• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Penelitian

4.4.2 Uji Hipotesis

Setelah uji prasyarat dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah analisis akhir untuk menguji hipotesis. Pada penelitian ini diperoleh data hasil belajar siswa berdistrubusi normal dan bersifat homogen. Analisis akhir menggunakan uji

Independent Samples T-Test pada taraf signifikan 5% dengan uji dua sisi. Pengujian menggunakan program SPSS 16. Jika p value (Sig. (2-tailed)) < 0,05 maka Ho ditolak (Sulistyo, 2010: 89). Hasil perhitungan uji t selengkapnya dapat dibaca pada lampiran 26.

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa nilai t sebesar 2, 200 dan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,034. Nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 dan nilai t (2,200) >

t (2,021), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya ada perbedaan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun ringkasan hasil perhitungan uji hipotesis menggunakan Independent

76

Samples T-Test dapat dibaca pada tabel 4.11.

Tabel 4.11 Ringkasan Hasil Uji Hipotesis

Independent Samples Test

t-test for Equality of Means

t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper nilai hasil postes Equal variances assumed 2.200 39 .034 7.452 3.388 .599 14.305 Equal variances not assumed 2.212 37.729 .033 7.452 3.368 .632 14.273

4.5 Pembahasan

Penelitian ini bertujuan mengetahui keefektifan model pembelajaran NHT terhadap hasil belajar siswa materi pantun pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebelum dilaksanakan penelitian, dilakukan uji prasyarat instrumen. Instrumen pada penelitian berupa soal-soal tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Untuk mendapatkan instrumen yang baik diperlukan uji instrumen. Soal-soal yang dibuat berupa Soal-soal pilihan ganda berjumlah empat puluh butir Soal-soal, masing-masing soal memiliki empat alternatif jawaban. Uji prasyarat instrumen meliputi uji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda soal. Langkah tersebut merupakan langkah awal peneliti sebelum menggunakan instrumen dalam penelitian. Setelah instrumen dibuat, diuji validitas isinya oleh dua orang penilai ahli di bidangnya. Setelah soal dinilai dan dinyatakan layak

untuk diujicobakan, kemudian dilakukan uji coba soal pada siswa kelas V SD Negeri 1 Candinegara Kabupaten Banyumas yang berjumlah 33 siswa. Setelah soal diujicobakan kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya. Setelah itu, 40 butir soal yang sudah diujicobakan kemudian dicari taraf kesukaran dan daya pembeda soal. Butir soal yang lolos uji prasyarat instrumen akan digunakan untuk pretes dan postes. Hasil analisis menunjukkan ada 20 butir soal valid yang akan digunakan dalam penelitian yaitu soal nomor 2, 5, 8, 12, 16, 19, 25, 28, 29, 31, 32, 35, 36, 38, 39, 9, 24, 26, 30, dan 37. Sedangkan soal nomor 1, 3, 4, 6, 7, 10, 11, 13, 14, 15, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 27, 33, 34, dan 40 tidak digunakan karena tidak memenuhi prasyarat instrumen.

Setelah instrumen siap digunakan, langkah selanjutnya yaitu kegiatan penelitian. Penelitian diawali dengan pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pretes bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa mengenai materi pantun yang akan diajarkan. Kisi-kisi dan soal pretes dapat dibaca pada lampiran 15 dan 16. Nilai rata-rata pretes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing sebesar 74,29 dan 73,00. Daftar nilai pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol selengkapnya dapat dibaca pada lampiran 17 dan 18.

Setelah diketahui nilai pretes pada kedua kelas, lalu dilakukan uji kesamaan rata-rata. Uji kesamaan rata-rata digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Uji kesamaan rata-rata dilakukan dengan membandingkan rata-rata-rata-rata nilai pretes materi pantun pada kelas IV SD Negeri 1 Candinegara Kabupaten Banyumas. Rata-rata nilai pretes

78 materi pantun kelas IVA dan IVB masing-masing 74,29 dan 73. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelas IVA dan kelas IVB memiliki selisih nilai rata-rata yang tidak jauh berbeda yaitu sebesar 1,29 yang menandakan kedua kelas memiliki kemampuan awal yang sama. Oleh karena, itu penelitian dapat dilanjutkan pada kedua kelas, yaitu kelas IVA sebagai kelas eksperimen dan kelas IVB sebagai kelas kontrol.

Setelah dilaksanakan pretes, langkah selanjutnya yaitu kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kegiatan pembelajaran berlangsung selama 2 pertemuan yaitu pada tanggal 26 April 2013 dan 1 Mei 2013. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas eksperimen dapat dibaca pada lampiran 19 dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas kontrol dapat dibaca pada lampiran 20.

Pada kelas IVA sebagai kelas eksperimen, menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kendala yang dihadapi yaitu kesulitan dalam pembagian kelompok karena masing-masing siswa ingin berkelompok dengan teman dekatnya, padahal pembagian anggota kelompok ditentukan secara acak. Namun, dengan penjelasan dari guru akhirnya siswa bersedia untuk berkelompok sesuai dengan pembagian yang sudah ditentukan. Selama proses pembelajaran berlangsung, awalnya siswa kurang terbiasa belajar secara berkelompok, sehingga kondisi siswa masih kurang aktif. Pada akhirnya siswa berpartisipasi aktif karena masing-masing siswa mempunyai tanggung jawab pada kelompoknya untuk menjawab satu pertanyaan. Pada kelas IVB sebagai kelas kontrol selama kegiatan pembelajaran berlangsung

tidak ada kendala yang berarti karena kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan sama seperti yang biasa berlangsung yaitu menggunakan model pembelajaran konvensional.

Langkah selanjutnya adalah postes untuk mengetahui perolehan hasil belajar siswa setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran. Postes menggunakan instrumen soal yang sudah digunakan saat pretes namun dengan nomor soal yang diacak. Kisi-kisi dan soal postes dapat dibaca pada lampiran 21 dan 22. Perolehan rata-rata nilai hasil belajar siswa kelas eksperimen yaitu 85,95 dan 78,50 pada kelas kontrol. Perbandingan perolehan nilai rata-rata postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dibaca pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Perbandingan Nilai Rata-Rata Postes

Perbedaan nilai rata-rata postes tersebut menunjukkan hasil belajar siswa materi pantun yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Numbered

74 76 78 80 82 84 86 88

Perbandingan Nilai Rata-Rata Postes

eksperimen kontrol

85,95

80

Heads Together (NHT) lebih baik daripada hasil belajar siswa yang proses belajarnya menerapkan model pembelajaran konvensional.

Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dulu dilakukan uji prasyarat analisis meliputi uji normalitas dan uji homogenitas data. Hasil analisis menunjukkan data hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dengan masing-masing data memiliki nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,200 dan 0,156 lebih besar dari nilai alpha yang ditetapkan yaitu 0,05. Sedangkan uji homogenitas menunjukkan data homogen dengan nilai Sig. sebesar 0,404 lebih besar dari 0,05. Uji prasyarat analisis menunjukkan data hasil belajar siswa berdistribusi normal dan homogen.

Langkah selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan Independent Samples T-Test. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai t > t yaitu 2,200 > 2,021 serta nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 yaitu 0,034 < 0,05 maka disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada kelas yang menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan kelas yang menggunakan model konvensional.

Setelah dilaksanakan analisis terhadap hasil belajar pada kedua kelas, disimpulkan bahwa penggunaan model NHT efektif terhadap materi pantun. Penggunaan model NHT berhasil memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa. Dilihat dari rata-rata nilai postes yang diperoleh, hanya satu siswa pada kelas eksperimen yang memperoleh nilai di bawah KKM yang ditentukan sebesar 64.

81

BAB 5

PENUTUP

Penelitian yang berjudul Keefektifan Model Numbered Heads Together

dalam Pembelajaran Materi Pantun terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Candinegara Kabupaten Banyumas telah dilaksanakan. Hasil penelitian telah dipaparkan dalam bab sebelumnya. Bab ini adalah penutup berisi simpulan dan saran. Paparan selengkapnya dijelaskan sebagai berikut:

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV sebelumnya, diperoleh beberapa simpulan. Ada perbedaan hasil belajar siswa yang proses belajarnya menerapkan model NHT dibandingkan dengan siswa yang proses belajarnya menerapkan model pembelajaran konvensional. Hal ini dibuktikan dengan selisih rata-rata hasil belajar siswa pada kedua kelas yang cukup signifikan sebesar 7,45. Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen sebesar 85,95 dan rata-rata hasil belajar kelas kontrol sebesar 78,5.

Simpulan lain yaitu model NHT efektif dalam pembelajaran materi pantun. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji hipotesis pada data nilai postes menggunakan uji Independent Samples T-Test pada taraf signifikan 5% dengan uji dua sisi. Pengujiannya menggunakan program SPSS 16. Hasil uji t menunjukkan bahwa nilai t > t yaitu 2,200 > 2,021 serta nilai Sig. (2-tailed) < 0,05 yaitu 0,034 < 0,05. Dari analisis uji hipotesis disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha

82 diterima, yang artinya ada perbedaan hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, peneliti memberikan beberapa saran bagi semua pihak yang bersangkutan dengan penelitian ini, khususnya dalam pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar yang dijelaskan sebagai berikut:

(1) Model Numbered Heads Together (NHT) hendaknya disosialisasikan dan dijadikan alternatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

(2) Guru sebaiknya melakukan variasi model Numbered Heads Together

(NHT) dengan metode pembelajaran inovatif yang mendukung sehingga dapat lebih menarik. Penggunaan variasi model NHT ini hendaknya disesuaikan dengan karakteristik pokok bahasan dan kondisi siswa.

Sebelum menggunakan model Numbered Heads Together (NHT), hendaknya guru merencanakan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan baik, sehingga pelaksanaanya dapat berlangsung sesuai dengan yang diharapkan.

Lampiran 1

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUMAS