• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASESMEN KINERJA PRAKTIKUM PENEMUAN DAN H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASESMEN KINERJA PRAKTIKUM PENEMUAN DAN H"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

DAN HUKUM KI RCHHOFF

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan IPA

Pada Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Oleh: ERWIN 039302

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

(2)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING

Pembimbing I

Prof. Dr. Asmawi Zainul, M. Ed.

Pembimbing II

Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si.

Mengetahui,

Ketua Program Studi Pendidikan IPA

Program Pascasarjana

Universitas Pendidikan Indonesia

(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Asesmen Kinerja

Praktikum Penemuan dan Hubungannya dengan Pemahaman Siswa Tentang Konsep Rangkaian Hambatan Listrik dan Hukum Kirchhoff” ini beserta seluruh

isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Juli 2005 Yang membuat pernyataan,

(4)

ASESMEN KI NERJA PRAKTI KUM PENEMUAN

DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMAHAMAN SI SWA TENTANG KONSEP RANGKAI AN HAMBATAN LI STRI K DAN HUKUM

KI RCHHOFF

(Erwin, NIM 039302)

ABSTRAK

(5)

karena atas karunia-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Tesis yang berjudul “Asesmen Kinerja Praktikum Penemuan dan

Hubungannya dengan Pemahaman Siswa Tentang Konsep Rangkaian Hambatan Listrik dan Hukum Kirchhoff” ini merupakan salah satu bentuk penelitian

deskriptif korelasional. Tesis ini disusun sebagai salah satu persyaratan guna meraih gelar Magister Pendidikan pada Progran Studi Pendidikan IPA, konsentrasi Pendidikan Fisika Sekolah Lanjutan, Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Penelitian ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, yakni dalam kegiatan menyusun rangkaian hambatan listrik dan membaca hasil pengukuran. Melalui penelitian ini diharapkan siswa akan lebih terampil dalam merangkai hambatan listrik dan meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff.

Penulis menyadari tulisan ini jauh dari sempurna. Kritik dan saran yang membangun guna perbaikan selanjutnya penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Bandung, Agustus 2005

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan dari berbagai pihak dan hanya mengandalkan kemampuan penulis semata yang serba terbatas, penelitian dan penulisan tesis ini tidak mungkin dapat terselesaikan. Karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Asmawi Zainul, M.Ed., selaku pembimbing I sekaligus sebagai direktur Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia, yang telah memberikan bimbingan dengan sepenuh hati, cepat, sabar, dan selalu memotivasi selama penyusunan proposal sampai pelaporan hasil penelitian.

2. Bapak Dr. Agus Setiawan selaku pembimbing II, yang juga telah memberikan bimbingan dan motivasi dengan penuh perhatian dan ketelitian dari sejak penulisan proposal sampai selesai penulisan tesis ini.

3. Bapak Prof. Dr. H. Djam’an Satori, M.A., sebagai Asisten Direktur I Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia yang telah memberikan kemudahan-kemudahan dalam urusan akademik, sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan cepat.

(7)

yang tidak bosan-bosan membimbing, memotivasi, memberi masukan, dan arahan kepada penulis dari awal perkuliahan sampai selesai penyusunan tesis ini.

6. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan IPA di Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia, yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat bermanfaat bagi pengembangan wawasan penulis.

7. Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu yang telah memberikan izin belajar kepada penulis di Program Studi Pendidikan IPA, konsentrasi Pendidikan Fisika ,Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia. 8. Bapak Sumono, S.Pd. selaku Kepala SMA Negeri I Buay Madang OKU

Timur, Sumatera Selatan, yang telah memberikan izin serta kesempatan untuk melaksanakan penelitian dan bantuan selama pelaksanaan penelitian.

9. Teman-teman sejawat Guru SMAN Negeri 1 Buay Madang yang telah bersedia bekerja sama dan membantu melakukan observasi saat siswa praktikum .

10. Rekan-rekan mahasiswa Pendidikan IPA Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia yang telah memberikan sumbangan moril dan materil dalam penulisan tesis ini.

(8)

Penghargaan yang tak terhingga dan rasa hormat penulis sampaikan kepada Ibunda tercinta Masdalifah dan ayahanda tercinta Nasaruddin Pohan (alm), kakanda Relawati Pohan sekeluarga, Abanghanda Khondak Martua Pohan sekeluarga, Abanghanda Zakaria Pohan, abanghanda Irwan Pohan sekeluarga dan adinda Riyadi Pohan sekeluarga, atas motivasi serta doa yang tiada terputus dipanjatkan kepada Allah SWT untuk kesuksesan penulis. Demikian pula kepada Bapak Angkat saya H. Nurdin bin Masrudin sekeluarga dan Drs. Hamdi Akhsan, M.Si. sekeluarga yang memberikan dorongan dan dukungan sepenuhnya.

Kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan semoga amal baik Bapak/Ibu/Saudara mendapat imbalan dari Allah SWT dan Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.

Bandung, Agustus 2005

(9)

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Tujuan Penelitian. ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 7

F. Hipotesis ... 7

G. Definisi Operasional ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 10

A. Asesmen Kinerja (Performance Assessment) ... 10

1. Pengertian Asesmen Kinerja... 10

2. Manfaat dan Kelebihan Asesmen Kinerja ... 11

3. Tugas-tugas Kinerja (task) dan Kriteria Penilaian (Rubrik) ... 13

B. Model Belajar Penemuan dan Penerapannya dalam Pembelajaran. ... 19

C. Pembelajaran rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff di SMA ... 22

D. Hasil Penelitian yang relevan... 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 28

A. Desain Penelitian ... 28

B. Populasi dan Sampel ... 30

(10)

D. Analisis Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 43

A. Hasil Penelitian ... 43

B. Pembahasan ... 52

1. Analisis Pemahaman, Kinerja, dan Tanggapan Siswa ... 52

2. Hubungan Antara Kinerja dengan Pemahaman Konsep Siswa ... 55

3. Perbedaan Kinerja Siswa Laki-laki dengan Siswa Perempuan... 60

4. Hubungan Antara Tanggapan Siswa dengan Kinerja Siswa Saat Praktikum ... 62

5. Perbedaan Tanggapan Siswa Terhadap Konsep Rangkaian Hambatan Listrik Dan Hukum Kirchhoff, Kegiatan Praktikum dan Penilaian Praktikum Antara Siswa Yang Pemahaman Konsepnya Baik, Sedang dan Kurang ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Saran ... 74

C. Keterbatasan Penelitian ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

LAMPIRAN-LAMPIRAN : A. MODEL BELAJAR PRAKTIKUM PENEMUAN ... 80

B. LEMBARAN KERJA SISWA (LKS) ... 90

C. KISI-KISI... 101

D. INSTRUMEN ... 115

E. ANALISIS UJI COBA INSTRUMEN ... 136

F. DATA HASIL PENELITIAN ... 168

G. UJI NORMALITAS DATA ... 180

H. ANALISA DATA ... 185

(11)

2.1 Instrumen Untuk Mengamati Keterampilan Praktek ... 17 3.1 Teknik Pengumpulan Data ... 36 3.2 Skor tanggapan siswa terhadap konsep, kegiatan praktikum,

dan penilaian praktikum ... 37 3.3 Pengkategorian Skor Siswa ... 37 4.1 Hasil Perhitungan Skor Siswa ... 44 4.2A Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel Secara Keseluruhan

(Gabungan Laki-laki-Perempuan) ... 45 4.2B Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel (per indikator) Secara

Keseluruhan (Gabungan Laki-laki-Perempuan) ... 45 4.3A Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel untuk Siswa Laki-laki ... 45 4.3B Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel untuk Siswa Laki-laki

(per indikator) ... 45 4.4A Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel untuk Siswa Perempuan 46 4.4B Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel untuk Siswa Perempuan

(per indikator) ... 46 4.5 Hasil Uji Normalitas Data Pemahaman, Kinerja, dan Tanggapan . 50 4.6 Analisis Varians Regresi untuk Uji Independensi dan Linieritas

Y atas X(Kinerja–Pemahaman) ... 58 4.7 Analisis Varians Regresi untuk Uji Independensi dan Linieritas

Y atas X (Tanggapan–Kinerja) ... 64 4.8 Analisis Varians Regresi untuk Uji Independensi dan Linieritas

(12)

E1 Rekapitulasi Skor Pemahaman Konsep Siswa Hasil Uji Coba ... 137

E2 Tabel Persiapan Menghitung Koefisien Validitas Butir Soal ... 138

E3 Rekapitulasi Validitas Butir Soal ... 140

E4 Tabel Persiapan Menghitung Koefisien Reliabilitas Soal tes ... 141

E5 Rekapitulasi Hasil Analisis Soal dan Keputusan ... 148

E6 Rekapitulasi Skor Tanggapan Siswa Terhadap Konsep, Kegiatan Praktikum, dan Penilaian Praktikum ... 152

E7 Tabel Persiapan Menghitung Koefisien reliabilitas angket ... 153

E8 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Hukum I Kirchhoff Hasil Uji Coba ... 158

E9 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Rangkaian Seri Hambatan Listrik Hasil Uji Coba ... 159

E10 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Rangkaian Paralel Hambatan Listrik Hasil Uji Coba ... 160

E11 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Hukum II Kirchhoff Hasil Uji Coba ... 161

E12 Rekapitulasi Skor Total Kinerja Siswa Hasil Uji Coba ... 162

E13 Tabel Persiapan Menghitung Koefisien reliabilitas Lembar Observasi Kinerja Siswa ... 163

F1 Rekapitulasi Skor Pemahaman Konsep Siswa ... 169

F2 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Hukum I Kirchhoff ... 170

F3 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Rangkaian Seri Hambatan ... 171

F4 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Rangkaian Paralel Hambatan ... 172

F5 Rekapitulasi Skor Kinerja Siswa Tentang Hukum II Kirchhoff... 173

(13)

F9 Skor Pemahaman Siswa Laki-laki ... 177

F10 Skor Pemahaman Siswa Perempuian ... 177

F11 Skor Kinerja Siswa Laki-laki ... 177

F12 Skor Kinerja Siswa Perempuan ... 177

F13 Skor Tanggapan Siswa Laki-laki ... 178

F14 Skor Tanggapan Siswa Perempuan ... 178

F15 Skor Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Konsep ... 178

F16 Skor Tanggapan Siswa Perempuan Terhadap Konsep ... 178

F17 Skor Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Pelaksanaan Praktikum 179 F18 Skor Tanggapan Siswa Perempuan Terhadap Pelaksanaan Praktikum 179 F19 Skor Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Penilaian Praktikum .. 179

F20 Skor Tanggapan Siswa Perempuan Terhadap Penilaian Praktikum 179 G1 Tabel Persiapan untuk Uji Normalitas Skor Pemahaman ... 181

G2 Tabel Persiapan untuk Uji Normalitas Skor Tanggapan ... 182

G3 Tabel Persiapan untuk Uji Normalitas Skor Kinerja ... 183

H1 Tabel Persiapan untuk Menghitung Simpangan Baku Sy Hubungan Kinerja dengan Pemahaman ... 186

H2 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Jaspen’s dan Pearson ... 187

H3 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kinerja Dengan Pemahaman ... 188

(14)

H4 Tabel Persiapan untuk Menghitung Chi Kuadrat

(Kinerja–Pemahaman). ... 192 H5 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kinerja

denganTanggapan ... 193 H5.1 Tabel Persiapan untuk Menghitung a dan b

(Kinerja–Tanggapan) ... 195 H6 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

tanggapan dengan Pemahaman ... 197 H6.1 Tabel Persiapan untuk Menghitung a dan b

(Tanggapan - Pemahaman) ... 199 H7 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Konsep dengan Pemahaman Konsep ... 201 H8 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Praktikum dengan Pemahaman Konsep ... 203 H9 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Penilaian Praktikum dengan Pemahaman Konsep ... 205 H10 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Konsep dengan Kinerja ... 207 H11 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Praktikum dengan Kinerja ... 209 H12 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Penilaian Praktikum dengan Kinerja ... 211 H13 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Konsep dengan Tanggapan Terhadap Praktikum ... 213 H14 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Konsep dengan Tanggapan Terhadap Penilaian

Praktikum ... 215 H15 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan

Terhadap Praktikum dengan Tanggapan Terhadap Penilaian

Praktikum... 217 H16 Tabel Persiapan untuk Menghitung Chi Kuadrat (Perrbedaan

Tanggapan terhadap konsep antara Siswa yang Pemahaman

(15)

H18 Tabel Persiapan untuk Menghitung Chi Kuadrat (Perrbedaan Tanggapan terhadap Penilaian Praktikum antara Siswa yang

Pemahaman Konsepnya Baik, Sedang, dan Kurang) ... 221 H19 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Kolmogorov-Smirnov

(Perbedaan Kinerja siswa Laki-laki dengan Perempuan) ... 222 H20 Tabel Persiapan untuk Menghitung harga thitung

(Perbedaan Kinerja siswa Laki-laki dengan Perempuan) ... 223 H21 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kinerja

dengan Pemahaman Konsep Siswa Laki-laki... 224 H22 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kinerja

dengan Tanggapan Siswa Laki-laki ... 225 H23 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan dengan Pemahaman Konsep Siswa Laki-laki ... 226 H24 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Konsep dengan Pemahaman Konsep

Siswa Laki-laki ... 227 H25 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Praktikum dengan Pemahaman Konsep

Siswa Laki-laki ... 228 H26 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Penilaian Praktikum dengan Pemahaman

Konsep Siswa Laki-laki ... 229 H27 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Konsep dengan Kinerja Siswa Laki-laki ... 230 H28 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Praktikum dengan Kinerja

Siswa Laki-laki .. ... 231 H29 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Penilaian Praktikum dengan Kinerja

(16)

H30 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Konsep dengan

Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Praktikum ... 233 H31 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Konsep dengan

Tanggapan Siswa Laki-laki TerhadapPenilaian Praktikum... 234 H.32 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

TanggapanSiswa Laki-laki Terhadap Praktikum dengan

Tanggapan Siswa Laki-laki Terhadap Penilaian Praktikum ... 235 H33 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Kinerja dengan Pemahaman Konsep Siswa Perempuan ... 236 H34 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Kinerja

Dengan Tanggapan Siswa Perempuan... 237 H35 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan dengan Pemahaman Konsep Siswa Perempuan... 239 H36 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Konsep dengan Pemahaman

Konsep Siswa Perempuan... 240 H37 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Praktikum dengan Pemahaman

Konsep Siswa Perempuan... 241 H38 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Penilaian Praktikum dengan

Pemahaman Konsep Siswa Perempuan ... 242 H39 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Konsep dengan Kinerja

Siswa Perempuan... 243 H40 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi

Tanggapan Terhadap Praktikum dengan Kinerja

Siswa Perempuan... 244

H41 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan Terhadap Penilaian Praktikum dengan

(17)

H43 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan Siswa Perempuan Terhadap Konsep dengan

Tanggapan Siswa Perempuan TerhadapPenilaian Praktikum ... 247

H44 Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi Tanggapan Siswa Perempuan Terhadap Praktikum dengan

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

3.1 Desain Hubungan antara Variabel Penelitian ... 29 4.1 Diagram Prosentase Siswa yang Pemahamannya Baik, Sedang,

dan Kurang... 47 4.2 Diagram Prosentase Siswa yang Kinerjanya Baik, Sedang, dan

Kurang ... 48 4.3 Diagram Prosentase Siswa yang Tanggapannya Baik, Sedang, dan

Kurang ... 49 4.4 Diagram Prosentase Siswa yang Tanggapannya Terhadap konsep

Baik, Sedang, dan Kurang ... 51 4.5 Diagram Prosentase Siswa yang Tanggapannya Terhadap

Praktikum Baik, Sedang, dan Kurang ... 51 4.6 Diagram Prosentase Siswa yang Tanggapannya Terhadap

(19)

1 A. Latar Belakang

Lembaga pendidikan persekolahan seharusnya memberikan bekal keterampilan hidup (life skill) bagi siswanya, sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2004. Selain itu, pendidikan juga harus mampu meningkatkan berbagai aspek perubahan tingkah laku, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Sekurang-kurangnya melalui pendidikan yang ditempuhnya, warga negara memiliki keterampilan hidup (life skill) yang dapat dimanfaatkannya setelah selesai menempuh pendidikan pada suatu jenjang pendidikan. Hal ini sesuai dengan salah satu kompetensi dari lulusan SMA/MA yaitu mampu mengalihgunakan kemampuan akademik dan keterampilan hidup di masyarakat lokal maupun global (Puskur-Balitbang Depdiknas, 2001).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum (Puskur) Depdiknas (dalam Sudrajat H., 2002), selama tahun pelajaran 2001/2002, 88,4 % siswa lulusan SLTA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan 34,4 % siswa lulusan SLTP tidak melanjutkan ke SLTA. Melihat kenyataan ini, seyogyanya pendidikan yang mereka peroleh dibangku SMP atau SMA dapat mereka gunakan dalam kehidupannya setelah terjun ke masyarakat, sehingga pendidikan dapat berperan mengubah “manusia-beban” menjadi “manusia-produktif” dan pada

(20)

2

Disamping itu, bagi siswa yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi pendidikan seharusnya memberikan bekal pengetahuan dan dasar kinerja yang akan mereka butuhkan pada saat menempuh pendidikan pada jenjang yang akan ditempuhnya.

Fisika sebagai salah satu bagian dari bahan ajar IPA di sekolah memiliki berbagai bahan kajian yang menarik untuk dipelajari, dipahami, dikembangkan, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya pendidikan fisika selama ini kurang bermanfaat bagi siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini disebabkan pembelajaran fisika umumnya dilakukan dengan metode konvensional (ceramah). Akibatnya, siswa hanya menghapal konsep sehingga mereka tidak mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

(21)

membangkitkan motivasi belajar sains. Kedua, praktikum mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar melaksanakan eksperimen. Ketiga, praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah, dan keempat, praktikum menunjang pemahaman materi pelajaran.

Agar pembelajaran fisika lebih bermakna, pembelajarannya harus banyak didukung oleh praktikum, tetapi praktikum yang tidak disertai oleh penilaian ternyata juga kurang mendorong siswa melakukannya dengan sungguh-sungguh. Oleh sebab itu perlu dilakukan penilaian terhadap kinerja siswa pada saat praktikum, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mahmudah (2000) bahwa penerapan penilaian kinerja dapat memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan lebih sungguh-sungguh, dapat melatih siswa lebih mandiri, jujur, dan bertanggungjawab.

Untuk mengetahui tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran, diperlukan adanya suatu penilaian yang menyangkut segala aspek kegiatan belajar mengajar, yakni aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Hal ini berarti untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa tidak cukup hanya menggunakan tes tertulis (paper and pencil test) saja. Sesuai dengan tujuan evaluasi bidang pendidikan yaitu untuk meningkatkan kinerja individu atau lembaga (Dirjen Dikdasmen, 2004), maka evaluasi hasil belajar yang dalam pelaksanaannya didahului dengan asesmen harus mampu mendorong siswa untuk belajar lebih baik.

(22)

4

dapat mengungkap hasil belajar IPA dari segi proses. Untuk mengungkapnya diperlukan alat penilaian berupa tes kinerja siswa. Penilaian kinerja yang lebih dikenal dengan asesmen kinerja dapat memperlihatkan kemampuan siswa dalam melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya dalam situasi yang sesungguhnya (Airasian, 1994). Mitchell (dalam Airasian, 1994) mengemukakan bahwa membedakan antara kemampuan dalam menggambarkan bagaimana keterampilan tersebut ditampilkan dan kemampuan dalam mengaktualisasikan keterampilan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam penilaian di kelas. Stiggins (1994) menegaskan bahwa asesmen kinerja (performance assessment) merupakan salah satu alternatif penilaian yang difokuskan pada dua aktivitas pokok, yaitu observasi proses saat berlangsungnya unjuk keterampilan dan evaluasi hasil cipta produk.

(23)

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bermaksud melakukan penelitian yang berkaitan dengan kinerja dalam pembelajaran dan hubungannya dengan pemahaman konsep siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

“Bagaimana hubungan antara asesmen kinerja praktikum penemuan

dengan pemahaman siswa tentang konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff?”

Rumusan masalah di atas dirinci ke dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian, sebagai berikut:

1. Bagaimana hubungan antara kinerja pada praktikum rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff dengan pemahaman konsep siswa tentang konsep tersebut?

2. Apakah ada perbedaan kinerja siswa laki-laki dengan siswa perempuan pada praktikum rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff?

3. Bagaimana hubungan antara tanggapan siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum dengan kinerja siswa saat praktikum?

(24)

6

penilaian kegiatan praktikum antara kelompok siswa yang pemahaman konsepnya baik, sedang, dan kurang?

C. Pembatasan Masalah

Untuk menghindari terjadinya perluasan masalah yang tidak terarah, maka perlu dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut:

1. Asesmen kinerja pada penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti dan dibantu oleh observer lain yang dianggap mampu oleh peneliti.

2. Bahan kajian fisika yang akan dibahas adalah konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff.

3. Praktikum yang dilakukan adalah menyusun rangkaian listrik, membaca hasil pengukuran, melihat perbedan antara susunan seri dan susunan paralel hambatan listrik, dan merumuskan Hukum I dan II Kirchhoff.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan bagaimana hubungan antara kinerja dalam praktikum dengan pemahaman siswa tentang konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff.

(25)

3. Menjelaskan hubungan antara tanggapan siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum dengan kinerja siswa saat praktikum

4. Menjelaskan ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan tanggapan siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum antara kelompok siswa yang pemahaman konsepnya baik, sedang, dan kurang.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain adalah:

1. Memotivasi guru atau calon guru dalam mengembangkan asesmen kinerja. 2. Memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar terutama kegiatan praktikum, karena aktivitas dan kreativitasnya dihargai berdasarkan kriteria penilaian yang telah disepakati bersama guru.

3. Memberikan masukan kepada guru untuk menerapkan asesmen kinerja siswa dalam rangka meningkatkan cara penilaian terhadap hasil belajar siswanya.

F. Hipotesis

(26)

8

“Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asesmen kinerja pada

praktikum dengan pemahaman siswa tentang rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff ”

Hasil penelitian tentang kreatifitas menunjukkan bahwa semua orang tanpa memandang usia dan suku bangsa adalah orang-orang kreatif sampai batas-batas tertentu. (Amien,1987). Disamping itu, menurut Phopam (1995) tugas kinerja yang diberikan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin atau status sosial, budaya maupun ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian dan pendapat Phopam tersebut dirumuskan hopotesis nol sebagai berikut:

“Tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan antara siswa laki-laki

dengan siswa perempuan”

Tanggapan seseorang terhadap sesuatu mencerminkan bagaimana orang tersebut menyikapi hal itu. Seseorang yang menanggapi sesuatu dengan baik cendrung senang dan sungguh-sungguh melakukannya. Berdasarkan kenyataan tersebut dirumuskan hopotesis nol sebagai berikut:

“Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tanggapan siswa

terhadap konsep, pelaksanaan praktikum, dan pelaksanaan penilaian praktikum dengan kinerja siswa”.

“Tidak terdapat perbedaan tanggapan yang signifikan terhadap konsep,

(27)

G. Definisi Operasional

1. Asesmen kinerja pada penelitian ini adalah penilaian (asesmen) terhadap keterampilan psikomotor yang muncul selama kegiatan praktikum berlangsung, diukur menggunakan lembar observasi berupa daftar cek dan skala penilaian (rating scale), yang disusun khusus untuk tujuan penelitian ini.

2. Tanggapan siswa adalah persepsi siswa tentang pelajaran konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum, yang dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan lembar angket, yang disusun khusus untuk tujuan penelitian ini.

3. Kegiatan Praktikum penemuan adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam laboratorium dengan cara siswa dituntun menemukan sendiri konsep-konsep yang sedang dipelajari. Praktikum yang dilakukan adalah menyusun rangkaian listrik, membaca hasil pengukuran, melihat perbedan antara susunan seri dan susunan paralel hambatan listrik, dan merumuskan Hukum I dan II Kirchhoff. Instrumen penelitian dikonstruksi khusus untuk penelitian ini.

(28)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asesmen Kinerja (Performance Assessment) 1. Pengertian Asesmen Kinerja

Asesmen kinerja merupakan penilaian yang mengharuskan peserta didik untuk mempertunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban yang tersedia (Zainul, 2001). Dalam kegiatan praktikum selain dapat mengukur aspek psikomotor, guru juga dapat mengukur aspek afektif peserta didik. Sedangkan dalam penilaian yang bersifat paper and pencil test guru dapat mengukur aspek kognitif siswa. Dengan demikian cukup baik, jika ingin mengukur hasil belajar siswa secara keseluruhan (aspek afektif, kognitif dan psikomotor) digunakan asesmen kinerja saat siswa melakukan unjuk kerja untuk menilai afektif dan psikomotornya dan menggunakan paper and pencil test untuk mengukur pemahaman konsepnya.

(29)

2. Manfaat dan Kelebihan Asesmen Kinerja

Asesmen kinerja memberikan kesempatan kepada siswa dalam berbagai tugas dan situasi, untuk memperlihatkan kemampuan keterampilan yang berkaitan dengan tugas atau kegiatan yang harus dikerjakan. Artinya, asesmen kinerja mengarah pada keterampilan proses siswa yang merangsang kemampuan baik psikomotor, afektif, maupun kognitif. Dengan demikian melalui asesmen kinerja guru dapat menilai siswa tidak hanya dari segi kognitif saja yang membuat penilaian tidak fair dan tidak adil.

Manfaat asesmen kinerja menurut Airasian (1994) yakni mengindikasikan bagaimana para siswa menggunakan informasi, untuk memperlihatkan kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas dan menghasilkan sesuatu dalam situasi yang menggambarkan kehidupan sebenarnya. Manfaat lain adalah bahwa sekali asesmen kinerja dikembangkan, maka instrumen tersebut dapat digunakan terus-menerus.

(30)

12

bias, menentukan berbagai keterampilan dan kualitas yang diharapkan dapat membentuk karakter siswa, lebih menitikberatkan pada kunci konseptual dan keterampilan pemecahan masalah daripada mengungkapkan fakta-fakta ingatan siswa, melibatkan siswa dalam evaluasi kerja mereka sendiri.

Menurut Stiggins (1994) ada beberapa alasan mengapa asesmen kinerja perlu dilakukan, yaitu:

a. Memberi peluang yang lebih banyak kepada guru untuk mengenali siswa secara lebih utuh, sebab pada kenyataannya tidak semua siswa yang kurang berhasil dalam tes objektif atau essay secara otomatis bisa dikatakan tidak terampil atau tidak kreatif. Dengan demikian penilaian kinerja siswa melengkapi cara penilaian lainnya.

b. Dapat melihat kemampuan siswa selama proses pembelajaran tanpa harus menunggu hingga proses tersebut berakhir. Asesmen kinerja membantu guru memudahkan mengamati dan menilai siswa dalam belajar sesuatu, dengan demikian akan didapat informasi mengenai bagaimana siswa berintegrasi dengan lingkungannya selama proses belajar mengajar.

c. Adanya kemampuan siswa yang sulit diketahui/dideteksi hanya dengan melihat hasil akhir pekerjaan mereka, atau hanya melalui tes tertulis, yaitu segi keterampilan dan kreatifitas. Segi keterampilan dan kreatifitas ini dimunculkan dengan cara menugaskan siswa untuk memperagakan keterampilan yang dikuasainya dan membuat suatu karya.

(31)

aplikasi pengetahuan dalam konteks pemecahan masalah. (3) Skill yaitu kecakapan siswa dalam bertanya, keterampilan berkomunikasi, karya seni, visual dan lain-lain. (4) Pruduct yaitu kemampuan berbagai macam kreasi karya cipta. (5) Affect yaitu menggambarkan tentang tingkah laku, minat, nilai, motivasi dan konsep diri. (Hidayat dan Maryani, 1998).

Asesmen kinerja memiliki cakupan aspek yang luas, berbagai aspek kegiatan yang dilakukan dapat dinilai dengan menggunakan asesmen kinerja. Namun demikian, penilaian yang baik akan selalu mengikuti suatu proses atau langkah yang teratur, demikian juga asesmen kinerja. Menurut Stiggins (1994) penilaian yang baik akan mengikuti hal-hal sebagai berikut:

 Berawal dari sasaran pencapaian yang tepat  Mempunyai maksud yang jelas

 Tergantung pada metode penilaian yang layak  Penyampelan penampilan yang tepat

 Mengawasi semua sumber yang relevan dari interferensi eksternal.

3. Tugas-tugas Kinerja (Task) dan Kriteria Penilaian (Rubrik)

Pemberian tugas (task) merupakan syarat penting untuk dapat dilakukannya penilaian terhadap penampilan atau unjuk kerja siswa. Dengan kata lain, penilaian unjuk kerja tidak dapat dilakukan tanpa adanya tugas yang nyata (Tucker, dalam Marzano, 1993). Dalam bukunya yang berjudul Student-Centered

Classroom Assessment, Stiggins (1994) menyatakan bahwa dalam penilaian

kinerja siswa, guru menghendaki respon yang “authentic” atau yang asli, berupa

(32)

14

tertulis, jenis tugasnya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Tugas asesmen kinerja dapat berhubungan dengan pengalaman hidup seseorang, menghendaki pendemonstrasian kompetensi dan katerampilan. Ide asesmen kinerja dapat berasal dari teks, kurikulum, kejadian masa kini, literatur, seni, referensi, bahkan realita. (Wangsatorntanakhun, 2004). Dalam beberapa literatur, tugas yang diberikan kepada siswa untuk menilai kinerja disebut dengan task.

Aspek yang dinilai dalam kinerja meliputi: 1) aspek prosedur, keterampilan, atau teknis, 2) produk atau hasil. Jika prosedur dinilai, berarti si penguji mencoba menentukan seberapa terampil orang yang bersangkutan menampilkan prosedur yang diinginkan, sedangkan penilaian produk menekankan kualitas hasil akhir. Berdasarkan kedua aspek yang akan dinilai tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru tidak dapat menilai kinerja siswa tanpa adanya tugas-tugas, begitu juga guru tidak akan dapat menilai tingkat prestasi siswa tanpa tugas-tugas yang nyata.

Menurut Wangsatorntanakhun (2004) setelah tugas-tugas kinerja siswa dibuat, maka selanjutnya adalah membuat kriteria penilaian (rubrik). Hal ini bertujuan untuk menghubungkan kurikulum dengan tugas-tugas asesmen. Agar desain kriteria penilaian efektif harus dipertimbangkan siapa yang akan menggunakannya, harus jelas standar yang akan dicapai.

(33)

menetapkan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa, mengembangkan kriteria penilaian dan merencanakan prosedur penskoran (rubrik).

Menentukan kriteria penilaian (rubrik) perlu dilakukan karena mempunyai kegunaan untuk menentukan validitas dan keadilan. Menurut Zainul (2001) kriteria penilaian dalam penilaian kinerja merupakan alat atau pedoman penilaian hasil kinerja siswa. Kritaria penilaian dapat membantu guru untuk menentukan tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan.

Phopam (1995) mengemukakan tujuh kriteria penilaian yang digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih tugas kinerja siswa, yaitu:

1. Keumuman (generalizability), maksudnya bahwa antara tugas yang diberikan sebanding dengan kemampuan siswa.

2. Keaslian (authenticity), maksudnya tugas yang diberikan sesuai dengan apa yang ditemukan siswa di dunia nyata.

3. Berfokus ganda (multiple focus), maksudnya dapat dinilai dari berbagai segi, tidak semata-mata dari satu segi saja.

4. Keadilan (fairness), maksudnya tugas yang diberikan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin atau status sosial, budaya maupun ekonomi.

5. Bisa tidaknya diajarkan (teachability), maksudnya perlu dipertimbangkan tingkat kesukaran tugas, jika terlalu sukar maka tidak tepat untuk diberikan kepada siswa.

(34)

16

7. Bisa tidaknya diskor (scorability), maksudnya tugas yang diberikan harus dapat diskor.

Stiggins (1994) menganjurkan agar dalam asesmen kinerja siswa dilibatkan dalam hal:

1. Perencanaan kriteria penilaian pada awal pembelajaran 2. Memeriksa kriteria yang terpenuhi dan yang belum terpenuhi 3. Membuat display kriteria penilaian

4. Pengembangan latihan kerja

5. Membandingkan kinerja yang kontras, misalnya yang berkualitas tinggi dan yang berkualitas rendah

6. Mentransformasikan kriteria penilaian ke dalam checklist, rating scale atau pencatatan lainnya

7. Menilai kinerja sendiri dan siswa lain.

Lebih lanjut stiggins (1994) mengemukakan beberapa ciri kriteria yang baik, yaitu:

1. Mencerminkan seluruh komponen penting dari suatu kinerja 2. Sesuai dengan konteks dan kondisi-kondisi suatu kinerja

3. Mewakili dimensi kinerja sehingga memungkinkan para penilai untuk menggunakan atau menerapkan serangkaian tugas serupa secara konsisten 4. Disesuaikan dengan kondisi peserta uji

5. Dapat dipahami dan mudah digunakan

(35)

7. Sebagai sarana untuk mendemonstrasikan dan mengkomunikasikan perkembangan siswa dari waktu ke waktu.

Kriteria penilaian kinerja (rubrik) dijadikan sebagai pedoman dalam pemberian skor terhadap hasil kerja siswa. Ada tiga kategori asesmen kinerja menurut Reichel (1994) yaitu baik, jika pekerjaan seorang siswa memenuhi semua kriteria kinerja, sedang, jika pekerjaan siswa memenuhi semua kriteria kecuali satu, kurang, jika pekerjaannya memenuhi semua kriteria kecuali dua. Selain itu Reichel (1994) juga mengemukakan bahwa pemberian skor dari nilai relatif pada sebuah pekerjaan merupakan bagian dari sistem manapun, guru tetap perlu menetapkan/menaksir keberhasilan belajar siswa.

Instrumen yang digunakan mengukur keterampilan menurut Arikunto (2001) biasanya menggunakan matrik. Misalnya instrumen untuk mengamati keterampilan praktek memasak (skala 5) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Instrumen Untuk Mengamati Keterampilan Praktek Nama: ... Kelas:...

(36)

18

memperhatikan aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian, hendaknya mempunyai arti edukatif, dapat diamati langsung, batas penilaian ditentukan dengan jelas.

Kategori penskoran lain adalah kategori yang dikemukakan Popham (1995), ia menyebutkan ada lima kategori kriteria penilaian yakni: kategori

rendah jika siswa tidak melaksanakan tugas, tidak melengkapi

rambu-rambu/kriteria atau tidak menunjukkan aktivitas yang menyeluruh. Kategori

kurang jika hasil tidak memenuhi kriteria, tidak menyelesaikan apa yang

(37)

B. Model Belajar Penemuan dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Fakta yang kita temui di lapangan menunjukkan bahwa, pembelajaran fisika di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi masih menggunakan metode pembelajaran yang bersifat informatif. Menurut Amien (1987), metode pembelajaran seperti ini tidak mendukung pengembangan keterampilan berpikir siswa, karena guru mengajarkan fakta-fakta, rumus-rumus, hukum-hukum, dan siswa menghafalkannya. Oleh karena itu para pakar pendidikan mulai mencari model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal sesuai dengan karakteristik IPA. Para pakar pendidikan menyarankan untuk beralih dari pembelajaran yang berpusat pada guru ke penggunaan model pembelajaran yang berpusat pada siswa.

(38)

20

Cara belajar penemuan menurut Riedesel (dalam Supriadi, 2000) menekankan pada pencarian hubungan antara bentuk atau pola untuk memahami struktur dari masalah yang timbul. Belajar penemuan penting dalam pembelajaran fisika karena proses pembelajaran ini selalu melibatkan siswa dalam diskusi, memungkinkan siswa dapat bekerjasama dalam memecahkan suatu masalah. Pembelajaran dengan model penemuan harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses penemuannya.

Pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. Pertama, pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara lain. Kedua, hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik daripada hasil belajar lainnya. Ketiga, secara menyeluruh hasil belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas (Dahar, 1996). Selanjutnya menurut Keegen (1995) belajar penemuan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan konsep dan mempunyai efek yang positif untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan.

Macam-macam pembelajaran dengan model penemuan (discovery) menurut Amien (1987), diantaranya adalah: 1) guided discovery, 2) modified

discovery, dan 3) free discovery. Metode penemuan yang digunakan pada

(39)

jawaban. Metode ini dipilih peneliti agar dapat memadukan berbagai cara dalam pembelajaran, karena kemampuan siswa pada populasi penelian yang direncanakan peneliti tergolong rendah, dan sangat jarang melakukan praktikum khususnya pelajaran fisika. Pada metode pembelajaran penemuan ini bimbingan dan pengawasan guru masih tetap diperlukan, namun campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi. Dalam hal ini tugas guru adalah memberikan masalah pada siswa untuk dipecahkan oleh siswa sendiri, menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka pemecahan masalah. Guru mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah, untuk meningkatkan keterampilan inetelektual siswa yang menjadi indikator dari belajar penemuan.

Tahap-tahap penggunaan model belajar penemuan dalam pembelajaran menurut Amien (1987) dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Tahap pertama adalah diskusi. Pada tahap ini guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk didiskusikan secara bersama-sama sebelum lembaran kerja siswa diberikan kepada siswa. Tahap ini dimaksudkan untuk mengungkap konsep awal siswa tentang materi yang akan dipelajari.

b. Tahap kedua adalah proses. Pada tahap ini siswa mengadakan kegiatan laboratorium sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam lembar kerja siswa guna membuktikan sekaligus menemukan konsep yang sesuai dengan konsep yang benar.

(40)

22

sebelum kegiatan laboratorium dengan hasil setelah laboratorium sesuai dengan lembaran kerja siswa hingga menemukan konsep yang benar tentang masalah yang ingin dipecahkan.

C. Pembelajaran Rangkaian Hambatan Listrik dan Hukum Kirchhoff di SMA

Menurut Kurikulum 2004 standar kompetensi pada subkonsep listrik dinamis yang diajarkan pada siswa SMA adalah menerapkan konsep kelistrikan (baik statis maupun dinamis) dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai produk teknologi. Standar kompetensi tersebut diuraikan ke dalam beberapa kompetensi dasar sebagai berikut:

1. Merangkai alat ukur listrik, menggunakannya secara baik dan benar dalam rangkaian listrik.

2. Memformulasikan persamaan-persamaan listrik ke dalam bentuk persamaan.

3. Mengidentifikasi penerapan listrik AC dan DC dalam kehidupan sehari-hari.

4. Menerapkan konsep gaya listrik, medan listrik dan hukum Gauss pada suatu distribusi muatan.

5. Memformulasikan konsep potensial listrik dan energi potensial listrik serta keterkaitannya.

(41)

7. Menerapkan induksi magnetik dan gaya magnetik pada beberapa produk teknologi.

8. Memformulasikan konsep induksi Faraday dan arus bolak-balik, keterkaitannya serta aplikasinya. (Depdiknas, 2003)

Karena luasnya konsep kelistrikan tersebut maka penelitian ini dibatasi pada kompetensi dasar tentang merangkai alat ukur listrik, menggunakannya secara baik dan benar dalam rangkaian. Kompetensi dasar ini diuraikan lagi ke dalam beberapa indikator sebagai berikut:

1. Menjelaskan cara membaca dan memasang alat ukur kuat arus dan alat ukur tegangan:

a. dengan cara unjuk kerja

b. dengan cara membuat sketsa rangkaian.

2. Siswa dapat menentukan besar kuat arus pada rangkaian tertutup bercabang

3. Merumuskan hukum I Kirchhoff

4. Menganalisis hasil pengukuran serta melakukan diskusi kelompok untuk menyimpulkan hasilnya sesuai dengan ketelitian alat ukur.

(42)

24

9. Merencanakan dan mengukur kuat arus dan tegangan tiap resistor pada rangkaian seri-paralel yang terdiri dari power supplay, tiga buah resistor dan alat ukur Ampermeter dan Voltmeter.

10. Merumuskan hukum II Kirchhoff

11. Menyimpulkan bahwa besar tegangan antara dua titik adalah tetap tidak bergantung pada lintasan yang dilalui.

12. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok dalam diskusi pleno. (Ditdikmenum, 2003)

Pembelajaran tentang rangakain hambatan listrik dan hukum Kirchhoff merupakan bagian dari pelajaran tentang listrik dinamis. Pelajaran ini dimulai dengan pengenalan tentang jenis dan fungsi alat ukur listrik, dilanjutkan dengan pembelajaran tentang cara membaca dan memasang alat ukur kuat arus dan alat ukur tegangan. Pembelajaran berikutnya membicarakan tentang hukum Ohm, faktor-faktor yang mempengaruhi besar hambatan suatu penghantar, kemudian mempelajari hukum I Kirchhoff, rangakaian seri dan paralel hambatan listrik serta hukum II Kirchhoff. Bagian yang akan dipelajari berikutnya pada pelajaran listrik dinamis ini adalah energi dan daya listrik.

(43)

diajukan oleh guru. Setelah diskusi selesai dilanjutkan dengan praktikum yang merupakan upaya untuk menguji hipotesa siswa. Siswa kemudian diminta berdiskusi kembali untuk membandingkan hasil praktikum dengan hipotesa siswa sebelumnya serta menarik kesimpulan dari hasil diskusi tersebut.

D. Hasil Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian yang terdahulu yang berkenaan dengan variabel-variabel dalam penelitian ini telah banyak dilakukan, diantaranya adalah: penelitian yang dilakukan Setiyabudhi (1991) tentang kemampuan berfikir formal dalam menguasai konsep-konsep fisika bidang arus listrik searah pada siswa jurusan elektronika STM Pembangunan Bandung, penelitian ini menyimpulkan bahwa mutu pendidikan STM rendah, antara lain disebabkan kurangnya peserta didik dalam penguasaan pelajaran IPA, tampak dalam rendahnya kemampuan berfikir formal dalam menguasai konsep fisika arus listrik searah.

Salah satu cara melatih siswa untuk berfikir formal dilakukan melalui kegiatan praktikum, seperti yang dilakukan oleh Hamid (1995) dalam penelitiannya tentang pengembangan penguasaan konsep-konsep fisika teknik bangunan pada tahap kemampuan berfikir formal, menemukan bahwa model belajar penemuan melibatkan proses dan hasil. Dalam proses keterlibatan siswa terhadap kegiatan proses belajar mengajar sangat berperan, siswa melakukan kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi, membaca dan mencoba sendiri, agar siswa dapat belajar dan menemukan setiap permasalahan yang ditransformasikan gurunya. Situasi kegiatan belajar mengajar berpindah dari

(44)

26

Selanjutnya dari penelitian Surtiana (2002) tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep rangkaian listrik arus searah melalui kegiatan laboratorium, diperoleh bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep siswa yang signifikan sebelum pembelajaran dan sesudah pembelajaran.

Penelitian yang dilakukan oleh Haratua (1999) menyimpulkan bahwa penerapan model belajar generatif dalam pembelajaran rangkaian listrik arus searah, dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dan dapat membantu kemampuan memecahkan masalah. Informasi lain dari penelitian ini adalah dengan menggunakan model belajar generatif dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Penilaian terhadap hasil belajar siswa menjadi tidak adil jika penilaian hanya dilakukan melalui tes, hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Estu (1995). Ia menemukan bahwa penilaian yang hanya dilakukan dengan tes menurut orang tua dan siswa merugikan karena selain cendrung menimbulkan kecemasan dari sebagian besar (85%) siswa, juga kurang adil khususnya bagi siswa yang mempunyai daya hafal rendah. Selain itu cara tersebut membatasi kreatifitas anak, karena tes menuntut anak untuk menghafal tanpa melakukan aktifitas berfikir yang lebih tinggi. Orangtua dan siswa mengharapkan agar kinerja siswa dalam mengerjakan tugas-tugas juga dinilai. Dengan pemberian tugas selain siswa lebih aktif, juga tidak mudah lupa terhadap yang dipelajari.

(45)

memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan lebih sungguh-sungguh, dapat melatih siswa lebih mandiri, jujur, dan bertanggungjawab. Berdasarkan hasil penelitiannya, Mahmudah juga menyarankan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kaitan antara penerapan penilaian kinerja dengan motivasi belajar siswa, agar diketahui dengan jelas manfaat penilaian kinerja ini.

(46)

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara variabel-variabel penelitian. Variabel-variabel yang dimaksudkan adalah pemahaman konsep siswa, kinerja siswa saat praktikum dan tanggapan siswa. Tanggapan siswa masih dirinci ke dalam tiga indikator yaitu tanggapan terhadap konsep, tanggapan terhadap pelaksanaan praktikum, dan tanggapan terhadap pelaksanaan penilaian praktikum. Dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan antara kinerja siswa dengan pemahaman konsep siswa, hubungan tanggapan siswa dengan kinerja siswa saat praktikum, perbedaan kinerja siswa laki-laki dengan siswa perempuan dan perbedaan tanggapan terhadap konsep, praktikum dan penilaian praktikum antara siswa yang pemahaman konsepnya baik, sedang dan kurang. Disamping itu akan dilakukan penghitungan korelasi dan uji signifikansi antara tiap-tiap variabel.

(47)

Desain hubungan kinerja, pemahaman, dan tanggapan digambarkan seperti gambar 3.1 di bawah ini.

Gambar 3.1 Desain Hubungan antara Variabel Penelitian

Selain melihat hubungan antara kinerja dengan pemahaman, tanggapan dengan kinerja, dan tanggapan dengan pemahaman, dalam penelitian ini juga akan dilihat perbedaan kinerja antara siswa laki-laki dengan kinerja siswa perempuan, apakah kinerja siswa laki-laki berbeda secara signifikan dengan dengan kinerja siswa perempuan. Disamping itu perbedaan tanggapan antara siswa yang pemahaman konsepnya baik, sedang dan kurang juga akan dianalisis untuk melihat apakah siswa yang pemahaman konsepmnya baik memiliki tanggapan yang baik dan siswa yang pemahaman konsepnya kurang tanggapannya juga kurang.

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif korelasional. Metode ini digunakan untuk melihat hubungan antara kinerja siswa pada kegiatan praktikum tentang konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff dengan pemahaman siswa terhadap konsep tersebut. Kinerja siswa yang dimaksud pada penelitian ini adalah keterampilan psikomotorik, dihubungkan dengan kemampuan kognitif atau pemahaman konsep siswa. Untuk

Kinerja

(48)

30

mengukur kinerja atau keterampilan psikomotor siswa selama kegiatan praktikum berlangsung, penilaian berpedoman pada rubrik penilaian kinerja siswa yang berisi skala bertingkat (rating scale). Kemampuan kognitif/pemahaman konsep siswa diukur dengan menggunakan tes objektif (pilihan ganda) dengan 5 pilihan.

Metode deskriptif korelasional juga digunakan untuk melihat gambaran tentang hubungan antara tanggapan siswa terhadap konsep, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum dengan kinerja siswa saat praktikum. Disamping itu digunakan analisis komparatif untuk melihat perbedaan kinerja antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan.

Untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan yang signifikan tanggapan siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum antara kelompok siswa yang pemahaman konsepnya baik dengan siswa yang pemahaman konsepnya kurang, juga digunakan uji komparatif.

B. Populasi dan Sampel

(49)

ditandai dengan nilai rata-rata UAN siswa yang tergolong sedang yaitu 3,85 (data peringkat SMU/SMA, Diknas Sumsel, 2002).

Sampel penelitian diambil dari populasi yang karakteristiknya dapat mewakili karakteristik populasi seperti yang telah dijelaskan di atas. Salah satu SMA Negeri yang terletak di Kecamatan Buay Madang merupakan SMA yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan karakteristik populasi. Sekolah ini berada dikecamatan yang siswanya berasal dari desa-desa sekitarnya, metode pembelajaran yang digunakan disekolah ini umumnya metode ceramah, jarang melakukan praktikum, dan kemampuan siswanya tergolong sedang. Selain sekolah ini memiliki karakteristik yang mirip dengan karakteristik populasi, untuk menghemat waktu dan biaya maka sekolah ini peneliti pilih sebagai sampel. Siswa kelas I SMA ini terdiri dari empat kelas ( 1.1 sampai dengan 1.4). Dari keempat kelas ini dipilih secara random satu kelas untuk menjadi kelompok sampel. Kelompok sampel yang terpilih kemudian dikelompokkan menjadi beberapa kelompok praktikum yang terdiri dari 4 siswa setiap kelompok praktikum.

Karena banyaknya sampel yang terlibat dalam penelitian ini, yaitu satu kelas maka peneliti bekerja sama dengan guru-guru fisika dan orang yang dianggap mampu membantu mengases siswa saat melakukan unjuk kerja (praktikum), untuk diminta bantuannya turut sebagai observer, sehingga setiap dua kelompok akan diobservasi oleh seorang observer.

C. Teknik Pengumpulan Data

(50)

32

menyusun rangkaian hambatan listrik, membaca hasil pengukuran, melihat perbedan antara susunan seri dan susunan paralel hambatan listrik, dan merumuskan Hukum I dan II Kirchhoff. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah:

1. Aktivitas atau kinerja siswa

Untuk mengungkap dan mengumpulkan data skor kinerja siswa selama kegiatan praktikum berlangsung berpedoman pada lembar observasi dan rubrik penilaian kinerja, didalamnya terdapat daftar cek dan skala penilaian (rating

scale). Kriteria pemberian skor kinerja siswa adalah sebagai berikut:

a. Siswa mendapat skor 3, jika menampilkan dan melakukan tugas yang ada dalam lembar observasi dengan cara yang baik dan benar tanpa melakukan kesalahan.

b. Siswa mendapat skor 2, jika menampilkan atau melakukan tugas yang ada dalam lembar observasi dan melakukan kesalahan yang tidak besar. c. Siswa mendapat skor 1, jika menampilkan dan melakukan tugas yang ada

dalam lembar observasi dengan banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Kinerja yang dinilai pada penelitian ini meliputi: menyiapkan alat, ketepatan merangkai alat, cara membaca skala alat ukur, mencatat hasil pengukuran, memeriksa kebenaran data, ketepatan penggunaan waktu., dan menyimpan alat kembali. Ada 10 tugas (task) yang harus dikerjakan oleh siswa, observer tinggal memberi tanda cek (√) pada lembar observasi dan rubrik tentang

(51)

Lembar observasi dan rubrik yang digunakan dalam penelitian ini telah divalidasi dengan meminta pertimbangan (judgement) dari ahli sebanyak tiga orang (lampiran E21 sampai E23). Kemudian lembar observasi dan rubrik juga telah diujicobakan untuk melihat reliabilitasnya, setelah dihitung dengan metode pembelahan ganjil-genap diperoleh koefisien reliabilitas rubrik sebesar 0,82 (perhitungan reliabilitas lembar observasi/rubrik terdapat pada lampiran E20). Menurut Arikunto (2001) koefisien reliabilitas ini tergolong sangat baik sehingga rubrik ini layak untuk digunakan sebagai instrumen terhadap kinerja siswa pada penelitian ini. Lembar observasi dan Rubrik terdapat pada lampiran D3.

Dalam penelitian ini observasi kinerja siswa tidak hanya dilakukan sendiri oleh peneliti tetapi bersama observer lain yang diminta bantuannya oleh peneliti, oleh karena itu sebelum dilakukan observasi sebenarnya peneliti bersama observer lain telah melakukan ujicoba menggunakan lembar observasi dan rubrik ini, sehingga semua observer mempunyai kriteria yang sama dalam memberikan skor kinerja siswa.

2. Tanggapan Siswa

Untuk mengumpulkan data berupa skor tanggapan siswa mengenai konsep, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum digunakan lembar angket yang mengacu kepada skala likert. Angket tersebut dibagikan kepada siswa setiap satu siswa satu angket setelah asesmen kinerja selesai dilakukan. Angket skala sikap yang digunakan meskipun merujuk kepada skala Likert, namun sedikit dimodifikasi yakni pernyataan yang “tidak memiliki pendapat” pada skala Likert

(52)

34

Hal ini dimaksudkan untuk melatih siswa memiliki suatu sikap terhadap pilihan yang ada, tanpa ada keragu-raguan.

Angket yang digunakan dalam penelitian ini berisi 35 pernyataan, 10 pernyataan tentang tanggapan siswa terhadap konsep, 15 pernyataan tentang tanggapan siswa terhadap pelaksanaan praktikum dan 10 pernyataan tentang tanggapan siswa terhadap pelaksanaan penilaian praktikum. Siswa memberikan tanda cek (√) pada kolom sesuai dengan posisinya terhadap pernyataan yang

diberikan. Angket yang digunakan pada penelitian ini telah divalidasi dengan cara meminta pertimbangan (judgement) para ahli sebanyak 3 orang (lembar judgement terdapat pada lampiran E12 sampai E14). Kemudian untuk menjamin ketetapan (keajegan), angket telah diujicobakan dan dihitung koefisien reliabilitasnya dengan metode pembelahan ganjil-genap, koefisien reliabilitas angket diperoleh 0,844 (perhitungan koefisien reliabilitas angket terdapat pada lampiran E11). Harga koefisien ini menurut Arikunto (2001) tergolong sangat baik, sehingga angket tersebut layak untuk digunakan dalam penelitian ini. Lembar angket terdapat pada lampiran D2.

3. Pemahaman Konsep

(53)

konsep dan prinsip dalam bidang lainnya, termasuk juga kemampuan menerapkan konsep dan prinsip itu dalam berbagai situasi.

Untuk mengumpulkan data berupa skor pemahaman konsep siswa digunakan tes objektif 5 pilihan. Tes diberikan setelah asesmen kinerja dilakukan. Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak informasi yang diterima dan dipahami siswa, sesudah dilakukan penilaian kinerja siswa saat berlangsung pembelajaran metode praktikum penemuan.

(54)

36

naskah soal terdiri dari beberapa soal mudah dan sukar dan lebih banyak terdapat soal yang tingkat kesukarannya sedang. Sedangkan daya pembeda soal yang baik menurut Arikunto (2001) jika koefisien daya pembeda soal antara 0,3 sampai 0,7. Berdasarkan hasil perhitungan tingkat kesukaran (lampiran E1) soal yang dikategorikan mudah sebanyak 5 soal (19,23%), soal sukar 4 soal (15,38%) dan soal kategori sedang 17 soal (65,38%). Koefisien daya pembeda soal antara 0,36 sampai 0,73. Hasil perhitungan validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda terdapat pada lampiran E.

Untuk memperjelas teknik pengumpulan data yang dilakukan, berikut ini disajikan dalam tabel 3.1 di bawah ini:

Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data

(55)

1) Data tanggapan siswa yang diperoleh pada penelitian ini adalah berupa skor. Sebagaimana dijelaskan pada teknik pengumpulan data, angket yang digunakan pada penelitian ini mengacu kepada skala Likert. Pada angket ini terdapat 2 jenis pernyataan yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. Tiap jenis pernyataan tersebut diberi skor sesuai dengan jenis pernyataannya. Pada pernyataan positif skor yang diberikan mulai dari 4 sampai 1. sedangkan pada penyataan negatif pemberian skor adalah sebaliknya yaitu mulai dari 1 sampai 4. Setiap jawaban siswa dihitung sehingga diperoleh jumlah skor total keseluruhan jawaban. Dalam tabel 3.2, ditampilkan cara pemberian skor terhadap pernyataan positif dan negatif.

Tabel 3.2 Skor tanggapan siswa terhadap konsep,

kegiatan praktikum, dan penilaian praktikum

(56)

38

dengan X adalah rata-rata skor tanggapan siswa dan SD adalah standar deviasi skor tanggapan siswa

2) Data dari lembar observasi yang didasarkan pada rubrik penilaian kinerja diolah hingga didapat skor total. Siswa mendapat skor dari kinerja yang dilakukannnya. Diberi skor 3 apabila siswa melakukan semua tugas dan tidak melakukan kesalahan, diberi skor 2 apabila siswa melakukan tugas dengan sedikit kesalahan tetapi tidak melakukan kesalahan besar, dan diberi skor 1 apabila siswa menampilkan dan melakukan tugas dengan banyak melakukan kesalahan-kesalahan besar.

Data skor kinerja siswa diuji normalitasnya kemudian dikategorikan menjadi kategori baik, sedang, dan rendah seperti skor tanggapan siswa. Pengategorian tetap berpedoman pada rumus Arikunto (2001) seperti pada tabel 3.3 di atas.

3) Data yang diperoleh dari hasil tes objektif diskor total, kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi, dicari nilai rata-rata, standar deviasi kemudian diuji normalitasnya dengan uji Lilliefors. Skor hasil tes objektif siswa ini juga dikategorikan kedalam kategori baik, sedang, dan rendah, dengan memasukkannya ke dalam rumus Arikunto (2001) seperti pada tabel 3.3 di atas.

(57)

Pengolahan data kemudian dilanjutkan dengan mencari hubungan antar variabel. Teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Hubungan antara kinerja dengan pemahaman

Skor penilaian kinerja dikorelasikan dengan skor hasil tes objektif dengan menggunakan uji korelasi, untuk mengkorelasikan kedua variabel ini digunakan korelasi Jaspen’s (M), korelasi ini digunakan karena peneliti ingin

mengkorelasikan data kinerja yang berbentuk data ordinal dengan data pemahaman siswa yang berbentuk data interval. Korelasi Jaspen’s yang

digunakan adalah sesuai dengan persamaan yang dikemukakan oleh Hasan (2004) yaitu:

Yi= Rata-rata untuk setiap kelompok tingkat

P = Proporsi setiap sampel dengan keseluruhan sampel

Ob= Nilai Ordinat sesuai dengan nilai P ( dalam tabel Deviat dan Ordinat) Oa= Nilai ordinat yang ada di atas setiap ordinat pada Ob

Sy= Simpangan baku Y

Untuk menguji signifikan atau tidaknya kedua variabel skor kinerja dengan skor pemahaman siswa pada taraf nyata α , maka koefisien korelasi Jaspen’s harus

diubah terlebih dahulu menjadi nilai Pearson (r) (Hasan, 2004) dengan cara:

(58)

40

2. Perbedaan kinerja siswa laki-laki dengan perempuan

Untuk melihat ada atau tidanya perbedaan kinerja antara siswa laki-laki dengan perempuan digunakan uji Kolmogorov-Smirnov (Hasan, 2004), yaitu uji yang digunakan untuk menganalisis perbandingan antara dua sampel yang independen dari data ordinal, selain itu juga dilakukan uji t test. Persamaan

D(α )= harga koefisien uji Kolmogorov-Smirnov pada taraf nyata α . n1= jumlah sampel kelompok 1

n2= jumlah sampel kelompok 2

Untuk menghitung Do (D hitung) adalah selisih mutlak antara proporsi kumulatif kelompok 1 dengan proporsi kumulatif kelompok 2.

(59)

Terima Hoapabila Do≤ D(α ) Tolak Hoapabila Do > D(α )

3. Hubungan antara tanggapan siswa dengan kinerja pada saat praktikum

Skor penilaian kinerja yang telah diuji normalitasnya kemudian dikorelasikan dengan skor tanggapan siswa terhadap subkonsep rangkaian listrik seri-paralel dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum dan penilaian praktikum dengan menggunakan uji independen kontingensi chi kuadrat (χ 2

), persamaannya

nio = jumlah baris ke i pada tabel kontingensi B x K noj= jumlah kolom ke j pada tabel kontingensi.B x K derajat kebebasan dk = (B-1)(K-1)

dengan kriteria penerimaan/penolakan Hipotesis adalah: terima Hojikaχ 2(1– α ){(B –1)(K–1)} > χ 2hitung

(60)

42

4. Perbedaan tanggapan siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum antara kelompok siswa yang pemahaman konsepnya baik, sedang, dan kurang.

Untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan tanggapan siswa terhadap konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff, kegiatan praktikum, dan penilaian kegiatan praktikum, antara kelompok siswa yang pemahaman konsepnya baik, sedang dan kurang, digunakan analisis statistik independen kontingensi chi kuadrat (χ 2

), seperti persamaan yang digunakan untuk menguji hipotesis yang ketiga.

(61)

43 A. Hasil Penelitian

Data penelitian ini terdiri dari tiga jenis data yang berasal dari tiga jenis instrumen penjaring data. Instrumen yang digunakan terdiri dari: lembar observasi yang berisi daftar cek dan skala penilaian, angket yang berisi tanggapan siswa terhadap konsep, kegiatan praktikum, dan penilaian praktikum, dan tes objektif dengan lima pilihan sebagai penjaring informasi mengenai pemahaman siswa tentang konsep rangkaian hambatan listrik dan hukum Kirchhoff setelah pelaksanaan asesmen kinerja dilakukan.

(62)

43

Tabel 4.1 Hasil Perhitungan Skor Siswa

N X Tertinggi Terendah SD

Tot Lk Pr Tot Lk Pr Tot Lk Pr Tot Lk Pr Tot Lk Pr

Pemahaman 40 19 21 19,83 19,63 20,00 26 25 26 12 12 14 3,92 4,34 3,70

Kinerja 40 19 21 95,00 97,74 93,38 112 111 112 69 81 69 9,75 9,20 10,73

(63)
(64)

45

Selanjutnya berikut ini dalam tabel 4.2A sampai 4.2B ditampilkan hasil perhitungan koefisien korelasi antara tiap variabel. Penjelasan tentang tabel ini terdapat pada bagian B tentang pembahasan.

Tabel 4.2A Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel Secara

Keseluruhan (Gabungan Laki-laki dan Perempuan)

P K T

P 0,59 0,52

K 0,59 0,44

T 0,52 0,44

Tabel 4.2B Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel Secara Keseluruhan

(Gabungan Laki-laki dan Perempuan)

Tabel 4.3A Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel

untuk Siswa Laki-laki

P K T

P 0,68 0,53

K 0,68 0,47

T 0,53 0,47

Tabel 4.3B Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel

(65)

Tabel 4.4A Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel

untuk Siswa Perempuan

P K T

P 0,57 0,63

K 0,57 0,57

T 0,63 0,57

Tabel 4.4B Koefisien Korelasi Antara Tiap Variabel

untuk Siswa Perempuan

P K Tk Tp Tpen

P 0,57 0,45 0,56 0,45

K 0,57 0,44 0,61 0,45

Tk 0,45 0,44 0,60 0,63

Tp 0,56 0,61 0,60 0,64

Tpen 0,45 0,45 0,63 0,64

Keterangan: P = Pemahaman K = Kinerja

Tk = Tanggapan Terhadap Konsep

Tp = Tanggapan Terhadap Pelaksanaan Praktikum

Tpen = Tanggapan Terhadap Pelaksanaan Penilaian Praktikum

Berdasarkan skor yang diperoleh siswa tentang pemahaman konsep, kinerja saat praktikum, dan tanggapan terhadap konsep, pelaksanaan praktikum dan pelaksanaan penilaian praktikum, siswa dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok baik, sedang, dan kurang.

(66)

47

5,91 berjumlah 7 siswa (18 %). Hasil prosentase tersebut dapat dilihat dalam diagram pie sebagai berikut:

Gambar 4.1 Diagram Prosentase Siswa yang

Pemahamannya Baik, Sedang, dan Kurang

18%

62%

20%

Baik Sedang Kurang

Skor pemahaman konsep siswa yang telah diperoleh dengan menggunakan tes objektif dengan lima pilihan (lampiran F1) selanjutnya diuji normalitasnya dengan menggunakan uji Lilliefors. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa data skor pemahaman konsep siswa berdistribusi normal dimana diperoleh Lo = 0,1088 sedangkan L untuk taraf signifikansi 5% adalah 0,1401. Berdasarkan kriteria pengujian, data berdistribusi normal jika Lo < L. Karena hasil perhitungan menunjukkan Lo < L berarti data berdistribusi normal. Uji normalitas data skor pemahaman siswa dapat dilihat pada lampiran G1.

(67)

dan kelompok siswa yang kinerjanya kurang. Hasil perhitungan berdasarkan tabel 3.3 diperoleh bahwa siswa yang kinerjanya saat praktikum tergolong baik adalah siswa dengan skor lebih besar dari 104,75. Siswa yang memperoleh skor tersebut berjumlah 7 siswa (18 %), yang tergolong kelompok sedang dengan skor antara 85,25 sampai 104,75 sebanyak 27 siswa (67 %) dan yang tergolong kelompok kurang dengan skor kurang dari 85,25 sebanyak 6 siswa (15 %). Hasil prosentase tersebut disajikan dalam diagram pie sebagai berikut:

Gambar 4.2 Diagram Prosentase Siswa yang

Kinerjanya Baik, Sedang, dan Kurang

18% 15%

67%

Baik Sedang Kurang

(68)

49

Selain data pemahaman konsep dan data kinerja siswa, dalam penelitian ini juga diambil data tanggapan siswa terhadap konsep, pelaksanaan praktikum dan pelaksanaan penilaian praktikum yang dijaring melalui lembar angket yang disebar pada semua sampel penelitian. Data yang diperoleh dijumlahkan secara total, kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu baik, sedang, dan kurang. Hasil perhitungan berdasarkan tabel 3.3, siswa yang tanggapannya tergolong baik adalah siswa yang memiliki skor lebih besar dari 123,83 berjumlah 8 siswa (20 %), tergolong sedang dengan skor antara 106,52 sampai 123,83 sebanyak 26 siswa (65 %), dan yang tergolong kurang dengan jumlah skor kurang dari 106,52 sebanyak 6 siswa (15 %). Hasil prosentase tersebut dapat dilihat dalam diagram pie sebagai berikut:

Gambar 4.3 Diagram Prosentase Siswa yang

Tanggapannya Baik, Sedang, dan Kurang

20% 15%

65%

Baik Sedang Kurang

Gambar

Tabel Persiapan Menghitung Koefisien Validitas Butir Soal .........
Tabel Persiapan untuk Uji Normalitas Skor Pemahaman ...............
Tabel Persiapan untuk Menghitung Koefisien Korelasi KinerjadenganTanggapan ...........................................................................
Tabel 2.1 Instrumen Untuk Mengamati Keterampilan Praktek
+7

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai

Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian ( rating scale ) yang

Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian ( rating scale ) yang

Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar validasi, lembar observasi KI-1 dan KI- 2, angket KI-1 dan KI-2, tes KI-3 dan KI-4, lembar penilaian guru, dan angket

Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian ( rating scale ) yang disertai

Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik,

Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang

Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar angket tanggapan peserta didik dan guru terhadap kepraktisan buku petunjuk praktikum kimia berbasis guided inquiry dan