• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik digunakan untuk melihat apakah suatu model layakatau

tidak layak digunakan dalam penelitian.Uji asumsi klasik adalah persyaratan

statistik yang harus dipenuhi pada regresi liner berganda. Uji Asumsi Klasik yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

4.4.1 Uji Normalitas

Uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi data mengikuti

atau mendekati distribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan

pendekatan Kolmogorov Smirnov. Dengan menggunakan tingkat signifikansi 5%

maka jika nilai Asymp.sig. (2-tailed)diatas, nilai signifikan 5% artinya variabel

residual berdistribusi normal (Situmorang dan Lufti, 2012:100)

Salah satu cara untuk melihat normalitas adalah dengan melihat grafik histrogram

dan grafik normal plot yang membandingkan antara dua absorvasi dengan

a. Pendekatan Histogram

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Gambar 4.1

Histogram Uji Normalitas

Berdasarkan Gambar 4.1 dapat diketahui bahwa variabel berdistribusi

normal, hal ini ditunjukkan oleh distribusi data yang berbentuk lonceng dan tidak

b. Pendekatan Grafik

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Gambar 4.2 Plot Uji Normalitas

Pada Gambar 4.2 menunjukkan bahwa pada scatter ploterlihat titik yang

mengikuti data di sepanjang garis diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa residual

peneliti normal. Namun untuk lebih memastikan bahwa di sepanjang garis

c. Pendekatan Kolmogorov-Smirnov

Tabel. 4.8

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 30

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 2.47405048

Most Extreme Differences Absolute .165

Positive .075

Negative -.165

Kolmogorov-Smirnov Z .902

Asymp. Sig. (2-tailed) .390

a. Test distribution is Normal.

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah

0.390 dan diatas nilai signifiksn (0,05) atau 5%, sehingga dapat disimpulkan

bahwa variabel residual berdistribusi normal.

4.4.2 Uji Heteroskedastisitas

Tujuan uji heteroskedastisitas adalah untuk mengetahui apakah dalam

sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual antara satu

pengamatan dengan pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang

Ada beberapa cara untuk mendekati ada atau tidaknya heteroskedastisitas

yaitu :

a. Pendekatan Grafik

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Gambar 4.3

Scatterplot Heteroskedastisitas

Berdasarkan gambar 4.3 dapat terlihat bahwa tidak ada pola yang jelas serta

titik-titik menyebar diatas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka

berdasarkan metode grafik tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi

layak dipakai untuk memprediksi kepuasan kerja berdasarkan masukan variabel

b. Uji Glesjer

Glejser mengusulkan untuk meregresi nilai absolut residual terhadap

variabel independen.Jika variabel independen signifikan secara statistik

mempengaruhi variabel dependen maka ada indikasi terjadi heteroskedastisitas.

Tabel 4.9

Hasil Uji Glejser heteroskedastisitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 5.183 3.930 1.319 .198 Gaya Kepemimpinan -.002 .086 -.005 -.027 .978 Kecerdasan Emosional -.091 .095 -.187 -.966 .343

a. Dependent Variable: Absut

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Pada Tabel 4.10 terlihat variabel independen (gaya kepemimpinan dan

kecerdasan emosional) yang tidak signifikan secara statistik mempengaruhi

variabel dependen absolute Ut (absUt). Hal ini terlihat dari probabilitas gaya

kepemipinan (0.978)dan kecerdasan emosional(0,343) diatas tingkat kepercayaan

5 % (0.05), jadi disimpulkan model regresi tidak mengarah adanya

4.4.3 Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknnya gejala

multikolinearitas pada data dapat dilakukan dengan melihat nilai tolerance value

dan Varians Inflation factor (VIF). Dengan kriteria sebagai berikut :

1. Apabila VIF > 5 maka diduga mempunyai persoalan Multikolinearitas.

2. Apabila VIF < dari 5 maka tidak terdapat Multikolinearitas.

3. Apabila tolerance < 0,1 maka diduga mempunyai persoalan

multikolinearitas.

4. Apabila tolerance > 0,1 maka tidak terdapat multikolinearitas.

Tabel 4.10

Uji Nilai Tolerance dan VIF Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1 (Constant) 8.204 5.770 1.422 .166

Gaya

Kepemimpinan .407 .126 .461 3.235 .003 .955 1.048

Kecerdasan

Emosional .415 .139 .426 2.987 .006 .955 1.048

a. Dependent Variable: Kepuasan Kerja

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Pada Tabel 4.9 terlihat bahwa nilai tolerance semua variabel bebas adalah lebih

besar dari nilai ketetapan 0,1 dan nilai VIF semua variabel bebas adalah lebih

kecil dari nilai ketetapan 5. Oleh karna itu, data dalam penelitian ini dikatakan

4.5 Pengujian Hipotesis

4.5.1 Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Pengujian ini dilakukan untuk melihat secara bersama-sama pengaruh atau

hubungan signifikan variabel bebas berupa gaya kepemimpinan dan kecerdasan

emosional terhadap variabel terikat berupa kepuasan kerja karyawan café

Goedang Coffee Medan.

Tabel 4.12

Hasil Uji F Signifikansi Simultan (UJI-F) ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 161.860 2 80.930 12.310 .000a

Residual 177.507 27 6.574

Total 339.367 29

a. Predictors: (Constant), Kecerdasan Emosional, Gaya Kepemimpinan b. Dependent Variable: Kepuasan Kerja

b. Dependent Variable: Minat Berwirausaha

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Tabel 4.12 diatas mengungkapkan bahwa nilai F-hitung adalah 12,310

dengan tingkat signifikansi 0,000. Sedangkan F-tabel pada tingkat kepercayaan

95% (α = 0,05) adalah 3,35 . Oleh karena itu pada kedua perhitungan yaitu F

-hitung > F-tabel dan tingkat signifikansinya (0,000) < 0,05 menunjukan bahwa

pengaruh variabel bebas (gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional) secara

4.5.2 Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)

Uji-t dilakukan untuk menguji secara parsial apakahgaya kepemimpinan dan

kecerdasan emosional secara parsial atau masing-masing berpengaruh signifikan

terhadap kepuasan kerja karyawan café Goedang Coffee Medan.

Tabel 4.13

Uji Signifikansi Parsial (Uji t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8.204 5.770 1.422 .166 Gaya Kepemimpinan .407 .126 .461 3.235 .003 Kecerdasan Emosional .415 .139 .426 2.987 .006

a. Dependent Variable: Kepuasan Kerja

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

1. Variabel gaya kepemimpinan berpengaruh secara positif dan signifikan

terhadap kepuasan kerja hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,003) lebih kecil

dari 0,05 dan t-hitung (3,235) lebih besar dibandingkan t-tabel (2,05183).

2. Variabel kecerdasan emosional berpengaruh secara positif dan signifikan

terhadap Minat Berwirausaha hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,006) lebih

4.5.3 Pengujian Koefisien Determinasi (R2)

Pengujian Koefisien determinan digunakan untuk mengukur seberapa besar

kontribusi variabel bebas (gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional)

terhadap variabel terikat (kepuasan kerja). Koefisien determinasi berkisar antara

nol sampai satu (0 ≤ R2≥ 1).

Tabel 4.14

Hasil Pengujian Koefisien Determinasi Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .691a .477 .438 2.56405

a. Predictors: (Constant), Kecerdasan Emosional, Gaya Kepemimpinan

Sumber :Hasil pengolahan SPSS

Berdasarkan Tabel 4.14 dapat diketahui bahwa :

1. Nilai R sebesar 0.691 sama dengan 69,1 % berarti hubungan antara variabel

gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional terhadap kepuasan kerja

sebesar 69,1% artinya memiliki hubungan yang erat

2. Nilai Adjusted R Square0,438 berarti 43,8% Minat berwirausaha dapat di

jelaskan oleh gaya kepemimpinan dan kecerdasan emosional Sedangkan

sisanya 56,2 % dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang diteliti dalam

penelitian ini seperti kompensasi, budaya organisasi dan lain sebagainya

3. Standard Error of the Estimate artinya mengukur variasi dari nilai yang

Dokumen terkait