BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan
Uji iritasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat iritatif sediaan.
Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji pakai (usage test).
Percobaan ini dilakukan pada 15 orang sukarelawan yaitu terdiri dari 3 orang sukarelawan untuk tiap formula yang dengan cara dioleskan sediaan krim di
bagian belakang telinga sukarelawan kemudian dibiarkan selama 24 jam dan diamati reaksi yang terjadi. Reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak pada kulit sukarelawandi bagian belakang telinga yang diberi perlakuan (Wasitaatmadja, 1997).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penentuan Mutu Fisik Sediaan 4.1.1 Hasil penentuan homogenitas
Berdasarkan uji yang dilakukan pada sediaan krim dengan konsentrasi 3%, 6%, 9% dan 12% maupun blanko, sediaan krim yang diperoleh berupa krim putih, tidak diperoleh butiran-butiran kasar pada objek gelas, maka sediaan krim dikatakan homogen. Menurut Ditjen POM RI (1979), sediaan dinyatakan homogen jika tidak ada butiran kasar pada kaca, maka sediaan memenuhi syarat.
Hasil percobaan untuk pengujian homogenitas sediaan dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data pengamatan terhadap homogenitas sediaan dengan menggunakan objek gelas.
+ : Homogen (tidak terdapat butiran kasar) - : Tidak homogen (terdapat butiran kasar) 4.1.2 Hasil penentuan tipe emulsi pada sediaan krim
Menurut Ditjen POM RI (1985), penentuan tipe emulsi suatu sediaan dapat dilakukan dengan menggunakan metil biru, jika metil biru terlarut atau tersebar merata saat diaduk dengan batang pengaduk maka emulsi tersebut adalah tipe m/a, tetapi bila hanya bintik-bintik biru berarti krim tersebut bertipe a/m.
Hasil percobaan untuk pengujian tipe emulsi sediaan dengan menggunakan metil biru dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Data penentuan tipe emulsi sediaan Formula Sediaan Kelarutan Metil Biru
Blanko +
FI +
FII +
FIII +
FIV +
Keterangan: Blanko, krim anti-aging minyak bekatul FI:3%, FII: 6%, FIII: 9%, FIV: 12%
+ : Larut - :Tidak larut
Berdasarkan hasil uji tipe emulsi yang telah di lakukan, diperoleh bahwa sediaan blanko dan sediaan yang mengandung minyak bekatul dengan konsentrasi 3%, 6%, 9% dan 12% dapat bercampur atau tersebar merata dengan metil biru.
Hal ini menunjukkan bahwa tipe emulsi dari sediaan yang telah diuji adalah tipe emulsi m/a.
4.1.3 Hasil penentuan pH sediaan
Hasil pengukuran pH sediaan pada saat selesai dibuat dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data pengukuran pH sediaan pada saat selesai dibuat
Formula pH
Menurut Balsam dan Sagarin (1972), pH untuk sediaan krim adalah 5-8, sehingga sediaan diatas memenuhi syarat pH untuk krim anti-aging. Hasil pengukuran pH sediaan saat sediaan selesai dibuat adalah 6,0-6,4. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan masih memiliki pH yang aman untuk digunakan pada kulit.
Hasil pengukuran pH setelah penyimpanan sediaan selama 12 minggu dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Data pengukuran pH sediaan setelah penyimpanan selama 12 minggu
Formula pH
Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa pH sediaan mengalami sedikit kenaikan saat selesai dibuat hingga sediaan disimpan selama 12 minggu, akan tetapi pH sediaan masih berada pada pH yang aman untuk digunakan pada kulit.
4.1.4 Hasil penentuan stabilitas sediaan
Hasil pengamatan stabilitas sediaan memperlihatkan bahwa seluruh formula yang dibuat yaitu blanko dan formula sediaan yang mengandung minyak bekatul tidak mengalami perubahan pada saat pertama kali dibuat, penyimpanan 1 minggu, 4 minggu, 8 minggu, dan 12 minggu. Pada seluruh sediaan yang dibuat masih sama baik dari bau, warna, dan bentuk sediaan seperti pertama kali dibuat.
Hasil pengamatan stabilitas sediaan dapat dilihat pada Tabel 4.5 di bawah ini.
Tabel 4.5 Data pengamatan terhadap kestabilan sediaan pada saat selesai dibuat, penyimpanan selama 1, 4, 8, dan 12 minggu
No Formula
Menurut Anief (2004), ketidakstabilan emulsi dapat dilihat dari keadaan creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan dimana lapisan satu mengandung lebih banyak butiran-butiran dibanding lapisan lainnya. Cracking yaitu pecahnya emulsi dan inversi yaitu peristiwa berubahnya tipe emulsi. Inversi yaitu berubahnya tipe emulsi a/m menjadi m/a dan sebaliknya.
4.2 Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan
Berdasarkan hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan, tidak terlihat adanya reaksi seperti kemerahan, gatal-gatal maupun bengkak pada kulit dari setiap sediaan, hal ini menunjukkan bahwa keseluruhan sediaan tersebut aman untuk digunakan. Hasil dari uji iritasi terhadap kulit sukarelawan, dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut, yaitu:
Tabel 4.6 Data uji iritasi terhadap kulit sukarelawan.
Formula Relawan Kemerahan Gatal-gatal Bengkak
Blanko
Salah satu cara untuk menghindari terjadinya efek samping pada penggunaan kosmetik adalah dengan melakukan uji pakai. Percobaan ini dilakukan pada 15 orang sukarelawan, yaitu 3 orang sukarelawan untuk tiap formula. Dioleskan di bagian belakang telinga sukarelawan, kemudian dibiarkan 24 jam dan diamati reaksi yang terjadi. Reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak pada kulit bagian belakang telinga yang diberi perlakuan (Wasitaatmadja, 1997).
4.3 Hasil Pengujian Aktivitas Anti-aging
Pengujian efektivitas anti-aging menggunakan skin analyzer Aramo, parameter uji meliputi pengukuran kadar air (moisture), kehalusan (evenness),
pori (pore), banyaknya noda (spot) dan keriput (wrinkle). Pengukuran efektivitas anti-aging dimulai dengan mengukur kondisi awal kulit wajah sukarelawan.Pengujian ini dilakukan dari minggu ke-1 sampai pada minggu ke-4.
Data yang diperoleh pada setiap parameter dianalisis secara statistik dengan metode Kruskal-Wallis lalu dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan antar formula.
4.3.1 Kadar air (moisture)
Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer Aramo dengan menekan tombol power dan dilekatkan pada permukaan kulit yang akan diukur.
Pada Tabel 4.7 dapat di lihat bahwa semua kelompok sukarelawan memiliki kadar air dehidrasi yaitu 25,3-29,3. Perawatan yang di lakukan menunjukkan adanya efek peningkatan kadar air kulit sukarelawan setelah pemakaian krim. Persentase peningkatan kadar air kulit dari FI, FII dan FIII masing-masing 15,1%, 22,2% dan 34,8%. Persentase peningkatan kadar air kulit paling tinggi ditunjukkan oleh kelompok sukarelawan dengan perawatan menggunakan FIV yaitu sebesar 37,9% bila dibandingkan dengan blanko yang hanya naik sebesar 3,3%. Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis untuk mengetahui efektivitas formula terhadap kadar air kulit sukarelawan dan diperoleh nilai p < 0,05 pada minggu kedua hingga keempat yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan efektivitas antar formula. Untuk mengetahui formula mana yang berbeda maka dilakukan uji Mann-Whitney. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kadar air yang signifikan antara blanko dengan F2, F3, dan F4, F1 dengan F3 dan F4, F2 dengan F3 dan F4 (nilai p < 0,05).
Menurut Mitsui (1997), nutrisi, aktivitas serta lingkungan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kadar air dalam epidermis dan dermis. Kulit harus mampu menjaga kadar air untuk mempertahankan fungsinya sebagai kulit yang sehat. Apabila kadar air menurun secara drastis, kulit akan kekurangan nutrisi dan menyebabkan kulit menjadi kering, kasar, pecah-pecah dan terkelupas.
Data hasil pengukuran kadar air (moisture)pada kulit sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit wajah sukarelawan
Formula Suka-
0
Grafik pengaruh pemakain krim terhadap kadar air kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Grafik hasil pengukuran kadar air (moisture) selama 4 minggu Keterangan:
Kadar air dehidrasi: 0-29 Normal : 30-44
Hidrasi : 45-100 (Aramo, 2012).
Gambar di atas menunjukkan bahwa pemakaian krim memberikan efek terhadap peningkatan kadar air kulit wajah sukarelawan. Kadar air kulit meningkat setelah penggunaan krim selama empat minggu perawatan.
4.3.2 Kehalusan (evenness)
Pengukuran kehalusan kulit (evennes) dengan menggunakan perangkat skin analyzer yangmenggunakan lensa perbesaran 60 kali dengan warna lampu sensor berwarna biru. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Dari data yang diperoleh setelah perawatan selama empat minggu dianalisis dengan uji non parametrik Kruskal Wallis untuk mengetahui efektivitas formula terhadap kehalusan kulit sukarelawan dan diperoleh nilai p < 0,05 pada minggu awal hingga minggu keempat yang menunjukkan tidak adanya perbedaan yang
signifikan antar formula. Untuk mengetahui formula mana yang berbeda, maka data selanjutnya diuji menggunakan Mann-Whitney. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kehalusan kulit yang signifikan antara blanko dengan F1, F2, F3 dan F4, F1 dengan F3 dan F4, F2 dengan F3 dan F4 serta F3 dengan F4 (nilai p < 0,05).
Tabel 4.8 Hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit wajah sukarelawan
Formula Suka-
Berdasarkan data yang telah diperoleh dapat dilihat bahwa kondisi awal kehalusan kulit sukarelawan berkisar antara 23-35 yaitu pada kondisi normal dan
0
halus. Setelah penggunaan krim, kelompok blanko tidak menunjukkan peningkatan kehalusan kulit (0%), sedangkan pada FI, FII, FIIIdan FIV menunjukkan peningkatan kehalusan kulit dengan persentase pemulihan masing-masing sebesar 12,96%, 14,86%, 21,16% dan 22,26%. FIV menunjukkan peningkatan kehalusan kulit. Grafik pengaruh pemakaian krim terhadap peningkatan kehalusan kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Grafik hasil pengukuran kehalusan (evenness) selama 4 minggu Keterangan:
Kulit halus : 0-31 Normal : 32-51
Kasar : 52-100 (Aramo, 2012)
Gambar di atas menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi minyak bekatul yang digunakan mempengaruhi peningkatan kehalusan kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan. Krim pada FIV lebih efektif dalam menghaluskan kulit sukarelawan dibandingkan dengan blanko yang tidak mengalami peningkatan kehalusan kulit.
Ketika kulit terlalu sering terpapar oleh sinar matahari, kolagen dan elastin yang berada dalam lapisan kulit akan rusak. Sehingga sel-sel mati yang bertumpuk pada stratum korneum menyebabkan permukaan kulit menjadi kurang halus. Akibatnya kulit tampak lebih kasar (Bogadenta, 2012).
4.3.3 Pori (pore)
Pengukuran pori dengan skin analyzer secara otomatis ikut terbaca pada pengukuran kehalusan. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9 Hasil pengukuran pori (pore) pada kulit wajah sukarelawan
Formula Suka-
0
Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat bahwa kelompok blanko sedikit menunjukkan pengecilan ukuran pori (5,23%), sedangkan pada FI, FII, FIII dan FIV, menunjukkan adanya pengecilan ukuran pori masing-masing sebesar 14%, 16%, 23,94%, 25% dan 29,29%, dan pada salah satu relawan terdapat perubahan dari pori berukuran beberapa besar (24) menjadi pori berukuran kecil (16). Grafik pengaruh pemakaian krim terhadap ukuran pori kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Grafik hasil pengukuran pori (pore) selama 4 mingggu Keterangan:
Pori kecil : 0-19 Beberapa besar : 20-39
Sangat besar : 40-100 (Aramo, 2012)
Gambar di atas menunjukkan bahwa krim FIV lebih cepat mengecilkan pori-pori kulit dari pada blanko. Data yang diperoleh setelah perawatan selama empat minggu selanjutnya dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 pada minggu pertama hingga minggu keempat yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam mengecilkan ukuran pori
kulit sukarelawan. Data selanjutnya diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda.Berdasarkan dari hasil uji Mann-Whitney yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara formula blanko dengan F1, F2, F3 dan F4, F1 dengan F3 dan F4, serta F2 dengan F4 (nilai p < 0.05).
Peningkatan suhu akibat aktivitas masing-masing sukarelawan juga dapat menyebabkan membesarnya pori-pori pada kulit. Menurut Sulastomo (2013), salah satu parameter untuk menentukan kulit wajah yang sehat adalah mempunyai pori-pori yang kecil. Pori-pori dapat membesar apabila terkena sinar matahari yang terlalu terik, peningkatan suhu menyebabkan pembukaan pori-pori pada kulit. Pori-pori yang besar dapat menyebabkan kotoran mudah masuk dan tersumbat di dalamnya sehingga menyebabkan jerawat lebih mudah timbul.
Besarnya pori dapat disebabkan oleh sinar matahari dan sel kulit mati.
4.3.4 Noda (spot)
Pengukuran banyaknya noda dengan menggunakan perangkat skin analyzer dengan lensa perbesaran 60 kali dengan warna lampu sensor jingga.
Berdasarkan hasil pengukuran yang diperoleh memperlihatkan bahwa kondisi awal kulit wajah semua kelompok sukarelawan berkisar antara 32-41 yaitu pada kondisi beberapa noda dan banyak noda. Setelah penggunaan krim dan dilakukan pengukuran pada kulit wajah sukarelawan dapat dilihat bahwa blanko tidak memberikan efek pengurangan noda pada kulit wajah sukarelawan dengan persentase pemulihan sebesar 0,9%. FI, FII, FIII dan FIV menunjukkan adanya efek pengurangan noda (spot) pada kulit sukarelawan dengan persentase pemulihan masing-masing sebesar 5,2%, 30,2%, 33,33% dan 37,77%. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Hasil pengukuran noda (spot) pada kulit wajah sukarelawan
Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisa statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam mengurangi nodapada kulit sukarelawan pada minggu pertama hingga minggu keempat. Kemudian data diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda.
Berdasarkan dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat
0
perbedaan yang signifikan banyaknya noda kulit sukarelawan antara blanko dengan F1, F2, F3 dan F4, F1 dengan F2, F3 dan F4, F2 dengan F3 dan F4 serta F3 dengan F4 (nilai p < 0,05).
Grafik pengaruh pemakaian krim terhadap banyaknya noda (spot) kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 Grafik hasil pengukuran noda (spot)selama 4 minggu Keterangan:
Sedikit noda : 0-19 Beberapa noda : 20-39
Banyak noda : 40-100 (Aramo, 2012)
Sel utama kedua epidermis (setelah keratinosit) adalah melanosit yang ditemukan dalam lapisan basal. Di dalam melanosit disintesa granula-granula pigmen yang disebut melanosom. Melanosom mengandung biokroma coklat yang disebut melanin. Jumlah melanin dalam keratinosit dalam kulit menentukan warna kulit seseorang. Melanosit melindungi kulit dari pengaruh-pengaruh sinar matahari yang merugikan. Sebaliknya, sinar matahari yang berlebihan juga dapat meningkatkan pembentukan melanosom dan melanin. Semakin banyak sinar
matahari yang terkena kulit menyebabkan semakin aktif pembentukan melanin dan menimbulkan pembentukan bintik-bintik noda berwarna coklat pada kulit (Fitzpatrick, dkk.,1983).
4.3.5 Keriput (Wrinkle)
Pengukuran keriput dengan menggunakan perangkat skin analyzer lensa perbesaran 10 kali dengan warna lampu sensor biru. Hasil pengukuran keriput (wrinkle) pada kulit dapat dilihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Hasil pengukuran keriput (wrinkle) pada kulit wajah sukarelawan
Formula Suka-
0
Hasil pengukuran yang diperoleh memperlihatkan bahwa kondisi awal kulit wajah semua kelompok sukarelawan berkeriput (23-29). Setelah penggunaan krimdan dilakukan pengukuran dapat dilihat bahwa formula blanko sedikit memberikan efek pengurangan keriput pada kulit wajah sukarelawan dengan persentase pemulihan sebesar 1,23%. FI, FII, FIII dan FIV menunjukkan adanya efek pengurangan banyaknya keriput pada kulit sukarelawan dengan persentase pemulihan masing-masing sebesar 16,46%, 19,91%, 23,88 dan 27,63%.
Grafik pengaruh pemakaian krim erhadap jumlah keriput (wrinkle) kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.5 di bawah ini.
Gambar 4.5 Grafik hasil pengukuran keriput (wrinkle) selama 4 minggu Keterangan:
Tidak berkeriput : 0-19 Berkeriput : 20-52
Berkeriput parah : 53-100 (Aramo, 2012)
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang
signifikan antar formula dalam mengurangi keriput pada kulit sukarelawan pada minggu keempat. Kemudian data diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara formula blanko dengan F2, F3 dan F4, F1 dengan F2 (nilai p < 0,05).
Dalam hal ini, proses penuaan yang gejalanya terlihat jelas pada kulit seperti timbulnya keriput, kelembutan kulit berkurang, menurunnya elastisitas kulit, tekstur kulit menjadi kasar, hiperpigmentasi, serta kulit berwarna gelap.Keriput yang timbul dapat diartikan secara sederhana sebagai penyebab menurunnya jumlah kolagen dermis (Jaelani, 2009).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Minyak bekatul (Rice bran oil) dapat diformulasikan menjadi krim m/a, bersifat homogen, tetap stabil setelah penyimpanan selama 12 minggu, dan memiliki pH yang sesuai dengan pH kulit serta tidak mengiritasi kulit.
2. Krim yang mengandung minyak bekatul (Rice bran oil) dengan konsentrasi 12% lebih baik dalam memperbaiki kondisi kulit wajah sukarelawan yaitu kadar air semakin meningkat (37,9%), kulit semakin halus (22,26%), pori-pori yang semakin mengecil (29,29%), dan banyak noda (37,77%), serta kerutan yang semakin berkurang (27,63%), daripada krim yang mengandung minyak bekatul 3%, 6% dan 9% selama empat minggu perawatan.
5.2 Saran
Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk memformulasikan minyak bekatul dalam bentuk sediaan kosmetik lain seperti sabun.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, M. (2004). Ilmu Farmasi. Jakarta: Ghalia Indonesia. Halaman 96.
Anonim. (2017). http:// kulit.com
Ansel, H. C. (2008). Pengantar Bentuk Sediaam Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta:
Universitas Indonesia. Halaman 158-159, 162, 389.
Aramo. (2012). Skin and Hair Diagnostic System. Sugnam: Aram Huvis Korea Ltd. Halaman 1-10.
Ardhie, A M. (2011). Radikal Bebas dan Peran Antioksidan dalam Mencegah Penuaan. Medicinus 24 (1): 4-9.
Auliana, R. (2011). Manfaat Bekatul dan Kandungan Gizinya. Yogyakarta:
Halaman 1-11.
Balsam, M. S. dan Sargarin, E. (1972). Cosmetics: Science and Technology.
Volume II. Edisi II. New York: John Willey and Sons, Inc. Halaman 179-219.
Bogadenta, A. (2012). Antisipasi Gejala Penuaan Dini dengan Kesaktian Ramuan Herbal. Jogjakarta: Buku Biru. Halaman 15, 17, 19, 25 - 27, 43.
Ditjen POM RI. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 8, 57, 96, 378, 612.
Ditjen POM RI. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Halaman 6, 157.
Ditjen POM RI. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 22, 84, 86, 356.
Fauzi, A. R., dan Nurmalina, R. (2012). Merawat Kulit dan Wajah. Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo. Halaman 60, 171-173.
Fitzpatrick, T. B., Eisen, A. Z., Wolff, K., Freedberg, I. M., dan Austen, K. F.
(1983). Dermatology in General Medicine. Chicago: Mc Graw-Hill Inc.
Halaman 8-9.
Guyton, A. C., dan Hall, J. E. (1996). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi Kesembilan. Penerjemah: Ken Ariata Tengadi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Halaman 682-684.
Hadipernata, M. (2006). Mengolah Dedak Menjadi Minyak (Rice Bran Oil).
Bogor:Balai Besar Penelitian dan PengembanganPascapanen Pertanian.
Halaman 8-10.
Jaelani. (2009). Ensiklopedi Kosmetika Nabati. Jakarta: Pustaka Populer Obor.
Halaman 153-155.
Mitsui, T. (1997). New Cosmetic Science. Edisi Pertama. Amsterdam: Elsevier Science. Halaman 460.
Muliyawan, D., dan Suriana, N. (2013). A-Z tentang Kosmetik. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Halaman 193-194, 283-284, 64-65.
Nasir, S., dan Fitriyanti. (2009). Ekstraksi Dedak Padi Menjadi Minyak Mentah Dedak Padi (Crude Rice Bran Oil) Dengan Pelarut n-hexane dan Etanol.Teknik Kimia 2 (16): 1-10.
Prianto. J. (2014). Cantik Panduan Lengkap Merawat Kulit Wajah. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama. Halaman 60, 118-145.
Rawlins, E. A. (2003). Bentley’s Textbook of Pharmaceutics. Edisi Kedelapan.
Eastbourne. Edisi Ke-enam. London: Pharmaceutical Press. Halaman 75.
Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 100.
Sulastomo, E. (2013). Kulit Cantik dan Sehat. Jakarta: Kompas. Halaman 177.
Sulistiawati, E., Arum Sari, Rafiqah Hidayati Chaniago. (2012). Dekolorisasi Crude Rice Bran Oil Menggunakan Bentonit.Spektrum Industri 10 (1): 11-18.
Susanti, A. D., Dwi Ardiana, Gita Gumelar P, Yosephin Bening G. (2012). Polaritas Pelarut Sebagai Pertimbangan DalamPemilihan Pelarut Untuk Ekstraksi Minyak Bekatul DariBekatul Varietas Ketan (Oriza Sativa Glatinosa).
Simposium Nasional RAPI XI: 8-14.
Tranggono, R. I., dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT. Gramedia Pusaka Utama. Halaman 7, 21, 46.
Vinski, D. (2012). Perfect Beauty Anti-aging. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Halaman 69.
Voigt, R. (1994). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi Kelima. Penerjemah:
Soendani Noerono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 36.
Wasitaatmadja, S. M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI Press.
Halaman 58,62.
Young, A. (1972). Practical Cosmetic Science. London: Mills & Boon Limited.
Halaman 51, 53.
Lampiran 1. Surat pernyataan sukarelawan
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rahimah Umur : 23 Tahun Alamat : Jalan Sempurna
Menyatakan bersedia menjadi sukarelawan untuk uji krim anti-aging pada kulit wajah yang dilakukan selama 1 bulan dan uji iritasi dalam penelitian Dian Gusriawan dengan judul penelitian FORMULASI DAN UJI EFEK ANTI−AGING DARI KRIM YANG MENGANDUNG MINYAK BEKATUL
(Rice bran oil) dan memenuhi kriteria sebagai sukarelawan uji sebagai berikut (Ditjen POM RI, 1985).
1. Wanita berbadan sehat 2. Usia antara 20-30 tahun
3. Tidak ada riwayat penyakit alergi 4. Bersedia menjadi relawan
Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama uji iritasi dan uji krim anti-aging, saya tidak akan menuntut kepada peneliti.
Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya
Medan, Oktober 2016 Sukarelawan
( Rahimah )
Lampiran 2. Bagan kerja penelitian
Ditimbang semua bahan
Diatas penangas air dilebur asam stearat dan setil alkohol
Ditambahkan butilhidroksitoluen
Dilarutkan metil paraben dan trietanolamindalam aquades yang telah dipanaskan (fase air)
Dimasukkan fase minyak kedalam lumpang panas, ditambahkan fase air
Di aduk secara konstan hingga homogen
Ditimbang dasar krim anti-aging
Homogenitas pH Stabilitas
sediaan
Lampiran 3. Gambar alat dan bahan yang digunakan
Minyak bekatul pH meter
Skin analyzer Timbangan
Moisture checker
Lampiran 4. Gambar sediaan krim, uji homogenitas dan uji tipe emulsi
Sediaan krim selesai dibuat
Sediaan krim setelah penyimpanan 12 minggu
Lampiran 4. (Lanjutan)
Uji homogenitas
Uji tipe emulsi
Lampiran 5. Gambar hasil efektivitas krim Kehalusan (evenness ) dan pori (pore) Minggu awal
Minggu ke 1
Minggu ke 2
Lampiran 5. (Lanjutan) Minggu ke 3
Minggu ke 4
Lampiran 5. (Lanjutan) Noda (spot)
Minggu awal
Minggu ke 1
Minggu ke 2
Lampiran 5. (Lanjutan) Minggu ke 3
Minggu ke 4
Lampiran 5. (Lanjutan) keriput (wrinkle) Minggu awal
Minggu ke 1
Minggu ke 2
Lampiran 5. (Lanjutan) Minggu ke 3
Minggu ke 4
Lampiran 6. Data hasil uji statistik
Lampiran 6. (Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6. (Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6. (Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6.(Lanjutan) F3 dengan F4
Test Statisticsb
M_0 M_1 M_2 M_3 M_4
Mann-Whitney U 4,500 ,500 4,500 4,500 3,000
Wilcoxon W 10,500 6,500 10,500 10,500 9,000
Z ,000 -1,771 ,000 ,000 -,696
Asymp. Sig. (2-tailed) 1,000 ,077 1,000 1,000 ,487
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 1,000a ,100a 1,000a 1,000a ,700a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6. (Lanjutan)
Lampiran 6.(Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6. (Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6.(Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6. (Lanjutan) F3 dengan F4
Test Statisticsb
M_0 M_1 M_2 M_3 M_4
Mann-Whitney U 1,000 ,500 ,000 ,000 1,000
Wilcoxon W 7,000 6,500 6,000 6,000 7,000
Z -1,623 -1,771 -1,993 -1,993 -1,623
Asymp. Sig. (2-tailed) ,105 ,077 ,046 ,046 ,105
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,200a ,100a ,100a ,100a ,200a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula
Lampiran 6.(Lanjutan)
Lampiran 6. (Lanjutan) a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: Formula a. Not corrected for ties.