BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
F. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan positif antara passionate love dan kepuasan relasi romantis. Verifikasi hipotesis yang dilakukan peneliti dengan menggunakan Spearman’s Rho one tailed menunjukkan perolehan koefisien korelasi (R) antara passionate love dan kepuasan relasi romantis sebesar 0,410 dan signifikansi (p) sebesar 0,000 (p < 0,01, signifikan). Hal ini menunjukkan adanya hubungan positif antara passionate love dan kepuasan relasi romantis yang termasuk dalam kategori cukup kuat (Siregar, 2014). Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin besar gairah seseorang dalam mencintai pasangan, maka akan
semakin besar pula kepuasan yang dirasakan individu tersebut terhadap relasi romantis yang dijalin bersama pasangan.
Hasil penelitian ini selaras dengan temuan Hassebrauck dan Fehr (2002) yang menunjukkan bahwa gairah berkontribusi terhadap kepuasan relasi romantis. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Ratelle, Carbonneau, Valleran, dan Mageau (2013) yang menemukan bahwa gairah dalam diri individu dapat meningkatkan kualitas relasi romantis yang akan berdampak pada tingginya kepuasan yang dirasakan individu terhadap relasi romantis yang dijalinnya. Temuan ini juga didukung oleh hasil penelitian Overbeek, Ha, Scholte, de Kemp, dan Engels (2007) serta Kochhar dan Sharma (2015) yang mengungkap bahwa gairah memengaruhi kepuasan relasi romantis.
Tingginya gairah subjek dalam mencintai pasangannya selaras dengan teori yang menyatakan bahwa individu mencapai masa paling aktif dalam hal seksual pada masa dewasa awal (Lefkowitz & Gillen, dalam Santrock, 2011).
Individu yang menjalin relasi romantis dapat menyalurkan membaranya gairah dalam dirinya dengan cara memperlakukan pasangan secara spesial yang berdampak pada meningkatnya keintiman dan tumbuhnya komitmen dalam relasi romantis, sehingga individu merasa puas dengan relasi romantisnya (Acker & Davis, 1992; Aykutgolu & Uysal, 2017; Greef & Malherbe, Schaefer & Olson, dalam Yoo, 2013; Hassebrauck & Fehr, 2002).
Membaranya gairah dalam diri individu terhadap pasangannya terkait dengan salah satu tipe cinta menurut Hatfield (dalam Sternberg, 1988), yaitu
passionate love. Perlu diketahui sebelumnya bahwa gairah merupakan satu-satunya komponen dalam teori cinta segitiga Sternberg (1986) yang hanya dapat dijumpai dalam relasi romantis. Lebih lanjut, Sternberg (1986) menyatakan bahwa gairah merupakan elemen dalam relasi romantis yang paling cepat berkembang. Hal ini selaras dengan pernyataan Hatfield (dalam Sternberg, 1988) yang menegaskan bahwa passionate love terjadi pada masa awal relasi romantis terjalin.
Terkait dengan relasi romantis, khususnya dalam hal pacaran, individu dengan tingkat passionate love yang tinggi akan mencintai pasangannya dengan penuh gairah. Besarmya gairah tersebut tampak dari sikap individu yang memikirkan pasangannya secara terus-menerus, berangan-angan mengenai relasi romantisnya, memiliki hasrat yang besar untuk bersatu dengan pasangan, memperlakukan pasangan secara istimewa, dan merasa sangat berbahagia ketika relasi romantis yang dijalin bersama pasangan berjalan lancar (Hatfield, dalam Sternberg, 1988). Hal tersebut akan membuat pasangan merasa istimewa, sehingga gairah pasangan akan meningkat (Ratelle et al., 2013). Gairah juga akan meningkatkan keintiman dalam relasi romantis yang akan semakin meningkatkan gairah itu sendiri (Aykutgolu & Uysal, 2017). Hal ini sesuai dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa mayoritas subjek masih cukup bergairah dalam mencintai pasangannya walaupun relasi romantis yang dijalin sudah lebih dari batasan waktu passionate love menurut Harlow (Juli 25, 1980), yaitu 30 bulan. Lebih lanjut, adanya keintiman dalam relasi romantis yang dijalin membuat dewasa awal
mampu menunaikan tugas perkembangannya. Dewasa awal akan terbebas dari isolasi emosional dan mampu berlatih berbagi hidup dengan seseorang secara intim (Erickson, dalam Hall & Lindzey, 1993)
Keintiman yang berkembang dari membaranya gairah juga akan menumbuhkan komitmen bersama dalam relasi romantis (Aykutgolu & Uysal, 2017; Schaefer & Olson, dalam Yoo, 2013). Komitmen tersebut termanifestasikan melalui harapan individu untuk hidup bersama pasangan.
Hal ini akan membuat individu menjaga dan mempertahankan keutuhan relasi romantis, sehingga relasi romantis dapat terjalin dalam waktu relatif lama (Hendrick, 1988; Merolla, 2014; Gottman & Levenson, 1992; Wildsmith et al., 2013).
Bersatunya gairah, keintiman, dan komitmen dalam relasi romantis memenuhi kriteria relasi romantis yang sempurna menurut Sternberg (1986).
Hal ini akan membuat individu merasa puas dengan relasi romantisnya (Kochhar & Sharma, 2015; Overbeek et al., 2007). Individu yang merasa puas dengan jalinan relasi romantisnya akan termotivasi untuk mengubah kebiasaan dan perilaku buruk yang tidak menyehatkan (Khaddouma, Shorey, Brasfield, Febres, Zapor, Elmquist, & Stuart, 2016). Lebih lanjut, individu akan mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam relasi romantis dengan baik (Kurdek, dalam Malouff, Thorsteinsson, Schutte, Bhullar, & Rooke, 2010) dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
Kepuasan yang individu rasakan terhadap relasi romantisnya tampak dari banyaknya waktu yang dihabiskan bersama pasangan dengan saling
berbagi aktivitas bersama dan bercanda (Taylor et al., 2006). Pengalaman positif tersebut akan menunjang stabilitas dan kualitas relasi romantis, sehingga relasi romantis dapat terjalin dalam jangka waktu relatif lama (Gottman & Levenson, 1992; Wildsmith et al., 2013). Hal ini selaras dengan teori yang mengatakan bahwa ketidakpuasan relasi romantis dapat berujung pada terjadinya perselingkuhan (Taylor et al., 2006).
Uraian di atas menunjukkan bahwa individu dengan tingkat passionate love yang tinggi memiliki karakteristik gairah yang membara dalam mencintai pasangannya. Gairah tersebut akan meningkat dengan cepat dan menjadi bahan bakar yang menyulut elemen-elemen lain dalam relasi romantis, yaitu keintiman dan komitmen, sehingga relasi romantis akan memiliki kualitas yang baik (Aykutgolu & Uysal, 2017; Schaefer & Olson, dalam Yoo, 2013;
Sternberg, 1986). Relasi romantis yang dijalin dengan kualitas yang baik akan berdampak positif pada kepuasan relasi romantis yang berujung pada langgengnya relasi romantis itu sendiri (Gottman & Levenson, 1992; Kochhar
& Sharma, 2015; Overbeek et al., 2007; Wildsmith et al., 2013). Rasa puas yang individu rasakan terhadap relasi romantis yang dijalin bersama pasangan membantu individu dalam menyeleksi pasangan, sehingga diharapkan dapat memenuhi tuntutan masyarakat untuk menikah pada usia 30 tahun (Santrock, 2011).
Efek domino dari perkembangan gairah seperti yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa gairah bukan satu-satunya elemen yang berkaitan dengan kepuasan relasi romantis. Hal ini dibuktikan melalui perolehan
koefisien korelasi (R) dalam penelitian ini yang sebesar 0,410 dengan arah hubungan positif dan koefisien determinan (R2) sejumlah 0,164 atau 16,4%.
Artinya, variabel passionate love memiliki korelasi terhadap variabel kepuasan relasi romantis (Santoso, 2010) walaupun sumbangan yang diberikan tidak terlalu besar. Hal ini dapat disebabkan oleh dominasi elemen relasi romantis lain, yaitu keintiman dan komitmen (Sternberg, 1986).
Keintiman membuat individu merasa dekat dan terhubung dengan pasangan sementara komitmen memotivasi individu untuk menjaga dan mempertahankan relasi romantisnya bersama pasangan (Sternberg, 1986).
Meski demikian, keintiman dan komitmen membutuhkan gairah yang membara untuk dapat berkembang (Aykutgolu & Uysal, 2017; Schaefer &
Olson, dalam Yoo, 2013). Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa gairah sangat berperan terhadap kepuasan relasi romantis individu melalui perannya dalam menstimulasi keintiman dan komitmen dalam relasi romantis.
Selain keintiman dan komitmen, terdapat faktor lain yang juga dapat turut memengaruhi kepuasan relasi romantis. Faktor yang pertama adalah tipe kepribadian. Individu yang memiliki tingkat aggreableness, conscientiousness, dan extraversion yang tinggi, serta tingkat neuroticism yang rendah cenderung cenderung merasa puas dengan relasi romantisnya. Di antara keempat tipe kepribadian tersebut, neuroticism merupakan tipe kepribadian yang paling memengaruhi kepuasan relasi romantis. Individu dengan tingkat neuroticism yang rendah mampu mengekspresikan kritik dengan baik, tanpa harus mencela pasangan, sehingga konflik dalam relasi
romantis dapat diminimalisir dan kepuasan relasi romantis dapat terwujud (Malouff et al., 2010).
Faktor lain yang memengaruhi kepuasan individu terhadap relasi romantis adalah efikasi diri. Individu yang memiliki kemampuan efikasi diri yang baik tampak dari keyakinannya bahwa ia mampu melakukan suatu hal dengan baik. Hal ini membuat individu dengan kemampuan efikasi diri yang baik mampu bernegosiasi dan menyelesaikan konflik dengan baik serta menunjukkan sikap dan perilaku yang mendukung keutuhan relasi romantis.
Teratasinya konflik dan sikap menjaga keutuhan relasi romantis akan meningkatkan kepuasan relasi romantis (Weiser & Weigel, 2016).
Peneliti juga melakukan analisis tambahan untuk memperkaya informasi terkait topik penelitian ini. Analisis tambahan pertama yang dilakukan peneliti adalah mengenai perbedaan tingkat passionate love berdasarkan jenis kelamin subjek. Hasil uji beda menunjukkan perolehan mean pria sebesar 280,32 (Npria = 149) yang lebih tinggi daripada perolehan mean wanita sebesar 245,99 (Nwanita = 362) dengan signifikansi (p) sebesar 0,017 (p < 0,05, signifikan). Perolehan tersebut menandakan bahwa tingkat passionate love dalam diri pria lebih tinggi secara signifikan daripada tingkat passionate love dalam diri wanita. Temuan ini selaras dengan hasil penelitian lintas budaya yang menemukan bahwa gairah pria dalam mencintai pasangannya lebih tinggi daripada gairah wanita dalam mencintai pasangannya (Kim & Hatfield, 2004). Pria memiliki tingkat passionate love yang lebih tinggi dibandingkan wanita karena preferensi pria dalam memilih
pasangan yang menekankan pada penampilan fisik pasangan sementara wanita lebih menekankan pada kondisi finansial pasangan (Buss, dalam Karandashev, 2015).
Hasil analisis tambahan lain dalam penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat passionate love berdasarkan durasi berpacaran subjek.
Hal ini diketahui dari perolehan hasil uji beda dengan signifikansi (p) sebesar 0,467 (p > 0,05, tidak signifikan). Temuan ini bertentangan dengan hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa gairah akan memudar ketika relasi romantis sudah terjalin lebih dari dua tahun enam bulan (Harlow, Juli 25, 1999; Myers, 2008). Hal ini disebabkan oleh karakteristik pacaran yang menjadi sarana bagi individu dan pasangan untuk saling mengeksplorasi (Arnett, 2015; Hatfield, dalam Sternberg, 1988).
Lebih lanjut, terkait dengan hasil kategorisasi passionate love,
diketahui bahwa mayoritas subjek (62%), yaitu sebanyak 317 subjek (N = 511) memiliki passionate love dengan kategori sedang ke arah tinggi.
Temuan ini dapat disebabkan oleh karakteristik pacaran yang sedang dijalin subjek bersama pasangan. Secara konseptual, individu dan pasangan saling mengeksplorasi pada tahap pacaran, sehingga gairah subjek terhadap pasangannya masih membara (Arnett, 2015; Hatfield, dalam Sternberg, 1988).
Hal lain yang dapat menyebabkan mayoritas subjek memiliki passionate love dengan tingkat sedang ke arah tinggi adalah mayoritas subjek (47,2%) dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 241 subjek (N = 511) sedang menjalin relasi romantis bersama pasangan selama tujuh bulan hingga dua
tahun enam bulan. Secara konseptual, tingkat passionate love pada masa ini relatif tinggi. Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian yang lintas budaya yang menunjukkan bahwa gairah mendominasi relasi romantis pada masa awal relasi romantis terjalin, yaitu kurang dari dua tahun enam bulan (Harlow, Juli 25, 1999; Hatfield & Rapson, 1994; Myers, 2008).
Mayoritas subjek (62%) yang memiliki tingkat passionate love dengan kategori sedang ke arah tinggi juga dapat disebabkan oleh salah satu karakteristik masa dewasa awal, yaitu individu akan mencapai puncak aktif dalam hal seksual. Masa puncak untuk aktif dalam hal seksual tersebut terkait dengan membaranya gairah dalam passionate love pada dewasa awal (Lefkowitz & Gillen, dalam Santrock, 2011).
Terkait dengan hasil kategorisasi kepuasan relasi romantis, diketahui bahwa mayoritas subjek (57,7%) dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 295 subjek (N = 511) memiliki tingkat kepuasan relasi romantis yang tinggi. Hal ini didukung oleh data demografis yang menunjukkan banyaknya subjek yang sudah menjalin relasi romantis bersama pasangan selama lebih dari dua tahun enam bulan. Langgengnya relasi romantis merefleksikan komitmen bersama untuk menjaga dan mempertahankan jalinan relasi romantis (Schaefer &
Olson, dalam Yoo, 2013). Komitmen tersebut tumbuh dari adanya keintiman yang dipelopori oleh gairah sebagai elemen dalam kualitas relasi romantis yang paling cepat berkembang (Aykutgolu & Uysal, 2017; Schaefer & Olson, dalam Yoo, 2013). Temuan ini selaras dengan hasil penelitian lain yang menemukan bahwa kepuasan yang dirasakan individu terhadap jalinan relasi
romantisnya akan mendukung relasi romantis yang stabil, langgeng, dan berkualitas (Gottman & Levenson, 1992; Wildsmith, Manlove, Steward-Streng, & Cook, 2013).
Temuan bahwa mayoritas subjek (57,7%) memiliki tingkat kepuasan relasi romantis dengan kategori tinggi juga dapat dijelaskan dengan menggunakan teori saling ketergantungan yang memaparkan adanya tiga hal yang membuat individu merasa puas dengan relasi romantisnya. Pertama, terkait dengan persepsi individu yang memandang apakah jalinan relasi romantisnya bersifat menguntungkan atau merugikan. Individu yang mengalami lebih banyak hal-hal yang menyenangkan daripada hal-hal yang tidak menyenangkan dari relasi romantis yang dijalin bersama pasangan akan merasa puas dengan relasi romantisnya (Taylor, Peplau, & Sears, 2006).
Kedua, terkait dengan bagaimana individu membandingkan jalinan relasi romantisnya dengan jalinan relasi romantis yang dijalin oleh pasangan lain.
Individu yang merasa bahwa jalinan relasi romantisnya bersama pasangan memiliki kualitas yang lebih baik daripada kualitas relasi romantis yang dijalin pasangan lain akan cenderung memiliki kepuasan relasi romantis yang tinggi (Miller, 2015; Taylor et al., 2006). Ketiga, terkait dengan persepsi individu mengenai kesetaraan dalam jalinan relasi romantis. Individu yang merasa diperlakukan secara adil oleh pasangan cenderung merasa puas dengan relasi romantisnya (Taylor et al., 2006).
Bertolak dari hasil temuan dalam penelitian ini yang membuktikan adanya hubungan positif yang cukup kuat antara passionate love dan kepuasan
relasi romantis, maka dewasa awal sebaiknya menjaga membaranya gairah dalam mencintai pasangan. Aykutgolu dan Uysal (2017) menyatakan bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan keintiman. Dengan demikian, dewasa awal perlu mengembangkan keintiman dalam relasi romantisnya.
Argyle dan Hatfield (dalam Sternberg, 1988) menguraikan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keintiman. Hal yang pertama kali perlu dilakukan oleh individu adalah sikap menerima dirinya sendiri terlebih dahulu secara apa adanya. Kemudian, ia juga perlu menerima pasangan secara apa adanya dan tidak mengubah pasangan menjadi pribadi yang diinginkannya. Setelah itu, individu diharapkan untuk mulai memberanikan diri dalam mengekspresikan pendapat maupun perasaannya.
Hal ini sulit dilakukan karena ketika gairah membara, individu akan merasa khawatir apabila pengungkapan pendapat atau perasaannya akan menyakiti pasangannya. Meski demikian, individu tetap perlu menyampaikan pendapat atau perasaannya secara jujur, utuh, dan dengan tenang. Oleh karena adanya kemungkinan pasangan merasa tersakiti atau marah akibat pengungkapan individu, maka individu perlu menyadari hal tersebut dan bersiap untuk menghadapinya dengan tenang. Sikap pasangan yang tidak reaktif dalam merespon keterbukaan diri individu akan membantu individu untuk mengembangkan keintiman. Lebih lanjut, individu akan merasakan adanya peningkatan keintiman dari keterbukaan diri antara ia dan pasangan, bahkan ketika mereka saling mengungkapkan ganjalan hatinya satu sama lain.
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan mengenai keterkaitan antra passionate love dan kepuasan relasi romantis, dapat dikatakan bahwa melalui prosedur penelitian dan analisis data yang sesuai, penelitian ini telah memenuhi tujuannya, yaitu untuk mengetahui adanya hubungan positif antara passionate love dan kepuasan relasi romantis pada dewasa awal yang sedang berpacaran. Penelitian ini menemukan bahwa semakin besar gairah yang dimiliki dewasa awal dalam mencintai pasangannya, maka akan semakin besar pula kepuasan yang dirasakan dewasa awal terhadap relasi romantisnya bersama pasangan.
Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap kajian ilmu Psikologi Perkembangan, khususnya terkait topik percintaan pada dewasa awal. Topik mengenai passionate love dan kepuasan relasi romantis memang pernah diteliti sebelumnya, namun dengan konteks pernikahan (Aron & Henkemeyer, 1995), berbeda halnya dengan penelitian ini yang berfokus pada dewasa awal yang sedang berpacaran. Perbedaan konteks tersebut tentu menghasilkan temuan yang berbeda mengingat salah satu fungsi pacaran adalah sebagai sarana bagi individu untuk lebih mengenal karakteristik pasangan yang ia inginkan demi memenuhi tuntutan masyarakat untuk menikah pada usia 30 tahun (Arnett, 2015; Santrock, 2011). Hal tersebut menunjukkan salah satu kebaruan penelitian ini.
Kebaruan lain yang disajikan dalam penelitian ini adalah lokasi penelitian yang dilakukan di Indonesia mengingat banyaknya penelitian terdahulu baik terkait variabel passionate love maupun variabel kepuasan
relasi romantis yang dilakukan di negara Barat (Acevedo & Aron, 2009;
Baumeister & Bratslavsky, 1999; Chonody, Gabb, & Killian, 2016;
Dandurand, 2013; Demir, 2008; Hassebrauck & Fehr, 2002; Hatfield, Pillemer, O’Brien, & Le, 2008; Khaddouma, et al., 2016; Kim & Hatfield, 2004; Sánchez, et al., 2017; Weiser & Weigel, 2016; Yoo, 2013).