• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN PENGAJARAN Pada bahasan kertas kerja ini diharapkan mahasiswa mampu:

Dalam dokumen PEMERIKSAAN AKUNTANSI DI INDONESIA. (Halaman 133-138)

DAN PROSEDUR ANALITIS

TUJUAN PENGAJARAN Pada bahasan kertas kerja ini diharapkan mahasiswa mampu:

1 Menjelaskan pengertian dan fungsi kertas kerja 2 Menjelaskan pembuatan kertas kerja

3 Menjelaskan tipe kertas kerja dan hubungan antar kertas kerja

4 Memahami dan menjelaskan pembuatan indeks kertas kerja dan tick mark 5 Menjelaskan susunan kertas kerja dan pengarsipannya

1. PENGERTIAN DAN FUNGSI KERTAS KERJA

Akuntansi dan pelaporan keuangan suatu entitas, menyajikan informasi keuangan yang berguna untuk membuat keputusan ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan para pemakai tersebut, informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan harus diperiksa oleh auditor yang independen. Dan pada era transparan dan terbuka saat ini, menuntut auditor untuk lebih bertanggung jawab terhadap hasil pemeriksaan yang dilakukan, dengan mendasarkan pada kode etik dan standard profesi. Kontribusi audit adalah untuk menyajikan akuntabilitas, selama dia memberikan pendapat yang independen, apakah laporan keuangan suatu entitas atau organisasi menyajikan hasil operasi yang wajar dan apakah informasi keuangan tersebut disajikan dalam bentuk yang sesuai dengan kriteria atau aturan-aturan yang telah ditetapkan.

Dalam suatu pengauditan auditor membutuhkan suatu alat yang digunakan untuk membantu pekerjaannya. Alat itu disebut dengan kertas kerja (working paper), suatu alat yang menghubungkan antara klien dengan auditor adalah kertas kerja. Kertas kerja merupakan salah satu alat yang digunakan auditor dalam membantu simpulan yang diambilnya. Isi kertas kerja adalah rahasia, maka auditor tidak diperbolehkan untuk memberitahukan kepada pihak ketiga, lebih- lebih pihak pesaing klien. Menindaklanjuti pentingnya kerahasiaan kertas kerja, IAI mengeluarkan kode etik yang mengatur hal tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan kertas kerja menurut IAI dalam SA Seksi 339 adalah catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai prosedur audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, informasi yang diperolehnya, dan kesimpulan yang dibuatnya, sehubungan dengan auditnya. Kertas kerja bagi auditor mimiliki fungsi dan tujuan. Fungsi kertas kerja meliputi (IAI, 2001: 339.2):

(1) Menyediakan penunjang utama bagi laporan audit, termasuk pencerminan pelaksanaan standar auditing, yang secara tersirat ditunjukkan dalam laporan audit dengan disebutkannya frasa “sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.”

(2) Membantu auditor dalam melaksanakan dan mensupervisi audit.

Sedangkan untuk tujuan pembuatan kertas kerja adalah (Bambang, dkk,2001: 1690170; Mulyadi dan Kanaka, 1998:96):

(1) Merefleksikan telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan.

Standar auditing berfungsi memberikan suatu keyakinan pada pengguna jasa atas asersi klien. Dengan pembuatan kerja maka auditor mengarah pada pemberian keyakinan kepada pengguna melalui penerapan apa yang ada di standar auditing khususnya yang terkait dengan kertas kerja adalah standar pekerjaan lapangan. Atau dengan kata lain dapat dikatakan kertas kerja harus memperlihatkan:

(a) Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan pertama, yaitu:” Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.”

(b) Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan kedua, yaitu:” Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.”

(c) Telah dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan ketiga, yaitu:” Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,

pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.” (2) Sebagai dasar prosedur pemeriksaan yang diterapkan.

Prosedur audit adalah urutan-urutan kerja yang harus dilakukan auditor dalam suatu pengauditan. Dengan demikian apa yang telah dilakukan dari prosedur akan di catat dan diarsip.

(3) Mencerminkan simpulan auditor.

Kertas kerja yang telah dibuat auditor akan dibutuhkan bilamana di pandang perlu untuk menjelaskan atau mempertimbangkan apa yang telah dilakukan auditor sehubungan dengan auditannya.

(4) Sebagai dasar penilaian hasil kerja asisten.

Bila digunakan asisten, maka kertas kerja dapat dipergunakan untuk mengawasi pekerjaan asisten dan menilai kinerja yang telah dilakukan asisten dalam pengauditannya.

(5) Sebagai pedoman audit berikutnya.

Audit yang sering (berulang-ulang) dilakukan terhadap klien yang sama dalam suatu periode tertentu mengharuskan auditor harus mengumpulkan informasi mengenai usaha klien, sistem akuntansi, pengendalian intern dan sebagainya. Semua informasi tersebut terekam di kertas kerja yang dapat dijadikan pedoman audit berikutnya.

(6) Sebagai dasar pengkoordinasiaan pengauditan.

Audit yang dilakukan auditor memiliki tahapan dengan waktu dan tempat yang berbeda. Kesemuannya akan menyulitkan auditor bila tidak dibantu dengan kertas kerja yang dapat berfungsi mengkoordinasi dan mengorganisasikan berbagai tahap auditannya.

(7) Sebagai dasar pembuatan laporan audit.

Kertas kerja merupakan bukti audit yang menunjukkan auditor telah melaksanakan audit yang memadai. Hal ini sesuai dengan standar pekerjaan lapangan ketiga: “Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan.”

Dari uraian dan penjelasan yang terpapar maka dapat digambarkan mengenai hubungan auditor, klien dan kertas kerja pada gambar 8.1.

Gambar 8.1. Hubungan auditor, klien dan kertas kerja

2. PEMBUATAN KERTAS KERJA

Prinsip umum dalam pembuatan kertas kerja yang harus diperhatikan adalah (Theodorus, 1982: 135-136):

1 Semua kertas kerja harus ada tujuannya

Sering ada anggapan yang keliru pembuatan kertas kerja yang berlebihan lebih baik dari kekurangan kertas kerja. Ini menunjukkan bahwa kerjaan yang dilakukan tidak efisiensi untuk itu pembuatan kertas kerja yang memiliki tujuan.

2 Hindarkan pekerjaan salin menyalin

Auditor di bayar oleh klien bukan untuk melakukan audit bukan untuk menyalin kembali suatu pekerjaan yang dilakukan klien. Penggunaan teknologi seperti forocopy hendaknya digunakan atau membuat tingkasan- ringkasan untuk menghindari pekerjaan salin-menyalin.

3 Hindarkan menyalin pekerjaan

Fee audit yang dibayar klien kepada auditor akan tinggi bila waktu yang dibutuhkan lama karena menyalin suatu pekerjaan oleh auditor. Hal ini tidak boleh dilakukan menyalin suatu pekerjaan karena auditor pekerjaannya bukan itu namun memeriksa laporan keuangan, maka terkait dengan pekerjaan menyalin bisa digantikan dengan photo copy atau membuat ringkasan-ringkasan.

Auditor Klien

Kertas kerja

4 Hindari menyalin kembali

Penggunaan tenaga auditor yunior (asisten) ada kecenderungan mereka melakukan penyalinan kembali kertas kerja yang telah dibuat agar kelihatan bagus. Aktivitas ini memakan waktu dan berdampak pada tingginya fee audit yang dibayar klien.

5 Dukung dan jelaskan semua perkiraan

Kertas kerja harus mendukung akun-akun yang ada pada neraca saldo. 6 Tulis prosedur yang dijalankan

Program pengauditan yang dijalankan auditor secara singkat harus menunjukkan prosedur audit yang dijalankan dengan menggunakan tanda audit (tickmark).

7 Tulis untuk diingat

Untuk mengatasi kelupaan yang kerap terjadi dari perolehan informasi terkait pengauditan, maka auditor hendaknya selalu menulis informasi di maksud.

8 Buktikan keterangan lisan yang di terima

Bukti lisan harus dapat dibuktikan dengan suatu pencatatan dalam suatu dokumen.

9 Pertanyaan jangan ditinggalkan tak terjawab

Saat penelaahan atas suatu kertas kerja, auditor akan mengetahui pertanyaan yang belum terjawab. Untuk itu perlu ditindaklanjuti melengkapi jawaban pertanyaan tersebut.

Selain prinsip di atas dengan memperhatikan kertas kerja merupakan suatu bukti kalau suatu audit kompeten telah dilakukan maka ada faktor yang perlu diperhatikan dalam mmbuat kertas kerja. Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja adalah (Mulyadi dan Kanaka, 1998: 99):

(1) Lengkap

Kertas kerja diaktakan lengkap apabila memenuhi dua syarat, yaitu (Abdul, 2001: 167):

b. Tidak perlu penjelasan lisan sebagai tambahan (2) Teliti

Bebas kesalahan (kesalahan penulisan maupun kesalahan dalam penjumlahan) harus diperhatikan auditor dalam pembuatan kertas kerja. Dengan kata lain dapat dikatakan pembuatan secara cermat dan teliti.

(3) Ringkas

Dalam dokumen PEMERIKSAAN AKUNTANSI DI INDONESIA. (Halaman 133-138)