UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPS
A. Delik Kerugian Keuangan Negara Dalam Undang Nomor 31 Tahun 1999 JO Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang
2. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.
Marwan Effendy, berpandangan bahwa pengertian menguntungkan diri sendiri adalah menambah harta kekayaan atau harta benda atau dapat juga
117 KUHP, op.cit, Pasal 92 ayat (1) Yang disebut pejabat, termasuk juga orang-orang yang dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturan-aturan umum, begitu juga orang- orang yang bukan karena pemilihan, menjadi anggota badan pembentuk undang-undang, badan pemerintahan, atau badan perwakilan rakyat, yang dibentuk oleh pemerintah atau atas nama pemerintah; begitu juga semua anggota dewan subak, dan semua kepala rakyat Indonesia asli dan kepala golongan Timur Asing, yang menjalankan kekuasaan yang sah; ayat (2) Yang disebut pejabat dan hakim termasuk juga hakim wasit; yang disebut hakim termasuk juga orang-orang yang menjalankan peradilan administratif, serta ketua-ketua dan anggota-anggota pengadilan agama; ayat (3) Semua anggota Angkatan Perang juga dianggap sebagai pejabat.
diartikan telah menikmati hasil-hasil yang diperolehnya dari perbuatan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan. Pendapat Sudarto yang dikutip oleh Marwan Effendy, menguntungkan diri sendiri adalah unsur batin yang menentukan arah dari perbuatan penyalahgunaan dan sebagainya. Adanya unsur ini harus pula ditentukan secara obyektif dengan memperhatikan segala keadaan lahir yang menyertai perbuatan tersangka.119
Unsur “menguntungkan diri sendiri”, menurut Martiman Prodjohamidjojo, disini adalah sama dengan pengertian dan penafsirannya dengan “menguntungkan diri sendiri” yang tercantum dalam Pasal 378 KUHP120. Meskipun tidak ada unsur melawan hukum, akan tetapi unsur itu ada secara diam-diam, sebab tiap perbuatan delik, selalu ada unsur melawan hukum “menguntungkan diri sendiri dengan melawan hukum” berarti “menguntungkan diri sendiri tanpa hak”. Unsur “orang lain” dan atau “korporasi” masih sama maknanya dengan Pasal 2.121
Pengertian lainnya dalam Topo Santoso, Rosalita Chandra, dan kawan- kawan, frasa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menurut Sukardi adalah upaya untuk mengumpulkan kekayaan yang tidak setara dengan penghasilannya atau penambahan kekayaan dari sumber yang tidak sah. Pengertian lain dari ‘menguntungkan’ menurut Wiyono adalah dengan mendapatkan untung, yaitu pendapatan yang diperoleh lebih besar dari
119 Marwan Effendy, (4), op.cit.
120 KUHP, op.cit, Pasal 378, Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang rnaupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
pengeluaran, di sini terlihat bahwa menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi merupakan tujuan dari pelaku tindak pidana korupsi.122
Selain itu, dalam artikel yang disusun oleh Tim IT dari Pengadilan Negeri Kayagung, Sumatera Selatan,unsur “menguntungkan diri atau orang lain atau suatu korporasi”, artinya adanya fasilitas atau kemudahan sebagai akibat dari perbuatan menyalahgunakan wewenang. Tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi ialah suatu kehendak yang ada dalam pikiran atau alam batin si pembuat yang ditujukan untuk memperoleh suatu keuntungan (menguntungkan) bagi dirinya sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. Memperoleh suatu keuntungan atau menguntungkan artinya memperoleh atau menambah kekayaan dari yang sudah ada. Kekayaan dalam arti ini tidak semata- mata berupa benda atau uang saja, tetapi segala sesuatu dapat dinilai dengan uang termasuk hak. Tujuan untuk menguntungkan diri sendiri, orang lain dan atau suatu badan dalam suatu tindak pidana korupsi adalah merupakan unsur batin yang menentukan arah dari perbuatan penyalahgunaan kewenangan tersebut. Adanya unsur ini harus pula ditentukan secara objektif dengan memperhatikan segala keadaan lahir yang menyertai perbuatan tersangka itu (ante factum dan post
factum).123
Jika dikaitkan unsur menguntungkan dalam Pasal 3 dengan unsur memperkaya dalam Pasal 2, dalam artikel tersebut juga dinyatakan bahwa
122 Topo Santoso, Rosalita Chandra, dan kawan-kawan, op.cit.
diantara kedua unsur tersebut memiliki pengertian yang multitafsir, sebagai berikut :124
a. Unsur “memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi” (Pasal 2 ayat (1) dan unsur “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” (Pasal 3), merupakan unsur yang bersifat alternatif sehingga tidak perlu pelaku tindak pidana korupsi harus menikmati sendiri uang hasil tindak pidana korupsi karena cukup si pelaku memperkaya orang lain atau menguntungkan orang lain;
b. Unsur “memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi” lebih sulit membuktikannya karena harus dapat dibuktikan tentang bertambahnya kekayaan pelaku korupsi sebelum dan sesudah perbuatan korupsi dilakukan. Namun secara teoritis, unsur “memperkaya diri” sudah dapat dibuktikan dengan dapat dibuktikannya bahwa pelaku tindak pidana korupsi berpola hidup mewah dalam kehidupan sehari-harinya, sedangkan unsur “menguntungkan diri atau orang lain atau suatu korporasi”, artinya padanya ada fasilitas atau kemudahan sebagai akibat dari perbuatan menyalahgunakan wewenang;
c. Unsur “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” yaitu adanya penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Di sini tidak ada perhitungan sebelum menjabat dan sesudah menjabat. Subyeknya dijelaskan ialah pejabat publik bukan orang swasta. Perhitungan jumlah kerugian negara juga harus dengan akuntan publik dan berapa besar uang pengganti yang harus dibayar memerlukan perhitungan yang cermat
dibuktikan dengan alat bukti yang ada. Jika dilihat penjelasan Pasal 32 ayat (1) maka juga harus dengan perhitungan oleh akuntan publik. Hakim pun harus memakai pertimbangan obyektif dengan hati nuraninya, dengan memperhatikan apa yang telah terbukti di sidang pengadilan.
Dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 1971, unsur menguntungkan ini terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) huruf b:
“Barang siapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.”
Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 3 tahun 1971:
“Tindak pidana korupsi ini memuat sebagai perbuatan pidana unsur "menyalah gunakan kewenangan" yang ia peroleh karena jabatannya, yang semuanya itu menyerupai unsur dalam Pasal 52125
3. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana, yang ada