• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

2) Uji Normalitas Aktivitas Belajar

Uji normalitas dengan metode Lilieform digunakan apabila datanya tidak dalam distribusi frekuensi data bergolong. Pada metode Lilieform,setiap

data diubah menjadi bilangan baku dengan transformasi:

Satistik uji untuk metode ini ialah:

L= Maks|F( ) – S ( )

Keterangan:

77

Meltzer E. David, The relationship between mathematics preparation and conceptual learning gains in physisc: a possible, hidden variable in diagnostic pretest scrores. Jurnal Am. J. Physic (Departemen of Physics and Astronomy: lowa State University, Ames, lowa 50011, 2002). h. 3.

78

53

F( ) : P(Z ≤ ) : Z ~ N (0,1)

S( ) : proporsi cacah Z ≤ , terhadap seluruh Z

= skor responden

,

: Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. : Sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Tingkat signifikan = 0,05

ditolak jika diterima jika

Kesimpulan: Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal jika diterima.

Sampel berasal dari populasi tidak berdistribusi normal jika ditolak.79

Langkah-langkah uji Lillifors:

a. Mengurutkan data

b. Menentukan frekuensi masing-masing data c. Menentukan frekuensi komulatif

d. Menentukan nilai Z dimana , dengan

79

Budiyono, Statistik untuk Penelitian, (Surakarta:Sebelas Maret university Press, 2009), h. 170-171

54 ,

e. Menentukan nilai , dengan menggunakan tabel z f. Menentukan

g. Menentukan nilai h. Menentukan nilai

i. Membandingkan dan , dan kesimpulan jika , maka diterima.80

3. Uji Homogenitas

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian

mempunyai variasi yang sama atau tidak, “uji homogenitas yang digunakan

adalah uji homogenitas dua varians atau uji fisher”, yaitu:81 F= , dimana S²=

Keterangan :

F : Homogenitas : Varians Terbesar : Varians Terkecil82

Adapun kriteria untuk uji homogenitas ini adalah :

80

Novalia dan Muhamad Syazali, Op Cit. h. 53-54. 81

Sudjana, Metode Statistik (Bandung: Tarsito, 2001). h. 249. 82

55

diterima jika < = data memiliki varians homogen

ditolak jika = data tidak memiliki varians homogenya 4. Uji T

Pengujian hipotesis menggunakan uji t independen dengan persamaan.83 t =

Keterangan :

M : Nilai rata-rata hasil per kelompok N : Banyaknya Subjek

X : Deviasi setiap nilai dan Y : Deviasi setia nilai dan 84

Dengan :

=

=

Hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

83

Sugiyono, Op.Cit. h. 273. 84

56

: Tidak ada pengaruh signifikan penggunaan model problem posing dengan media maket terhadap peningkatan berpikir kritris peserta didik dan aktivitas belajar peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Bandar Lampung.

: Ada pengaruh yang signifikan penggunaan model problem posing dengan media maket terhadap peningkatan berpikir kritis peserta didik dan aktivitas belajar peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Bandar Lampung

Adapun kriteria pengujiannya adalah :85

ditolak, jika > dalam hal ini diterima.

diterima, jika < dengan .

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data

85

Suharsimin Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT Rhineka Cipta, 2006), h. 36.

57

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 6 Bandar Lampung pada peserta didik kelas sampel, yaitu X MIA 2 sebagai kelas eksperimen yang mendapat perlakuan pembelajaran dengan model problem posing dengan media maket dan X MIA 3 sebagai kelas kontrol yang mendapat perlakuan pembelajaran metode diskusi dengan media gambar. Setelah mengadakan penelitian, ada dua data yang diperoleh untuk analisis selanjutnya yaitu data tes kemampuan berpikir kritis dan data angket aktivitas belajar peserta didik.

Analisis data bertujuan untuk melihat gambaran tentang pengaruh perlakuan terhadap objek pengamatan. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program

Microsoft Office Excel 2010, namun sebelum analisis data tes dan data angket terlebih

dahulu menganalisis data uji coba instrumen. Data uji coba instrumen diperoleh dari pengujian pada peserta didik kelas XI IPA 1, yaitu kelompok peserta didik di luar kelas sampel.

1. Analisis Data Uji Coba Instrumen

Data uji coba instrumen dalam penelitian ini meliputi data tes kemampuan berpikir kritis dan angket aktivitas belajar peserta didik. Analisis keduanya dijelaskan di bawah ini:

a. Tes Kemampuan Berpikir Kritis

Data uji coba tes kemampuan berpikir kritis diperoleh dengan cara mengujikan 10 butir soal essay untuk keanekaragaman hayati (Tingkatan- Tingkatan Keanekaragaman Hayati) pada peserta didik di luar sampel penelitian, yaitu kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Bandar Lampung. Uji coba tes

58

kemampuan berpikir kritis dilaksanakan pada tanggal 01 Agustus 2016 dengan responden sebanyak 30 peserta didik. Analisis data uji coba tes kemampuan berpikir kritis dapat di lihat pada Lampiran D.1 untuk uji validitas, lampiran D.3 untuk uji tingkat kesukaran, lampiran D.4 untuk uji daya pembeda, dan lampiran D.5 untuk uji reliabilitas yang akan dipaparkan sebagai berikut:

1) Validitas Tes Kemampuan Berpikir Kritis

Validitas instrumen uji coba menggunakan validitas isi berdasarkan para ahli dan uji validitas menggunakan rumus korelasi Product Moment. Validitas isi berdasarkan para ahli dilakukan dengan menggunakan daftar checklist oleh 3 validator yaitu 2 dosen Pendidikan Biologi IAIN Raden Intan Lampung dan 1 guru mata pelajaran biologi di SMA Negeri 6 Bandar Lampung .

Hasil validitas instrumen dari dosen pendidikan biologi yaitu validasi 10 butir soal dengan beliau adalah ada beberapa butir soal yang diperbaiki dari segi bahasa yang digunakan kurang tepat yaitu butir soal nomor 1, 3, 6, 7 dan 8 serta butir soal nomor 4 dan 5 untuk gambar harus diperjelas. Selanjutnya hasil validasi 10 butir soal oleh dosen pendidikan biologi juga divalidasi oleh guru mata pelajaran biologi di SMA Negeri 6 Bandar Lampung dengan hasil validasinya adalah 10 butir soal tes kemampuan berpikir kritis telah sesuai dengan kisi-kisi indikator dan layak untuk digunakan sebagai instrumen penelitian.

59

Setelah validasi kepada 3 validator tersebut, dilanjutkan dengan uji validitas menggunakan rumus korelasi Product Moment. Harga diperoleh dengan terlebih dahulu menetapkan derajat kebebasannya menggunakan rumus pada taraf signifikansi 0,05 atau 5%. Pada penelitian ini jumlah responden pada saat uji coba tes berjumlah 30, sehingga diperoleh derajat kebebasannya dan tabel

Product Moment dengan dan α = 0,05 diperoleh .

Apabila maka butir soal tersebut dikatakan valid. Hasil analisis validitas butir tes kemampuan berpikir kritis dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 8

Validitas Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis

No. Keterangan 1 0,348 0,374 Tidak Valid 2 0,8397 0,374 Valid 3 0,792 0,374 Valid 4 0,603 0,374 Valid 5 0,846 0,374 Valid

60 6 0,815 0,374 Valid 7 0,53 0,374 Valid 8 0,434 0,374 Valid 9 0,2059 0,374 Tidak Valid 10 0,765 0,374 Valid

Sumber: Pengelola data Lampiran D.1

Hasil perhitungan validitas butir tes kemampuan berpikir kritis terhadap 10 soal yang diujicobakan menunjukkan terdapat 2 butir soal yaitu butir soal nomor 1 dan nomor 9 yang tergolong tidak valid (r xy <

0,374) maka butir soal dengan nomor tersebut tidak diujikan kepada sampel peneliti karena tidak dapat dipakai.

2) Uji Tingkat Kesukaran

Instrumen tes kemampuan berpikir kritis yang telah dinyatakan valid, dianalisis kembali tingkat kesukarannya. Hasil analisis tingkat kesukaran dapat dilihat pada Tabel 9 berikut:

Tabel 9

Tingkat Kesukaran Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis No. Tingkat Kesukaran (TK) Keterangan 1 0,678 Sedang 2 0,278 Sukar 3 0,256 Sukar 4 0,744 Mudah

61 5 0,290 Sukar 6 0,289 Sukar 7 0,644 Sedang 8 0,789 Mudah 9 0,622 Sedang 10 0,222 Sukar

Sumber: Pengelola data Lampiran D.2

Berdasarkan hasil analisis tingkat kesukaran uji coba instrumen tes kemampuan berpikir kritis pada tabel 9, dengan derajat kesukaran sedang, mudah dan sukar sesuai dengan tabel 5 interpretasi tingkat kesukaran butir tes. Dan diperoleh 5 butir soal dengan derajat kesukaran lebih kecil dari 0,30 ( < 0,30) dikategorikan sukar yaitu butir soal nomor 2, 3, 5, 6, dan 10. Butir soal nomor 1, 7, dan 9 dikategorikan sedang karena memiliki derajat kesukaran antara 0,30 dan 0,70 (0,30 ≤

≤ 0,70). Sedangkan butir soal nomor 4 dan 8 memiliki derajat kesukaran antara P > 0,70 dikaregorikan mudah.

3) Uji Daya Pembeda

Uji daya pembeda pada penelitian ini dapat di lihat pada Lampiran D.4 Adapun hasil analisis perbutir soal dirangkum pada tabel 10 berikut:

Tabel 10

Daya Pembeda Item Soal Tes

No. Daya Pembeda (DP) Keterangan

62 2 0,9 Baik Sekali 3 0,9 Baik Sekali 4 0,7 Baik Sekali 5 1,0 Baik Sekali 6 1,0 Baik Sekali 7 0,9 Baik Sekali 8 0,3 Cukup 9 0,6 Baik 10 0,8 Baik Sekali

Sumber: Pengelola data Lampiran D.4

Pada tabel 10 terlihat bahwa daya pembeda pada butir soal dikategorikan baik, baik sekali dan cukup sesuai dengan tabel 6 klasifikasi daya pembeda. Dan butir soal 1 dan 9 dikategorikan baik dengan daya pembeda berkisar 0,40 < D ≤ 0,70. Dan butir soal nomor 2,3,4,5,6,7 dan 10 dikategorikan baik sekali karena daya pembeda berkisar 0,70 < D ≤ 1,00. Dan butir soal nomor 8 dikategorikan cukup karena daya pembeda berkisar 0,20 < D ≤ 0,40.

4) Uji Reliabilitas

Pada Bab III dijelaskan bahwa suatu tes dikatakan reliabel jika 0,70. Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen tes kemampuan berpikir kritis pada Lampiran D.5 diperoleh koefisien reliabilitasnya atau r11 > r tabel yaitu 0,705 > 0,70, sehingga hasil uji coba

63

tes kemampuan berpikir kritis dinyatakan reliabel dan layak digunakan sebagai instrumen penelitian.

5) Kesimpulan Hasil Uji Coba Tes Kemampuan Berpikir Kritis

Rekapitulasi hasil analisis uji coba instrumen tes dapat dilihat pada Tabel 10 di bawah ini:

Tabel 11

Rekapitulasi Hasil Analisis Butir Soal

Nomor Soal Validitas Tingkat Kesukaran Daya Pembeda Reliabilitas

1 Tidak Valid Sedang Baik Reliabel

2 Valid Sukar Baik Sekali Reliabel

3 Valid Sukar Baik Sekali Reliabel

4 Valid Mudah Baik Sekali Reliabel

5 Valid Sukar Baik Sekali Reliabel

6 Valid Sukar Baik Sekali Reliabel

7 Valid Sedang Baik Sekali Reliabel

8 Valid Mudah Cukup Reliabel

9 Tidak Valid Sedang Baik Reliabel

10 Valid Sukar Baik Sekali Reliabel

Sumber: Pengelola data Lampiran D.1, D.3, D.4, dan D.5)

Berdasarkan hasil rekapitulasi analisis data uji coba, butir soal yang digunakan sebagai instrumen penelitian adalah butir soal yang dinyatakan valid, memiliki tingkat kesukaran sukar dan sedang, daya pembeda yang baik dan baik sekali, serta dinyatakan reliabel. Butir soal yang memuat

64

kategori tersebut adalah nomor 2, 3, 5, 6, 7, dan 10. Keenam butir soal tersebut telah memuat indikator kemampuan berpikir kritis yang ada pada lampiran B.4, sehingga 6 butir soal tersebut layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Pada soal nomor 2, sesuai dengan aspek keterampilan berpikir kritis yaitu memberikan argumen, dengan indikator argumen dengan alasan, menunjukkan perbedaan dan persamaaan, serta argumen yang utuh. Pada soal nomor 3 dan 5, sesuai dengan aspek keterampilan berpikir kritis yaitu melakukan deduksi dengan indikator mendedukasikan secara logis, kondisi logis, serta melakukan interpretasi terhadap pernyataan. Pada soal nomor 7, sesuai dengan aspek keterampilan berpikir kritis yaitu melakukan induksi, dengan indikator melakukan pengumpulan data, membuat generalisasi dari data, membuat tabel dan grafik. Pada soal nomor 10, sesuai dengan aspek keterampilan berpikir kritis yaitu melakukan evaluasi, dengan indikator evaluasi diberikan berdasarkan fakta, berdasarkan pedoman atau prinsip serta memberikan alternatif.

b. Angket Aktivitas Belajar

Untuk memperoleh data hasil uji coba instrumen angket aktivitas belajar peserta didik, dilakukan uji coba pada kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Bandar Lampung pada tanggal 29 Agustus 2016 yang terdiri dari 38 butir angket aktivitas belajar. Analisis data angket meliputi validitas dan uji reliabilitas yang dipaparkan sebagai berikut:

65 1) Validitas Angket Aktivitas Belajar

Validitas angket aktivitas belajar pada penelitian ini meliputi validitas isi berdasarkan para ahli dan analisis uji validitas korelasi Product Moment. Validitas isi berdasarkan ahli ini digunakan untuk penilaian terhadap kesesuaian butir pernyataan angket dengan kisi-kisi angket dan kesesuaian bahasa yang digunakan dalam angket dengan kemampuan bahasa siswa. Validitas isi dilakukan dengan menggunakan daftar checklis oleh tiga validator yaitu 2 dosen Pendidikan Biologi IAIN Raden Intan Lampung dan 1 guru mata pelajaran biologi di SMA Negeri 6 Bandar Lampung. Hasil validasi dari validator dosen pendidikan biologi IAIN Raden Intan Lampung yaitu beberapa butir angket yang perlu diperbaiki dari segi bahasa, karena sulit dimengerti dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang benar yaitu nomor 1, 2, 5, 8, 11, 15, 16, 28, 29, 30, dan 33. Untuk beberapa butir angket lainnya kurang sesuai dengan indikator aktivitas belajar yang digunakan, yaitu nomor 10, 30, dan 33.

Validator lain adalah guru mata pelajaran biologi SMA Negeri 6 Bandar Lampung dengan hasil validasinya menyatakan bahwa 38 butir angket layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Selanjutnya data uji coba angket aktivitas belajar dianalisis kevalidannya dengan rumus korelasi Product Moment. Harga diperoleh dengan terlebih dahulu menetapkan derajat kebebasannya menggunakan rumus pada taraf signifikansi 0,05 atau 5%. Pada penelitian ini jumlah responden

66

pada saat uji coba tes berjumlah 30, sehingga diperoleh derajat kebebasannya dan tabel Product Moment dengan

dan α = 0,05 diperoleh . Apabila

maka butir soal tersebut dikatakan valid. Hasil analisis validitas butir tes kemampuan berpikir kritis dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 12

Validitas Butir Angket

No. Keterangan No. Keterangan

1 0,028 0,374 Tidak Valid 20 0,590 0,374 Valid

2 0,791 0,374 Valid 21 0,579 0,374 Valid

3 0,698 0,374 Valid 22 0,428 0,374 Valid

4 -0,14 0,374 Tidak Valid 23 0,441 0,374 Valid

5 0,795 0,374 Valid 24 0,455 0,374 Valid

6 0,584 0,374 Valid 25 0,233 0,374 Tidak Valid

7 0,437 0,374 Valid 26 0,217 0,374 Tidak Valid

8 0,369 0,374 Tidak Valid 27 0,477 0,374 Valid

9 0,398 0,374 Valid 28 0,121 0,374 Tidak Valid

10 0,038 0,374 Tidak Valid 29 0,425 0,374 Valid

11 0,584 0,374 Valid 30 -0,023 0,374 Tidak Valid

12 0,436 0,374 Valid 31 0,063 0,374 Tidak Valid

13 0,354 0,374 Tidak Valid 32 0,267 0,374 Tidak Valid

14 0,443 0,374 Valid 33 0,085 0,374 Tidak Valid

15 0,390 0,374 Valid 34 0,190 0,374 Tidak Valid

67

17 0,093 0,374 Tidak Valid 36 0,645 0,374 Valid

18 0,373 0,374 Valid 37 0,258 0,374 Tidak Valid

19 0,672 0,374 Valid 38 0,390 0,374 Valid

Sumber: Pengelola data Lampiran D.2

Berdasarkan interpretasi yang digunakan penulis, perhitungan validitas butir pernyataan angket dinyatakan valid jika , maka didapat 17 butir angket yang valid yaitu butir pernyataan angket nomor 2, 3, 5, 6, 7, 9, 11, 12, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 27, 29, 35, 36, dan 38. Dua puluh satu butir pernyataan angket yang tidak valid atau rxy <

yaitu butir angket nomor 1, 4, 8, 10, 13, 17, 25, 26, 28, 30, 31, 32, 33, 34, dan 37.

2) Uji Reliabilitas

Hasil perhitungan uji relibilitas pernyataan angket aktivitas belajar dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach pada Lampiran D.6 diperoleh sebesar 0,791. Menurut Anas Sudijono apabila reliabilitasnya lebih besar dari atau sama dengan 0,70, maka angket tersebut dinyatakan reliabel dan memenuhi kriteria layak digunakan sebagai instrumen penelitian.

3) Kesimpulan Hasil Uji Coba Angket Aktivitas Belajar

Berdasarkan hasil uji validitas dan uji reliabilitas pada lampiran D.2 dan D.6, maka terdapat 23 butir angket yang akan digunakan untuk mengambil data aktivitas belajar peserta didik, yaitu butir pernyataan

68

angket nomor 2, 3, 5, 6, 7, 9, 11, 12, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 27, 29, 35, 36, dan 38.

Rekapitulasi hasil analisis data uji coba instrumen angket aktivitas belajar dapat dilihat pada Tabel 13 di bawah ini:

Tabel 13

Kesimpulan Hasil Uji Coba Angket Aktivitas Belajar Nomor Butir Angket Validitas Reliabili tas Nomor Butir Angket Validitas Reliabilit as 1 Tidak Valid Reliabel 20 Valid Reliabel

2 Valid Reliabel 21 Valid Reliabel

3 Valid Reliabel 22 Valid Reliabel

4 Tidak Valid Reliabel 23 Valid Reliabel

5 Valid Reliabel 24 Valid Reliabel

6 Valid Reliabel 25 Tidak Valid Reliabel 7 Valid Reliabel 26 Tidak Valid Reliabel 8 Tidak Valid Reliabel 27 Valid Reliabel 9 Valid Reliabel 28 TidakValid Reliabel 10 Tidak Valid Reliabel 29 Valid Reliabel 11 Valid Reliabel 30 Tidak Valid Reliabel 12 Valid Reliabel 31 Tidak Valid Reliabel 13 Tidak Valid Reliabel 32 Tidak Valid Reliabel 14 Valid Reliabel 33 Tidak Valid Reliabel 15 Valid Reliabel 34 Tidak Valid Reliabel

16 Valid Reliabel 35 Valid Reliabel

17 Tidak Valid Reliabel 36 Valid Reliabel 18 Valid Reliabel 37 Tidak Valid Reliabel

19 Valid Reliabel 38 Valid Reliabel

69 2. Analisis Data

a. Uji N-Gain

Gain adalah selisih antara pretes dan postes yang digunakan untuk menghindari bias pada penelitian.

1) N-Gain Kemampuan Berpikir Kritis

Penelitian ini menggunakan N-gain untuk mengetahui perbandingan rata-rata peningkatan kemampuan berpikir kritis baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 14

Perbandingan rata-rata N-gain (Kemampuan Berpikir Kritis) Kelas N-gain Kategori

Eksperimen 0,703 Tinggi

Kontrol 0,500 Sedang

Sumber: Pengelola data Lampiran D.7

Pada tabel di atas terlihat bahwa rata-rata N-gain kelas Eksperimen yaitu 0,703 artinya terjadi peningkatan sebesar 70% dan masuk dalam katagori tinggi sedangkan kelas kontrol memiliki rata- rata N-gain sebesar-besar 0,500 artinya terjadi peningkatan sebesar 50% dan masuk dalam kategori sedang. Itu berarti bahwa kelas eksperimen yang menggunakan media maket mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan media gambar.

70

N-gain untuk mengetahui perbandingan rata-rata N-gain angket aktivitas belajar baik kelas eksperimen maupun kontrol dapat dilihat pada tabel brikut:

Tabel 15

Perbandingan rata-rata N-gain (Aktivitas Belajar) Kelas N-gain Kategori

Eksperimen 0,626 Sedang Kontrol 0,322 Sedang Sumber: Pengelola data Lampiran D.7

Pada tabel di atas terlihat bahwa rata-rata N-gain kelas eksperimen yaitu 0,626 artinya terjadi peningkatan sebesar 62% dan masuk dalam kategori sedang sedangkan kelas kontrol memiliki rata- rata N-gain sebesar 0,322 artinya terjadi peningkatan sebesar 32% dan masuk dalam kategori sedang. Itu berarti bahwa kelas eksperimen yang menggunakan media maket mengalami peningkatan aktivitas belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan media gambar. N-gain kategori tinggi, sedang dan rendah sesuai dengan tabel 7 nilai indeks N-gain.

b. Uji Normalitas

1) Uji Normalitas Keterampilan Berpikir Kritis

Hasil uji normalitas untuk pretes dan postes dapat dilihat pada tabel ini:

Tabel 16

Hasil Uji Normalitas Data Pretes-Postes Peserta didik Pada Kelas Eksperimen Dan Kontrol

71 Karakteristik

Nilai

Hasil Interpretasi Eksperimen Kontrol

Pretes Postes Pretes Postes

Lhitung 0,128 0,146 0,093 0,137 Lhitung

≤Ltabel

Berdistribusi Normal

Ltabel 0,154 0,154 0,157 0,157

Sumber: Pengelola data Lampiran D.9 dan D.10

Nilai Ltabel diambil berdasarkan nilai pada table kritis L untuk uji

Lilefors pada taraf signifikan 5%. Kolom keputusan dibuat berdasarkan pada

ketentuan pengujian normalitas, yaitu Lhitung ≤ Ltabel maka dinyatakan data

berdistribusi normal. Sebaliknya jika Lhitung > Ltabel maka data dinyatakan

tidak berdistribusi normal.

Dari tabel normalitas di atas untuk kelas eksperimen diperoleh hasil uji normalitas untuk Lhitung pretes = 0,128, Lhitung postes = 0,154 sedangkan Ltabel =

0,154. Sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh hasil uji normalitas untuk Lhitung pretes = 0,093, Lhitung postes = 0,137, sedangkan Ltabel = 0,157, dengan

demikian pengujian normalitas pretes dan postes kelas eksperimen maupun kelas kontrol, didapatkan hasil bahwa semua data berdistribusi normal karena Lhitung < Ltabel. Sehingga menjadikanH0 diterima.

2) Uji Normalitas Aktivitas Belajar

Hasil uji normalitas untuk pretes dan postes dapat dilihat pada tabel ini:

Tabel 17

Hasil Uji Normalitas Data Pretes-Postes Peserta didik Pada Kelas Eksperimen Dan Kontrol

Karakteristik Nilai Hasil Interpretasi Eksperimen Kontrol

72

Pretes Postes Pretes Postes

Lhitung 0,103 0,152 0,156 0,097 Lhitung

≤Ltabel

Berdistribusi Normal

Ltabel 0,154 0,154 0,157 0,157

Sumber: Pengelola data Lampiran D.11 dan D.12

Nilai Ltabel diambil berdasarkan nilai pada tabel kritis L untuk uji

Lilefors pada taraf signifikan 5%. Kolom keputusan di buat berdasarkan pada

ketentuan pengujian normalitas, yaitu Lhitung ≤ Ltabel maka dinyatakan data

berdistribusi normal. Sebaliknya jika Lhitung > Ltabel maka data dinyatakan

tidak berdistribusi normal.:

Dari tabel normalitas di atas untuk kelas eksperimen diperoleh hasil uji normalitas untuk Lhitung pretes = 0,103, Lhitung postes = 0,152 sedangkan Ltabel

= 0,154. Sedangkan untuk kelas kontrol diperoleh hasil uji normalitas untuk Lhitung pretes = 0,156, Lhitung postes = 0,097, sedangkan Ltabel = 0,157, dengan

demikian pengujian normalitas pretes dan postes kelas eksperimen maupun kelas kontrol, didapatkan hasil bahwa semua data berdistribusi normal karena Lhitung < Ltabel. Sehingga menjadikanH0 diterima.

c. Uji Homogenitas

1) Uji Homogenitas Kemampuan Berpikir Kritis

Hasil uji homogenitas untuk pretes dan postes dapat dilihat pada tabel ini: Tabel 18

Hasil Uji Homogenitas Data Pretes-Postes Peserta didik Pada Kelas Eksperimen Dan Kontrol

Karakteristik

Nilai

Hasil Interpretasi Eksperimen dan Kontrol

Pretes Postes

73

Ftabel 1,816 1,816

Sumber: Pengelola data Lampiran D.13

Nilai Ftabel diambil berdasarkan nilai pada tabel kritis F untuk uji

Fisher pada taraf signifikan 5% (0,05). Kolom keputusan dibuat berdasarkan

pada ketentuan pengujian homogenitas, yaitu jika Fhitung < Ftabel maka

dinyatakan bahwa kedua data memiliki varians yang homogenya, sebaliknya jika Fhitung > Ftabel maka dinyatakan bahwa kedua data tidak memiliki varians

yang homogen.

Dari tabel uji homogenitas di atas, untuk kelas eksperimen dan kontrol diperoleh hasi uji homogenitas Fhitung pretes = 1,318 dan Fhitung = 0,597

sedangkang Ftabel = 1,816. Dengan demikian pengujian homogenitas pretes dan

postes pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol mendapatkan hasil Fhitung

< Ftabel. Sehingga mengakibatkanH0 diterima, artinya kedua sampel berasal

dari populasi yang sama (homogen). 2) Uji homogenitas Aktivitas Belajar

Hasil uji homogenitas untuk pretes dan postes dapat dilihat pada tabel ini: Tabel 19

Hasil Uji Homogenitas Data Pretes-Postes Peserta didik Pada Kelas Eksperimen Dan Kontrol

Karakteristik

Nilai

Hasil Interpretasi Eksperimen dan Kontrol

Pretes Postes

Fhitung 1,008 1,763 Fhitung≤Ftabel Homogen

Ftabel 1,799 1,816

74

Nilai Ftabel diambil berdasarkan nilai pada tabel kritis F untuk uji

Fisher pada taraf signifikan 5% (0,05). Kolom keputusan dibuat berdasarkan

pada ketentuan pengujian Homogenitas, yaitu jika Fhitung < Ftabel maka

dinyatakan bahwa kedua data memiliki varians yang homogen, sebaliknya jika Fhitung > Ftabel maka dinyatakan bahwa kedua data tidak memiliki varians

yang homogen.

Dari tabel uji homogenitas diatas, untuk kelas eksperimen dan kontrol diperoleh hasi uji homogenitas Fhitung pretes = 1,008 dan Fhitung = 1,763

sedangkan Ftabel = 1,816. Dengan demikian pengujian homogenitas pretes dan

postes pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol mendapatkan hasil Fhitung

< Ftabel. Sehingga H0 diterima, artinya kedua sampel berasal dari populasi yang

sama (homogen). d. Uji Hipotesis

Hipotesis penelitian yang diuji dengan uji T adalah hipotesis untuk melihat Pengaruh Model Problem Posing Dengan Media Maket Terhadap Peningkatan Berpikir Kritis Peserta didik dan melihat Pengaruh Model

Problem Posing Dengan Media Maket Terhadap Peningkatan Aktivitas

Belajar Peserta didik.

1) Uji T kemampuan berpikir kritis

Hasil uji T untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada tabel ini:

75 Tabel 20

Hasil Uji Hipotesis N-gain Peserta Didik Pada Kelas Eksperimen Dan Kelas Kontrol Karakteristik Nilai Hasil Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Thitung 6,344 t hitung > ttabel Ttabel 1,998

Sumber: Pengelola data Lampiran D.15

Nilai Ttabel diambil berdasarkan nilai pada tabel kritis T untuk uji T pada

taraf signifikan 5% (0,05). Kolom keputusan dibuat berdasarkan pada ketentuan pengujian uji T, yaitu jika thitung > ttabel maka dinyatakan bahwa H0

ditolak dan H1 diterima, sebaliknya jika thitung < ttabel maka dinyatakan bahwa

H0 diterima dan H1 ditolak.

Dari tabel uji T diatas, untuk kelas eksperimen dan kontrol diperoleh hasil uji T dengan thitung = 6,344 dan ttabel = 1,998. Dengan demikian uji T pada kelas

eksperimen maupun kelas kontrol, didapatkan hasil bahwa thitung > ttabel Maka

H0 ditolak artinya ada perbedaan yang signifikan nilai rata-rata tes

Dokumen terkait