• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Dan Kewenangan Direksi Dalam PT (Persero)

1. Tugas Direksi Sebagai Pimpinan PT (Persero)

Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.29

Suatu perseroan diwajibkan mempunyai paling sedikit dua orang anggota Direksi apabila :

Tugas dan pertanggungjwaban direksi kepada perseroan dan pemegang saham perseroan telah dimulai sejak perseroan memperolah setatus badan hukum.

30

a. Bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat, seperti Bank, Asuransi; b. Menerbitkan surat pengakuan utang seperti obligasi; atau

c. Merupakan perseroan terbuka.

Ada 4 (empat) macam Direktur perseroan, yaitu :31

a) Direktur biasa, yakni Direktur yang dipilih oleh RUPS atau oleh anggaran dasar. Inilah Direktur yang paling lazim dan banyak sekali terdapat dalam praktek.

b) Direktur de facto, yaitu Direktur yang tidak dipilih oleh RUPS atau oleh anggaran dasar.

29

Pasal 1 angka (5) UUPT

30

I.G. Rai Widjaja, hlm.64

31

c) Direktur substitusi atau Direktur Alternative, yaitu Direktur pengganti yang sifatnya sementara atau sifatnya khusus untuk perbuatan tertentu.

d) Direktur bayangan (shadow director), yaitu Direktur yang bertugas hanya menjadi pajangan belaka, dimana setiap pekerjaan dilakukan atas suruhan pihak lain, atau pihak lain yang melakukan tugas-tugas direksi. Misalnya, direksi yang diangkat dengan perjanjian trustee, yang dalam hal ini lebih tepat disebut sebagai “Direktur boneka”.

Selain empat macam Direksi yang disebutkan diatas, Direksi lain yang dapat memegang jabatan dalam perseroan adalah Direktur eksekutif, direktur non- eksekutif, managing Director, associate director, Direktur permanen dan Direktur nominee.

Direksi mempunyai tugas representatif dan kepengurusan manajemen.32 Tugas representatif merupakan tugas dari Direksi untuk mewakili perseroan, baik di dalam maupun diluar pengadilan. Tugas mewakili perseroan diluar pengadilan contohnya seperti mewakili perseroan dalam hal melakukan transaksi bisnis dengan pihak ketiga. Tugas mewakili perseroan di dalam maupun diluar pengadilan dapat dilakukan dengan cara - cara sebagai berikut :33

a. Dilakukan sendiri.

b. Dilakukan oleh pegawainya yang ditunjuk untuk itu.

c. Dilakukan komisaris jika Direksi berhalangan, sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

d. Dilakukan oleh pihak ketiga sebagai agen dari perseroan.

32

Munir Fuady, Perseroan Terbatas…..,hlm.58-62 33

Tugas representasi diluar pengadilan adalah mewakili perseroan dalam menandatangani kontrak-kontrak, menghadap pejabat - pejabat Negara untuk dan atas nama perseroan, dan lain-lain.

Menurut Pasal 98 ayat (1) UUPT, ditentukan bahwa yang mewakili perseroan adalah Direksi (yaitu board atau majelis, bukan direktur utama), maka sebagai konsekuensi ketentuan tersebut, tidak ada seorang anggota Direksi pun, termasuk direktur Utama, yang merupakan atasan dari anggota direksi yang lain.34

Konsekuensi yang lain adalah, keputusan Direksi harus diambil secara kolektif. Dengan demikian, Direktur utama tidak dapat mengambil keputusan sendiri untuk dan atas nama perseroan.35

Tugas berikutnya yang dibebankan kepada Direksi adalah tugas untuk mengurus perseroan atau menjalankan pengurusan terhadap perseroan. Pasal 92 ayat (1) UUPT menyebutkan bahwa “Direksi menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan” . Hal itu berarti bahwa dalam menjalankan pengurusan perseroan, Direksi harus menjalankan pengurusan perseroan tersebut untuk kepentingan perseroan dan

sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Halitu sejalan dengan isi dari pasal 5 ayat (2) UU BUMN, dimana ditentukan “Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN serta mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan.”36

34

Makalah Prof.Dr.Sutan remy Sjahdeini, SH, Tugas, Wewenang, Dan Tanggung Jawab Direksi Dan Komisaris BUMN Persero,hlm.12

35 Ibid

36

Ibid, hlm.14

Frasa untuk kepentingan perseroan

Pasal 92 ayat (1) UUPT ini tidak boleh disikapi secara terpisah/diartikan secara sendiri-sendiri ; artinya sekalipun direksi melaksanakan pengurusan untuk kepentingan perseroan tetapi tidak sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan sebagaimana ditetapkan dalam anggaran dasar, perbuatan direksi tersebut tidak mengikat perseroan tetapi mengikat dirinya pribadi.37

Tugas dan tanggung jawab Direksi perseroan meliputi duty of loyality and

good faith, yakni segala macam tindakan hukum yang diambil semata - mata

harus dilakukan dengan itikad baik untuk mencapai tujuan dan kepentingan perseroan. Dalam hal ini, Direksi tidak sendiri - sendiri bertanggung jawab kepada perseroan, yang berarti setiap tindakan yang diambil atau tindakan yang dilakukan oleh salah satu atau lebih anggota direksi akan mengikat anggota direksi lainnya. Namun ini tidak berarti tidak diperkenankan terjadinya pembagian tugas diantara anggotab direksi perseroan, demi pengurusan perseroan yang efisien.38

Philip Lipton dan Abraham Herzberg membagi duty of loyalty and good faith ke dalam :39

1. Duty To Act Bonafide In The Interest Of The Company

Ini mencerminkan kewajiban direksi untuk melakukan kepengurusan perseroan hanya untuk kepentingan perseroan semata-mata. Untuk menentukan sampai seberapa jauh suatu tindakan yang diambil oleh direksi perseroan telah dilakukan untuk kepentingan perseroan, maka hal tersebut

37

Ibid,hlm 15

38

Fred BG Tumbuan, Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris Serta Kedudukan RUPS Perseroan Terbatas menurut UU No.1 tahun 1995, makalah kuliah S2 FH-UI T/A 2001- 2002,hlm11

39

Philip Liptond and Abraham Herzberg, Understanding Company Law, (Brisbane, The Law Book Company,Ltd.1992) hlm 297

harus dipulangkan kembali kepada Direksi perseroan. Direksi perseroan harus memiliki penilaian sendiri tentang tindakan yang menurut pertimbangannya adalah sesuatu yang harus atau tidak dilakukan untuk kepentingan perseroan. Direksi harus semata - mata memperhatikan kepentingan dari perseroan sebagai satu kesatuan dan bukan hanya untuk kepentingan masing - masing pemegang saham.40

Berkembangnya kegiatan dunia usaha yang ditandai dengan makin banyaknya chairman perusahaan-perusahaan terkemuka menyatakan bahwa

this company recognizes that it has duties to its members, employees,

consumers of its product and nation”,41maka nilai - nilai kepentingan perusahaan mulai bergerser menjadi lebih luas hingga meliputi seluruh pihak-pihak terkait dengan perseroan, yang antara lain terdiri dari :42

a. Pemegang saham (shareholders), b. Karyawan atau pegawai (employees),

c. Managers, d. Pelanggan (customers), e. Pemasok (suppliers), f. Kreditor (debitholders), g. Masyarakat (communities), h. Pemerintah (Government)

2. Duty To Exercise Power For Proper Purpose

40

Ibid, hlm 298

41

Paul D.Davies, Gower’s Principles Of Modern Company Law, London (Sweet Maxwell,1997), hlm 602

42

Arnoldo C.Hax and Nicolas S.Maljuf, The Strategy Concept And Process-A Pragmatic Approach, (New Jersey: Prentice Hall,1991) hlm.5

Direksi adalah satu-satunya organ dalam perseroan yang diberikan hak dan wewenang untuk bertindak atas nama perseroan. Ini membawa konsekuensi bahwa jalannya perseroan, termasuk pengelolaan harta kekayaan perseroan bergantung sepenuhnya pada Direksi perseroan. Artinya tugas pengurusan perseroan oleh Direksi juga meliputi tugas pengelolaan harta kekayaan perseroan.43

3. Duty To Retain Discretion

Direksi harus melakukan secara benar dan tidak memihak untuk kepentingan manapun juga berkaitan dengan posisinya sebagai trustee

perseroan. Direksi diberikan kepercayaan oleh seluruh pemegang saham melalui mekanisme RUPS untuk menjadi organ perseroan yang akan bekerja untuk kepentingan perseroan, serta kepentingan seluruh pemegang saham yang mengangkat dan mempercayakannya sebagai satu-satunya organ yang mengurus dan mengelola perseroan.

Direksi oleh perseroan, melalui RUPS telah diberikan fiduciary untuk bertindak seluas-luasnya (dalam koridor UU dan Anggaran Dasar) untuk kepentingan perseroan, maka tidak selayaknyalah jika Direksi kemudian melakukan pembatasan dini, atau membuat suatu perjanjian yang akan mengekang kebebasan mereka untuk bertindak sesuai dengan tujuan dan kepentingan perseroan. Dalam hal ini tidak berarti Direksi tidak boleh mengadakan, membuat atau menandatangani suatu perjanjian pendahuluan (misal ; perjanjian pengikatan jual-beli). Namun sebelum perjanjian tersebut diadakan, dibuat dan di tanda tangani, Direksi harus memiliki suatu

43

pandangan, sikap dan kepastian bahwa tindakan yang dilakukan tersebut akan memberikan manfaat bagi kepentingan perseroan.44

4. Duty To Avoid Conflict Of Interest

Prinsip Fiduciary Duty pada dasarnya menjelaskan bahwa Direksi memiliki kewajiban untuk menghindari diadakan, dibuat, atau di tandatanginya perjanjian atau dilakukannya perbuatan yang menempatkan Direksi tersebut dalam suatu keadaan, yang tidak memungkinkan dirinya bertindak secara wajar demi tujuan dan kepentingan perseroan. Kewajiban ini bertujuan untuk mencegah Direksi secara tidak layak memperoleh keuntungan dari perseroan yang mengangkat dirinya menjadi Direksi. Kewajiban ini sebenarnya melarang dengan mencegah Direksi untuk menempatkan dirinya pada suatu keadaan yang memungkinkan Direksi bertindak untuk kepentingan mereka sendiri, pada saat yang bersamaan mereka harus bertindak mewakili untuk dan atas nama perseroan.45

Jadi sesungguhnya kewajiban tersebut bukan untuk melakukan penghukuman atas terjadinya suatu tindakan yang mengandung unsure benturan kepentingan tersebut dilakukan, dilaksanakan atau diambil. Dalam hal itu perlu diperhatikan bahwa “the duty is breached whether or not they had fraudulent motives.”46

Jika kita tinjau dari peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perseroan, kewajiban bagi anggota Direksi sangat beragam dan bervariasi dari

44 Ibid, hlm 314-315 45 Ibid 46 Ibid

jenis perusahaan satu ke perusahaan lain. Beberapa diantara kewajiban Direksi tersebut adalah :

a. Menentukan dan mewujudkan filosofi, visi, dan misi perseroan. b. Memastikan bahwa ketentuan dalam anggaran dasar telah dipenuhi.

c. Memastikan bahwa ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku telah dipenuhi.

d. Memastikan bahwa semua perhitungan keuangan dan pembukuan telah sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku.

e. Memperhatikan kepentingan karyawan.

f. Memperhatikan kepentingan pemegang saham (mayoritas dan minoritas) g. Memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, seperti kreditor, investor

dan masyarakat.

h. Selalu memonitor perkembangan perseroan.

i. Melakukan disclosure terhadap kepentingannya yang potensial bertentangan dengan kepentingan perseroan.

j. Kewajiban meminta izin dan melakukan disclosure terhadap tindakan - tindakan perseroan tertentu. Izin dan disclosure tersebut dilakukan terhadap beberapa institusi tergantung kegiatan apa yang dimintakan izin atau di

disclose.

k. Kewajiban memelihara dokumen perusahaan.

l. Kewajiban memelihara pembukuan perseroan, termasuk membuat neraca. m. Pengisuan saham baru atas rekomendasi dari RUPS.

n. Pengangkatan akuntan atau akuntan public bagi perusahaan terbuka. o. Pengangkatan dan pemberhentian pegawai perusahaan.

p. Penentuan dan pembayaran gaji-gaji dan ongkos-ongkos.

Direksi dapat mewakili tugasnya kepada pegawainya ataupun pihak lain yang ditunjuk untuk melakukan tugas tersebut. Pihak yang ditunjuk oleh Direksi untuk menjalankan suatu tugas dapat berasal dari pihak dalam maupun pihak luar perseroan, dengan syarat dalam hal itu berlaku prinsip-prinsip hukum perwakilan atau keagenan. Dalam kaitan dengan tugas direksi sebagai badan pelaksana kepengurusan, maka Direksi berkedudukan ganda, sebagai badan pelaksana juga sekaligus sebagai badan pengambil inisiatif. Kuasa dari salah seorang anggota Direksi dapat diberikan kepada anggota Direksi yang lain atau kepada pihak lain untuk melakukan tugas - tugas tertentu. Tetapi berhubung diangkatnya sebagai Direksi (atau komisaris) karena kualifikasi dan keahlian tertentu, maka baik Direksi maupun Komisaris tidak dapat memberikan pada pihak Direksi lain atau kepada pihak lain suatu kuasa umum (tidak terbatas) dalam menjalankan tugas dan kewenangannya dalam perseroan terbatas.47

Tugas Direksi jika dikaitkan dengan prinsip Fiduciary Duty yang merupakan prinsip umum dalam hukum perusahaan, adalah untuk mengurus dan menjalankan perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Oleh karena itu, implementasi prinsip tersebut dalam undang - undang Perseroan Terbatas masih sangat umum.48

Tugas Direksi perseroan jika dibedakan menurut klasifikasinya, dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu :49

a. Tugas yang berdasarkan kepercayaan (fiduciary duties-trust and confidences)

47 Ibid 48

Try Widiyono ,Op.Cit ,hlm.12

49

b. Tugas yang berdasarkan kecakapan, kehati-hatian dan ketekunan (duties of skill, care and diligence). Tugas - tugas inin hanya merupakan aspek dari tugas - tugas direktur agar tidak lalai (negligent) dalam melaksanakan fungsinya. Perlu diketahui secara konsep bahwa the duty to be skillful berbeda dengan duty to be careful and duty to be diligence.

c. Tugas yang dilaksanakan berdasarkan Undang - undang (statutoryduties).

Diamanatkan oleh Undang - Undang (by the Act), seperti direktur harus melaksanakan reasonablediligence dalam tugas jabatannya atau disclosure.

Dalam melaksanakan tugasnya, selain bertanggung jawab terhadap perseroan dan terhadap para pemegang saham perseroan, Direksi juga bertanggungjawab kepada setiap pihak (ketiga) yang berhubungan hukum, baik yang langsung maupun tidak langsung dengan perseroan.50

Tanggung jawab direksi secara umum dapat dibedakan dalam :51

a. Tanggung jawab internal direksi yang meliputi tugas dan tanggung jawab direksi terhadap perseroan dan pemegang saham perseroan.

b. Tanggung jawab eksternal direksi, yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab direksi kepada pihak ketiga yang berhubungan hukum langsung maupun tidak langsung dengan perseroan.

Mengenai kesalahan dan kelalain Direksi dalam perseroan, termuat pengaturannya pada Pasal 104 UUPT, yaitu :

50

Ahmad Yani Dan Gunawan Widjaja, SeriHukum Bisnis: Perseroan Terbatas (Jakarta: PT Raja Grafindo persada,2000) hlm 104-107

51

Gunawan widjaja, Tanggung Jawab Direksi Atas Kepailitan Perseroan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2003) hlm 69-71

(1) Direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas Perseroan sendiri kepada Pengadilan Niaga sebelum memperoleh persetujuan RUPS, dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

(2) Dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.

(3) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga bagi anggota Direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.

(4) Anggota Direksi tidak bertanggungjawab atas kepailitan Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dapat membuktikan:

a. kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;

b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggung

jawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;

c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan

(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) berlaku juga bagin Direksi dari Perseroan yang dinyatakan pailit berdasarkan gugatan pihak ketiga.

2. Batas Kewenangan Direksi Dalam PT (Persero)

Kepengurusan perseroan terbatas dilakukan oleh Direksi yang juga berwenang mewakili perseroan baik di dalam maupun diluar pengadilan. Juga telah ditentukan bahwa Direksi bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun diluar pengadilan. Dari hal diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa selain tanggung jawabnya secara penuh atas perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan, juga mempunyai kewenangan untuk dijalankan dan tugas mewakili perseroan.

Kepemimpinan perseroan berada di tangan Direksi, begitu pula dengan segala kegiatan usahanya. Kewenangan dalam kepemimpinan meliputi semua hal maupun semua urusan yang berkenaan dengan perbuatan hukum yang mencakup dalam maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan, yang hal tersebut telah dimuat dalam Anggaran Dasar masing - masing perseroan.

Hal itu menegaskan bahwa Direksi adalah organ perseroan, yang melalui nama perseroan, mengambil bagian dalam segala perbuatan hukum sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan. Hal itulah yang akhirnya menjadi sumber kewenangan Direksi untuk dan atas nama perseroan melakukan segala perbuatan hukum dengan pihak ketiga. Kepengurusan oleh Direksi tidak terbatas pada memimpin dan menjalankan kegiatan perseroan sehari - hari. Direksi berwenang dan juga wajib mengambil keputusan dan menyusun rencana - rencana masa

depan perseroan untuk mewujudkan maksud dan tujuan perseroan. Maksud dan tujuan perseroan adalah batas ruang lingkup kecakapan bertindak perseroan. Dalam kaitannya, kewenangan Direksi untuk melakukan perbuatan hukum atas nama perseroan tidak terbatas ada perbuatan hukum yang secara tegas disebut dalam maksud dan tujuan perseroan, tetapi juga mencakup perbuatan - perbuatan lainnya, seperti : perbuatan yang menurut kebiasaan, kewajaran, dan kepatutan yang dapat disimpulkan dari maksud dan tujuan perseroan serta yang ada hubungannya dengan perseroan walaupun perbuatan itu tidak secara tegas tercantum dalam maksud dan tujuan perseroan.

Jika dalam hal Direksi beranggotakan lebih dari satu orang, maka yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota Direksi, kecuali ditentukan lain dalam anggaran dasar perseroan. Hal tersebut diatur di dalam pasal 98 ayat (2) Undang - Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT). Ketentuan tersebut membuat Undang - undang PT memilih sistem perwakilan kolegial, tetapi untuk kepentingan praktis masing - masing anggota Direksi berwenang untuk mewakili perseroan. Pembatasan kewenangan lainnya bagi masing - masing anggota Direksi dapat dicantumkan di dalam Anggaran Dasar perseroan terkait, berhubung dengan perbedaan kepentingan antara perseroan dan anggota Direksi yang bersangkutan. Pasal 96 Undang - Undang PT juga menentukan pengaturan dan pembagian kewenangan bagi setiap anggota Direksi, juga besar dan jenis penghasilan masing - masing Direksi Ditentukan oleh RUPS atau Komisaris atas nama RUPS. Mengenai pembatasan wewenang Direksi tersebut, diatur oleh Pasal 99 Undang-Undang PT yang menjelaskan bahwa anggota Direksi tidak berwenang mewakili perseroan apabila terjadi perkara di

pengadilan antara perseroan dengan Direksi terkait; atau apabila Direksi yang bersangkutan memiliki kepentingan yang tidak sejalan dengan perseroan tersebut. Jika keadaan seperti itu terjadi, yang menjadi penentu bagi siapa yang dapat mewakili perseroan hanya ketentuan yang ada dalam dalam anggaran dasar perseroan itu, atau keputusan RUPS untuk mengangkat satu orang pemegang saham atau lebih untuk mewakili perseroan, jika anggaran dasar tidak mengatur hal itu.

pengadilan antara perseroan dengan Direksi terkait; atau apabila Direksi yang bersangkutan memiliki kepentingan yang tidak sejalan dengan perseroan tersebut. Jika keadaan seperti itu terjadi, yang menjadi penentu bagi siapa yang dapat mewakili perseroan hanya ketentuan yang ada dalam dalam anggaran dasar perseroan itu, atau keputusan RUPS untuk mengangkat satu orang pemegang saham atau lebih untuk mewakili perseroan, jika anggaran dasar tidak mengatur hal itu.

PENJUALAN SAHAM PT (Persero) GO-PUBLIC MENURUT PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU DI

INDONESIA

D. Penyebab Perusahaan Melakukan Penawaran Saham Kepada Publik

Setiap perusahaan yang akan melakukan penawaran umum saham kepada public pastinya memiliki pertimbangan tersendiri mengenai mengapa mereka memutuskan untuk melakukan penawaran umum saham perusahaan mereka kepada masyarakat.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan suatu perusahaan ingin go- publik. Alasan - alasan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :52

i. Meningkatkan Modal Dasar

Dengan menjual saham kepada masyarakat, perusahaan akan menambah modal yang di setor. Dana (uang) masuk ke dalam perusahaan, memperkuat posisi permodalan, khususnya hutang berbanding modal. Dana semacam ini berguna untuk mendukung rencana ekspansi atau jika ingin membuat produk-produk baru, ataupun mengurangi hutang. Posisi sebagai perusahaan yang terbuka, sahamnya tercatat di bursa dapat merupakan suatu keuntungan tersendiri. Data dari waktu ke waktu diumumkan sangat mempermudah calon pemberi kredit dan sebagainya untuk menilai perusahaan dan membuat analisis tentang keadaan perusahaan. Keterangan - keterangan yang dipakai jadi lebih dapat dipercaya, misalnya selalu sudah diaudit oleh akuntan yang berwenang.

ii. Mencari Tahu Nilai Perusahaan.

52

Bagi pemilik semula, pemegang saham yang lama yang mungkin sudah cukup lama menanam dananya dalam perusahaan, memasyarakatkan perusahaan dapat memberikan indikasi berupa harga perusahaan, harga sahamnya menurut pandangan masyarakat. Ini memberikan kesempatan baginya untuk mentunaikan seluruh atau sebagian saham miliknya dengan laba (profit taking). Dengan melakukan ini ia dapat mengadakan diversifikasi penanaman dananya.

iii. Menilai Kemungkinan Lain.

Dalam anggaran dasar suatu perusahaan yang tidak tercatat di bursa, seringkali ada pembatasanmengenai pengalihan pemilikan saham. Biasanya kalau mau menjual, harus diutamakan kepentinganpemegang saham lainnya. Pada perusahaan yang tercatat di bursa pembatasan seperti itu dihilangkan. Jika saham dapat dijual secara bebas, pemegang saham mempunyai cara yang mudah untuk melepaskan sahamnya.

iv. Nilai Saham Cenderung Meningkat.

Kemudahan jual beli saham cenderung mendorong harganya keatas. Penanam modal institusional akan terbatas kemungkinannya untuk membeli saham yang tidak tercatat di bursa karena sukar menilai perusahaan yang bersangkutan.

Saham yang tercatat di bursa lebih akseptable sebagai jaminan untuk pinjaman dari lembaga - lembaga keuangan. Jadi member kesempatan bagi pemilik saham untuk mencari dana, tanpa melepaskan sahamnya. Jika perdagangan saham yang bersangkutan ramai, bank - bank akan suka menerima saham seperti itu sebagai agunan. Saham yang likuid juga lebih akseptable, jika

ingin mengambil alih perusahaan lain. Saham bisa dipakai sebagai media pembayaran.

v. Meningkatkan Kredibilitas.

Pada waktu emisi, banyak data mengenai perusahaan harus diumumkan kepada masyarakat. Ini bisa menjadi iklan tersendiri untuk perusahaan dan produk - produk yang dihasilkannya. Para promoter emisi akan menulis macam- macam artikel mengenai perusahaan untuk memperkenalkannya kepada masyarakat. Orang jadi mengenal perusahaan, para pemimpinnya, dan hasil perusahaannya.

Standing perusahaan bisa meningkat, baik terhadap para pelanggan, supplier ataupun para krediturnya, sering lebih tinggi daripada perusahaan tertutup. Para karyawan bisa menjadi lebih bangga atas perusahaannya, apalagi bila dapat turut memiliki perusahaan, melalui pemilikan saham. “Sense Of Belonging” bisa lebih tinggi, juga semangat kerjanya. Para pemegang saham juga bisa membela perusahaaan tersebut.

Bagi PT (Persero), menjual sahamnya kepada masyarakat (Go-Public) berarti mendapat pilihan lain untuk mendapatkan modal yang akan meningkatkan