• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Lampiran 3. Transkrip Wawancara

170

Transkrip Wawancara

1. Apa saja visi dan misi yang dimiliki SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Visi sekolah terwujudnya lulusan yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cerdas, berwawasan lingkungan, mandiri. Kami hanya mengambil sesuai dengan kemampuan yang ada di sekolah untuk dikembangkan. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Membentuk lulusan SMA 5 yang bertaqwa kepada Tuhan Y. M. E., terus menjadikan anak sholeh sholehah, terampil, mandiri, bermanfaat bagi dirinya, orang lain, menjadi aset bangsa yang cerdas. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

2. Apa saja tujuan yang diharapkan oleh SMA Negeri 5 Yogyakarta, khususnya terkait dengan pendidikan karakter?

Harapan sekolah ini anak-anak SMA 5 itu anak-anak yang nantinya betul, lulusannya tadi. Ya tujuannya menjadi anak yang sholeh sholihah. Di sini iman dan taqwa dijaga betul karena sekolah ini merupakan sekolah afeksi. Afeksi itu tidak lepas dari karakter yang terbangun. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Karakter yang dibentuk di sini semua yang lulus dari SMA 5 menjadi manusia yang bertaqwa, yang sholeh, yang rendah hati, yang cerdas, punya life skills, berguna bagi nusa dan bangsa. Itu tujuan kita mendidik anak. Maka, sini kan sekolah berbasis afeksi. Orang kalau sholeh, yakin di mana-mana bermanfaat. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

3. Bagaimana krisis karakter yang terjadi di sekolah, khususnya di SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Di sini sudah ada catatannya poin negatif poin positifnya. Poin negatif sampai dia mencapai angka sekian berarti ada skorsing, poin sekian ada ditata di sana, sampai lebih dari seratus, meskipun pelanggarannya hanya pelanggaran yang kecil-kecil. Ha itu berarti anak telat, pagi terlambat itu udah min 2. Berarti

171

bisa jadi dia keluar gara-gara terlambat, katakan dia pagi terlambat. Nah itu terkadang membangun karakter anak, sehingga anak bisa menjadi disiplin, tidak melanggar. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Yang sok telat, telatnya. Itu kan sudah ga disiplin to? Kita kan kalau masuk hari, kalau kelas 12 Senin sampai Sabtu masuk jam ke nol. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

4. Bagaimana konsep kebijakan yang terkait dengan pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Jadi sekolah ini dilaunching Walikota sebagai sekolah afeksi. Nah dalam rangka tujuannya untuk membangun karakter si anak untuk final project

sekolah-sekolah yang lain, itu 2011. Terwujudnya lulusan yang beriman bertaqwa ya itu yang tak tebali. Belakangnya blablabla bukan berarti ya, saya yakin padi tak tanam, yang lainnya akan tumbuh. Nah itu satu kebijakan yang sebenarnya saya ambil bukan barang-barang baru, di sini sudah jalan sudah ada tapi belum tajam. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Pagi Simpati, tadarus, yang untuk mendukung pembentukan karakter ya?

Terus ada kajian qur’ani ba’da sholat dhuha untuk kelas 10. Itu Pak Arif yang

memandu kelas 11 dan 12. Terus ada mentoring, pendampingan supaya imannya mantap, tidak salah pilih, punya agama yang kokoh. Itu yang mentor kakak kelasnya atau alumni. Nah SMA ada semua mentornya, itu untuk membentuk karakter. Ada program Pasko, Puspanegara Anak Sholeh Kompetition, yang menyelenggarakan kita, yang daftar anak SD SMP. Setahun sekali, itu program punya OSIS. Ada Mabit, Malam Bina Iman dan Taqwa. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

5. a. Bagaimana moral knowing yang dikembangkan oleh SMA Negeri 5 Yogyakarta?

172

Kami sadar bahwa yang namanya, yang harus datang dengan kesuksesan, yang berhubungan dengan moral-moral itu. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Ya semuanya berjalan yang jelas. Yang namanya karakter itu dalam bertindak, dalam bersikap, berperilaku, berhubungan dengan sesama, dalam mengambil sebuah kebijakan. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017). b. Program apa saja yang terkait dengan pengembangan moral knowing di SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Ya tadi kan sudah mengena dari situ, termasuk masih setiap tingkat itu kelas 10 kena rumus harus ada malam bina iman dan taqwa, termasuk itu tadi, hanya frekuensinya berbeda dari kelas 11, apalagi kelas 12 yang akan menjelang atau menghadapi ujian. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

6. a. Bagaimana moral feeling yang dikembangkan oleh SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Ya tadi dalam kegiatan-kegiatan pada malam bina iman dan dan taqwa itu sudah masuk di situ, sudah anak-anak itu termasuk mau ujian jangan sampai anak itu sampai ada satu kegiatan nyontek dan sebagainya. Itu sudah terbawa dari situ. Anak-anak di sini itu sudah namanya nyontek itu sudah sesuatu hal yang kalau ada sampai satu dua berarti sudah anak-anak yang masih kriteria ukuran sudah lepas dari SMA 5 yang namanya kejujuran. Kami menanamkan di mulai dari pembiasaan. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017). b. Program apa saja yang terkait dengan pengembangan moral feeling di SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Ya itu kan terbangun karena itu tadi, dibekali dengan apa, dengan pembekalan emosionalnya, kemudian spiritualnya, kita undangkan narasumber. Jadi kepekaan sensitifitasnya si anak terhadap hal seperti itu dengan pembiasaan ya, budaya yang ada di sekolah. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

173

7. a. Bagaimana moral action yang dikembangkan oleh SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Ya itu tadi akan terbawa dari kegiatan-kegiatan. Itu berarti termasuk moral, kecerdasan moralnya ya kan dari pagi sudah diginikan diginikan tadi. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

b. Program apa saja yang terkait dengan pengembangan moral action di SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Sudah terjawab dengan jawaban di atas

8. Modal sosial apa yang dimiliki oleh SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Kalau sekolah ini satu memang kelebihan dari sekolah yang lain adalah warga sekolahnya sudah zuhud-zuhud nggeh. Jadi termasuk hubungan internal guru dengan guru, guru dengan anak, kemudian anak dengan anak sudah dibangun seperti itu tadi. Itu satu kekayaan sosial yang ada di sekolah ini. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Ya sekolah tetap menjadi konsultan anak-anak ketika mau melakukan aktivitas hubungan dengan sekolah lain. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

9. a. Bagaimana sekolah membangun kepercayaan sebagai modal sosial?

Ya tadi, antara satu dengan yang lain ini kami biasakan melalui briefing, rapat, kita terbuka akan permasalahan-permasalahan yang ada di antara kita, kita sampaikan. Dari situ, sehingga warga sekolah enggak ada rasa-rasa yang itu menimbulkan miss komunikasi di antara kita sendiri. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Ya sekolah tetap menjadi konsultan anak-anak ketika mau melakukan aktivitas hubungan dengan sekolah lain. Mereka berkonsultasi sehingga kita masih tetap menjaga rambu-rambu itu sehingga anak-anak tidak dapat lompat keluar dari norma. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

174

b. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam membangun kepercayaan warga sekolah dan masyarakat?

c. Bagaimana bentuk kepercayaan yang dibangun oleh sekolah, terkait dengan pembentukan karakter?

Jadi sekolah ini dilaunching Walikota sebagai sekolah afeksi. Nah dalam rangka tujuannya untuk membangun karakter si anak untuk final project

sekolah-sekolah yang lain. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017). Ini yang untuk mendukung buktinya kita sebagai sekolah berbasis afeksi. Itu kan sudah terkait dengan perilaku. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

10.a. Bagaimana sekolah membangun partisipasi sebagai modal sosial?

Tatib nanti kalau sudah dibicarakan, dibahas bersama, termasuk perwakilan kelas, dan sebagainya, terus anak-anak baru nanti setelah disahkan oleh Dinas, anak-anak mematuhi tatib itu…. yang namanya menyambut anak-anak Pagi Simpati, itu ada rumus di sini, minimum 5 orang guru. Jadi ada 2 dari tatib, 2 dari guru, ada 1 yang tugasnya ada di dalam lobby…. Semuanya bisa yang

masuk ke kategori mampu terlibat. Selain itu, orangtua juga tak libatkan. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Tata tertib itu juga yang buat atas kesepakatan bersama. Kepala Sekolah, guru, karyawan, perwakilan kelas disertakan dalam pembuatan tata tertib

itu…. Bapak Ibu yang bertugas di depan menyambut anak datang, jabat tangan, ucapkan salam, dari jam 6.00. Yang piket ada petugas pengelola Pagi

Simpati dan guru…. Semua aktivitas melibatkan warga sekolah. semua Bapak Ibu guru karyawan terlibat. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017). b. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam membangun partisipasi warga sekolah dan masyarakat?

c. Bagaimana bentuk partisipasi yang dibangun oleh sekolah, terkait dengan pembentukan karakter?

175

Terus ada mentoring, pendampingan supaya imannya mantap, tidak salah pilih, punya agama yang kokoh. Itu yang mentor kakak kelasnya atau

alumni…. Kan kita ada social worker, penerapan agama di rumah. Itu selama satu semester kita memantau ibadah di rumah. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

Mentoring ini dilakukan di luar jam sekolah. Mentoring kan alumni nyusun silabus dan dikonsulkan ke guru agama. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

Selain itu, orangtua juga tak libatkan dalam hal pembentukan karakter anak. Salah satunya lewat social worker. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

11.a. Bagaimana sekolah membangun nilai dan norma sebagai modal sosial? Tatib nanti kalau sudah dibicarakan, dibahas bersama, termasuk perwakilan kelas, dan sebagainya, terus anak-anak baru nanti setelah disahkan oleh Dinas, anak-anak mematuhi tatib itu. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017). Tata tertib itu juga yang buat atas kesepakatan bersama. Kepala Sekolah, guru, karyawan, perwakilan kelas disertakan dalam pembuatan tata tertib itu. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

b. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam membangun nilai dan norma yang ada di SMA Negeri 5 Yogyakarta?

c. Bagaimana bentuk nilai dan norma yang dibangun oleh sekolah, terkait dengan pembentukan karakter?

Ya proses berjalan secara alami dengan tata tertib yang ada ketika ada tata tertib ada pemberlakuan poin-poin ketika anak melanggar begini poinnya

sekian, dan seterusnya…. dengan melalui pembiasan-pembiasaan, dengan afeksi, dengan program PAI berbasis afeksi itu diharapkan anak terbiasa memiliki karakter yang bagus. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

176

Termasuk tatibnya digarap dulu. Jadi apa-apa yang itu anak-anak ga boleh

ditata dalam tatib…. Kami menanamkan di mulai dari pembiasaan,

disampaikan itu sampai nanti pelaksanaannya itu. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

12.a. Bagaimana sekolah membangun jaringan sosial sebagai modal sosial? Kalau dengan instansi yang lain, khususnya yang Perguruan Tinggi, kami membutuhkan sinergi-sinergi dalam rangka sikap penanganan anak pada

waktu mau SNMPTN…. Kemudian kalau dengan lingkungan ya termasuk RT/RW/Kelurahan, karena kami menyadari sepenuhnya sekolah ini tidak bisa lepas dari warga, karena kalau ga pandai-pandai begitu, sampai warga itu antipati dengan sekolah kan kadang-kadang juga repot…. Selain itu, di SMA Negeri 5 Yogyakarta ini juga ada kumpulan pengajian guru-karyawan. Pelaksanaannya selama dua bulan sekali dan dibiayai oleh Bapak Ibu penyelenggara. Sedangkan untuk tingkat kelas juga ada pengajian kelas, yang dilaksanakan selama dua kali dalam satu semester. Pelaksanaannya pun kesepakatan bersama antara wali kelas dengan siswa. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Dengan UNY, UGM, kami membutuhkan informasi yang update terkait dengan Penerimaan Mahasiswa Baru... Ya kalau jaringan sosial dengan masyarakat sekitar ada. Dari pihak RT/RW maupun pihak Kelurahan kami menjalin silaturahim lewat kegiatan-kegiatan yang ada di SMA Negeri 5…. Selanjutnya ada pengajian guru-guru SMA Negeri 5 Yogyakarta yang dilakukan secara bergilir dengan pengelompokan. Kemudian terdapat kegiatan pengajian kelas. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah siswa yang dilakukan selama 2 kali dalam 1 semester. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

Di sini ada kelompok pengajian guru karyawan, 2 bulan sekali. Itu yang satu ikatan kekuatan. Ada juga pengajian kelas. Kegiatan pengajian kelas yang

177

dilaksanakan di salah satu rumah siswa yang dilakukan selama 2 kali dalam 1 semester. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

b. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam membangun jaringan social?

c. Bagaimana bentuk jaringan yang dibangun oleh sekolah, terkait dengan pembentukan karakter?

Jadi termasuk hubungan internal guru dengan guru, guru dengan anak,

kemudian anak dengan anak sudah dibangun seperti itu tadi… Ada juga program dari OSIS maupun Rohis, seperti pembagian zakat/bakti sosial. Ini

kami ada desa binaan, terletak di Kulon Progo sama Gunung Kidul…. dia

nginep saya undangkan dengan, seperti penanganan ESQ, kami datangkan narasumber/trainer-trainer ya. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017). Kalau anak-anak bertemu dengan guru di jalan salam. Itu kan kultur dibentuk karakter, biasakan mendoakan orang lewat jabat tangan. Itu ga disuruh sudah

otomatis, karena tiap pagi kan salaman, itu kan doa… setiap tahun punya desa-desa binaan di Kulon Progo, Gunung Kidul. Jadi anak-anak yang

ngurusi, kalau di sini Rohis…. Dalam Mabit itu juga didatangkan trainer- trainer dari lembaga ESQ. Kan biar menyentuh afeksi si anak, salah satunya ya dengan ESQ tadi. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

13.a. Bagaimana sekolah membangun kerjasama sebagai modal sosial?

Ya kita latih di dalam guru-guru pembelajaran pada waktu diskusi. Pada waktu itu kan kelihatan anak-anak bagaimana tingkat menghormati temannya, bagaimana kesabarannya dalam menerima pada waktu temannya

menyampaikan, dan sebagainya…. Kita ini kalau ada siswa yang ga masuk

selama beberapa hari, kami lakukan home visit. Home visit ini kan salah satu layanan pendukung. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

Menyusun makalah bisa, kan bentuknya kelompok. Kalau saya lewat kegiatan

178

orangtua bagus. Kita kalau ada siswa ga masuk selama 2 hari, kita home visit. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

Dalam proses pembelajaran pun pembinaan karakter dilakukan lewat diskusi- diskusi yang terjadi di dalam kelas. Bagaimana anak itu menyampaikan pendapat, menghargai orang lain, dan lain-lain, yang itu semua muaranya kan ke dalam pembentukan karakter anak. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

b. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam membangun kerjasama antar warga sekolah dan masyarakat?

c. Bagaimana bentuk kerjasama yang dibangun oleh sekolah, terkait dengan pembentukan karakter?

Sudah terjawab dengan pertanyaan di atas

14.Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter di SMA Negeri 5 Yogyakarta? Dalam proses pembelajaran pun pembinaan karakter dilakukan lewat diskusi- diskusi yang terjadi di dalam kelas. Bagaimana anak itu menyampaikan pendapat, menghargai orang lain, dan lain-lain, yang itu semua muaranya kan ke dalam pembentukan karakter anak.... dengan melalui pembiasan- pembiasaan, dengan afeksi, dengan program PAI berbasis afeksi itu diharapkan anak terbiasa memiliki karakter yang bagus, sehingga istilahnya

pembiasaan melalui kultur… melalui kegiatan program-program kegiatan keagamaan yang ada hubungannya dengan sikap, semuanya itu merupakan bagian upaya pembentukan karakter. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

Pelaksanaan pendidikan karakternya terintegrasi dengan mata pelajaran. Tadi kan sudah saya jelaskan, lewat kegiatan intrakurikuler, lewat materi. Kan di situ dibentuk forum diskusi juga. Anak-anak saling mengemukakan pendapatnya, melatih anak untuk tidak egois... program-program yang sudah saya jelaskan tadi, misalnya Pagi Simpati, Tadarus, dan sebagainya. Nah itu

179

kan bentuk-bentuk pelaksanaan pendidikan karakternya, terintegrasi dengan program-program sekolah. Kan untuk menyentuh afeksi anak juga. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

Pelaksanaan pendidikan karakternya lewat pembiasaan-pembiasaan yang ada di sekolah, istilahnya kultur yang ada sekolah. (wawancara dengan Bapak J, 5 Januari 2017).

15.Apa saja nilai-nilai karakter yang diterapkan dan dikembangkan oleh SMA Negeri 5 Yogyakarta?

Nilai taqwa, ibadah, sholat tepat waktu, peduli terhadap sesama, menghormati orang lain, hormat kepada guru, patuh pada orangtua, karena di depan ini kita mau sekolah harus cium tangan sama orangtua. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

Kejujuran, kedisiplinan, dan sebagainya yang nanti poin-poinnya bisa dilihat ada datanya. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

16.Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pembentukan karakter anak?

Fasilitas sekolah lengkap, programnya ada. Diprogramkan, termasuk tadarus,

Pagi Simpatik, terus ada Pasko. Itu kan program, difasilitasi sekolah. Qur’an

gada kita belikan, didanai. Anak ga perlu bawa, sudah ada. Hambatannya gada, karena kita dibangun untuk kompak semua. (wawancara dengan Ibu M, 18 Januari 2017).

Faktor pendukungnya ada kekompakan, kebersamaan antara semua pamong, semua personil yang ada di sekolah mulai dari guru, TU, karyawan, dan sebagainya itu juga termasuk faktor-faktor pendukung. Faktor penghambatnya saya pikir tidak terlalu menonjol. Artinya ada benturan-benturan kecil dari faktor-faktor eksternal. Misalnya anak punya teman bergaul di luar yang barangkali dirasa mungkin ada sedikit kendala. (wawancara dengan Bapak A, 31 Januari 2017).

180

Dokumen terkait