• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Pendidikan Islam Berdasarkan Makna Khalifah

Dalam dokumen jtptiain gdl anikrisala 3911 1 3103247 p (Halaman 66-74)

RELEVANSI MAKNA KHALIFAH DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

C. Tujuan Pendidikan Islam Berdasarkan Makna Khalifah

Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Karena, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.

Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan negara.

Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi upaya meraih gelar yang dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai

16

Samsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam ( Jakarta : Media Pratama, 2001 ) hlm. 137

keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.

Tujuan pendidikan Islam diharapkan lebih bersifat problematis, strategis, antisipatif, serta menyentuh aspek aplikasi. Artinya, pendidikan Islam harus berupaya membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan menyeluruh (insan kamil) dalam semua aspek kehidupan yang berbudaya dan berperadaban yang tercermin dalam kehidupan manusia yang bertakwa dan beriman, berpengetahuan, berakhlak mulia, berkemampuan kompetitif dan kooperatif dalam era global dan berpikir lokal dalam rangka memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.17

Tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya sama dan sesuai dengan tujuan diturunkannya agama Islam itu sendiri, yaitu untuk membentuk manusia muttaqin

yang rentangannya berdimensi infinitum (tidak terbatas menurut jangkauan manusia), baik secara linier atau secara algoritmik (berurutan secara logis) berada dalam garis mukmin, muslim dan muhsin.18

Dalam rangka mewujudkan tujuan hidup manusia, maka diperlukan pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam. Maka penting dirumuskan tujuan pendidikan Islam yang berdasarkan makna khalifah. Penentuan tujuan dalam proses pendidikan merupakan bagian sentral dan penting dalam rangka menentukan arah, isi dan langkah pendidikan yang dikembangkan. Untuk melihat dan mencermati tujuan pendidikan Islam, pada umumnya tercermin dalam makna yang diberikan terhadap pendidikan Islam.

Menurut Azyumardi Azra, pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW. Melalui proses pendidikan seperti itu

17

Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam : Membangun Masyarakat Madani Indonersia, ( Yogyakarta : Safiria Insania Press, 2003 ), hlm .157

18

Yusuf Amir Faisal, Reorientasi Pendidikan Islam, ( Jakarta : Gema Insani Press, 1995 ), hlm .96

individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi dan berhasil mewujudkan kebahagian di dunia dan akhirat.19

Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam diarahkan dalam rangka menjadikan manusia sebagai khalifatullah yang mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan di muka bumi ini, mampu beribadah sebagai hamba Allah, mampu berakhlak mulia dan mampu mengembangkan segenap potensi kehidupannya. Karena manusia dalam perjalanan hidupnya pada dasarnya mengemban amanah atau tugas-tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan Allah kepada manusia agar dipenuhi, dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.

Tugas manusia sebagai khalifah Alllah merupakan realisasi dari pengemban amanah dalam arti memelihara, memanfaatkan atau mengoptimalkan penggunaan segala anggota badan, alat-alat potensial (indera dan akal) atau potensi-potensi dasar manusia guna menegakkan keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan hidupnya.20

Pandangan dunia Islam bersifat humanis teosentris. Maka sifat humanis teosentris sebagai pandangan dunia dalam Islam akan menjadi konsep dasar dari pemikiran pendidikan Islam. Sifat ini terlihat pada watak dasarnya yang tidak pernah terlepas dari konsep khalifah sebagai mabda’nya dan konsep abd’ sebagai

maqshad al-a’dham. Artinya konsep pendidikan Islam haruslah berpijak pada konsep khalifah baik sebagai titik awal, proses maupun produk. Sebagi titik awal, artinya dalam pendidikan subyek didik haruslah dipandang sebagai manusia yang berfungsi sebagai khalifatullah yang mempunyai misi untuk memakmurkan bumi. Sebagai proses, artinya agar subyek didik mampu mengemban amanah Allah yang dibebankan kepadanya, yakni sebgai khalifatullah. Maka ia harus diproses dalam dunia pendidikan dengan cara menanamkan niulai-nilai ke dalam dirinya.

19

Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektualisme Muslim dan Pendidikan Islam, ( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999 ), hlm. 6

20

Pengertian nilai-nilai di sini bukan hanya sebatas pada pentransferan ilmu pengetahuan, budaya, moral, etika dan sopan santun. Namun nilai-nilai itu juga mempunyai daya motivator yang tinggi bagi subyek didik untuk bersikap kreatif dan pro aktif dalam memecahkan problematika hidup dan merubah tatanan sosial yang dianggapnya tidak baik.

Sedangkan sebagai produk, artinya setelah subyek didik mengalami proses pendidikan, ia diharapkan mampu untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang didapat dari proses pendidikan sehingga dalam produknya ia benar-benar menjadi

khalifatullah. Kemudian konsep ‘abd sebagai maqshad al-a’dham, artinya segala prilaku yang merupakan produk dari pendidikan itu harus bertujuan untuk mengabdi pada Allah semata, bukan kepada selainnya. 21

Itulah terjemahan dari sifat humanis teosentris dalam konsep pendidikan. Apabila pendidikan Islam benar-benar berpijak pada konsep khalifah sebagai

mabda’ dan konsep ‘abd sebagai maqshad al-a’dham, maka pendidikan Islam akan mampu mencetak generasi muslim yang dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah yaitu menjadi manusia yang berbudaya, berperadaban berkualitas, kreatif yang dapat membangun dunia ini serta dapat menghadapi tantangan era global serta mampu menjadi hamba Allah yang senantiasa menghiasi dirinya dengan iman dan takwa.

Dengan memahami konsep tersebut manusia akan mampu merealisasikan tujuan hidupnya di muka bumi yaitu tugas untuk senantiasa melestarikan tatanan kehidupan yang harmonis, sebagaimana yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

21

Ismail SM. (eds.), Paradigma Pendidikan Islam, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001 ) hlm. 301-302

BAB V

PENUTUP

Dari berbagai uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat penulis simpulkan sebagai berikut :

1. Khalifah dapat dipahami sebagai pengganti atau makhluk yang menganti spesies lain yang ada sebelumnya. Akan tetapi juga dapat berarti sebagai makhluk yang mendapatkan mandat dari Allah untuk memelihara dan memakmurkan bumi. Gelar khalifah, walaupun pada mulanya hanya untuk Adam semata. Tetapi pada hakekatnya adalah untuk manusia secara umum.

Berdasarkan tafsir-tafsir QS. al-Baqarah ayat 30-35, khalifah disini berarti wakil Allah dalam melaksanakan ketetapan-ketetapan-Nya di bumi. Hal ini adalah sebuah penghormatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia karena ia adalah makhluk yang paling sempurna. Khalifah adalah manusia yang aktif dalam tatanan alam semesta, seorang khalifah adalah manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, keimanan dan amal saleh serta khalifah adalah manusia kreatif yang mampu membangun dunia ini sesuai dengan ketetapan-Nya.

Pada hakikatnya manusia sebagai khalifah harus sadar, bahwa dia sebagai pemegang mandat dari Allah yang wajib mengikuti apa yang diinginkan oleh sang pemberi mandat (Allah) dan tidak boleh mengabaikannya, karena amanat yang dilimpahkan padanya akan dipertanggungjawabkan kelak. Sebagai khalifah yang mendapatkan amanah pengelolaan bumi, manusia harus berusaha menghiasi diri dengan ilmu karena tidak mungkin ia dapat melaksanakan amanah tanpa ilmu. Secara operasional tugas kekhalifahan dapat dijabarkan melalui: pertama, tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri yakni menuntut ilmu dan menghiasi diri dengan akhlak mulia. Kedua, tugas kekhalifahan terhadap keluarga, menyangkut tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera (keluarga sakinah mawaddah warahmah). Ketiga, tugas kekhalifahan dalam masyarakat, meliputi tugas

mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, menegakkan keadilan dalam masyarakat, bertanggung jawab terhadap

amar ma’ruf nahi munkar dan berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang

lemah, termasuk fakir miskin serta anak yatim. Keempat, tugas kekhalifahan terhadap alam, menyangkut tugas mengkulturkan alam, menaturalkan kultur dan mengislamkan kultur.

2. Untuk dapat melaksanakan fungsi kekhalifahan dengan baik manusia perlu

diberikan pendidikan. Melalui proses pendidikan, manusia akan dapat mengembangkan segenap potensi yang ada dalam dirinya yang selanjutnya akan menjadi bekal bagi dirinya untuk dapat menjalankan tugasnya. Karena pada hakikatnya tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan dan panca indera. Dengan tercapainya kepribadian manusia yang seimbang, manusia akan dapat melaksanakan fungsi kekhalifahannya. Namun sebaliknya, tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal.

Pendidikan Islam bukan hanya sekedar proses penstranferan ilmu pengetahuan, namun pendidikan Islam merupakan suatu bentuk proses pengaktualisasian segenap potensi peserta didik. Sehingga mampu menciptakan individu muslim yang memiliki kepribadian sempurna bagi kemaslahatan seluruh manusia yang sesuai dengan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

B. Saran – saran

1.Pendidikan Islam menjadi sebuah keharusan bagi setiap muslim, dengan

memperoleh pendidikan, segenap potensi yang ada dalam diri manusia akan dapt berkembang dengan optimal sehingga akan terbentuk kepribadian yang mulia.

2.Pendidikan Islam seharusnya mengarahkan peserta didik untuk dapat

mengoptimalkan potensi diri agar dapat berperan sebagai khalifah dalam kehidupan bermasyarakat.

C. Penutup

Dengan berakhirnya skripsi ini, penulis mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan pertolonganNya lah penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Dengan kerendahan hati tentunya dalam skripsi ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya penulis mengharapkan ridha Allah semoga skripsi ini dapt menambah khasanah ilmiah umat Islam dan bermanfaat bagi penulis pada khususnya serta bagi pembaca pada umunya.

MOTTO

ø

ŒÎ)uρ

t

Α$s%

š

•/u‘

Ïπs3Íׯ≈n=yϑù=Ï9

’ÎoΤÎ)

×≅Ïã%y`

’Îû

Ç

Úö‘F{$#

Zπx‹Î=yz

(

(

#þθä9$s%

ã≅yèøgrBr&

$pκÏù

⎯tΒ

ß

‰Å¡øãƒ

$pκÏù

à7Ïó¡o„uρ

u

™!$tΒÏe$!$#

ß⎯øtwΥuρ

ß

xÎm7|¡çΡ

x

8ωôϑpt¿2

â

¨Ïd‰s)çΡuρ

y

7s9

(

t

Α$s%

þ’ÎoΤÎ)

ãΝn=ôãr&

$tΒ

Ÿ

ω

t

βθßϑn=÷ès?

∩⊂⊃∪

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan di bumi seorang Khalifah”, mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah)dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkankan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau”. Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”( QS. Al-Baqarah : 30 )1

1

Dalam dokumen jtptiain gdl anikrisala 3911 1 3103247 p (Halaman 66-74)