• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN AKIDAH ISLAM

Visi, Misi dan Tujuan

TUJUAN AKIDAH ISLAM

Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus dipegang, yaitu:

1. Untuk mengikhlaskan niat dan ibadah kepada Allah satu-satunya. Karena Dia adalah Pencipta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan kepada-Nya satu-satunya.

2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekacauan yang timbul dari kosongnya hati dari akidah. Karena orang yang hatinya kosong dari akidah ini, adakalanya kosong hatinya dari setiap akidah serta menyembah materi yang dapat diindera saja dan adakalanya terjatuh pada berbagai kesesatan akidah dan khurafat.

3. Ketenangan jiwa dan pikiran, tidak cemas dalam jiwa dan tidak goncang dalam pikiran. Karena akidah ini akan menghubungkan orang mukmin dengan

Penciptanya lalu rela bahwa Dia sebagai Tuhan yang mengatur. Hakim yang Membuat tasyri’. Oleh karena itu hatinya menerima takdir, dadanya lapang untuk menyerah lalu tidak mencari pengganti yang lain.

4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan orang lain. Karena di antara dasar akidah ini

adalah mengimani para rasul yang mengandung mengikuti jalan mereka yang lurus dalam tujuan dan perbuatan.

5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak menghilangkan kesempatan beramal baik kecuali digunakannya dengan mengharap pahala serta tidak melihat tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa takut dari siksa. Karena di antara dasar akidah ini adalah mengimani kebangkitan serta balasan terhadap seluruh perbuatan.

“Dan masing-masing orang yang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al An’am 132)

Nabi Muhammad n juga mengimbau untuk tujuan ini dalam sabdanya:

62 }#ﺡ S]# H ~ D Z p (h n 6 - •iﺡ ]# H •/'? n K AD AD _2( Zg! ' ?ﺕ ]BZ$ c% < ,- a`(ﺕ . S % (* c(

M: , P hr Q* ﺕ ' h,9 S ( B $ S "h M.

“Orang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu yang berguna bagimu serta mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau katakan: Seandainya aku kerjakan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah: Itu takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan. Sesungguhnya mengandai-andai itu membuka perbuatan setan.” (Muslim)

6. Mencintai umat yang kuat yang mengerahkan segala yang mahal maupun yang murah untuk menegakkan agamanya serta memperkuat tiang penyanggahnya tanpa perduli apa yang akan terjadi untuk menempuh jalan itu.

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al Hujurat 15)

7. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki individu-individu maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal baik, baik lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl 97)

Inilah sebagian dari tujuan akidah Islam. Kami mengharap agar Allah merealisasikannya kepada kami dan seluruh umat Islam.

Artikel Tarikh Islam :

Umrah Rasulullah SAW Dari Al-Ji’ranah Senin, 30 Juli 07

Rasulullah mengangkat ‘Attab bin Usaid sebagai amir di Makkah. Dan dia memimpin haji kaum muslimin pada tahun delapan Hijriyah.

Ibnu Ishaq berkata, “Rasulullah keluar dari Ji'ranah menuju ke Makkah untuk mengerjakan umrah dan memerintahkan penyimpanan sisa-sisa Fay’i di Majannah, salah satu daerah di Marr Adh-Dhahran. Usai berumrah, Rasulullah pulang ke Madinah, menunjuk Attab bin Usaid sebagai wakil beliau di Makkah, dan meninggalkan Muadz bin Jabal di Makkah untuk mengajarkan masalah-masalah agama dan Al-Qur’an ke-pada kaum muslimin di Makkah. Rasulullah pulang ke Madinah dengan membawa sisa-sisa Fay’i.*

“Umrah Rasulullah di atas terjadi pada bulan Dzulqa’dah. Rasu-lullah tiba di Madinah di akhir bulan Dzulqa’dah atau permulaan bulan Dzulhijjah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Pada tahun tersebut, orang-orang melaksanakan ibadah haji seperti biasa dilakukan orang-orang Arab. Pada tahun itu juga Attab bin Usaid melaksanakan haji bersama kaum muslimin pada tahun kedelapan Hijriyah. Pada tahun itu juga, orang-orang Thaif masih berta-han pada kesyirikan mereka antara bulan Dzulqa’dah –karena Rasulullah pulang ke Madinah– hingga bulan

Ramadhan tahun kesembilan Hijriyah.”

Perihal Ka’ab bin Zuhair Setelah Kepulangan Rasulullah SAW Dari Thaif

“Ketika Rasulullah tiba di Madinah dari Thaif, Bujair bin Zuhair bin Abu Sulma menulis surat kepada saudaranya, Ka’ab bin Zuhair. Bujair bin Zuhair

menjelaskan kepada Ka’ab bin Zuhair bahwa Rasulullah telah membunuh

sejumlah orang di Makkah yang tadinya mengecam dan mengganggu beliau. Para penyair Quraisy yang masih tersisa ialah Ibnu Az-Zaba’ra dan Hubairah bin Abu Wahb, namun keduanya lari tak jelas tujuannya. kata Bujair bin Zuhair kepada Ka’ab bin Zuhair dalam suratnya, ‘Jika engkau mempunyai keperluan kepada Rasulullah, pergilah kepada beliau, karena beliau tidak membunuh siapa pun yang datang kepada beliau dalam keadaan bertaubat. Jika engkau tidak mau,

selamatkan dirimu ke tempat di dunia ini yang bisa menyelamatkanmu’. Ka’ab bin Zuhair berkata,

‘Ketahuilah, adakah orang yang bisa mengantarkan suratku kepada Bujair? Bagaimana tanggapanmu terhadap perkataanku kepadamu, celaka engkau Jelaskan kepadaku, jika engkau tidak berbuat

Ia menjelaskan apa lagi kepadamu?

Apakah ia menjelaskan tentang akhlak yang tidak aku jumpai pada ayahnya pada suatu hari?

Jika engkau tidak berbuat, aku tidak minta maaf dan tidak mengatakan apa-apa Tapi jika engkau jatuh, engkau harus berdiri

Engkau diberi minum air segar oleh orang terpercaya

Engkau diberi minum pertama kali oleh orang terpercaya tersebut Kemudian diberi minum lagi’.”

Ka’ab bin Zuhair mengirim surat tersebut kepada Bujair bin Zuhair. Ketika surat tersebut diterima Bujair bin Zuhair, ia tidak dapat menyembunyikannya dari Rasulullah, oleh karena itu, ia membacakannya di hadapan beliau. Ketika

Rasulullah mendengar bait syair Ka’ab bin Zuhair yang berbunyi, ‘Engkau diberi minum air segar oleh orang terpercaya,’ beliau bersabda, ‘Ia berkata benar bahwa ia memang pendusta dan aku orang yang terpercaya.’ Ketika Rasulullah

mendengar bait syair Ka’ab bin Zuhair yang berbunyi, ‘Apakah terhadap akhlak yang tidak aku temu-kan pada ibu dan ayahnya?’ Beliau bersabda, ‘Betul, ia tidak menemukan akhlak tersebut pada ibu dan ayahnya.’

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika surat Bujair bin Zuhair diterima Ka’ab bin Zuhair, bumi menjadi sempit bagi Ka’ab bin Zuhair. Ia pun mengkhawatirkan

keselamatan dirinya dan musuh-musuhnya menyebarkan kejadian tersebut dengan berkata, ‘Ka’ab telah terbunuh, ‘Ketika Ka’ab bin Zuhair tidak mendapatkan sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya, ia mengatakan syair berisi pujian untuk Rasulullah, ketakutannya, dan pembeberan musuh-musuhnya tentang dirinya. Kemudian ia keluar dari daerahnya dengan tujuan Makkah. Dalam perjalanannya, ia singgah di rumah salah seorang Juhainah yang telah ia kenal sebelumya – seperti dikatakan kepadaku–. Ka’ab bin Zuhair berjalan terus hingga tiba di Madinah. Pada suatu pagi, ia bersama temannya dari Juhainah tersebut pergi ke tempat Rasulullah yang ketika itu sedang mengerjakan shalat Shubuh. Temannya pun ikut shalat bersama Rasulullah, kemudian memberi isyarat kearah Rasulullah, ‘Inilah Rasulullah. Mendekatlah dan mintalah jaminan keamanan kepada beliau.’ Disebutkan kepadaku bahwa Ka’ab bin Zuhair mendekat kepada Rasulullah hingga duduk di depan beliau dan meletakkan tangannya di tangan beliau yang ketika itu tidak kenal dengannya. Ka’ab bin Zuhair berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ka’ab bin Zuhair datang kepadamu dalam keadaan bertaubat dan muslim untuk meminta jaminan keamanan. Apakah engkau menerimanya jika aku membawanya kepadamu?’ Rasulullah bersabda, ‘Ya, aku menerimanya.’ Ka’ab bin Zuhair berkata, ‘Wahai Rasulullah, akulah Ka’ab bin Zuhair.’”

Ibnu Hisyam berkata, Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa salah seorang dari kaum Anshar melompat ke arah Ka’ab bin Zuhair dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku membunuh musuh Allah ini.’ Rasulullah

bersabda, ‘Biarkan dia, karena dia datang dalam keadaan bertaubat dan berhenti dari masa lalunya.’ Karena ulah orang dari kaum Anshar tersebut, Ka’ab bin Zuhair marah kepada kaum Anshar. Di sisi lain, seluruh kaum Muhajirin

berkomentar baik tentang dirinya. Oleh karena itu, ia melantunkan syairnya yang pernah ia katakan ketika tiba di tempat Rasulullah SAW,

‘Su’ad (nama teman wanitanya) telah menjauh dan pada hari ini hatiku berduka Menelusuri jejak-jejaknya dan orang yang terikat (tawanan) itu belum ditebus

Tidaklah Su’ad pada hari perpisahan ketika mereka berangkat

Melainkan suara mendengung, orang pemalu, dan wanita pengguna celak di matanya

Ia ramping, maju, cerdik, mundur, dan tingginya sedang

Ia perlihatkan gigi-giginya di kegelapan malam jika ia tersenyum Senyumnya bak tempat minum khamr yang rusak

Tempat minum tersebut pecah oleh air dingin di tikungan lembah Air tersebut jernih di aliran air dan ditiup angin utara pada waktu Dhuha Angin menghilangkan kotoran dari air tersebut

Duhai sahabat wanitaku, seandainya saja ia benar dalam janjinya Ah, seandainya nasihat diterima

Namun ia sahabat wanita yang darahnya telah bercampur dengan luka Cinta yang tersembunyi, pelanggaran janji, dan perubahan

Maka ia tidak berlama-lama dalam kondisi yang terjadi padanya Sebagaimana penyihir wanita mewarnai pakaiannya

Ia tidak memegang janji yang pernah ia buat Melainkan seperti saringan yang menahan air

Jadi, engkau jangan tertipu oleh harapan dan janjinya Karena harapan-harapan dan mimpi-mimpi itu menyesatkan janji-janji Urqub (nama orang) adalah perumpamaan janji-janjinya Semua janji-janjinya tidak lain adalah kebatilan

Aku berharap dan ingin cintanya mendekat

Aku tidak pernah membayangkan mempunyai ratap tangis terhadapmu Pada sore hari, Su’ad berada di negeri

Yang tidak bisa dijangkau kecuali oleh kuda pilihan yang kencang larinya Ia tidak mungkin dijangkau kecuali oleh unta besar

Yang keringatnya bercucuran dari mulai belakang telinganya Yang keinginannya ialah menginjak rambu-rambu yang tidak jelas

Ia melempar penunjuk jalan dengan dua mata sapi liar yang berwarna putih Jika tanah berbatu dan penunjuk terbakar

Unta tersebut besar lehernya dan kakinya juga besar Ia unta betina terbaik dari unta sejenisnya

Bagian atas pipinya padat dan keras, serta kuat seperti unta jantan Bagian sampingnya luas dan langkahnya panjang

Kulitnya keras seperti kulit jerapah yang kebal karena kerasnya

Serangga kurus tidak dapat menghisap darahnya karena kekerasan kulitnya Saudara dan ayahnya mulia

Paman dari jalur ayah-ibunya panjang leher dan punggungnya, serta kencang larinya

Serangga berjalan di atasnya kemudian serangga tersebut jatuh darinya Dada dan pinggulnya bagus

Ia laksana keledai liar yang badannya padat dari semua sisinya Sikunya jauh dari dadanya dan tulang persendiannya kuat Kedua mata dan tempat penyembelihannya maju

Dari hidung dan bagian atas bibirnya serta kepalanya besar Ekornya seperti pelepah kurma dan bulunya lebat

Ia mengibaskan ekornya ke susunya dan susunya tidak berkurang

Bagian atas hidungnya dan kedua telinga tinggi bagi orang ahli tentang dirinya Ia mulia, terlihat jelas, dan lembut

Ia berjalan cepat dengan kaki ringan dan mendahului unta-unta lain Dan dengan kaki yang keras dan kakinya hanya menyentuh tanah Sepertinya kedua lengannya bergerak jika ia berkeringat

Sungguh fatamorgana telah mengelilingi bukit kecil Orang-orang rusak di sekitarnya berkata

Hai anak Abu Sulma, engkau akan dibunuh

Semua teman yang aku harapkan bantuannya berkata Aku tidak akan melalaikan karena aku sibuk denganmu

Aku katakan, biarkan aku, semoga engkau tidak mempunyai ayah Semua yang ditakdirkan Allah pasti terjadi

Seluruh manusia kendati umurnya panjang

Namun pada suatu hari, mereka menjadi mayit yang dipanggul Aku diberitahu bahwa Rasulullah berjanji kepadaku

Maaf Rasulullah itu bisa diharapkan

Tunggu sebentar, semoga engkau diberi petunjuk oleh Dzat yang memberimu Al-Qur’an

Yang di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran dan rincian segala hal Jangan bawa aku kepada ucapan-ucapan orang yang bermaksud merusak Aku tidak berdosa kendati banyak komentar tentang diriku

Karena bisa jadi aku berdiri di satu tempat yang jika aku telah berdiri di atasnya Maka orang akan melihat dan mendengar apa yang tidak didengar gajah

Ia pasti tidak henti-hentinya gemetar

Kecuali jika ia mendapatkan pemberian dari Rasul atas izin Allah Aku senantiasa menelusuri padang sahara

Di persenjatakan kegelapan malam dan berpakaian malam Hingga aku meletakkan tangan kananku yang tidak aku sanggah Di telapak tangan orang mulia dan ucapannya tidak boleh dibantah Aku takut bicara dengannya

Dikatakan kepadaku, segala perbuatan diserahkan kepadamu dan engkau akan dimintai pertanggunganjawab

Itu lebih aku takutkan daripada takut kepada singa di hutan

Di tempat yang banyak singanya dimana setiap hutan lebih menakutkan daripada hutan lainnya

Singa tersebut keluar pagi-pagi kemudian membawa makanan untuk kedua anaknya

Hari-harinya ialah daging manusia yang terbuang di tanah dalam keadaan terkoyak-koyak

Jika singa tersebut berduel dengan singa yang sepadan dengannya maka singa tersebut tidak membiarkan lawannya kecuali melarikan diri Karena singa tersebut, seluruh binatang buas Al-Jawwu lari

Dan rombongan orang laki-laki tidak berani melintasi lembahnya Di lembah tersebut, singa tersebut adalah saudara terpercaya Senjatanya berwarna darah dan pakaian terkoyak-koyak

Sesungguhnya Rasul adalah sinar yang menyinari

Yang bersenjatakan pedang-pedang Allah yang dikeluarkan dari sarungnya Dikumpulkan orang-orang Quraisy yang salah seorang dari mereka berkata Di kabilah Makkah ketika mereka masuk Islam, berhijrahlah kalian

Mereka pun berhijrah

Mereka bukan orang-orang lemah

Mereka bukan orang-orang yang tidak punya perisai ketika perang Mereka bukan pasukan pejalan kaki yang tidak bisa mengendarai kuda Mereka mulia dan pahlawan

Mereka mengenakan baju besi di medan perang

Juga mengenakan celana putih, panjang, dan dijahit dengan besi yang kuat Mereka tidak cepat gembira jika tombak mereka mengenai suatu kaum Mereka tidak cepat takut jika kalah

Mereka berjalan seperti unta putih dan terlindungi oleh pukulan Jika singa-singa pendek melarikan diri

Tikaman tidak terjadi di leher-leher mereka Mereka tidak lari dari telaga kematian.’”

Ibnu Ishaq berkata, Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa ketika Ka’ab bin Zuhair berkata, ‘Jika singa-singa pendek melarikan diri,’ maka yang ia maksud adalah kami kaum Anshar, karena perbuatan salah seorang dari mereka terhadap dirinya. Ka’ab bin Zuhair hanya memuji secara khusus kaum Muhajirin dari Quraisy. Oleh karena itu, kaum Anshar marah. Tapi, setelah ia masuk Islam, ia memuji kaum Anshar, menyebutkan prestasi-prestasi mereka bersama

Rasulullah, dan posisi mereka terhadap Yaman. Kata Ka’ab bin Zuhair, ‘Barangsiapa menginginkan kemuliaan hidup

Hendaklah ia senantiasa berada di pasukan berkuda kaum Anshar yang shalih Mereka mewariskan kemuliaan dari satu generasi ke generasi selanjutnya Sesungguhnya orang-orang pilihan ialah kaum Anshar

Mereka memandang dengan mata memerah

Seperti bara api dan pandangan mereka tidak lemah Mereka jual jiwa mereka untuk nabi mereka

Untuk mati di kancah perang Mereka melindungi agama manusia Dengan pedang dan tombak yang bergetar

Mereka bersuci –mereka meyakininya sebagai ibadah- Dengan darah orang-orang kafir yang mereka perangi

Mereka terlatih untuk mengalahkan manusia sebagaimana singa terlatih di hutan Jika engkau meminta dilindungi mereka

Engkau berada di benteng anak kambing

Di Perang Badar, mereka memukul Ali bin Mas’ud

Dengan pukulan yang karenanya seluruh Nizar menjadi lemah Jika seluruh kaum memiliki pengetahuan terhadap mereka Pastilah orang-orang yang aku ajak debat akan membenarkanku

Kaum Anshar ialah kaum yang jika bintang-bintang berguguran dan tidak ada hujan

Maka mereka menjamu orang-orang yang tiba di waktu malam.’”

Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan bahwa ketika Ka’ab bin Zuhair berkata,

‘Su’ad telah menjauh dan pada hari ini hatiku berduka.’

Maka Rasulullah bersabda kepada Ka’ab bin Zuhair, ‘Alangkah baik seandainya engkau menyebutkan kebaikan kaum Anshar, karena mereka berhak

mendapatkannya.’ Kemudian Ka’ab bin Zuhair mengatakan bait-bait syair di atas.”

Dan dikatakan kepadaku dari Ali bin Zaid bin Jud’an bahwa ia berkata, “Ka’ab bin Zuhair melantunkan bait di bawah ini kepada Rasulullah di masjid,

‘Su’ad telah menjauh dan pada hari ini hatiku berduka.’”

CATATAN KAKI:

* Ibnu Hisyam berkata, “Diceritakan kepadaku dari Zaid bin Aslam bahwa ia berkata, ‘Ketika Rasulullah SAW mengangkat 'Attab bin Useid sebagai amir Makkah dan menggajinya satu dirham per hari, ia pun bangkit dan berpidato di hadapan manusia, ‘Wahai sekalian manusia, semoga Allah membuat lapar perut yang merasa lapar dengan duit satu dirham. Sungguh Rasulullah SAW telah menggajiku satu dirham per hari. Dan aku tidak butuh kepada pemberian siapapun.’”

Artikel Tokoh Islam :

Mengenal Lebih Dekat AN-NAJASYI, ASH-HAMAH BIN ABJAR, Sang Raja Nan Arif Lagi Bijaksana

Kamis, 19 Juli 07

“Tatkala raja Najasyi meninggal kami saling menuturkan bahwasanya di atas kuburnya masih terlihat cahaya...” ('Aisyah Ummul Mu'minin)

Tokoh kita kali ini adalah seorang Tabi'in jika ia termasuk dari kalangan Tabi'in, atau ia adalah seorang sahabat jika ia terhitung sebagai seorang sahabat.

Ia telah mengirim surat kepada Rasulullah SAW, sebagaimana Rasulullah juga mengirim surat kepadanya. Ketika ia meninggal Rasulullah SAW melakukan shalat ghaib untuknya, padahal beliau tidak pernah shalat ghoib untuk selainnya. Ia bernama Ash-hamah bin Abjar yang dikenal dengan an-Najasyi.* Marilah kita sejenak mempelajari kepribadian dan kehidupan beliau.

Ayahanda Ash-hamah adalah seorang raja Habasyah yang tidak mempunyai anak lagi selain dia. Sehingga pada suatu saat para pembesar Habasyah berkata, “Sesungguhnya raja kita tidak mempunyai seorang anak kecuali bocah kecil ini, jika raja mati maka ia akan menggantikannya dan memimpin kita sedangkan kita tidak menghendakinya. Bagaimana kalau kita membunuh raja kita yang sekarang dan kita angkat saudaranya menjadi penggantinya, sesungguhnya ia mempunyai dua belas anak yang akan mewarisinya.” Demikianlah syetan terus menerus membisikkan kejahatan kepada mereka sampai akhirnya mereka membunuh sang raja dan kemudian menobatkan saudara laki-lakinya.

Ash-hamah tumbuh berkembang di bawah perlidungan dan pemeliharaan pamannya sampai tampak pada dirinya kecerdasan, semangat yang tinggi,

perkataan yang fasih dan kepribadian yang terpuji. Sehingga ia merasa kagum dan mengutamakan Ash-hamah daripada anak-anaknya.

Kemudian kembali syetan membisikkan kejahatan kepada para pembesar Habasyah sehingga di antara mereka ada yang berkata kepada yang lain, “Demi Allah kita takut kalau-kalau nantinya Ash-hamah akan menjadi raja, dan jika terjadi yang demikian maka ia benar-benar akan membalas kematian ayahandanya dan membunuh kita semua.” Maka kemudian mereka mendatangi raja dan

berkata, “wahai raja, sesungguhnya hati kita belum bisa tenang kecuali jika engkau membunuh Ash-hamah atau engkau mengusirnya dari hadapan kami. Sekarang ia telah tumbuh dewasa, kami takut ia akan membalas kematian ayahandanya dan membunuh kita semua.” Akan tetapi sang raja berkata kepada mereka, “Kalian memang benar-benar sejelek-jelek manusia! Pada waktu lalu kalian telah membunuh ayahnya, dan hari ini kalian memintaku untuk

membunuhnya?! Demi Allah aku tidak akan melakukannya.” Mereka berkata, “Bagaimana kalau kita mengusirnya dari negeri kita.? Maka kemudian sang raja

menuruti kemauan mereka dengan rasa enggan dan berat hati.

Tidak lama setelah pengasingan Ash-hamah terjadilah sesuatu yang tidak disangka-sangka. Langit gelap gulita tertutup awan, guntur menggelegar hebat, kilat menyambar sang raja hingga meninggal dunia, maka para pembesar Habasyah memilih salah satu di antara anak-anaknya untuk menjadi raja, akan tetapi mereka tidak menemukan seorangpun yang pantas di antara mereka sehingga mereka khawatir dan gundah. Kekhawatiran itu semakin bertambah tatkala mengetahui bahwasanya negeri tetangga sekitar Habasyah ingin mengambil kesempatan ini untuk menjajah mereka. Maka sebagian mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya apa yang kita lakukan tidak akan mencapai tujuan kita, tidak ada seorangpun yang mampu menjaga kerajaan kalian selain