• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Hipotesis

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH AMY AULIA PURBA (Halaman 99-107)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.5 Uji Hipotesis

4.5.1 Uji Simultan (Uji F)

Hasil Uji Simultan disajikan pada Tabel 4.7 sebagai berikut : Tabel 4.7

Hasil Uji Simultan (Uji F)

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 18081.045 4 4520.261 6.060 .001

Residual 18647.144 25 745.886

Total 36728.190 29

Sumber : Lampiran 10

Dari hasil pengujian statistik F untuk variabel return on asset, financial leverage, reputasi underwriter dan ukuran perusahaan sebesar 6.060 dengan nilai signifikansi sebesar 0.001 < α (α = 0.05) maka H1 diterima dan H0 ditolak dengan kesimpulan bahwa variabel independen yang terdiri dari return on asset, financial leverage, reputasi underwriter dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu underpricing.

4.5.2 Uji Parsial (Uji t)

Hasil Uji Parsial disajikan pada Tabel 4.8 : Tabel 4.8

Hasil uji atas uji statistik t adalah sebagai berikut :

1. Pada uji statistik t untuk variabel return on asset, diperoleh nilai t variabel sebesar 3.297 dengan nilai signifikan sebesar 0.003 < 0.01, sehingga H0 ditolak.dan H1 diterima.

2. Pada uji statistik t untuk variabel financial leverage, diperoleh nilai t variabel sebesar -1.089 dengan nilai signifikan sebesar 0.082 < 0.10, sehingga H0 diterima dan H1 ditolak.

3. Pada uji statistik t untuk variabel reputasi underwriter, diperoleh nilai t variabel sebesar -1.121 dengan nilai signifikan sebesar 0.273 > 0.10, sehingga H0 diterima dan H1 ditolak.

4. Pada uji statistik t untuk variabel ukuran perusahaan, diperoleh nilai t variabel sebesar 2.115 dengan nilai signifikan sebesar 0.045 < 0.05, sehingga H0

ditolak dan H1 diterima.

87

4.5.3 Koefisien Determinasi (R2)

Nilai R2 dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.6

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .702a .492 .411 27.31091

Sumber : Lampiran 12

Berdasarkan hasil pengujian diatas diperoleh nilai R2 adalah sebesar 0.492, nilai ini mendekati angka 0 yang artinya kemampuan variabel-variabel independen yaitu return on asset, financial leverage, reputasi underwriter, dan ukuran perusahaan dalam menjelaskan variabel dependen yaitu underpricing sangat terbatas. Nilai adjusted R sebesar 0.411 yang menunjukkan bahwa kemampuan variabel-variabel independen yaitu return on asset, financial leverage, reputasi underwriter, dan ukuran perusahaan dalam menjelaskan variabel dependen yaitu underpricing sebesar 41.1% sedangkan sisanya 58.9%

dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak menjadi objek dalam penelitian ini.

4.6 Pembahasan

4.6.1 Pengaruh Return on Assets (ROA) terhadap Underpricing

Dari hasil penelitian diperoleh koefisien variabel ROA pada model regresi bernilai (3.297), dengan nilai signifikan 0.003 < α (0.01). Dengan demikian ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap Underpricing pada α = 0.01.

ROA merupakan salah satu rasio profitabilitas untuk mengetahui tingkat pengembalian saham atas harta yang dimiliki oleh perusahaan. ROA digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aset yang dimilikinya (Subramanyam, 2011). Calon investor

akan mempertimbangkan presentase profitabilitas perusahaan sebelum menentukan keputusan investasinya sehingga nilai ketidakpastiannya semakin rendah yang juga akan menurunkan nilai underpricing perusahaan tersebut.

ROA merupakan pertimbangan penting bagi investor ketika akan membeli saham. ROA menunjukkan keefisienan perusahaan dalam memanfaatkan aset yang ada untuk menghasilkan laba, sehingga semakin tinggi rasio ini menggambarkan tingkat efisiensi yang tinggi dari perusahaan. Bila efisiensinya tinggi maka diharapkan perusahaan tersebut menguntungkan (dari segi pendapatan). Keadaan ini tentu saja menarik minat investor untuk membeli saham perusahaan, sehingga harga sahamnya pun akan meningkat.

Hal tersebutlah yang membuat ROA mempunyai hubungan positif dan signifikan terhadap underpricing, semakin tinggi ROA semakin tinggi tingkat underpricing karena dengan ROA yang tinggi saham perusahaan tersebut banyak diminati oleh investor, karena perusahaan tersebut dinilai efisien dan dapat menguntunkan investor sehingga semakin banyak penawaran atas saham tersebut.

Maka akan semakin naik harga sahamnya yang mengakibatkan semakin tinggi pula tingkat underpricingnya. Hal tersebut tercermin pada PT. Skybee, Tbk yang menerbitkan saham perdananya pada tahun 2011 dengan ROA 0,595 dan mempunyai tingkat underpricing 0,493. Disisis lain perusahaan dengan PT. PP, Tbk yang menerbitkan saham perdananya pada tahun 2011 mempunyai nilai ROA yang lebih kecil sebesar 0,037 dan mempunyai nilai underpricing yang kecil pula yaitu sebesar 0,036. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpukan bahwa investor dalam berinvestasi mempertimbangkan nilai ROA perusahaan yang akan

89

berdampak pada tingkat underpricing perusahaan tersebut. Informasi keuangan yang diketahui oleh investor salah satunya dengan melihat ROA yang tinggi akan mengakibatkan permintaan atas saham yang cukup tinggi namun jumlah saham yang beredar terbatas sehingga terjadi kenaikan harga saham yang menyebabkan underpricing.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryanto & Chairi (2002), Prastica (2012) dan Widhiastina & Rida (2016).

Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Retnowati (2013) dan Rust (2015) yang membuktikan bahwa ROA tidak memiliki pengaruh signifikan dengan underpricing.

4.6.2 Pengaruh Financial Leverage (DER) terhadap Underpricing

Dari hasil penelitian diperoleh koefisien variabel DER pada model regresi bernilai (-1.089) dengan nilai signifikan 0.082 < α (0.10). Dengan demikian DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Underpricing pada α = 0.10 .

DER menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kemampuan jangka panjangnya menggunakan equity perusahaan. Semakin besar nilai DER menunjukkan hutang perusahaan lebih besar daripada equity yang dimiliki. Hal ini menunjukkan risiko yang ditanggung perusahaan semakin besar. Hasil penelitian yang signifikan dan dengan koefisien negatif menunjukkan bahwa investor menggunakan informasi rasio keuangan DER, dan cenderung menghindari risiko atau memilih risiko yang kecil dalam menentukan investasinya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Wulandari (2011), dan Bachtiar (2012) yang menemukan bahwa DER

berpengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing. Namun bertentangan dengan Natalia (2016) dan Pahlevi (2014) yang membuktikan bahwa financial Leverage berpengaruh positif terhadap Underpricing.

4.6.3 Pengaruh reputasi underwriter terhadap Underpricing

Dari hasil penelitian diperoleh koefisien variabel reputasi underwriter pada model regresi bernilai (-1.121) dengan nilai signifikan 0.273 > α (0.10).

Dengan demikian reputasi underwriter berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Underpricing pada α = 0.10.

Underwriter yang memiliki reputasi tinggi tentu akan berani melakukan penjaminan dalam jumlah yang besar. Reputasi underwriter juga dapat dipakai sebagai sinyal untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dan memberi sinyal bahwa informasi privat dari perusahaan mengenai prospek perusahaan di masa datang tidak menyesatkan (Kardi, 2014). Penggunaan underwriter yang bereputasi baik, maka perusahaan dapat mengurangi resiko atas penawaran sahamnya kepada public sehingga resiko underpricing dapat diperkecil (Anggoro, 2016). Reputasi Underwriter yang tidak mempengaruhi underpricing dapat disebabkan oleh perbedaan pengambilan sampel, perbedaan perengkingan reputasi underwriter yang dilakukan masing-masing peneliti memngingat di Indonesia belum ada lembaga resmi yang melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan efek (penjamin emisi) secara berkala.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hartanto (2014) dan Martini (2012) membuktikan bahwa reputasi underwriter berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap

91

underpricing. Namun, bertentangan dengan penelitian Suyatmin dan Sujadi (2006), Marofen (2015) serta Pahlevi (2014) membuktikan bahwa reputasi underwriter berpengaruh positif dan signifikan terhadap underpricing.

4.6.4 Pengaruh Ukuran Perusahaan (SIZE) terhadap Undepricing

Dari hasil penelitian diperoleh koefisien variabel reputasi ukuran perusahaan pada model regresi bernilai (2.115) dengan nilai signifikan 0.045 <

α (0.05). Dengan demikian ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Underpricing pada α = 0.05.

Untuk mengukur besarnya skala atau ukuran dari perusahaan adalah dengan melihat total aset dari laporan keuangan perusahaan tahun terakhir sebelum perusahaan tersebut melakukan IPO di Bursa. Aset merupakan tolak ukur besaran atau skala suatu perusahaan. Biasanya perusahaan besar mempunyai aset yang besar pula nilainya. Secara teoritis perusahaan yang lebih besar mempunyai kepastian (certainty) yang lebih besar daripada perusahaan kecil sehingga akan mengurangi tingkat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan ke depan.

Hal tersebut tersebut tercermin pada PT. Dharma Satya Nusantara, Tbk yang menerbitkan saham perdananya pada tahun 2013, perushaan ini mempunyai total penjualan yang tinggi yaitu sebesar Rp3.842.182.000.000 dengan tingka underpricing sebesar 0,11 sedangkan disisi PT. Gading Development, Tbk yang menerbitkan saham perdanya pada tahun 2010 memiliki total penjualan yang lebh kecil yaitu sebesar Rp6.842.491.481 dengan tingkat underpricing lebih tinggi sebesar 0,695. Beradasrkan uraian teesebut dapat disimpulkan bahwa investor dalam berinvestasi mempertimbangkan faktor ukuran perusahaan yang

tecermin pada total penjualan yang berdampak terdampak tingkat underpricing.

Hal tersebut mendukung exante uncertainty theory. Secara teoritis perusahaan yang lebih besar mempunyai kepastian yang lebih besar darpada perusahaan kecil sehingga akan mengurangi tingkat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan kedepan.

Hal tersebut dapat membantu investor memprediksi resiko yang mungkin terjadi jika investor berinvestasi pada perusahaan itu. Perusahaan besar pada umumnya lebih dikenal oleh masyarakat daripada perusahaan kecil karena informasi mengenai perusahaan besar lebih banyak dan lebih mudah diperoleh oleh investor dibandingkan dengan perusahan kecil. Sehingga ukuran perusahaan mempengaruhi tingkat underpicing pada perusahaan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maryasinta dan Haryanto (2017). Namun hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prastica (2012) dan Safitri (2013) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan dengan underpricing.

.

BAB V

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH AMY AULIA PURBA (Halaman 99-107)

Dokumen terkait