• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUTORIAL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA

Sumyati, Dedi Irwandi, Nanda Saridewi

Program Studi Pendidikan Kimia, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email koresponden: [email protected], [email protected],

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan multimedia Computer Based Instruction model tutorial terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 29 Jakarta. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan Pre- and Posttest Design. Populasi seluruh siswa kelas X SMA Negeri 29 Jakarta. Sampel diambil secara purposive sampling. Sekitar 60 siswa dijadikan sebagai subjek penelitian dan dibagi menjadi 2 kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis flash sedangkan kelas kontrol tanpa aplikasi flash. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui instrumen tes pilihan ganda sebanyak 25 butir yang kemudian dianalisis dengan

menggunakan uji “t”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis flash

dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang dibuktikan dari hasil thitung 3,64 lebih besar dari ttabel 2,00

dengan taraf signifikan 0,05.

Kata Kunci: multimedia; computer based instruction; tutorial; hasil belajar; larutan penyangga

Abstract

This study was aimed to determine the effect of using learning multimedia Computer Based

Instruction Tutorial Model on students’ mastery of Buffer Solution concept. This research was

conducted at SMAN 29 Jakarta on March 2015. The method used in this study was quasi experimental research with Pre- and Posttest Design. The population of this research was the second grade of SMAN 29 Jakarta. The sample was taken by purposive sampling. About 60 students were involved in this research and divided into two groups, control group and experimental group. The experimental class were treated with using learning media based flash while the control class without using learning media based flash. The data gathering techniques in this study is through 25 items of multiple choices test instrument which is analyzed by using

“t” test. The result of the study showed that there is an effect of learning media on learning

outcomes that was evidenced from the result of 3.64 t count higher than t table value of 2.00 with a significance level of 0.05.

Keywords: multimedia, computer based instruction; tutorial; learning outcomes; buffer solution concept

PENDAHULUAN

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat berpengaruh besar terhadap dunia pendidikan, salah satunya penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar dan mengajar. Puncak dari perkembangan media tersebut terjadi pada tahun 1990-an dengan munculnya konsep

“educational technology” atau “instructional

technology”, yang mana proses pembelajaran

berbasis teknologi komputer (Asyhar, 2012). Realitas pendidikan saat ini, berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di beberapa sekolah, menunjukkan bahwa banyak pendidik di sekolah yang masih menggunakan media pembelajaran yang konvensional, yaitu media pembelajaran yang tinggal pakai dan tinggal beli tanpa upaya merencanakan, menyiapkan, dan menyusunnya sendiri. Media pembelajaran yang

masih sering dijumpai di sekolah sekolah yaitu buku teks atau LKS. Namun media pembelajaran berupa media cetak seperti buku teks dan LKS kebanyakan bergantung pada verbal symbol yaitu kata-kata yang bersifat sangat abstrak, sehingga dapat menyulitkan siswa dalam memahami materi yang dipelajari (Asyhar, 2012), terlebih pada pelajaran kimia yang mengandung banyak konsep yang abstrak dalam setiap materi pelajarannta. Akibatnya, media pembelajaran tersebut kurang dapat menarik minat siswa untuk mengikuti pelajaran.

Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang erat kaitannya dengan lingkungan. Pembelajaran kimia yang sekarang dilaksanakan di SMA lebih didominasi oleh guru sehingga siswa cenderung hanya pasif mendengarkan dan menerima pemahaman yang hanya bersifat verbalistik yang akibatnya siswa sulit memahami dan mengaplikasikan konsep serta teori yang diberikan guru dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pengajaran tradisional menitikberatkan pada metode imposisi, yakni pengajaran dengan cara penuangan hal-hal yang dianggap penting oleh guru bagi siswanya. Cara ini tidak mempertimbangkan kesesuaian bahan pelajaran dengan kesanggupan, kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan serta pemahaman siswa. Guru tidak memperhatikan motivasi siswa untuk mempelajari bahan-bahan yang disampaikan (Asyhar, 2012).

Materi Larutan Penyangga merupakan salah satu materi kimia yang memuat sub pokok bahasan yang tidak hanya mengkhususkan daya ingat lebih dalam pembelajarannya namun juga diperlukan daya nalar serta kemampuan berhitung yang memadai agar tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan adanya penggambaran/ilustrasi yang riil serta suatu sumber belajar yang menarik agar peserta didik dapat lebih memahami materi yang diajarkan dan tidak membuat peserta didik merasa bosan, contohnya alat peraga. Namun, penggunaan alat peraga sangatlah tidak efisien Selain jumlahnya yang terbatas juga alat peraga tidak dapat melibatkan semua peserta didik dalam penggunaannya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan media

pembelajaran yang memuat gambar maupun animasi. Salah satu aplikasi yang sering digunakan untuk membuat animasi atau gambar adalah dengan menggunakan media berbasis komputer atau Computer Based Instruction

dengan model tutorial.

Computer Based Instruction model tutorial merupakan program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat lunak berupa program komputer yang berisi materi pelajaran. Dengan model tutorial ini, siswa diharapkan dapat memahami secara tuntas materi yang dipelajari (Darmawan, 2012).

Pada media Computer Based Instruction

model tutorial, terdapat metode alternatif di antaranya bacaan, demonstrasi, adanya pertanyaan yang memerlukan respon serta adanya ujian. Dengan demikian, model tutorial ini ditujukan sebagai pengganti manusia yang proses pembelajarannya diberikan lewat teks atau grafik, kemudian diberikan pertanyaan, jika respon siswa benar maka materi yang dipelajari akan berlanjut pada materi selanjutnya, namun jika respon yang diberikan salah maka akan kembali pada materi yang dipelajari sebelumnya sehingga siswa memahami secara tuntas materi yang dipelajari (Darmawan, 2012). Aplikasi yang umumnya digunakan dalam Computer Based Instruction model tutorial adalah aplikasi flash.

Multimedia Computer Based Instruction

dengan flash digunakan sebagai salah satu media pembelajaran di sekolah karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan media lain. Keunggulan tersebut diantaranya, dapat membuat animasi bergerak, action script, dapat membuat perubahan bentuk dan warna, dan sebagainya (Asyhar, 2012). Selain itu, multimedia dengan aplikasi flash juga dapat diintegrasikan dengan internet. Dengan flash, aplikasi Web dapat dilengkapi dengan beberapa macam animasi, audio, interaktif animasi, dan lain-lain (Sutopo, 2003), sehingga tampilan Web lebih menarik.

Pembelajaran berbantu komputer atau lebih dikenal dengan Computer Based Instruction

model tutorial dengan aplikasi flash ini dibuat bukan hanya untuk menghadapi masalah-masalah

yang telah disebutkan di atas, tetapi juga masalah-masalah lain yang sering dijumpai di sekolah selama proses belajar mengajar, diantaranya terbatasnya waktu siswa untuk berinteraksi dengan guru mengenai materi pelajaran, minimnya kegiatan praktik secara langsung, ketidak hadiran guru pada saat jam pelajaran sebagaimana mestinya (Darmawan, 2012).

Banyak penelitian menyatakan bahwa penggunaan multimedia Computer Based Instruction dengan aplikasi flash sebagai media pembelajaran mampu memberikan perubahan yang positif tidak hanya terhadap hasil belajar tetapi juga pengalaman belajar yang didapatkan siswa. Diantaranya penelitian yang dilakukan oleh I Made Some, Asrie Arbie dan Citron S. Payu pada mata pelajaran fisika. Pada penelitian tersebut, hasil belajar dan minat belajar siswa meningkat setelah penggunaan aplikasi flash. Minat belajar siswa pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol yakni sebesar 16,23% dan rata-rata hasil belajar pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan dengan pada kelas kontrol, yakni sebesar 73,35 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 60,61 (Some, dkk., 2013).

Menurut Oemar Hamalik, faktor peserta didik dianggap sebagai sesuatu yang menentukan pelaksanaan dan keberhasilan proses pembelajaran (Hamalik, 2009: 105). Oleh karena itu, sangatlah jelas bahwa peran media sangat dibutuhkan sebagai penunjang dalam proses belajar mengajar, karena selain sebagai sumber belajar, media juga dapat membantu siswa dalam belajar mandiri.

METODE

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 29 Jakarta yang beralamat di Jalan Kramat Nomor 6, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan maret Semester II (genap) tahun pelajaran 2014-2015.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen (eksperimen semu). Dalam pelaksanaan penelitian ini, sampel

dibagi dua bagian yaitu kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan dengan penggunaan multimedia pembelajaran Computer Based Instruction berupa flash dan kelompok kontrol dengan penggunaan metode ceramah tanpa berbantu media pembelajaran flash. Desain penelitian yang digunakan adalah Pre- and Posttest Design. Desain penelitian ini merupakan salah satu desain penelitian yang adadalam metode Quasi Eksperimen dimana sampel dalam penelitian tidak dipilih secara acak (Creswel, 2008).

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode tes, yakni berupa pretest dan posttest untuk melihat prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar soal pretest dan posttest berisi soal-soal berkaitan dengan materi Larutan Penyangga yang terdiri dati 25 soal pilihan ganda. Sampel penelitian ini adalah dua kelas XI semester genap, yaitu sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini merupakan data kuantitatif nilai pretest dan

posttest. Pada pretest, data yang diperoleh dipersentasekan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mengetahui materi yang diajarkan, sedangkan pada posttest, data yang diperoleh dianalisis dengan mempresentasekan hasil yang diperoleh siswa dan dengan demikian dapat diketahui sejauh mana peningkatan yang diperoleh dalam pembelajaran.

Hasil pretest dan posttest siswa kemudian diperiksa dan diolah dengan menghitung skor jawaban seluruh siswa. Selanjutnya data yang diperoleh diuji dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis.

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data. Uji yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data salah satunya adalah uji Chi-kuadrat. Rumus yang digunakan adalah:

X2 = ∑ [ � − ]

X2 adalah nilai khi-kuadrat

Fo adalah frekuensi hasil

Fe adalah frekuensi teoritik atau ekspektasi/harapan

Di samping pengujian terhadap normal tidaknya distribusi data pada sampel, diperlukan pengujian terhadap kesamaan (homogenitas) beberapa bagian sampel, yakni seragam tidaknya variansi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama (Margono, 2010: 363-364). Dalam pengujian homogenitas, digunakan uji F yang dikemukakan oleh Fisher, yakni dengan rumus sebagai berikut:

F = v i n

v i n i (Sugiyono, 2009: 197)

Kriteria pengujian adalah : terima Ho jika F (1 - α)(n1 - 1) < F < F1/2α(n1 – 1 ; n2 - 1)

Untuk taraf nyata α, dimana Fβ( m, n ) didapat dari distribusi F dengan peluang β, dk pembilang = n dan

dk = penyebut n.

Dalam hal lainnya ditolak (Sudjana, 2005: 249-250).

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t. Uji-t digunakan untuk menguji hipotesis nol suatu penelitian yang menyatakan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara dua rata-rata (mean) kondisi sampel yang diperbandingkan (Sudjana, 2005: 159). Rumus untuk mencari nilai t hitung adalah sebagai berikut:

t = X̅ − X̅

g √n + n

Keterangan:

X̅ = rata-rata data kelompok 1

X̅ = rata-rata data kelompok 2

dsg = nilai deviasi standar gabungan (Sudjana, 2005: 162).

PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil yang didapat pada peneltian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh dari data hasil pretest dan posttes pada kedua kelas, yaitu sebagai berikut.

Tabel 4.4 Hasil Uji Hipotesis Pretest

Variabel Taraf

signifikan thitung ttabel keterangan Uji-t 0,05 1,04 2,00 Ho diterima

Pengujian terhadap hipotesis hasil pretest

menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh pada uji-t, yaitu nilai thitung pada penelitian ini lebih

kecil dari pada nilai ttabel (1,04 < 2,00), sehingga Ho diterima. Harga Ho mewakili pernyataan tidak adanya hubungan atau perbedaan di antara dua variabel (Setyosari, 2013). Jadi, bila Ho diterima, maka baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen memiliki tingkat pengetahuan yang sama terhadap materi Larutan Penyangga sebelum dilakukan pembelajaran.

Tabel 4.5 Hasil Uji Hipotesis Pretest

Variabel Taraf

signifikan thitung ttabel keterangan Uji-t 0,05 3,64 2,00 Ho ditolak

Sedangkan pada pengujian hipotesis yang dilakukan pada hasil posttest kedua kelas, menunjukkan nilai thitung lebih kecil dari pada nilai ttabel (3,64 > 2,00), sehingga Ho ditolak. Jadi, bila Ho ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pada hasil belajar siswa setelah penggunaan media pembelajaran flash

dalam pembelajaran Larutan Penyangga pada kelas eksperimen.

Multimedia Computer Based Instruction

model tutorial bertujuan untuk memberikan pemahaman secara tuntas (mastery) kepada siswa mengenai materi atau bahan pelajaran yang sedang dipelajarinya. Model tutorial dalam

Computer Based Instruction pola dasarnya yakni informasi pada materi pelajaran dibuat dalam cabang-cabang informasi lalu disusul dengan pertanyaan. Selanjutnya respon siswa berupa jawaban dari pertanyaan yang disajikan diperbandingkan dengan jawaban yang disusun oleh pembuat program, dijadikan sebagai umpan baliknya (darmawan, 2012). aplikasi yang paling sering digunakan dalam Computer Based Instruction model tutorial adalah apikasi flash.

Multimedia Computer Based Instruction

dengan aplikasi seperti flash, dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan media pembelajaran lain, terutama media cetak. Salah satu perbedaan terbesar antara media pembelajaran komputer berbasis flash dengan media cetak yakni terdapatnya animasi dalam media pembelajaran komputer berbasis flash. Teknologi 2D dan 3D dengan kombinasi teks akan mendominasi kemasan materi, hal ini cukup untuk mengajarkan materi-materi yang sifatnya

aplikatif, berproses, sulit terjangkau, berbahaya bila langsung dipraktekan dan memiliki keakurasian tinggi (Susilana & Riyana, 2009). Sehingga dengan adanya animasi, materi dapat lebih tersampaikan dengan baik dan dapat lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Pada penelitian ini, penulis menambahkan beberapa animasi pada aplikasi flash yang dibuat, diantaranya pada submateri Cara Kerja Larutan Penyangga dan Peranan Larutan Penyangga.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh multimedia Computer Based Instruction dengan aplikasi flash yaitu dapat memuat video didalamnya. Video pembelajaran dapat membimbing peserta didik untuk memahami materi pembelajaran melalui visualisasi. Peserta didik dapat mengikuti kegiatan praktikum dengan menggunakan video (Munadi, 2012). Dalam penelitian ini, kegiatan praktikum sulit dilaksanakan yang seharusnya ada pada materi Larutan Penyangga. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran berbantu komputer seperti

flash sangat membantu dalam mengatasi kesulitan tersebut.

Selain dapat memuat animasi dan video, aplikasi flash juga dapat memuat latihan soal dalam bentuk games. Bentuk latihan soal ini telah banyak dikembangkan oleh para peneliti baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu peneliti yang mengembangkan media jenis ini yaitu Thongchai Kaewkiriya dari Thailand. Games flash yang dibuat oleh Thongchai Kaewkiriya memiliki kriteria sangat baik dan nilai yang diperoleh oleh peserta didik setelah menggunakan games tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum mereka menggunakan game tersebut (Kaewkiriya, 2013). Peningkatan hasil belajar yang didapat setelah penggunaan Computer Based Instruction

dengan aplikasi flash tidak lepas dari proses pemanfaatan media tersebut selama kegiatan belajar berlangsung, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Peningkatan hasil belajar tidak akan secara signifikan didapat jika hanya mengandalkan penggunaan media di dalam kelas, tetapi juga penggunaan di luar kelas. Karena pembelajaran di kelas memiliki batas waktu

dalam menyampaikan suatu materi pelajaran, sehingga penggunaan media di luar kelas diharapkan dapat membantu peserta didik dalam memahami materi yang sedang dipelajari.

SIMPULAN

Berdasarkan tujuan penelitian ini, yakni untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran berbasis flash terhadap hasil belajar siswa pada materi larutan penyangga, maka kesimpulan yang didapat adalah penggunaan media pembelajaran berbasis flash dalam mata pelajaran kimia berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil

pretest dan posttest sebagai berikut: Hasil pretest

menunjukkan thitung lebih kecil dari ttabel (1,04 < 2,00), sehingga Ho diterima. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan awal siswa sebelum menggunakan multimedia Computer Based Instruction dengan aplikasi flash dalam pembelajaran Larutan Penyangga pada kedua kelas. Sedangkan pada hasil posttest thitung > ttabel (3,64 > 2,00), sehingga Ho ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terhadap hasil belajar setelah menggunakan multimedia

Computer Based Instruction dengan aplikasi

flash dalam pembelajaran Larutan Penyangga pada kelas eksperimen.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.

Asyhar, Rayandra, Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Referensi Jakarta. 2012.

Creswel, John W. Educational Research: Planning, Conducting, And Evaluating Quantitative and Qualitative. New Jersey: Pearson Education. 2008.

Darmawan, Deni. Inovasi Pendidikan: Pendekatan Praktik Teknolog Multimedia dan Pembelajaran Online. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2012.

Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2009.

Kaewkiriya, Thongchai. A Design And Development Of E-Learning Content For Multimedia Technology Using Multimedia Game, International Journal of Software Engineering dan Applications (IJSEA), 4(6), 2013.

Margono, S. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.

Munadi, Yudhi. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada Press. 2008.

Setyosari, Punaji. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana. 2013.

Some, I Made, Asrie Arbie dan Citron S. Payu, Pengaruh Penggunaan Macroaplikasi flash

Terhadap Minat Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fisika, Jurnal Pendidikan, 2013. Subama, H.M. dan Sudrajat. Dasar-dasar

Penelitian Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia. 2001.

Sudjana. Metoda Statistika. Bandung: Torsito. 2005.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitati dan R&D. Bandung: ALFABETA. 2009.

Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: CV WACANA PRIMA. 2009.

Sutopo, Ariesto Hadi. Multimedia Interaktif dengan Flash. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu. 2003.

Seminar Nasional Pendidikan IPA-Biologi FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 28 September 2016 UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MEDIA

LABORATORIUM VIRTUAL PADA KONSEP