PROSIDING
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN IPA-BIOLOGI
“The Living Kurikulum 2013: Dinamika dan Implikasi dalam Pembelajaran”
Program Studi Pendidikan Biologi FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
“The Living Kurikulum 2013: Dinamika dan Implikasi dalam
Pembelajaran”
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 28 September 2016
Artikel-artikel dalam prosiding ini telah dipresentasikan dalam
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN IPA-BIOLOGI
pada tanggal 28 September 2016
diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Penyunting Dr. Yanti Herlanti, M.Pd Eny Supriyati Rosyidatun, M.A
Tata letak: Qumillaila Ahmad Raihan
Diterbitkan oleh:
Program Studi Pendidikan Biologi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jl. Ir. H. Juanda No.95 Ciputat, Tangerang
KATA PENGANTAR
Assalamu’ alaykum wr.wb.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas terselenggaranya Seminar Nasional Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2016. Tema seminar adalah “The Living Kurikulum 2013: Dinamika dan
Implikasi dalam Pembelajaran”. Seminar ini diikuti oleh para dosen, guru, mahasiswa, dan pemerhati pendidikan.
Makalah dan abstraksi yang disampaikan pada seminar nasional ini berasal dari pemakalah utama dan pemakalah pendamping. Semoga prosiding yang merupakan kumpulan artikel ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Pada kesempatan ini kami sampaikan terima kasih kepada para narasumber utama, para pemakalah dan peserta seminar atas partisipasi aktifnya. Secara khusus kami memberikan penghargaan kepada panitia yang telah berjuang mengerahkan tenaga dan pikiran demi keberhasilan acara ini. Semoga kegiatan seminar ini dapat memberikan secercah harapan untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya terkait implementasi kurikulum 2013. Terakhir kami ucapkan permohonan maaf apabila dalam penyelenggaraan seminar ini terdapat kekurangan.
Wassalamu’alaykum wr.wb.
Jakarta, Oktober 2016
DAFTAR ISI
Halaman Depan i
Editorial ii
Kata Pengantar iii
Daftar isi iv
No.
Isi
Halaman
1 Zulfiani, Baiq Hana Susanti, & Lisnawati
Pembelajaran Biologi Berbasis Free Inquiry pada Konsep Sistem Pencernaan Makanan Kelas XI SMA
1-6
2 Mutia Ulfah, Nengsih Juanengsih, & Meiry Fadilah Noor
Peningkatan Berpikir Kreatif Siswa Melalui Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) pada Konsep Perubahan Lingkungan dan Daur Ulang Limbah
7-16
3 Eny Rosyidatun, Sukarlin, & Annisaa Meyrizka K. P
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik di SMA Negeri 11 Tangerang Selatan
17-27
4 Baiq Hana Susanti, Fransisca S., & Riandi
Analisis Implementasi Perkuliahan Vertebrata Berbasis
Learning Object di Program Studi Pendidikan Biologi FITK UIN Jakarta
28-41
5 Ahmad Soleh, Evi Syarfiarti, & Yanti Herlanti
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Kelas VIII-3 SMPN 3 Kota Tangerang Selatan 2015/2016 dalam Pelajaran IPA
42-51
6 Zulfiani, Tri Endah Irianti, Dhuhana Putri R.
Peningkatan Motivasi Belajar Peserta Didik melalui Metode
Group Investigation di MTS Negeri 1 Kota Tangerang Selatan
7 Diani Atika, Fakhrur Rahman, & Nengsih Juanengsih
Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Number Head Together untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Materi Ajar Sistem Reproduksi (Penelitian Tindakan Kelas di SMA Negeri 6 Tangerang Selatan)
58-70
8 Luki Yunita, Rifa Kusmiati, & Nina Afria D
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Melalui
Problem Based Learning pada Konsep Sistem Koloid
71-80
9 Buchori Muslim & Erlinawati
Penerapan Metode Eksperimen Berbasis Lingkungan dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Pada Konsep Sistem Koloid (PTK di Kelas XI IPA MAN 2 Kota Tangerang)
81-94
10 Ipa Ida Rosita & Evi Sapinatul Bahriah
Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Sikap Ilmiah Siswa Pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit
95-105
11 Dela Rahma Safitra, Laila Lubis, & Yanti Herlanti
Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing
Termodifikasi untuk Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Siswa Kelas VII.4 Di SMP Negeri 3 Kota Tangerang Selatan
106-111
12 Aida Nadia, Dedi Irwandi, & Erika Susianti
Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Konsep Mol Melalui Model Pembelajaran Numbered Head Together
(NHT) Di Kelas X-6 SMAN 8 Kota Tangerang Selatan
112-119
13 Sumyati, Dedi Irwandi, & Nanda Saridewi
Pengaruh Multimedia Computer Based Instruction Model Tutorial terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Larutan Penyangga
120-125
14 Muchamad Haikal Al Fajri, Fathiah Alatas, & Daryono
Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Media Laboratorium Virtual pada Konsep Listrik Dinamis
126-133
15 Sujiyo Miranto
Tinjauan Fungsi Ekologis Alun-Alun Tradisional Jawa
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 28 September 2016
PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS FREE INQUIRY PADA KONSEP SISTEM PENCERNAAN MAKANAN KELAS XI SMA
Zulfiani1, Baiq Hana Susanti2, Lisnawati3
Program Studi Pendidikan Biologi, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Email koresponden: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran biologi berbasis free inquiry pada konsep sistem pencernaan makanan di kelas XI SMAN A di Jakarta. Metode penulisan menggunakan kajian pustaka dan dokumentasi. Tahapan model free inquiry meliputi: (1) orientasi, (2) merumuskan masalah, (3) berhipotesis, (4) mengumpulkan data, (5) menguji hipotesis, (6) menarik kesimpulan. Implementasi pembelajaran biologi free inquiry dilengkapi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPS) yang memandu peserta didik sesuai dengan tahapan inquiry. Rata-rata pencapaian skor LKPS pada 2 Kegiatan Eksperimen Uji Zat Makanan dan Uji Vitamin C 75,39%. Pada setiap tahapannya guru berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan partisipasi peserta didik lebih dominan, selain itu model ini mengembangkan keterampilan proses sains, kemandirian dan kreativitas peserta didik.
Kata Kunci: Model free inquiry, Sistem Pencernaan Makanan, Peserta Didik.
Abstract
This article aims to describe free inquiry learning of biology on the digestive system concept in class XI SMAN A in Jakarta. The writing method using literature review and documentation. This model of free inquiry includes orientation, to formulate the problem, hypotheses, collect data, test
hypotheses, draw conclusions. Free inquiry learning of biology implementations include students’
worksheets (LKPS) that guides learners in accordance with the stages of inquiry. The average achievement scores LKPS on two experimental activities substance test and test foods vitamin C 75,39%. At each stage the teacher acts as a facilitator that allows students participation be more dominant, further more this model develops of science process skills, independence and creativity of students.
Keywords: Model of Free Inquiry, Digestive System, Learners
PENDAHULUAN
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri (Trianto, 2010). Perkembangan potensi peserta didik salah satunya dapat dilatih melalui proses pembelajaran yang berlangsung dalam satuan pendidikan.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM). Pendidikan merupakan satu-satunya cara agar manusia dapat menjadi lebih baik dalam meningkatkan sumber daya manusia,
sehingga dapat mengimbangi setiap
perkembangan yang terjadi agar tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi (Roida dan Maya, 2015). Proses pendidikan yang terjadi dalam
satuan pendidikan terus mengalami
guru untuk selalu mencari strategi baru dalam mengahadapi proses pendidikan tersebut.
Pengelolaan proses pendidikan harus
memperhitungkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Karena itu setiap guru wajib mengikuti dengan saksama inovasi-inovasi pendidikan oleh pemerintah seperti belajar tuntas (mastery learning), pendekatan CBSA dan keterampilan proses, muatan lokal dalam kurikulum, dan lain-lainnya agar dapat mengambil manfaatnya (Umar dan La Sulo, 2008). Kemajuan yang sangat pesat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat pemerintah memberlakukan kurikulum 2013 yang menekankan proses pembelajaran saat ini bukan lagi teacher centered melainkan student centered. Penilaiannya pun sudah bukan hanya penilaian pada aspek kognitif saja, melainkan ke penilaian aspek afektif bahkan psikomotor. Maka dari itu, guru harus dapat mencari strategi baru yang dapat mengaplikasikan proses pembelajaran yang ditekankan oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan yang terdapat pada kurikulum, khususnya proses pembelajaran pada mata pelajaran IPA.
Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu memahami
alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu peserta didik
untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills”
(Zulfiani, dkk, 2009). Secara umum IPA dipahami sebagai ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep (Trianto, 2010).
Sistem pencernaan makanan merupakan salah satu konsep yang terdapat pada materi Biologi kelas XI SMA. Berdasarkan pada kompetensi dasar kognitif maupun psikomotor yang terdapat pada kurikulum, materi sistem pencernaan ini menuntut siswa untuk dapat menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem pencernaan dan mengaitkannya dengan nutrisi dan bioprosesnya sehingga dapat menjelaskan proses pencernaan manusia melalui studi literatur, pengamatan, percobaan, dan simulasi serta menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi jaringan pada organ-organ pencernaan yang menyebabkan gangguan sistem pencernaan manusia melalui berbagai bentuk media presentasi. Sehingga, diharapkan peserta didik harus mengetahui dan memahami materi sistem pencernaan makanan bukan hanya dari segi teori saja melainkan didukung dengan prakteknya secara langsung.
Model pembelajaran yang dapat membantu pengaplikasian proses pembelajaran tersebut salah satunya adalah model pembelajaran
inquiry. The National Science Education Standards state that “scientific inquiry is at the heart of science and science learning”. As conceptualized by National Research Council, scientific inquiry includes a range of activities involved and related to the scientific process. Pernyataan ini menyatakan bahwa inquiry adalah jantung dari ilmu pengetahuan. Selain itu, inquiry
Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan (Majid, 2013).
Model pembelajaran free inquiry yang memberikan kebebasan dan kesempatan kepada peserta didik untuk bereksplorasi dengan mengumpulkan fakta-fakta melalui kegiatan observasi ataupun eksperimen sehingga dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu peserta didik terhadap konsep yang dipelajari (Marheni, dkk, 2014). Selama proses pembelajaran, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan model ini adalah adanya kemungkinan peserta didik dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki (Lutfi, 2011).
Pelaksanaan pembelajaran free inquiry
secara umum dapat mengikuti langkah–langkah sebagai berikut: (1) Orientasi, (2) Merumuskan masalah, (3) Merumuskan hipotesis, (4) Mengumpulkan data, (5) Menguji hipotesis (6) Merumuskan kesimpulan (Sanjaya, 2006). Model pembelajaran free inquiry ini berkaitan dengan tahapan-tahapan tindakan para saintis ketika
melakukan kegiatan ilmiah berupa
penyelidikan/investigasi maupun eksperimen. Hal ini sejalan dengan proses pembelajaran peserta didik dalam memahami konsep sistem penceranaan yang mengharuskan peserta didik untuk mengalami/praktek secara langsung.
Penggunaan model pembelajaran free inquiry dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPS), akan melatih peserta didik dalam mengembangkan keterampilan proses sains, kemandirian, dan kreativitas. Sehingga implementasi proses pembelajaran biologi akan
mengalami inovasi baru sesuai dengan tuntutan yang terdapat pada kurikulum, yaitu bukan lagi
teacher centered melainkan student centered.
METODE
Metode penulisan hasil penelitian ini menggunakan kajian pustaka dan dokumentasi. Metode kajian pustaka ini bertujuan untuk membantu peneliti dalam menyelesaikan masalah penelitiannya dengan mengacu pada teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang relevan (Hamdiyati, 2008). Sedangkan dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode kajian pustaka dalam penelitian yang dilakukan. Karena hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada (Sugiyono, 2013).
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI SMAN A Jakarta pada semester genap Tahun Ajaran 2015/2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMAN A Jakarta. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMAN A Jakarta dengan jumlah 32 peserta didik.
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran biologi peserta didik kelas XI SMA pada konsep sistem pencernaan makanan. Selama proses pembelajaran berlangsung, peserta didik dibagi menjadi enam kelompok dan belajar menggunakan model pembelajaran free inquiry yang dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPS).
Data utama yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah deskripsi proses pembelajaran biologi peserta didik pada konsep
sistem pencernaan makanan dengan
menggunakan model pembelajaran free inquiry
zat makanan dan uji vitamin c. Analisis data pada LKPS dilakukan dengan cara memberi skor pada setiap tahapan free inquiry dan menghitung semua skor yang diperoleh setiap kelompok untuk dijadikan skor LKPS yang telah dikerjakan.
PEMBAHASAN
Data hasil penelitian proses pembelajaran berbasis free inquiry pada konsep sistem pencernaan makanan kelas XI SMA yaitu berupa data skor hasil lembar kerja peserta didik dalam kegiatan praktikum, yaitu praktikum uji zat makanan dan uji vitamin c. Lembar kerja peserta didik digunakan sebagai bahan ajar yang berisi praktikum yang dilaksanan dan bertujuan untuk mengembangkan keterampilan proses sains, kemandirian dan kreativitas peserta didik. LKPS dibuat oleh peneliti dengan mengadaptasi dari tahapan free inquiry, oleh karena itu disebut juga LKPS free inquiry. Rekapitulasi hasil penilaian LKPS yang dikerjakan peserta didik pada saat
praktikum uji zat makanan dan uji vitamin c ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Penilaian Lembar Kerja Peserta Didik
Tahapan Free Inquiry
Pert. 1 Pert. 2
Merumuskan Masalah 83.33 88.89 Memprediksi 83.33 0.00 Merumuskan Hipotesis 66.67 88.89 Mengumpulkan Data 83.33 88.89 Menguji Hipotesis 75.00 75.00 Merumuskan Kesimpulan 83.33 72.22 Pertanyaan 83.33 83.33
Rata-rata 79.76 71.03
75.39
Tabel 1. menunjukkan bahwa nilai rata-rata LKPS peserta didik pada saat praktikum uji zat makanan dan uji vitamin c yaitu masing-masing sebesar 79,76 dan 71,03. Secara keseluruhan rerata perolehan skor LKPS peserta didik sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu
Gambar 1. Hasil LKPS praktikum uji zat makanan kelompok peserta didik berbasis free inquiry dengan kategori rendah
Gambar 3. Hasil LKPS praktikum uji zat makanan kelompok peserta didik berbasis free inquiry dengan kategori sedang
Pada pertemuan pertama yaitu praktikum mengenai uji zat makanan, menunjukkan bahwa tahapan yang memiliki pencapaian skor terendah adalah tahapan merumuskan hipotesis dengan skor 66,67. Hal tersebut dikarenakan untuk merumuskan hipotesis peserta didik diminta untuk mengajukan perkiraan penyebab sesuatu terjadi yang harus diungkapkan kebenarannya dengan cara pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkandung cara untuk mengujinya (Andri, dkk, 2012). Sedangkan tahapan yang memiliki skor tinggi yaitu tahapan
merumuskan masalah, memprediksi,
mengumpulkan data, merumuskan kesimpulan dan menjawab pertanyaan, dengan nilai rata-rata 83,33.Pada pertemuan kedua yaitu praktikum mengenai uji vitamin c, menunjukkan bahwa tahapan yang memiliki pencapaian skor terendah adalah tahapan memprediksi, namun tahapan tersebut sebenarnya tidak termasuk ke dalam tahapan dari free inquiry, melainkan hanya tahapan pengembangan dari aspek keterampilan proses sains. Sehingga tahapan dari free inquiry
yang terendah yaitu merumuskan kesimpulan dengan nilai 72,22. Sedangkan tahapan dengan pencapaian skor tertinggi yaitu pada tahapan merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, dan mengumpulkan data.
Berdasarakan pencapaian skor tersebut, menunjukkan bahwa peserta didik sebenarnya dapat diberikan kekebasan dan berpartisipasi aktif pada saat proses pembelajaran berlangsung
dalam memahami konsep sistem pencernaan
makanan, sehingga kemandirian dan
kreativitasnya dapat berkembang walaupun belum sepenuhnya. Tetapi harus tetap memperhatikan kesesuaian konsep yang akan digunakan dan kondisi peserta didik terkait dengan kemandirian serta pengalaman dalam melakukan praktikum agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Selain itu, peserta didik akan lebih memahami konsep sistem pencernaan makanan dikarenakan peserta didik menemukan langsung pengetahuannya melalui proses penyelidikan yang telah dilakukannya.
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Andri, dkk. Peningkatan Keterampilan Prediksi dan Merumuskan Hipotesis Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing. Jurnal Pendidikan Kimia. Universitas Lampung, Lampung. 2012.
Eva Flora Siagian, Roida dan Maya Nurfitriani. Metode Pembelajaran Inquiry dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau dari Kreativitas Belajar. Jurnal Formatif. ISSN: 2088-351X.
Hamdiyati, Yanti. Cara Membuat Kajian Pustaka. Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Guru-guru MGMP Kota Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia. 2008.
Hanauer, D.I., et. all.” Active Assessment: Assessing Scientific Inquiry, Capter 2 Conceptualizing Scientific Inquiry”.
Mentoring in Academia and Industry 2, DOI 10.1007/978-0-387-89649-6_2, ISSBN: 978-0-387-89648-9. 2009.
Lutfi, Muchtar. “Pemahaman Guru Mata
Pelajaran IPA MTs Se-Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara Tentang
Strategi Pembelajaran Inkuiri”. Skripsi
pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang: 2011.
Majid, Abdul. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013.
Marheni, Ni Putu, dkk, Studi Komparasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dan Model Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar dan Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Pembelajaran Sains SMP. Jurnal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA. Vol 4. 2014.
Mudalara, I Putu. “Pengaruh Model
Pembelajaran Inkuiri Bebas Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Gianyar Ditinjau Dari Sikap
Ilmiah”. Tesis pada Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha, Gianyar: 2012.
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikaan.
Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2013.
Tirtarahardja, Umar dan S. L. La Sulo. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008.
Trianto. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010.
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 28 September 2016
PENINGKATAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) PADA KONSEP PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN DAUR ULANG LIMBAH
Mutia Ulfah1, Nengsih Juanengsih2, Meiry Fadilah Noor3
Program Studi Pendidikan Biologi, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email koresponden: 1[email protected], 2[email protected],
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan berpikir kreatif siswa melalui model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain the one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa SMAN 1 Parung Tahun Ajaran 2015/2016. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X MIA 4 yang berjumlah 34 orang. Instrumen penelitian berupa soal uraian sebanyak 13 soal, lembar observasi siswa, lembar observasi guru dan lembar kerja siswa (LKS) berbasis STM sebagai pendukung. Hasil penelitian menunjukkan pada posttest 97,06% siswa memperoleh nilai diatas KKM dengan nilai rata-rata sebesar 86,14. Nilai rata-rata N-gain sebesar 0,73 menunjukkan kategori tinggi dengan pencapaian 67,65% siswa berada pada kategori N-gain tinggi dan 32,35% siswa berada pada kategori N-gain sedang. Berdasarkan uji paired sample t-test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai alfa sebesar 0,05 (sig < α). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara berpikir kreatif siswa pada data pretest dan posttest yang artinya penggunaan model pembelajaran sains teknologi masyarakat (STM) dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah.
Kata Kunci: berpikir kreatif; sains teknologi masyarakat (STM); perubahan lingkungan dan daur ulang limbah
Abstract
This research aims at determining the increase of students’ creative thinking by using Science
Technology Society (STM) learning model on the concept of environmental change and waste recycling. This research was quasi experiment with the one group pretest-posttest design. The population of this research is all student at SMAN 1 Parung academic year 2015/2016. The sampling of this research was taken through purposive sampling. The sample of this reasearch is class X MIA 4 with 34 students. The instruments of this research were an essay test consists of 13 questions, student observation sheet, teacher observation sheet, and student worksheet based STM as a support. The result showed 97,06% students get score above KKM with an average score is 86,14. The average score of the N-gain is 0.73 that showed high category, with 67.65% of students in the high category of gain and 32.35% of students in the medium category of N-gain. Based on paired samples t-test, the significance value 0.000 is less than an alpha value 0.05
(sig <α). This suggests that there were differences of students’ creative thinking on a pretest and
posttest, which means using science society technology (STM) learning model can increasing students' creative thinking on the concept of environmental change and waste recycling.
Keywords: creative thinking; science technology society (STS); environmental change and waste recycling
PENDAHULUAN
Globalisasi mempunyai pengaruh dalam mendorong munculnya berbagai kemungkinan
diperlukan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing sebagai kunci tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan serta mampu memanfaatkan segala macam peluang di era globalisasi tersebut (UU RI No.17, 2007).
Indonesia akan mampu menangkap peluang dan menghadapi era globalisasi jika memiliki sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan inovatif. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif, karena salah satu lembaga yang paling berperan dalam mempersiapkan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah sekolah.
Reformasi pendidikan pun dilakukan dengan menerapkan serangkaian prinsip penyelenggaraan pendidikan. Prinsip yang saat ini diterapkan seperti dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu, dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi berbasis aneka sumber belajar dan prinsip-prinsip lainnya yang sesuai dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi (Permen Diknas RI No. 65, 2013). Selain itu, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan,
“pembelajaran yang relevan dengan kehidupan
begitu penting diterapkan. Hal itu bertujuan untuk
mewujudkan iklim pendidikan yang
menyenangkan bagi siswa. Pendidikan dengan iklim yang menyenangkan dapat meningkatkan
daya imajinasi siswa supaya berpikir kreatif”
(Kompas, 2015). Dengan demikian, melalui pembelajaran yang berorientasi pada permasalahan kehidupan sehari-hari (real world problem) dapat membantu meningkatkan pengembangan berpikir kreatif siswa.
Berpikir kreatif adalah kecakapan mengolah pikiran untuk menghasilkan ide-ide baru dan merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting dalam membangun pilar belajar
yang bernilai untuk membangun daya kompetisi bangsa dalam meningkatkan mutu produk pendidikan (Rahmat, 2012). Kemampuan berpikir kreatif dapat dicapai dengan cara membiasakan siswa untuk melakukan pemecahan masalah. Proses pemecahan masalah dapat mendorong siswa untuk memikirkan solusi-solusi alternatif dalam memecahkan permasalahan tersebut. Sehingga siswa dapat menciptakan banyak ide tentang sebuah topik tertentu (Susanto, 2014). Oleh karena itu, guru harus membiasakan siswa untuk melakukan pemecahan masalah agar kemampuan berpikir kreatif siswa dapat terlatih. Siswa juga menjadi lebih aktif dalam belajar dan mampu mengembangkan potensinya secara mandiri.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk menciptakan iklim pembelajaran yang mampu mengembangkan potensi siswa agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Proses pembelajaran pun harus berpusat pada siswa (student center), sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu sekolah yang dalam proses pembelajarannya telah melibatkan siswa secara aktif adalah SMA Negeri 1 Parung yang berada di wilayah kabupaten Bogor. Sekolah ini telah menerapkan kurikulum 2013 dalam proses pembelajarannya. Hasil wawancara di sekolah tersebut menunjukkan pembelajaran dilaksanakan dengan metode diskusi dan praktikum. Diskusi dilakukan pada saat siswa melakukan presentasi. Sedangkan model pembelajaran yang biasa dilakukan adalah model inkuiri yaitu dengan siswa melakukan praktikum.
memenuhi kebutuhan alat ukur atau instrumen yang sesuai dengan indikator berpikir kreatif siswa. Padahal menurut Peraturan Menteri No. 23 Tahun 2006, Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) SMA bertujuan untuk membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis, kreatif, dan inovatif serta menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan (Permen Diknas RI No. 23, 2006). Oleh karena itu, selain penilaian belajar dalam ranah sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan kinerja (psikomotorik), penilaian berpikir kreatif juga perlu dilakukan sebagai pengukuran dalam mencapai standar kompetensi kelulusan.
Hasil akhir dari proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh ketepatan model pembelajaran yang digunakan dengan konsep yang diajarkan. Joyce dan Weil dalam Rusman berpendapat bahwa, model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain (Rusman, 2012). Proses pembelajaran dilakukan untuk mencapai standar kompetensi kelulusan yang telah ditetapkan, dan kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu dari tujuan dalam standar kompetensi lulusan tersebut. Sehingga, untuk mencapai tujuan tersebut dipilih konsep dan model pembelajaran yang dapat melatih kemampuan berpikir kreatif siswa.
Model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Peningkatan berpikir kreatif tersebut dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Smarabawa, dkk., yang menyatakan bahwa model pembelajaran STM lebih unggul dibandingkan model pembelajaran langsung dalam hal
keterampilan berpikir kreatif (Smarabawa dkk, 2013). STM merupakan suatu usaha untuk menyajikan IPA dengan mempergunakan masalah-masalah dari dunia nyata. STM adalah suatu pendekatan yang mencakup seluruh aspek pendidikan yaitu tujuan, topik/masalah yang akan dieksplorasi, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan/kinerja guru (Zulfiani dkk, 2009).
Konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah pada kelas X SMA merupakan salah satu konsep yang sesuai untuk menerapkan model pembelajaran STM. Hal ini dikarenakan, permasalahan terkait perubahan lingkungan dan limbah masih menjadi permasalahan yang krusial hingga saat ini. Permasalahan terkait perubahan lingkungan dan daur ulang limbah juga merupakan permasalahan yang sering ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, limbah yang dihasilkan baik dari industri ataupun rumah tangga yang pengelolaanya masih belum tepat dan dapat
menganggu keseimbangan lingkungan.
Penggunaan model STM akan melatih siswa dalam menganalisis permasalahan lingkungan yang terjadi, mencari solusi yang kreatif serta mampu mengaitkannya dengan perkembangan sains dan teknologi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga dengan menggunakan model pembelajaran STM diharapkan permasalahan terkait limbah atau sampah ini mendapatkan solusi yang tepat bahkan dapat menjadi peluang bisnis baru.
METODE
Penelitian dilaksanakan dengan
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa SMAN 1 Parung tahun ajaran 2015/2016. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X MIA 4 yang berjumlah 34 orang.
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui berpikir kreatif siswa yang telah diajar dengan menggunakan model STM yaitu dengan menggunakan tes subjektif berupa soal uraian. Soal uraian disusun berdasarkan komponen berpikir kreatif yang hendak dicapai. Selama proses penelitian, peneliti melakukan dua kali tes yaitu pretest (tes awal) untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diberikan perlakuan dan posttest (tes akhir) untuk mengetahui hasil dari perlakuan yang telah diberikan. Soal yang digunakan pada saat pretest dan posttest merupakan soal yang sama agar tidak ada pengaruh perbedaan kualitas. Selain menggunakan tes, peneliti juga menggunakan teknik nontes yaitu berupa lembar kerja siswa (LKS) dan lembar observasi. Lembar kerja siswa digunakan sebagai data pendukung untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif siswa selama diberikan perlakuan. Sedangkan lembar observasi guru dan lembar observasi siswa digunakan untuk menilai aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Analisis data merupakan tahap penting, karena dengan melakukan analisis data, menjadikan data tersebut dapat bermakna dan berguna dalam pemecahan masalah penelitian. Sebelum melakukan analisis data, peneliti memeriksa kembali kelengkapan data dari berbagai sumber, kemudian analisis data dilakukan pada semua data yang sudah terkumpul yaitu : kemampuan berpikir kreatif, hasil observasi aktivitas peserta didik, hasil observasi aktivitas guru, dan lembar kerja siswa berbasis STM.
Selanjutnya, tindakan yang telah dilakukan dianalisis efektivitasnya dengan menggunakan rumus Gain. Gain adalah selisih antara posttest
dengan pretest. Hal ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan berpikir kreatif siswa yang diperoleh setelah kegiatan pembelajaran. Untuk menghitung N-Gain, maka menggunakan rumus sebagai berikut (Meltzer, 2002).
� − ��� =�� � � � − �− � � �
Hasil dari perhitungan dengan
menggunakan rumus tersebut dibandingkan dengan kriteria yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kategori Nilai N-Gain
Nilai N-Gain Kategori
g > 0.7 Tinggi
0,3 ≤ g ≤ 0,7 Sedang g < 0,3 Rendah
Selain itu, dilakukan uji paired sample t test
dengan menggunakan aplikasi SPSS. 20 terhadap data pretest dan posttest untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan model pembelajaran STM terhadap berpikir kreatif siswa. Pedoman pengambilan keputusan dalam uji paired sample t test berdasarkan nilai signifikansi dengan spss yaitu: 1) jika nilai probabilitas atau signifikansi (2-tailed) < 0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara berpikir kreatif siswa pada data pretest dan
posttest yang artinya penggunaan model pembelajaran STM dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah. 2) Sebaliknya, jika nilai probabilitas atau signifikansi (2-tailed) > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara berpikir kreatif siswa pada data pretest dan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil penelitian menjelaskan deskripsi umum dari data yang telah diperoleh. Data-data yang dideskripsikan merupakan data hasil pretest
dan posttest, lembar kerja siswa (LKS), lembar observasi aktivitas siswa dan lembar observasi aktivitas guru. Berikut data pretest dan posttest
berpikir kreatif siswa kelas X MIA 4.
Tabel 2. Data Statistik Pretest dan Posttest
Data Kelas Eksperimen
Pretest Posttest
Nilai Terendah 30,77 67,31 Nilai Tertinggi 65,38 96,15 Nilai rata-rata 50,11 86,14 Median 50,00 86,54
Modus 50,00 88,46
Standar Deviasi 7,07 6,19
Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata pretest yang diperoleh pada kelas eksperimen adalah 50,11. Sedangkan pada
posttest nilai rata-rata sebesar 86,14. Terlihat bahwa setelah dilakukan pembelajaran dengan model pembelajaran STM kemampuan berpikir kreatif siswa mengalami peningkatan sebesar 36,03 poin. Kemudian tindakan yang telah dilakukan dianalisis efektivitasnya dengan menggunakan rumus Gain. Berdasarkan hasil perhitungan N-gain diperoleh data pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Hasil N-Gain
Normal Gain (N-Gain) Kelas Eksperimen
Nilai Terendah 0,37 Nilai Tertinggi 0,89 Nilai rata-rata 0,73 Kategori Tinggi
Berdasarkan hasil N-gain pada Tabel 3, nilai rata-rata N-gain siswa pada kelas eksperimen yaitu sebesar 0,73 yang menunjukkan kategori tinggi. Hal itu menunjukkan, bahwa siswa pada kelas tersebut mengalami peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Persentase jumlah siswa pada N-gain ditunjukkan pada Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Persentase N-Gain
Kategori N-Gain Kelas Eksperimen (%)
Tinggi 67,65
Sedang 32,35
Rendah 0,00
Berdasarkan Tabel 4, hasil N-gain menunjukkan semua siswa berada pada kategori sedang dan tinggi. Siswa yang berada pada kategori N-gain tinggi sebanyak 67,65% lebih banyak dibandingkan siswa yang berada pada kategori sedang yaitu 32,35%. Hal ini, menunjukkan bahwa siswa yang mengalami rpeningkatan kemampuan berpikir kreatif yang tinggi lebih banyak dibandingkan siswa yang mengalami peningkatan kemampuan berpikir kreatif yang sedang.
Berdasarkan perhitungan persentase rata-rata ketercapaian komponen berpikir kreatif pada kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Persentase Ketercapaian Komponen Berpikir Kreatif pada Pretest, Posttest dan N-Gain
Komponen Berpikir Kreatif Pretest (%) Posttest (%) N-Gain
Eksperimen Eksperimen Eksperimen
Fluency 67,65 92,89 0,73
Flexibility 43,01 93,75 0,89
Originality 64,71 91,54 0,77
Elaboration 38,97 83,33 0,72
Evaluation 38,73 73,53 0,56
Tabel 5 menunjukkan persentase pencapaian berpikir kreatif pada setiap komponen berdasarkan data pretest, posttest dan N-Gain. Terlihat bahwa terdapat peningkatan ketercapaian komponen berpikir kreatif dari
pretest ke posttest. Terlihat rata-rata persentase ketercapaian berpikir kreatif meningkat dari 50,61% menjadi 87,01%. Nilai N-gain pada empat kemampuan berpikir kreatif yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration berada pada kategori tinggi. Kemampuan berpikir kreatif yang masih berada pada kategori sedang yaitu
evaluation. Namun, secara keseluruhan nilai rata-rata N-gain pada kelas eksperimen tersebut sudah termasuk dalam kategori tinggi.
Pada perhitungan persentase rata-rata ketercapaian komponen berpikir kreatif dalam LKS dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Persentase Ketercapaian Komponen Berpikir Kreatif pada LKS Berbasis STM
Komponen Berpikir
Tabel 6 menunjukkan persentase pencapaian berpikir kreatif pada setiap komponen berdasarkan hasil kerja kelompok belajar siswa dalam mengerjakan LKS berbasis STM. Terlihat bahwa ketercapaian paling tinggi yaitu pada komponen flexibility, sedangkan paling rendah pada komponen originality. Namun, secara keseluruhan nilai rata-rata ketercapaian komponen berpikir kreatif pada LKS STM menunjukkan hasil yang baik yaitu 86,48.
Hasil perhitungan persentase rata-rata ketercapaian komponen berpikir kreatif berdasarkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7. Persentase Ketercapaian Komponen Berpikir Kreatif Berdasarkan Aktivitas Siswa Selama
Proses Pembelajaran bahwa rata-rata persentase ketercapaian komponen berpikir kreatif berdasarkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran adalah 70,00. Terlihat pada kelas eksperimen ketercapaian persentase tertinggi terdapat pada komponen
fluency dan flexibility dengan ketercapaian persentase sebesar 75%. Sedangkan ketercapaian persentase terendah terdapat pada komponen
originality yaitu sebesar 62,50%.
Hasil persentase keterlaksanaan aktivitas guru dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa persentase keterlaksanaan aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran STM yaitu semua tahapan dalam proses pembelajaran telah guru laksanakan. Sehingga dapat terlihat bahwa persentase keterlaksanakan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran dengan model STM pada pertemuan pertama dan kedua telah mencapai 100%.
Berdasarkan hasil uji prasyarat diperoleh hasil uji normalitas 0,571 untuk data pretest dan 0,536 untuk data posttest lebih besar dari nilai alfa sebesar 0,05 (sig > α). Dengan demikian, data berdistribusi normal. Untuk uji homogenitas diperoleh hasil 0,190 lebih besar dari nilai alfa
sebesar 0,05 (sig > α). Dengan demikian, data
pretest dan posttest homogen. Selanjutnya untuk hasil uji paired sample t-test diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai
alfa sebesar 0,05 (sig < α). Hal ini menunjukkan
posttest yang artinya penggunaan model pembelajaran STM dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah.
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui model pembelajaran sains teknologi masyarakat (STM). Penelitian untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif, dilihat dari hasil N-gain. Terlihat bahwa rata-rata N-gain berada pada kategori tinggi yaitu 0,73 dengan pencapaian 67,65% siswa berada pada kategori tinggi dan 32,35% siswa berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa setelah diberikan perlakuan, kelas eksperimen tersebut menunjukkan kenaikan nilai yang sangat signifikan. Maka model pembelajaran STM memiliki pengaruh yang baik di kelas eksperimen sehingga kelas tersebut menunjukkan kenaikan nilai yang signifikan.
Hasil ini dicapai karena dalam penerapannya model pembelajaran STM menggunakan permasalahan dalam proses pembelajarannya. Pada model pembelajaran
STM masalah yang diajukan dengan
memanfaatkan isu lingkungan dalam proses pembelajaran. Sintaks pada model pembelajaran STM memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, karena siswa dilatih untuk mengungkapkan isu-isu sains teknologi di masyarakat serta dilatih untuk mencari jawaban atas isu-isu tersebut (Smarabawa dkk, 2013).
Berdasarkan ketercapaian persentase siswa pada kelima komponen berpikir kreatif, terlihat adanya kenaikan yang sangat signifikan dari
pretest ke posttest. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Grafik Ketercapaian Komponen Berpikir Kreatif pada Pretest dan Posttest
Berdasarkan Gambar 1, terlihat bahwa adanya kenaikan yang signifikan persentase ketercapaian komponen berpikir kreatif dari sebelum diberikan perlakuan dan sesudah diberikan perlakuan. Terlihat bahwa pada posttest
berpikir kreatif paling tinggi terdapat pada komponen flexibility yaitu 93,75% dan paling rendah terdapat pada komponen evaluation yaitu 73,53%. Namun, secara keseluruhan rata-rata persentase ketercapaian berpikir kreatif meningkat dari 50,61% menjadi 87,01%. Hasil ini didukung oleh data N-gain, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Grafik Ketercapaian Komponen Berpikir Kreatif pada N-Gain
permasalahan yang pernah mereka lihat. Hal ini juga didukung dengan persentase ketercapaian pada LKS bahwa pada komponen fluency
persentase ketercapaian kelas eksperimen tersebut juga tinggi yaitu sebesar 91,18%. Sehingga kemampuan berpikir kreatif siswa pada komponen fluency menjadi terlatih dan berdampak positif pada meningkatnya nilai mereka dari pretest ke posttest.
Komponen flexibility memiliki
ketercapaian N-gain yang paling tinggi yaitu 0,89. Hal ini dikarenakan pada model pembelajaran STM siswa harus memberikan solusi atau gagasan terhadap suatu masalah dengan mengaitkannya pada bidang sains, teknologi dan juga bagaimana penerapan ataupun dampak dari sains dan teknologi itu bagi masyarakat. Siswa dituntut untuk lebih luwes dalam menyikapi permasalahan dan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Siswa dituntut untuk melihat suatu permasalahan dan mencari solusinya dari berbagai sudut pandang. Hal ini juga didukung dengan persentase ketercapaian pada LKS bahwa pada komponen flexibility
persentase ketercapaian yang sangat tinggi yaitu sebesar 100%.
Pada komponen originality N-gain menunjukkan kategori tinggi yaitu 0,77. Hal ini dikarenakan pada model pembelajaran STM siswa dilatih untuk dapat memberikan argumen/gagasan yang dikaitkan dengan bidang sains dan teknologi, sehingga siswa dapat memberikan ide-ide baru yang dapat mereka kaitkan baik dengan bidang sains, teknologi ataupun dengan integrasi dari keduanya. Hal ini juga didukung dengan persentase ketercapaian pada LKS bahwa pada komponen originality
persentase ketercapaian juga menunjukkan hasil yang cukup tinggi yaitu 78,49%.
Pada komponen elaboration N-gain menunjukkan kategori tinggi yaitu 0,72. Hal ini dikarenakan pada model pembelajaran STM terdapat tahapan pemantapan konsep sehingga siswa terlatih dalam proses berpikir memerinci
(elaboration). Hal ini juga didukung dengan persentase ketercapaian pada LKS bahwa pada komponen elaboration persentase ketercapaian juga menunjukkan hasil yang tinggi yaitu 81,13%.
Pada komponen evaluation N-gain menunjukkan kategori sedang yaitu 0,56. Hal ini dikarenakan siswa merasa cukup kesulitan untuk memberikan saran-saran dan alasan berdasarkan pendapatnya sendiri, namun harus tetap dikaitkan dengan sains dan teknologi. Meskipun hasil N-gain berada pada kategori sedang, namun persentase ketercapaian pada LKS pada komponen evaluation menunjukkan persentase ketercapaian yang tinggi yaitu 81,62%. Hal ini dikarenakan siswa merasa lebih mudah untuk memberikan saran dan alasan jika bekerja secara kelompok karena mereka bisa saling bertukar pendapat dalam memberikan saran serta alasan dari suatu persoalan. Secara keseluruhan, terlihat bahwa penggunaan model pembelajaran STM memiliki pengaruh yang baik dalam meningkatkan berpikir kreatif siswa.
Hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran menunjukkan bahwa perilaku siswa selama proses pembelajaran telah memunculkan kelima komponen berpikir kreatif dengan rata-rata persentase ketermunculan komponen berpikir kreatif pada aktivitas siswa sebesar 70%. Hasil persentase keterlaksanaan aktivitas guru dalam proses pembelajaran juga menunjukkan bahwa semua tahapan dalam proses pembelajaran telah guru laksanakan. Sehingga dapat terlihat bahwa persentase keterlaksanakan aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran dengan model STM pada pertemuan pertama dan kedua telah mencapai 100%. Sehingga hasil akhir dari penerapan model pembelajaran ini yaitu terlihat adanya peningkatan berpikir kreatif siswa di kelas eksperimen tersebut.
Berdasarkan hasil uji paired sample t-test
kecil dari nilai alfa sebesar 0,05 (sig < α). Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara berpikir kreatif siswa pada data
pretest dan posttest yang artinya penggunaan model pembelajaran STM dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah.
Sehingga dapat diketahui bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Heni Desianti, dkk., bahwa keterampilan berpikir kreatif siswa setelah belajar dengan menggunakan perangkat pembelajaran IPA setting STM yang dikembangkan lebih baik dari pada keterampilan berpikir kreatif siswa sebelum belajar dengan menggunakan perangkat
pembelajaran IPA setting STM yang
dikembangkan. Secara umum, dimensi keterampilan berpikir kreatif yang paling banyak mengalami peningkatan adalah berpikir lancar, berpikir luwes, dan berpikir orisinil karena siswa lebih mudah memahami cara berpikir tersebut, sesuai dengan tingkat perkembangan dan pemahaman siswa, sedangkan berpikir elaboratif dan mengevaluasi tidak semua siswa bisa melakukannya dengan baik (Desianti dkk, 2015). Selanjutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smarabawa, dkk., bahwa skor rata-rata setiap aspek berpikir kreatif pada model pembelajaran STM lebih tinggi dibandingkan model pembelajaran langsung. Hasil ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran STM terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa (Smarabawa dkk, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat bahwa model pembelajaran STM memberikan pengaruh yang baik dalam meningkatkan berpikir kreatif siswa. Hal ini dikarenakan model pembelajaran STM dalam tahapan pembelajarannya menuntun siswa untuk memecahkan suatu permasalahan. Sehingga kemampuan berpikir kreatif siswa pun terlatihkan
dengan menggunakan model pembelajaran STM ini.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat
disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran sains teknologi masyarakat (STM) pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa. Adanya peningkatan berpikir kreatif siswa terlihat dari nilai posttest yang menunjukkan 97,06% siswa memperoleh nilai diatas KKM dengan nilai rata-rata sebesar 86,14. Selain itu, rata-rata nilai N-gain siswa berada berada pada kategori tinggi yaitu 0,73 dengan pencapaian 67,65% siswa berada pada kategori N-gain tinggi dan 32,35% siswa berada pada kategori N-gain sedang. Pada uji paired sample t-test juga diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih
kecil dari nilai alfa sebesar 0,05 (sig < α). Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara berpikir kreatif siswa pada data
pretest dan posttest yang artinya penggunaan model pembelajaran sains teknologi masyarakat (STM) dapat meningkatkan berpikir kreatif siswa pada konsep perubahan lingkungan dan daur ulang limbah.
SARAN
maupun mata pelajaran lainnya baik untuk memecahkan masalah yang muncul ataupun untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Desianti, N. W. Heni, dkk. 2015. Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA dengan Setting Sains Teknologi Masyarakat untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMP. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 5, h. 9-10.
Kompas. 2015. Mendikbud: Guru Jangan Tertutup saat Memberi Pelajaran!. Diakses dari
http://edukasi.kompas.com/read/2015/04/0 8/07300021/Mendikbud.Guru.Jangan.Tert utup.saat.Memberi.Pelajaran. (20 Maret 2016)
Meltzer, David E. 2002. The Relationship between mathematics preparation and conceptual learning gains in physics: A
possible “hidden variable” in diagnostic
pretest scores. American Association of Physics Teacher, h. 1260.1261.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 23. Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Direktorat jenderal Pendidikan RI, 2006.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 65. Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Direktorat jenderal Pendidikan RI, 2013.
Rahmat. 2012. Mengasah Keterampilan Berpikir Kreatif. Diakses dari http://gurupembaharu.
com/home/mengasah-keterampilan-berpikir-kreatif-siswa/. (20 Maret 2016)
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran.
Jakarta: Rajawali Pers.
Smarabawa, dkk. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat Terhadap Pemahaman Konsep Biologi dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA.
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 3, h. 7.
Susanti, Herni. 2015. Menyikapi Pengaruh Globalisasi. Diakses dari http://www. neraca.co.id/article/54331/menyikapi-pengaruh-globalisasi. (20 Maret 2016)
Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenamedia Group.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 17.
Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025.
Jakarta: Direktorat jenderal Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2007.
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 28 September 2016
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A
MATCH DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK DI
SMA NEGERI 11 TANGERANG SELATAN
Eny Rosyidatun, Sukarlin, Annisaa Meyrizka K. P
Program Studi Pendidikan Biologi, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email koresponden: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunan model make a match untuk meningkatkan minat belajar biologi di SMA Negeri 11 Kota Tangerang Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Sampel penelitian berjumlah 29 peserta didik dipilih dengan teknik purposive sampling, dan adapun penentuan kelas tindakan dilakukan secara random oleh guru. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket minat belajar dan lembar observasi aktivitas belajar mengajar yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (classroom action research), dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan minat belajar peserta didik pada materi sistem hormon di kelas XI IPA 3 SMA Negeri 11 Tangerang Selatan, hal ini terlihat dari keseluruhan nilai angket minat belajar peserta didik, yang apabila dirata-ratakan mempunyai skor 83,3 skor tersebut termasuk ke dalam kategori “tinggi”. Selain itu, penerapan model pembelajaran make a match juga dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari persentase nilai aktivitas belajar peserta didik pada setiap siklusnya, yaitu siklus I (80-86,6%) dan siklus II (96,6%). Terakhir penerapan model pembelajaran make a match juga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik hal ini dapat dilihat dari persentase jumlah peserta didik yang dapat dikategorikan tuntas karena memenuhi KKM pada setiap siklusnya, yaitu siklus I (55%) dan siklus II (90%), dan rata-rata hasil belajar peserta didik setiap siklusnya juga mengalami peningkatan secara signifikan yaitu siklus I (72,8) dan siklus II rata-rata hasil belajar peserta didik meningkat menjadi (84,1).
Kata Kunci: minat belajar; model pembelajaran kooperatif; make a match
Abstract
This study aims to determine the use of the model make a match to increase interest in learning biology in SMA Negeri 11 of South Tangerang. Method research was classroom action research. Samples who are 29 students were chosen by purposive sampling technique, and the class was chosen randomly by teacher. The research instrument used were a questionnaire interest in learning and teaching and learning activity observation sheet that has been tested for validity and reliability. Data analysis was performed by calculating the total score for each indicator and converted into percentage form. Based on the results of classroom action research, it can be concluded that the implementation of cooperative learning model typed make a match can increase the interest of learners in the material hormonal system in class XI IPA 3 SMAN 11 Tangerang, as seen from the overall value of the questionnaire interests of learners, which averaged scores 83.3 is categorized as "high". In addition, application of learning models make a match can also increase the activity of learners for participating in learning activities. It can be seen from the percentage of the value of the learning activities of students in each cycle, the first cycle (80 to 86.6%) and cycle II (96.6%). Last application of learning models make a match can also improve learning outcomes of students which can be seen from the percentage of students who can be considered complete because it meets the KKM in each cycle, the first cycle (55%) and the second cycle (90%), and average learning outcomes of students in each cycle also increased significantly, namely the first cycle (72.8) and the second cycle average learning outcomes of students increased to (84.1).
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu bagian yang penting bagi kehidupan manusia dalam
mengembangkan kepribadian dan
kemampuannya yang berlangsung seumur hidup. Melalui pendidikan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan wawasan manusia akan terus
berkembang, guna memperoleh ilmu
pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Dalam proses mengajar, guru harus bisa memilih dan menggunakan beberapa metode mengajar. Banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh para guru.Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.Metode pembelajaran adalah pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas.Menurut Arends dalam Suprijono “Metode pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar” (Suprijono, 2012).
Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya yang berjudul Kurikulum dan Pembelajaran
mengungkapkan “Pendidikan adalah suatu proses
dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan berfungsi dalam
kehidupan bermasyarakat”.
Hal ini berarti bahwa pendidikan merupakan suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup yang mengarah kepada tujuan yang hendak dicapai.Dengan demikian pendidikan menjadi tanggung jawab semua yang meliputi orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Hal ini
menunjukkan bahwa pemerintah harus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan, karena melalui pendidikanlah akan terbentuk karakter dan pengetahuan seseorang yang dapat digunakan untuk mencapai kesejahteraan hidup dan dapat membantu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna untuk merubah keadaan suatu bangsa menjadi lebih baik dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas (Isjoni, 2011).
Masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia biasanya karena orientasi pembelajaran di Indonesia cenderung masih bersifat teacher centered atau berpusat pada guru sehingga membuat peserta didik menjadi lebih pasif, sedangkan model pembelajaran yang seharusnya digunakan oleh seorang guru harus membuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran, karena keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sangat tergantung dari pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh peserta didik itu sendiri. Oleh karena itu keaktifan peserta didik dalam menjalani proses belajar mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan pencapain tujuan pembelajaran. Keaktifan peserta didik dalam proses belajar mengajar dapat mempengaruhi tingkat pemahaman seorang peserta didik, tingkat pemahaman seorang peserta didik akan mempengaruhi hasil belajar yang ia peroleh, hasil belajar adalah salah satu indikator yang bisa digunakan untuk mengukur tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran dan untuk mengukur keberhasilan belajar seseorang.
suatu pekerjaan atau guru yang memengaruhinya. Minat yang besar akan mendorong individu untuk melakukan hal-hal yang lebih baik. Oleh karena itu, minat mempunyai dampak yang sangat besar atas perilaku dan sikap seseorang terhadap segala sesuatu.
Pada dasarnya kegiatan atau perbuatan yang dilakukan setiap orang didasari oleh kecenderungan atau minat. Minat melahirkan perhatian dan hal ini memungkinkan seseorang melakukan sesuatu dengan tekun untuk jangka waktu yang lama. Minat merupakan landasan penting bagi seseorang untuk melakukan kegiatan dengan baik sebagai suatu aspek kejiwaan, minat bukan saja dapat memengaruhi tingkah laku seseorang, tapi juga dapat mendorong orang untuk tetap melakukan dan memperoleh sesuatu. Hal itu sejalan dengan yang dikataka oleh S. Nasution bahwa pelajaran akan berjalan lancar apabila ada minat, anak-anak malas, tidak belajar, gagal, karena tidak ada minat (Nasution, 1998). Dan belajar akan sangat sulit apabila tidak ada minat belajar.
Dalam pembelajaran biologi terutama pada konsep sistem hormon, minat mempunyai peran yang sangat penting, bila seorang peserta didik tidak memiliki minat yang besar untuk belajar maka sulit diharapkan peserta didik tersebut akan tekun memperoleh hasil yang baik dari belajarnya, sebaliknya apabila peserta didik tersebut belajar dengan minat yang besar, maka hasil yang diperoleh lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh Usman Efendi dan Juhaya S. Praja bahwa belajar dengan minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat (Efendi, 1993).
Proses belajar mengajar baru dapat berlangsung secara efektif dan efisien, jika terdapat minat dan perhatian penuh dari peserta didik, dalam bukunya Bobbi De Porter, Mark Readrdor dan Sarah singer Nourle yang sangat sukses dengan judul quantum teaching memberikan informasi dari sebuah penelitian
yang menunjukkan bahwa peserta didik yang memiliki konsentrasi penuh akan belajar lebih cepat dan lebih mudah. Selain itu, mereka mengingat informasi lebih lama (Porter, Readrdor, & Nourle, 2000).
Dengan demikian, guru sebagai seorang pendidik harus dapat memaksimalkan proses kegiatan belajar. Guru harus dapat mengetahui keadaan yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar, keadaan peserta didik yang memiliki konsentrasi atau perhatian yang penuh tentu akan dapat dengan mudah menerima pelajaran yang diberikan kepadanya, perhatian atau konsentrasi yang penuh dari peserta didik itu merupakan indikator adanya minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru.
Bila kegiatan belajar sesuai dengan minat peserta didik, maka kegiatan itu akan berjalan dengan baik, karena adanya daya tarik bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan tersebut. Berbeda dengan peserta didik yang tidak berminat dalam belajar, maka ia tidak akan terdorong untuk belajar karena tidak ada daya tarik baginya untuk melakukan kegiatan tersebut, terlebih pandangan para peserta didik untuk pelajaran yaitu sangat sulit karena siklus pembelajaran biologi yang begitu panjang dan kontinu serta saling berhubungan. Oleh karena itu untuk meningkatkan belajar peserta didik perlu ditingkatkan minat belajar peserta didiknya.
akan berperan sebagai “Motivating Force” (Sabri, 1995).
Dari keterangan diatas, dapat dijelaskan peserta didik yang memiliki minat belajar dengan peserta didik yang tidak memiliki minat belajar akan terdapat perbedaan, perbedaan tersebut tampak jelas dengan ketekunan yang terus-menerus. Peserta didik yang memiliki minat belajar maka ia akan terus tekun ketika belajar sedangkan peserta didik yang tidak memiliki minat belajar walaupun ia mau untuk belajar akan tetapi ia tidak terus untuk tekun dalam belajar.
Begitu pula dalam proses belajar mengajar dalam mata pelajaran biologi. Dalam belajar biologi, banyak sekali peserta didik yang masih kurang memerhatikan pelajaran karena masih kurangnya minat peserta didik dalam pembelajaran biologi. Dalam pembelajaran biologi terdapat siklus-siklus, tahapan-tahapan atau proses-proses yang harus dipahami, dimana antara siklus itu berkontinu atau berhubungan satu sama lainya. Dalam hal ini biasanya guru biologi akan lebih sering menggunakan proyektor dalam pembelajaran, sehingga biasanya mendatangkan kebosanan kepada peserta didik, dan apabila terjadi kebosanan pada peserta didik maka akan berpengaruh kepada minat peserta didik tersebut untuk membaca dan mengikuti proses belajar.
Dalam proses belajar mengajar salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan minat belajar peserta didik, salah satu faktornya yaitu model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam pembelajaran. Salah satu dari model pembelajaran yang digunakan pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dimulai dari peserta didik yang mencari pasangan kartu berupa pertanyaan dan jawaban (Lorna, 1994). Peserta
didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang ditentukan akan diberikan point. Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah dapat digunakan untuk semua mata pelajaran dan untuk anak semua usia anak didik. Penerapan model pembelajaraan kooperatif tipe
make a match ini memungkinkan peserta didik mencari pasangan sambil belajar mengenai konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan (Saputra, dkk., 2000).
Pembelajaran kooperatif tipe make a match
adalah suatu model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas peserta didik dalam mencari dan mengolah informasi yang telah mereka dapatkan dari berbagai sumber. Model pembelajaran tipe make a match ini diupayakan menjadi model yang tepat digunakan dalam proses pembelajaran, karena model ini
dikemas dalam bentuk model yang
menyenangkan sehingga para guru diharapkan untuk mencoba menerapkan model ini dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin meneliti lebih dalam lagi dan menyusun laporan penelitian yang
berjudul “Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Make a Match Dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik Pada
Konsep Sistem Hormon”
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas atau yang lebih dikenal dengan Classroom Action Research.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Penelitian ini diawali dengan menggunakan penelitian pendahuluan (pra penelitian) dan yang nantinya akan dilanjutkan dengan siklus. Dalam hal ini, yang dimaksud siklus adalah satu putaran kegiatan bertuntun yang kembali ke langkah semula. Dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini di desain menjadi dua siklus, siklus pertama dilakukan dalam dua pertemuan dalam satu minggu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Berdasarkan gambar 1 menurut indikator keberhasilan aktivitas belajar peserta didik telah
mencapai kriteria yang “sangat baik” terlihat
bahwa aktivitas belajar peserta didik selalu
mempunyai kriteria “sangat baik” dan persentase
skor yang dihasilkan selama berlangsungnya siklus I dan II mengalami peningkatan semakin berjalannya waktu aktivitas belajar peserta didik semakin meningkat.
Gambar 1. Hasil Aktivitas Belajar Peserta Didik
Gambar 2. Hasil Belajar Peserta Didik Siklus I dan Siklus II