• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMBAHASAN

B. Tradisi Sebagai Medan Interaksi Antar Umat Beragam

100

Secara epistemology, tradisi berasal dari bahasa latin(tradition) yang artinya kebiasaan. Istilah yang mirip dengan tradisi adalah budaya (culture) atau budaya.Selain bahasa latin, secara epistemology tradisi bisa dipahami juga dengan bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, tradisi bisa dipahami melalui kata turath.Berasal dari wa ra tha. Kata ini bisa disepadankan dengan kata irth, wirth dan mirath.Semuanya berbentuk masdar yang mempunyai arti segala sesuatu yang

diwariskan oleh orang tuanya.Bisa berupa harta, keningratan ataupun pangkat.112Menurut Hasan Hanafi, tradisi bukan hanya berbicara masalah sejarah.

Tetapi yang lebih spesifik adalah berbicara masalah efek yang terjadi pada era sekarang dalam berbagai macam tingkatannya.113

Tradisi bersumber dari „urf (kebiasaan) yang hadir di tengah-tengah masyarakat.Semakin lama kebiasaan tersebut semakin melebar sehingga menjadi ciri khas dalam kehidupan.Tradisi bukan sesuatu yang mati.Ia hidup bagi sesuatu yang hidup pula yaitu manusia.114

Sedangkan dalam kamus antropologi, tradisi disamakan dengan adat istiadat yaitu kebiasaan yang mempunyai karakter magis dari penduduk asli yang mengandung nilai budaya, norma-norma serta aturan yang saling berkaitan.Kemudian memunculkan sistem baru dalam budaya yang ditaati oleh

112Muhammad Abed al-Jabiri, Post-tradisionalisme Islam, terj. Ahmad Baso (Yogyakarta: Lkis, 2000), 2.

113Moh Nur Hakim, Islam Tradisional dan Reformasi ragmatisme Agama dalam Pemikiran Hasan HanafMalang: Bayu Media Publishing, 2003), 29.

114Rendra, Mempertimbangkan Tradisi(Jakarta: PT Gramedia, 1983), 3.

101

masyarakat sebagai patokan utama dalam melakukan sesuatu.115Berbeda dengan sosiologi, dalam kamus sosiologi tradisi mempunyai makna sebagai kepercayaan yang dapat dipelihara karena bersifat turun temurun.116 Tradisi bukanlah sesuatu yang baku, seperti halnya manusia yang selalu berkembang, tradisi juga dapat mengalami perubahan sesuai dengan zamannya.117Tetapi inti dari tradisi tersebut tetaplah sama seperti yang sudah diwariskan oleh nenek moyang. Seperti contohnya tradisi wiwit di Jawa.Tradisi ini digunakan oleh petani yang ingin memanen padi dengan harapan supaya padi yang dipanen bisa berlimpah dan berkah bagi keluarganya.Wiwit biasaya dilakukan dengan mengambil beberapa padi yang sudah siap panen untuk dimasak menjadi nasi.Setelah itu dihidangkan kepada para tetangga bersama dengan lauk pauk secukupnya.

Tradisi semacam ini masih dilakukan oleh beberapa orang di masing-masing daerah.Tetapi dengan berkembangnya peradaban manusia, wiwit tetap dilaksanakan tetapi tidak dengan mengambil beberapa padi yang ada di sawah lagi.Melainkan beras yang sudah bisa dibeli di toko-toko untuk dihidangkan.Hal semacam ini tidak merusak inti dari yang sudah diwariskan oleh nenek moyang.Karena dalam tradisi wiwit yang lebih diutamakan adalah unsur syukur ketika hendak memanen padi

bukan terletak pada pengambilan beberapa padi di sawah untuk dihidangkan kepada tetangga.Tidak merubah pijakan utama yang diwariskan oleh nenek moyang.

115Ariyono dan Aminuddin Sinegar, Kamus Antropologi(Jakarta: Akademika Pressindo, 1985), 4.

116Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 1993), 459.

117Van Peursen, Strategi Kebudayaan (Jakarta: Kanisus, 1976), 11.

102

Tradisi juga memiliki dua macam yaitu tradisi ritual agama dan tradisi ritual budaya.Melihat kondisi Indonesia yang mempunyai kemajemukan agama yang hidup di dalamnya, maka pada masing-masing agama mempunyai tradisi ritual agama masing-masing. Hal ini terjadi karena adanya proses turun temurun yang sudah diwariskan.118Ritual keagamaan merupakan unsur kebudayaan yang sangat telihat secara lahir.Agama merupakan sesuatu yang berisi ajaran tentang pengetahuan tertinggi. Berisi juga tentang ajaran tentang akhlak, pengetahuan setelah mati (akhirat), petunjuk selamat ketika masih di dunia.119Agama selalu menyentuh budaya. Ketika sudah berbentuk budaya, ia akan mengarahkan manusia pada ajaran-ajaran yang disampaikan tidak hanya secara tertulis, tetapi juga secara lisan. Ajaran-tersebut terwujud melalui tradisi-tradisi.Contoh tradisi ritual agama diantaranya seperti suronan, saparan, muludan, rejeban, dan masih banyak lagi.

Kedua, yaitu tradisi ritual budaya.Yang membedakan antara tradisi ritual agama dan tradisi ritual budaya adalah pada sentuhannya.Jika tradisi ritual agama menjadikan agama sebagai faktor utama dalam menjalani tradisi, maka tradisi ritual budaya lebih banyak menggunakan budaya sebagai faktor utamanya.

Ritual atau upacara tersebut dilakukan pada awalnya untuk menangkal pengaruh jahat dari hal-hal ghoib. Selain menjauhan dari pengaruh jahat dari hal-hal ghoib, tradisi ritual budaya jugadiperuntukkan untuk rasa syukur atas apa yang sudah

118Koencjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1985), 27.

119Ronald Robertson, Agama dalam Analisis dan Interprestasi Sosiologi, (Jakarta: rajawali, 1988), 87.

103

terjadi. Seperti ritual sedekah bumi yang masih dilakukan oleh masayarakat Indonesia yang hidup di pedesaan.Ritual ini bertujuan untuk mensyukuri atas hasil panen yang sudah didapatkan selama satu tahun.

Dalam perkembangannya, tradisi ritual budaya yang berlangsung selama ini akhirnya menjadikan salah satu faktor terjalinnya kerukunan antar umat beragama.Tradisi ritual budaya menjadi jawaban serta warisan yang sudah dari dulu ada.Dari dulu masyarakat diajarkan rukun secara lisan.Semua berjalan begitu saja tanpa ada paksaan dari masing-masing pemeluk agama.Patokan utamanya adalah rasa bersyukur kepada Tuhan.Bukan pada perbedaan agama yang dipeluk.Nenek moyang sangat arif dalam mengajarkan rukun bahkan kepada pemeluk lintas agama.

Kekerasan atas nama yang terjadi kebanyakan di daerah perkotaan. Karena di kota jarang sekali diajarkan rasa bersyukur melalui budaya seperti sedekah bumi.Alasan selanjutnya adalah faktor pekerjaan. Mayoritas di desa bekerja sebagai petani yang mempunyai sawah. Sehingga ketika budaya yang sudah ditanamkan oleh nenek moyang tidak dilaksanakan maka akan menjadi satu hal yang sangat tabu. Berbeda dengan keadaan di kota. Mereka yang hidup di kota kurang bisa merasakan syukur karena pekerjaan mereka tidak ada hubungannya dengan sawah. Bisa dikatakan yang diketahui hanyalah mencari uang tanpa memperdulikan efek berkeanjangan.Menurut mereka budaya hanyalah sesuatu yang kuno dan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah dengan mengandalkan kepala mereka.

104

Harmonisasi atau kerukunan antar agama yang terjadi di desa Pelang tidak terjadi begitu saja.Pasti ada dasar yang membuat kerukunan diantara mereka bisa terjalin dengan sangat baik.Jika dicari secara mendalam maka salah satu jawabannya adalah adanya tradisi yang kuat.Tradisi yang sudah diwariskan oleh nenek moyang, leluhur serta sesepuh desa sudah sangat kuat terjalin tersebut membuat rasa persaudaraan sebagai sesama penduduk desa untuk saling membantu satu sama lain.

Meskipun pemeluk agama Kristen sebagai minoritas, tidak pernah terjadi diskrimanasi dari pihak pemeluk agama Islam sebagai mayoritas.Salah satu pemersatu antar umat beragama di desa tersebut adalah adanya tradisi “sedekah bumi”.Tidak bisa dipungkiri, di Indonesia tradisi masih sangat dijunjung pada berbagai wilayah khususnya yang hidup di desa-desa.Desa yang merupakan mayoritas penduduknya sebagai petani, selalu melakukan tradisi “sedekah bumi”

sebagai wujud bersyukur atas hasil panen yang sudah diberikan oleh Tuhan.Dengan jumlah penduduk sebanyak 4242 serta jumlah keluarga yang bertani sebanyak 1048,120 maka “sedekah bumi” merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan oleh leluhur mereka.Tradisi sedekah bumi ini terus dilakukan sampai sekarang.Dalam tradisi sedekah bumi terdapat praktek kerukuan antar umat beragama berupa saling menghantarkan hasil bumi yang sudah dipanen.Seperti jagung, nasi putih, sayur-sayuran, ayam ingkung, tumpeng, buah-buahan serta beberapa tumbuhan padi sebagai simbol dari hasil panen.

120Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan tahun 2018, diakses dari https://lamongankab.bps.go.id/

105

Hal menarik terjadi pada tradisi sedekah bumi tersebut.Bukti kerukunan yang sudah terjalin antara pemeluk Islam dan Kristen adalah ketika semua ikut serta untuk mensukseskan acara.Semua pemuda baik dari Kristen ataupun Islam saling bahu-membahu. Tidak hanya saling membantu, saat tradisi sedekah bumi tersebut dimulai, semua orang saling tegur sapa dan apa yang mereka bawa dari rumah untuk dimakan orang lain. Tanpa memandang siapa yang akan memakan hidangan tersebut. Tiap orang mempersilahkan untuk memakan dengan cara bertukar makanan.

Selain itu, doa yang dipanjatkan oleh pihak Islam tidak pernah menuai protes dari pihak Kristen. Karena doa yang dipanjatkan merupakan doa untuk kesejahteraan seluruh penduduk desa tidak untuk mayoritas pemeluk agama Islam saja. Di sini sangat jelas terlihat bahwa baik mayoritas maupun minoritas sangat menjunjung tinggi kerukunan. Pihak mayoritas yaitu Islam memberikan porsi yang sangat pas bagi pihak minoritas yaitu dari pihak Kristen dengan memberikan kesempatan yang sama terhadap pendeta Kristen untuk memimpin do‟a dalam keyakinan yang diyakini.

Hal ini semakin memperkuat posisi kerukunan beragama di desa Pelang, dalam segi saling menghargai dan memberikan kesempatan yang sama pada setiap kegiatan masyarakat.

Dalam hal tradisi sebagai penguat hubungan antar agama di desa Pelang, peneliti melihat bahwa:

106

1. Tradisi sedekah bumi dijadikan sebagai medan sosial penguat interaksi antar umat beragama di desa Pelang baik intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah.

2. Pelaksanaan tradisi digunakan sebagai pengejawantahan terhadap komitmen bermasyarakat dalam kesepakatan norma yang telah diatur bersama.

3. Tradisi dilaksanakan secara turun temurun dalam rangka menghormati orang tua yang sudah tiada.