• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Pengujian Hipotesis

5.3.2 Uji Interaksi

Variabel moderasi dalam penelitian ini yaitu financial distress.

Financial distress yang dijadikan sebagai variabel moderasi untuk melihat apakah variabel ini mampu memoderasi variabel independen terhadap variabel depependen dengan meliaht interaksinya terhadap model penelitian dalam tabel berikut.

Tabel 5.5 Hasil Uji Interaksi

Berdasarkan tabel 5.5, maka didapat persamaan sebagai berikut : AD = -0,443UP – 0,761P + 0,107AT +1847FD -1,041UP*FD – 0,383P*FD + 0,464AT*FD

Berdasarkan tabel diatas, maka dapat di lihat masing interaksi antara variabel moderating yaitu financial distress dengan masing-masing variabel bebas yaitu ukuran perusahaan,profitabilitas dan audit tenure. Ketika menggunakan variabel pemoderasi, maka hasil yang diperoleh adalah sesuai tabel 5.5 dengan penjelasan berikut ini.

a. Nilai koefisien UP adalah yakni -0,443, dengan tanda negatif yang berarti apabila terjadi peningkatan dari nilai UP sebesar 1 mana akan terjadi penurunan pada AD sebesar 0,443. Nilai signifikansi dari UP yaitu 0,006, atau dibawah 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa UP berpengaruh negatif dan sifnigikan terhadap AD.

b. Nilai koefisien P adalah yakni -0,761, dengan tanda negatif yang berarti apabila terjadi peningkatan dari nilai UP sebesar 1 mana akan terjadi

penurunan pada AD sebesar 0,761. Nilai signifikansi dari P yaitu 0,000, atau dibawah 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa P berpengaruh negatif dan sifnigikan terhadap AD.

c. Nilai koefisien AT adalah yakni 0,107, dengan tanda negatif yang berarti apabila terjadi peningkatan dari nilai AT sebesar 1 mana akan terjadi penurunan pada AD sebesar 0,107. Nilai signifikansi dari AT yaitu 0,227, atau di atas 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa AT berpengaruh positif dan tidak sifnigikan terhadap AD.

d. Nilai koefisien FD adalah yakni 1,847, dengan tanda positif yang berarti apabila terjadi peningkatan dari nilai FD sebesar 1 mana akan terjadi penurunan pada AD sebesar 1,847. Nilai signifikansi dari FD yaitu 0,002, atau dibawah 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa UP berpengaruh positif dan sifnigikan terhadap AD.

e. Nilai koefisien regresi variabel UP dimoderasi oleh FD adalah sebesar – 1,041, yang bertanda negatif yang artinya apabila adan peningkatan dari UP*FD sebsar 1, makan akan terjadi penurunan dari AD 1,041. Nilai signifikansi variabel UP*FD sebsar 0,021 dibawah 0,05, maka diambil kesimpulan bahwa FD dapat memoderasi pengaruh P terhadap AD.

f. Nilai koefisien regresi variabel P dimoderasi oleh FD adalah sebesar –0,383, yang bertanda negatif yang artinya apabila adan peningkatan dari P*FD sebsar 1, makan akan terjadi penurunan dari AD 0,383. Nilai signifikansi variabel UP*FD sebsar 0,119 di atas 0,05, maka diambil kesimpulan bahwa FD tidak dapat memoderasi pengaruh P terhadap AD.

g. Nilai koefisien regresi variabel AT dimoderasi oleh FD adalah sebesar 0,464, yang bertanda positif yang artinya apabila adan peningkatan dari UP*FD sebsar 1, makan akan terjadi kenaikan dari AD 0,464. Nilai signifikansi variabel UP*FD sebsar 0,028 dibawah 0,05, maka diambil kesimpulan bahwa FD tidak dapat memoderasi pengaruh AT terhadap AD.

Pembahasan

5.4.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay

Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap audit delay pada perusahaan sektor Tambang yang terdaftar di BEI, sehingga dalam hal ini hipotesis 1 diterima.

Secara teori, ukuran perusahaan yaitu besar/kecilnya suatu perusahaan yang dilihat dari nilai total aset yang dimilikinya dengan menggunakan logaritma natural. Perusahaan dengan aset yang besar, maka memiliki ukuran perusahaan yang besar juga. Perusahaan dalam skala besar cenderung lebih konsisten/teoat waktu pada poenyampaian laporan keuangannya bandingkan perusahaan kecil. Hal ini diduga karena perusahaan skala besar akan menyelsaikan secara cepat proses auditnya daripada perusahaan skala kecil.

Hal ini disebabkan oleh pada kebiasaan dari perusahaan besar yang cenderung memberikan insentif dalam rangka meminilisir terjadinya audit delay yang disebabkan oleh adanya pengawasan langsung dari pihak investor dan regulator untuk perusahaan besar. Selain itu, perusahaan besar akan selalu menjaga

image dimata publik sehingga mereka berusahan menyampaikan laporan keuangannya tepat waktu.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Aston,et.al (1987), Khalabari,et.al (2013), Febrianti (2011), serta Indriani & Supriati (2012) yang berhasil membuktikan perusahaan besar akan lebih cepat dalam menyampaikan laporan keuangannya dibandingkan dengan perusahaan kecil. Demikian juga hasil penelitian dari Kartka (2009) dan Apriana

&Rachmawati (2017) yang menemukan hasil ukuran perushaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap audit delay.

5.4.2 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Audit Delay

Hasil uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap audit delay pada perusahaan sektor Tambang yang terdaftar di BEI, sehingga dalam hal ini hipotesis 2 diterima.

Secara teori, profitabilitas adalah kesanggupan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan berdasarkan sumber daya yang dimiliki yang dan tergantung pada tingkat efisiensi serta efektifitas dari pelaksanaan kegiatan operasi serta tingkat sumber daya yang digunakan.

Profitabilitas menunjukkan tingkat berhasilnya suatu perusahaan dalam mendapatkan profit yang akhirnya akan menjadi berita baik bagi entitas, sehingga perusahaan ingin secepatnya menyampaikan berita baik ini ke investor. Oleh karena itu, perusahaan yang mempunyai tingkat profit tinggi akan berkoordinasi dengan auditor KAP agar dapat menyelesaikan proses

auditnya lebih cepat sehingga laporan keuangan audited segera dapat diterbitkan. Sebaliknya jika perusahaan mengalami kerugian, auditor KAP bisa saja lebih lama dalam melakukan audit dikarenakan auditor harus lebih berhati-hati dalam proses pelaksanaannya.

Selain itu, pengendalian internal pada perusahaan yang memiliki profitabilitabilitas yang tinggi lebih baik dari pada perusahaan yang merugi, sehingga dalam hal ini mempermudah auditor dalam mengurangi tingkat kesalahan audit dan pada dalam menyelesaikan laporan auditnya. Penjelasan tersebut manyatakan bahwa pada perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi, akan cenderung menyebabkan audit delay yang lebih singkat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Soedarsa &

Nurdiawansyah (2017) yang menemukan hasil dimana profitabilitas secara ssignifikan berpengaruh terhadap audit delay. Beberapa penelitian terdahulu lainnya juga menemukan hal yang sama yaitu penelitian Susilwati dkk (2012); Miradi dan Juliasa (2016); Muti (2016) dan Apriana dan Rachmawati (2017). Oleh karena itu, dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa profitabilitas menjadi salah satu faktor yang dapat memberi pengaruh terhadap audit delay.

Dokumen terkait