BAB II. Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya
D. Udara
Udara merupakan salah satu kebutuhan utama bagi kehidupan. Manusia dapat tidak makan atau minum selama beberapa jam, bahkan sampai beberapa hari, tapi jika tidak menghirup udara beberapa menit saja akan menyebabkan kematian. Kepedulian terhadap pencemaran udara masih sangat rendah bila dibandingkan dengan kepedulian terhadap pencemaran air. Jika suatu pagi melihat air keluar dari kran terlihat kotor, kita begitu kaget dan langsung bereaksi serta mengupayakan perbaikan seketika. Mengapa ada reaksi secepat itu? Karena air kotor tersebut terlihat langsung oleh mata dan terasa langsung oleh indera perasa. Namun, apa yang dilakukan orang ketika terjadi pencemaran udara? Tentu tidak akan sereaktif ketika melihat air keruh, kecuali pencemaran yang langsung terasa, seperti asap kebakaran atau bau sampah/kotoran.
Perlu kita sadari bahwa penyebab penurunan kualitas udara lebih banyak diakibatkan oleh tingkah laku manusia daripada akibat aktivitas alam sendiri. Pertambahan jumlah penduduk, peningkatan transportasi, kemajuan industri dan teknologi akan membawa dampak penurunan kualitas udara yang pada akhirnya berujung pada pemanasan global, meningkatnya suhu bumi dan mempengaruhi iklim dunia. Aktivitas kehidupan manusia melibatkan banyak kegiatan, dari kegiatan kecil merokok, merebus air untuk kopi, pergi bekerja naik kendaraan, penggunaan energi untuk melihat TV sampai dengan proses yang lebih besar, yaitu industri, ternyata memberi dampak pada lingkungan. Banyak orang beranggapan bahwa merokok, membakar sampah, membakar batubara, minyak bumi dan lainnya, prosesnya telah selesai begitu saja karena asap telah hilang berbaur dengan udara. Namun sebenarnya tidak demikian, dampak dari pembakaran itu sangat luar biasa dalam jangka panjang, yaitu pemanasan global. Gejala terjadinya pemanasan global dapat diamati dan dirasakan dengan adanya pergantian musim yang tidak bisa diprediksi, hujan badai sering terjadi di mana-mana, sering terjadi angin puting beliung, banjir dan kekeringan terjadi pada waktu yang bersamaan dan penyakit mewabah di banyak tempat serta terumbu karang memutih.
Salah satu upaya untuk mengendalikan pencemaran udara adalah dengan melakukan pemantauan kualitas udara. Dengan pemantauan kualitas udara yang dilakukan secara terus menerus, kita dapat mengetahui kondisi kualitas udara saat ini dan kecenderungannya di masa yang akan datang, sehingga bila ada indikasi kualitas udara akan semakin memburuk, kita dapat melakukan pengendalian dan merancang kebijakan, program maupun kegiatan yang untuk menanggulangi semakin memburuknya kualitas udara.
Pemantauan kualitas udara dibedakan menjadi dua, yaitu pemantauan kualitas udara ambien dan pemantauan kualitas udara emisi dari sumbernya. Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, mahluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnya, sedangkan udara emisi adalah udara yang dikeluarkan dari setiap usaha dan atau kegiatan yang mengeluarkan emisi dari sumbernya. Selama ini pemantauan kualitas udara lebih ditekankan pada udara ambien, di mana udara ambien merupakan percampuran sumber pencemar yang berasal dari industri, kendaraan bermotor maupun domestik dengan udara sekitarnya.
Pemantauan kualitas udara ambien di Gunungkidul pada tahun 2014 dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Pengambilan sampel untuk pemantauan kualitas udara ambien tahun 2014 dilakukan di 7 titik sebagai berikut :
1. Simpang tiga Sambipitu, Bunder, Patuk, sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan transportasi
2. Simpang empat Kantor Pos Wonosari (alun-alun Wonosari), sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan transportasi dan perkantoran
3. Taman Parkir depan Pasar Argosari, Wonosari, sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan perkantoran, pertokoan/pasar dan transportasi
4. Kawasan industri Mijahan, Semanu, sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan industri dan tranportasi
5. Simpang tiga Bedoyo, Ponjong, sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan industri dan transportasi
6. Simpang empat Karangmojo, sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan transportasi
7. Pasar Semin, sumber pencemar utama di lokasi ini adalah dari kegiatan perdagangan (pasar) dan transportasi
Pemantauan kualitas udara ambien pada tahun 2014 dilaksanakan bekerja sama dengan Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Parameter dan baku mutu udara ambien yang dipantau sesuai dengan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 153 Tahun 2002 tentang Baku Mutu Udara Ambien Daerah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan untuk parameter kebisingan sesuai dengan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 176 Tahun 2003 tentang Baku Tingkat Getaran, Kebisingan dan Kebauan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.29. Parameter yang dipantau, baku mutu dan metode pengujian kualitas udara ambien
PARAMETER SATUAN BAKU MUTU METODE
NO2(Nitrogen dioksida µg/m3 400 Spektrofotometri
SO2(Sulfur dioksida) µg/m3 900 Spektrofotometri
Ox µg/m3 235 Spektrofotometri
CO (Karbon monoksida) µg/m3 30.000 Spektrofotometri
Pb (Timah hitam) µg/m3 2 Spektrofotometri
Partikel (debu) µg/m3 230 Gravimetri
Kebisingan dBA (Leq) 70 Gravimetri
Di 7 lokasi pengambilan sampel untuk pengujian kualitas udara ambien, memiliki sumber pencemar udara yang berbeda-beda. Sumber pencemar utama di masing-masing lokasi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Sambipitu : transportasi
b. Alun-alun Wonosari : transportasi dan perkantoran
c. Taman Parkir : perkantoran, pertokoan/pasar dan transportasi d. Mijahan : industri dan tranportasi
e. Bedoyo : industri dan transportasi
f. Karangmojo : transportasi dan perdagangan g. Semin : perdagangan (pasar) dan transportasi
Hasil pengukuran parameter-parameter kualitas udara ambien di 7 titik lokasi dapat dilihat pada tabel 2.30. berikut ini :
Tabel 2.30. Hasil pengukuran parameter-parameter kualitas udara ambient
No Lokasi Parameter Satuan Hasil Pengukuran
April Oktober
1. Sambipitu NO2 µg/m3 46,63 16,68
SO2 µg/m3 30,22 20,90
Ox µg/m3 4,50 4,24
CO µg/m3 508,44 499,94
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 120,27 110,92
Kebisingan dBA (Leq) 68,7 72,5
2. Alun - alun NO2 µg/m3 31,54 19,24
SO2 µg/m3 19,14 12,75
Ox µg/m3 11,38 5,00
CO µg/m3 432,51 246,91
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 41,68 124,99
Kebisingan dBA (Leq) 73,2 69,8
3. Taman Parkir NO2 µg/m3 26,26 25,21
SO2 µg/m3 22,45 22,59
Ox µg/m3 6,68 8,56
CO µg/m3 641,99 345,53
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 103,92 135,99
No Lokasi Parameter Satuan Hasil Pengukuran April Oktober 4. Mijahan NO2 µg/m3 43,15 38,47 SO2 µg/m3 102,97 90,79 Ox µg/m3 7,25 6,41 CO µg/m3 760,70 1288,73
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 157,03 157,64
Kebisingan dBA (Leq) 62,4 62,4
5. Bedoyo NO2 µg/m3 34,62 43,35
SO2 µg/m3 67,30 73,48
Ox µg/m3 12,80 5,72
CO µg/m3 549,30 431,84
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 135,31 136,76
Kebisingan dBA (Leq) 56,6 58,1
6. Karangmojo NO2 µg/m3 17,05 18,41
SO2 µg/m3 38,36 43,20
Ox µg/m3 5,43 5,67
CO µg/m3 549,30 212,40
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 77,32 112,70
Kebisingan dBA (Leq) 75,2 70,8
7. Semin NO2 µg/m3 40,3 10,97
SO2 µg/m3 50,83 78,92
Ox µg/m3 10,39 7,63
CO µg/m3 877,08 818,01
Pb µg/m3 Di bawah LOD Di bawah LOD
Partikel µg/m3 57,69 84,52
Kandungan NO2(Nitrogen Dioksida)
Nitrogen dioksida (NO2) terbentuk ketika pembakaran terjadi di udara bebas. Sumber utama NO2 adalah dari aktifitas transportasi. NO2berwarna kemerahan dan sedikit berbau, mudah larut dalam air, bereaksi dengan air menjadi asam nitrit atau nitrat. Kandungan NO2 yang melewati ambang batas dalam udara ambien dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan, antara lain menimbulkan iritasi tenggorokan, mata dan hidung. Dampak NO2terhadap tanaman dapat merusak klorofil dan menghambat fotosintesis tanaman.
Ambang batas kandungan NO2menurut Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 153 Tahun 2002 adalah sebesar 400 µg/m3. Hasil pemantauan di 7 titik lokasi, pada pemantauan bulan April kandungan NO2berkisar antara 17,05 – 46,63 µg/m3, sedangkan pada pemantauan bulan Oktober berkisar antara 18,41 – 43,35 µg/m3, yang berarti kandungan NO2, baik pada pemantauan bulan April maupun Oktober masih jauh di bawah ambang batasnya.
Grafik 2.17 Kandungan NO2di 7 titik pantau pada bulan April dan Oktober
Lokasi dengan kandungan NO2 terendah pada pemantauan bulan April maupun bulan Oktober adalah di Karangmojo, sedangkan kandungan NO2tertinggi pada pemantauan bulan April adalah di Sambipitu dan pada pemantauan bulan Oktober di Bedoyo. Pada pemantauan bulan Oktober, hampir di semua lokasi yang dipantau terjadi penurunan kandungan NO2 dibandingkan pada pemantauan bulan April, kecuali di Bedoyo dan Karangmojo. Di Bedoyo, terjadi peningkatan kandungan NO2 dari 34,62 µg/m3 menjadi 43,35 µg/m3, sedangkan di Karangmojo terjadi peningkatan dari 17,05 µg/m3menjadi 18,41 µg/m3. Hasil pemantauan kandungan NO2 dapat dilihat pada grafik 2.16 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 April Oktober
KANDUNGAN NO
2(µg/m
3)
Kandungan SO2(Sulfur Dioksida)
Sulfur dioksida (SO2) dihasilkan dari pembakaran sulfur atau materi lain yang mengandung sulfur, seperti pembakaran bahan bakar fosil dari instalasi pembangkit listrik. SO2 mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara. SO2bersifat korosif terhadap metal dan menimbulkan deposisi asam. Kandungan SO2 di udara yang melebihi ambang batas dapat berdampak bagi kesehatan, antara lain menimbulkan iritasi sistem membran pernafasan, menyebabkan bronchitis dan sangat beresiko terhadap orang yang menderita penyakit kronis pada sistem pernafasan dan kardiovaskuler.
Ambang batas kandungan SO2menurut Keputusan Gubernur DIY No. 153 Tahun 2002 adalah sebesar 900 µg/m3. Hasil pemantauan kandungan SO2di 7 titik lokasi, pada pemantauan bulan April menunjukkan angka berkisar antara 19,14 – 102,97 µg/m3, sedangkan pada pemantauan bulan Oktober berkisar antara 12,75 – 90,79 µg/m3 yang berarti bahwa kandungan SO2, baik pada pemantauan bulan April maupun Oktober masih jauh di bawah ambang batasnya.
Kandungan SO2terendah, baik pada pemantauan bulan April maupun bulan Oktober adalah di Alun-alun Wonosari, sedangkan kandungan SO2 yang tertinggi baik pada pemantauan bulan April maupun Oktober terdapat terdapat di Mijahan. Pada pemantauan bulan Oktober di Sambipitu, Alun-alun Wonosari dan Mijahan terjadi penurunan kandungan SO2dibandingkan hasil pemantauan pada bulan April. Di Bedoyo, Karangmojo dan Semin terjadi peningkatan kandungan SO2pada bulan Oktober, sedangkan di Taman Parkir kandungan SO2 pada bulan April dan Oktober hampir sama. Peningkatan kandungan SO2 tertinggi terjadi di Semin, yaitu dari 50,83 µg/m3pada pemantauan bulan April menjadi 78,92 µg/m3pada pemantauan bulan Oktober. Hasil pemantauan kandungan SO2 dapat dilihat pada grafik 2.17 di bawah ini :
Grafik 2.18 Kandungan SO2di 7 titik pantau pada bulan April dan Oktober 0 20 40 60 80 100 120 April Oktober
KANDUNGAN SO
2(µg/m
3)
Kandungan Ox(Ozon)
Ozon adalah lapisan pelindung atmosfir bumi yang berfungsi sebagai pelindung terhadap sinar ultra violet yang datang berlebihan dari sinar matahari. Sinar ultra violet yang tidak difilter oleh lapisan ozon akan berbahaya bagi manusia. Selain itu sinar ultra violet yang tidak difilter oleh lapisan ozon, sesampainya di atmosfir permukaan bumi akan menjadi panas yang mengakibatkan kenaikan suhu bumi. Kenaikan suhu bumi akan mengakibatkan berkurangnya kenyamanan di muka bumi. Selain bermanfaat bagi kehidupan manusia, ozon juga dapat membahayakan bagi kesehatan, karena dengan konsentrasi di atas 0,3 ppm selama 8 jam akan menyebabkan iritasi pada mata, konsentrasi 0,3 – 1 ppm selama 3 menit – 2 jam akan memberikan reaksi seperti tercekik, batuk, kelesuan dan pada konsentrasi 1,5 – 2 ppm selama 2 jam akan mengakibatkan sakit dada, batuk-batuk, sakit kepala, kehilangan koordinasi serta sulit ekspresi dan gerak.
Kandungan Oxyang diperkenankan menurut Keputusan Gubernur DIY No. 153 Tahun 2002 adalah sebesar 235 µg/m3. Pemantauan kandungan Oxyang dilakukan pada bulan April menunjukkan hasil berkisar antara 4,50 – 12,80 µg/m3dan pada bulan Oktober berkisar antara 4,24 – 8,56 µg/m3 yang berarti kandungan Ox pada pemantauan bulan April maupun Oktober masih jauh berada di bawah ambang batasnya. Hasil pemantauan kandungan Oxdapat dilihat pada grafik 2.18
Grafik 2.19 Kandungan Oxdi 7 titik pantau pada bulan April dan Oktober
Kandungan Ox terendah, baik pada pemantauan bulan April maupun Oktober terdapat di Sambipitu, sedangkan yang tertinggi pada pemantauan bulan April terdapat di Bedoyo dan pada pemantauan bulan Oktober terdapat di Taman Parkir. Hampir di semua lokasi, pada pemantauan
0 2 4 6 8 10 12 14 April Oktober
KANDUNGAN O
x(µg/m
3)
bulan Oktober terjadi penurunan kandungan Ox dibandingkan dengan hasil pemantauan bulan April, kecuali di Taman Parkir dan Karangmojo. Di Taman Parkir terjadi peningkatan kandungan Ox dari 6,68 µg/m3menjadi 8,56 µg/m3, sedangkan di Karangmojo kandungan Oxpada bulan April dan bulan Oktober hampir sama.
Kandungan CO (Karbon Monoksida)
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang ditimbulkan oleh pembakaran tidak sempurna bahan-bahan yang mengandung karbon. Sifat CO adalah tidak berwarna, tidak mudah larut dalam air. Adanya CO di dalam udara, bila diberikan api akan terbakar dengan mengeluarkan asap biru dan menjadi CO2. CO mengikat hemoglobin darah (Hb) dengan afinitas (daya ikat) yang lebih besar dibanding daya ikat oksigen dengan Hb, akibatnya darah akan kekurangan oksigen dan mengganggu saraf pusat. Pada konsentrasi yang tinggi dan jangka waktu tertentu CO dapat mengakibatkan pingsan dan kematian. Keracunan CO dalam darah akan terjadi pada COHb 5% dan kadar CO di udara 40 ppm. CO berasal dari kendaraan bermotor, terutama saat idling (kondisi kendaraan tidak jalan, tapi mesin tetap hidup) dan pembangkit listrik.
Kandungan CO yang diperkenankan menurut Keputusan Gubernur DIY No. 153 Tahun 2002 adalah sebesar 30.000 µg/m3. Dari hasil pemantauan di 7 titik, pada pemantauan bulan April diperoleh angka berkisar antara 432,51 – 877,08 µg/m3, sedangkan pada pemantauan bulan Oktober berkisar antara 246 -1.288,73 µg/m3, ini menunjukkan bahwa kandungan CO yang ada di lokasi pemantauan masih jauh di bawah ambang batasnya. Hasil pemantauan kandungan CO dapat dilihat pada grafik 2.19
Grafik 2.20. Kandungan CO di 7 titik pantau pada bulan April dan Oktober 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 April Oktober
KANDUNGAN CO (µg/m3)
Dari hasil pemantauan bulan April maupun bulan Oktober, kandungan CO terendah adalah di Alun-alun Wonosari, sedangkan yang tertinggi pada pemantauan bulan April terdapat di Semin dan pada pemantauan bulan Oktober terdapat di Mijahan Pada pemantauan bulan Oktober, di sebagian besar lokasi terjadi penurunan kandungan CO bila dibandingkan dengan hasil pemantauan bulan April, kecuali di Mijahan terjadi peningkatan cukup besar, yaitu dari 760,70 µg/m3menjadi 1.288,73 µg/m3.
Gambar 2.26. Pemantauan kualitas udara ambien di Karangmojo
Kandungan Pb (Timah Hitam)
Timah hitam (Pb) merupakan zat pencemar yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang mengandung Tetra Ethyl Lead (TEL). Sifat Pb adalah berbau, beracun dan korosif. Pb berasal dari kendaraan bermotor dan pemakaian cat, pipa yang mengandung timbal. Pb merupakan racun penyerang saraf yang dapat menyebabkan penurunan daya pikir (IQ) pada janin dan anak-anak. Dampak lanjutan adalah kerusakan ginjal, hati, lambung dan tekanan darah tinggi.
Ambang batas kandungan Pb menurut Keputusan Gubernur DIY No. 153 Tahun 2002 adalah sebesar 2 µg/m3. Dari hasil pemantauan yang dilakukan pada bulan April dan bulan Oktober, kandungan Pb yang terdapat di 7 lokasi pemantauan di bawah LOD (< 0,969 µg/m3). Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan Pb di 7 lokasi pemantauan masih berada di bawah ambang batasnya.
Kandungan Partikel (Debu)
Partikulat/partikel didefinisikan sebagai suatu senyawa, kecuali air yang berbentuk cair atau padat yang ada di atmosfir pada kondisi normal. Emisi partikulat tidak hanya diemisikan dalam
bentuk partikel, tetapi dapat juga terbentuk dari kondensasi gas secara langsung atau melalui reaksi kimia. Partikulat berasal dari kendaraan bermotor (diesel) maupun pabrik, generator dan pemanas.
Berdasarkan atas sifat-sifat fisik suspensi partikel debu yang terdapat di udara dan struktur anatomi sistem pernapasan, dapat diprediksikan bahwa partikel yang memiliki ukuran lebih besar dari 10 mikron dapat dikeluarkan kembali melalui hidung atau melalui saluran pernapasan atas. Partikel yang berukuran 5 – 10 mikron mengalami penahanan terutama pada saluran pernapasan atas. Partikel yang berukuran 1 – 2,5 mikron dapat mencapai bagian pernapasan yang lebih dalam yaitu mengendap di alveoli, sedangkan partikel yang lebih kecil dari 0,1 mikron dapat keluar kembali bersama udara pernapasan. Masuk dan tertimbunnya debu di dalam paru-paru dapat memberikan rangsangan pada organ tersebut, yaitu partikel debu dapat menstimulir otot polos sirkuler pada saluran pernapasan, sehingga dapat menimbulkan kontraksi penyempitan saluran pernapasan.
Grafik 2.21. Kandungan partikel/debu di 7 titik pantau pada bulan April dan Oktober
Berdasarkan atas sifat-sifat fisik suspensi partikel debu yang terdapat di udara dan struktur anatomi sistem pernapasan, dapat diprediksikan bahwa partikel yang memiliki ukuran lebih besar dari 10 mikron dapat dikeluarkan kembali melalui hidung atau melalui saluran pernapasan atas. Partikel yang berukuran 5 – 10 mikron mengalami penahanan terutama pada saluran pernapasan atas. Partikel yang berukuran 1 – 2,5 mikron dapat mencapai bagian pernapasan yang lebih dalam yaitu mengendap di alveoli, sedangkan partikel yang lebih kecil dari 0,1 mikron dapat keluar kembali bersama udara pernapasan. Masuk dan tertimbunnya debu di dalam paru-paru dapat memberikan rangsangan pada organ tersebut, yaitu partikel debu dapat menstimulir otot polos sirkuler pada saluran pernapasan, sehingga dapat menimbulkan kontraksi penyempitan saluran pernapasan.
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 April Oktober
Gambar 2.27. Pemantauan kualitas udara ambien di alun-alun Wonosari
Hasil pemantauan konsentrasi partikel debu di 7 lokasi pemantauan, pada bulan April menunjukkan angka berkisar antara 41,68 – 157,64 µg/m3, sedangkan pada pemantauan bulan Oktober berkisar antara 84,52 – 157,64 µg/m3. Menurut Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 153 Tahun 2002, ambang batas konsentrasi partikel adalah sebesar 230 µg/m3, sehingga hasil pemantauan konsentrasi debu baik pada pemantauan bulan April maupun Oktober masih berada di bawah ambang batas. Kandungan partikel terendah pada pemantauan bulan April terdapat di alun-alun Wonosari, sedangkan pada pemantauan bulan Oktober terdapat di Semin. Kandungan partikel tertinggi pada pemantauan bulan April maupun Oktober, terdapat di Mijahan. Pada pemantauan bulan Oktober, hampir di semua lokasi terjadi peningkatan kandungan partikel dibandingkan dengan pemantauan bulan April, kecuali di Sambipitu. Peningkatan terbesar terjadi di alun-alun, yaitu dari 41,68 µg/m3menjadi 124,99 µg/m3.
Tingkat Kebisingan
Menurut Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 176 Tahun 2003 tentang Baku Tingkat Getaran, Kebisingan dan Kebauan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kenyamanan dan kesehatan manusia.
Grafik 2.22. Tingkat kebisingan di 7 titik pantau dibandingkan dengan baku mutunya
Berdasarkan pemantauan tingkat kebisingan di 7 lokasi, baik pemantauan pada bulan April maupun Oktober ada lokasi yang memiliki tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas tingkat kebisingan untuk daerah industri (70 dBA (Leq)). Tingkat kebisingan di Karangmojo baik pada pemantauan bulan April maupun Oktober memiliki tingkat kebisingan yang melebihi ambang batas, selain itu Alun-alun pada pemantauan bulan April dan Sambipitu pada pemantauan bulan Oktober juga memiliki tingkat kebisingan melebihi ambang batas. Lokasi yang memiliki tingkat kebisingan tertinggi pada pemantauan bulan April adalah Karangmojo, yaitu sebesar 75,2 dBA (Leq)) dan pada bulan Oktober adalah Sambipitu, yaitu sebesar 72,5 dBA (Leq). Hasil pemantauan tingkat kebisingan dapat dilihat pada grafik 2.21
Di Sambipitu, taman parkir dan Bedoyo pada pemantauan bulan Oktober terjadi peningkatan kebisingan dibandingkan pada saat pemantauan bulan April. Peningkatan kebisingan terbesar terjadi di Sambipitu, yaitu dari 68,7 dBA (Leq) memjadi 72,5 dBA (Leq). Tingkat kebisingan di Mijahan pada pemantauan bulan April dan Oktober tidak mengalami perubahan (tetap).