• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

G. Trilogi Kerukunan Umat Beragama

Tri kerukunan umat beragama merupakan konsep yang digulirkan Pemerintah Indonesia dalam upaya menciptakan kehidupan masyarakat antar umat beragama yang rukun68. Tiga kerukunan (Trilogi) ini meliputi, yaitu : Kerukunan intern umat beragama, Kerukunan antar umat beragama, dan Kerukunan antara umat beragama dan pemerintah.

a. Kerukunan Intern Umat Beragama

Kerukunan intern umat beragama sangat berperan dalam kehidupan di masyarakat yang majemuk. Rukun bukan berarti tidak ada konflik, akan tetapi

67 Soejono Sukanto, Sosiologi Suatu Pengantar…, 80.

68 https://bengkulu.kemenag.go.id/artikel/42737-tri-kerukunan-umat-beragama, diakses tanggal 3 Oktober 2021

37

kerukunan dalam jangka panjang dengan menjaga dan merawat apa yang sudah ada/terbentuk dalam kehidupan. Seperti dalam kehidupan umat Islam, bila mengarah kepada kerukunan intern umat Islam bisa dimaknai dapat mengolah dan merawat keragaman yang ada dalam diri umat Islam sendiri. Misalnya, dalam tubuh umat Islam terdapat madhzab-madhzab atau organisasi-organisasi yang beragam macamnya. Hal ini tentu saja membutuhkan pemahaman umat Islam sendiri dalam mengaktualisasikan/berekspresi dalam kehidupan. Biasanya hal ini dipicu dengan perbedaan pendapat yang muncul di masing-masing keompok dalam satu keyakinan yang sama (Islam). Semua harus diantisipasi untuk mengarah kepada menghargai perbedaan yang ada. Sesuatu yang berbeda belum tentu buruk, akan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan dengan penuh santun dalam berkehidupan.

b. Kerukunan Antar Umat Beragama

Indonesia memang dikenal dengan beragam budaya dan agamanya.

Keberagaman itu membuat masing-masing individu memiliki rasa saling menerima dan menghargai perbedaan. Walau disisi lain, tak jarang karena perbedaan muncul pula pertikaian yang selalu ada dalam hubungan antar agama.

Agama tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, namun juga mengajarkan tentang dimensi lahir.Di mana, dimensi itu menjadi

38

titik awal manusia masuk ke dalam tataran sosial.Adanya kepentingan individu maupun kelompok agama tertentu sering menjadi pemicu yang lebih dominan dalam hubungan antar agama daripada keinginan untuk sekadar membangun hubungan demi kebaikan bersama.

Kepentingan pribadi yang dimiliki oleh masing-masing pihaklah yang membuat konflik antar agama selalu terjadi di Negara ini. Selain itu, pertikaian terjadi ketika ada penolakan terhadap suatu pandangan yang berbeda antar satu sama lain.69

Dalam hubungan antar agama, wacana yang sering dibahas untuk mencapai keharmonisan antarumat beragama adalah dengan dialog.Pada awalnya, dialog di booming-kan pada deklarasi Vatikan II tahun 1965. Setelah di deklarasikan, diadakan pertemuan dialog di Beirut yang pada saat itu hanya dihadiri oleh 42 orang dari beberapa agama, 4 umat Buddha, 5 umat hindu, 5 umat Islam, dan yang paling mendominasi adalah dari agama Kristen yang berjumlah 28 umat Kristiani.70

Pertemuan dialog tersebut, meski di dominasi oleh umat Kristen, namun tidak membuat semangat berdialog antar agama redup, justru berkembang dari waktu ke waktu. Dimulai dari dialog yang dilakukan oleh elit agama, dan masih menimbukan kerangka teoritis, sampai banyak ditemui bentuk-bentuk dialog

69 M. Munandar Sulaiman, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial (Bandung: Ersco, 1987), 229.

70 Burhanudin Daya, Agama Dialogis Merenda, Idealita, dan Realita Hubungan Antar Agama (Yogyakarta: LKiS, 2004), 24.

39

antar agama seperti, berada dalam satu organisasi yang diperuntukkan untuk menolong mereka yang membutuhkan, korban bencana alam, dan kegiatan sosial lainnya.

Dialog dalam pengertian umum, diartikan sebagai percakapan.71 Namun sesungguhnya dialog memiliki arti lebih dari itu. Dialog merupakan proses interaksi sosial yang ditandai dengan rasa peduli antar individu maupun antar kelompok.72

Dialog antar agama juga dipahami sebagai percakapan dari berbagai pemeluk agama untuk saling mengutarakan pemikiran sekaligus pendapat, untuk saling mendengarkan satu sama lain, bersikap terbuka, dan saling membangun rasa percaya.73

Olaf Scuman menyatakan bahwa dalam dialog masyarakat, terdapat nilai-nilai sosial seperti saling percaya dan saling menghormati. Tindakan berupa kekerasan dan diskriminasi bukanlah bagian dari ajaran agama.74

Dialog memiliki tujuan lebih penting dari sekadar hidup bersama secara damai, namun harus membangun relasi antar agama secara aktif dan memiliki rasa toleransi yang besar.75 Dialog merupakan instrument paling

71 Pius Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Yogyakarta: Arkola, 2001), 362.

72 Nurcholis Majid, Dialog Agama-Agama dalam Perspektif Universakisme al-Islam (Jakarta:

Gramedia, 1998), 6.

73 Anas Ajudin, Mengelola Pluralisme Melalui Dialog Antar Agama (Sebuah Tinjauan Teoritik), Jurnal SMaRT, Vol. 3, No. 1 (Juni 2017) : 121.

74 Olaf Scuman, Some Reflection on the Meaning and Aims of Interfaith Diaolgue (Switzerland, The Lutheran World Moderation, 2003), 13-14.

75 Nurcholis Majid, Dialog Agama-Agama dalam Perspektif Universakisme al-Islam…, 6.

40

utama dan penting untuk terwujudnya Negara yang demokratis, kita harus memahami dialog sebagai sebuah keniscayaan.

Hasil yang diperoleh dalam dialog antar agama adalah munculnya sikap toleransi, kerukunan, dan yang paling utama adalah pluralisme. Kerukunan antar umat beragama berangkat dari kata rukun yang artinya bersatu dan saling sepakat atas suatu hal.76 Kerukunan juga berarti keadaan sosial yang damai dan saling menjaga satu sama lain sesuai dengan ajaran dalam masing-masing agama dan pancasila.77

Dalam kerukunan, ada tiga unsur penting yang menjadi poin-poin atau syarat sebuah perilaku dapat dikatakan masuk kategori kerukunan, yaitu:78

1. Bersikap terbuka dalam menerima bahwa di dunia ini terdapat banyak agama

2. Memberi kebebasan terhadap pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadahnya.

3. Merasa damai dan tidak terganggu ketika ada pemeluk agama lain sedang mengamalkan ajaran dalam agamanya.

Hubungan antar agama yang menciptakan kerukunan di antara pemeluknya memiliki beberapa langkah untuk selalu mengupayakan sikap rukun antar agama, sebagai berikut:79

76 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 2005), 966.

77Departemen Agama RI, Bingkai Kerukunan Umat Beragama di Indonesia (Jakarta: Balitbang Agama, 1997), 8.

78 Abdurrahman Mas‟ud, Kompilasi Kebijakan dan Peraturan UU Kerukunan Umat Beragama (Jakarta : Puslitbang, 2012), 42.

41

a. Berusaha memperkuat dasar-dasar etika tentang kerukunan antar iman dan juga antarumat beragama

b. Mampu menciptakan suasana antar pemeluk agama yang kondusif, biasanya langkah ini lebih mudah terealisasikan dari ornag yang memiliki penghayatan seta pengalaman agama dalam lingkup kerukunan umat beragama

c. Harus memperluas dan memperdalam pemahamannya sendiri tentang keyakinan yang dianutnya baik perihal keimanan dan ajaran tentang kemanusiaan.

d. Memperluas pola pikir tentang multicultural dalam lapisan masyarakat e. Harus sama-sama memiliki kesadaran bahwa perbedaan itu realita yang

justru memperindah kehidupan antar agama

f. Dapat membangun harmoni sosial sebagai upaya untuk menciptakan keharmonisan antarumat beragama.

c. Kerukunan Antar Umat Beragama dan Pemerintah

Pemerintah ikut andil dalam menciptakan suasana tentram di antara penganut antar umat beragama. Semua umat beragama, dalam hal ini diwakili para pemuka/agama bisa besinergi dan bekerja sama dengan pemerintah. Upaya yang dilakukan pemerintah mempunyai tujuan, baik jangka pendek maupun jangka

79 Anisatun Muti‟ah, Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia (Jakarta: Balitbang Agama, 2009), 160.

42

panjang. Yakni menjadi salah satu solusi terciptanya kehidupan yang damai, saling toleran/menghormati, menghargai perbedaan, dan menciptakan stabilitas persatuan, serta kesatuan bangsa.

Geertz membuat beberapa indikasi terkait faktor adanya kerukunan umat beragama, yaitu:80

1. Sama-sama memiliki kecintaan terhadap budaya, dan tidak fokus kepada perbedaan namun selalu berusaha saling menyelaraskan perbedaan

2. Pola keagamaan tidak berupa sholeh atau tidaknya orang tersebut, namun dari sikapnya yang baik terhadap sesama

3. Bersikap toleran dengan menilai sesuatu sesuai dengan konteks guna meminimalisir adanya gerakan misionaris.

Kerukunan memiliki hubungan persamaan makna dengan toleransi.Toleransi memiliki arti menghargai sesuatu lain yang berbeda dengan dirinya, menerima, dan tidak mempermasalahkan berdampingan dengan perbedaan.81 Toleransi dalam kaitannya dengan hubungan antar agama adalah sebuah rasa kasih sayang, dan simbol untuk saling berdamai dengan pemeluk agama lain.82Memahami toleransi sama halnya dengan memberi kebebasan terhadap manusia atau

80 Clifford Geertz, Religion as a Culture System (Fontana Press, 1993), 127. Diakses dari https://nideffer.net/classes/GCT_RPI_S14/readings/Geertz_Religon_as_a_Cultural_System_.pdf,

81 Wilfridus J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaaka, 1976), 89.

82 Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama (Bandung: Mizan Media Utama, 2011), 29.

43

kelompok lain untuk menentukan pilihan hidupnya, sehingga terciptanya suasana damai antar sesama.

Adapun Hamka dalam buku karya Irwan Masasduqi, membatasi pengertian toleransi dalam ranah akidah. Menurutnya, pembahasan teologi tidak akan pernah ditemukan titik persamaannya, karena masing-masing agama memiliki pemahamannya masing-masing. Namun, pernyataan Hamka dipatahkan oleh gerakan yang diciptakan Sumartana yakni gerakan Dialog Antar Iman, karena Sumartana yakin bahwa justru pembahasan tentang teologi atau akidah perlu untuk dibicarakan. Mengingat, semakin paham kita tentang ajaran akidah maka akan memunculkan sikap-sikap sosial yang baik.83

Isu perdamaian yang ada, selalu hidup berdampingan dengan isu-isu pertengkaran dalam hubungan antar agama. Hal ini selalu dilatar belakangi oleh beberapa faktor, yakni:84

1. Dogma, perbedaan cara pandang sampai keyakinan teologis selalu menjadi faktor paling rentan dalam memicu pertikaian dan kesalahpahaman antar pihak-pihak yang berkaitan. Dogma rentan menuju ke arah yang sensitif, sehingga terkadang memunculkan kekerasan atas nama agama.

2. Narasi, faktor ini juga merupakan salah satu hal yang rentan menjadi sebuah permasalahan. Text akan menemui tafsiran yang berbeda-beda tergantung sudut

83 Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama (Bandung : Mizan Pustaka, 2011), xii.

84 Abdul Muis, Agama dan Masyarakat (Jakarta: Rajawali Press, 2002), 21.

44

pandang yang menafsirkan. Jadi, apa yang menurut mereka benar ketika ada orang lain memiliki pemahaman berbeda, dianggap salah.

3. Moralitas yang ada dalam unsur agama menjadi permasalahan, karena banyak yang paham teori namun tidak mengimplementasikannya pada kehidupan nyata.

4. Teeling stories, faktor ini bagian dari sejarah kebudayaan yang ada dalam agama.

Warisan sejarah selalu dianggap sakral dan tidak bisa dilepaskan dari agama.

5. Pembentukan kekuasaan oleh para pemuka agama melalui ajaran agamanya, hingga menimbulkan sikap fanatik yang diajarkan kepada para pengikutnya.

Fanatik ini awal mula indikasi munculnya radikalisme, dan sikap terlalu mengaggungkan pemimpin agamanya.

6. Ritual, ini tidak jauh berbeda dengan telling stories karena sama-sama membicarakan kebudayaan adalah warisan dari sejarah. Sehingga, ketika ada perbedaan terkait peribadatan bisa menyebabkan peperangan atas nama Agama, dan Tuhan.

7. Intutisional agama, setiap manusia memiliki nilai dalam hidup yang harus diperjuangkan. Namun disisi lain, mereka lupa memperhatikan keadaan sosial, psikis, historis, dan juga fakta sosial yang ada.

Dari faktor-faktor tersebut, terlihat bahwa segala macam pertikaian, peperangan yang terjadi antar agama dapat dihindari dengan cara melakukan dialog antar agama.

Dialog antar agama yang bisa memunculkan keharmonisan hubungan antar agama,

45

akan menemui puncaknya dengan memahami pluralisme.Pluralisme merupakan puncak dari hubungan sejati kebhinekaan dan memiliki prinsip untuk keselamatan umat manusia.85

Pluralisme secara umum diartikan sebagai paham yang beragam dan salah satu istilah yang memiliki arti beragam. Pluralisme agama adalah kondisi di mana kita sebagai umat beragama melakukan penerimaaan atas adanya agama-agama lain, tanpa menutup diri atas kepercayaan yang dianut.

Terkait munculnya pluralisme, diawali dengan raksi penolakan sebagian masyarakat tentang konsep alam atau doktrin logis, bahwa kriteria kebenaran tidak hanya pada logika namun ada beberapa unsur lainnya. Pluralisme menjadi popular karena mampu menggoyahkan ajaran kapitalisme. Dalam pluralisme, konflik yang terjadi antar agama dapat diredam dengan banyak jalan.86

Namun kejayaan ajaran Pluralisme mulai menemui masalah pada tahun 2005 yang menjadikan pluralisme dianggap sebelah mata oleh beberapa lapisan masyarakat. MUI mengeluarkan fatwa haram tentang pluralisme dan menyatakan bahwa pluralisme dapat merusak keimanan seseorang atau kelompok. Adapun di bawah ini adalah pernyataan fatwa haram MUI; Pluralisme, Liberalisme, serta Sekularisme Agama:

85 Ahmad Zainul Hamdi, Muktafi, dkk, Wacana dan Praktik Pluralisme Keagamaan di Indonesia (Jakarta: Daulat Press, 2017), 80.

86 Muhyar Fanani, Mewujudkan Dunia Damai: Studi Atas Sejarah Ide Pluralisme Agana dan Nasionalisme di Barat, Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan, Jurnal Ijtihad, Vol. 1, No. 1, (Januari 2013) : 19.

46

“Pluralisme agama sesungguhnya merupakan paham yang mengajarkan bahwa semua agama itu sama. Sehingga, kebenaran agama memiliki sifat yang relatif. Oleh sebab itu, umat beragama tidak ada yang boleh mengatakan bahwa agama lain salah, dan menyatakan bahwa kelak di akhirat semua pemeluk agama dapat berkumpul di surga”.87

Padahal, jika kita belajar lebih dalam lagi tentang pluralisme, paham yang mengajarkan semua agama sama itu adalah sinkretisme. Sedangkan pluralisme hanya memberi ruang untuk menampung perbedaan, turut menjaga keyakinan orang lain tanpa harus mengikuti keyakinan itu. Belajar pluralisme justru akan membuat iman dalam diri seorang semakin kuat.

Pengertian pluralisme agama juga dapat kita simpulkan menjadi tdua pengertian yang ada dalam karya Alwi Shihab, sebagai berikut:88

1. Pluralisme adalah suatu sikap yang turut aktif dalam menjaga kemajemukan yang ada. Bukan hanya sekadar mengakui adanya kemajemukan.

2. Di sini, pluralisme berbeda dengan kosmopolitanisme, karena jika merujuk pada pemahaman kosmoplitanisme adalah perkumpulan masyarakat dalam satu lingkungan dengan perbedaan budaya, agama, juga ras, namun tidak melakukan interaksi sosial. Sedangkan pluralisme dapat menjadikan perbedaan yang ada sebagai penguat hubungan antar agama karena proses interaksi sosialnya.

87 Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 7/Munas VII/MUI/11/2005, diakses dari http://mui.or.id/wp-content/uploads/files/fatwa/12.-Pluralisme-Liberalisme-dan-Sekularisme-Agama.pdf,

88 Alwi Shihab, Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka, (Bandung: Mizan, 1999), 42.

47

Pluralisme sebagai hasil dari hubungan antar agama mengalami perkembangan yang dilatar belakangi oleh faktor internal dan eksternal.Untuk faktor internal, berkaitan dengan masalah akidah atau teologis.Keyakinan terhadap tauhid sifatnya mutlak sampai ada teori relativisme agama, dan hal ini lah yang menyebabkan sikap pluralisme agama.Kemudian faktor eksternal dalam perkembangan pluralisme memiliki beberapa macam faktor lainnya, yaitu:89

1. Faktor Intelektual, munculnya berbagai macam studi tentang pluralisme agama dan agama-agama yang ada di dunia. Sehingga menemukan kesimpulan bahwa agama yang kita ketahui beragam ini, sesungguhnya hanya manifestasi dari keabsolutan Tunggal, atau kata lainnya semua agama sama.

2. Pendapat Tokoh-Tokoh tekait dengan Pluralisme dan Pluralisme Agama, contohnya Nurcholis Majid yang menyatakan bahwa pluralisme berpedoman pada kitab suci. Contoh lainnya adalah dari Gus Dur yang menekankan pluralisme sebagai suatu jalan yang lapang untuk mencari kebenaran.

3. Faktor sosial dan politik, berkaitan dengan munculnya paham liberalism yang menjadi awal mula adanya pluralisme. Paham liberalisme pada awalnya berada dalam ranah politik, seiring berjalannya waktu, paham ini dapat mengubah cara pandang manusia tentang agama secara universal. Dari situlah, muncul paham pluralis atau pluralisme agama.

89 Fatonah Dzakie, Meluruskan Pemahaman Pluralisme dan Pluralisme Agama di Indonesia, Jurnal Al-Adyan, Vol. IX, No. 1 (Januari 2014), 83.

48

Pembahasan lain yang sering disamakan dengan pluralisme adalah multikulturalisme. Multikulturalisme merujuk pada penerimaan kelompok agama atau budaya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.Bedanya, pluralisme adalah sikap sukarelawan menerima serta sikap terbuka kepada perbedaan dan meyakini bahwa ada kebaikan dari perbedaan tersebut dan dapat membawa kebaikan pula untuk lainnya.90

Pluralisme harus dilihat dari sudur pandang baru, di mana kita juga harus mengetahui secara lebih intens tentang kepribadian lawan bicara mulai dari bahasa sampai kehidupan mereka dalam kesehariannya.Pluralisme harus memiliki keterikatan dengan hubungan antar agama yang merujuk pada kerukunan antarumat beragama.

Dari ketiga bentuk yang dihasilkan dari hubungan antar agama tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang atau antar kelompok ingin mencapainya harus dilakukan melalui dialog antar agama.Dalam dialog, akan terjadi interaksi sosial yang menjadikan pemikiran masing-masing lebih terbuka dan tidak gampang terprovokasi oleh pihak-pihak yang menjadi faktor pemicu rusaknya hubungan antar agama.