BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Uji F- Statistik
Berikut adalah Tabel 4.15 yang menunjukkan hasil signifikansi uji F untuk penelitian ini:
Tabel 4.15
Hasil Uji Serempak (Uji F)
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 110,284 2 55,142 47,947 ,000b
Residual 111,556 97 1,150
Total 221,840 99
Sumber : Data diolah SPSS, 2017
Uji F-statistik merupakan pengujian untuk mengetahui apakah semua koefisien regresi signifikan atau tidak terhadap dependen variabel dengan menganggap variabel independen lainnya konstan. Kriteria signifikansi uji F adalah sebagai berikut:
1) Dengan tingkat kepercayaan sebesar (0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak apabila sig F-hitung > 0,05. Artinya secara serempak variabel
GCG tidak dapat menerangkan variabel kepuasan pemasok, atau secara serempak tidak terdapat pengaruh yang nyata variabel GCG terhadap kepuasan pemasok.
2) Dengan tingkat kepercayaan sebesar (0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima apabila apabila sig F-hitung < 0,05. Artinya secara serempak variabel GCG dapat menerangkan variabel kepuasan pemasok, atau secara serempak terdapat pengaruh yang nyata variabel GCG terhadap kepuasan pemasok.
Berdasarkan kriteria di atas dengan merujuk Tabel 4.15 maka dapat dinyatakan bahwa secara serempak variabel GCG dapat menerangkan variabel kepuasan pemasok, atau terdapat pengaruh yang nyata variabel GCG terhadap kepuasan pemasok.
B. Uji t-statistik
Berikut adalah Tabel 4.16 yang menunjukkan hasil signifikansi uji t untuk penelitian ini:
Tabel 4.16 Uji Signifikansi (Uji t)
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 1,682 1,185 1,420 ,159
Transparansi ,235 ,099 ,218 2,376 ,020
Akuntabilitas -,004 ,066 -,004 -,054 ,957
Pertanggung Jawaban ,262 ,095 ,294 2,741 ,007
Kemandirian -,081 ,091 -,106 -,894 ,374
Kewajaran -,038 ,099 -,040 -,385 ,316
Faktor Lingkungan
menguatkan pengaruh GCG terhadap kepuasan
pemasok
,378 ,102 ,465 3,711 ,000
Sumber: Data Diolah SPSS, 2017
Uji t-statistik merupakan pengujian untuk mengetahui apakah masing - masing koefisien regresi signifikan atau tidak terhadap dependen variabel dengan menganggap variabel independen lainnya konstan. Kriteria signifikansi uji t adalah sebagai berikut:
1. Dengan tingkat kepercayaan sebesar (0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak apabila sig t-hitung > 0,05. Artinya secara parsial variabel GCG tidak dapat menerangkan variabel kepuasan pemasok, atau secara parsial tidak terdapat pengaruh yang nyata variabel GCG terhadap kepuasan pemasok.
2. Dengan tingkat kepercayaan sebesar (0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima apabila apabila sig F-hitung < 0,05. Artinya secara parsial variabel GCG dapat menerangkan variabel kepuasan pemasok, atau secara parsial terdapat pengaruh yang nyata variabel GCG terhadap kepuasan pemasok.
Berdasarkan kriteria di atas dengan merujuk Tabel 4.16 maka dapat dinyatakan bahwa:
1. Hipotesis 1 : Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel transparansi terhadap kepuasan pemasok
2. Hipotesis 2 : Secara parsial terdapat pengaruh yang tidak signifikan variabel akuntabilitas terhadap kepuasan pemasok
3. Hipotesis 3 : Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel pertanggungjawaban terhadap kepuasan pemasok 4. Hipotesis 4 : Secara parsial terdapat pengaruh yang tidak signifikan
variabel kemandirian terhadap kepuasan pemasok
5. Hipotesis 5 : Secara parsial terdapat pengaruh yang tidak signifikan variabel kewajaran terhadap kepuasan pemasok
6. Hipotesis 6 : Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel faktor lingkungan menguatkan pengaruh GCG terhadap kepuasan pemasok
III. Uji Koefisien Determinasi
Analisis koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel bebas atau independen, yaitu:
GCG dan faktor lingkungan secara serentak terhadap variabel terikat atau dependen, yaitu kepuasan pemasok. Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model (GCG dan faktor lingkungan) dalam menerangkan variasi variabel dependen/tidak bebas (kepuasan pemasok).
Nilai koefisien determinasi adalah antara nol (0) dan satu (1). Nilai R2 juga diartikan sebagai kemampuan variabel-variabel independen (bebas) dalam menjelaskan variasi variabel dependen berikut adalah tabel koefisien determinasi pada penelitian ini.
Tabel 4.17
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 ,708a ,501 ,485 1,074
Sumber: Data diolah SPSS, 2017
Berdasarkan Tabel 4.17 di atas maka dapat dinyatakan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel bebas atau independen, yaitu: GCG dan faktor lingkungan secara serentak terhadap variabel terikat atau dependen, yaitu kepuasan pemasok sebesar 50,1%, sedangkan sisanya 49,9%
kepuasan pemasok dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian 4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif
(1) Variabel Transparansi
1. Kemudahan dalam mengakses informasi pengadaan : PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) telah memberikan kemudahan dalam mengakses informasi pengadaan, artinya informasi tentang pengadaan dapat diakses dengan mudah, kapan saja, dan di mana saja oleh pemasok atau mitra perusahaan. Hal tersebut dibuktikan dengan mean (65,0%) pemasok menjawab setuju untuk pernyataan tersebut.
2. Kejelasan informasi pengadaan : Selain memberikan kemudahan dalam mengakses informasi pengadaan, PT
Indonesia Asahan Alumunium (Persero) juga telah memberikan informasi yang jelas (detail) mengenai proses pengadaan. Para pemasok atau mitra sangat terbantu dengan tingkat spesifikasi atas informasi pengadaan yang diberikan oleh PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero). Hal tersebut dibuktikan dengan sebagian besar (71,0%) pemasok menjawab setuju untuk pernyataan tersebut.
3. Selalu transparan dalam penyampaian informasi pengadaan:
Informasi yang diberikan mengenai pengadaan barang/jasa tidak ditutup-tutupi maknanya adalah siapapun pemasoknya bisa mengakses informasi pengadaan. Informasi yang jelas diberikan kepada seluruh pemasok tanpa terkecuali, sehingga prinsip transparansi ini benar dirasakan oleh pemasok. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar pemasok (59,0%) menjawab setuju untuk pernyataan ini.
(2) Variabel Akuntabilitas
1. Proses pengadaan oleh Inalum mempunyai fungsi yang jelas : Masing - masing unit atau pun sub unit telah mempunyai fungsi, tugas dan tanggung jawab yang jelas 2. Pertanggungjawaban proses yang jelas: Aktivitas dari
Personil pengadaan diwajibkan sesuai dengan job descriptionnya.
3. Proses pengadaan telah dilaksanakan secara efektif: Lead time proses pengadaan yang relatif singkat dan nilai pengadaan yang mendekati harga pasar.
4. Terdapat system pengendalia internal yang efektif: Pengadaan PT Inalum menerapkan sistem pengendalian internal secara berkala dimana dalam setahun dilakukan proses audit oleh Sistem Pengendalian Internal Inalum, disamping itu Inalum juga di awasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
(3) Variabel Pertanggungjawaban
1. Perangkat pengadaan mempunyai tanggung jawab untuk mematuhi hukum dan ketentuan peraturan yang berlaku: PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) telah melakukan tanggung jawabnya untuk taat hukum dengan menghambat praktik-praktik korupsi, kolusi, nepotisme, meningkatkan disiplin anggaran dan mendayagunakan pengawasan. Hal tersebut dibuktikan dengan (56,0%) pemasok menjawab setuju atas pernyataan tersebut.
2. Perangkat pengadaan tanggap terhadap umpan balik (feed back ) dari pihak-pihak yang berkepentingan dan terhadap perubahan-perubahan dunia usaha: : Inalum sangat terbuka terhadap masukan dari pemasok dengan membuka kotak
pos, Whistle Blower sebagai contoh perkembangan pengadaan melalui system e-proc yang lebih efisien dan keluhan pemasok lainnya terkait pembayaran, pelayanan dan sebagainya.
3. Perusahaan perduli terhadap lingkungan/masyarakat sekitar perusahaan: Untuk pengadaan yang sederhana lebih mengutamakan Pemasok di sekitar lokasi perusahaan dengan tetap memenuhi prinsip GCG
4. Variabel Kemandirian
1. Proses pengadaan tidak terpengaruh oleh kepentingan tertentu: Pelaku pengadaan berjalan tanpa adanya campur tangan atau tekanan dari pihak manajemen ataupun pihak lain yang berkepentingan. Pemasok merasa puas dengan netralnya proses pengadaan yang dibuktikan dengan nilai mean 4,0
2. Menghindari terjadinya dominasi dari pihak mana pun:
: Tidak ada pemasok yang mendominasi pengadaan di Inalum, karena pemasok di bedakan kategorinya menjadi pemasok barang atau jasa, dimana masing-masing pemasok tersebut hanya bisa ikut dlm kategorinya saja. Disamping kategori barang atau jasa, masih di bagi lagi menjadi bidang contohnya barang
mekanikal, elektrikal, barang umum, jasa mekanikal, jasa sipil dan bidang lainnya.
3. Melaksanakan fungsi sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan: Fungsi pengadaan telah dijalankan sesuai dengan aturan yang ada terutama dengan SK Direksi Pengadaan
4. Tidak saling mendominasi antara satu dengan yang lain:
Tidak adanya dominasi antara satu dengan lain.
5. Variabel Kewajaran
1. Pemasok diperlakukan secara adil dan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku: Proses pengadaan pada prinsipnya melaui proses pelelangan, mendapat kesempatan yang sama untuk diundang mengikuti proses pelelangan, pemasok mendapatkan evaluasi kinerjanya setiap tahun.
2. Melaksanakan tugasnya secara profesional:
Melaksanakan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, kehati-hatian serta bebas dari konflik kepentingan;
Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan Barang/Jasa; Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran, serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan Barang/Jasa
yang seharusnya dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan proses pengadaan Barang/Jasa 3. Departemen pengadaan memberikan kesempatan kepada
pemasok untuk memberikan masukan bagi kepentingan Inalum: Inalum menerima segala bentuk kritik dan saran dari pihak pemasok, dalam hal ini Inalum terbuka untuk menerima dan melaksanakan saran dari pihak pemasok yang dianggap menjadikan Inalum lebih baik. Hal tersebut dibuktikan dengan sebagian besar (52,0%) pemasok menjawab setuju.
4. Variabel Faktor Lingkungan
1. Proses pengadaan PT Inalum sudah mewakili perturan yang berlaku: Aturan yang menjadi acuan adalah Surat Keputusan Direksi Pengadaan terkait pengadan barang dan jasa yang bersumber dari aturan – aturan pemerintah seperti UU BUMN, Peraturan pemerintah terkait penerapan system Manajemen K3, Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Badan Usaha Milik Negara
2. PT Inalum mengikuti prinsip GCG dalam proses pengadaan: Tingkat transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan kewajaran di Inalum sudah
terkategori baik, artinya Inalum sudah menjalankan prinsip-prinsip tersebut dalam proses pengadaan barang atau jasa. Hal tersebut dibuktikan dengan sebagian besar responden (69,0%) menjawab setuju untuk pernyataan tersebut
3. Praktek GCG di Inalum sudah baik: Tidak hanya mengikuti prinsip GCG tetapi pelaksanaan GCG juga telah terlaksanakan dengan baik
4. Adanya semangat anti korupsi di dalam pengadaan di PT Inalum: PT Inalum sudah memiliki semangat anti korupsi dengan cara menghambat praktik-praktik curang seperti korupsi, kolusi dan nepotisme
5. Variabel Kepuasan Pemasok
1. Saya puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh PT Inalum dan mengikuti kontrak pengadaan: Pemasok merasa bahwa PT Inalum sudah meralisasikan apa yang diharapkan pemasok. Harapan para pemasok dengan realita sudah berbanding lurus.
2. Saya akan tetap menjadi mitra PT Inalum dalam pengadaan berikutnya: Pemasok yang sudah mendapatkan tender untuk menjadi mitra PT Inalum, merasa bahwa pelayanan yang diberikan oleh PT
Inalum sudah memuaskan sehingga mereka memutuskan untuk tetap menjadi mitra PT inalum sebagai pemasok barang/jasa.
3. Saya akan merekomendasi kepada rekan bisnis lain untuk mengikuti pengadaan: Pemasok yang puas akan pelayanan yang diberikan oleh PT Inalum, menganggap bahwa mereka perlu untuk menceritakan hal ini kepada rekan mereka yang belum menjadi mitra PT Inalum.
Harapan pemasok yang sudah menjadi mitra PT Inalum, rekan-rekan mereka yang belum bergabung di Inalum, dapat segera ikut menjadi bagian dari mitra PT Inalum
4.2.2 Analisis Statistik Inferensial
Berdasarkan hasil penelitian di atas maka pembahasan hasil penelitian dikemukakan dalam beberapa bagian yakni:
A. Pembahasan Hipotesis
Berdasarkan hasil hipotesis didapatkan hasil berikut:
1. Hipotesis 1 : Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel transparansi terhadap kepuasan pemasok
2. Hipotesis 2 : Secara parsial terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan variabel akuntabilitas terhadap kepuasan pemasok
3. Hipotesis 3 : Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel pertanggungjawaban terhadap kepuasan pemasok 4. Hipotesis 4 : Secara parsial terdapat pengaruh yang negatif dan tidak
signifikan variabel kemandirian terhadap kepuasan pemasok
5. Hipotesis 5 : Secara parsial terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan variabel kewajaran terhadap kepuasan pemasok
6. Hipotesis 6 : Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel faktor lingkungan menguatkan pengaruh GCG terhadap kepuasan pemasok
Maka dapat dinyatakan bahwa hipotesis 3,4 dan 5 tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pemasok. Dalam hal ini akuntabilitas, kemandirian dan kewajaran memiliki pengaruh yang kecil terhadap kepuasan pemasok sehingga pengaruh tersebut menjadi tidak nyata terhadap dampaknya untuk peningkatan kepuasan konsumen.
Pemasok lebih fokus terhadap aspek transparansi, pertanggungjawaban dan faktor lingkungan dan kurang memperhatikan aspek akuntabilitas, kemandirian dan kewajaran. Hal tersebut dikarenakan:
a. Pada saat proses pengadaan dilaksanakan sejak awal pemasok sangat membutuhkan transparansi pada sistem informasi dan kemudahan dalam mengakses sistem informasi, terutama informasi tentang sistem pembayaran sehingga pemasok tidak salah dalam
mengambil keputusan untuk mengikuti proses tender atau tidak di PT Inalum.
b. Pemasok juga lebih mementingkan aspek pertanggungjawaban ketimbang aspek lainnya dikarenakan, aspek pertanggungjawaban berkaitan dengan peraturan. Pemasok akan merasa puas jika PT Inalum membuat perturan yang baku terhadap proses pengaadaan, dan menginginkan peraturan yang telah dibuat untuk ditaati bersama.
c. Pemasok akan merasa terlindungi dengan cara PT Inalum memperkuat sistem nya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Tentu saja hukum menjadi faktor lingkungan non fisik, yang akan menjadi pertimbangan penting bagi pemasok untuk memutuskan menjadi mitra PT Inalum atau tidak. Pemasok akan merasa aman jika proses pengadaan dibawah payung hukum, rasa aman tersebutlah yang pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap peningkatan kepuasan pemasok.
B. Pembahasan Persamaan Model 1
Berdasarkan hasil persamaan model satu menggunakan analisis regresi berganda Tabel 4.18 didapatkan hasil bahwa variabel GCG yang terdiri atas transparansi, akuntabilitas pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran tidak semua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pemasok.
Tabel 4.18
Hasil Signifikansi Model Satu
Model
Sumber: Data diolah SPSS, 2017
Determinan pembentuk GCG yang memberikan pengaruh positif dan signifikan (dengan taraf signifikansi 5%) terhadap kepuasan pemasok adalah transparansi dan pertanggungjawaban. Maka dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa variebel lainnya tidak berpengaruh nyata terhadap kepuasan pemasok. Kenaikan satu satuan faktor transparansi akan menaikkan kepuasan pemasok sebesar 0,29 satuan.
Maknanya jika PT Inalum ingin meningkatkan kepuasan pemasok, maka Inalum perlu memberikan keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan. Meskipun sistem transparansi terkadang memunculkan kekhawatiran strategi perusahaan dapat ditiru oleh pesaing jika prinsip transparansi terlalu terbuka.
Pada prinsipnya faktor transparansi yang diberikan oleh PT Inalum untuk meningkatkan kepuasan pemasok sebagian besar adalah berupa penyediaan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu dan publikasi informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu hal terkait informasi yang menjadikan signifikansinya faktor transparansi terhadap
kepuasan pemasok adalah pihak terkait dapat mengakses informasi keuangan dan informasi lainnya terkait material PT Inalum secara akurat dan tepat waktu.
Manfaat yang dirasakan oleh pemasok terkait penerapan prinsip transparansi ini salah satunya adalah pemasok dapat mengetahui resiko yang mungkin ketika mereka meutuskan untuk bergabung menjadi mitra PT Inalum. Hal lainnya adalah ketika informasi dari PT Inalum bersifat akurat, tepat waktu, jelas dan konsisten maka dimungkinkan terjadinya efisiensi pasar dan pemasok terhindar dari benturan kepentingan sepihak dalam manajemen PT Inalum. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian (Ruangviset et al, 2014) yang menyatakan bahwa prinsip transparansi dapat meningkatkan dampak terhadap kepuasan mitra kerja dan sebagai salah satu indikator untuk membuat profit perusahaan bertumbuh.
Faktor pertanggungjawaban memiliki pengaruh signifikan terbesar dibandingkan dengan faktor GCG lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa, terdapat kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan PT Inalum terhadap prinsip korporasi dan PT Inalum telah mematuhi segala peraturan perundangan yang berlaku.
Berpengaruh signifikannya faktor pertangungjawaban terhadap kepuasan pemasok, jelas menunjukkan bahwa integritas PT Inalum untuk mematuhi segala peraturan yang berlaku merupakan faktor penting dalam meningkatkan kepuasan pemasok. Kepuasan pemasok dapat terukur dari
kepetuhan terhadap aturan pengadaan dan sikap cepat tanggap serta antisipatif perangkat pengadaan terhadap pemasok.
C. Pembahasan Persamaan Model 2
Pembahasan hasil penelitian untuk model dua adalah dengan memasukkan variabel pemoderasi faktor lingkungan. Variabel pemoderasi dimasukkan ke dalam persamaan model dua, untuk mengukur apakah faktor lingkungan memberikan pengaruh yang positif signifikan terhadap kepuasan pemasok.
Untuk melihat apakah faktor lingkungan tepat dijadikan variabel moderasi, digunakan moderating regression analysis seperti yang terlihat pada Tabel 4.14. Pada Tabel 4.14 terlihat bahwa variabel faktor lingkungan berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan pemasok.
Maknanya adalah faktor lingkungan memiliki peranan untuk memperkuat pengaruh GCGterhadap kepuasan pemasok. Jika PT Inalum ingin memperkuat pengaruh GCG terhadapa kepuasan pemasok, maka PT Inalum harus juga berfokus pada kondisi lingkungan non fisik perusahaan.
Pengaruh lingkungan non fisik terhadap peningkatan kepuasan pemasok berupa sistem hokum yang baik, dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik, terbangunnya sistem tata nilai sosial dan terbentuknya semangat anti korupsi.
Penerapan prinsip GCG memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pemasok dan diperkuat dengan memperhatikan faktor lingkungan, hal tersebut sesuai dengan penelitian (Joshi, 2012). Sistem
hukum yang baik, prosedur yang sesuai dengan peraturan dan kebijakan dari pemerintah akan meningkatkan kepuasan mitra kerja dan berdampak pada bertumbuhnya profit.
Pemasok pada PT Inalum tidak hanya menginginkan PT Inalum transparan dan bertanggung jawab dalam proses pengadaan, namun juga dalam proses pelaksanaan pengadaan tersebut prinsip GCG harus dilaksanakan dengan mengacu pada sistem hukum dan tata nilai yang mendukung. Semangat anti korupsi juga akan memperkuat pengaruh GCGterhadap kepuasan konsumen. Terbebasnya proses pengadaan di PT Inalum dari praktik curang juga akan menaikkan kepuasan pemasok.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
4. Secara simultan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan pengaruh GCG terhadap kepuasan pemasok dimoderasi oleh faktor lingkungan
5. Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel transparansi terhadap kepuasan pemasok
6. Secara parsial terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan variabel akuntabilitas terhadap kepuasan pemasok
7. Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel pertanggungjawaban terhadap kepuasan pemasok
8. Secara parsial terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan variabel kemandirian terhadap kepuasan pemasok
9. Secara parsial terdapat pengaruh yang negatif dan tidak signifikan variabel kewajaran terhadap kepuasan pemasok
10. Secara parsial terdapat pengaruh yang positif dan signifikan variabel faktor lingkungan menguatkan pengaruh GCG terhadap kepuasan pemasok
5.2 Saran
1. Transparansi terkait dengan kemudahan, kejelasan, dan transparansi dalam penyampaian informasi yang umumnya dinilai baik oleh pemasok maka pihak perusahaan patut untuk mempertahankan hal tersebut dengan meningkatkan sistem informasi yang terintegrasi.
2. Akuntabilitas juga secara umum dinilai baik oleh pemasok, maknanya adalah pemasok puas dalam proses pengadaan dan pengendalian internal Inalum, untuk itu maka pihak Inalum hendaknya lebih mengefektifkan sistem yang terkait dengan variabel ini.
3. Pertanggung jawaban dapat disiasati dengan kepatuhan terhadap undang-undang dan peraturan yang telah disepakati bersama.
4. Kemandirian hendaknya mengedepankan pelaksanaan proses pengadaan dengan taat azas pada peraturan yang berdampak pada lolos tidaknya calon pemasok sebagai Mitra Inalum.
5. Kewajaran berfokus pada sistem kerja yang professional
6. Faktor lingkungan terkait dengan lingkungan eksternal non fisik perusahaan.
7. Kepuasan pemasok umumnya bernilai baik, maka untuk meningkatkan kepuasan pemasok apa yang menjadi harapan pemasok terkait 6 (enam) variabel di atas harus direalisasikan sehingga pemasok loyal terhadap Inalum.
DAFTAR PUSTAKA
Benton, W. C dan Michael Maloni, 2005, “ The Influence of Power Driven Buyer/Seller Relationships on Supply Chain Satisfaction”, Journal of Operation Management, No.23, pg. 1-22
Biong, Harald. 1993. “ Satisfaction and Loyalty to Suppliers within the Grocery Trade”.
European Journal of Marketing. 27,7 ABI/INFORM Global pg. 21
Bismar Sitanggang dan Tuty Herawati. 2014. “Pengaruh Penerapan Prinsip-prinsip Dasar Good Corporate Governance Terhadap Tingkat Kepuasan Vendor pada proses Pengadaan Barang/Jasa di PT. Indonesia Power Kantor Pusat”. Jurnal Epigram Vol 11 No.
2: 87-94
Fierro, Jesus J. Cambra dan Yolanda Polo-Redondo, 2008, “ Crating satisfaction in Deman-supply chain: The Buyer’s Perspective”, Supply chain Management: An International Journal, Vol.13, No. 3, pg. 211-224
Ganesan, Shankar, 1994, “Determinant of Long-Term Orientation in Buyer-Seller Relationship”, Journal of Marketing, Vol.58, April, p.1-19
Hasan, Hasrul. 2013. SUMUT Sebagai Pusat Pengembangan Kluster Industri Aluminium Nasional. Seminar Dies Natalis 54 Fakultas Teknik USU tanggal 9 Desember 2013.
Medan.
Indriantoro, Nur dan Supomo, 1999, “Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akutansi dan Manajemen”, BPFE Yogyakarta
Johnson, Jean L, 1999, “Strategic Integration in Industrial Distribution Channel : Managing the Interfirm Relationship as a Strategic Asset”, Journal of Academy of Marketing Science, Volume 27 No.1, p.4-18
Josh,S.Ajit. 2012. Transition to Ind. A.A. Corporate Governance Perspective. Journal Social Behavioural Sciences. Vol 37: 344-353
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Nomor Kep-133/M-PBUMN/1999 tentang Pembentukan Komite Audit bagi BUMN.
Komite Nasional Kebijakan Governance, 2006, Pedoman Umum Good Corporate Governance
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller, 2007, Manajemen Pemasaran ed 12, PT. Indeks, Jakarta
Muhmin, Alhassan G. Abdul, 2002, “ Effects of Suppliers” Marketing Program Variables on Industrial Buyers’ Relationship Satisfaction and Commitment”, Journal of Business &
Industrial Marketing, Vol. 17, No. 7, pg. 637-651
Mas, Achmad Daniri, 2014. “Lead by GCG”. Jakarta: Gagas bisnis.
Pamungkas, Octavianus, 2006, “Peningkatan Kinerja Perusahaan Melalui Strategi Kemitraan”, Jurnal Bisnis Strategi, Vol. 15, No. 2, pg. 47
Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2008 Tentang Pedoman umum pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa BUMN. Disempurnakan dengan PER-15/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara BUMN Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa BUMN
Ruangviset, Jannipa; Jiraporn, Pornsit; Kim J.C. 2014. How does Corporate Governance Influence Corporate Social Responsibility. Vol 143: 1055-1057
Spreng, R.A., Mackenzie, S.B. & Olshavsky, R.W., 1996, “A Reexamination of the
Spreng, R.A., Mackenzie, S.B. & Olshavsky, R.W., 1996, “A Reexamination of the