BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Asesmen Kinerja (Performance Assessment)
3. Tugas-tugas Kinerja (task) dan Kriteria Penilaian (Rubrik)
Pemberian tugas (task) merupakan syarat penting untuk dapat dilakukannya penilaian terhadap penampilan atau unjuk kerja siswa. Dengan kata lain, penilaian unjuk kerja tidak dapat dilakukan tanpa adanya tugas yang nyata (Tucker, dalam Marzano, 1993). Dalam bukunya yang berjudul Student-Centered
Classroom Assessment, Stiggins (1994) menyatakan bahwa dalam penilaian
kinerja siswa, guru menghendaki respon yang “authentic” atau yang asli, berupa aktivitas yang dapat diamati. Tugas yang diberikan bisa dalam bentuk lisan atau
14
tertulis, jenis tugasnya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Tugas asesmen kinerja dapat berhubungan dengan pengalaman hidup seseorang, menghendaki pendemonstrasian kompetensi dan katerampilan. Ide asesmen kinerja dapat berasal dari teks, kurikulum, kejadian masa kini, literatur, seni, referensi, bahkan realita. (Wangsatorntanakhun, 2004). Dalam beberapa literatur, tugas yang diberikan kepada siswa untuk menilai kinerja disebut dengan task.
Aspek yang dinilai dalam kinerja meliputi: 1) aspek prosedur, keterampilan, atau teknis, 2) produk atau hasil. Jika prosedur dinilai, berarti si penguji mencoba menentukan seberapa terampil orang yang bersangkutan menampilkan prosedur yang diinginkan, sedangkan penilaian produk menekankan kualitas hasil akhir. Berdasarkan kedua aspek yang akan dinilai tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru tidak dapat menilai kinerja siswa tanpa adanya tugas-tugas, begitu juga guru tidak akan dapat menilai tingkat prestasi siswa tanpa tugas-tugas yang nyata.
Menurut Wangsatorntanakhun (2004) setelah tugas-tugas kinerja siswa dibuat, maka selanjutnya adalah membuat kriteria penilaian (rubrik). Hal ini bertujuan untuk menghubungkan kurikulum dengan tugas-tugas asesmen. Agar desain kriteria penilaian efektif harus dipertimbangkan siapa yang akan menggunakannya, harus jelas standar yang akan dicapai.
Kriteria penilaian kinerja (rubrik) hendaknya telah ditentukan secara jelas sebelum siswa mulai mengerjakan tugas. Untuk memudahkan pelaksanaan penilaian terhadap kinerja, harus dirancang tugas-tugas yang akan dikerjakan siswa. Tahap-tahap pengembangan tugas diawali dengan mengidentifikasi tujuan,
menetapkan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa, mengembangkan kriteria penilaian dan merencanakan prosedur penskoran (rubrik).
Menentukan kriteria penilaian (rubrik) perlu dilakukan karena mempunyai kegunaan untuk menentukan validitas dan keadilan. Menurut Zainul (2001) kriteria penilaian dalam penilaian kinerja merupakan alat atau pedoman penilaian hasil kinerja siswa. Kritaria penilaian dapat membantu guru untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan.
Phopam (1995) mengemukakan tujuh kriteria penilaian yang digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih tugas kinerja siswa, yaitu:
1. Keumuman (generalizability), maksudnya bahwa antara tugas yang diberikan sebanding dengan kemampuan siswa.
2. Keaslian (authenticity), maksudnya tugas yang diberikan sesuai dengan apa yang ditemukan siswa di dunia nyata.
3. Berfokus ganda (multiple focus), maksudnya dapat dinilai dari berbagai segi, tidak semata-mata dari satu segi saja.
4. Keadilan (fairness), maksudnya tugas yang diberikan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin atau status sosial, budaya maupun ekonomi.
5. Bisa tidaknya diajarkan (teachability), maksudnya perlu dipertimbangkan tingkat kesukaran tugas, jika terlalu sukar maka tidak tepat untuk diberikan kepada siswa.
6. Kepraktisan (feasibility), maksudnya keterjangkauan untuk dilaksanakan oleh siswa berkaitan dengan biaya, ruangan, waktu dan peralatan.
16
7. Bisa tidaknya diskor (scorability), maksudnya tugas yang diberikan harus dapat diskor.
Stiggins (1994) menganjurkan agar dalam asesmen kinerja siswa dilibatkan dalam hal:
1. Perencanaan kriteria penilaian pada awal pembelajaran 2. Memeriksa kriteria yang terpenuhi dan yang belum terpenuhi 3. Membuat display kriteria penilaian
4. Pengembangan latihan kerja
5. Membandingkan kinerja yang kontras, misalnya yang berkualitas tinggi dan yang berkualitas rendah
6. Mentransformasikan kriteria penilaian ke dalam checklist, rating scale atau pencatatan lainnya
7. Menilai kinerja sendiri dan siswa lain.
Lebih lanjut stiggins (1994) mengemukakan beberapa ciri kriteria yang baik, yaitu:
1. Mencerminkan seluruh komponen penting dari suatu kinerja 2. Sesuai dengan konteks dan kondisi-kondisi suatu kinerja
3. Mewakili dimensi kinerja sehingga memungkinkan para penilai untuk menggunakan atau menerapkan serangkaian tugas serupa secara konsisten 4. Disesuaikan dengan kondisi peserta uji
5. Dapat dipahami dan mudah digunakan
6. Dapat menghubungkan hasil penilaian secara langsung ke dalam proses pengambilan keputusan instruksional
7. Sebagai sarana untuk mendemonstrasikan dan mengkomunikasikan perkembangan siswa dari waktu ke waktu.
Kriteria penilaian kinerja (rubrik) dijadikan sebagai pedoman dalam pemberian skor terhadap hasil kerja siswa. Ada tiga kategori asesmen kinerja menurut Reichel (1994) yaitu baik, jika pekerjaan seorang siswa memenuhi semua kriteria kinerja, sedang, jika pekerjaan siswa memenuhi semua kriteria kecuali satu, kurang, jika pekerjaannya memenuhi semua kriteria kecuali dua. Selain itu Reichel (1994) juga mengemukakan bahwa pemberian skor dari nilai relatif pada sebuah pekerjaan merupakan bagian dari sistem manapun, guru tetap perlu menetapkan/menaksir keberhasilan belajar siswa.
Instrumen yang digunakan mengukur keterampilan menurut Arikunto (2001) biasanya menggunakan matrik. Misalnya instrumen untuk mengamati keterampilan praktek memasak (skala 5) adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Instrumen Untuk Mengamati Keterampilan Praktek Nama: ... Kelas:... No Keterampilan Skor 1 2 3 4 5 1. 2 3 4 5 6 7
Terampil menyiapkan alat Tekun dalam bekerja
Menggunakan waktu sangat efektif Mampu bekerjasama
Memperhatikan keselamatan kerja Memperhatikan kebersihan
Hasil masakan enak
Sejalan dengan yang dikemukakan Arikunto, kriteria penilaian menurut Simangunsong (1982) dapat juga dalam bentuk huruf yakni A = Baik, B = Cukup, C = Sedang dan D = Kurang. Penyusunan rating scale (skala penilaian) harus
18
memperhatikan aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian, hendaknya mempunyai arti edukatif, dapat diamati langsung, batas penilaian ditentukan dengan jelas.
Kategori penskoran lain adalah kategori yang dikemukakan Popham (1995), ia menyebutkan ada lima kategori kriteria penilaian yakni: kategori
rendah jika siswa tidak melaksanakan tugas, tidak melengkapi
rambu-rambu/kriteria atau tidak menunjukkan aktivitas yang menyeluruh. Kategori
kurang jika hasil tidak memenuhi kriteria, tidak menyelesaikan apa yang
ditanyakan, berisi kesalahan-kesalahan atau kualitasnya rendah daripada yang lain. Kategori cukup jika hasil atau asesmen memenuhi beberapa kriteria dan tidak berisi kesalahan besar atau kesalahan yang berarti. Kategori baik jika hasil atau asesmen secara kokoh atau lengkap memenuhi kriteria, dan kategori baik sekali jika semua kriteria ditemui, hasil atau asesmen lengkap memenuhi kriteria dan mempunyai keistimewaan. Sedangkan menurut Rustaman (1994), penilaian dilakukan dengan tiga kategori yaitu: baik, sedang, dan kurang, dengan konversi nilai 3 untuk kategori baik, 2 untuk kategori sedang dan 1 untuk kategori kurang. Untuk memudahkan penelitian ini, penulis cendrung menggunakan asesmen kinerja dengan kriteria penilaian sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Mahmudah (2000) dan Irawan (2002) yang menggunakan kriteria penilaian dari Rustaman dan Reichel.