BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Uji Regresi Linier Berganda
4.4.3. Uji Koefisien Determinasi (R-Square)
Koefisien Determinasi berguna untunk melihat seberapa besar persentase dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Dimana dalam penelitian ini, seberapa besar persentase pengaruh daya saing ekspor pertanian tanaman tahunan, daya saing ekspor pertanian tanaman musiman, daya saing ekspor industri peternakan, daya saing ekspor industri pengolahan tembakau dan daya saing ekspor industri karet terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Hasil pegujian menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R2) ialah sebesar 0,634 atau 63,4%.
Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh daya saing ekspor pertanian tanaman tahunan, daya saing ekspor pertanian tanaman musiman, daya saing ekspor industri peternakan, daya saing ekspor industri pengolahan tembakau dan daya saing ekspor industri karet terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara berkontribusi sebesar 63,4% sedangkan sisanya 36,6% dipengaruhi oleh variabel lain seperti variabel diluar ekspor disektor industri ekstraktif.
4.4.4. Hasil Estimasi Model Regresi
Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa hasil persamaan estimasi untuk model Pertumbuhan Ekonomi dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
Y = 4,125 – 0,080 X1 + 0,652 X2 – 0,845 X3 – 0,0859 X4 + 3,737 X5 + e
Dari hasil persamaan diatas menunjukkan bahwa nilai konstanta sebesar 4,125 dan bersifat positif serta probabilitas sebesar 0,002 pada taraf signifikansi 5%. Hal ini menandakan bahwa jika variabel daya saing ekspor pertanian tanaman tahunan, daya saing ekspor pertanian tanaman musiman, daya saing ekspor industri peternakan, daya saing ekspor industri pengolahan tembakau dan daya saing ekspor industri karet tidak mengalami peningkatan maka pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara tetap meningkat sebesar 4,13% serta memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
A. Variabel Daya Saing Ekspor Pertanian Tanaman Tahunan
Nilai koefisien pada variabel daya saing eskpor pertanian tanaman tahunan (X1) sebesar – 0,080 dan bertanda negatif serta probabilitasnya sebesar 0,901 pada taraf signifikansi 5%, hal ini menunjukkan bahwasanya daya saing ekspor pertanian tanaman tahunan memiliki hubungan yang negatif dengan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara namun tidak memberikan dampak yang signifikan dapat dilihat dari 0,901>0,05. Dimana setiap peningkatan daya saing eskpor pertanian tanaman tahunan (X1) sebesar 1 poin maka terjadi penurunan pada pertumbuhan ekonomi di
Sumatera Utara sebesar 0,08% dengan asumsi variabel yang lain konstan, begitu juga sebaliknya.
Jika dilihat dari kinerja ekspor pertanian tanaman tahunan dimana dari tahun 2015 sampai tahun 2019 terus terjadi penurunan volume ekspor dan juga nilai ekspor dimana hal ini terjadi karena kesejahteraan petani di Indonesia yang juga masih kurang dimana sulitnya melakukan pencairan dana pengelolaan untuk petani karena harus memenuhi syarat ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) menyebabkan berkurangnya ekspor. Ditambah dengan adanya isu green economy negara tujuan ekspor Indonesia sehingga menyebabkan penurunan volume ekspor dan nilai ekspor di sektor pertanian tanaman tahunan seperti sawit dan komoditas lainnya. Hal ini memberikan dampak terhadap pendapatan petani yang tentunya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi
Menurut Grossman (1991), bahwasanya spesialisasi dalam kegiatan yang salah, yaitu memiliki eksternalitas positif yang lebih rendah dapat merusak pertumbuhan ekonomi. Dimana hal ini menunjukkan bahwasanya ekspor yang terjadi sering kali tidak hanya untuk peningkatan produktivitas dan keuntungan melainkan adanya peran kepentingan swasta atau kebijakan pemerintah lainnya yang mempengaruhi kinerja ekspor. Hal ini didukung dengan pendapat Porter (1998) dimana ekspor lebih dimotivasi oleh tujuan menciptakan pendapatan ekspor untuk menutupi biaya impor atau memenuhi kewajiban utang luar negeri. Tentunya hal ini memberikan pengaruh terhadap kinerja ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi begitu juga daya saing ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi.
B. Variabel Daya Saing Ekspor Pertanian Tanaman Musiman
Nilai koefisien pada variabel daya saing eskpor pertanian tanaman musiman (X2) sebesar 0,652 dan bertanda positif serta probabilitasnya sebesar 0,226 pada taraf siginifikansi 5%, hal ini menunjukkan bahwasanya daya saing ekspor pertanian tanaman musiman memiliki hubungan yang searah dengan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Dimana setiap peningkatan daya saing eskpor pertanian tanaman musiman (X2) sebesar 1 poin maka terjadi peningkatan pada pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara sebesar 0,65% dengan asumsi variabel yang lain konstan, begitu juga sebaliknya. Namun jika dilihat dari besarnya probabilitas sebesar 0,226 pada taraf siginifikansi 5% memperlihatkan bahwa daya saing ekspor pertanian tanaman musiman ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwasanya ekspor memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Produktivitas ekspor digunakan untuk melihat daya saing didaerah tersebut. Alasan tidak signifikannya hal ini dikarenakan banyak aspek seperti kebijakan pemerintah, utang luar negeri, pengaruh impor dan juga efektivitas ekspor.
Jika dilihat nilai ekspor dari pertanian tanaman semusim masih tergolong rendah dibanding sektor ekspor lain di Sumatera Utara, produktivitas ekspor untuk sektor pertanian tanaman musiman ini perlu ditingkatkan guna memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara serta meningkatkan daya saing dari sektor industri ini.
Selain itu adanya impor disektor pertanian tanaman musiman seperti beras mempengaruhi pendapatan para petani, dimana menyebabkan harga beras domestik turun tajam, tentunya hal ini juga mempengaruhi ekspor di sektor pertanian tanaman musiman yang menyebabkan pendapatan petani juga menuruh sehingga kesejahteraan petani turun. Dimana menurut dosen fakultas Hukum UGM, Dr.Richo (2021) terdapat dugaan bahwasanya kebijakan impor beras bukan didorong akan kebutuhan melainkan didorong oleh importer beras (kepentingan swasta).
Menurut Porter (1998), daya saing pada dasarnya ialah produktivitas.
Produktivitas adalah inti dari kerangka kerja, karena dilihat sebagai pendorong penting pertumbuhan berkelanjutan jangka panjang, Sehingga dalam sektor ini perlu ditingkatkan produktivitasnya serta didukung dengan kebijakan-kebijakan yang efektif.
C. Variabel Daya Saing Ekspor Industri Peternakan
Nilai koefisien pada variabel daya saing ekspor industri peternakan (X3) sebesar – 0,845 dan bertanda negatif serta probabilitasnya sebesar 0,008. Hal ini menunjukkan bahwasanya daya saing ekspor industri peternakan memiliki hubungan yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Dimana setiap peningkatan daya saing eskpor industri peternakan (X3) sebesar 1 poin maka terjadi penurunan pada pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara sebesar 0,85%
dengan asumsi variabel yang lain konstan, begitu juga sebaliknya. Serta memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara yaitu dijelaskan pada probabilitasnya sebesar 0,008 pada taraf signifikansi 5%.
Penyebab daya saing ekspor variabel ini memiliki hubungan negatif serta pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dikarenakan berbagai hal seperti bagaimana kebijakan sektor ini dijalankan baik perdagangan didalam negeri maupun ekspor keluar negeri. Jika dilihat, bahwasanya nilai ekspor ini tidak terlalu tinggi dibandingkan sektor industri lainnya, namun memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbun ekonomi di Sumatera Utara. Sehingga perlu dikaji ulang bagaimana kebijakan ekspor industri ini, perlu dilihat juga bagaimana perdagangan dalam negeri di industri ini apakah sudah berjalan dengan baik.
Seperti tingginya ketergantungan terhadap impor dimana hal ini sangat mempengaruhi kinerja ekspor disektor ini, menurut dosen Fakultas Peternakan UNPAD Dr. Asep (2019) masalah utama dalam sektor peternakan Indonesia adalah tingginya impor, kurangnya perhatian dari pemerintah serta kurangnya tenaga ahli praktisi. Hal-hal inilah yang menyebabkan pengaruh ekspor peternakan tidak optimal terhadap pertumnbuhan ekonomi.
D. Variabel Daya Saing Ekspor Industri Pengolahan Tembakau
Nilai koefisien pada variabel daya saing eskpor industri pengolahan tembakau (X4) sebesar –0,0859 dan bertanda negatif dengan probabilitasnya sebesar 0,132 pada taraf signifikansi 5%, hal ini menunjukkan bahwasanya daya saing ekspor industri pengolahan tembakau memiliki hubungan yang berlawanan dengan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Dimana setiap peningkatan daya
saing eskpor industri pengolahan tembakau (X4) sebesar 1 poin maka terjadi penurunan pada pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara sebesar 0,86% dengan asumsi variabel yang lain konstan, begitu juga sebaliknya serta memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dimana probabilitasnya sebesar 0,132 pada taraf signifikansi 5%.
Alasan pengaruh sektor ini berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan secara teori dijelaskan karena pengaruh kebijakan terhadap industri pengolahan tembakau yang semakin ketat, makin besarnya cukai, serta aturan terhadap industri tembakau khususnya industri rokok menyebabkan buruh di Industri ini semakin berkurang karena PHK massal yang tentunya juga memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Sehingga perlu dikaji lebih dalam lagi bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap indsutri ini kedepannya untuk mendorong produktivitas ekspor sektor ini makin efektif.
E. Variabel Daya Saing Ekspor Industri Karet
Nilai koefisien pada variabel daya saing eskpor industri karet (X5) sebesar 3,737 dan bertanda positif serta probabilitasnya sebesar 0,000 pada taraf signifikansi 5%, hal ini menunjukkan bahwasanya daya saing ekspor industri karet memiliki hubungan yang searah dengan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.
Dimana setiap peningkatan daya saing eskpor industri karet (X5) sebesar 1 poin maka terjadi peningkatan pada pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara sebesar 3,74 dengan asumsi variabel yang lain konstan, begitu juga sebaliknya. Serta memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumater Utara.
Jika dilihat dari pengaruh sektor industri karet Sumatera Utara yaitu berpengaruh positif serta signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dapat diketahui bahwasanya hal ini sudah sangat relevan, dalam agenda MP3EI juga dikataka bahwasanya industri Karet merupakan salah satu industri yang difokuskan guna meningkatkan perekonomian Sumatera Utara. Tentunya hal ini menjadi acuan juga untuk sektor lainnya bagaimana menetukan kebijakan yang tepat terhadap masing-masing industri, mengurangi kepentingan swasta, serta kepentingan-kepentingan pelaku bisnis guna membuat kebijakan ekspor tiap sektor industri menjadi efisien dan memiliki produktivitas yang tinggi.
Berdasarkan kelima sektor tersebut, dapat disimpulkan bahwasanya secara keseluruhan kelima sektor industri ekstraktif Sumatera Utara ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sejalan dengan teori yang meyebutkan bahwasanya ekspor memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, dimana daya saing ekspor merupakan tolak ukur dalam mengukur produktivitas ekspor suatu daerah. Namun secara parsial kelima daya saing ekspor industri ekstraktif Sumatera Utara tidak selalu positif terhadap pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan banyak aspek seperti bagaimana utang luar negeri daerah tersebut, kebijakan perdagannya, kebijakan impor didaerah tersebut, bagaimana kebijakan ekspor masing-masing industri seperti kebijakan subsidi, tarif dan lainnya serta bagaimana peran pemerintah dalam melindungi pelaku bisnis, pekerja dan industri sehingga memberikan kebijakan yang paling efektif untuk masing-masing sektor industri tersebut.
70 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan
Pada bab sebelumnya dilakukan analisis daya saing industri menggunakan metode Revealed Comparative Adventage (RCA) dimana untuk melihat daya saing dari kelima sektor ekspor industri ekstraktif yang ada di Sumatera Utara dan juga pada bab sebelumnya telah dianalisis tentang pengaruh kelima sektor industri ekstraktif ini yaitu daya saing ekspor pertanian tanaman tahunan (X1), daya saing ekspor pertanian tanaman musiman (X2), daya saing ekspor industri peternakan (X3), daya saing ekspor industri pengolahan tembakau (X4) dan daya saing ekspor industri karet (X5) terhadap pertumbuhan ekonomi (Y) di sumatera utara. Adapun beberapa kesimpulan dari penelitian ini ialah sebagai berikut:
1. Berdasarkan metode Revealed Comparative Adventage (RCA) kelima sektor ekspor industri ekstraktif di Sumatera Utara yaitu sektor pertanian tanaman tahunan, pertanian tanaman musiman, industri peternakan, industri pengolahan tembakau dan industri karet memiliki daya saing diatas rata-rata Indonesia, dimana sektor dengan daya saing tertinggi ialah sektor industri pengolahan tembakau.
2. Secara simultan, kelima sektor daya saing industri ekstraktif Sumatera Utara mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.
3. Secara parsial, terdapat pengaruh negatif dan tidak signifikan pada variabel daya saing ekspor pertanian tanaman tahunan terhadap pertumbuhan
ekonomi di Sumatera Utara, terdapat pengaruh positif dan tidak signifikan pada variabel daya saing ekspor pertanian tanaman musiman terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara, terdapat pengaruh negatif dan signifikan pada variabel daya saing ekspor industri peternakan terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara, terdapat pengaruh negatif dan tidak signifikan pada variabel daya saing ekspor industri pengolahan tembakau terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara serta terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel daya saing ekspor industri karet terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Secara teori ekspor memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun dalam kondisi tertentu perlu dilihat bagaimana perekonomian didaerah tersebut seperti bagaimana utang luar negeri daerah tersebut, kebijakan perdagannya, kebijakan impor didaerah tersebut, bagaimana kebijakan ekspor masing-masing industri seperti kebijakan subsidi, tarif dan lainnya serta bagaimana peran pemerintah dalam melindungi pelaku bisnis, pekerja dan industri sehingga memberikan kebijakan yang paling efektif untuk masing-masing sekor industri tersebut.
4. Dari kelima sektor industri ekstraktif yang di uji, sektor daya saing industri karet merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dilihat dari koefisien regresi 3,737 dan signifikansi sebesar 0,000.
5.2 Saran
Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud memberikan saran sebagai berikut:
1. Daya saing industri ekstraktif merupakan hal yang harus terus diperhatikan pemerintah guna mendorong industri ekstraktif terus berkembang sehingga mampu bersaing di pasar Internasional. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk membuat kebijakan dengan efektif guna mendukung daya saing ekspor memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara maupun Indonesia, alasan pengaruh daya saing ekspor yang negative tidak terlepas dari kebijakan faktor lainnya seperti adanya subsidi ekspor, tingkat impor yang tinggi, utang luar negeri dan lainnya sehingga pemerintah perlu membuat kebijakan yang paling efektif guna meningkatkan industri ekstraktif Sumatera Utara
2. Produk industri ekstraktif Sumatera Utara memiliki daya saing diatas rata-rata pasar Indonesia dimana hal ini harus terus ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas produknya serta regulasinya sehingga mampu bersaing di pasar Internasional.
3. Industri karet Sumatera Utara merupakan industri yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, untuk itu pemerintah perlu memberikan regulasi yang lebih efektif guna mendukung industri ini menjadi industri dengan daya saing yang tinggi, baik itu di Indonesia maupun pasar Internasional.
4. Untuk akademisi yang ingin melakukan penelitian mengenai daya saing industri, penulis menyarankan agar mengemukakan teori-teori terbaru serta metode yang berbeda sehingga bisa menjadi bahan perbandingan bagi para calon peneliti.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman & Muhidin, (2007) Analisis Korelasi, Regresi dan Jalur Penelitian, CV Pustaka Setia, Bandung.
Ayu, Krisna & Sukarsa, Made, (2014). “Faktor-faktor yang mempengaruhi Ekspor Kertas dan Barang Berbahan Kertas di Indonesia tahun 1998-2012”. E-journal EP UNUD Volume 4, Universitas Udayana, Bali.
Damayanthi, V, R, (2008). “Proses industrialisasi di Indonesia dalam prespektif ekonomi politik”, Journal of Indonesian Applied Economics, Volume 2 Nomor 1, hal 68-89, Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Jawa Timur.
Damayanty, Sofia,Ari, (2016). “Pengelolaan Industri Ekstrkatif di Indonesia:
Kebijakan Fiskal dan Tantangan kedepan”.
https://fiskal.kemenkeu.go.id/kajian/2016/12/30/ (24 Mei 2021) Ekananda, Mahyus, (2002). Ekonomi Internasional, Erlangga, Jakarta.
Galih, A.P. & Setiawina, N. D. (2014). “Analisis Pengaruh Jumlah Produksi, Luas Lahan, dan Kurs Dolar Amerika Terhadap Volume Ekspor Kopi Indonesia Periode Tahun 2001-2011”, E-journal EP UNUD,Volume 3, Universitas Udayana, Bali.
Ghozali, I, (2011).Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19 Edisi kelima, Universitas Diponegoro, Semarang.
Ghozali, I, (2013).Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 23, Universitas Diponegoro, Semarang.
Hady,Hamdy, (2001).Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Hutabarat, Roselyn, (1996). Transaksi Ekspor Impor Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta.
Ketels, Christian, (2010). “Export Competitiveness: Reversing the Logic”.
https://hbswk.hbs.edu/item/export-competitveness-reversing-the-logic (5 Oktober 2021)
Imade, Sandy, (1985). Republik Indonesia Geografi Republik, Universitas Indonesia, Jakarta.
Insukindro, (1990). A Money Supply Model for Indonesia 1971-1982, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Mayer, T & Zignago, S, (2005), Market access in global and regional trade, CEPII Working Paper N° 2005-02,CEPII Research Center, Paris.
Nopirin, (2012). Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro Makro, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.
Porter, Michael E. (2008). On Competition, Updated and Expanded Edition, Harvard Business School Press, Boston.
Priyono,D, dan Wirathi, I.G.A.P, (2016). “Analisis Hubungan Ekspor, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kesempatan Kerja di Provinsi Bali:
Pengujian Vektor Autoregression”,E-journal EP UNUD Volume 5, Universitas Udayana, Bali.
Rajagukguk,Wilson, (2016). Daya Saing (Competitiveness) Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Sebuah Negara: Studi Kasus Negara Berkembang, Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
Salvatore, Dominick, (1997). Ekonomi Internasional, Terjemahan, Erlangga, Jakarta.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.
Sukirno, Sadono, (1976). Beberapa Aspek Dalam Persoalan Pembangunan Daerah, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Sukirno, Sadono, (2010). Pengantar Teori Makro Ekonomi, Rajawali Pers, Jakarta.
Tambunan, T. (2001). Perdagangan Internasional Dan Neraca Pembayaran: Teori dan Temuan Empiris, PT Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta.
Todaro, Michael P, & Stephen, C Smith (2010). Pembangunan Ekonomi, Erlangga, Jakarta.
www.bi.go.id (10 Maret 2021).
www.bps.go.id (10 Maret 2021).
www.kemenperin.go.id (10 Maret 2021).
Daftar Lampiran
1. Data Penelitian
Ekspor Pertanian Tanaman Tahunan Sumatera Utara Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
Total Ekspor Pertanian Tanaman Tahunan Indonesia Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
Ekspor Pertanian Tanaman Semusim Sumatera Utara Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
Total Ekspor Pertanian Tanaman Semusim Indonesia Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 404.4 205.5
2013 355.4 213.0
2014 472.6 245.9
2015 516.7 254.5
2016 183.9 153.8
2017 131.8 161.4
2018 413.6 253.4
2019 148.2 187.0
Total Ekspor Industri Pengolahan Tembakau Indonesia Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 89.8 732.5
2013 97.5 834.3
2014 100.8 942.3
2015 103.8 922.8
2016 109.9 959.7
2017 127.0 1,085.9
2018 128.0 1,135.7
2019 129.4 1,147.0
Ekspor Industri Pengolahan Tembakau Sumatera Utara Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 39.3 253.4
2013 42.1 269.8
2014 48.6 358.1
2015 45.4 313.1
2016 44.6 314.8
2017 45.1 321.1
2018 43.6 293.9
2019 46.2 306.7
Ekspor Industri Karet Sumatera Utara
Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 657.4 2,170.7
2013 720.8 1,948.9
2014 654.1 1,369.2
2015 620.6 1,080.0
2016 587.6 975.4
2017 609.9 1,228.6
2018 625.7 1,109.1
2019 590.7 1,057.5
Total Ekspor Industri Karet Indonesia
Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 3,498.7 11,820.2
2013 3,786.4 10,373.7
2014 3,715.2 8,474.8
2015 3,700.7 7,156.4
2016 3,689.3 6,857.6
2017 4,117.4 8,610.0
2018 3,942.9 7,575.3
2019 3,624.5 7,111.5
Ekspor Peternakan Sumatera Utara
Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 0.1 13.7
2013 0.2 15.2
2014 0.2 18.4
2015 0.2 12.8
2016 0.2 34.9
2017 0.3 62.4
2018 0.4 63.2
2019 0.5 74.0
Total Ekspor Peternakan Indonesia
Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 36.9 222.4
2013 38.0 232.4
2014 34.0 198.6
2015 30.0 159.5
2016 29.6 251.6
2017 31.2 348.0
2018 29.9 352.8
2019 33.0 432.6
Total Ekspor Sumatera Utara
Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 8695.9 10393.9
2013 9275.8 9,598.0
2014 9087.5 9361.1
2015 9008.5 7752.7
2016 8389.3 7770.7
2017 8981.7 9225.2
2018 9645.6 8787.2
2019 9553.9 7678.5
Total Ekspor Indonesia
Tahun Berat (Ribu Ton) Nilau ( Juta US$)
2012 600,136.6 190,020.3
2013 700,005.0 182,551.8
2014 549,465.5 175,980.0
2015 508,827.2 150,366.3
2016 511,728.1 145,134.0
2017 545,846.6 168,828.2
2018 608,907.5 180,012.7
2019 654,474.4 167,683.0
Kuartal Pertumbuhan Ekonomi
2. Data Interpolasi
Data Interpolasi
Tahun Pertanian Tanaman Tahunan
3. Uji Asumsi Klasik
Coefficient Uncentered Centered
Variable Variance VIF VIF Skewness 0.140256 Kurtosis 2.950713 Jarque-Bera 0.108154 Probability 0.947359
Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedasticity Test: White
F-statistic 12.27766 Prob. F(20,11) 0.0001
Obs*R-squared 30.62796 Prob. Chi-Square(20) 0.0603 Scaled explained SS 19.72097 Prob. Chi-Square(20) 0.4755
Test Equation:
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 374.8816 87.49514 4.284600 0.0013
X1^2 -29.44896 27.32338 -1.077793 0.3042
X1*X2 -20.08144 24.82211 -0.809014 0.4357
X1*X3 25.66626 29.05850 0.883262 0.3960
X1*X4 119.7900 32.93350 3.637331 0.0039
X1*X5 150.3970 43.57652 3.451332 0.0054
X1 -264.0252 93.73866 -2.816610 0.0168
X2^2 -8.614159 7.459206 -1.154836 0.2726
X2*X3 72.61495 21.93041 3.311154 0.0069
X2*X4 100.5912 21.57153 4.663143 0.0007
X2*X5 -5.444440 37.31353 -0.145911 0.8866
X2 -140.9095 56.26124 -2.504558 0.0293
X3^2 -41.67656 12.98503 -3.209586 0.0083
X3*X4 -38.80000 25.26013 -1.536018 0.1528
X3*X5 73.48369 16.81079 4.371222 0.0011
X3 -20.18661 17.41494 -1.159154 0.2709
X4^2 135.6696 54.30897 2.498106 0.0296
X4*X5 -157.5284 107.0183 -1.471977 0.1691
X4 -455.4327 135.2548 -3.367219 0.0063
X5^2 -229.8368 128.5771 -1.787540 0.1014
X5 420.1447 210.8829 1.992312 0.0717
R-squared 0.957124 Mean dependent var 0.087563 Adjusted R-squared 0.879167 S.D. dependent var 0.124254 S.E. of regression 0.043192 Akaike info criterion -3.201666 Sum squared resid 0.020521 Schwarz criterion -2.239777 Log likelihood 72.22666 Hannan-Quinn criter. -2.882827 F-statistic 12.27766 Durbin-Watson stat 3.452873 Prob(F-statistic) 0.000069
4. Uji Regresi
Uji Regresi Linier Berganda
Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 09/19/21 Time: 04:43 Sample: 2012Q1 2019Q4 Included observations: 32
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
X1 -0.080627 0.646607 -0.124692 0.9017
X2 0.652480 0.526700 1.238807 0.2265
X3 -0.845979 0.296178 -2.856322 0.0083
X4 -0.859959 0.553011 -1.555048 0.1320
X5 3.737285 0.794930 4.701400 0.0001
C 4.125575 1.235229 3.339928 0.0025
R-squared 0.634256 Mean dependent var 5.396563 Adjusted R-squared 0.563920 S.D. dependent var 0.497125 S.E. of regression 0.328283 Akaike info criterion 0.777478 Sum squared resid 2.802010 Schwarz criterion 1.052304 Log likelihood -6.439652 Hannan-Quinn criter. 0.868575 F-statistic 9.017591 Durbin-Watson stat 1.637694 Prob(F-statistic) 0.000046