TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Transportasi Perkotaan
Salah satu indikator kota berkembang adalah tersedianya sistem transportasi yang memadai dalam melayani warga kota, dikarenakan lalu lintas dan angkutan menjadi semakin vital peranannya sejalan dengan peningkatan ekonomi dan mobilitas masyarakat. Namun seiring dengan kenyamanan teknologi dan pertumbuhan penduduk sistem transportasi akan menjadi salah satu sumber masalah yang dari hari kehari semakin bermasalah.
Masalah transportasi muncul disebabkan oleh tidak seimbangnya pertambahan jaringan jalan dengan kapasitas jumlah lalu lintas, bila dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan jumlah kendaraan. Rata-rata jaringan jalan dikota besar Indonesia umumnya, kurang dari 4% dari total wilayah kota. Pertambahan jumlah kendaraan berkisar antara 8 – 12% per-tahun, sedangkan pertambahan panjang jalan berkisar antara 2 – 5% per-tahun. Hal ini dibuktikan bahwa panjang jalan perkapita masih tergolong rendah yaitu berkisar 0,7 meter hingga 1,2 meter/ kapita.
Kota Medan sebagai kota berkembang menuju kota metropolitan perlu upaya untuk meningkatkan pelayanan, salah satu misalnya adalah pelayanan jalan. Sesuai dengan visi dan misi Kota Medan pembangunan akan terus berkembang secara
dinamis dengan adanya pengaruh positif dan negatif untuk dapat beradaptasi terhadap pembaharuan dan dengan segala konsekwensinya dalam mengwujudkan pembangunan masyarakat nasional aman, nyaman, inovatif variabel-variabel yang berpengaruh positif dan negatif tersebut sangat banyak dan kompleks. Beberapa variabel yang penting untuk diperhatikan adalah pertimbangan terhadap peranan masyarakat dalam informasi. Peran dari partisipasi masyarakat dan peran dari teknologi dapat merupakan sinergi yang sempurna (Soehodho, 2000). Masalah kinerja ruas jalan yang dihadapi oleh kota menengah dan kota besar tetapi juga terhadap kota kecil terutama yang memiliki volume kendaraan yang tinggi.
Ditinjau dari peranan transportasi kota, maka kualitas variabel-variabel yang berhubungan dengan efisiensi adalah kecepatan, keamanan, kapasitas frekwensi, keteraturan, keterpaduan, kenyamanan, jaminan pengamanan resiko yang mungkin timbul dan biaya yang dapat diterima (Schumer Leslie-A 1974). Variabel-variabel yang berhubungan dengan kinerja ruas jalan yaitu kapasitas, derajat kejenuhan, kecepatan tempuh dan hambatan samping.
Menurut Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 (MKJI, 1997), jalan perkotaan merupakan segmen jalan yang mempunyai perkembangan secara permanen dan menerus sepanjang seluruh atau hampir seluruh jalan, minimum pada satu sisi jalan, apakah berupa perkembangan lahan atau bukan. Termasuk jalan di atau dekat pusat perkotaan dengan penduduk lebih dari 100.000, maupun jalan didaerah perkotaan dengan penduduk kurang dari 100.000 dengan perkembangan samping jalan yang permanen dan menerus.
Type jalan pada jalan perkotaan adalah sebagai berikut: 1. 2 - lajur 1 -arah (2/1).
2. 2 - lajur 2 - arah tidak terbagi (tanpa median) (2/2 UD). 3. 4 - lajur 2 – arah tak terbagi (tanpa median) (4/2 UD). 4. 4 - lajur 2 – arah terbagi (4/2 D).
5. 6 - lajur 2 –arah terbagi (6/2 D).
Jalan perkotaan dan jalan luar kota adalah jalan bersinyal yang menyediakan pelayanan lalulintas sebagai fungsi utama, dan juga menyediakan akses untuk memindahkan barang sebagai fungsi pelengkap.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 13/1980 yang dimaksud dengan:
1. Jalan adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan yang diperuntukkan bagi lalu lintas.
2. Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. 3. Jalan khusus adalah jalan selain dari pada yang termasuk jalan umum. 4. Bangunan pelengkap adalah meliputi jembatan, ponton, dan
atau/pelayanan, lintas bawah, tempat parker, gorong-gorong, tembok penahan dan selokan samping yang dibangun dengan persyaratan teknik. 5. Pelengkap jalan adalah rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan yang
mempunyai fungsi sebagai sarana untuk mengatur kelancaran keamanan dan ketertiban lalu lintas.
6. Pembinaan jalan adalah kegiatan penanganan jaringan jalan yang meliputi penentuan sasaran dan perwujudan sasaran.
Selanjutnya Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor. 14/1992 dijelaskan bahwa beberapa defenisi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan untuk lalu lintas umum.
2. Lalu lintas adalah lajur gerakan kendaraan, orang dan hewan di jalan raya. 3. Angkutan adalah pemindahan orang dan atau barang dari satu tempat lain dengan menggunakan kendaraan.
4. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk suatu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan.
5. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan untuk memuat dan untuk membongkar serta menurunkan orang/barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan umum yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi.
6. Kendaraan adalah suatu alat yang dapat bergerak di jalan terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor.
7. Kendaraan tidak bermotor adalah kendaraan yang digerakan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu.
8. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan bayaran.
9. Penanganan jalan adalah setiap orang dan atau badan hukum yang meng gunakan jasa angkutan baik angkutan orang maupun barang.
Selanjutnya jalan menurut Undang-undang Nomor. 13/1980 juga dijelaskan fungsi jalan adalah sebagai berikut:
1. Jalan mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan serta dipergunakan untuk sebesar− besarnya untuk kemakmuran rakyat.
2. Jalan mempunyai peranan untuk pendorong pengembangan semua satuan wilayah pengembangan untuk mencapai tingkat perkembangan antar daerah yang semakin merata.
3. Jalan merupakan suatu sistem jaringan yang mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan dan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanan dalam suatu hubungan hirarki.
4. Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota.
5. Sistem jaringan sekunder adalah sistem peranan jaringan jalan dengan distribusi masyarakat dalam kota.
6. Sistem jaringan primer disusun mengikuti ketentuan penyatuan tata ruang dan struktur pengembangan wilayah tingkat nasional yang meng-
a. Dalam satu satuan wilayah pengembangan menghubungkan secara menerus kota jenjang kesatu, kota jenjang kedua kota jenjang ketiga
dan jenjang dibawahnya sampai ke persil.
b. Menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota kesatu antar satuan wilayah pengembangan.
7. Sistem jaringan jalan sekunder disusun mengikuti pengaturan tata ruang kota yang menghubungkan kawasan mempunyai fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, dan seterusnya sampai keperumahan. Jalan arteri primer adalah merupakan jalan yang berfungsi sebagai penghubung antara kota jenjang kesatu yang terletak berdampingan dan menghubungkan kejenjang kesatu dengan kota yang lainnya, selanjutnya diperjelas dengan peraturan seperti dalam uraian dibawah ini. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 26/1992 tentang jalan bahwa jalan dapat dibagi atas:
1. Jalan arteri primer dengan kriteria jalan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Jalan arteri primer mempunyai kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam dengan lebar jalan tidak kurang dari 8 meter.
b. Jalan arteri primer mempunyai kapasitas yang paling besar dari volume lalu lintas rata-rata.
c. Pada arteri primer untuk lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas dan kegiatan lainnya.
d. Jumlah jalan masuk kejalan arteri primer dibatasi sehingga arus lalu lintas pada ruas tersebut tidak terganggu dari kecepatan
rencana jalan.
e. Persimpangan pada jalan arteri primer perlu pengaturan tertentu untuk dapat terpenuhinya kecepatan dan kinerja ruas jalan.
f. Jalan arteri primer tidak boleh terputus walaupun melalui kota. 2. Jalan Kolektor Primer dengan kriteria jalan tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Jalan kolektor primer mempunyai kecepatan rencana paling rendah 40 km/jam dengan lebar jalan tidak kurang dari 7 meter. b. Mempunyai kapasitas yang besar atau yang sama besar dari
volume lalu lintas rata-rata.
c. jumlah jalan masuk dibatasi dan direncanakan sehingga ketentuan kapasitas dan kinerja ruas jalan dapat dicapai.
3. Jalan primer dengan kriteria jalan tersebut adalah sebagai berikut: a. Mempunyai kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam dan
dengan lebar jalan tidak kurang dari 6 meter. b. Tidak terputus walaupun memasuki jalan desa.
4. Jalan arteri sekunder dengan kriteria jalan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Jalan arteri sekunder mempunyai kecepatan rencana paling rendah 30 km/jam dengan lebar jalan tidak kurang dari 8 meter.
b. Mempunyai kapasitas yang besar atau yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.
c. Lalu lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat. d. Persimpangan dengan pengaturan tertentu harus dapat
memenuhi kapasitas dan kinerja ruas jalan sesuai dengan rencana.
5. Jalan Kolektor Sekunder dengan kriteria jalan tersebut adalah sebagai berikut:
Kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam dan mempunyai lebar badan jalan tidak kurang dari 7 meter.
6. Jalan sekunder dengan kriteria jalan tersebut sebagai berikut:
a. Mempunyai kecepatan rencana paling rendah 10 km/jam dan dengan lebar jalan tidak kurang dari 5 meter.
b. Persyaratan teknis jalan sekunder sebagai dimaksud dalam tercapainya kecepatan rencana diperuntukkan untuk roda 3 atau lebih.
c. Yang tidak diperuntukkan untuk kendaraan bermotor beroda 3 atau lebih harus mempunyai lebar jalan tidak kurang dari 3,5 meter.
Pembebasan lalu lintas jarak jauh dari gangguan lalu lintas dan ulang alik dilakukan dengan sebagai berikut:
a. Pengurangan/pembatasan hubungan langsung lebar jalan arteri primer.
b. Penambahan jalur lambat.
c. Penyediaan jembatan penyeberangan. d. Pemisahan oleh marka atau rambu jalan. e. Pengurangan atau pembatasan waktu parkir.
2. Yang dimaksud dengan kecepatan rencana adalah kecepatan kendaraan yang dicapai bila berjalan tanpa gangguan dan aman, jalan dengan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam, adalah jalan yang didesain dengan persyaratan-persyaratan geometric yang diperhitungkan terhadap kecepatan minimum 60 km/jam dengan aman.
3. Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu penampang tertentu pada suatu ruas jalan tertentu dalam satuan waktu tertentu pula. Volume lalu lintas rata-rata adalah jumlah kendaraan rata-rata yang dihitung menurut satuan waktu tertentu. 4. Kapasitas jalan adalah jumlah maksimum kendaraan yang dapat
melewati suatu penampang tertentu pada ruas jalan tertentu dalam satuan waktu tertentu pada keadaan jalan dan lalu lintas dengan tingkat kepadatan yang ditetapkan.
5. Kapasitas lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata adalah kepadatan lalu lintas yang tidak menimbulkan, keterlambatan,
gangguan atau pembatasan dari kebebasan pergerakan pengemudi pada kendaraan lalu lintas dengan tingkat kepadatan yang telah ditetapkan.
2.1.1 Prasarana transportasi
Jaringan jalan merupakan prasarana transportasi yang mempunyai daya rangsang terhadap pertumbuhan kawasan sekitarnya. Tidak seimbangnya penyediaan jaringan jalan terhadap jumlah pertambahan kebutuhan ruang jalan merupakan gambaran permasalahan yang besar akan timpangnya sistem sediaan (supplay) dengan sistem permintaan (demand). Transportasi selalu dikaitkan dengan tujuan misalnya perjalanan dari rumah ke tempat bekerja, ke pasar, tempat rekreasi dan dari sentral ke daerah distribusi.
Kusumantoro (1994) menyatakan bahwa untuk menghindari masalah penyediaan sarana dan prasarana transportasi di Jerman di lakukan dengan meningkatkan kapasitas jalan melalui manajemen lalu lintas serta memanfaatkan angkutan umum masal. Angkutan masal ini berupa moda yang mampu memberikan kapasitas yang besar bagi pengguna angkutan umum. Jaringan transportasi dapat dipergunakan untuk mengendalikan pertumbuhan dan menentukan arah pembangunan dan mengatur konsentrasi kegiatan dan bangunan fisik pada tempat sehingga tidak melebihi kapasitas utilitas yang ada (Branch, 1995).
Beberapa tolak ukur dalam pembagian sub ruas jalan yakni, (1) factor fisik jalan terdiri dari lebar tiap-tiap jalur jalan, jumlah jalur jalan pada suatu ruas jalan,
kebebasan jalan terhadap pengaruh gangguan tepi jalan (lateral clearance), kelandaian jalan dan lebar bahu jalan dan (2) Faktor lalu lintas meliputi komposisi kenderaan dan variasi volume lalu lintas (Riyadi, 1994).
Kondisi fasilitas jalan akan menyebabkan tingkat kepadatan lalu lintas yakni jumlah kendaraan rata-rata dalam ruang, satuan kepadatan adalah kendaraan rata-rata per kilometer per jam. Seperti halnya volume lalu lintas, kepadatan lalu lintas adalah untuk mengatakan pentingnya ruas jalan tersebut dalam mengalirkan lalu lintas.
Beberapa hal yang dapat dilakukan sehubungan dengan peningkatan kapasitas transportasi adalah:
a. Pembangunan jalan baru, baik kolektor maupun arteri, seperti jalan bebas hambatan, jalan lingkar (outer ring road), pembangunan jalan penghubung baru (arteri) yang menghubungkan dua zona yang sangat padat.
b. Peningkatan kapasitas prasarana jaringan jalan seperti pelebaran dan perbaikan geometric persimpangan, pembuatan persimpangan tidak sebidang untuk mengurangi conpflict point, pembangunan jalan-jalan terobosan dari untuk melengkapi sistem jaringan jalan yang sudah ada (missing link) dan pembenahan sistem hirarki jalan dan pembuatan penyeberangan jalan untuk pejalan kaki (Tamin, 1993).
Selanjutnya dalam Tamin (2000) menjelaskan bahwa adanya tumpang tindih pengeoperasian bus besar, bus kecil, mobil pribadi dan jenis kendaraan dan jenis kendaraan lainnya sehingga hirarki dan fungsi jalan tidak digunakan sesuai ketetapan.
Kebijakan yang perlu di lakukan dalam menata rute angkutan umum dengan pertimbangan: Bus besar beroperasi pada jaringan jalan arteri, bus sedang di jalan kolektor dan bus kecil beroperasi di jalan.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 tentang prasarana transportasi, yang dimaksud dengan:
1. Jalur adalah bagian jalan yang dipergunakan untuk lalu lintas kendaraan, 2. Lajur adalah bagian jalur yang memanjang, dengan atau tanpa marka
jalan, yang memiliki lebar cukup untuk satu kendaraan bermotor sedang berjalan, selain sepeda motor,
3. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu,
4. Sepeda motor adalah kendaraan bermotor beroda dua atau tiga tanpa rumah-rumah, baik dengan atau tanpa kereta samping,
5. Kendaraan tidak bermotor adalah kendaraan yang digerakan oleh tenaga orang atau hewan,
6. Persimpangan adalah pertemuan atau percabangan jalan, baik sebidang maupun tidak sebidang,
7. Berhenti adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan untuk sementara dan pengemudi tidak meninggalkan kendaraannya,
8. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara,
10. Pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor atau orang yang secara langsung mengawasi calon pengemudi yang sedang belajar mengemudikan kendaraan bermotor,
11. Hak utama adalah hak untuk didahulukan sewaktu menggunakan jalan, 12. Mentri adalah mentri yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan
angkutan jalan.
2.1.2 Sistem transportasi perkotaan
Transportasi perkotaan secara umum berfungsi untuk menghubungkan suatu daerah asal dengan daerah tujuan sebagai tempat kerja, sekolah dan lain-lain, selain itu sebagai dasar dalam melayani setiap kegiatan dan aktivitas perjalanan orang, barang dan jasa (Lync, 1983). Permintaan akan jasa jalan timbul akibat adanya permintaan akan berbagai kegiatan sosial, ekonomi.
Untuk analisis jalan secara keseluruhan, yang harus diperhatikan adalah bahwa sistem jalan (sarana dan prasarana) tidak dapat dipisahkan dari
pertimbangan sistem sosial, sistem ekonomi dan sistem ekonomi dan sistem politik pada suatu kota. Sistem jalan perkotaan erat pula dengan sistem sosial yang ada dikota tersebut. Jadi sistem jalan perkotaan akan dapat mempengaruhi perkembangan suatu kota baik kegiatan jasa maupun kegiatan ekonominya (Manhein, 1979).
Jaringan jalan merupakan gambaran dari fasilitas jalan yang memiliki kedudukan penting, terutama jika dihubungkan dengan penggunaan lahan akan dapat membentuk suatu pola tata guna lahan yang pada gilirannya dapat mempengaruhi
rencana fisik ruang kota, serta peranannya sebagai suatu sistem transportasi yaitu untuk menampung pergerakkan manusia dan kendaraan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang jalan, jaringan jalan di dalam lingkup sistem kegiatan kota mempunyai peranan untuk mengikat dan menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan, dengan wilayah yang berada dalam pengaruh dalam pelayanannya di dalam suatu hubungan hirarki (Undang-Undang No. 13/1980, pasal 3 ayat 2). Jika dilihat dari pelayanan jasa persebaran untuk mengembangkan semua wilayah di tingkat nasional dengan semua simpul jasa persebaran yang kemudian berwujud kota, membentuk suatu sistem jaringan jalan primer, kedua peranannya sebagai pelayanan jasa persebaran untuk masyarakat di dalam kota membentuk suatu sistem jaringan jalan sekunder (Undang-undang No. 13/1980 pasal 3 ayat 1-2).
Dari uraian diatas, jelas memberi petunjuk bahwa kegiatan jalan perkotaan tidaklah berdiri sendiri, melainkan terjadi karena adanya unsur pembentuknya. Perilaku penduduk dan kegiatan sosial ekonomi kota ikut andil di dalam terbentuknya kegiatan jalan perkotaan. Dalam merencanakan jalan perkotaan, penduduk merupakan pelaku utama yang melakukan gerak dan membangkitkan lalu lintas sesuai dengan kebutuhan penduduk itu masing-masing, dengan kata lain kualitas penduduk akan turut menentukan kebutuhan gerak yang pada gilirannya dapat tercermin dalam volume lalu lintas. Selain itu, volume lalu lintas dipengaruhi juga oleh jumlah penduduk yang melakukan gerak/perjalanan (warpani, 1990).
Di dalam melakukan berbagai kegiatan sosial ekonomi, penduduk memerlukan sarana/prasarana transportasi untuk mencapai tempat tujuan yang dikehendaki. Untuk itu di tuntut adanya pelayanan jasa transportasi yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan tersebut, dan disain sistem transportasi perkotaan haruslah dapat memberikan kemudahan untuk melakukan perjalanan. Suatu sistem transportasi perkotaan disini merupakan suatu hubungan-hubungan (links) antar pusat-pusat pengembangan/pelayanan wilayah (kota-kota secara berjenjang) baik keluar maupun ke dalam wilayah yang merupakan komponen dasar dari struktur fisik, sosial ekonomi dalam suatu wilayah (Mayer,1984). Adapun kemudahan dalam melakukan perjalanan dari kegiatan sosial ekonomi tersebut tergantung dari kualitas pelayanan sistem jalan yang tersedia pada suatu kota (Thomson, 1997).
Kemudahan kegiatan sosial ekonomi secara fisik dapat dikenali melalui struktur penggunaan lahan. Setiap kawasan yang dicirikan oleh kegiatan sosial ekonomi relatif besar, akan terlihat oleh kegiatan sosial ekonomi relatif besar, akan terlihat dari intensitas guna lahan yang tinggi. Struktur guna lahan inilah yang akan memegang peranan penting sebagai faktor penentu keberhasilan penataan sistem transportasi dan sistem aktifitas serta pengaruhnya terhadap pola pergerakkan lalu lintas regional, dan pengaturan pemamfaatan tata guna lahan perkotaan. Pengaturan ini akan mempengaruhi pola pergerakkan penduduk dan pola pergerakkan lalu lintas. Hubungan antara sistem aktivitas, sistem transportasi dan pola pergerakkan serta sistem kelembagaan secara diagramatis dapat dilihat pada (Gambar 2.1).
Arteri Kolektor Bus Besar Bus Sedang Bus Kecil
Gambar 2.1 Hirarki Fungsi Jalan 2.1.3 Sistem jaringan transportasi perkotaan
Jaringan transportasi di perkotaan terjadi sebagai interaksi antara transportasi, tata guna lahan (land use), populasi (jumlah penduduk) dan kegiatan ekonomi di suatu wilayah perkotaan (urban area).
Transportasi sangat berhubungan dengan adanya pembangkitan ekonomi di suatu daerah perkotaan, guna memacu perekonomian setempat, untuk menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan kembali suatu daerah namun dalam kenyataan, hubungan tersebut masih tidak jelas.
Konsep transportasi adalah adanya pergerakan berupa perjalanan (trip) dari asal (origin) sampai ke tujuan (distination). Asal (origin) dapat berupa rumah (home), sehingga perjalanan yang dilakukan disebut home base trip, menuju kepada tujuan berupa kegiatan yang akan dilakukan, seperti kegiatan sosial (sekolah, olah raga, keluarga, dan sebagainya) dan kegiatan usaha (bekerja, berdagang, dan sebagainya). Sistem transportasi terdiri atas Sub Sistem Prasarana, Sub Sistem Sarana, Sub Sistem
Kegiatan, danSub Sistem Pergerakan (travel, movement, trip) yang saling berinteraksi membentuk suatu system transportasi, dan dapat dilihat pada (Gambar 2.2).
Gambar 2.2 Sistem transportasi Sub Sistem Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan oleh orang dapat dibedakan dalam dua macam kegiatan pokok, yaitu:
a. Kegiatan usaha, yang merupakan kegiatan harian (daily activity), dan dibagi dalam; kegiatan dasar (basic activity) dan kegiatan jasa (service activity).
b. Kegiatan sosial, yang merupakan kegiatan berkala (periodic activity). Dalam pergerakan perjalanan dari asal(origin) ke tujuan (destination) terdapat aliran barang (low of goods) dan aliran jasa (flow of service). Aliran barang umumnya mencakup wilayah (regional), sedangkan aliran jasa lebih banyak berlangsung di dalam kota.
A Sub sistem kegiatan C Sub sistem prasarana B Sub sistem sarana D Sub sistem pergerakan
Sub Sistem Sarana dan Prasarana
Sub sistem ini berkaitan dengan pola jaringan (network system) yang terbagi dalam:
a. Pola konsentrik (menuju ke satu titik), dan Pola radial (menyebar). b. Pola linier (contoh:Ribbon Development).
c. Pola grid/kotak (grid iron).
Perkembangan sub sistem ini bisa cepat, sedang, lambat, atau stagnan (tetapi, tidak berubah), tergantung pada kecepatan pertumbuhan (rate of growth) dan tingkat pengembangan (level of development) dari daerah yang bersangkutan (antara lain: kawasan tertinggal, kawasan yang cepat bertumbuh, dan sebagainya).
Sub Sistem Pergerakan
Terbagi dalam skala nasional, regional dan pada skala nasional diatur dalam kebijakan Sistranas (Sistem Transportasi Nasional) dengan Rencana Induk Perhubungan sebagai masterplan. Di dalam sistrans sebagai kebijakan umum, terdapat Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Pada skala regional diatur dalam sistem dan strategi transportasi regional, dan rencana umum jaringan transportasi jalan. Selanjutnya skala diatur menurut Sistem dan Strategi Transportasi Perkotaan (Urban Transportasi Policy).
Sasaran Sub Sistem Pergerakan: cepat (fast), murah (cheap), aman/selamat (safe), nyaman (comfort), lancar, handal (reliable), tepat guna (efektif), berdaya guna (efisien), terpadu (intergrated), menyeluruh (holistic), menerus (continue), berkelanjutan (sustainable), dan berkesenambungan, sedangkan proses dari Sub
Sistem Pergerakan dapat dokategorikan dalam; sangat cepat, cepat, sedang, lambat, terisolasi (ini melahirkan angkutan-angkutan perintis).