh Imam Qodi. Pelaksanaan Qurban

Proses penghimpunan peserta qurban di desa Tunggang ada beberapa cara, namun semuanya dikoordinir oleh panitia pelaksana qurban di desa. Mengenai hal ini informan menyebutkan,

Ada beberapa sistem pengumpulan peserta qurban, ada yang spontan dengan cara membayar kepada panitia sebelum pelaksanaan qurban, Ada yang mencicil dengan mengumpulkan iuran perbulan kepada panitia, dan ada juga yang mengantarkan hewan qurban kepada panitia.94

Hewan qurban yang telah berhasil dihimpun panitia, baik kambing, sapi atau kerbau untuk penyembelihannya dipusatkan di masjid desa. Pelaksanaan penyembelihan setelah selesai shalat hari raya. Hewan qurban yang akan disembelih diperlakukan secara baik, sebagai hewan yang akan dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Allah oleh masyarakat muslim Desa Tunggang. Hewan qurban tersebut diperlakukan secara baik, sebagaimana dijelaskan informan:

Sebelum disembelih hewan qurban dimandikan, dilimau dan diberi minyak harum, disisir. Juga menjadi tradisi di Desa Tunggang peserta qurban menyediakan sebuah talam yang berisikan berbagai perlengkapan, siriah di carano, makanan dan pakaian baru. talam itu

94

Wawancara dengan Muhammad Wazir Dahlan, tokoh agama, pada bulan April 2016 di Desa Tunggang

diletakkan diatas hewan qurban, batinnya adalah memberi pakaian kepada anak yang akan disembelih merujuk kepada kisah nabi Ibrahim memperlakukan Ismail dengan baik. setelah itu hewan qurban baru diikat, hewan qurban yang akan di sembelih disuapi sirih95

Benda-benda yang terdapat di dalam talam memiliki makna tertentu, misalnya sirih di dalam carano merupakan lambang adat dan pembuka kata. Pakaian bermakna ketulusan hati seorang untuk mengorbankan hewan qurbannya. Sedangkan makanan dimakan saat mendoa setelah penyembelihan. Do’a setelah penyembelihan oleh masyarakat di desa Tunggang disebut dengan doa lemak manis atau do’a qurban.

Pekerjaan penyembelihan, menguliti, memotong daging dan mencincang dikerjakan secara gotong royong. Daging qurban dibagikan kepada peserta qurban menurut kebiasaan orang tua dulu satu kali masak untuk hari itu, namun batasannya peserta qurban diperbolehkan untuk mengambil paling banyak sepertiga dari daging qurban karena daging tersebut dipergunakan untuk menjamu dalam acara do’a qurban. Daging juga dibagikan kepada masyarakat terutama yang tergolong keluarga miskin, sedangkan untuk pekerja mendapat bagian tulang-tulang dan kulitnya. Pola pembagian daging qurban bergantung kepada jumlah hewan qurban yang ada. Berkaitan dengan hal ini informan menjelaskan:

Ada sedikit keunikan pembagian daging qurban disini, kalau jumlah hewan qurban dibawah tujuh ekor kambing, maka daging qurban hanya dibagikan kepada fakir miskin dan pekerja saja, kalau satu ekor sapi atau satu kerbau hanya dibagikan kepada fakir miskin, amil dan perangkat desa yang tiga. Kalau sudah lebih dari

95

Wawancara dengan Parti, Imam Qodi desa Tunggang, bulan April 2016 di desa Tunggang

satu, dua, tiga dan seterusnya, maka dibagikan kepada seluruh warga masyarakat di tiap rumah.96

Peningkatan jumlah peserta qurban di desa Tunggang dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Hal ini tergantung kepada pemahaman keagamaan dan kondisi ekonomi yang semakin meningkat. Berkaitan dengan pertumbuhan jumlah hewan qurban dari tahun ke tahun informan menjelaskan:

Alhamdulillah di Desa Tunggang ada qurban setiap tahun, dibandingkan dulu, cuma ada dua ekor kambing. Kalau sekarang sudah ada 3 sampai empat ekor kerbau atau sapi. Tahun 2015 yang lalu ada tiga ekor sapi satu kerbau dan lima ekor kambing, pada tahun-tahun sebelumnya pernah sampai delapan ekor sapi.97

96

Wawancara dengan Muhammad Wazir Dahlan, tokoh agama, pada bulan April 2016 di Desa Tunggang

97 ibid

PENUTUP

Sebagai masyarakat yang masih memegang teguh tradisinya, banyak sekali tradisi keagamaan yang masih dilaksanakan oleh masyarakat di desa Tunggang secara rutin. Setelah melakukan penelitian berkaitan dengan tradisi perayaan hari besar Islam di desa Tunggang maka dapat disimpulkan hal-hal berikut:

1. Kesemarakan kegiatan tradisi keagamaan di Desa Tunggang masih terjaga. Masyarakat muslim desa Tunggang masih melakukan dan mempertahankan berbagai tradisi keagamaan berkaitan dengan datangnya hari besar Islam. 2. Dalam pelaksanaan kegiatan tradisi keagamaan ini pegawai

syarak menjadi koordinator dan dibantu oleh pemuda dan pelajar.

3. Kesemarakan tradisi keagamaan di Desa Tunggang salah satu faktor pendorongnya adalah karena adanya peraturan desa yang menjadi dasar hukum pelaksanaan kegiatan tradisi keagamaan tersebut.

Penelitian ini tentunya tidak lepas dari berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, disarankan pada penelitian selanjutnya, dapat dilakukan kajian yang lebih mendalam dan difokuskan pada perayaan hari besar tertentu saja.

Daftar Pustaka Al Quranul Karim

Aritonang, Baharuddin. (2008). Orang Batak berpuasa. Jakarta: PT Gramedia

Cahyono, A. (2006). Seni Pertunjukan Arak-arakan dalam Upacara Tradisional Dugdheran di Kota Semarang (Arak-arakan Performing Art of Dugdheran Tradisional Ceremony in Semarang City). Harmonia: Journal of Arts Research and

Education, 7(3).

Kusmayadi, dkk. (2000). Metodologi Penelitian dalam Bidang

Kepariwisataan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Kutha Ratna, Nyoman. (2010). Metodologi Penelitian, Kajian Budaya

dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar

Liliweri, Alo. (2014). Pengantar Studi Kebudayaan. Bandung: Penerbit Nusa Media

Muhallawi, Hanavi. (2006). Tempat Tempat Bersejarah dalam

Kehidupan Rasulullah. Depok: Gema Insani

Mumfangita, T. (2007). Tradisi Ziarah Makam Leluhur Pada Masyarakat Jawa. Makna, Tradisi dan Simbol II (3), 152-159.

Pemerintahan Desa Tunggang. (2014). Profil Desa Tunggang,

Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Mukomuko. Tidak

diterbitkan

Peraturan Desa Tunggang nomor 10 tahun 2011 tentang organisasi pemerintahan desa, nomor 11 tahun 2011 tentang adat istiadat, dan nomor 12 tentang agama, kecamatan Pondok Suguh 2011

Siti Anisa Dedi, S. (2014). Tradisi Bubur Suro 10 Muharam: Makna

Desa Pamulihan Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati

Bandung).

S.Wiranta dan H.Hadisuwarno.(2007).Modul Diklat Fungsional

Peneliti Tingkat Pertama. Cibinong: LIPI

Suryabrata, Sumadi. (2009). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Internet

Republika.co.id. Maspril Aries, Republika, Sabtu, 27 Oktober 2012, 23:33 WIB, Warga Mukomuko Gelar Tradisi Doa Selamat

Antara news.com, Kamis, 25 Februari 2016, Ribuan Warga Muko Muko Lakukan Tradisi Ziarah Kubur

www.cermati.com, 10 tradisi lebaran unik di berbagai Negara. Diakses 22 Februari 2016

Daftar Informan

Parti, umur 64 tahun , pendidikan SR, Jabatan Imam Qodi, alamat Dusun II, Desa Tunggang

Kamin, umur 66 tahun, pendidikan SR, jabatan Kutua BMA Desa Tunggang, alamat Desa Tunggang

Muhammad Wazir Dahlan, umur 52 tahun, pendidikan Sarjana, jabatan tokoh agama, alamat Desa Tunggang

Heriono, umur 26 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan pegawai kantor kepala desa Tunggang, alamat Dusun Lama Desa Tunggang

FUNGSI DENDANG DALAM