• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Makna Khalifah Dalam Tujuan Pendidikan Islam

Dalam dokumen jtptiain gdl anikrisala 3911 1 3103247 p (Halaman 62-66)

RELEVANSI MAKNA KHALIFAH DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

B. Urgensi Makna Khalifah Dalam Tujuan Pendidikan Islam

Dalam pandangan Islam, manusia memiliki peran utama. Yaitu sebagai

khalifatullah dan ‘abd. Kedua peran ini sejalan dengan dua tahapan kehidupan, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sesuai dengan doktrin tauhid, Allah adalah pencipta dan pemilik alam semesta ini. Allah juga menentukan perjalanan

8

Fazlur Rahman, Major Time of The Qur’an, terj. Anas Mahyuddin, ( Bandung : Pustaka, 1983), hlm. 27

9

manusia, yang tidak hanya berakhir pada kehidupan dunia semata, melainkan berlanjut pada kehidupan akhirat.

Sementara itu, manusia sendiri telah diberi peran sebagai khalifatullah fil ardl, yakni peran yang terbatas di dunia. Agar peran tadi dapat memiliki keterkaitan dengan kelangsungan hidupnya di akhirat, manusia dituntut untuk bersikap pasrah secara mutlak kepada Allah, yang disebut ibadah, sesuai firmanNya.

ِ ﺒِﱠﻻِ ِﹾِﺠﹾ ﹾﻘﹶﺧ

)

:

(

Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku. (QS. Ad-Dzariyat: 56)10

Manusia tidak akan dapat menanggung beban tugasnya sebagai khalifah

jika dalam dirinya tidak terbentuk perasaan tunduk (ibadah) yang total kepada Allah.11

Berkaitan dengan tugas hidup manusia tersebut, Widodo Soepriyono mengemukakan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah: Pertama, manusia sebagai khalifah (khalifatullah fil ardl) yang merupakan ciri ideal; kedua.

manusia diberi beban beribadah (‘abid) kepada-Nya; ketiga, berperan sebagai

Warosatul Anbiya.12

Sedang menurut Ahmadi, bahwa tujuan diciptakanya manusia oleh Allah terdiri dari: pertama, tujuan utama penciptaanya ialah agar manusia beribadah kepada-Nya. Kedua, manusia diciptakan untuk berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardl). Ketiga, manusia diciptakan untuk membentuk masyarakat, manusia yang saling mengenal hormat-menghormati dan tolong

10

Soenarjo, op.cit ., hlm.862 11

Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya ( Jakarta, Logos wacana Ilmu, 1999), hlm. 36

12

Widodo Soepriyono, Filsafat Manusia Dalam Reformulasi Pendidikan Islam (peny) M. Chabib Thoha ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996 ) hlm. 183

menolong antar yang satu dengan yang lain dalam rangka menunaikan tugas kekhalifahannya.13

Secara operasional tugas kekhalifahan tersebut dapat dijabarkan melalui bentuk; pertama, tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri : (1) Menuntut ilmu pengetahuan, karena manusia itu adalah makhluk yang dididik dan mendidik.(2) Menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang menimbulkan bahaya dan kesengsaraan.(3) Menghiasi diri dengan akhlak mulia .

Kedua, tugas kekhalifahan terhadap keluarga, menyangkut tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera (keluarga sakinah mawaddah warahmah). Ketiga, tugas kekhalifahan dalam masyarakat, meliputi tugas mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, menegakkan keadilan dalam masyarakat, bertanggung jawab terhadap

amar ma’ruf nahi munkar dan berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk fakir miskin serta anak yatim. Keempat, tugas kekhalifahan terhadap alam, menyangkut tugas mengkulturkan alam, menaturalkan kultur dan mengislamkan kultur.14

Beranjak dari pemahaman makna yang termuat di dalamnya, barangkali akan jelas bagaimana peran yang harus dilaksanakan manusia menurut statusnya selaku khalifahAllah, setidaknya peran yang harus dilaksanakan manusia terdiri dari dua jalur, yaitu jalur horisontal dan jalur vertikal.

Peran menurut jalur yang pertama, mengacu kepada bagaimana dapat mengatur hubungan baik dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Hubungan yang dibina adalah hubungan yang sejajar dan sama antar sesama makhluk Allah serta hubungan yang ramah dan saling menguntungkan, bukan malah sebaliknya.

Adapun hubungan yang vertikal menggambarkan bagaimana manusia berperan sebagai mandataris Allah, dalam peran ini manusia penting menyadari

13

Ahmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006 ), hlm. 41

14

Muhaimin, et al, Paradigma Pendidikan Islam : Upaya Mengefektifkan Pandidikan Agama Islam di Sekolah, ( Bandung : PT. Remaja Rosda Karya , 2002 ) hlm. 23 -24

bahwa kemampuan yang dimilikinya untuk menguasai alam dan sesama manusia adalah karena penugasan dari penciptaan-Nya, dengan demikian tugas itu mencakup cara bagaimana manusia dapat berperan sebagai pengemban amanat tersebut dengan sebaik mungkin. Dari peran itu diharapkan manusia dapat menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis di muka bumi.

Tugas hidup berikutnya adalah manusia sebagai ‘abdullah. Ini dapat dipahami bahwa segala aktivitas dan perilakunya ditujukan hanya untuk Allah, manusia sebagai ‘abdullah merupakan realisasi dari pemberian amanah dalam arti memelihara tugas-tugas dari Allah yang harus di patuhi.

Jika pengertian ibadah ini dihubungkan dengan pengertian khalifah

sebagaimana diuraikan sebelumnya, maka dapat diperoleh pemahaman bahwa esensi seorang khalifah adalah kebebasan dan kreatifitas sedangkan seorang ‘abd

adalah ketaatan dan kepatuhan.

Dengan demikian kedudukan manusia di alam raya ini, di samping sebagai khalifah yang memiliki kekuasaan untuk mengelola alam dengan menggunakan segenap daya dan potensi yang dimilikinya juga sebagai ‘abd, yaitu seluruh usaha dan aktivitasnya harus dilaksanakan dalam rangka ibadah kepada Allah. Dengan pandangan terpadu ini, maka sebagai seorang khalifah tidak akan melakukan sesuatu yang mencerminkan kemungkaran atau pertentangan dengan kehendak Tuhan.

Untuk dapat melaksanakan fungsi kekhalifahan dengan baik, manusia perlu diberikan pendidikan, pengajaran, ketrampilan, pengalaman, teknologi dan sarana pendukung lainnya. Ini menunjukkan bahwa konsep kekhalifahan dan ibadah dalam al-Qur’an erat kaitannya dengan pendidikan. Manusia dapat melaksanakan fungsi-fungsinya yang demikian itulah yang diharapkan muncul dari kegiatan usaha pendidikan.15

Untuk teraktualisasinya potensi yang dimiliki manusia, sesuai dengan nilai–nilai ilahiyah, maka pada dasarnya pendidikan berfungsi sebagai media yang

15

menstimuli bagi pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia ke arah penyempurnaan dirinya, baik sebagai abd dan khalifah fil ardl.16

Untuk tujuan tersebut, pendidikan Islam bukan hanya sekedar proses pentransferan ilmu kebudayaan atau kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Akan tetapi lebih dari itu, pendidikan Islam merupakan satu bentuk proses pengaktualisasian sejumlah potensi yang dimiliki peserta didiknya yang meliputi pengembangan jasmani, rasioanlitas, intelektual, emosi dan akhlak yang berfungsi menyiapkan individu muslim yang memiliki kepribadian paripurna bagi kemaslahatan seluruh umat manusia.

Dalam dokumen jtptiain gdl anikrisala 3911 1 3103247 p (Halaman 62-66)